Paper Exegesis - Yesus Dan Hukum Taurat

  • View
    296

  • Download
    0

Embed Size (px)

Transcript

Yesus dan Hukum TauratOleh: Ev. Otniol Seba, S.Th1

I.

Pendahuluan dan Latar Belakang Pengajaran Yesus Kehadiran Yesus di dalam Dunia, menurut Injil Matius adalah untuk menggenapi

Hukum Taurat itu. Hal ini nampak ketika Tuhan Yesus berkata: Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titik pun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi. (Matius 5:17-18). Vos menyatakan hal ini demikian: He came not to annul or abrogate the Old Testament law in any respect, but to fulfill it. He would fulfill it by keeping it perfectly, by embodying it in living form, and by paying the full penalty of the Law as Substitute for sinners2. Vos menilai bahwa penggenapan Yesus terhadap Hukum Taurat itu dilakukan secara sempurna. Lebih lanjut Constable menjelaskan bahwa penggenapan itu dilakukan secara tepat dengan otoritas yang berasal dari diri-Nya. Ia menjelaskan bahwa Yesus menganggap PL adalah Firman Allah yang diispirasikan, oleh karena itu Yesus tidak mempertentangkan hal itu. Constable menuliskan: Probably Jesus meant that He came to establish the Old Testament fully, to add His authoritative approval to it. This view harmonizes with Matthew's use of pleroo elsewhere (cf. 2:15). This does not mean He taught that the Mosaic Law remained in force for His disciples. He taught that it did not (Mark 7:19).272 Rather here Jesus authenticated the Old Testament as the inspired Word of God.273 He wanted His hearers to

Penulis sedang menyelesaikan program studi MACE dan M.Div, di STT Aletheia Lawang. Sekarang penulis melayani di GKA Gloria Pos PI Rungkut Surabaya. 2 Howard Vos, Matthew Study Bible Commentary. (Michigan: Zondervan Publishing House, 1979), p. 50.

1

1

understand that what He taught them in no way contradicted Old Testament revelation3

Selain itu, pengajaran Yesus juga menekankan kebenaran di mana hal ini menjadi penekanan di dalam Injil Matius. Tasker menyatakan: He regard His own teaching as equally binding; and His emphasis upon this truth has sometimes given readers of this section of the Gospel of Matthew the impression that in some instances the abiding nature of the old law seems to be denied4. Pengajaran Tuhan Yesus di dalam Matius 5:21-48, bukan menentang hukum Taurat, melainkan memberikan interpretasi yang baru dan secara praktis dapat dilakukan setiap hari. Keener menyatakan: Once Jesus has made it clear that he is not opposing the law but interpreting it, he show how the customary practice of the law in his day is inadequate5. Pada abad-abad pertama, kelompok-kelompok Yahudi menafsirkan hukum itu dengan cara mereka yang dianggap tepat: salah satu cara yang spesifik adalah mengobservasi Hukum Taurat dengan keputusan publik, isu politik tetapi bukan dengan suatu konsensus yang mutlak. Meskipun penafsiran Yahudi secara natural memfokuskan kepada pertanyaan legal, tetapi mereka tetap memberikan perhatian untuk mendiskusikan masalah etis dari Hukum Taurat itu. Namun berbeda dengan penafsiran Yesus dan tradisi Yahudi kemudian yang langsung menyentuh substansi dari persoalan tersebut6. Bagi para penafsir, Matius 5:21-48 merupakan bagian dari Injil Matius yang disebut dengan antitesis di mana bagian ini menyatakan intensifikasi yang radikal berkaitan dengan Hukum Taurat. Bagi Hill ini bukanlah suatu antitesis terhadap Hukum Taurat yang menyatakan Hukum Musa yang baru, melainkan ini merupakan intensifikasi mesianis yang menghasilkan kebenaran sejati terhadap warga kerajaan Allah. Di manaThomas L Constable, Notes on Matthew, p. 85. 2005 Edition. Http://www.bible-net.org R.V.G. Tasker, The Gospel According to St. Matthew An Introduction and Commentary. (Michigan: Wm. B. Eerdmans Publishing House, 1979), p. 64-65. 5 Craig S. Keener, A Commentary on the Gospel of Matthew. (Michigan: Wm. B. Eerdmans Publishing Company, 1999), p. 181 6 Ibid,.4 3

2

sikap yang menunjukkan kebenaran sejati itu bertentangan dengan legalism Hukum Taurat yang dipahami secara akal7. Selanjutnya, Hill menyimpulkan bahwa koleksi Matius mengenai pernyataan yang menjelaskan superioritas dan akarnya di dalam pemulihan mesianis dari Yesus terhadap Hukum Taurat. Implikasi tertinggi di dalam bayangan dari Hukum Taurat mengenai pernyataan itu terdapat di dalam kekudusan pada masa mesias8.

II.

