Click here to load reader

63467692 Makalah Pendidikan Multikultural

  • View
    34

  • Download
    2

Embed Size (px)

Text of 63467692 Makalah Pendidikan Multikultural

BAB IPENDAHULUAN

1.1 Latar BelakangIndonesia adalah salah satu negara multikultural terbesar di dunia. Kenyataan ini dapat dilihat dari kondisi sosio-kultural maupun geografis yang begitu beragam dan luas. Keragaman ini diakui atau tidak akan dapat menimbulkan berbagai persoalan, seperti korupsi, kolusi, nepotisme, kemiskinan, kekerasan, perusakan lingkungan, separatisme, dan hilangnya rasa kemanusiaan untuk menghormati hak-hak orang lain, merupakan bentuk nyata sebagai bagian dari multikulturalisme tersebut.Sedikitnya selama tiga dasawarsa, kebijakan yang sentralistis dan pengawalan yang ketat terhadap isu perbedaan telah menghilangkan kemampuan masyarakat untuk memikirkan, membicarakan dan memecahkan persoalan yang muncul dari perbedaan secara terbuka, rasional dan damai. Kekerasan antar kelompok yang meledak secara sporadis di akhir tahun 1990-an di berbagai kawasan di Indonesia menunjukkan betapa rentannya rasa kebersamaan yang dibangun dalam Negara-Bangsa, betapa kentalnya prasangka antara kelompok dan betapa rendahnya saling pengertian antar kelompok. Konteks global setelah tragedi September 11 dan invasi Amerika Serikat ke Irak serta hiruk pikuk politis identitas di dalam era reformasi menambah kompleknya persoalan keragaman dan antar kelompok di Indonesia.Sejarah menunjukkan, pemaknaan secara negatif atas keragaman telah melahirkan penderitaan panjang umat manusia. Pada saat ini, paling tidak telah terjadi 35 pertikaian besar antar etnis di dunia. Lebih dari 38 juta jiwa terusir dari tempat yang mereka diami, paling sedikit 7 juta orang terbunuh dalam konflik etnis berdarah. Pertikaian seperti ini terjadi dari Barat sampai Timur, dari Utara hingga Selatan. Dunia menyaksikan darah mengalir dari Yugoslavia, Cekoslakia, Zaire hingga Rwanda, dari bekas Uni Soviet sampai Sudan, dari Srilangka, India hingga Indonesia. Konflik panjang tersebut melibatkan sentimen etnis, ras, golongan dan juga agama.Merupakan kenyataan yang tak bisa ditolak bahwa negara-bangsa Indonesia terdiri dari berbagai kelompok etnis, budaya, agama dan lain-lain sehingga negara-bangsa Indonesia secara sederhana dapat disebut sebagai masyarakat multikultural. Tetapi pada pihak lain, realitas multikultural tersebut berhadapan dengan kebutuhan mendesak untuk merekonstruksi kembali kebudayaan nasional Indonesia yang dapat menjadi integrating force yang mengikat seluruh keragaman etnis dan budaya tersebut. Oleh karena itu, penulis akan menjabarkan mengenai wacana pentingnya pendidikan multikultural dan semoga bermanfaat.

1.2 Rumusan MasalahBeberapa rumusan masalah yang akan dibahas pada mekalah, yaitu:1.2.1 Bagaimana sejarah pendidikan multikultural?1.2.2 Apa yang dimaksud pendidikan Multikultural?1.2.3 Apa tujuan pendidikan multikultural?1.2.4 Bagaimana paradigma baru pendidikan multikultural?1.2.5 Bagaimana metode dan pendekatan pendidikan multikultural?1.2.6 Bagaimana pendidikan berbasis multikultural?1.2.7 Bagaimana wacana pendidikan multikultural di Indonesia?1.2.8 Apa kekurangan dan kelebihan serta solusi dari pendidikan multikultural?

