Analisa Tingkat Kesehatan BPRS

  • View
    244

  • Download
    14

Embed Size (px)

DESCRIPTION

PENGERTIAN TINGKAT KESEHATAN BANKTingkat Kesehatan Bank adalah hasil penilaian kondisi Bank yang dilakukan terhadap risiko dan kinerja Bank atau dalam pengertian lain tingkat kesehatan Bank adalah suatu cerminan bahwa sebuah bank dapat menjalankan fungsinya dengan baik.Dalam pengertian lain Tingkat kesehatan bank merupakan hasil penelitian kualitatif atas berbagai aspek yang berpengaruh terhadap kondisi atau kinerja suatu bank melalui penilaian faktor permodalan, kualitas asset, manajemen, rentabilitas, likuiditas. Penilaian terhadap faktor-faktor tersebut dilakukan melalui penilaian kualitatif setelah mempertimbangkan unsur judgement yang didasarkan atas materialitas dan signifikansi dari faktor-faktor penialian serta pengaruh dari faktor lainnya seperti kondisi industri perbankan dan perekonomian nasional. Penilaian kuantitatif adalah penilaian terhadap posisi, perkembangan, dan proyeksi rasio-rasio keuangan bank. Penilaian kualitatif adalah penilaian terhadap faktor-faktor yang mendukung hasil penilaian kuantitatif, penerapan manajemen risiko, dan kepatuhan bank dan saat ini Bank Indonesia juga memiliki metode penilaian kesehatan secara keseluruhan baik dari segi kualitatif dan kuantitatif.Budisantoso dan Triandaru (2005:51) mengartikan kesehatan bank sebagai “kemampuan suatu bank untuk melakukan kegiatan operasional perbankan secara normal dan mampu memenuhi semua kewajibannya dengan baik dengan cara-cara yang sesuai dengan peraturan yang berlaku”. Pengertian tentang kesehatan bank tersebut merupakan suatu batasan yang sangat luas, karena kesehatan bank mencakup kesehatan suatu bank untuk melaksanakan seluruh kegiatan usaha perbankannya. Menurut Budisantoso dan Triandaru (2005:51), kegiatan tersebut meliputi:1. Kemampuan menghimpun dana dari masyarakat, dari lembaga lain dan modal sendiri;2. Kemampuan mengelola dana;3. Kemampuan menyalurkan dana ke masyarakat;4. Kemampuan memenuhi kewajiban kepada masyarakat, karyawan, pemilik modal, dan pihak lain;5. Pemenuhan peraturan perbankan yang berlaku.Dengan kata lain tingkat kesehatan bank juga erat kaitannya dengan pemenuhan peraturan perbankan (kepatuhan pada Bank Indonesia). Berikut adalah beberapa ketentuan kehati-hatian (prudential banking) yang dapat penulis uraikan : KEWAJIBAN PENYEDIAAN MODAL MINIMUM (KPMM)BPR diwajibkan untuk memenuhi rasio KPMM (CAR) minimal 8% yang dihitung dari perbandingan antara Modal dengan Aktiva Tertimbang Menurut Risiko (ATMR) komponen modal terdiri atas modal inti dan modal pelengkap dimana modalpelengkap maksimum sebesar 100% dari modal inti.Modal inti terdiri dari modal disetor, agio, dana setoran modal, modal sumbangan, cadangan umum, cadangan tujuan, laba ditahan (setelah diperhitungkan pajak), laba tahun-tahun lalu (setelah diperhitungkan pajak) dan laba tahun berjalan (sebesar 50% setelah taksiran pajak). Faktor pengurang pada modal inti berupa goodwill, disagio, rugi tahun-tahun lalu dan rugi tahun berjalan.Modal pelengkap terdiri dari cadangan revaluasi aktiva tetap, PPAP umum (maksimum sebesar 1,25% dari ATMR), modal pinjaman (hybrid/quasi capital), pinjaman subordinasi (maksimum sebesar 50% dari modal inti).ATMR terdiri dari aktiva neraca BPR yang diberikan bobot sesuai dengan kadar risiko yang melekat pada setiap pos aktiva. BATAS MAKSIMUM PEMBERIAN KREDIT (BMPK)BMPK adalah batas maksimum penyediaan dana yang diperkenankan untuk dilakukan oleh BANK kepada peminjam atau kelompok peminjam tertentu.BMPK untuk satu peminjam maupun satu kelompok peminjam yang tidak terkait dengan BANK ditetapkan setinggi tingginya 20 % dari modal BANK. BMPK bagi pihak yang terkait dengan BANK secara individu maupun secara keseluruhan ditetapkan setinggi-tingginya sebesar 10% dari modal BANK.Terhadap pelampauan BMPK, BANK diwajibkan menyampaikan action plan kepada Bank Indonesia dan dikenakan sanksi dalam penilaian tingkat kesehatan sementara terhadap pelanggar

Text of Analisa Tingkat Kesehatan BPRS

  • ANALISIS TINGKAT KESEHATAN BANK PERKREDITAN RAKYAT SYARIAH PD. BPRS KOTA BEKASI BERDASARKAN PERATURAN BANK

    INDONESIA NOMOR : 9/17/PBI/2007

    Oleh :

    ANITA

    NIM : 104046101574

    KONSENTRASI PERBANKAN SYARIAH

    PROGRAM STUDI MUAMALAT (EKONOMI ISLAM)

    FAKULTAS SYARIAH DAN HUKUM

    UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH

    JAKARTA

    1430H / 2009

    LEMBAR PERNYATAAN

  • Dengan ini saya menyatakan bahwa :

    1. Skripsi ini merupakan hasil karya asli saya yang diajukan untuk memenuhi salah

    satu persyaratan memperoleh gelar strata 1 di Universitas Islam Negeri (UIN)

    Syarif Hidayatullah Jakarta.

    2. Semua sumber yang saya gunakan dalam penulisan ini telah saya cantumkan

    sesuai dengan ketentuan yang berlaku di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif

    Hidayatullah Jakarta.

    3. Jika dikemudian hari terbukti bahwa karya ini bukan hasil karya asli saya atau

    merupakan hasil jiplakan dari karya orang lain, maka saya bersedia menerima

    sanksi yang berlaku di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah

    Jakarta.

    Jakarta, 12 Februari 2009

    Anita

  • KATA PENGANTAR

    Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, yang dengan rahmat dan hidayah-Nya maka penulis akhirnya dapat menyelesaikan skripsi ini. Shalawat dan salam bagi Nabi Muhammad SAW. Pembawa pesan suci Al-Quran, sang cahaya pelita dalam gelapnya dunia.

    Dalam melakukan penelitian ini, penulis sangat terbantu oleh partisipasi banyak pihak yang terlibat secara langsung maupun tidak langsung. Dengan kerendahan hati, pada kesempatan ini penulis menyampaikan penghargaan setinggi-tingginya dan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada: 1. Bapak Prof. Dr. H.M. Amin Suma, SH, MA, MM, selaku Dekan Fakultas Syariah

    dan Hukum Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

    2. Ibu Dr. Euis Amalia, M.Ag, selaku Ketua Program Studi Muamalat (Ekonomi Islam)

    dan Bapak Ah. Azharuddin Lathif, M.Ag, selaku Sekretaris Program Studi Muamalat

    (Ekonomi Islam).

    3. Bapak H.M. Dawud Arif Khan, SE., M.Si., Ak., CPA dan Drs. H. Zaenul Arifin

    Yusuf, M.Pd selaku Dosen Pembimbing Skripsi yang senantiasa meluangkan waktu

    dan memberikan arahan, koreksi, dan saran hingga penulisan skripsi ini

    terselesaikan.

    4. Seluruh Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang

    telah memberikan ilmunya kepada penulis.

    5. Pimpinan dan seluruh staff perpustakaan utama dan perpustakaan Syariah dan

    Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, yang telah memberikan fasilitas untuk

    penulis mengadakan studi kepustakaan.

    6. PD. BPRS Kota Bekasi, khususnya Bapak Nur S Buchori, SE., M.Si dan seluruh

    karyawan yang telah banyak membantu penulis untuk memperoleh data penelitian.

    7. Ayahanda M. Tani dan Ibunda Aisyiah yang selalu membimbingku dengan segala

    kasih sayangnya dan penuh kesabaran selama ini, kupersembahkan skripsi ini untuk

    kalian berdua.

  • 8. Untuk Kakakku Amalia, dan adik-adikku ; Nurhasanah, Abdul Ghofur dan Mia Aulia

    Nurdini. Terima kasih atas segala dukungannya.

    9. Untuk sahabat tercinta Ahmad Kailani, yang selalu menemani dan membantu penulis

    dalam penulisan skripsi ini. Terimakasih.

    10. Seluruh sahabatku di PS A 2004 khususnya Alina, Santi, Lala, Fajar, Erik dan Faiz

    terima kasih untuk indahnya persahabatan selama ini.

    11. Semua pihak yang tidak mungkin penulis sebutkan satu persatu yang telah

    membantu dan memberikan semangat hingga selesainya penulisan skripsi ini.

    Akhir kata, semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi seluruh pembaca khususnya Mahasiswa Fakultas Syariah dan Hukum UIN Jakarta.

    Jakarta, Februari 2009

    Penulis

  • DAFTAR ISI

    KATA PENGANTAR................................................................................. i

    DAFTAR ISI ............................................................................................... iii

    DAFTAR TABEL .......................................................................................vi

    BAB 1 PENDAHULUAN

    A. Latar Belakang Masalah.........................................................1

    B. Pembatasan dan perumusan Masalah......................................6

    C. Tujuan dan Manfaat Penelitian...............................................6

    D. Review Studi Terdahulu.........................................................8

    E. Metode Penelitian dan Teknik Penulisan................................11

    F. Sistematika Penulisan ............................................................13

    BAB II LANDASAN TEORI

    A. ............................................................................................Bank

    Perkreditan Rakyat Syariah (BPRS)............................15

    1. .....................................................................................Pengertian

    Bank Perkreditan Rakyat Syariah (BPRS) .......15

    2. .....................................................................................Tujuan

    Bank Perkreditan Rakyat Syariah (BPRS) .......16

    3. .....................................................................................Kegiatan

    Usaha. Bank Perkreditan Rakyat Syariah

    (BPRS) ............................................................................16

    B. Penilaian Tingkat Kesehtan BPRS..........................................27

  • 1. Penilaian Permodalan (Capital)........................................28

    2. Penilaian Kualitas Aset (Asset Quality) ............................38

    3. Penilaian Rentabilitas (Earning).......................................47

    4. Penilaian Likuiditas (Liquidity) ........................................51

    5. Penilaian Manajemen (Management). ..............................54

    BAB III GAMBARAN UMUM PD. BPRS KOTA BEKASI

    A...........................................................................................Sejarah

    Berdiri PD. BPRS Kota Bekasi.................56

    B. ..........................................................................................Visi dan

    Misi PD. BPRS Kota Bekasi.....................58

    C. ..........................................................................................Produk-

    produk PD. BPRS Kota Bekasi.................60

    D...........................................................................................Susunan

    Pengurus PD. BPRS Kota Bekasi .............62

    BAB IV ANALISIS TINGKAT KESEHATAN BANK PERKREDITAN

    RAKYAT SYARIAH PD. BPRS KOTA BEKASI BERDASARKAN

    PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR : 9/17/PBI/2007

    A. Penilaian Faktor Permodalan, Kualitas aset, Rentabilitas, Likuiditas

    dan Manajemen...................................................................63

    1. ..................................................................................Penilaian

    Faktor Permodalan (Capital) ......................................64

    2. ..................................................................................Penilaian

    Faktor Kualitas Aset (Asset Quality)...........................71

  • 3. ..................................................................................Penilaian

    Faktor Rentabilitas (Earning) .....................................80

    4. ..................................................................................Penilaian

    Faktor Likuiditas (Liquidity)...............................90

    5. ..................................................................................Penilaian

    Faktor Manajemen (Management) ..............................94

    B. Penetapan Peringkat Kesehatan Bank Perkreditan Rakyat

    Syariah PD. BPRS Kota Bekasi..........................................104

    BAB V PENUTUP

    A. Kesimpulan............................................................................106

    B. Saran .....................................................................................108

    DAFTAR PUSTAKA

    LAMPIRAN

  • DAFTAR TABEL

    Tabel 4.1 Rekapitulasi Nilai Rasio Faktor Permodalan ........................... 69 Tabel 4.2 Perhitungan Agregasi Rasio Faktor Permodalan...................... 71 Tabel 4.3 Data kualitas Aktiva................................................................ 72 Tabel 4.4 Data Penyisihan Penghapusan Aktiva (PPA............................ 73 Tabel 4.5 Rekapitulasi Nilai Rasio Faktor Kualitas Aset......................... 78 Tabel 4.6 Perhitungan Agregasi Rasio Faktor Kualitas Aset ................... 80 Tabel 4.7 Rekapitulasi Nilai Rasio Faktor Rentabilitas ........................... 88 Tabel 4.8 Perhitungan Agregasi Rasio Faktor Rentabilitas...................... 90 Tabel 4.9 Rekapitulasi Nilai Rasio Faktor Likuiditas .............................. 92 Tabel 4.10 Perhitungan Agregasi Rasio Faktor Likuiditas ........................ 94 Tabel 4.11 Penetapan Peringkat Faktor Manajemen ................................ 103 Tabel 4.12 Penetapan Peringkat Faktor Keuangan ................................... 104 Tabel 4.13 Tabel Konversi ....................................................................... 105

  • BAB I

    PENDAHULUAN

    A. Latar Belakang Masalah

    Industri perbankan merupakan salah satu komponen penting dalam menjaga

    keseimbangan serta kemajuan perekonomian nasional. Stabilitas industri perbankan

    ini sangat mempengaruhi perekonomian secara keseluruhan.

