aspirin pada lambung

  • View
    2

  • Download
    0

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Asam asetil salisilat yang lebih dikenal sebagai asetosal atau aspirin adalah analgesik antipiretik dan anti-inflamasi golongan obat non selektif anti-inflamasi yang luas digunakan dan digolongkan dalam obat bebas. Selain sebagai prototip, obat ini merupakan standar dalam menilai efek obat sejenis

Transcript

BAB IITINJAUAN PUSTAKA

2.1 AspirinAsam asetil salisilat yang lebih dikenal sebagai asetosal atau aspirin adalah analgesik antipiretik dan anti-inflamasi golongan obat non selektif anti-inflamasi yang luas digunakan dan digolongkan dalam obat bebas. Selain sebagai prototip, obat ini merupakan standar dalam menilai efek obat sejenis.1

Gambar 2.1 Struktur Molekul Aspirin152.1.1 FarmakodinamikaSalisilat, khususnya asetosal merupakan obat yang banyak digunakan sebagai analgesik, antipiretik, dan anti-inflamasi. Aspirin dosis terapi bekerja cepat dan efektif sebagai antipiretik. Dosis toksik obat ini justru memperlihatkan efek piretik sehingga pada keracunan berat terjadi demam dan hiperhidrosis.1Untuk memperoleh efek anti-inflamasi yang baik kadar plasma perlu dipertahankan antara 250-300 g/mL. Kadar ini tercapai dengan dosis aspirin oral 4 gram per hari untuk orang dewasa. Pada penyakit demam rematik, aspirin masih belum dapat digantikan oleh obat anti-inflamasi non steroid (OAINS) yang lain dan masih dianggap sebagai standar dalam studi perbandingan penyakit artritis reumatoid.124

Efek aspirin terhadap pernafasan ialah mampu merangsang pernapasan baik secara langsung maupun tidak langsung. Pada dosis terapi salisilat mempertinggi konsumsi oksigen dan produksi CO2. Peninggian PCO2 akan