1.3 TujuanTujuan dari penulisan makalah ini, yaitu:1.3.1 Untuk mengetahui sejarah pendidikan multikultural. 1.3.2 Untuk mengetahui pengertian pendidikan multikultural.1.3.3 Untuk mengetahui tujuan pendidikan multikultural.1.3.4 Untuk mengetahui paradigma pendidikan multikultural.1.3.5 Untuk mengetahui metode dan pendekatan pendidikan multikultural.1.3.6 Untuk mengetahui pendidikan berbasis multikultural.1.3.7 Untuk mengetahui wacana dari pendidikan yang berbasis multikultural di Indonesia.1.3.8 Untuk mengetahui kekurangan dan kelebiahan serta solusi dari pendidikan multikultural.

BAB IIPEMBAHASAN

2.1 Sejarah Pendidikan MultikulturalDalam sejarahnya, pendidikan multikultural sebagai sebuah konsep atau pemikiran tidak muncul dari ruang kosong namun ada interes sosial, politik, ekonomi, dan intelektual yang mendorong kemunculannya. Banyak lacakan sejarah atau asal-usul pendidikan multikultural yang menunjuk pada gerakan sosial orang Amerika keturunan Afrika dan kelompok kulit berwarna lain yang mengalami praktik diskriminasi dari lembaga-lembaga politik pada masa perjuangan Hak Asasi pada tahun1960.Diantaranya lembaga yang secara khusus disorot karena bermusuhan dengan ide persamaan ras pada saat itu adalah lembaga pendidikan. Pada akhir 1960-an dan awal 1970-an suara-suara yang menuntut lembaga-lembaga pendidikan agar konsistensi dalam menerima dan menghargai perbedaan semakin kencang yang dikumandangkan oleh para aktivis, para tokoh dan orang tua. Mereka inilah yang dianggap sebagai awal mula dari konseptualisasi Pendidikan Multikultural.Tahun 1960-an agaknya dianggap sebagai kemunculan lembaga sekolah yang berlandaskan Pendidikan Multikultural yang didirikan oleh para peneliti dan aktivis pendidikan progresif. James Bank adalah salah satu seorang pionir dari Pendidikan Multikultural. Dia yang membumikan konsep Pendidikan Multikultural menjadi ide persamaan pendidikan. Pada pertengahan dan akhir 1980-an muncul Sleeter, Geneva Gay, dan Sonia Neito yang memberikan wawasan yang lebih luas tentang Pendidikan Multikultural. Memperdalam kerangka kerja yang membumikan ide persamaan pendidikan dan menghubungkannya dengan transformasi dan perubahan sosial.

2.2 Pengertian Pendidikan MultikulturalAkar kata multikulturalisme adalah kebudayaan. Secara etimologis, multikulturalisme dibentuk dari kata multi (banyak), kultur (budaya), isme (aliran/paham). Secara hakiki, dalam kata itu terkandung pengakuan akan martabat manusia yang hidup dalam komunitasnya dengan kebudayaannya masing masing yang unik. Berikut ini pengertian pendidikan multikulturalime menurut para ahli, yaitu:a Andersen dan Crusher (1994), bahwa pendidikan multikultural dapat diartikan sebagai pendidikan mengenai keragaman kebudayaan.b James Banks (1993) mendefinisikan pendidikan multikultural sebagai pendidikan untuk people of color. Artinya, pendidikan multikultural ingin mengeksplorasi perbedaan sebagai keniscayaan (anugerah tuhan/ sunatullah).c Muhaimin el Mahady berpendapat bahwa secara sederhana pendidikan multikultural dapat didefinisikan sebagai pendidikan tentang keragaman kebudayaan dalam meresponi perubahan demografis dan kultural lingkungan masyarkat tertentu atau bahkan dunia secara keseluruhan (global).d Paulo Freire berpendapat bahwa pendidikan bukan merupakan menara gading yang berusaha menjauhi realitas sosial dan budaya. Pendidikan menurutnya harus mamapu menciptakan tatanan masyarakat yang terdidik dan berpendidikan, bukan sebuah masyarakat yang hanya mengagungkan prestise sosial sebagai akibat kekayaan dan kemakmuran yang dialami.e Hilda Hernandez mengartikan pendidikan multikultural sebagai perspektif yang mengakui realitas politik, sosial dan ekonomi yang dialami oleh masing masing individu dalam pertemuan manusia yang kompleks dan beragam secara kultur, dan merefleksikan pentingnya budaya, ras, seksualitas dan gender, etnisitas, agama, status sosial, ekonomi, dan pengecualian pengecualian dalam proses pendidikan.

