bahan ujian filsafat

Embed Size (px)

DESCRIPTION

filsafat sains

Text of bahan ujian filsafat

Positisme merupakan perkembangan lebih lanjut dari empirisme Inggris. Inspirasi filosofis empirisme terhadap positisme dapat terlihat terutama pada prinsip objektivitas ilmu pengetahuan. Empirisme, sebagaimana sudah dijelaskan, yakin bahwa semesta adalah segala sesuatu yang hadir melalui data inderawi. Dengan kata lain, pengetahuan harus berawal dari verifikasi empiris. Positivisme mengembangkan paham empiris yang lebih ekstrim dengan mengatakan bahwa puncak pengetahuan manusia adalah ilmu-ilmu positif atau sains. Ilmu-ilmu yang berangkat dari fakta-fakta yang terverfikasi dan terukur secara ketat. Positivisme tidak bisa dilepaskan dari iklim kultural yang memungkinkan berkembangnya gerakan untuk menerapkan cara kerja sains dalam berbagai bidang kehidupan. Iklim tersebut ditimbulkan oleh revolusi industri di Inggris abad ke-18 yang menimbulkan gelombang optimisme terhadap kemajuan umat manusia berdasarkan keberhasilan teknologi industri. Positivisme yakin bahwa masyarakat akan mengalami kemajuan apabila menghargai sains dan teknologi, serta sangat menjunjung tinggi kedudukan sains dan sangat optimis dengan peran sosialnya bagi kesejahteraan manusia. Slogan positivisme yang amat terkenal berbunyi, savoir pour prevoir, prevoir pour pouvoir, (dari ilmu muncul prediksi dan dari prdiksi muncul aksi). Positivisme dikenalkan oleh dua pemikir Perancis: Henri Saint Simon (1760-1825) dan muridnya Auguste Comte (1798-1857). Comte mengklaim pengetahuan positif-ilmiah adalah pengetahuan yang pasti, nyata, dan berguna. Ia menolak metafisika. Keyakinan positivistik didasarkan pada teori tentang tiga tahap perkembangan sejarah, yaitu: tahap teologis, metafisis, dan tahap perkembangan sejarah.Beberapa ciri positivisme antara lain: bebas nilai, fenomenolisme, nominalisme, reduksionisme, neturalisme, dan mekanisme. Positivisme yang dikembangkan Auguste Comte biasa digolongkan dalam kategori positivisme sosial. Selain positivisme sosial muncul apa yang disebut positivisme evolusioner yang dipelopori oleh Charles Byell, Charles Darwin, Herbert Spencer, Ermst Haeckel, dan Wilhelm Wundt. Perbedaannya positivisme sosial mendasarkan kemajuan pada sains murni, sedangkan positivisme evousioner pada interaksi manusia semesta. Disamping itu berkembang positivisme kritis, yang dipelopori oleh Ermst Mach dan Richard Avenarius.Positivisme logis adalah aliran filsafat ilmu penegtahuan yang lahir pada awal abad 20, di Wina-Austria. Lahirnya positivisme logis mesti didudukkan dalam konteks perkembangan masyarakat di Eropa pada awal abad 20. Mereka beriskukuh bahwa masyarakat harus dibebaskan dari kungkungan teologi dan filsagat. Positivisme logis berorientasi pada ilmu-ilmu alam yang telah mencapai tingkat perkembangan paing tinggi dan mengagumkan. Positivisme logis beranggapan bahwa misi administratif masyarakat secara rasional harus dilandasi pada pengetahuan yang berkesatuan. Positivisme logis dan positivisme klasik mempunyai persamaan, yaitu mereka sama-sama menjunjung tinggi sains dan metode ilmiah dalam memperoleh penegtahuan objektif. Perbedaannya, bila positivisme klasik lebih menaruh perhatian pada bidang pengturan sosial masyarakat secara ilmiah dan adnya gerak kemajuan evolutif dalam alam, maka positivisme logis lebih fokus pada