merangsang pernapasan sehingga pengeluaran CO2 melalui alveoli bertambah dan PCO2 dalam plasma turun. Meningkatnya ventilasi ini pada awalnya ditandai dengan pernapasan yang lebih dalam sedangkan frekuensi hanya sedikit bertambah, misalnya pada latihan fisik atau menghisap banyak CO2. Lebih lanjut salisilat yang mencapai medula, merangsang langsung pusat pernapasan sehingga terjadi hiperventilasi dengan pernapasan yang dalam dan cepat.1Peningkatan konsumsi oksigen dan produksi CO2 terutama di otot rangka diakibatkan karena perangsangan fosforilasi oksidatif. Karbon dioksida yang dihasilkan selanjutnya mengakibatkan perangsangan pernapasan sehingga karbon dioksida dalam darah tidak meningkat. Ekskresi bikarbonat melalui ginjal meningkat disertai Na+ dan K+, sehingga bikarbonat dalam plasma menurun dan pH darah kembali normal. Keadaan ini disebut alkalosis respiratorik yang terkompensasi, dan sering dijumpai pada orang dewasa yang mendapat terapi salisilat secara intensif.1Pada orang sehat, aspirin menyebabkan perpanjangan masa perdarahan. Hal ini bukan karena hipoprotrombinemia, tetapi karena asetilasi siklooksigenase trombosit sehingga pembentukan TXA2 terhambat. Dosis tunggal 650 mg aspirin dapat memperpanjang masa perdarahan kira-kira 2 kali lipat. Aspirin tidak boleh digunakan pada pasien dengan kerusakan hati berat, hipoprotombinemia, defisiensi vitamin K, dan hemofilia, sebab dapat menimbulkan perdarahan.1Pada saluran cerna, aspirin mampu mengiritasi mukosa saluran cerna. Perdarahan yang berat dapat terjadi pada dosis besar dan pemberian kronik.12.1.2 FarmakokinetikaPada pemberian oral, sebagian salisilat diabsorbsi dengan cepat dalam bentuk utuh di lambung, tetapi sebagian besar di usus halus bagian atas. Kadar tertinggi dicapai kira-kira 2 jam setelah pemberian. Kecepatan absorbsinya tergantung dari kecepatan disintegrasi dan disolusi tablet, pH permukaan mukosa dan waktu pengosongan lambung. Absorbsi pemberian secara rektal, lebih lambat dan tidak sempurna sehingga cara ini tidak dianjurkan. Asam salisilat diabsorbsi cepat dari kulit sehat, terutama bila digunakan sebagai obat gosok atau salep. Keracunan dapat terjadi dengan olesan pada kulit yang luas.1Setelah diabsorbsi, salisilat segera menyebar ke seluruh jaringan tubuh dan cairan transeluler sehingga ditemukan di cairan sinovial, cairan spinal, cairan peritoneal, liur, dan air susu. Obat ini mudah menembus sawar darah otak dan sawar urin. Kira-kira 80% - 90% salisilat plasma terikat pada albumin. 2.1.3 Mekanisme Kerja ObatGolongan obat ini menghambat enzim siklooksigenase sehingga konversi asam arakidonat menjadi PGG2 terganggu. Enzim siklooksigenase terdapat dalam 2 isoform disebut COX-1 dan COX-2. Kedua isoform tersebut dikode oleh gen yang berbeda. Secara garis besar COX-1 esensial dalam pemeliharaan berbagai fungsi dalam kondisi normal di berbagai jaringan khususnya ginjal, saluran cerna, dan trombosit. Di mukosa lambung, aktivasi COX-1 menghasilkan prostasiklin yang bersifat sitoprotektif. Siklooksigenase-2 semula diduga diinduksi berbagai stimulus proses inflamasi antara lain: sitokin, endotoksin, dan faktor pertumbuhan. COX-2 juga mempunyai fungsi fisiologis di: ginjal, jaringan vaskular, dan pada proses perbaikan jaringan. Tromboksan A2, disintesis oleh trombosit reaksiya dikatalis COX-1. Senyawa ini menyebabkan agregasi trombosit, vasokonstriksi, dan proliferasi otot polos. Sebaliknya prostasiklin (PGI2) yang disintesis oleh COX-2 di endotel makrovaskular melawan efek tersebut dan menyebabkan penghambatan agregasi trombosit, vasodilatasi, dan efek antiproliferatif.12.1.4 Efek Toksik AspirinKarena digunakan demikian luas dan mudah didapat, salisilat sering menjadi penyebab intoksikasi. Dosis fatal obat ini (10-30 gram) dapat menyebabkan kematian pada orang dewasa. Tetapi dalam satu kasus 130 g aspirin tidak menyebabkan akibat yang fatal. Intoksikasi salisilat yang ringan disebut salisilisme dengan sindroma yang meliputi gejala-gejala sakit kepala, pusing, telinga berdengung, kesulitan pendengaran, penglihatan buram, kebingungan mental, kelesuan, mengantuk, berkeringat, haus, hiperventilasi, mual, muntah, dan kadang-kadang diare.2Tanda-tanda intoksikasi salisilat yang menonjol berupa gangguan keseimbangan asam-basa dan komposisi elektrolit plasma. Gangguan metabolik yang paling