of 20 /20

McGrath, Alister E. · 2021. 2. 20. · 1.Memulai: Apa Artinya Apologetika? 11 •Mendefinisikan Apologetika •Tema-tema Dasar Apologetika Kristen •Apologetika dan Penginjilan

  • Author
    others

  • View
    8

  • Download
    2

Embed Size (px)

Text of McGrath, Alister E. · 2021. 2. 20. · 1.Memulai: Apa Artinya Apologetika? 11 •Mendefinisikan...

  • McGrath, Alister E. Apologetika Dasar/Alister E. McGrath—alih bahasa, Vincent Tanzil—Cet. 2—Malang: Literatur SAAT, 2019. 199 hlm.; 22 cm

    Judul asli: MERE APOLOGETICS—HOW TO HELP SEEKERS AND SKEPTICS FIND FAITH

    ISBN 978-602-7788-34-3

    APOLOGETIKA DASARBAGAIMANA MENOLONG PARA PENCARI KEBENARAN DAN ORANG-ORANG SKEPTIS UNTUK PERCAYA PADA IMAN KRISTEN Oleh: Alister E. McGrath

    Copyright © 2012 by Alister E. McGrathOriginally published in English under tle

    Mere Apologe cs—How to Help Seekers and Skep cs Find Faithby Baker Books, a division of Baker Publishing Group,Grand Rapids, Michigan, 49516, U.S.A.

    All rights reserved.

    Diterbitkan olehLITERATUR SAATJalan Anggrek Merpati 12, MalangTelp. (0341) 490750, Fax. (0341) 494129website: www.literatursaat.com

    Penulis : Alister E. McGrathAlih Bahasa : Vincent TanzilPenyunting : Chilianha EliaPenata Letak : Yusak P. PalulunganGambar Sampul : Lie Ivan Abimanyu

    Edisi terjemahan telah mendapat izin dari penerbit buku asli.Cetakan Pertama : 2017Cetakan Kedua : 2019

    Dilarang mereproduksi sebagian atau seluruh buku ini tanpa izin tertulis dari Penerbit.

  • Daftar Isi

    Pendahuluan 9

    1. Memulai: Apa Artinya Apologetika? 11• MendefinisikanApologetika• Tema-temaDasarApologetikaKristen• ApologetikadanPenginjilan• Keterbatasan-keterbatasanApologetika• BergerakMaju• BacaanLebihLanjut

    2. Apologetika dan Budaya Kontemporer: Dari Modernitas menujuPascamodernitas 25• ApologetikadanModernitas• BangkitnyaPascamodernitas• ApologetikadanPascamodernitas• PendekatanyangDigunakandalamBukuIni• BergerakMaju• BacaanLebihLanjut

    3. Dasar Teologis Apologetika 39• MeletakkanSemuadalamKonteks• ApologetikadanVisiTeologismengenaiRealitas• ContohKasus:AnalisaTeologismengenaiSalib• BergerakMaju• BacaanLebihLanjut

  • Daftar Isi6

    4. Pentingnya Pendengar: Kemungkinan-kemungkinan dan Isu-isu 55• ApologetikakepadaOrangYahudi:Khotbah Petrus di hariPentakosta (Kis.2)

    • ApologetikakepadaOrangYunani:KhotbahPaulusdiAtena(Kis.17)• ApologetikakepadaOrangRomawi:PidatoLegalPaulus(Kis.24-26)• ApologetikadanPendengar:Prinsip-PrinsipUmum• ApologetikadanPendengar:Isu-isuKhusus• BergerakMaju• BacaanLebihLanjut

    5. Rasionalitas Iman Kristen 69• MemahamiNaturdariIman• MengapaRasionalitasKekristenanPenting?• FilsafatIlmuPengetahuansebagaiSumberApologetika• MemahamiBerbagai Hal:StudiKasus• BergerakMaju• BacaanLebihLanjut

    6. Petunjuk Iman: Pendekatan dalam Perjumpaan Apologetika 91• Petunjuk, dan Bukti• Petunjuk 1: Penciptaan—Asal-Muasal Alam Semesta• Petunjuk 2: Setelan yang Pas—Alam Semesta yang Didesain bagi

