Potensi Ekonomi Ummat Yang Terabaikan

  • View
    32

  • Download
    2

Embed Size (px)

Transcript

POTENSI EKONOMI UMMAT YANG TERABAIKAN(selayang pandang dari HM. Yunus Genda)

Sejak terjadinya krisis ekonomi di Indonesia yang juga melanda beberapa negara di belahan dunia ini pada kenyataannya republik ini berada pada kondisi yang sangat memprihatinkan karena bukan hanya krisis ekonomi semata yang melanda negeri tercinta ini tapi sudah terjadi krisis kepercayaan, krisis kepemimpinan yang ditandai dengan lunturnya nilai-nilai moral bangsa ini, kalau negara-negara lain di dunia ini juga mengalami hal yang sama namun mereka mampu bangkit dari keterpurukannya dengan berbagai upaya untuk mengatasi krisis multi dimensi ini. Sangatlah ironis rasanya bangsa ini tidak pernah mengalami perubahan yang signifikan untuk menjadi lebih baik dari sebelumnya bahkan situasinya semakin terpuruk dan agaknya susah keluar dari keterpurukan ini seolah-olah ada pihakpihak tertentu yang tidak menghendaki krisis ini berlalu begitu saja demi untuk melanggengkan diri untuk mempertahankan kekuasaan dan harta kekayaannya. Para elit-elit politik kita semakin terlena dengan fasilitas yang sudah diperolehnya selama ini sehingga mereka lupa akan kewajibannya untuk membela dan berpihak kepada kepentingan masyarakat konstituennya seolah mereka tidak lagi memiliki kepedulian terhadap sesama sebagai acuan kebijakannya terbukti dengan maraknya anggota dewan yang merasa terhormat tapi tidak lagi dihormati oleh masyarakat karena tindakannya yang sangat memalukan institusinya walaupun itu hanya sebagian orang saja yang berbuat kejahatan dengan menjual kewenangannya dengan harga yang sangat murah akibat dari nilai-nilai moral yang ada pada diri mereka ditutupi dengan godaan kenikmatan sesaat, demikian pula para eksekutif bangsa ini kebingungan mencari beberapa alternatif untuk mengatasi kesulitan yang dialami bangsa ini akibat dari kenaikan BBM yang sangat menyengsarakan rakyat kecil yang mengakibatkan melonjaknya harga-harga dari berabagai kebutuhan pokok sehari-hari yang katanya demi membantu masyarakat miskin melalui Bantuan Langsung Tunai (BLT) namun kenyataannya masyarakat bukanlah terbantu mengatasi kesulitan mereka kecuali dengan kenikmatan sesaat saja setelah itu orang miskin tersebut malah tambah miskin lagi pada saat BLT yang mereka terima salama ini akan dihentikan oleh pemerintah nantinya, dan lebih diperparah lagi dengan kelangkaan penggunaan listrik yang berdampak pemadaman bergilir bagi masyarakat kecil namun bagi orang-orang yang berada pada level menengah keatas tidaklah merasakan dampak dari pemadaman bergilir tersebut. Sangatlah ironis bangsa ini kaya dengan sumber daya alamnya termasuk tenaga listrik yang melimpah ruah dan gratis yang telah disediakan oleh Allah swt, seperti tenaga angin, geothermal, tenaga surya, mikro hydro dll, tapi masyarakat kita harus menderita tanpa penerangan listrik yang memadai, bagaimana mungkin anak bangsa ini bisa menjadi cerdas kalau waktu belajar anak-anak kita harus dikorbankan karena ketiadaan fasilitas listrik yang tentunya akan

menjadikan lingkungan semakin rawan dari kejahatan pencurian dan kejahatan lainnya, benarlah rasanya pepatah yang mengatakan ibarat ayam mati di lumbung padi. Akhir-akhir ini kita semua dihebohkan suatu berita yang sangat menyedihkan atas tingkah laku sebagian dari anggota yudikatif bangsa ini tidak lagi menjadi pengayom yang adil dalam membela masyarakat kecil bahkan mereka beramairamai menggerogoti hukum itu sendiri dalam bentuk korupsi berjamaah untuk memperkaya diri sendiri dalam membela kasus BLBI, namun pemerintah tidak lagi berdaya mengatasi hal tersebut karena sudah disibukkan dengan kegiatan promosi diri dalam rangka menghadapi pemilu tahun 2009 yang akan datang dan sangat menyedihkan lagi beberapa BUMN kita harus dilepas kepada pihak asing demi mencari penyelesaian sesaat. Pernahkah kita mencoba meluangkan sedikit waktu untuk merenungi nasib rakyat kita yang tertimpa kemalangan yang harus menanggung beban begitu besar dan berat akibat kebijakan yang tidak berpihak kepada mereka sehingga banyak diantara mereka hanya pasrah dengan keadaan ini yang berakibat kestabilan ekonomi dan keamanan negara kita sangat terganggu bahkan seandainya pemerintah mau lebih arif dan bijaksana menggali suatu potensi yang sangat besar yang juga sudah diperintahkan dalam Alquran dan Hadits yaitu pengumpulan Zakat Harta bagi kaum muslim/muslimah sesuai dengan aturan dan mekanisme yang telah ditetapkan dalam ajaran Islam, sebagaimana data yang ada bahwa + 80% masyarakat Indonesia beragama Islam, yang tentunya mempunyai potensi yang sangat signifikan untuk dimanaj walaupun sebenarnya hal ini sudah sejak lama selalu terdengar gaungnya tapi tidak pernah terealisir karena political weel dari pemerintah tentang pemanfaatan zakat tersebut selalu terabaikan, padahal kewajiban seorang muslim/muslimah untuk mengamalkan rukun Islam yang lima posisi zakat itu menempati urutan ke 3 setelah perintah mendidrikan shalat lima waktu, sebagaimana kita semua ketahui bahwa ratusan ayat-ayat dalam Alquranul Karim selalu menggandengkan zakat itu dengan perintah mendirikan shalat. (Aqiimushshalaah waatuzzakaah), tapi yang kenyataannya masyarakat muslim/muslimah kita menempatkan posisi zakat tersebut berada pada posisi di belakang bahkan terabaikan, sebagaimana perintah zakat itu yang tertuang dalam Surah At-Taubah (9) ayat 34 dan 35 berbunyi ;

Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya sebahagian besar dari orang-orang alim Yahudi dan rahib-rahib Nasrani benar-benar memakan harta orang dengan jalan yang batil dan mereka menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah. Dan orangorang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih,

pada hari dipanaskan emas perak itu dalam neraka Jahanam, lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka: "Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu". Diperjelas lagi dari hadits nabi Muhammad saw sebagai berikut ; Abu Hurairah r.a. berkata, "Rasulullah bersabda, 'Barangsiapa yang diberi harta oleh Allah, namun tidak mengeluarkan zakatnya, maka harta itu akan dijadikan seperti ular jantan botak (karena banyak racunnya dan sudah lama usianya). Ular itu mempunyai dua taring yang mengalungi lehernya pada hari kiamat. Kemudian ular itu menyengatnya dengan kedua taringnya. Ia mencengkeram kedua rahangnya dengan berkata, 'Saya adalah hartamu, saya adalah simpananmu.' Kemudian beliau membaca ayat, 'Sekali-kali janganlah orang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya menyangka bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Tetapi, kebakhilan itu buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu kelak akan dikalungkan di leher mereka di hari kiamat. Kepunyaan Allah lah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi. Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.' (Dalam satu jalan periwayatan dengan redaksi yang berbunyi: 'Harta simpanan seseorang dari kamu itu besok pada hari kiamat akan menjadi ular jantan yang botak, dan pemiliknya lari menjauhinya. Tetapi, ular itu mengejarnya sambil berkata, 'Aku adalah harta simpananmu.' Rasulullah bersabda, 'Demi Allah, ular itu terus mengejarnya. Sehingga, ia membentangkan tangannya, lalu ular itu mengunyahnya dengan mulutnya.' Sabda beliau selanjutnya, 'Apabila pemilik binatang ternak itu tidak memberikan haknya (zakat nya), niscaya ternak itu akan dikuasakan atasnya pada hari kiamat. Lalu, akan menginjak-injak wajahnya dengan telapak kakinya.' 8/60)."

Mari kita melihat suatu penomena yang nyata dalam masyarakat kita dewasa ini bahwa setiap tahun masyarakat muslim/muslimah kita selalu antri menunggu giliran untuk melakukan ibada haji ke Baitullah (ibadah haji adalah rukun Islam yang ke 5) berarti masyarakat muslim/muslimah kita, punya kemampuan material yang memadai bahkan sekian banyak warga muslim/muslimah yang menunggu sampai 4 tahun baru mendapat quota haji namun perlu dipertanyatakan apakah pribadi-pribadi muslim/muslimah tersebut sudah melaksanakan rukun Islam yang ke 3 (menunaikan zakat) secara benar dan jujur, tentunya terpulang kepada masing-masing pribadi muslim/muslimah itu sendiri. Kita semua tentu menyadari bahwa sekian lama ini pengumpulan zakat itu sudah dilakukan oleh banyak organisasi islam bahkan dari kalngan pemerintah melalui Bazis, namun realisasinya belum mampu berperan banyak mengatasi krisis ekonomi ini karena pengelolaannya yang tidak sungguh-sungguh, tidak professional, tidak transpansi, dan tidak akuntabel serta tidak adanya kesatuan antara satu dengan yang lainnya dan yang lebih penting lagi belum adanya polical weel dari pemerintah secara sungguh-sungguh. Sebagai illustrasi yang sangat sederhana akan kami uraikan adalah sesuai data statistik bahwa bangsa ini yang berpenduduk + 230.juta jiwa dan lebih dari 80% adalah muslim/muslimah yakni 184 juta jiwa, dan dari 184 juta jiwa tersebut katakanlah 30% yang masuk kategori wajib mengeluarkan zakat sebagai kepala keluarga atau berpenghasilan cukup berarti terdapat + 55.2 juta jiwa muslim/ muslimah wajib zakat, diumpamakan rata-rata punya kewajiban zakat sebesar Rp. 5.000 perbulan saja (angka sangat pesimis) maka dapat terkumpul dana sebesar Rp. 276 milyar setiap bulannya kalau satu tahun berarti nilainya sebesar Rp. 3.312 Trilyun, tentulah angka ini masih sangat kecil tapi akan mampu berperan langsung membantu kepada masyarakat miskin atau yang tidak cukup punya kemampuan. Inilah potensi ekonomi ummat yang terabaikan selama ini, walaupun negara ini bukan negara Islam tetapi kewajiban tersebut dapat saja dijalankan karena baik di eksekutif, legislatif maupun yudikatif bahkan di instansi swastapun para top leadernya adalah mayoritas tokoh-tkoh muslim, hanya saja keberanian kita untuk melaksanakan hal tersebut masih sangatlah kecil dan penuh dengan keraguraguan, padahal dalam hadits nabi sud