RETINOBLASTOMA PART1

  • View
    143

  • Download
    1

Embed Size (px)

Text of RETINOBLASTOMA PART1

MAKALAH SISTEM PERSEPSI SENSORI RETINOBLASTOMADosen Pengajar : Andi Yudianto, S Kep.Ners., M.Kes

Oleh:1. Anjani Tri Lestari 2. Masitoh Ika Cahyani 3. Muslimatun Nur R 4. Rusmiati 5. Nurhasna Hatuluayo

FAKULTAS ILMU KESEHATAN PRODI S1 KEPERAWATAN UNIVERSITAS PESANTREN TINGGI DARUL ULUM JOMBANG

i

LEMBAR PENGESAHAN

Makalah Sistem Persepsi Sensori RETINOBLASTOMA Di Fakultas Ilmu Kesehatan Prodi S1 Keperawatan Universitas Pesantren Tinngi Darul Ulum Tahun Pelajaran 2013/2014 Disusun Oleh :

KELOMPOK 031. Anjani Tri Lestari 2. Masitoh Ika Cahyani 3. Muslimatun Nur R 4. Rusmiati 5. Nurhasna Hatuluayo disetujui dan disahkan pada Maret 2013

MENYETUJUI / MENGESAHKAN

Dosen Pengajar dan Dosen Pembimbing

H. Andi Yudianto, S.Kep.Ns.M.Kes.

ii

Kata Pengantar Puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala limpahan rahmat dan hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini dalam bentuk maupun isinya yang sederhana. Semoga makalah "Retinoblastoma" ini dapat dipergunakan sebagai acuan dan pedoman maupun petunjuk bagi pembaca dalam proses belajar mengajar. Harapan kami semoga makalah ini membantu menambah pengetahuan serta pengalaman bagi kami dan pembaca, sehingga makalah ini dapat diperbaiki dan dikembangkan bentuk maupun isinya agar kedepannya menjadi lebih baik. Makalah yang sederhana ini masih sangat jauh dari kesempurnaan karena pengalaman kami yang masih sangat minim. Oleh karena itu kami harapkan kepada para pembaca untuk memberikan masukan-masukan yang bersifat membangun untuk kesempurnaan makalah ini.

Jombang, 03 Maret 2013

iii

DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL................................................................................................i KATA PENGANTAR.............................................................................................ii BAB I

PENDAHULUAN.............................................................................................................1 BAB II

PEMBAHASAN................................................................................................................3 BAB IV

PENUTUP.......................................................................................................................19 DAFTAR PUSTAKA......................................................................................................20

iv

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Retinoblastoma adalah salah satu penyakit kanker primer pada mata yang paling sering dijumpai pada bayi dan anak. Penyakit ini tidak hanya dapat mengakibatkan kebutaan, melainkan juga kematian. Di negara berkembang, upaya pencegahan dan deteksi dini belum banyak dilakukan oleh para orang tua. Salah satu sebabnya adalah pengetahuan yang masih minim mengenai penyakit kanker tersebut. Dalam penelitian menyebutkan bahwa 5-10% anak usia prasekolah dan 10% anak usia sekolah memiliki masalah penglihatan. Namun seringkali anak-anak sulit menceritakan masalah penglihatan yang mereka alami. Karena itu, skrining mata pada anak sangat diperlukan untuk mendeteksi masalah penglihatan sedini mungkin. Skrining dan pemeriksaan mata anak sebaiknya dilakukan pada saat baru lahir, usia 6 bulan, usia 3-4 tahun, dan dilanjutkan pemeriksaan rutin pada usia 5 tahun ke atas. Setidaknya anak diperiksakan ke dokter mata setiap 2 tahun dan harus lebih sering apabila telah ditemukan masalah spesifik atau terdapat faktor risiko. Untuk itu kami menyusun makalah ini dengan tujuan berbagi pengetahuan tentang penyakit retinablastoma ke masyarakat luas Indonesia masih kurang di memahami dengan retino blastoma. 1.2 Rumusan Masalah a. Apakah definisi Retinoblastoma? b. Apa etiologi dari penyakit Retinoblastoma? c. Bagiamana patofisiologi penyakit Retinoblastoma? d. Apa saja tanda dan gejala penyakit Retinoblastoma? e. Bagaimana penatalaksanaan penyakit retinoblastoma? f. Bagaimana asuhan keperawatan pasien dengan Retinoblastoma? g. Apa pemeriksaan penunjang untuk penderita Retinoblastoma? perhatikan. yang mana di negara perawat perlu Dan kami sebagai

dan mengetahui mengenai asuhan keperawatan terhadap pasien

1

1.3 Tujuan Umum Secara umum, makalah ini bertujuan untuk memenuhi tugas sistem persepsi sensori. 1.4 Tujuan Khusus 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Mengetahui Pengertian dari penyakit retinoblastoma. Mengetahui etiologi dari penyakit retinoblastoma. Mengetahui tanda dan gejala dari penyakit retinablastoma. Mengetahui patofisiologi dari penyakit retinoblastoma. Mengetahui penatalaksanaan terhadap pasien retinoblastoma. Mengetahui asuhan keperawatan yang tepat pada pasien retinoblastoma Mengetahui Web Of Caution (WOC) dari penyakit Retinoblastoma Memahami berbagai macam pemeriksaan penunjang pada penderita retinoblastoma.