    • Petunjuk3:Keteraturan—StrukturdariDuniaFisik• Petunjuk4:Moralitas—Mendambakan Keadilan• Petunjuk5:Hasrat—Naluri untuk Bersekutu denganAllah• Petunjuk6:Keindahan—KeelokanDuniaNatural• Petunjuk7:Relasionalitas—AllahsebagaiPribadi• Petunjuk8:Kekekalan—IntuisidariPengharapan• MerajutPetunjuk-petunjuk:MencariPola yang Tepat• BergerakMaju• BacaanLebihLanjut

    7. Gerbang Apologetika: Membuka Pintu kepada Iman 125• GerbangdanApologetika:BeberapaRefleksi• Gerbang1:Penjelasan• Gerbang2:Argumentasi• Gerbang3:Kisah-kisah• Gerbang4:Gambar-gambar• BergerakMaju• BacaanLebihLanjut

    Kehidupan?

  • 7Daftar Isi

    8. Pertanyaan mengenai Iman: Mengembangkan Pendekatan 157• PertanyaandanFokus Perhatian:BeberapaPoinDasar• StudiKasus1:MengapaAllahMengizinkanPenderitaan?• StudiKasus2:AllahsebagaiPenopangOrangLemah• Menetapkan Arah:MenerapkanStudiKasus• BacaanLebihLanjut

    9. Kesimpulan: Mengembangkan Pendekatan Apologetika Anda Sendiri 183• KenaliDirimu• BelajardariOrangLain• Berlatih• DanAkhirnya...

    Catatan 189

    Tentang Penulis 199

  • 11

    1Memulai

    Apa Artinya Apologetika?

    manat Agung memberikan semua orang Kristen kehormatan dan tanggung jawab untuk menyampaikan Kabar Baik hingga akhir zaman: “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku

    dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus” (Mat. 28:18-20). Setiap orang Kristen yang hidup hari ini terhubung, melalui rantai sejarah yang kompleks, dengan momen yang sangat penting ini. Setiap kita memiliki pohon keluarga iman yang dapat ditelusuri dari masa lalu. Sepanjang sejarah, sebagaimana pelari yang berlomba dalam sejarah lari estafet, banyak orang yang telah memberikan tongkat estafet Kabar Baik ini dari satu generasi ke generasi berikutnya. Dan kini tongkat itu telah sampai kepada kita. Inilah giliran kita. Kabar baik itu telah diper-cayakan kepada kita untuk dilanjutkan kepada mereka yang ada di sekitar dan di luar kita.

    Ini merupakan pemikiran yang menggairahkan. Misalnya, ia menolong kita melihat bagaimana kita masuk dalam gambaran yang lebih besar. Tetapi bagi banyak orang ini juga menantang. Ia tampak seperti tuntutan yang terlalu besar. Apakah kita sanggup melakukannya? Bagaimana kita bisa memikul tanggung jawab yang begitu berat? Penting untuk menyadari bahwa orang Kristen selalu dikalahkan oleh tantangan untuk meneruskan iman kita ini kepada orang lain. Kita merasa tidak memiliki hikmat, pengertian, dan kekuatan untuk melakukannya—dan perasaan ini benar. Tetapi kita juga harus menyadari bahwa Allah sungguh mengenal kita (Mzm. 139). Ia mengenal rahasia terdalam kita, kekuatan kita, dan kelemahan kita. Dan Allah sanggup mengerjakan di dalam dan melalui kita untuk berbicara kepada dunia yang untuknya Kristus telah mati.

    A

  • ApologetikA DAsAr12

    Salah satu tema utama Alkitab umat Kristen adalah kapan pun Allah meminta kita untuk melakukan sesuatu bagi-Nya, Ia memberikan karunia-karunia yang kita butuhkan untuk melakukannya. Karena Ia mengenal kita, maka ia memperlengkapi kita untuk mengerjakan pekerjaan yang Ia ingin kita kerjakan. Amanat Agung mencakup perintah maupun janji. Perintah Kristus yang bangkit itu menantang dan tegas diberikan kepada para murid-Nya: “Pergi dan jadikan segala bangsa murid-Ku” (ay. 19). Janji-Nya kepada para murid juga menenteramkan dan menguatkan: “Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman” (ay. 20). Ini pemikiran yang menyejukkan. Kita tidak sendirian. Kristus yang bangkit bersama dengan kita dan mendukung kita selama kita mengerjakan yang terbaik untuk meneruskan dan menyampaikan Kabar Baik mengenai siapa Kristus dan apa yang telah Ia lakukan bagi kita.