Hubungannya Dengan Hukum Taurat/PL Seputar Otentisitas dan Isi Pertanyaan yang muncul adalah: Apakah pengajaran Tuhan Yesus di dalam bagian

ini bertentangan dengan Hukum Taurat? Mempertentangkan pengajaran Yesus dengan Hukum Taurat adalah suatu kesalahan besar. Ajaran Tuhan Yesus di dalam bagian ini tidak bertentangan dengan Hukum Taurat, melainkan merupakan kesinambungan untuk menyempurnakan Hukum Taurat. Hal itu sesuai dengan Matius 5:17-19. Lebih lanjut bahwa pengajaran Tuhan Yesus di dalam Matius 5:21-48 memiliki hubungan yang erat dengan Hukum Taurat/PL khususnya. Para ahli berpendapat bahwa pengajaran Tuhan Yesus di dalam Matius 5:21-48 kemungkinan merupakan kutipan dari PL, baik dari kitab Ulangan maupun di dalam kitab Imamat. Hal ini ditegaskan oleh Allison dan Davies, di dalam komentarnya mengenai hal ini menyatakan bahwa: [Matthew] 5.21, 27, and 31, open with citations of or allusion to OT texts that appear in Deutronomy (although not exclusively in Deutronomy), and [Matthew] 5.33, 38, 43 open with citations of or allusion to OT texts that appear in Leviticus (although not exclusively in Leviticus). The evangelist just may have thought of 5.21-32 as offering contrasts with laws in Deutronomy and of 5.33-48 offering contrasts with laws in Leviticus9.7

David Hill, The Gospel of Matthew New Century Bible Commentary. (Michigan: Wm. B. Eerdmans Publishing Company, 1972), p. 119-120. 8 Ibid,. 9 W.D. Davies and Dale C. Allison, The Gospel According to Saint Matthew International Critical Commentary. (Edinburg: T & T Clark LTD, 1988), p. 504

3

Donald Hagner melihat bahwa pengajaran Yesus ini mengutip Perjanjian Lama dan Hukum Taurat baik secara langsung maupun tidak langsung, di mana pengajaran-Nya memberikan penekanan pada kebenaran baru yang diproklamasikan-Nya. Hagner menuliskan: The first two of the antitheses involve commandments concerning murder and adultery, drawn from the ten commandments of Exod 20:117 (cf. Deut 5:621). Jesus deepens these commandments by internalizing them, i.e., by emphasizing the underlying thoughts, which themselves condemn a person. The final four antitheses involve a similarly high ethical idealism; again, they are descriptive of the righteousness of the kingdom. The fourth and fifth antitheses, concerning oaths and the lex talionis (an eye for an eye,etc.), involve direct commandments in the OT; the third and sixth, those concerning divorce and hatred of enemies, involve, on the other hand, implications drawn from the Torah more than direct commands. The antitheses thus move from the weightiest items, those contained in the ten commandments, to other commandments in the Torah and finally to an apparent implication of the Torah it is no accident that the final antithesis concerns the love commandment (Lev 19:18) the love commandment is the quintessential aspect of the new righteousness proclaimed by Jesus10

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pengajaran Tuhan Yesus sangat berkaitan erat dengan Hukum Taurat di dalam PL tercatat di dalam kitab Ulangan dan Imamat.

III. Catatan Lukas Mengenai Pengajaran Tuhan Yesus Seputar Otentisitas dan Isi Jikalau kita membandingkan pengajaran Tuhan Yesus di dalam Injil Matius dengan yang tercatat di dalam Injil Lukas, maka kita akan menemukan pengajaran Tuhan Yesus yang dicatat di dalam Injil Matius tentang perceraian (Matius 5:31-32); pembalasan (Matius 5:38-42) dan mengasihi musuh (5:43-48) merupakan bagian yang paralel dengan

Hagner, Donald A., Word Biblical Commentary, Volume 33a: Matthew 1-13, (Dallas, Texas: Word Books, Publisher) 1998. in Logos Library System 2.1e. Copyright@ 1995-1998. Logos Research Systems, Inc

10

4

Injil Lukas meskipun di dalam Injil Lukas, ketiga bagian ini tidak ditulis di dalam bentuk antitesis11. Di dalam topik tentang perceraian, Lukas 16:18, menjelaskan di dalam konteks perumpamaan, di mana Tuhan Yesus mengajarkan: Setiap orang yang menceraikan isterinya, lalu kawin dengan perempuan lain, ia berbuat zinah; dan barangsiapa kawin dengan perempuan yang diceraikan suaminya, ia berbuat zinah." Di dalam catatan Injil Matius 5:32 dan Lukas 16:18 ada beberapa perbedaan yang menonjol. Pertama, kalimat kecuali karena zinah tidak terdapat di dalam Injil Lukas; Kedua, di dalam Injil Lukas lebih menekankan komitmen seorang laki-laki untuk menikah kembali adalah perzinahan, daripada istrinya yang berzinah terlebih dahulu; Ketiga, di dalam Injil Lukas, menambahkan seorang yang menikah dengan perempuan yang telah diceraikan12. Lebih lanjut, bahwa kemungkinan baik Matius maupun Lukas, sama-sama menggunakan sumber dari Markus [khususnya Markus 10:2-12] sebagai sumber untuk menuliskan pengajaran Tuhan Yesus ini13. Dalam topik mengenai pembalasan, Lukas 6:29-30 merupakan bagian yang paralel dengan Injil Matius 5:38-42. Di dalam Lukas 6, Lukas tidak menyajikan pengajaran Tuhan Yesus yang menentang penyelewengan di dalam PL, sebagaimana dicatat di dalam Injil Matius 5:38-42, tetapi Lukas mengangkat topik ini di dalam konteks tentang kasih di dalam konteks perintah yang positif14. Lebih dari itu, Lukas mencatat pengajaran ini bersumber dari tradisi oral yang mungkin berbeda dari sumber Q yang menjadi tradisi umum yang dipakai pada waktu itu. Hal itu nampak di dalam penggunaan kata garment

Since antitheses 3, 5, and 6 contain material paralleled in Luke (s