    Krisis ekonomi yang melanda Indonesia tahun 1997, memberikan pengaruh dan

    dampak yang paling nyata terhadap perkembangan ekonomi, banyak perusahaan

    besar tidak cukup kuat fondasinya untuk bertahan dari terpaan badai krisis yang

    terjadi. Mereka mengalami kebangkrutan karena memang selama ini mereka

    menggantungkan sumber pendanaan pada faktor eksternal, yaitu hutang1.

    Berbeda dari itu, usaha kecil menengah (UKM) justru memperlihatkan

    kemampuan untuk tetap survive, meskipun mereka diterpa badai krisis. Hal ini

    tidaklah mengherankan, karena memang selama ini mereka eksis di atas usaha

    sendiri dan sumber daya pribadi. Dilihat dari daya tahan sektor UKM, terutama

    usaha kecil, sektor ini sepantasnya mendapat perhatian dalam pengembangannya,

    terutama masalah pengadaan modal. Untuk itu, diperlukan bank yang dapat

    menyentuh pengusaha-pengusaha kecil tersebut.

    Kehadiran Bank perkreditan Rakyat Syariah (BPRS) diharapkan mampu

    memberi solusi, utamanya dalam rangka lebih memberdayakan perekonomian

    masyarakat ekonomi lemah, seperti pedagang sayur, pedagang buah, pedagang ikan

    1 Muhammad, Bank Syariah Problem dan Prospek Perkembangan di Indonesia, (Yogyakarta :

    Graha Ilmu, 2005), h.118

  • dan juga kegiatan ekonomi lainnya yang membutuhkan suntikan dana untuk

    menambah modal usaha yang digeluti mereka.

    Sejak tahun 1996, jumlah Bank Perkreditan Rakyat (BPR) baik konvensional

    maupun bank perkreditan rakyat syariah mengalami peningkatan cukup berarti.

    Keberadaan BPR ini semakin dikuatkan dengan keluarnya Undang-undang Republik

    Indonesia No. 10 tahun 1998 yang menekankan bahwa sasaran BPR adalah

    melayani usaha kecil.

    Bank-bank syariah, khususnya Bank Perkreditan Rakyat syariah (BPRS) sebagai

    lembaga perantara keuangan yang beroperasi atas dasar prinsip-prinsip syariah

    Islam sangat compatible dengan ketimpangan sosial, kemiskinan dan ketidakadilan

    sosial ekonomi. Dalam mengemban misi tersebut, tidak berarti BPRS mengabaikan

    kesehatan usaha bank itu sendiri, melainkan keduanya harus berjalan secara

    proporsional.

    Dalam menyalurkan pembiayaan kepada masyarakat, bank syariah sebagai

    sebuah lembaga bisnis yang berpegang pada nilai-nilai syariah sudah barang tentu

    tidak ingin mengalami kerugian, sebagaimana halnya lembaga-lembaga bisnis lain.

    Karena itu, bank syariah memiliki standar atau berpedoman pada prinsip kehati-

    hatian (prudential principles)2.

    Penetapan rambu-rambu kesehatan perbankan bertujuan agar bank sebagai

    financial intermediary institution yang melakukan kegiatan perkreditan, yang

    menggunakan dana masyarakat dan pihak ketiga lainnya, harus selalu dalam

    keadaan sehat. Sesuai dengan pasal 29 ayat (2) Undang-undang No. 10 tahun 1998

    Jo. Undang-undang No. 7 tahun 1992, bahwa bank wajib memelihara tingkat

    2 ibid, h. 132

  • kesehatannya sesuai dengan ketentuan kecukupan modal, kualitas aset, kualitas

    manajemen, likuiditas, rentabilitas, solvabilitas, dan aspek lain yang berhubungan

    dengan usaha bank, dan wajib melakukan kegiatan usaha dengan prinsip kehati-

    hatian3.

    Ukuran dalam menilai kesehatan bank telah ditentukan oleh Bank Indonesia.

    Penilaian ini bertujuan untuk menentukan apakah bank tersebut dalam kondisi yang

    sehat, cukup sehat, kurang sehat atau tidak sehat. Bank harus membuat laporan baik

    yang bersifat rutin ataupun secara berkala mengenai seluruh aktivitasnya dalam

    suatu periode tertentu.4 Dari laporan ini dipelajari dan dianalisis, sehingga dapat

    diketahui kondisi suatu bank. Dengan diketahui kondisi kesehatannya akan

    memudahkan bank itu sendiri untuk memperbaiki kesehatannya.

    Penilaian tingkat kesehatan Bank Perkreditan Rakyat (BPR) diatur dalam Surat

    Keputusan direksi Bank Indonesia Nomor : 30/12/KEP/DIR tanggal 30 April 1997.

    Namun, penerapan prinsip syariah dalam pengelolaan Bank Perkreditan Rakyat

    Berdasarkan Prinsip Syariah dan penyempurnaan standar keuangan syariah serta

    perkembangan kondisi bank yang bersifat dinamis mendorong sistem penilaian

    tingkat kesehatan Bank Perkreditan Rakyat Syariah (BPRS) yang dinamis pula,

    sehingga perlu diatur tersendiri agar dapat memberikan gambaran tentang kondisi

    saat ini dan di waktu mendatang termasuk dalam penerapan prinsip-prinsip syariah.

    Untuk itu Bank Indonesia menetapkan Peraturan Bank Indonesia Nomor :

    9/17/PBI/2007 tentang Sistem Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Perkreditan

    3 Sutan Remy Sjahdeini, Perbankan islam dan kedudukannya dalam tata hokum perbankan

    Indonesia, cet.III, (Jakarta : PT. Pustaka utama graffiti, 2007), h.171-172

    4Kasmir, Bank dan Lembaga Keuangan lainnya, Edisi keenam, (Jakarta : PT. Raja Grafindo persada, 2002), h. 47

  • Rakyat Syariah. Dengan berlakunya Peraturan Bank Indonesia sejak tanggal

    ditetapkan yaitu pada tangal 4 Desember 2007 ini, maka Surat Keputusan direksi

    Bank Indonesia Nomor : 30/12/KEP/DIR tanggal 30 April 1997 tentang Tata Cara

    Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Perkreditan Rakyat (BPR) tidak berlaku lagi bagi

    Bank Perkreditan Rakyat Berdasarkan Prinsip Syariah (BPRS).

    Pengaturan sistem penilaian tingkat kesehatan BPRS dalam Peraturan Bank

    Indonesia Nomor : 9/17/PBI/2007 tentang Sistem Penilaian Tingkat Kesehatan Bank

    Perkreditan Rakyat Berdasarkan Prinsip Syariah, dilakukan melalui pendekatan

    kualitatif dan kuantitatif dari faktor permodalan, kualitas aset, rentabilitas dan

    likuiditas, sedangkan penilaian atas komponen dari faktor manajemen dilakukan

    secara kualitatif melalui analisis dengan mempertimbangkan indikator pendukung

    termasuk kepatuhan terhadap prinsip syariah (syariah compliance). Hasil akhir

    penilaian dimaksud dapat digunakan BPRS sebagai sarana menetapkan strategi

    usaha di waktu yang akan datang, dan bagi Bank Indonesia dapat digunakan sebagai

    sarana penetapan dan implementasi strategi pembinaan dan pengawasan.

    PD. BPRS Kota Bekasi merupakan BPRS yang dikelola oleh Pemerintah Kota

    Bekasi, di mana 100% dari modalnya merupakan milik Pemerintah Kota Bekasi.

    BPRS yang mulai beroperasi pada tanggal 18 September 2006 ini telah mengalami

    perkembangan yang cukup pesat. Jika dilihat dari nilai total aset, sampai dengan 31

    Desember 2007, total asset PD. BPRS Kota Bekasi mencapai jumlah Rp

    12.890.934.962,00 terjadi peningkatan aset perusahaan sebesar Rp 8.815.213.450,00

    atau berkisar 216,28 % dari Aset per 31 Desember 2006 sebesar Rp 4.075.721.512,-.

    Kondisi kesehatan PD. BPRS Kota Bekasi merupakan informasi yang sangat

    dibutuhkan bagi nasabah, masyarakat dan terutama Pemerintah Kota Bekasi.

  • Analisis terhadap tingkat kesehatan PD. BPRS kota bekasi diharapkan dapat

    memberikan informasi mengenai kondisi kesehatan PD. BPRS kota bekasi bagi

    pihak-pihak yang berkepentingan, apakah PD. BPRS kota bekasi dalam kondisi

    yang sehat, cukup sehat, kurang sehat atau tidak sehat. Oleh karena itu penulis

    berinisiatif untuk menjadikan PD. BPRS Kota Bekasi sebagai objek dari penulisan

    skripsi dengan judul:

    Analisis Ttingkat Kesehatan Bank Perkreditan Rakyat Syariah PD. BPRS

    Kota Bekasi Berdasarkan Peraturan Bank Indonesia Nomor : 9/17/PBI/2007

    B. Pembatasan dan Perumusan Masalah

    Berdasarkan latar belakang masalah yang telah penulis uraikan sebelumnya,

    topik yang dibahas dalam skripsi ini hanya pada persoalan analisis tingkat kesehatan

    BPRS berdasarkan Peraturan Bank Indonesia Nomor : 9/17/PBI/2007 tentang

    Sistem Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Perkreditan Rakyat Berdasarkan Prinsip

    Syariah, yang dilihat dari segi Permodalan, Kualitas Aset, Rentabilitas, Likuiditas dan

    Manajemen. Untuk mengarahkan pembahasan, maka penulis merumuskan masalah

    sebagai berikut :

    1. Bagaimana penilaian faktor Permodalan (Capital), Kualitas Aset (Asset quality),

    Rentabilitas (Earning), Likuiditas (Liquidity) dan Manajemen (Management) dalam

    menilai tingkat kesehatan BPRS berdasarkan Peraturan Bank Indonesia Nomor :

    9/17/PBI/2007?

    2. Bagaimana tingkat kesehatan PD. BPRS Kota Bekasi berdasarkan Peraturan

    Bank Indonesia Nomor : 9/17/PBI/2007?

  • C. Tujuan dan Manfaat Penelitian

    1. Tujuan dari penelitian ini adalah :

    a. Untuk mengetahui penilaian tingkat kesehatan Bank Perkreditan Rakyat

    Syariah berdasarkan Peraturan Bank Indonesia Nomor : 9/17/PBI/2007

    b. Untuk mengetahui tingkat kesehatan PD. BPRS Kota Bekasi melalui

    penilaian tingkat kesehatan Bank Perkreditan Rakyat Syariah berdasarkan

    Peraturan Bank Indonesia Nomor : 9/17/PBI/2007.

    2. Manfaat Penelitian

    a. Bagi diri pribadi mendapat pengetahuan dan pemahaman yang lebih luas

    tentang penilaian tingkat kesehatan BPRS berdasarkan Peraturan Bank

    Indonesia Nomor : 9/17/PBI/2007.

    b. Bagi PD.BPRS Kota Bekasi, skripsi ini diharapkan dapat berguna dalam

    pengambilan keputusan berdasarkan informasi yang diperoleh untuk

    merencanakan suatu strategi baru, serta peningkatan kinerja dari PD.BPRS

    Kota Bekasi.

    c. Bagi pihak lain dalam hal akademisi maupun masyarakat, skripsi ini dapat

    memberikan pengetahuan dan pemahaman mengenai penilaian tingkat

    kesehatan BPRS berdasarkan Peraturan Bank Indonesia Nomor :

    9/17/PBI/2007 serta memberikan informasi mengenai keadaan keuangan

    PD.BPRS Kota Bekasi kepada para nasabahnya serta masyarakat umum

    yang tertarik tentang perbankan syariah dan ingin bergabung.

    D. Review Studi Terdahulu

  • Studi terdahulu mengenai perbankan syariah memang telah ada dan telah banyak

    yang mengangkat tentang penilaian tingkat kesehatan Bank Syariah. Sebagai

    rujukan dari penelitian ini penulis terinspirasi dari penelitian skripsi yang dilakukan

    oleh saudari Hijrah Alifa Palupi, mahasiswi jurusan Muamalah Fakultas Syariah dan

    Hukum UIN Syarif Hidayatullah tahun 2006 dengan judul Pelaksanaan Batas

    Maksimum Pemberian Kredit serta Hubungannya dengan Tingkat Kesehatan

    Bank. Penelitian tersebut menceritakan tentang bagaimana pengaruh BMPK

    (Batas Maksimum Pemberian Kredit) terhadap kesehatan bank, di mana BMPK

    berpengaruh terhadap tingkat kesehatan bank apabila bank melanggar ketentuan

    BMPK. Hal ini dapat dilihat dari penilaian tingkat kesehatan bank, dimana BMPK

    merupakan salah satu faktor dalam penilaian tingkat kesehatan bank.

