Perbandingan Referendum Timor Leste Tahun 1999 Dengan Referendum Crimea Tahun 2014

  • View
    195

  • Download
    0

Embed Size (px)

DESCRIPTION

memberikan perbandingan antara kedua referendum

Transcript

PENDAHULUANA. Latar BelakangSecara luas telah diketahui bahwasannya agar kesatuan masyarakat dalam suatu wilayah dapat diakui sebagai sebuah negara haruslah memenuhi beberapa syarat yang sebagai unsur berdirinya suatu negara. Oppenheim dan Lauterpacht menyebutkan syarat tersebut secara de jure dan de facto. De jure terkait dengan pengakuan dari negara lain yang telah lebih dahulu merdeka dan berdaulat. Sedangkan secara de facto berarti bahwa untuk pendirian suatu negara harus memenuhi unsur adanya rakyat, adanya pemerintah yang berdaulat, dan adanya wilayah. Dalam Konvensi Montenegro tahun 1993 juga disebutkan beberapa persyaratan terkait pendirian sebuah negara, antara lain rayat, penguasa yang berdaulat, wilayah yang permanen, pengakuan dari negara lain, serta kemampuan untuk berhubungan dengan negara lain.Dari penjelasan di atas, dapat dilihat bila rakyat, pemerintah yang berdaulat, serta adanya wilayah merupakan unsur pokok atau unsur konstitutif terbentuknya suatu negara. Tanpa terpenuhinya unsur-unsur tersebut, ditambah dengan pengakuan dari negara lain, maka kesatuan masyarakat dalam suatu wilayah tertentu tidak dapat disebut sebagai negara. Jadi tidaklah mengherankan bila setelah mendapatkan predikat sebagai sebuah negara maka pemerintah di negara itu akan berupaya untuk mempertahankan keutuhan unsur-unsur konstitutifnya, terlebih menyangkut wilayah negaranya.Wilayah menjadi bagian penting suatu negara karena menjadi simbol kedaulatan negara tersebut dimana pemerintah negara itu dapat menerapkan yurisdiksinya dalam suatu teritori tertentu yang tidak dapat dicampuri oleh negara lain. Semakin luas wilayah suatu negara, maka semakin luas juga kekuasaan negara itu. Wilayah juga termasuk dalam unsur tangible kekuatan negara yang dapat membuat negara tersebut diperhitungkan oleh negara lain dalam komunitas internasional. Oleh karenanya, isu mengenai keutuhan wilayah merupakan isu penting bagi negara manapun di dunia ini. Peristiwa referendum Timor Timur pada tahun 1999 dan juga referendum Crimea tahun 2014 merupakan contoh nyata dari betapa pentingnya isu mengenai wilayah bagi negara. Seperti yang diketahui bahwa sebelum referendum dilakukan, baik Indonesia maupun Ukraina telah melakukan upaya penyelamatan terhadap keutuhan wilayah mereka. Tetapi referendum pada akhirnya tetap dilakukan sehingga perbandingan diantara keduanya menarik untuk dibahas.

B. Rumusan MasalahBerdasarkan pada penjelasan di latar belakang maka pertanyaan yang muncul adalah: Apakah referendum Timor Leste dengan Crimea serupa?

C. TujuanMengkaji permasalahan yang tercantum dalam rumusan masalah menggunakan studi komparatif, yakni dengan membandingkan peristiwa referendum Timor Leste tahun 1999 dengan referendum Crimea tahun 2014.