2.3 Tujuan Pendidikan MultikulturalBerdasarkan Ainul Yaqin (2005), tujuan pendidikan multikultural ada dua, yakni tujuan awal dan tujuan akhir. Tujuan awal merupakan tujuan sementara karena tujuan ini hanya berfungsi sebagai perantara agar tujuan akhirnya tercapai dengan baik. Pada dasarnya tujuan awal pendidikan multikultural yaitu membangun wacana pendidikan, pengambil kebijakan dalam dunia pendidikan dan mahasiswa jurusan ilmu pendidikan ataupun mahasiswa umum. Harapannya adalah apabila mereka mempunyai wacana pendidikan multikultural yang baik maka kelak mereka tidak hanya mampu untuk menjadi transormator pendidikan multikultural yang mampu menanamkan nilai-nilai pluralisme, humanisme dan demokrasi secara langsung di sekolah kepada para peserta didiknya.Sedangkan tujuan akhir pendidikan multikultural adalah peserta didik tidak hanya mampu memahami dan menguasai materi pelajaran yang dipelajarinya akan tetapi diharapakan juga bahwa para peserta didik akan mempunyai karakter yang kuat untuk selalu bersikap demokratis, pluralis dan humanis. Karena tiga hal tersebut adalah ruh pendidikan multikultural Ainul Yaqin (2005).

2.4 Paradigma Pendidikan MultikulturalAli maksum menggambarkan bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang masyarakatnya sangat majemuk atau pluralis. Kemajuan bangsa Indonesia dapat dilihat dari dua prespektif, yaitu: a Prespektif HorizontalKemajemukan bangsa kita dapat dilihat dari perbedaan agama, etnis, bahasa daerah, geografis, pakaian, makanan, dan budaya.

b Prespektif VertikalKemajemukan bangsa kita dapat dilihat dari perbedaan tingkat pendidikan, ekonomi, pemukiman, pekerjaan, dan tingkat sosial budaya.Kemajemukan merupakan ciri khas bangsa Indonesia. Seperti diketahui, bahwa Indonesia merupakan negara kepulauan dengan jumlah pulau terbesar di dunia. Dengan hal tersebut, maka kemajemukan di Indonesia merupakan suatu keniscayaan yang tak terelakkan. Karena faktor itulah, di Indonesia terkadang timbul konflik antar kelompok masyarakat. Namun, pada satu sisi, kemajemukan memberikan efek positif yaitu kesatuan yang erat. Menurut Syafri Sairin (1992), konflik dalam masyarakat majemuk terjadi karena:a Perebutan Sumber Daya, alat alat produksi, dan kesempatan ekonomi.b Perluasan batas batas sosial budaya.c Benturan kepentingan politik, ideologi, dan agama.Oleh karena itu diperlukan paradigma baru yang lebih toleran, yaitu paradigma pendidikan multikultural. Pendidikan berparadigma multikulturalisme tersebut penting, sebab akan mengarahkan anak didik untuk bersikap dan berpandangan toleran dan inklusif terhadap realitas masyarakat yang beragam. Pendidikan multikultural di sini juga dimaksudkan bahwa manusia dipandang sebagai makhluk makro dan sebagai makhluk mikro yang tidak akan terlepas dari akar budaya bangsa dan kelompok etnisnya. Akar makro yang kuat akan menyebabkan manusia tidak pernah tecabut dari akar kemanusiaannya

Search related