    Sementara itu, penelitian skripsi yang ditulis oleh saudari Herna Setiawati, dari

    Jurusan Muamalah Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah tahun

    2005 dengan judul Mengukur Tingkat Kesehatan Bank Syariah dengan Metode

    CAMEL (Capital, Asset, Management, Earning, Liquidity). Dalam Penelitian

    tersebut dilakukan pengukuran tingkat kesehatan Bank Umum, yaitu Bank

    Muamalat Indonesia dengan metode CAMEL (capital, asset, management, earning,

    liquidity). Sedangkan pada penulisan kali ini saya menganalisis tingkat kesehatan

    Bank Perkreditan Rakyat Syariah.

    Juga dari Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah tahun 2006,

    penelitian skripsi yang dilakukan oleh Saudara Aditya Alham, dengan judul

    Analisis Kesehatan PT. Bank Muamalat Indonesia Berdasarkan Tingkat Likuiditas,

    Solvabilitas dan Profitabilitas. Dalam penelitian Skripsi tersebut penulis mengukur

  • kesehatan bank hanya kepada analisis laporan keuangan dengan rasio likuiditas,

    solvabilitas, maupun provitabilitas.

    Dari ketiga penelitian tersebut penulis merasa tertarik untuk mengangkat suatu

    tema tentang analisis tingkat kesehatan Bank Perkreditan Rakyat Syariah, di mana

    penulisan sebelumnya menganalisis tingkat kesehatan bank umum syariah

    Pada penelitian kali ini penulis mencoba menganalisis tingkat kesehatan Bank

    Perkreditan Rakyat Syariah (BPRS) yang ditetapkan oleh Bank Indonesia dalam

    Peraturan Bank Indonesia Nomor : 9/17/PBI/2007 dan Surat Edaran Bank Indonesia

    Nomor : 9/29/DPbS 2007 tentang Tata Cara Penilaian Tingkat Kesehatan BPRS.

    Dalam Peraturan Bank Indonesia Nomor : 9/17/PBI/2007, penilaian tingkat

    kesehatan BPRS dibagi atas 2 (dua) kelompok yaitu kelompok faktor keuangan

    yang terdiri dari Capital, Asset Quality, Earnings dan Liquidity (CAEL) dan

    kelompok Faktor Management. Pemisahan faktor keuangan dengan faktor

    manajemen dikarenakan faktor manajemen merupakan leading indicator bagi

    keberhasilan pengelolaan BPRS dan merupakan faktor independen yang

    mempengaruhi faktor-faktor keuangan (CAEL). Faktor faktor keuangan dalam

    penilaian Tingkat Kesehatan digunakan untuk menggambarkan kondisi dan

    kemampuan keuangan BPRS.

    Metode penilaian tingkat kesehatan dalam Peraturan Bank Indonesia Nomor :

    9/17/PBI/2007 menggunakan nilai peringkat dengan tahapan sebagai berikut:

    1. Hasil perhitungan rasio komponen pada masing masing faktor keuangan

    digunakan untuk menentukan nilai peringkat faktor yang dilakukan secara

    kuantitatif dan kualitatif. Untuk faktor manajemen dilakukan penilaian secara

    kualitatif.

  • 2. Nilai peringkat pada masing masing faktor keuangan diberikan bobot tertentu

    untuk mendapatkan nilai peringkat keuangan.

    3. Nilai peringkat keuangan dan nilai peringkat manajemen digabungkan untuk

    memperoleh nilai komposit Tingkat kesehatan BPRS dengan menggunakan

    tabel konversi dengan mempertimbangkan unsur judgement.

    Penilaian faktor manajemen dilakukan secara kualitatif atas aspek yang dinilai,

    yaitu :

    1. Faktor manajemen umum, yang terdiri dari 16 aspek pertanyaan.

    2. Faktor manajemen risiko, yang terdiri dari 6 jenis risiko (risiko kredit, likuiditas,

    operasional, hukum, reputasi dan kepatuhan.

    3. Faktor kepatuhan terhadap penerapan prinsip prinsip syariah.

    Dalam penilaian Tingkat Kesehatan berdasarkan Peraturan Bank Indonesia

    Nomor : 9/17/PBI/2007 dikenalkan adanya rasio utama, rasio penunjang dan rasio

    pengamatan (observed). Rasio utama adalah rasio sebagai pembentuk nilai peringkat

    faktor. Rasio penunjang adalah rasio sebagai penambah atau pengurang nilai

    peringkat faktor. Rasio observed adalah rasio yang digunakan sebagai indikator

    pendukung yang dapat mempengaruhi hasil penilaian atas peringkat faktor.

    E. Metode Penelitian dan Teknik Penulisan

    1. Jenis penelitian

    a. Penelitian Kepustakaan (Library Research)

    Penelitian kepustakaan dilakukan dengan cara melakukan penelaahan

    terhadap beberapa buku literatur, Peraturan Bank Indonesia, tulisan ilmiah

  • yang berkaitan dengan bahan-bahan tertulis yang berkaitan dengan

    penelitian..

    b. Penelitian Lapangan (Field Research)

    Penelitian lapangan dilakukan dengan cara pengamatan secara langsung

    ke lapangan untuk memperoleh data yang dilakukan.

    2. Teknik pengumpulan data

    a. Studi kepustakaan

    Studi kepustakaan dilakukan dengan membaca buku-buku dari beberapa

    literatur, referensi laporan-laporan keuangan dan bahan-bahan yang

    berhubungan atau mendukung skripsi ini

    b. Wawancara

    Wawancara dilakukan dengan mengadakan tanya jawab dengan

    membuat daftar pertanyaan yang telah dipersiapkan sebelumnya langsung

    kepada pihak BPRS yang qualified yang tentunya telah ditunjuk oleh pihak

    BPRS.

    c. Studi Dokumentasi

    yaitu dengan cara mengumpulkan data annual report PD. BPRS Kota

    Bekasi serta laporan-laporan lainnya yang terkait dengan penelitian ini.

    3. .Analisis Data

    Dalam menganalisis data, penulis menggunakan teknik deskriptif-

    analitis-evaluatif, yaitu dengan menjabarkan data yang diperoleh dari

    observasi di lapangan yaitu di PD. BPRS Kota Bekasi, berupa data keuangan

    PD. BPRS Kota Bekasi tahun 2007-2008, kemudian data tersebut diolah untuk

  • menilai tingkat ksehatan BPRS dengan berpedoman pada sumber tertulis

    berupa Peraturan Bank Indonesia Nomor : 9/17/PBI/2007 tentang Sistem

    Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Perkreditan Rakyat Berdasarkan Prinsip

    Syariah dan beberapa peraturan Bank Indonesia Lainnya yang mendukung

    peraturan Bank Indonesia Nomor : 9/17/PBI/2007 tentang Sistem Penilaian

    Tingkat Kesehatan Bank Perkreditan Rakyat Berdasarkan Prinsip Syariah ini,

    yaitu Peraturan Bank Indonesia Nomor : 8/24/PBI/2006 Tentang Penilaian

    Kualitas Aktiva Bagi Bank Perkreditan Rakyat Berdasarkan Prinsip Syariah,

    Surat Edaran Bank Indonesia Nomor : 8/26/DPbS tanggal 14 November 2006

    tentang Kewajiban Penyediaan Modal Minimum bagi Bank Perkreditan

    Rakyat Berdasarkan Prinsip Syariah juga Surat Edaran Bank Indonesia Nomor

    : 9/29/DPbS tanggal 7 Desember 2007 tentang Tata Cara Penilaian Tingkat

    Kesehatan Bank Perkreditan Rakyat Berdasarkan Prinsip Syariah. Serta

    beberapa buku literatur, sebagai langkah konfirmasi mengenai data yang

    diperoleh dari penelitian di lapangan.

    4. Teknik penulisan

    Teknik penulisan dalam penelitian ini penulis menggunakan buku panduan

    penelitian yang diterbitkan oleh Fakultas Syariah & Hukum UIN Syarif

    Hidayatullah Jakarta.

    F. Sistematika Penulisan

    Untuk memberikan gambaran secara sederhana agar memudahkan penulisan

    skripsi maka disusun sistematika penulisan yang terdiri dari lima bab dengan rincian

    sebagai berikut:

  • BAB I: PENDAHULUAN

    Bab ini memuat tentang latar belakang masalah, pembatasan dan

    perumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, review studi

    terdahulu, metode penelitian dan teknik penulisan serta sistematika

    penulisan.

    BAB II: TINJAUAN TEORITIS

    Bab ini memuat dua sub-bab yaitu landasan teori BPRS, yang meliputi

    pengertian BPRS, tujuan dan kegiatan usaha BPRS. sub-bab kedua yaitu

    teori penilaian tingkat kesehatan BPRS yang mencakup penilaian

    terhadap faktor Permodalan (capital), Kualitas aset (Asset quality),

    Rentabilitas (earning), Likuiditas (liquidity), dan Manajemen

    (management).

    BAB III: GAMBARAN UMUM TENTANG PD. BPRS KOTA BEKASI

    Bab ini memuat tentang sejarah berdiri, visi dan misi, produk-produk

    yang dihasilkan, serta susunan pengurus PD. BPRS Kota Bekasi.

    BAB IV: HASIL DAN PEMBAHASAN

    Bab ini memuat tentang hasil penilaian faktor Permodalan (capital),

    Kualitas aset (Asset quality), Rentabilitas (earning), Likuiditas

    (liquidity), dan faktor Manajemen (management) serta penetapan

    peringkat kesehatan BPRS pada PD. BPRS Kota Bekasi

    BAB V: PENUTUP

    Bab ini memuat tentang kesimpulan dan saran.

  • BAB II

    LANDASAN TEORI

    A. Bank Perkreditan Rakyat Syariah (BPRS)

    1. Pengertian Bank Perkreditan Rakyat Syariah

    Bank Perkreditan Rakyat (BPR) menurut Undang-Undang (UU) Perbankan

    No. 7 tahun 1992, adalah Lembaga Keuangan Bank yang menerima simpanan

    hanya dalam bentuk deposito berjangka, tabungan dan atau bentuk lainnya yang

    dipersamakan dengan itu dan menyalurkan dana sebagai usaha BPR. Sedangkan

    pada Undang-Undang perbankan No. 10 tahun 1998, disebutkan bahwa Bank

    Perkreditan Rakyat adalah Lembaga Keuangan Bank yang melaksanakan

    kegiatan usahanya secara konvensional atau berdasarkan prinsip syariah.5

    Pelaksanaan BPR yang melakukan kegiatan usaha berdasarkan prinsip

    syariah selanjutnya diatur menurut Peraturan Bank Indonesia Nomor :

    6/17/PBI/2004 yang telah diubah dengan Peraturan Bank Indonesia Nomor :

    8/25/PBI/2006 tentang Bank Perkreditan Rakyat Berdasarkan Prinsip Syariah.

    Dalam hal ini, secara teknis BPR Syariah bisa diartikan sebagai lembaga

    keuangan sebagaimana BPR konvensional, yang operasinya menggunakan

    prinsip-prinsip syariah.

    2. Tujuan Bank Perkreditan Rakyat Syariah (BPRS)

    Tujuan operasionalisasi BPR Syariah adalah:6

    5 Heri Sudarsono, Bank dan Lembaga Keuangan Syariah; Deskripsi dan ilustrasi, (Yogyakarta:

    EKONISIA, 2005), h. 83 6 Warkum Sumitro, Asas-Asas Perbankan Islam & Lembaga-lembaga terkait (BAMUI,

    TAKAFUL dan Pasar Modal Syariah) di Indonesia, cet. IV, (Jakarta : PT. RajaGrafindo Persada, 2004), h. 129-130

  • a. Meningkatkan kesejahteraan ekonomi umat Islam, terutama kelompok

    masyarakat ekonomi lemah yang pada umumnya berada di daerah pedesaan.

    b. Menambah lapangan kerja terutama di tingkat kecamatan, sehingga dapat

    mengurangi arus urbanisasi.

    c. Membina ukhuwah Islamiyah melalui kegiatan ekonomi dalam rangka

    peningkatan pendapatan per kapita menuju kualitas hidup yang memadai.

    3. Kegiatan Usaha Bank Perkreditan Rakyat Syariah (BPRS)

    Kegiatan-kegiatan operasional BPR Syariah adalah sebagai berikut:7

    a. Mobilisasi Dana Masyarakat

    1) Simpanan Amanah

    Disebut dengan simpanan amanah, sebab dalam hal bank penerima

    titipan amanah (trustee account). Akad penerimaan titipan ini adalah

    wadiah, yaitu titipan yang tidak menanggung risiko, bank akan

    memberikan kadar profit (berupa bonus) dari bagi hasil yang didapat

    bank melalui pembiayaan kepada nasabah.