2

BAB II PEMBAHASAN RETINOBLASTOMA 1.5 Definisi Retinoblastoma, yang muncul dari retina adalah tumor intraokuler kongenital ganas yang paling umum terjadi pada masa kanak-kanak. (Donna L. Wong, dkk : 734). Retinoblastoma adalah tumor intraokuler maligna primer masa anak yang paling lazim. Ia terjadi pada kira-kira 1 dalam 18.000 bayi. (Berhman, dkk : 2000). Retinobalstoma (RB) adalah keganasan intraokuler primer tersering pada anak. (Abraham M. Rudolph, dkk : 2311). Retinoblastoma adalah tumor endo-okular pada anak yang mengenai saraf embrionik retina. Kasus ini jarang terjadi, sehingga sulit untuk dideteksi secara awal. Rata rata usia klien saat diagnosis adalah 24 bulan pada kasus unilateral, 13 bulan pada kasus kasus bilateral. Beberapa kasus bilateral tampak sebagai kasus unilateral, dan tumor pada bagian mata yang lain terdeteksi pada saat pemeriksaan evaluasi. ini menunjukkan pentingnya untuk memeriksa klien dengan dengan anestesi pada anak anak dengan retinoblastoma unilateral, khususnya pada usia dibawah 1 tahun. (Pudjo Hagung Sutaryo, 2006 ). 1.6 Etiologi Kelainan kromosom Terjadi karena kehilangan kedua kromosom dari satu pasang alel dominant protektif yang berada dalam pita kromosom 13q14. Bisa karena mutasi atau diturunkan. Penyebabnya adalah tidak terdapatnya gen penekan tumor, yang sifatnya cenderung diturunkan. Kanker bisa menyerang salah satu mata yang bersifat somatic maupun kedua mata yang merupakan kelainan yang diturunkan secara autosom dominant. Kanker bisa menyebar ke kantung mata dan ke otak (melalu saraf penglihatan/nervus optikus). Faktor genetik RB tampaknya timbul hanya apabila kedua alel dari sebuah onkogen

3

supresor yang terletak di regio q14 kromosom 13 tidaka ada/cacat. (Abraham M. Rudolph, dkk : 2311). Gen cacat RB1 dapat warisan dari orang tua baik, pada beberapa anak, bagaimanapun, mutasi terjadi pada tahap awal perkembangan janin. Tidak diketahui apa yang menyebabkan kelainan gen, melainkan yang paling mungkin menjadi kesalahan acak selama proses copy yang terjadi ketika sel membelah. 1.7 Patofisiologi Retinoblastoma berasal dari jaringan embrional retinal bersifat malignancy, kongenital dan herediter serta dapat menyerang atau tumbuh 1 atau kedua mata. Tumor tumbuh melalui mutasi genetik secara spontan atau sporadis atau diturunkan melalui autosomal dominant. Jika letak tumor di macula, dapat terlihat gejala awal strabismus. Massa tumor yang semakin membesar akan memperlihatkan gejala leukokoria, tanda-tanda peradangan vitreus yang menyerupai endoftalmitis. Jika sel-sel tumor terlepas dan masuk ke segmen anterior mata, akan menyebabkan glaucoma atau tanda peradangan berupa hipopion atau hifema. Pertumbuhan tumor ini dapat menyebabkan metastasis dengan invasi tumor melalui; nervus optikus ke otak, sclera ke jaringan orbita dan sinus paranasal, dan metastasis jauh ke sumsum tulang melalui pembuluh darah. Pada fundus terlihat bercak kuning mengkilat, dapat menonjol ke badan kaca. Dipermukaan terdapat neovaskularisasi dan perdarahan. Warna iris tidak normal. Penyebaran secara limfogen, ke kelenjar limfe preaurikuler dan submandibula serta secara hematogen ke sumsum tulang dan visera , terutama hati. 1.8 Tanda dan Gejala Pupil merah muda keputihan yang menonjol keluar dari retina ke dalam ruang vitreous. Penurunan pengelihatan

4

Refleks mata kucing/ refleks pupil putih (Leukokoria) karena tumor pucat yang meninggi di kutup posterior mata. Strabismus Mata eritematosus dengan nyeri persisten. (Abraham M. Rudolph, dkk : 2311). 1.9 Penatalaksanaan Pengobatan retinoblastoma ialah enukleasi bulbi yang disusul dengan radiasi. Apabila retinoblastoma sudah meluas sampai ke jaringan orbita maka dilakukan eksenterasi orbita disusul dengan radiasi dan bila diberikan kemoterapi (Ilyas dkk, 2002). Terapi Beberapa cara terapi adalah : 1. 2. Enukleasi mengangkat boila mata dan dioganti dengan bola mata prothese Penyinaran bola mata. Retino blastoma bersifat radiosensitif, sehingga

(buatan). terapi ini sangat efelktipo. Bahayanya jaringan sekitarnya dapat rusak akibat penyinaran. 3. 4. 5. Photocoagulation : terapi dengan sinar Laser ini sangat efektip pada ukuran Cryotherapy : terapi dengan cara pendinginan (pembekuan) pada kanker Chemotherapy : diberikan obat-obatan anti kanker yang dapat mengecilkan Kanker yang kecil. ukuran kecil terapi ini berhasil baik. ukuran kanker. Cara terapi mana yang dipakai tergantung dari : 1. Ukuran kanker 2. Lokasi kanker 3. Apakah sudah menjalar atau belum 4. Bagaimana status/keadaan bola mata yang lain

5

5. Adanya komplikasi 6. Riwayat keluarga 7. Tersedianya fasilitas untuk terapi-terapi diatas. Pembedahan: 1. Enukleasi : Dilakukan pada tumor yang masih terbatas pada itraokuler

ialah dengan mengangkat seluruh bola mata dan meotong saraf optik sepanjang mungkin. 2. 3. tumor. (Donna L. Wong, dkk : 735) Apabila diagnosis RB meragukan, kadang-kadang dilakukan biopsi jarum halus terhadap tumor. Apabila dipertimbangkan metastasis, perlu diberlakukan pemindaian CT atau MRI, radiografi toraks, pemindaian tulang, peme