D. ManfaatSecara desktiptif memberikan penjelasan mengenai kedua referendum tersebut.

PEMBAHASANA. Referendum Timor Timur Tahun 1999Timor Timur pada mulanya merupakan wilayah jajahan Portugal. Ketika Indonesia merdeka dari kolonialisme Belanda pada tahun 1945, Timur Timur masih berada di bawah jajahan Portugal hingga tahun 1976. Jalan integrasi Timor Timur dengan Indonesia di awali ketika di tahun 1974 terjadi Revolusi Bunga di Portugal sehingga menyebabkan Portugal mengeluarkan kebijakan dekolonisasi dan mulai meninggalkan wilayah jajahannya termasuk Timor Timur. Padahal di saat yang bersamaan Timur Timur sedang dilanda perang saudara sehingga Lemos Pires yang merupakan Gubernur terakhir Portugal di Timur Timur meminta bantuan dari pemerintah pusat Portugal guna mengatasi perang saudara tersebut. Namun karena situasi Portugal sendiri yang sedang mengalami revolusi maka permintaan Lemos Pires tersebut tidak pernah mendapatkan jawaban sehingga ia kemudian memerintahkan tentara Portugal yang masih bertahan di Timor Timur untuk melakukan evakuasi ke Pulau Kambing (Pulau Atauro). Selepas kepergian Portugal, partai-partai mulai berdiri di Timor Timur. Ada tiga partai yang merupakan partai terbesar di Timor Timur, yakni UDT (Uniao Democratica Timorense), APODETI (Associacao Popular DemocraticaTimorense), dan FRETILIN (Frente Revolucionaria de Timor Leste Independente). Ketiga partai tersebut memiliki visi yang berbeda bagi Timor Timur kedepannya. UDT menginginkan bila Timur Timur tetap berada di bawah kekuasaan Portugal. APODETI menginginkan Timor Timur berintegrasi dengan Indonesia. Sementara FRETILIN yang beraliran komunis menginginkan Timor Timur menjadi negara yang meredeka. Perbedaan ini kemudian menyebabkan kerusuhan menyebar di sepenjuru Timor Timur. Keadaan diperparah dengan adanya vacum of power di Timor Timur antara bulan Spetember, Oktober, dan November. Laporan resmi yang dirilis oleh PBB menyebutkan bila selama masa tersebut FRETELIN melakukan pembantaian terhadap 60.000 penduduk sipil. Sebagian besar dari penduduk yang dibantai adalah wanita dan anak-anak yang suami mereka merupakan pendukung faksi integrasi Timor Timur dengan Indonesia. Lalu pada tanggal 28 November 1975, FRETELIN menurunkan bendera Portugal dan mendeklarasikan Timor Timur sebagai Republik Demokratik Timur Leste.Atas kejadian pembantaian serta deklarasi kemerdekaan Timor Timur yang dilakukan oleh FRETELIN, kemudian pada tanggal 30 November 1975 kelompok pendukung integrasi mengadakan proklamasi di Balibo yang menyatakan bahwa Timor Timur menjadi bagian dari NKRI dimana naskah proklamasi tersebut ditandatangani oleh ketua APODETI, Arnaldo dos Reis Araujo , dan ketua UDT yaitu Francisco Xavier Lopes da Cruz. Mereka juga meminta dukungan Indonesia untuk mengambil alih Timor Timur dari kekuasaan FRETILIN.Pada tanggal 7 Desember 1975 dengan sandi Operasi Seroja, pasukan Indonesia tiba di Timor Timur. FRETILIN lalu memaksa ribuan rakyat untuk mengungsi ke daerah pegunungan. Mereka dijadikan sebagai human shields guna melawan tentara Indonesia.Berdasarkan pada UU No. 7 tahun 1976[footnoteRef:2] dan Peraturan Pemerintah No 19 tahun 1976[footnoteRef:3], Timor Timur resmi menjadi provinsi ke-27 Indonesia. Hanya ada beberapa negara yang mengakui integrasi Timor Timur dengan Indonesia diantaranya negara-negara ASEAN serta Argentina.[footnoteRef:4] Sementara PBB beserta negara-negara barat menolak untuk mengakui integrasi tersebut. [2: Hukum Online. Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1976. Diakses dari http://www.hukumonline.com/pusatdata/detail/21035/node/924/uu-no-7-tahun-1976-pengesahan-penyatuan-timor-timur-ke-dalam-negara-kesatuan-republik-indonesia-dan-pembentukan-propinsi-daerah-tingkat-i-timor-timur, pada 28 Maret 2014 pukul 08.25 WIB.] [3: Adiguna, Mozes. (2013). Masa Integrasi Adalah Masa Terindah bagi Timor Timur. Diakses dari http://politik.kompasiana.com/2013/03/07/masa-integrasi-adalah-masa-terindah-bagi-timor-timur-539975.html, pada 28 Maret 2014 pukul 08.32 WIB.] [4: Ibid.]