logika dan bahasa ilmiah. Positivisme logis menola metafisika. Prinsip yang dipegang oleh kaum positivisme logis adalah yaitu adanya hubungan mutlak antara bahasa dan dunia kefaktaan, yang dikemukakan oleh Betrand Russell (1889-1951) yang menyebutnya sebagai teori gambar.Kritik terhadap positivisme logis, problem pada positivisme logis adalah asusmsi dasarnya yang mengatakan bahwa makna suatu kata ditentukan oleh pengamatan empiris atau konvensi apriori. Yang dijelaskan WV. Quine, adalah makna ketidakbertentuan, tidak bisa dipastikan oleh satu diantara kriterium tersebut. Yang terjadi menurut Quine adala suatu pruralitas kebermaknaan sesuai dengan pluralitas komunitas bahasa dengan pluralitas intensinya masing-masing.Strukturalisme merupakan airan linguistik yang dpelopori oleh Ferdinand De Saussure (1857-1913), seorang ahli linguistik adal Swiss, dengan proyek menciptakan ilmu bahasa yang mengkaji bahasa sebagai suatu otonom. Yang lain dari strukturalisme adalah gagasan tentang individu yang menurutnya adalah produk dari struktur bahasa.Pascapositivisme merupakan gerakan perlawanan teradap positivisme di berbagai domain mulai ontologi, epistemologi sampai metodologi. Asumsi pascapositivisme adalah, pertama, fakta tidak bebas melainkan bermuatan teori. Kedua, falibilitas teori. Ketiga, fakta tidak bebas, melainkan sarat nilai. Keempat, interaksi antara subjek dan objek penelitian.Antipositivisme, berawal dari Karl Raimund Popper (1902-1994) menemukan prinsip falsifikasi, yaitu pengguguran suatu teori lewat fakta. Status ilmiah suatu teori menurut Popper adalah dapat difalsifikasi. Sains tidak bekerja semata dengan logika induksi. Logika induksi adalah logika penarikan kesimpulan umum melalui pengumpulan fakta-fakta konkret. Popper pertahankan objektivitasnya. Objektivitas Popperian adalah objektivisme dunia 3 yang terus menerus didera kritik, demi kemauan sains. Konsep Popper dikritik oleh Thomas Kuhn (1922-1996). Menurutnya, ilmu tidak satu, tapi plural. Ilmuwan bekerja dalam satu paradigma yang memuat asumsi ontologis, metodologis, dan struktur nilai. Positivisme adalah sebuah paradigma. Khun mengajukan prinsip ketidakterbandingan. Kesinambungan antar teeori adalah mustahir karena masing-masing bekerja di bawah payung paradigmanya sendiri-sendiri. Bedanya, Popper melihat sejarah sains sebagai gerak evolusioner, sementara Kuhn memandangnya sebagai patahan-patahan revolusioner.Anti positivisme sekolah Frankfurt, merupakan institut yang terdiri dari sejumlah intelektual dari berbagai macam disiplin, mulai dari teologi sampai ffilsafat. Kritik yang laing tajam dari Sekolah Frankfurt adalah pada proyek pencerahan (Aufklarung) yang gagal total, dan terjebak dalam suatu paradoks antropologis. Dari David Hume hingga para filsuf positivistik umumnya mengadopsi ide bahwa pengalamman inderawi yang memberikan dasar pengetahuan ilmiah tidak bisa dikembangkan bagi keputusan-keputusan moral. Hume meyakini bahwa proposisi etis tidak dapat diturunkan dari proposisi faktual. Mahzab Frankfurt menolak dikotomi fakta-nilai karena berpengaruh negatif, baik secara epistemologis maupun soosiologis. Jurgen Habermas, dalam bukunya Knowledge And Human Interst (1971) mengemukakan bahwa ilmu pengetahuan dan dan kepentingan tidak dapat dipisahkan. Kriteria bebas nilai yang dicanangkan positivisme hanya membuat ilmuwan buta pada