    Meskipun kita tahu bahwa Kristus yang bangkit menyertai dan menguatkan kita dalam perjalanan iman kita, tetap tidak mampu men-jawab pertanyaan-pertanyaan yang harus kita hadapi dan selidiki sembari menawarkan dan memproklamasikan Injil. Bagaimanakah seseorang memberikan keadilan yang menggembirakan, sukacita dan menakjubkan dari Injil Kristen? Lagi-lagi kita merasa tidak mampu mengekspresikan kekayaannya secara memadai melalui kata-kata semata. Realitas Allah dan Injil selalu melampaui kemampuan kita untuk mengekspresikannya. Bagaimanakah kita bisa merespons secara efektif pertanyaan budaya kita tentang Tuhan atau bantahan yang diajukan terhadap iman kita? Bagai-mana kita bisa menemukan cara yang lugas, tepat, dan dinamis untuk menjelaskan dan mengekspresikan Injil, memungkinkannya terhubung dengan harapan dan kekhawatiran dari mereka yang berada di sekitar kita?

    Bagaimanakah orang Kristen bisa menjelaskan iman mereka dalam istilah yang masuk akal bagi mereka yang ada di luar gereja? Bagaimana kita bisa mengoreksi kesalahpahaman dan gambaran yang keliru terhadap iman Kristen? Bagaimana kita bisa mengomunikasikan kebenaran, daya tarik, dan sukacita Injil Kristen kepada budaya kita? Inilah pertanyaan-pertanyaan yang telah dibahas oleh orang Kristen sejak zaman PB. Secara tradisional ini dikenal sebagai disiplin ilmu apologetika—subjek dari buku ini.

  • 13Memulai

    Mendefinisikan ApologetikaJadi apa itu apologetika? Agustinus dari Hippo (354-430), salah seorang teolog terbesar gereja, dikagumi secara luas sebagai penafsir Alkitab, seorang pengkhotbah, dan ekspositor dari anugerah Allah. Salah satu dari kontribusinya yang terbesar kepada teologi Kristen adalah refleksinya tentang doktrin Tritunggal. Kelak pembaca akan tahu, doktrin ini sering menimbulkan kesulitan bagi banyak orang. Agustinus juga memiliki kesu- litan dengan formula “tiga pribadi, satu Allah.” Mengapa, ia mengeluh, orang Kristen menggunakan kata “pribadi” di sini? Ini sama sekali tidak menolong. Tentunya ada kata yang lebih baik untuk digunakan. Pada akhirnya Agustinus sampai pada kesimpulan bahwa mungkin tidak ada pengganti yang tepat dan gereja akan tetap menggunakan istilah “pribadi” dengan cara ini.

    Saya sering merasa demikian ketika menggunakan kata “apologetika.” Kata ini tampaknya bukan kata yang sangat menolong. Bagi banyak orang apolegetika memberikan makna “mengatakan bahwa kita meminta maaf.” Nah, saya yakin ada banyak hal yang perlu gereja Kristen mohon maaf. Tetapi apologetika sama sekali bukan tentang semua itu. Seakan masih belum cukup, kata “apologetics” terdengar seperti jamak—padahal ia sesungguhnya tunggal (seperti “scissors”). Tetapi meski banyak penulis Kristen mencoba mencari istilah lain sepanjang zaman, tidak ada yang benar-benar menemukannya. Kita tetap menggunakan kata “apologetika.” Namun apabila kita tidak bisa mengganti kata tersebut, setidaknya kita bisa memahami kekayaan maknanya.