    Landasan Syariah8:

    Al-Quran : !"#

    $%& '()*+

    Artinya: Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat(titipan) kepada yang berhak menerimanya. (an-Nisaa : 58)

    Hadits:

    7 ibid, h. 130-134

    8 Muhammad Syafii Antonio, Bank Syariah Dari Teori Ke Praktik, (Jakarta: Gema Insani dan

    Tazkia Cendikia, 2004), h. 85-86

  • ) "$% $ '()* + , $ '(

    Artinya: Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. Bersabda, Sampaikanlah (tunaikanlah) amanat kepada yang berhak menerimanya dan jangan membalas khianat kepada orang yang telah menghianatimu. (HR Abu Dawud dan menurut Tirmidzi hadits ini hasan, sedang imam Hakim mengkategorikannya shahih)

    2) Tabungan Wadiah

    BPR Syariah menerima tabungan (saving account), baik pribadi

    maupun badan usaha dalam bentuk tabungan bebas. Akad penerimaan

    dana ini berdasarkan prinsip wadiah: yaitu titipan-titipan yang tidak

    menanggung risiko kerugian, serta bank akan memberikan kadar

    profit/keuntungan kepada penabung sejumlah tertentu dari bagi hasil

    yang diperoleh bank dalam pembiayaan kredit pada nasabah, yang

    diperhitungkan secara harian dan dibayar setiap bulan. Penabung akan

    mendapat buku tabungan untuk mencatat mutasi dan baki.

    Landasan Syariah9:

    Al-Quran : !"#

    $%& '()*+

    Artinya: Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat (titipan) kepada yang berhak menerimanya. (an-Nisaa : 58)

    Hadits:

    ) $%" $ '()* + , $ '(

    9 Ibid, h. 85-86

  • Artinya: Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. Bersabda, Sampaikanlah (tunaikanlah) amanat kepada yang berhak menerimanya dan jangan membalas khianat kepada orang yang telah menghianatimu. (HR Abu Dawud dan menurut Tirmidzi hadits ini hasan, sedang imam Hakim mengkategorikannya shahih)

    3) Deposito Wadiah atau Deposito Mudharabah

    BPR syariah menerima deposito berjangka (time and investment

    account) baik pribadi maupun badan/lembaga. Akad penerimaan

    deposito adalah wadiah, atau mudharabah di mana bank menerima dana

    masyarakat berjangka 1, 3, 6, 12 bulan dan seterusnya sebagai

    penyertaan sementara pada bank. Deposan yang akad depositonya

    wadiah mendapat nisbah bagi hasil keuntungan yang lebih kecil daripada

    mudharabah dan bagi hasil yang diterima bank dalam pembiayaan/kredit

    nasabah, dibayar setiap bulan. Deposito bank akan menerbitkan warkat

    deposito atas nama deposan.

    Landasan Syariah10:

    Al-Quran: ', -/012 $3 456"# -89 : ;

    Artinya: Dan orang-orang yang berjalan di muka bumi mencari sebagian karunia Allah . (QS. Al-Muzammil/73 : 20)

    Hadits:

    / 12 3 78 29 " ;

  • Artinya: Tiga hal yang di dalammya terdapat keberkahan: jual beli secara tangguh, muqaradhah (mudharabah), dan mencampur gandum dengan tepung untuk keperluan rumah bukan untuk dijual. (HR. Ibnu Majah no. 2280, kitab at-Tijarah).

    Fasilitas pengerahan dana tersebut, juga dapat dipergunakan untuk

    menitipkan sedekah, infak, zakat, tabungan haji, tabungan kurban,

    tabungan aqiqah, tabungan keperluan pendidikan, tabungan pemilikan

    kendaraan, tabungan pemilikan rumah, bahkan bisa digunakan untuk

    sarana penitipan dana-dana masjid, dana pesantren, yayasan dan lain

    sebagainya.

    Selain melakukan kegiatan usaha sebagaimana dimaksud di atas,

    BPR Syariah dapat pula bertindak sebagai lembaga baitul maal, yaitu

    menerima dana yang berasal dari zakat, shadaqah, waqaf, hibah atau

    dana sosial lainnya dan menyalurkannya kepada yang berhak dalam

    bentuk santunan dan atau pinjaman kebajikan (qardhul hasan)11.

    b. Penyaluran Dana

    1) Pembiayaan Mudharabah

    Pembiayaan mudharabah adalah suatu perjanjian pembiayaan

    antara BPR Syariah dengan pengusaha, di mana pihak BPR Syariah

    menyediakan pembiayaan modal usaha atau proyek yang dikelola oleh

    pihak pengusaha, atas dasar perjanjian bagi hasil.

    Landasan Syariah12:

    Al-Quran:

    11 Heri Sudarsono, Op.Cit, h. 86

    12 Muhammad Syafii Antonio, Op.Cit, h. 95-96

  • ', -/012 $3 456"# -89 : ;

    Artinya: Dan orang-orang yang berjalan di muka bumi mencari sebagian karunia Allah . (QS. Al-Muzammil/73 : 20)

    Hadits:

    / 12 3 78 29 " ;

  • lain, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh; dan amat sedikitlah mereka ini (QS. Shaad/38: 24)

    Hadits:

    A9 3? F8 GB $ , HI ( I) D 3 ()

    Artinya: Dari Abu Hurairah, Rasulullah saw bersabda,Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla berfirman, Aku pihak ketiga dari dua orang yang berserikat selama salah satunya tidak menghianati yang lainnya . (HR Abu Dawud no.2936, dalam kitab al-Buyu dan Hakim)

    3) Pembiayaan Baiu Bithaman Ajil

    Pembiayaan Baiu bithaman ajil adalah suatu perjanjian

    pembiayaan yang disepakati antara BPR syariah dengan nasabahnya, di

    mana BPR Syariah menyediakan dana untuk pembelian barang/aset yang

    dibutuhkan nasabah untuk mendukung suatu usaha atau proyek.

    Nasabah akan membayar secara mencicil dengan mark up yang

    didasarkan atas Opportunity Cost Project (OCP).

    Landasan Syariah:

    Al-Quran:

  • secara tangguh, muqaradhah (mudharabah), dan mencampur gandum dengan tepung untuk keperluan rumah bukan untuk dijual (HR. Ibnu Majah)

    4) Pembiayaan Murabahah

    Pembiayaan murabahah adalah suatu perjanjian yang disepakati

    antara BPR Syariah dengan nasabah, dimana BPR Syariah menyediakan

    pembiayaan untuk pembelian bahan baku atau modal kerja lainnya yang

    dibutuhkan nasabah, yang akan dibayar kembali oleh nasabah sebesar

    harga jual bank (harga beli bank ditambah marjin keuntungan pada saat

    jatuh tempo).

    Landasan Syariah14:

    Al-Quran:

  • Pembiayaan qardhul hasan adalah perjanjian pembiayaan antara

    BPR Syariah dengan nasabah yang dianggap layak menerima yang

    diprioritaskan bagi pengusaha kecil pemula yang potensial akan tetapi

    tidak mempunyai modal apapun selain kemampuan berusaha, serta

    perorangan lainnya yang berada dalam keadaan terdesak. Penerima

    pembiayaan hanya diwajibkan mengembalikan pokok pembiayaan pada

    waktu jatuh tempo dan bank hanya mengenakan biaya administrasi yang

    benar-benar untuk keperluan proses.

    Landasan Syariah15:

    Al-Quran:

    ] ^ _Q `5[B bQ c!de'U fUgh=E fUF

    gf 1j =k[ Artinya: Siapakah yang mau meminjamkan kepada Allah pinjaman

    yang baik, Maka Allah akan melipat-gandakan (balasan) pinjaman itu untuknya, dan dia akan memperoleh pahala yang banyak (Q.S. Al-Hadiid : 11)

    Hadits:

    ) 3AK$ $ $ K$ ? (K$ > $ + 2)HM $(

    Artinya: Ibnu Masud meriwayatkan bahwa Nabi saw. Berkat, bukan

    seorang muslim (mereka) yang meminjamkan muslim (lainnya)

    dua kali kecuali yang satunya adalah senilai (sedekah) (HR

    Ibnu Majah no. 2421, kitab al-Ahkam: Ibnu Hibban dan

    Baihaqi)

    15 Ibid, h. 132

  • Kegiatan operasional BPR Syariah dipertegas dalam pasal 34 ayat (2)

    Peraturan Bank Indonesia Nomor : 8/25/PBI/2006 perubahan atas Peraturan

    Bank Indonesia Nomor : 6/17/PBI/2004, sebagai berikut:

    a. Menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk antara lain:

    1. tabungan berdasarkan prinsip wadiah atau mudharabah;

    2. deposito berjangka berdasarkan prinsip mudharabah; dan atau

    3. bentuk lain yang menggunakan prinsip wadiah atau mudharabah;

    b. Menyalurkan dana dalam bentuk antara lain:

    1. transaksi jual beli berdasarkan prinsip:

    a) murabahah;

    b) istishna; dan atau

    c) salam;

    2. transaksi sewa menyewa dengan prinsip ijarah

    3. pembiayaan bagi hasil berdasarkan prinsip:

    a) mudharabah; dan atau

    b) musyarakah;

    4. pembiayaan berdasarkan prinsip qardh.

    c. melakukan kegiatan lain yang tidak bertentangan dengan Undang-undang

    Perbankan dan prinsip syariah.

    Dibanding bank umum syariah, kegiatan operasional yang dapat dilakukan

    BPR Syariah lebih terbatas, BPR Syariah tidak diijinkan untuk menerima dana

  • simpanan dalam bentuk giro sekalipun hal itu dilakukan dalam bentuk wadiah.

    Begitu juga, BPR Syariah dilarang untuk16 :

    a. Melakukan kegiatan usaha dalam valuta asing

    b. Melakukan penyertaan modal

    c. Melakukan usaha perasuransian.

    B. Penilaian Tingkat Kesehatan BPRS

    Tingkat kesehatan Bank Perkreditan Rakyat Berdasarkan Prinsip Syariah

    (BPRS) merupakan kepentingan semua pihak terkait, baik pemilik, pengurus bank,

    masyarakat pengguna jasa bank, Bank Indonesia selaku otoritas pengawasan bank

    maupun pihak lainnya. Tingkat kesehatan BPRS tersebut dapat digunakan oleh

    pihak-pihak yang berkepentingan untuk mengevaluasi kinerja BPRS dalam

    menerapkan prinsip kehati-hatian, kepatuhan terhadap ketentuan yang berlaku dan

    manajemen risiko.

    Untuk menilai suatu kesehatan bank dapat dilihat dari berbagai aspek. Penilaian

    ini bertujuan untuk menentukan apakah bank tersebut dalam kondisi yang sehat,

    cukup sehat, kurang sehat atau tidak sehat.17

    Dalam Peraturan Bank Indonesia Nomor : 9/17/PBI/2007 tentang Sistem

    Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Perkreditan Rakyat Berdasarkan Prinsip Syariah,

    16 Heri Sudarsono, Op Cit, h. 88

    17 Kasmir, Bank dan Lembaga Keuangan lainnya, Edisi keenam, (Jakarta : PT. Raja Grafindo

    persada, 2002), h. 46

  • Tingkat kesehatan BPRS adalah hasil penilaian kuantitatif dan kualitatif atas

    berbagai aspek yang berpengaruh terhadap kondisi atau kinerja BPRS melalui

    Penilaian Kuantitatif dan Penilaian Kualitatif terhadap faktor permodalan, kualitas

    aset, rentabilitas, likuiditas; dan Penilaian Kualitatif terhadap faktor manajemen.18

    Penilaian tingkat kesehatan BPRS mencakup penilaian terhadap faktor-faktor

    sebagai berikut:

    1. Penilaian Permodalan (Capital)

    Secara tradisional modal didefinisikan sebagai sesuatu yang mewakili

    kepentingan pemilik dalam suatu perusahaan. Berdasarkan nilai buku, modal

    didefinisikan sebagai kekayaan bersih (net worth), yaitu selisih antara nilai buku

    dari aktiva dikurangi dengan nilai buku dari kewajiban (liabilities). Pemegang

    saham menempatkan modalnya pada bank dengan harapan memperoleh hasil

    keuntungan di masa yang akan datang. Dalam neraca terlihat pada sisi pasiva

    bank, yaitu rekening modal dan cadangan. Rekening modal berasal dari setoran

    para pemegang saham, sedangkan rekening cadangan berasal dari bagian

    keuntungan yang tidak dibagikan kepada pemegang saham, yang digunakan

    untuk keperluan tertentu, misalnya untuk perluasan usaha dan menjaga likuiditas

    karena adanya kredit-kredit yang diragukan atau menjurus kepada macet.19

    Sesuai dengan Pasal 3 ayat (1) Peraturan Bank Indonesia Nomor :

    8/22/PBI/2006 tanggal 5 Oktober 2006 tentang Kewajiban Penyediaan Modal

    Minimum bagi Bank Perkreditan Rakyat Berdasarkan Prinsip Syariah, modal

    18 Peraturan Bank Indonesia Nomor : 9/17/PBI/2007 tentang sistem penilaian tingkat kesehatan

    Bank Perkreditan Rakyat berdasarkan prinsip syariah, Pasal 1

    19 Zainul Arifin, Dasar-dasar Manajemen Bank Syariah, cet. 2 (Jakarta : Alvabet, 2003), h. 147-

    148

  • bagi BPRS terdiri dari modal inti (tier 1) dan modal pelengkap (tier 2). Adapun

    rincian komponen dari masing-masing modal tersebut adalah sebagai berikut:20

    1. Modal Inti

    Modal Inti terdiri dari:

    a. Modal disetor, yaitu modal yang telah disetor secara riil dan efektif oleh

    pemiliknya sebesar nominal saham serta telah disetujui oleh Bank

    Indonesia. Bagi BPRS yang berbentuk hukum koperasi, modal disetor

    terdiri atas simpanan pokok, simpanan wajib dan hibah sebagaimana

    diatur dalam Undang-Undang Nomor : 25 Tahun 1992 tentang

    Perkoperasian. Di dalam komponen modal disetor tidak termasuk

    pengakuan modal yang dipesan (subscribed capital stock) yang berasal

    dari piutang pemegang saham sebagaimana dimaksud dalam Pernyataan

    Standar Akuntansi Keuangan yang berlaku tentang Ekuitas.

    b. Agio saham, yaitu selisih lebih tambahan modal yang diterima BPRS

    sebagai akibat harga saham melebihi nilai nominalnya. Dalam hal BPRS

    memiliki disagio saham maka selisih kurang antara setoran modal yang

    diterima oleh BPRS dengan nilai nominal saham yang diterbitkan

    menjadi faktor pengurang modal inti.

    c. Dana setoran modal adalah dana yang secara efektif telah disetor penuh

    oleh pemegang saham atau calon pemegang saham dalam rangka

    penambahan modal untuk dapat digolongkan sebagai modal disetor tetapi

    belum didukung dengan kelengkapan persyaratan untuk dapat

    20 Surat Edaran Bank Indonesia No. 8/26/DPbS tanggal 14 November 2006 tentang Kewajiban

    Penyediaan Modal Minimum bagi Bank Perkreditan Rakyat Berdasarkan Prinsip Syariah

  • digolongkan sebagai modal disetor seperti RUPS maupun pengesahan

    Anggaran Dasar dari instansi yang berwenang. Dana setoran modal harus

    ditempatkan pada rekening khusus (escrow account), dan tidak boleh

    ditarik kembali oleh pemegang saham atau calon pemegang saham dan

    penggunaannya harus dengan persetujuan Bank Indonesia.

    d. Modal sumbangan adalah modal yang diperoleh BPRS dari sumbangan.