parah adalah asidosis, terjadi pada anak kecil dan bayi yang mengalami intoksikasi.2 Fenomena hemoragia kadang-kadang terlihat selama keracunan salisilat. Purpura trombositopenik merupakan komplikasi yang jarang terjadi. Ensefalopati toksik yang parah dapat merupakan tanda keracunan salisilat yang menonjol, dan mungkin sulit untuk membedakannya dengan ensefalopati reumatik. Jika keracunan berkembang, stimulasi pusat digantikan dengan keadaan depresi, stupor, dan koma. Kemudian terjadi kolaps kardiovaskular dan insufisiensi pernapasan, serta kadang-kadang terjadi kejang asfiksia terminal dan edema paru. Kematian biasanya terjadi akibat kegagalan pernapasan setelah periode tidak sadar.3Toksisitas pada orang dewasa mungkin tidak mudah terdiagnosa, karena pasien tersebut biasanya terintoksikasi dari regimen terapeutiknya; tidak ada riwayat overdosis akut. Tanda-tanda toksisitas yang menonjol pada kelompok ini adalah edema pulmonal nonkardiogenik, ketidaknormalan neurologis nonfokal, dan temuan laboratorium yang mencakup ketidaknormalan asam-basa, ketosis yang tidak jelas, dan waktu protrombin yang lebih lama.32.1.5 Epidemiologi Penggunaan AspirinAspirin ditemukan pertama kali oleh Felix Hoffman dan merupakan sintesis pertama dari obat antiinflamasi non steroid. Aspirin digunakan sebagai terapi nyeri menstrual, demam, penyakit reumatik, sakit kepala, dan berkembang bahwa aspirin dapat dipakai sebagai pencegahan primer dan sekunder untuk penyakit jantung koroner, stroke, dan transient ischemic attack (TIA).12,13,14 Survey yang dilakukan oleh epidemiology center of Boston University, bahwa aspirin menduduki posisi kedua penggunaan obat tanpa resep terbanyak yang dilakukan di Amerika Serikat yaitu sebesar 17 % dan termasuk dalam penggunaan obat tersering yang digunakan oleh usia lanjut.15 2.2 Lambung2.2.1 Anatomi LambungLambung adalah bagian yang mengembang pada saluran pencernaan diantara esophagus dan intestinum tenue. Lambung adalah organ khusus untuk pengumpulan makanan yang teringesti, yang secara kimiawi dan mekanis mempersiapkan makanan tersebut untuk digesti dan pasase ke dalam duodenum. Pada sebagian besar orang, bentuk lambung menyerupai huruf J, tetapi bentuk dan posisi lambung dapat berbeda secara nyata pada orang dengan bentuk tubuh berbeda dan bahkan pada orang yang sama sebagai akibat gerakan diafragmatik selama respirasi, isi lambung, dan posisi orang tersebut (yaitu, apakah berbaring atau berdiri).16 Lambung dapat dibedakan menjadi empat daerah lambung. Zona sempit selebar 2-3 cm sekitar lubang esophagus disebut kardia. Daerah mirip kubah yang menonjol ke kiri di atas muara esophagus adalah fundus. Daerah pusat yang luas adalah korpus dan dan bagian distal yang menyempit berakhir pada orifisium gastroduodenal adalah pilorus. Terdapat perbedaan nyata dalam kelenjar mukosa kardia, korpus, dan pilorus, sedangkan dari fundus dan korpus adalah hampir sama.17 Lambung juga memiliki dua kurvatura, yaitu kurvatura minor dan major. Kurvatura minor membentuk batas konkaf lebih pendek pada lambung. Kurvatura major membentuk batas konveks lebih panjang pada lambung.16Lambung memiliki banyak suplai arterial yang berasal dari truncus coeliacus dan percabangannya. Sebagian darah disuplai oleh anastomosis yang terbentuk sepanjang kurvatura minor oleh arteria gastrica dextra dan sinistra, dan sepanjang kurvatura major oleh arteria gastro-omentalis dextra dan sinistra. Fundus dan tubuh atas menerima darah dari arteria gastrica brevis dan posterior.16

Gambar 2.2 Anatomi Lambung. Bagian abdominal, oesofagus, dan lambung.16Vena gastric sejajar dengan arteri pada posisi dan perjalanannya. Vena gastrica dextra dan sinistra bermuara ke dalam vena porta; vena gastrica brevis dan vena gastro-omentalis sinistra bermuara ke dalam vena lienalis, yang menyatukan vena mesenterica superior (SMV) untuk membentuk vena porta. Vena gastro-omentalis dextra bermuara ke dalam SMV. Vena prepylorik naik pada pilorus ke vena gastrica dextra. Karena vena tersebut jelas pada orang yang hidup, ahli bedah menggunakannya untuk mengidentifikasi pilorus.162.2.2 Histologi LambungLambung dibagi dalam 3 bagian histologik yakni kardia, fundus dan korpus, dan pilorus. Fundus dan korpus adalah bagian lambung yang terluas. Dinding lambung terdiri atas empat lapisan yaitu mukosa, submukosa, m