    Terminologi “apologetika” menjadi lebih masuk akal ketika kita mem- pertimbangkan makna kata dasar Yunani—apologia. Sebuah apologia adalah sebuah “pembelaan,” sebuah penjelasan rasional untuk mem-buktikan ketidakbersalahan seseorang di tengah tuduhan dalam penga-dilan, atau demonstrasi yang benar dari sebuah argumen atau kepercayaan. Kita menemukan kata ini di 1 Petrus 3:15, yang dilihat banyak orang sebagai pernyataan klasik Alkitab tentang pentingnya apologetika:

    Tetapi kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan! Dan siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab [apologia] kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab [logos] dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat. (TB)

  • ApologetikA DAsAr14

    Ini merupakan teks yang penting, layak untuk dibaca dalam konteks keseluruhannya. Surat Petrus yang pertama ini dialamatkan kepada orang Kristen di wilayah kekaisaran Romawi yang dikenal sebagai Asia Minor (sekarang Turki). Petrus memberikan mereka penguatan dan penghiburan saat mereka menghadapi ancaman penyiksaan. Ia mendorong mereka untuk menghadapi para kritikus dan orang-orang yang bertanya dengan menjelaskan dasar dan isi iman mereka dengan lemah lembut dan hormat.

    Petrus mengasumsikan dengan jelas bahwa ide-ide Kristen disalah-pahami atau ditafsirkan secara keliru, dan mendorong pembacanya untuk meluruskannya—namun dengan ramah dan penuh pertimbangan. Bagi Petrus apologetika adalah tentang membela kebenaran dengan lemah lembut dan hormat. Tujuan apologetika bukan untuk memicu kebencian atau mempermalukan orang yang berada di luar gereja, tetapi untuk membuka mata mereka kepada realitas, reliabilitas, dan relevansi dari iman Kristen. Tidak boleh ada ketidakcocokan atau kontradiksi antara pesan yang diproklamasikan dan nada proklamasi dari sang pembawa pesan. Kita harus menjadi orang yang menarik, sabar, dan ramah. Apabila Injil itu menimbulkan kesulitan, haruslah kesulitan itu timbul dari natur dan isi, bukan cara dari Injil itu diproklamasikan.1 Apabila Injil itu menjadi batu sandungan adalah satu hal; tetapi apabila pembelanya menjadi batu sandungan melalui penggunaan bahasa yang tidak bijak atau sikap yang agresif dan merendahkan orang luar itu hal yang lain.

    Orang Kristen telah menanggapi nasihat ini dengan serius sejak masa-masa yang paling awal gereja. PB sendiri memuat beberapa perikop penting—kebanyakan di Kisah para Rasul—yang menjelaskan, menghargai, dan membela iman Kristen kepada berbagai pendengar. Sebagai contoh, khotbah Petrus yang terkenal di hari Pentakosta menunjukkan bahwa Yesus dari Nazaret itu merupakan puncak harapan orang Israel (Kis. 2). Khotbah Paulus yang sama terkenalnya dengan filsuf di Atena berpendapat bahwa Yesus dari Nazaret merupakan puncak dari pencarian panjang manusia akan hikmat (Kis. 17).

    Perjumpaan seperti ini berlanjut sepanjang sejarah gereja. Penulis Kristen mula-mula terutama ingin menghadapi Platonisme. Bagaimana cara mereka mengomunikasikan kebenaran dan kuasa Injil kepada audi-ensnya yang terbiasa berpikir secara platonis? Pendekatan ini juga meli- batkan pengenalan tantangan maupun kemungkinan, yang akhirnya mengarah pada pemanfaatan kemungkinan yang ada secara maksimal

  • 15Memulai

    dan penyelesaian tantangan yang muncul. Meski demikian, popularitas Platonisme secara umum menjadi kurang populer pada Abad Pertengahan. Aristoteles menjadi filsuf pilihan dalam banyak universitas di Barat sejak abad XIII hingga awal abad XVI. Sekali lagi, apologis Kristen bangkit menanggapi tantangan ini. Mereka mengidentifikasikan tantangan yang diberikan Aristotelianisme—seperti kepercayaan mereka tentang kekekalan dunia. Dan mereka juga mengidentifikasi celah yang diciptakan karena iman. Tugas ini terus berlanjut hari ini, selama kita menghadapi tan-tangan budaya dan intelektual serta kesempatan yang baru. Mudah sekali untuk merasa kewalahan melihat tantangan yang muncul dari perubahan budaya—dan gagal melihat kesempatan-kesempatan yang mereka tawarkan.