    Modal yang berasal dari donasi pihak luar yang diterima oleh BPRS

    yang berbentuk hukum koperasi juga termasuk dalam pengertian modal

    sumbangan.

    e. Cadangan Umum, yaitu cadangan yang dibentuk dari penyisihan laba

    yang ditahan atau dari laba setelah dikurangi pajak, dan mendapat

    persetujuan rapat umum pemegang saham atau rapat anggota sesuai

    dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku.

    f. Cadangan tujuan, yaitu cadangan yang dibentuk dari bagian laba setelah

    dikurangi pajak yang disisihkan untuk tujuan tertentu dan telah mendapat

    persetujuan rapat umum pemegang saham atau rapat anggota sesuai

    dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku.

    g. Laba yang ditahan, yaitu saldo laba bersih setelah dikurangi pajak yang

    oleh rapat umum pemegang saham atau rapat anggota diputuskan untuk

    tidak dibagikan.

    h. Laba tahun lalu setelah diperhitungkan pajak, yaitu seluruh laba bersih

    tahun yang lalu setelah diperhitungkan pajak, dan belum ditetapkan

    penggunaannya oleh rapat umum pemegang saham atau rapat anggota.

  • Dalam hal BPRS mempunyai saldo rugi tahun lalu maka seluruh

    kerugian tersebut menjadi faktor pengurang dari modal inti.

    i. Laba tahun berjalan, yaitu laba yang diperoleh dalam tahun buku

    berjalan setelah dikurangi taksiran hutang pajak (perhitungan pajak) dan

    kekurangan jumlah Penyisihan Penghapusan Aktiva Produktif (PPAP)

    dari jumlah yang seharusnya dibentuk sesuai ketentuan Bank Indonesia

    yang merupakan komponen biaya yang dibebankan pada laba tahun

    berjalan. Jumlah laba tahun buku berjalan tersebut yang diperhitungkan

    sebagai modal inti hanya sebesar 50% (lima puluh perseratus). Dalam hal

    pada tahun berjalan BPRS mengalami kerugian, maka seluruh kerugian

    tersebut menjadi faktor pengurang dari modal inti. Modal inti tersebut

    pada huruf a sampai dengan huruf i diatas harus dikurangi dengan

    goodwill, apabila ada dalam pembukuan BPRS.

    2. Modal pelengkap (Tier 2)

    Secara rinci modal pelengkap dapat berupa:

    a. Selisih penilaian kembali aktiva tetap yaitu cadangan yang dibentuk

    sebagai akibat selisih penilaian kembali aktiva tetap milik BPRS yang

    telah mendapat persetujuan Direktorat Jenderal Pajak. Selisih penilaian

    kembali aktiva tetap tidak dapat dikapitalisasi ke dalam modal disetor

    dan atau dibagikan sebagai saham bonus dan atau deviden.

    b. Cadangan umum dari penyisihan penghapusan aktiva produktif, yaitu

    cadangan umum yang dibentuk dengan cara membebani laba rugi tahun

    berjalan, dengan maksud untuk menampung kerugian yang mungkin

  • timbul sebagai akibat dari tidak diterimanya kembali sebagian atau

    seluruh aktiva produktif. PPAP yang bersifat cadangan umum

    diperhitungkan sebagai komponen modal pelengkap maksimum sebesar

    1,25% dari jumlah ATMR. Sedangkan cadangan khusus dari PPAP

    dikeluarkan dari komponen modal pelengkap, karena akan

    diperhitungkan sebagai faktor pengurang pada nilai aktiva produktif yang

    bersangkutan dalam penghitungan ATMR.

    c. Modal pinjaman, yaitu pinjaman yang didukung oleh instrument atau

    warkat yang mempunyai persyaratan sebagai berikut:

    1. berdasarkan prinsip Qardh;

    2. tidak dijamin oleh BPRS yang bersangkutan, dan sifatnya

    dipersamakan dengan modal serta telah dibayar penuh;

    3. tidak dapat dilunasi atau ditarik atas inisiatif pemilik, tanpa

    persetujuan Bank Indonesia; dan

    4. mempunyai kedudukan yang sama dengan modal dalam hal jumlah

    kerugian BPRS melebihi saldo laba dan cadangan-cadangan yang

    termasuk modal inti, meskipun BPRS belum dilikuidasi. Dalam

    pengertian modal pinjaman ini, untuk BPRS yang berbadan hukum

    koperasi, pengertian modal pinjaman sesuai dengan ketentuan yang

    diatur dalam Undang-Undang No.25 Tahun 1992 tentang

    Perkoperasian.

    d. Investasi Subordinasi, yaitu pinjaman yang memenuhi persyaratan

    sebagai berikut:

    1. berdasarkan prinsip Mudharabah atau Musyarakah;

  • 2. ada perjanjian tertulis antara BPRS dengan investor;

    3. mendapat persetujuan terlebih dahulu dari Bank Indonesia. Dalam

    hubungan ini pada saat BPRS mengajukan permohonan persetujuan,

    BPRS harus menyampaikan program pembayaran kembali

    pinjaman/investasi subordinasi tersebut;

    4. tidak dijamin oleh BPRS yang bersangkutan dan telah disetor penuh;

    5. minimal berjangka waktu 5 (lima) tahun;

    6. pelunasan sebelum jatuh tempo harus mendapat persetujuan dari

    Bank Indonesia, dan dengan pelunasan tersebut permodalan BPRS

    tetap sehat; dan

    7. dalam hal terjadi likuidasi hak tagihnya berlaku paling akhir dari

    segala pinjaman yang ada (kedudukannya sama dengan modal).

    Jumlah investasi subordinasi yang dapat diperhitungkan sebagai modal

    untuk sisa jangka waktu 5 (lima) tahun terakhir adalah jumlah investasi

    subordinasi dikurangi amortisasi yang dihitung dengan menggunakan

    metode garis lurus atau prorata. Jumlah investasi subordinasi yang dapat

    diperhitungkan sebagai komponen modal pelengkap maksimum sebesar

    50% (lima puluh perseratus) dari modal inti.

    a. Fungsi modal bank

    menurut Jhonson and Jhonson, seperti yang dikutip oleh Muhammad,21

    modal bank mempunyai tiga fungsi, lebih lanjut mereka menjelaskan sebagai

    berikut:

    21 Muhammad, Manajemen Dana Bank Syariah (Yogyakarta : EKONISIA, kampus Fakultas

    Ekonomi UII, 2004), h. 92

  • pertama, sebagai penyangga untuk menyerap kerugian operasional dan

    kerugian lainnya. Dalam fungsi ini modal memberikan perlindungan

    terhadap kegagalan atau kerugian bank dan perlindungan terhadap

    kepentingan para deposan.

    Kedua, sebagai dasar bagi penetapan batas maksimum pemberian kredit. Hal ini

    adalah merupakan pertimbangan operasional bagi bank sentral, sebagai

    Legulator, untuk membatasi jumlah pemberian kredit kepada setiap individu

    nasabah bank. Melalui pembatasan ini bank sentral memaksa bank untuk

    melakukan diversifikasi kredit mereka agar dapat melindungi diri terhadap

    kegagalan kredit dari satu individu debitur.

    Ketiga, modal juga menjadi dasar perhitungan bagi para partisipan pasar

    untuk mengevaluasi tingkat kemampuan bank secara relatif untuk

    menghasilkan keuntungan. Tingkat keuntungan bagi para investor

    diperkirakan dengan membandingkan keuntungan bersih dengan ekuitas.

    Para partisipan pasar membandingkan return on investment diantara bank-

    bank yang ada.

    Melihat fungsi modal pada suatu bank yang disampaikan di atas

    menunjukkan bahwa kedudukan modal merupakan hal penting yang harus

    dipenuhi terutama oleh pendiri bank dan para manajemen bank selama

    beroperasinya bank tersebut.

    b. Rasio penilaian permodalan (capital)

    Penilaian terhadap faktor permodalan meliputi penilaian terhadap

    komponen-komponen sebagai berikut:22

    22 Lampiran Surat Edaran Bank Indonesia No.9/29/DPbS tanggal 7 Desember 2007 tentang

  • 1) Rasio Kecukupan Modal (CAR) - (Rasio Utama)

    Keterangan: ATMR = Aktiva Tertimbang Menurut Risiko Kriteria penilaian peringkat: Peringkat 1, CAR 11% Peringkat 2, 9,5% CAR < 11% Peringkat 3, 8% CAR < 9,5% Peringkat 4, 6,5% CAR < 8% Peringkat 5, CAR < 6,5%

    2) Rasio Proyeksi Kecukupan Modal (Rasio Penunjang)

    Keterangan: CARTI, merupakan hasil proyeksi KPMM untuk periode berikutnya. CART0, merupakan nilai KPMM pada peride penilaian. Kriteria penilaian peringkat: Peringkat 1, CAR 1,2 Peringkat 2, 1,1 CAR < 1,2 Peringkat 3, 1 CAR < 1,1 Peringkat 4, 0,9 CAR < 1 Peringkat 5, CAR < 0,9

    3) Rasio Kecukupan Equity (ECR) - (Rasio Observed)

    Keterangan: M Tier 1 = Modal inti PPAP = Penyisihan Penghapusan Aktiva Produktif PPAPWD = Penyisihan Penghapusan Aktiva Produktif yang Wajib

    Dibentuk. Kriteria penilaian peringkat:

    Sistem Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Perkreditan Rakyat Berdasarkan Prinsip Syariah

    ATMRPelengkapIntiModalCAR +=

    0

    1

    T

    T

    CARCAR CAR =

    PPAPWDPPAPM

    ECR Tier += 1

  • Peringkat 1, ECR 4 Peringkat 2, 3 ECR < 4 Peringkat 3, 2 ECR < 3 Peringkat 4, 1 ECR < 2 Peringkat 5, ECR < 1

    4) Rasio kecukupan modal inti terhadap dana pihak ketiga (EDR) -

    (Rasio Observed)

    Keterangan: M Tier 1 = Modal inti DPKg merupakan pdana pihak ketiga non profit sharing yang dijamin

    oleh Bank namun tidak dijamin oleh LPS. Kriteria penilaian peringkat: Peringkat 1, EDR 2 Peringkat 2, 1,5 EDR < 2 Peringkat 3, 1 EDR < 1,5 Peringkat 4, 0,5 EDR < 1 Peringkat 5, EDR < 0,5

    5) Fungsi Intermediasi atas dana investasi dengan metode Profit

    Sharing (FI) - (Rasio Observed)

    Keterangan:

    Dps merupakan dana pihak ketiga yang berhasil dihimpun oleh bank dan menggunakan metode bagi hasil profit sharing.