kepentingan yang sesungguhnya mendasari suatu penelitian ilmiah. Teori kritis dari Sekolah Frankfurt menolak dualisme kantian (rasio teoretis-rasio praktis, vernuft/verstand). Menurut para pemikir mahzab Frankfurt, khususnya Adorno dan Horkhaimer, pemikiran David Hume, Francis Bacon, Rene Descartes, Immanuel Kant mencapai klimaksnya pada positivisme Auguste Comte.Anti-Fondasionalisme: Richard Rorty dan Paul Feyerabend Tardisi filsafat Barat sejak Yunani kuno memfokuskan pemikiran filosofisnya pada prinsip dasar semesta. Perkembangan selanjutnya, pemikiran tentang fondasi dikembangkan oleh Heracleitos yang mengatakan bahwa yang sejati adalah perubahan, dan menggunakan konsep logos sebagai suatu yang konsisten, yang mendasari segala perubahan tersebut. Dunia sebagaimana dialami manusia secara inderawi adalah dunia yang tterus berubah dan menurut Heracleitos dibalik perubahan tersebut pasti ada suatu yang tetap, permanen, dan universal.Kritik Richard Rorty, Fondasionalisme mendapatkan kritikan pedas dari Richard Rorty (1. 1934), filsuf kenamaan abad ini. Dalam bukunya Philosophy and the Miror of Nature, Rorty mengemukakan bahwa fondasionalisme Locke, Descartes, Kant pada dasarnya merupakan pembakuan suatu aturan epistemik tentang proses mental yang terjadi dalam akal-budi. Mereka berkeyakinan bahwa benak manusia merupakan cermin dari semesta luar dan manusia mampu memperoleh gambaran objektif apabila ia melepaskan diri dari kebersatuan sosial. Singkatnya, mereka mengabaikan interaksi sosial sebagai justifikasi kebenaran dan memandangnya sebagai elemen yang distorsif. Rorty menekankan sikap anti fondasionalismenya dengan mengadopsi ide pragmatisme bahwa aturan-aturan epistemologis pada dasarnya merupakan permasalahn praktik-pratik sosial. Pengetahuan manusia bukanlah suatu cermin semesta, tapi hasil proses interaksi manusia dan semesta, yang legitimasinya tidak berangkat dari kegiatan individual, melainkan sosial. Kebenaran diukur bukan berdasarkan satu patokan epistemik yang universal dan transedental, melainkan berdasarkan bentuk kehidupan masing-masing komunitas. Suatu pendekatan aprioristik semesta adalah sia-sia karena semsta sejati tidak pernah diketahui. Permasalahan kebenaran bukan lagi permasalahan fondasi maupun korespondensi, melainkan permasalahan kesepakatan lokal dalam tiap-tiap komunitas. Pluralisme kebenaran harus terus dijaga supaya jangan terjebak kembali dalam suatu ide tentang fondasi yang totaliter.Kritik Paul Feyerabend (1924-1994), seorang filsuf yang pemikirannya cukup liar. Ini terbukti dengan penolakannya terhadap kesatuan metode atas nama anarkisme metodologis. Ide kontroversial anti metode Feyerabend tertuang dalam bukunya yang berjudul Againrs Method (1988). Dalam buku itu Feyerabend mengemukakan dua asumsi yang salah kaprah dalam wacana filsafat ilmu selama ini. Pertama, terdapatnya bahasa observasi yang independen dari teori. Kedua, kemungkinan teori untuk mengafirmasi semua fakta-fakta yang ada. Feyerabend juga bertolak dari sejarah sains. Menurutnya, penemuan-penemuan sains sering tidak terjadi melalui metode yang ketat, tapi bisa melalui instuisi, kebetulan, imajinasi. Singkatnya, semua elemen ubjektif yang disingkirkan oleh positivisme dari lingkup metodologis. Feyerabend memberikan contoh kasus keterpusatan bumi Ptolemeus oleh keterpusatan matahari Copernicus. Ia mensinyalir b