    Tema-tema Dasar Apologetika KristenSebelum melihat kemungkinan-kemungkinan ini, kita perlu memikirkan sedikit lagi tentang natur dari apologetika. Isu-isu apa yang dihadapinya? Bagaimana ia menolong kita memproklamasikan dan mengomunikasikan Injil? Kita bisa merangkum ketiga tugas yang dihadapi apologis dulu dan sekarang di bawah tiga judul: membela, menghargai, dan menerjemahkan.

    Membela

    Di sini para apologis mulai menemukan halangan terhadap iman. Apakah mereka muncul dari kesalahpahaman atau penyajian yang keliru? Kalau demikian, mereka perlu diluruskan. Apakah mereka muncul karena memang kesulitan yang sesungguhnya daripada klaim kebenaran Kristen? Kalau demikian, mereka perlu dibahas. Penting untuk dicatat bahwa membela biasanya merupakan strategi yang reaktif. Seseorang datang dengan sebuah keprihatian, kita wajib meresponsnya. Syukurnya, ada res-pons-respons bagus yang bisa diberikan, dan sang apologis perlu memahami-nya. Di mana ada pertanyaan jujur diajukan dengan tulus, jawaban yang jujur harus diberikan dengan tegas dan ramah.

    Tetapi semua orang memiliki pertanyaan, keprihatinan, dan kekha-watiran yang berbeda-beda. Karena itu sang apologis perlu mengenal pendengarnya. Kesulitan apa yang dialami orang dengan Injil Kristen? Hal pertama yang dipelajari seorang apologis ketika ia sedang berapo-logetika—bukan hanya sekadar membaca buku tentang apologetika—tetapi memahami keberagaman pendengarnya. Setiap orang memiliki kesulitan khusus tentang iman dan tidak boleh disamaratakan.

  • ApologetikA DAsAr16

    Kesulitan-kesulitan ini sering bersifat intelektual, mengenai pertanyaan tentang dasar bukti iman atau doktrin Kristen utama. Tetapi penting untuk menyadari bahwa tidak semua kesulitan itu masuk dalam kategori ini. Bebe- rapa merupakan masalah yang lebih mendalam, dan bukan sekadar masalah pemahaman rasional, tetapi masalah komitmen yang eksistensial. Apologis Perancis, Blaise Pascal (1623-1662) pernah berkomentar dengan penuh pengertian: “Hati memiliki alasan-alasan yang tidak dipahami oleh akal budi.” Apologetika bertujuan untuk mengidentifikasi halangan-halangan terhadap iman tersebut, apa natur mereka, dan menawarkan respons yang menolong seseorang untuk mengatasinya.

    Karena itu apologetika mendorong orang Kristen untuk mengem-bangkan “pemuridan akal budi.” Sebelum kita bisa menjawab pertanyaan yang orang tanyakan kepada kita mengenai iman, kita perlu untuk dapat menjawabnya secara pribadi. Kristus memanggil pengikutnya untuk mengasihi Allah dengan segenap hati, segenap jiwa, dan dengan segenap akal budi (Mat. 22:37). Paulus juga berbicara tentang pembaruan akal budi (Rm. 12:2) sebagai bagian dari transformasi kehidupan kita. Menjadi orang Kristen adalah berpikir mengenai iman kita, memulai merumuskan jawaban terhadap pertanyaan kita sendiri. Apologetika adalah melangkah lebih maju dan mendalam ke dalam iman Kristen untuk menemukan kekayaannya. Menghargai kekayaan dan rasionalitas iman adalah hal yang baik. Tetapi penting juga kita ingat, bahwa iman yang kaya dan rasional itu dapat menolong kita menghadapi pertanyaan-pertanyaan dari orang lain.