    Dtotal merupakan dana pihak ketiga yang berhasil dihimpun oleh bank. Kriteria penilaian peringkat: Peringkat 1, FI 10% Peringkat 2, 7,5% FI < 10% Peringkat 3, 5% FI < 7,5% Peringkat 4, 2,5% FI < 5% Peringkat 5, FI < 2,5%

    DPKgMEDR Tier 1=

    Total

    ps

    DD

    FI =

  • 2. Penilaian Kualitas Aset (asset quality)

    Dalam Peraturan Bank Indonesia Nomor : 8/24/PBI/2006 Tentang Penilaian

    Kualitas Aktiva Bagi Bank Perkreditan Rakyat Berdasarkan Prinsip Syariah,

    ditetapkan bahwa BPRS wajib melakukan penilaian kualitas Aktiva baik

    terhadap Aktiva Produktif maupun Aktiva Non Produktif.

    a. Kualitas Aktiva Produktif

    Aktiva yang produktif atau productive assets sering juga disebut dengan

    earning assets atau aktiva yang menghasilkan, kerena penempatan dana

    tersebut adalah untuk mencapai tingkat penghasilan yang diharapkan.23

    Menurut Peraturan Bank Indonesia Nomor : 8/24/PBI/2006 Tentang

    Penilaian Kualitas Aktiva Bagi Bank Perkreditan Rakyat Berdasarkan

    Prinsip Syariah, Aktiva Produktif adalah penanaman dana BPRS dalam

    Rupiah berdasarkan prinsip Syariah dalam bentuk pembiayaan, Sertifikat

    Wadiah Bank Indonesia, dan penempatan dana pada bank lain. Adapun

    komponen aktiva produktif dapat dirinci sebagai berikut:

    1. Pembiayaan adalah penyediaan dana atau tagihan yang dipersamakan

    dengan itu berupa:

    a. transaksi bagi hasil dalam bentuk Mudharabah dan Musyarakah;

    b. transaksi sewa menyewa dalam bentuk Ijarah atau sewa dengan opsi

    perpindahan hak milik dalam bentuk Ijarah Muntahiyah bit Tamlik;

    c. transaksi jual beli dalam bentuk piutang Murabahah, Salam, dan

    Istishna; dan

    d. transaksi pinjam meminjam dalam bentuk piutang Qardh;

    23 Muchdarsyah sinungan, Manajemen Dana Bank, Edisi kedua, Cet. 4 (Jakarta : PT. Bumi

    Aksara, 2000), h. 195

  • e. transaksi multijasa dengan menggunakan akad Ijarah atau Kafalah.

    Berdasarkan persetujuan atau kesepakatan antara BPRS dengan pihak

    lain yang mewajibkan pihak yang dibiayai dan/atau diberi fasilitas

    dana untuk mengembalikan dana tersebut setelah jangka waktu

    tertentu dengan imbalan, tanpa imbalan atau bagi hasil.

    2. Sertifikat Wadiah Bank Indonesia (SWBI) adalah sertifikat yang

    diterbitkan oleh Bank Indonesia sebagai bukti penitipan dana berjangka

    pendek dengan prinsip Wadiah;24

    3. Penempatan Dana Pada Bank Lain adalah penanaman dana pada Bank

    Syariah atau BPRS lainnya berdasarkan prinsip Syariah antara lain dalam

    bentuk bentuk giro dan/atau tabungan Mudharabah dan/atau Wadiah,

    deposito berjangka dan/atau tabungan Mudharabah, Pembiayaan yang

    diberikan, dan/atau bentuk-bentuk penempatan lainnya yang

    dipersamakan dengan itu;

    Penilaian Kualitas Aktiva Produktif 25

    1. Kualitas Aktiva Produktif dalam bentuk Pembiayaan

    a. Penilaian terhadap kualitas Aktiva Produktif dalam bentuk

    Pembiayaan dilakukan berdasarkan pada ketepatan dan/atau

    kemampuan membayar kewajiban oleh nasabah.

    24 Wadiah adalah perjanjian penitipan dana atau barang dari pemilik dana atau barang kepada

    penyimpan dana atau barang, dengan kewajiban pihak penyimpan untuk mengembalikan titipan dana atau barang tersebut sewaktu-waktu;

    25 Peraturan Bank Indonesia Nomor : 8/24/PBI/2006 Tentang Penilaian Kualitas Aktiva Bagi

    Bank Perkreditan Rakyat Berdasarkan Prinsip Syariah, Bab III

  • b. Kualitas Aktiva Produktif dalam bentuk Pembiayaan ditetapkan

    menjadi 4 (empat) golongan yaitu Lancar, Kurang Lancar, Diragukan

    dan Macet;

    2. Kualitas Aktiva Produktif berupa Sertifikat Wadiah Bank Indonesia

    digolongkan Lancar.

    3. Kualitas Aktiva Produktif berupa Penempatan Dana Pada Bank Lain

    digolongkan Lancar sepanjang dijamin oleh Lembaga Penjamin

    Simpanan.

    Jika tidak dijamin oleh Lembaga Penjamin Simpanan, kualitas

    Penempatan Dana Pada Bank Lain digolongkan sebagai berikut:

    a. Lancar, apabila tidak terdapat tunggakan pembayaran pokok untuk

    Wadiah/Qardh, atau tidak terdapat tunggakan pembayaran pokok

    dan/atau bagi hasil untuk Mudharabah dan Musyarakah, dan/atau

    Realisasi Pendapatan (RP) 80 % Proyeksi Pendapatan (PP) untuk

    Pembiayaan Mudharabah dan Musyarakah;

    b. Kurang Lancar, apabila terdapat tunggakan pembayaran pokok untuk

    Wadiah/Qardh, atau terdapat tunggakan pembayaran pokok dan/atau

    bagi hasil untuk Mudharabah dan Musyarakah sampai dengan 5

    (lima) hari kerja, dan/atau Realisasi Pendapatan diatas 30 % Proyeksi

    Pendapatan (PP) sampai dengan 80% Proyeksi Pendapatan (PP) atau

    Realisasi Pendapatan (RP) 30% Proyeksi Pendapatan (PP) sampai

    dengan 3 (tiga) periode pembayaran untuk Pembiayaan Mudharabah

    dan Musyarakah;

    c. Macet, apabila:

  • 1) BPRS atau bank yang menerima Penempatan telah ditetapkan dan

    diumumkan sebagai BPRS atau bank dengan status dalam

    pengawasan khusus (special surveillance) atau BPRS atau bank

    telah dikenakan sanksi pembekuan seluruh kegiatan usaha;

    2) BPRS atau bank yang menerima Penempatan ditetapkan sebagai

    BPRS atau bank dalam likuidasi; dan/atau

    3) terdapat tunggakan pembayaran pokok untuk Wadiah/Qardh,

    atau terdapat tunggakan pembayaran pokok dan/atau bagi hasil

    untuk Mudharabah dan Musyarakah lebih dari 5 (lima) hari kerja,

    dan/atau Realisasi Pendapatan (RP) 30 % Proyeksi Pendapatan

    (PP) untuk Pembiayaan Mudharabah dan Musyarakah.

    b. Kualitas Aktiva Non Produktif26

    Aktiva Non Produktif adalah aset BPRS selain Aktiva Produktif yang

    memiliki potensi kerugian, yaitu dalam bentuk agunan yang diambil alih.

    Agunan yang Diambil Alih yang untuk selanjutnya disebut AYDA

    adalah aktiva yang diperoleh BPRS, baik melalui pelelangan maupun di luar

    pelelangan berdasarkan penyerahan secara sukarela oleh pemilik agunan atau

    berdasarkan kuasa untuk menjual di luar lelang dari pemilik agunan apabila

    nasabah telah dinyatakan macet.

    Penilaian kualitas aktiva non produktif

    BPRS wajib melakukan upaya penyelesaian terhadap AYDA yang

    dimiliki dan mendokumentasikan upaya penyelesaian AYDA tersebut.

    26 Ibid, Bab IV

  • BPRS wajib melakukan penilaian kembali terhadap AYDA untuk

    menetapkan net realizable value dari AYDA, yang dilakukan saat

    pengambilalihan agunan. Maksimum net realizable value adalah sebesar

    nilai Aktiva Produktif yang diselesaikan dengan AYDA.

    AYDA yang telah dilakukan upaya penyelesaian ditetapkan memiliki

    kualitas sebagai berikut:

    a. Lancar, apabila AYDA dimiliki sampai dengan 1 (satu) tahun;

    b. Kurang Lancar, apabila AYDA dimiliki lebih dari 1 (satu) tahun sampai

    dengan 2 (dua) tahun;

    c. Diragukan, apabila AYDA dimiliki lebih dari 2 (dua) tahun sampai

    dengan 3 (tiga) tahun;

    d. Macet, apabila AYDA dimiliki lebih dari 3 (tiga) tahun.

    c. Penyisihan Penghapusan Aktiva 27

    Penyisihan Penghapusan Aktiva yang untuk selanjutnya disebut PPA adalah

    cadangan yang harus dibentuk sebesar persentase tertentu berdasarkan kualitas

    aktiva. BPRS wajib membentuk Penyisihan Penghapusan Aktiva terhadap Aktiva

    Produktif dan Aktiva Non Produktif.

    Penyisihan Penghapusan Aktiva (PPA) sebagaimana dimaksud berupa:

    a. cadangan umum dan cadangan khusus untuk Aktiva Produktif; dan

    b. cadangan khusus untuk Aktiva Non Produktif.

    Cadangan umum PPA produktif ditetapkan sekurang-kurangnya sebesar

    0,5 % (lima perseribu) dari seluruh Aktiva Produktif yang digolongkan

    Lancar, tidak termasuk Sertifikat Wadiah Bank Indonesia.

    27 Ibid, Bab IV

  • Cadangan khusus Penyisihan Penghapusan Aktiva produktif ditetapkan

    sekurang-kurangnya sebesar:

    a. 10% (sepuluh perseratus) dari Aktiva yang digolongkan Kurang Lancar

    setelah dikurangi nilai agunan;

    b. 50% (lima puluh perseratus) dari Aktiva yang digolongkan Diragukan

    setelah dikurangi nilai agunan; dan

    c. 100% (seratus perseratus) dari Aktiva yang digolongkan Macet setelah

    dikurangi nilai agunan.

    Penggunaan nilai agunan sebagai faktor pengurang dalam perhitungan

    PPA hanya dapat dilakukan untuk Aktiva Produktif.

    Kewajiban untuk membentuk PPA tidak berlaku bagi Aktiva Produktif

    berupa Ijarah atau Ijarah Muntahiyah bit Tamlik. Karena BPRS wajib

    membentuk penyusutan/amortisasi untuk Ijarah atau Ijarah Muntahiyah bit

    Tamlik, dengan ketentuan sebagai berikut:

    a. Ijarah disusutkan/diamortisasi sesuai dengan kebijakan penyusutan

    BPRS bagi aktiva yang sejenis.

    b. Ijarah Muntahiyah bit Tamlik disusutkan sesuai dengan masa sewa.

    Pembentukan PPA untuk Murabahah, Salam dan Istishna

    mempergunakan angka saldo harga perolehan atau saldo harga pokok.

    d. Rasio Penilaian Kualitas Asset (Asset Quality)

    Penilaian terhadap faktor kualitas aset meliputi penilaian terhadap

    komponen-komponen sebagai berikut:

    1) Rasio Kualitas Aktiva Produktif (EAQ) - (Rasio Utama)

    =

    EAEAaREAQ 1

  • Keterangan:

    EAaR = aktiva produktif yang diklasifikasikan. EA = aktiva produktif.

    Kriteria penilaian peringkat: Peringkat 1, EAQ 93% Peringkat 2, 90% EAQ < 93% Peringkat 3, 87% EAQ < 90% Peringkat 4, 84% EAQ < 87% Peringkat 5, EAQ < 84%

    2) Rasio pembiayaan bermasalah (NPF) - (Rasio Penunjang)

    Keterangan: JPB merupakan jumlah pembiayaan yang tergolong dalam

    kolektibilitas Kurang Lancar, Diragukan dan Macet JP merupakan jumlah pembiayaan yang dimiliki oleh bank

    Kriteria penilaian peringkat: Peringkat 1, NPF 7% Peringkat 2, 7% < NPF 10% Peringkat 3, 10% < NPF 13% Peringkat 4, 13% < NPF 16% Peringkat 5, NPF > 16%

    3) Rasio tingkat rata-rata pengembalian pembiayaan hapus buku

    (ARR) - (Rasio Observed)

    Keterangan:

    RV = Recovery Value TWO = Total Write Off Kriteria penilaian peringkat: Peringkat 1, ARR > 40% Peringkat 2, 30% < ARR 40%

    JPJPBNPF =

    =

    TWORVAverageARR

  • Peringkat 3, 20% < ARR 30% Peringkat 4, 10% < ARR 20% Peringkat 5, ARR 10%

    4) Rasio Nasabah Pembiayaan Bermasalah (NPB) - (Rasio Observed)

    Keterangan: JNB merupakan jumlah nasabah pembiayaan yang tergolong dalam

    kolektibilitas Kurang Lancar, Diragukan dan Macet (jumlah rekening)

    JNP merupakan jumlah nasabah pembiayaan yang dimiliki oleh bank. (jumlah rekening).

    Kriteria penilaian peringkat: Peringkat 1, NPB 7% Peringkat 2, 7% < NPB 10% Peringkat 3, 10% < NPB 13% Peringkat 4, 13% < NPB 16% Peringkat 5, NPB > 16%

    5) Rasio Haircut (Rasio Observed)

    APYDtEnhancemenExposureHaircut =

    keterangan: Exposure enhancement = agunan yang diperhitungkan APYD = Aktiva Produktif Yang Diklasifikasikan

    Kriteria penilaian peringkat: Peringkat 1, Haircut > 100% Peringkat 2, 95% < Haircut 100% Peringkat 3, 80% < Haircut 95% Peringkat 4, 70% < Haircut 80% Peringkat 5, Haircut 60%

    3. Penilaian Rentabilitas (earning)

    Rentabilitas (earning) adalah untuk mengukur kemampuan bank dalam

    meningkatkan keuntungan, kemampuan ini dilakukan dalam suatu periode.