Selama kurun waktu 1975 1999 dilaporkan bila korban tewas lebih dari 200.000 jiwa. Seperti yang telah disebutikan diatas bila PBB secara resmi melaporkan 60.000 orang tewas dibunuh oleh FRETELIN. Sisanya tidak diketahui secara pasti penyebab kematiannya. Tetapi CAVR (Comisso de Acolhimento, Verdade e Reconciliao de Timor Leste atau Commission for Reception, Truth and Reconciliation in East Timor) melaporkan bila 183.000 orang telah tewas di tangan tentara Indonesia karena keracunan bahan kimia. Sayangnya dalam laporan ini tidak secara rinci disebutkan bagaimana proses pembunuhan menggunakan bahan kimia itu berlangsung. Sehingga kebenaran dari laporan ini dapat dipertanyakan mengingat bila Portugal juga memiliki kepentingan terhadap Timor Timur sebagai bekas wilayah jajahannya.Amerika Serikat dan Australia pun menuduh Indonesia telah melakukan pelanggaran HAM berat selama masa pendudukan di Timor Timur. Kondisi Indonesia yang menerima tuduhan seperti itu diperparah dengan terjadinya krisis moneter yang menimpa negara-negara Asia Tenggara pada tahun 1997 termasuk Indonesia. Ketidakstabilan ekonomi di Indonesia juga berdampak pada stabilitas politik Indonesia. Indonesia yang mengalami krisis keuangan lalu mengajukan permintaan bantuan keuangan pada IMF. Bantuan sebesar USD43 milyar bersedia diberikan oleh IMF tetapi dengan memenuhi beberapa syarat. Selain meminta Indonesia untuk meliberalisasikan pasarnya, IMF juga meminta Indonesia untuk melepaskan Timor Timur. Tentunya sebagai organisasi yang merupakan kepanjangan tangan dunia barat, syarat yang diberikan oleh IMF ini tidak terlepas dari kepentingan barat terhadap Timor Timur. Indonesia pada akhirnya bersedia untuk melakukan referendum bagi Timor Timur. Referendum dilakukan pada tanggal 30 Agustus 1999 saat Indonesia dipimpin oleh B.J. Habibie. Dalam referendum yang dilaksanakan oleh PBB ini, Timor Timur diberikan dua opsi. Opsi pertama yakni Timor Timur tetap menjadi bagian dari Indonesia dan diberikan otonomi yang luas. Sedangkan opsi kedua adalah Timor Timur melepaskan diri dari Indonesia.Referendum diikuti oleh 98,6% penduduk yang terdaftar atau sekitar 450.000 penduduk Timor Timur. Hasil referendum diumumkan pada tanggal 4 September 1999 oleh Koffi Anan dengan hasil 344.508 (78,5%) suara untuk kemerdekaan dan 94.388 (21,5%) untuk integrasi. Hingga tahun 2002 Timor Timur berada di bawah PBB dan baru tanggal 20 Mei 2002, Timor Timur resmi diakui kemerdekaannya secara internasional sebagai Republik Demokratik Timor Leste.

B. Referendum Crimea Tahun 2014Crimea atau Republik Crimea merupakan suatu wilayah di Ukraina yang memiliki status otonom dimana wilayah ini memiliki parlemen, pemerintahan, bendera, dan undang-undangnya sendiri dengan ibu kota bernama Simferpool.[footnoteRef:5] Badan legislatif Crimea yakni Dewan Tertinggi Crimea beranggotan 100 wakil rakyat dan kekuasaan eksekutifnya berada di bawah Dewan Menteri yang dipimpin oleh seorang ketua yang berkuasa atas persetujuan Presiden Ukraina.[footnoteRef:6]Meskipun merupakan bagian dari Ukraina namun berdasarkan demografi penduduk, sebesar 58,3% merupakan etnis Rusia. Sementara etnis Ukraina dan juga