    Penting juga untuk mengapresiasi bahwa tidak hanya orang di luar gereja yang mengajukan pertanyaan-pertanyaan iman. Banyak orang Kristen juga memiliki berbagai kesulitan dengan iman mereka dan mencari penjelasan atau pendekatan yang akan menolong mereka mempertahan- kannya. Walaupun apologetika terutama berfokus pada budaya, kita tidak boleh melupakan bahwa banyak orang Kristen membutuhkan pertolongan untuk iman mereka. Mengapa Allah mengizinkan penderitaan? Bagaimana saya memahami Tritunggal? Apakah hewan kesayangan saya akan pergi ke surga ketika mati? Semua ini adalah pertanyaan apologetika yang umum bagi pendeta manapun. Dan mereka memerlukan jawaban. Syukurlah, memang ada jawaban-jawaban yang berakar secara mendalam pada tradisi Kristen yang melibatkan Alkitab.

  • 17Memulai

    Penting bagi orang Kristen untuk menunjukkan bahwa mereka mengerti keprihatinan ini dan tidak hanya melihat mereka sebagai argumen yang bisa disingkirkan dengan mudah dan enteng. Kita perlu membahasnya dengan sensitif dan penuh belas kasihan, masuk ke dalam pikiran orang yang menganggapnya sebagai masalah. Mengapa ini menjadi masalah? Apa yang telah Anda lihat yang belum mereka lihat. Bagaimana Anda bisa menolong mereka melihat dengan cara yang baru yang bisa menetralkan masalah atau memperjelas bahwa ini adalah masalah yang mereka sudah menjadi bagian dalam area kehidupan yang lain. Penting untuk tidak meremehkannya, tetapi dengan sikap yang ramah dan simpatik. Apologetika adalah tentang sikap dan karakter pribadi kita dan juga argumen dan analisis kita. Anda bisa membela Injil tanpa menjadi defensif.

    Menghargai

    Di sini sang apologis bertujuan untuk membiarkan kebenaran dan relevansi dari Injil diapresiasi oleh pendengar. Pendengar mungkin bisa satu orang atau sekelompok besar orang. Dalam setiap kasus, sang apologis akan mencoba untuk membiarkan segenap keindahan dan kecemerlangan iman Kristen dipahami dan diapresiasi. Injil tidak perlu direkayasa supaya relevan bagi pendengar. Pertanyaannya adalah bagaimana kita menolong pendengar menangkap relevansinya—misalnya, dengan menggunakan ilustrasi, analogi, atau kisah yang menolong mereka terhubung dengan Injil.

    Karena itu apologetika memiliki dimensi positif yang sangat kuat—menjabarkan segenap daya tarik Yesus Kristus agar mereka yang berada di luar iman Kristen dapat mulai memahami mengapa Ia layak mendapat-kan pertimbangan seserius itu. Kristus sendiri membandingkan surga dengan mutiara yang berharga: “Demikian pula hal Kerajaan Sorga itu seumpama seorang pedagang yang mencari mutiara yang indah. Setelah ditemukannya mutiara yang sangat berharga, iapun pergi menjual seluruh miliknya lalu membeli mutiara itu” (Mat. 13:45-46). Pedagang tersebut tahu tentang mutiara dan ia bisa melihat bahwa mutiara tertentu sangat indah dan berharga sehingga layak ia miliki meski harus mengorbankan semua miliknya.

    Seperti yang akan kita lihat, salah satu cara klasik untuk melakukan ini adalah dengan menunjukkan bahwa kekristenan itu meyakinkan secara rasional. Ia lebih masuk akal ketimbang rival-rivalnya. Tetapi tetap penting

  • ApologetikA DAsAr18

    untuk tidak membatasi kekuatan Injil dengan akal manusia. Bagaimana dengan hati manusia? Waktu demi waktu kisah dalam Injil-injil mem-beritahu kita bahwa orang tertarik kepada Yesus dari Nazaret karena mereka menyadari Ia bisa mengubah kehidupan mereka. Walaupun argumentasi memainkan peranan yang penting di dalam apologetika, mereka memiliki batasan. Banyak orang tertarik kepada iman Kristen hari ini karena mereka yakin bahwa kehidupan mereka akan diubahkan. Kriteria validasi mereka bukanlah “Apakah ini benar?” tetapi “Apakah ini ampuh?”