    JNPJNBNPB =

  • Kegunaan aspek ini juga untuk mengukur tingkat efesiensi usaha dan

    profitabilitas yang dicapai secara bersangkutan. Bank yang sehat adalah bank

    yang diukur secara rentabilitas yang terus meningkat di atas yang telah

    ditetapkan.28

    Penilaian Rentabilitas dimaksudkan untuk mengevaluasi kemampuan bank

    dalam mendukung kegiatan operasional dan permodalan, melalui penilaian

    kuantitatif dan kualitatif atas rasio/komponen sebagai berikut:

    a. Rasio Efisiensi Operasional (REO) - (Rasio Utama)

    Keterangan:

    BO = Beban Operasional PO = Pendapatan Operasional. Kriteria penilaian peringkat: Peringkat 1, REO 83% Peringkat 2, 83% < REO 85% Peringkat 3, 85% < REO 87% Peringkat 4, 87% < REO 89% Peringkat 5, REO > 89%

    b. Rasio aset yang menghasilkan pendapatan (IGA) - (Rasio Penunjang)

    Keterangan: AP = Aktiva Produktif NPA atau Non Performing Asset adalah Aktiva Produktif yang tergolong

    Kurang Lancar, Diragukan dan Macet. TA = Total Aset yang dimiliki oleh bank

    Kriteria penilaian peringkat:

    28 kasmir, Dasar-dasar Manajemen, Edisi 1, Cet. 2, (Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, 2003),

    h. 44

    POBOREO =

    TANPAAPIGA )( =

  • Peringkat 1, IGA > 87% Peringkat 2, 82% < IGA 87% Peringkat 3, 78% < IGA 82% Peringkat 4, 74% < IGA 78% Peringkat 5, IGA 87%

    c. Rasio Net Margin Operasional utama (NSOM) - (Rasio Penunjang)

    Keterangan:

    POu = Pendapatan Operasional Utama BH = Bagi Hasil

    BOu = Beban Operasional Utama AP = aktiva produktif

    Kriteria penilaian peringkat: Peringkat 1, NSOM 9% Peringkat 2, 7% NSOM < 9% Peringkat 3, 5% NSOM < 7% Peringkat 4, 3% NSOM < 5% Peringkat 5, NSOM 3%

    d. Rasio Biaya Tenaga Kerja Terhadap Total Pembiayaan (RTK) - (Rasio

    Observed)

    Keterangan:

    BTK = Biaya Tenaga Kerja PYD = Pembiayaan Yang Diberikan oleh bank

    Kriteria penilaian peringkat: Peringkat 1, TK 2% Peringkat 2, 2% < TK 3,5% Peringkat 3, 3,5% < TK 5% Peringkat 4, 5% < TK 6,5% Peringkat 5, TK > 6,5%

    APBOuBHPOuNSOM =

    PYDBTKRTK =

  • sharingprofitdariberasalyangDPKPLSdanapemilikhasilBagiholderAccountROI =

    e. Return on Assets (ROA) - (Rasio Observed)

    Keterangan:

    EBT = Earning Before Tax TA = Total Asset yang dimiliki oleh bank Kriteria penilaian peringkat: Peringkat 1, ROA > 1,450% Peringkat 2, 1,215% < ROA 1,450% Peringkat 3, 0,999% < ROA 1,215% Peringkat 4, 0,765% < ROA 0,999% Peringkat 5, ROA 0,765%

    f. Return On Equity (ROE) - (Rasio Observed)

    Keterangan: EAT = Earning After Tax PIC = Paid In Capital adalah modal disetor yang dimiliki oleh bank. Kriteria penilaian peringkat: Peringkat 1, ROE > 23% Peringkat 2, 18% < ROE 23% Peringkat 3, 13% < ROE 18% Peringkat 4, 8% < ROE 13% Peringkat 5, ROE 8%

    g. Return on Investment Account Holder Rasio Observe

    Keterangan:

    Bagi hasil pemilik dana PLS = bagi hasil kepada pemilik dana profit sharing

    DPK yang berasal dari profit sharing = dana pihak ketiga yang berasal dari prrofit sharing

    TAEBTROA =

    PICEATROE =

  • Kriteria penilaian peringkat: Peringkat 1, ROI Account holder > 23% Peringkat 2, 18% < ROI Account holder 23% Peringkat 3, 13% < ROI Account holder 18% Peringkat 4, 8% < ROI Account holder 13% Peringkat 5, ROI Account holder 8%

    4. Penilaian Likuiditas (liquidity)

    Likuiditas adalah kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban-

    kewajibannya yang segera harus dipenuhi. Likuiditas berhubungan dengan

    masalah kepercayaan kreditor jangka pendek kepada perusahaan. Artinya,

    semakin tinggi likuiditas semakin percaya para kreditor jangka pendek.

    Likuiditas perusahan ditunjukkan oleh besar kecilnya aktiva lancar atau aktiva

    yang mudah dijadikan uang tunai, seperti kas, surat berharga, piutang dan

    persediaan.29

    Menurut Oliver G. wood, Jr, seperti yang dikutip oleh Dahlan Siamat30,

    likuiditas adalah kemampuan bank untuk memenuhi semua penarikan dana oleh

    nasabah deposan, kewajiban yang telah jatuh tempo, dan memenuhi permintaan

    kredit tanpa ada penundaan.

    Sumber utama kebutuhan likuiditas bank berasal dari adanya kebutuhan

    antara lain untuk memenuhi:

    a. Ketentuan likuiditas wajib (reserve requirement) atau cash ratio

    b. Saldo rekening minimum pada bank koresponden

    29 sutrisno, Manajemen Keuangan; teori, konsep dan aplikasi, Cet. IV, (Yogyakarta :

    EKONISIA, Kampus Fakultas Ekonomi UII, 2005), h. 15-16

    30 Dahlan Siamat, Manajemen Lembaga Keuangan, Edisi Keempat, (Jakarta : Lembaga Penerbit

    fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, 2004), h. 153

  • c. Penarikan simpanan dalam operasional bank sehari-hari

    d. Permintaan kredit dari masyarakat.

    Sejalan dengan pemenuhan kebutuhan likuiditas bank, maka suatu bank

    dianggap likuid apabila:31

    a. Memiliki sejumlah likuiditas sama dengan jumlah kebutuhan likuiditasnya

    b. Memiliki likuiditas kurang dari kebutuhan tetapi bank mempunyai surat-

    surat berharga yang segera dapat dialihkan menjadi kas

    c. Memiliki kemampuan untuk memperoleh likuiditas dengan cara

    menciptakan utang.

    Penilaian terhadap faktor likuiditas meliputi penilaian terhadap komponen-

    komponen sebagai berikut:

    1) Cash Ratio (CR) - (Rasio Utama)

    Keterangan:

    Cash & Setara Kas adalah kas, giro dan tabungan pada bank lain. Kewajiban Lancar meliputi tabungan, deposito, kewajiban kepada bank

    lain, kewajiban segera dan kewajiban lainnya yang jatuh tempo sampai dengan 1 bulan.

    Kriteria penilaian peringkat: Peringkat 1, CR 4,80 Peringkat 2, 4,05 CR < 4,80 Peringkat 3, 3,30 CR < 4,05 Peringkat 4, 2,55 CR < 3,30 Peringkat 5, CR < 2,55

    2) Short Term Mistmatch (STM) - (Rasio Penunjang)

    31 ibid, h. 157

    )3_(_)3(_

    bulanLancarKewajibanbulanlancarAktivaSTM=

    LancarKewajibanSetaraKasCashCR

    _

    &=

  • Keterangan:

    Aktiva lancar 3 bulan adalah aktiva yang memiliki jatuh tempo sampai dengan 3 bulan meliputi Kas, Penempatan pada bank lain dan pembiayaan.

    Kewajiban lancar 3 bulan adalah kewajiban yang harus diselesaikan oleh bank sampai dengan 3 bulan meliputi tabungan, deposito, kewajiban kepada bank lain, kewajiban segera, kewajiban lainnya dan pinjaman yang diterima.

    Kriteria penilaian peringkat: Peringkat 1, STM > 110% Peringkat 2, 100% < STM 110% Peringkat 3, 90% < STM 100% Peringkat 4, 80% < STM 90% Peringkat 5, STM 80%

    5. Penilaian Manajemen (management)

    Manajemen menurut James A.F Stoner adalah proses perencanaan,

    pengorganisasian, pengarahan dan pengawasan usaha-usaha para anggota

    organisasi dan penggunaan sumber daya yang telah ditetapkan.32

    Dalam Elias modern Dictionary English arabic kata management (Inggris),

    sepadan dengan kata tadbir, idarah, siyasah dan qiyadah dalam bahasa arab.

    Dalam al-Quran dari terma-terma tersebut, hanya ditemui terma tadbir dalam

    berbagai derivasinya. Tadbir adalah bentuk masdar dari kata kerja dabbarra,

    yudabbiru, tadbiran. Tadbir berarti penertiban, pengaturan, pengurusan,

    perencanaan dan persiapan.

    32 T. Hani Handoko, Manajemen, Edisi II, Cet. VII (Yogyakarta : BPFE_Yogyakarta dan

    anggota IKAPI, 1993), h. 8

  • Secara istilah, sebagian pengamat mengartikannya sebagai alat untuk

    merealisasikan tujuan umum. Oleh karena itu mereka mengatakan bahwa idarah

    (manajemen) itu adalah suatu aktivitas khusus menyangkut kepemimpinan,

    pengarahan, pengembangan personal, perencanaan, dan pengawasan terhadap

    pekerjaan-pekerjaan yang berkenaan dengan unsur-unsur pokok dalam suatu

    proyek. Tujuannya adalah agar hasil-hasil yang ditargetkan dapat tercapai

    dengan cara yang efektif dan efisien33.

    Penilaian manajemen dimaksudkan untuk mengevaluasi kemampuan

    manajerial pengurus BPRS dalam menjalankan usahanya, kecukupan

    manajemen risiko dan kepatuhan BPRS terhadap pelaksanaan prinsip syariah

    serta kepatuhan BPRS terhadap ketentuan yang berlaku, melalui penilaian

    kualitatif atas komponen-komponen sebagai berikut:34

    a. Kualitas manajemen umum dan kepatuhan BPRS terhadap ketentuan yang

    berlaku, yang terdiri dari 16 (enam belas) aspek dengan bobot sebesar 35%

    (tiga puluh lima per seratus);

    b. Kualitas manajemen risiko, yang terdiri dari 6 (enam) jenis risiko yang

    meliputi beberapa aspek tertentu dengan bobot sebesar 40% (empat puluh

    per seratus);

    c. Kepatuhan terhadap pelaksanaan prinsip prinsip syariah, yang terdiri dari 3

    (tiga) aspek dengan bobot sebesar 25% (dua puluh lima per seratus).

    33 Muhammad, Manajemen Dana Bank Syariah, Op.Cit, h. 13-14

    34 Surat Edaran Bank Indonesia No.9/29/DPbS tanggal 7 Desember 2007 tentang Sistem

    Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Perkreditan Rakyat Berdasarkan Prinsip Syariah

  • BAB III

    GAMBARAN UMUM PD. BPRS KOTA BEKASI

    A. SEJARAH BERDIRI PD. BPRS KOTA BEKASI

    PD. BPRS Kota Bekasi merupakan satu-satunya perusahaan daerah yang bergerak

    dalam perbankan syariah di Propinsi Jawa Barat. BPR Syariah kota Bekasi yang

    mulai beroperasi sejak diresmikan oleh Walikota Bekasi H. Ahmad Jurfaih tangga

    18 September 2006 setelah mengantongi izin usaha dari Dewan Gubernur Bank

    Indonesia tanggal 31 Agustus 2006 diharapkan menjadi pilar pembangunan

    ekonomi masyarakat Bekasi yang bernuansa Ihsan. Seiring dengan pertumbuhan

    ekonomi Kota Bekasi, peran strategis yang diemban perusahaan milik Pemda Kota

    Bekasi ini menunjukan peningkatan kinerja yang baik berdasarkan hasil penilaian

    dari Bank Indonesia untuk periode tahun 2006 2007.

    Perkembangan Ekonomi Kota Bekasi di tahun 2007 mengalami peningkatan secara

    pesat, Hal ini dapat dilihat dari perkembangan industri perbankan Kota Bekasi dari

    tahun ke tahun yang mengalami peningkatan, sebagaimana dilaporkan Bank

    Indonesia melalui Kajian Ekonomi Regional Provinsi Jawa Barat menunjukan

    peningkatan setiap tahunnya. Dalam tabel di bawah ini menunjukan kinerja

    perbankan di Kota Bekasi mengalami kemajuan, sehingga mengindikasikan

    pertumbuhan ekonomi kota Bekasi semakin membaik serta adanya peningkatan

    kesejahteraan masyarakat kota Bekasi membaik pula.

    Tabel 1 PERBANKAN DI KOTA BEKASI 56

  • DPK, Kredit dan NPL Tahun 2005 dan 2006

    Tahun 2005 Tahun 2006 Pertumbuhan %

    DPK 2,090,062 3,799,074 1,709,012 81.77

    Kredit 1,392,213 4,058,045 2,665,832 191.48

    LDR 66.61 106.82 40.21 60.37

    NPL 20,330 92,203 71,873 353.53

    NPL% 1.46 2.27 0.81 55.48

    Sumber LBU KBI Bandung yang diolah

    Perumbuhan perbankan di Kota Bekasi ini hampir setiap tahun terus meningkat dan

    memungkinkan bagi industri perbankan untuk memperluas usahanya seiring dengan

    perkembangan arus migrasi pendatang mengingat Bekasi merupakan Satelitnya DKI

    Jakarta sebagai Ibu kota Negara.

    BPRS Kota Bekasi merupakan salah satu indikator yang turut menyumbang

    pertumbuhan perbankan di Kota Bekasi. Pada tahun 2007, hal ini tercermin dari

    kinerja keuangannya. Berdasarkan hasil pemeriksaan tim pengawas Bank Indonesia

    PD. BPRS Kota Bekasi memperoleh Predikat Sehat dengan Skor TKS sebesar 92,82

    dan membukukan laba bersih setelah pajak per 31 Desember sebesar Rp

    404.518.979,00 sehingga mampu menyumbang Pendapatan Anggaran Daerah

    (PAD) kota Bekasi sebesar Rp 161.807.591,00 .

    Sebagai perusahaan Milik Daerah (BUMD) BPR Syariah Kota Bekasi

    berkomitmen untuk menggerakan pembangunan ekonomi daerah melalui pembinaan

    dan pengembangan UKM di berbagai sektor. Pada tahun 2007 bekerjasama dengan

    BAPPEDA Kota Bekasi melalui SATLAK PPKIPM bersama-sama meningkatkan

    daya beli masyarakat melalui perkuatan permodalan UKM dalam bentuk Plasma dan

  • Inti Plasma yang terdiri dari Inti dan Plasma Ikan Hias, Inti dan Plasma Boneka

    serta Inti dan Plasma Sampah Plastik.

    B. VISI DAN MISI PD. BPRS KOTA BEKASI35

    1. Visi PD. BPR Syariah Kota Bekasi

    Bank Syariah Penggerakan Pembangunan Ekonomi Kota Bekasi

    2. Misi PD. BPR Syariah Kota Bekasi

    a. Menjadi Institusi Mediasi Terpercaya

    Memahami kebutuhan masyarakat dan Pemda Kota Bekasi

    Memberikan pelayanan yang terbaik melalui penerapan Good

    Coorporate Governance (GCG)

    Menyediakan kebutuhan masyarakat halal dan toyib

    b. Mengembangkan SDM Profesional, Jujur dan Amanah

    Merekrut, melatih dan mengembangkan minat dan bakat yang dimiliki

    Memberikan kesempatan kerja pada masyarakat Kota Bekasi

    Memberikan penghargaan dan promosi atas dasar prestasi dan dedikasi

    c. Memperkokoh Usaha-Usaha Masyarakat

    Memberikan pembinaan terhadap usaha-usaha masyarakat

    Memberikan permodalan berdasarkan kebutuhan usaha

    Memberikan pendampingan asistensi guna mengembangkan usaha ke

    arah yang lebih baik dan sustainable.

    35 Laporan Kinerja Akhir Tahun 2007 BPR Syariah Kota Bekasi, h. 2-3

  • d. Memberikan Keuntungan yang Maksimal

    Memberikan hasil investasi terbaik bagi investor

    Mendorong tumbuhnya investasi secara berkesinambungan

    Berkontribusi terhadap penciptaan Pendapatan Asli Daerah.

    e. Peduli Lingkungan

    Mendahulukan kepentingan masyarakat dan lingkungan dalam setiap

    pengambilan keputusan

    Menyisihkan sebagian keuntungan untuk kepentingan sosial

    Turut menciptakan masyarakat menuju sejahtera.

    C. PRODUK-PRODUK PD. BPRS KOTA BEKASI

    1. Produk penghimpunan dana36:

    a. Tawadu

    Tabungan Wadiah Umat merupakan akad titipan (Yad Dhomanah) yang

    dapat ditarik setiap saat dengan mendapat imbalan bonus yang menarik.

    b. Takasi Mudah

    Tabungan Berjangka kota Bekasi merupakan akad mudharabah antara bank

    dengan nasabah dengan nisbah yang disepakati bersama.

    36 Brosur tabungan BPRS Kota Bekasi

  • c. Tajir

    Tabungan Haji Mabrur merupakan akad Mudharabah antara Bank dengan

    nasabah dengan nisbah yang disepakati bersama.

    d. Takwa

    Tabungan Khusus Siswa merupakan akad Mudharabah antara Bank dengan

    nasabah dengan nisbah yang disepakati bersama.

    e. Tabah

    Tabungan Mudharabah yaitu prinsip bagi hasil dengan akad Mudharabah.

    Bank akan memberikan bagi hasil dari pendapatannya dengan sistem

    revenue sharing.

    f. Depo Inves

    Deposito Investasi menggunakan akad Mudharabah Mutlaqoh dan

    Mudharabah Muqayadah dengan jangka waktu 1, 3, 6 dan 12 bulan dengan

    nisbah yang kompetitif sesuai kesepakatan antara Bank Syariah Kota bekasi

    dengan nasabah.

    2. Produk Pembiayaan37:

    a. Pembiayaan Murabahah

    Adalah akad jual beli barang dimana Bank berfungsi sebagai penjual dan

    nasabah sebagai pembeli.

    b. Pembiayaan Istishna

    Adalah akad jual beli (pesanan) secara paralel ataupun tidak antara Bank di

    satu pihak, nasabah di pihak lain dan supplier di pihak ketiga.

    c. Pembiayaan Mudharabah

    37 Brosur pembiayaan BPRS Kota Bekasi

  • Adalah akad kerjasama investasi usaha dimana Bank bertindak sebagai

    penyedia modal (shohibul maal) sedangkan nasabah sebagai pengelola usaha

    (mudharib)

    d. Pembiayaan Musyarakah

    Adalah akad kerjasama antara bank dengan nasabah. Keduanya sama-sama

    sebagai pemodal dan pengelola sesuai dengan kesepakatan bersama.

    e. Pembiayaan Ijaroh/IMBT

    Adalah akad sewa dimana bank bertindak sebagai pemilik barang sewaan

    dan nasabah sebagai pihak penyewa. Di akhir masa sewa barang tetap

    dimiliki bank atau dimiliki oleh nasabah.

    D. SUSUNAN PENGURUS PD. BPRS KOTA BEKASI38

    Pemilik : Pemerintah Kota Bekasi

    Dewan Pengawas Syariah

    Ketua Dewan Pengawas Syariah : KH. Ahmad Kusyaeri

    Anggota Dewan Pengawas Syariah : KH. B. Burhanudin

    Dewan Komisaris

    Komisaris Utama : H. Tjandra Utama Efendi

    Komisaris : H. Suwarli

    Komisaris : H. Bambang Heru Suhartono

    38 Laporan Kinerja Akhir Tahun 2007, Op.Cit, h. 4

  • Direksi

    Direktur Utama : Nur Syamsudin Buchori

    Direktur : Suhendar

  • BAB IV

    ANALISIS TINGKAT KESEHATAN BANK PERKREDITAN RAKYAT

    SYARIAH PD. BPRS KOTA BEKASI BERDASARKAN PERATURAN BANK

    INDONESIA NOMOR : 9/17/PBI/2007

    Dalam Peraturan Bank Indonesia Nomor : 9/17/PBI/2007 tentang Sistem Penilaian

    Tingkat Kesehatan Bank Perkreditan Rakyat Berdasarkan Prinsip Syariah, disebutkan

    bahwa tingkat kesehatan BPRS adalah hasil penilaian kuantitatif dan kualitatif atas

    berbagai aspek yang berpengaruh terhadap kondisi atau kinerja BPRS melalui penilaian

    kuantitatif dan penilaian kualitatif terhadap faktor keuangan yang terdiri dari faktor

    permodalan, kualitas aset, rentabilitas, likuiditas; dan penilaian kualitatif terhadap

    faktor manajemen.

    Penilaian kuantitatif adalah penilaian terhadap posisi, perkembangan maupun

    proyeksi rasio-rasio keuangan BPRS. Sedangkan penilaian kualitatif adalah penilaian

    terhadap faktor manajemen dan faktor-faktor hasil penilaian kuantitatif dengan

    mempertimbangkan indikator pendukung dan atau pembanding yang relevan.

    A. Penilaian Faktor Permodalan (Capital), Kualitas Asset (Asset Quality),

    Rentabilitas (Earning), Likuiditas (Liquidity), Dan Manajemen (Management)

    1. Penilaian Faktor Permodalan (Capital)

    Modal merupakan faktor yang amat penting bagi perkembangan dan

    kemajuan bank dan sekaligus berfungsi sebagai penyangga kepercayaan

  • masyarakat. Setiap penciptaan aktiva, di samping berpotensi menghasilkan

    keuntungan juga berpotensi menghasilkan risiko. Oleh karena itu modal juga

    harus dapat digunakan untuk menjaga kemungkinan terjadinya risiko kerugian

    atas investasi pada aktiva, terutama yang berasal dari dana-dana pihak ketiga

    atau masyarakat. Peningkatan peran aktiva sebagai penghasil keuntungan harus

    serentak dibarengi dengan pertimbangan risiko yang mungkin timbul guna

    melindungi kepentingan para pemilik dana.39

    Penilaian permodalan dimaksudkan untuk mengevaluasi kecukupan modal

    BPRS dalam mengelola eksposur risiko saat ini dan di masa mendatang, melalui

    penilaian kuantitatif dan kualitatif atas rasio/komponen-komponen berikut:

    6) Rasio Kecukupan Modal atau Capital Adequacy Ratio (CAR) - (Rasio

    Utama)

    Rasio kecukupan modal dihitung dengan cara modal inti ditambah modal

    pelengkap dibagi dengan Aktiva tertimbang menurut risiko (ATMR). Modal

    inti dan modal pelengkap merupakan modal yang dimiliki BPRS. Pengertian

    aktiva dalam perhitungan ATMR ini mencakup baik aktiva yang tercantum

    dalam neraca maupun pos tertentu dalam aktiva yang bersifat administratif

    yang masih bersifat komitmen yang disediakan oleh BPRS bagi pihak ketiga.

    Perhitungan Modal dan Aktiva Tertimbang Menurut Risiko (ATMR)

    berpedoman pada ketentuan Bank Indonesia tentang Kewajiban Penyediaan

    Modal Minimum Bank Perkreditan Rakyat Berdasarkan Prinsip Syariah

    yang berlaku.

    39 Zainul Arifin, Op.Cit, h. 147

  • Di PD. BPRS Kota Bekasi, modal inti adalah sebesar Rp 5.251.616

    modal pelengkap adalah sebesar Rp 69.275 dan ATMR adalah sebesar Rp

    10.734.633 (lihat lampiran data permodalan dan ATMR).

    Berdasarkan kriteria penilaian peringkat, nilai CAR 49,57 % merupakan

    peringkat : 1

    7) Rasio Proyeksi Kecukupan Modal (Rasio Penunjang)

    Rasio proyeksi kecukupan modal dihitung dengan cara CART1 dibagi

    dengan CART0. CART1 merupakan hasil proyeksi Kecukupan Pemenuhan

    Modal Minimun (KPMM) untuk periode berikutnya, berdasarkan

    perhitungan regresi dengan menggunakan data KPMM selama 12 bulan

    terakhir. CART0 merupakan nilai KPMM bank pada periode penilaian.

    Di PD. BPRS Kota Bekasi, CART0 adalah sebesar 49,57 % dan CART1

    adalah sebesar 55,20 % dan (lihat lampiran data keuangan series).

    Berdasarkan kriteria penilaian peringkat, nilai CAR 1,1 merupakan

    peringkat : 2

    %100ATMR

    PelengkapIntiModalCAR +=

    %100633.734.10.

    275.69.616.251.5.x

    RpRpRp +

    =

    %57,49=

    %57,49%20,55

    =

    1,1=

    0

    1

    T

    T

    CARCARCAR =

  • 8) Rasio Kecukupan Equity (ECR) - (Rasio Observed)

    Rasio kecukupan equity dihitung dengan cara M Tier 1 atau modal inti

    ditambah PPAP atau penyisihan penghapusan aktiva produktif dibagi dengan

    PPAPWD atau penyisihan penghapusan aktiva produktif yang wajib

    dibentuk. Perhitungan M tier1 berpedoman pada ketentuan Bank Indonesia

    tentang Kewajiban Penyediaan Modal Minimum Bank Perkreditan Rakyat

    Berdasarkan Prinsip Syariah yang berlaku.

    PPAP yang wajib dibentuk (PPAPWD) berpedoman pada ketentuan

    Bank Indonesia tentang Penilaian Kualitas Aktiva Bank Perkreditan Rakyat

    Berdasarkan Prinsip Syariah yang berlaku, yang besarnya ditetapkan sebagai

    berikut: Cadangan umum: 0,5% x Total aktiva produktif yang digolongkan

    lancar. Cadangan khusus: (10% x aktiva yang digolongkan kurang lancar

    setelah dikurangi nilai agunan) + (50% x aktiva yang digolongkan diragukan

    se