    Tugas kita adalah untuk menolong orang menyadari bahwa iman Kristen itu sangat menarik dan luar biasa sehingga tidak ada yang bisa dibandingkan dengannya. Ini artinya menolong orang menangkap daya tarik iman Kristen. Teologi memampukan kita mengidentifikasi dan meng-apresiasi elemen-elemen individu di dalam iman Kristen. Ini mirip dengan orang yang membuka harta karun dan memperlihatkan permata, mutiara, dan logam mulia, satu demi satu, supaya masing-masing bisa dilihat dan diapresiasi. Seperti mengangkat berlian ke dekat cahaya, supaya setiap seginya berkilau, memperlihatkan keindahan dan kemuliaannya untuk diapreasiasi.

    Menerjemahkan

    Di sini sang apologis menyadari bahwa banyak ide dan tema inti iman Kristen mungkin tidak umum bagi banyak pendengar. Mereka perlu dijelaskan menggunakan gambar, istilah, atau cerita yang mudah dan akrab. C. S. Lewis dengan tepat dinyatakan sebagai ahli dalam hal ini, dan pendapatnya tentang pentingnya ide dan tema yang perlu diperhatikan:

    Kita harus mempelajari bahasa dari pendengar kita. Dan izinkan saya katakan sejak awal bahwa tidak ada gunanya menjabarkan secara apriori apa yang “manusia sederhana” pahami atau tidak pahami. Anda harus mencaritahu melalui pengalaman . . . Anda harus menerjemahkan teologi Anda ke dalam bahasa sehari-hari . . . Saya telah mencapai kesimpulan bahwa apabila Anda tidak bisa menerjemahkan pikiran Anda ke dalam bahasa awam, maka pikiran Anda membingungkan. Kemampuan untuk menerjemahkan adalah ujian bahwa Anda benar-benar memahami apa yang Anda hendak sampaikan.2

  • 19Memulai

    Isunya di sini adalah tentang bagaimana kita dengan setia dan efektif mengomunikasikan iman Kristen kepada budaya yang mungkin tidak memahami istilah-istilah atau konsep tradisional Kristen. Kita perlu belajar menjabarkan dan menjelaskan dalamnya keindahan Injil Kristen kepada budaya kita, menggunakan bahasa dan gambaran yang mudah dipahami. Bukan kebetulan bahwa Kristus menggunakan perumpamaan untuk mengajarkan Kerajaan Allah. Ia menggunakan bahasa dan gambaran yang sudah akrab bagi budaya pedesaan Palestina zaman-Nya untuk mengo- munikasikan kebenaran spiritual yang lebih dalam.

    Jadi, bagaimana kita bisa menerjemahkan ide utama dari iman Kristen—seperti penebusan dan keselamatan—ke dalam bahasa budaya sehari-hari? Istilah Alkitab perlu dijelaskan dan ditafsirkan supaya mudah dipahami oleh orang hari ini. Sebuah contoh akan membuat poin ini lebih jelas. Paulus menyatakan, “Sebab itu, kita yang dibenarkan karena iman, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus” (Rm. 5:1). Ini jelas merupakan sebuah pernyataan tentang elemen inti dari Injil Kristen. Tetapi ia tidak akan dipahami oleh pendengar kontemporer, yang mungkin akan salah memahami pengajaran Paulus tentang “pembenaran” dalam satu dari dua kemungkinan:

    1. Sebuah pembelaan tentang integritas atau “kebenaran,” di dalampengertian “Saya memberikan pembenaran atas tindakan sayakepada atasan saya.” Ini tentang menunjukkan bahwa saya benar.

    2. Menggeser teks ke margin sebelah kanan dokumen, khususnyaketika mengetik dalam pengolah kata (word processing). Ini tentangmerapikan teks yang tidak rata.

    Dari kedua opsi ini tidak ada yang benar-benar mengiluminasi maksud perkataan Paulus di Roma 5:1; sesungguhnya, kita bahkan bisa menyata-kan bahwa kedua definisi itu menyesatkan orang tentang maksud dan keprihatinan Paulus. Ide Paulus tentang pembenaran perlu dijelaskan dalam istilah yang tepat sebagaimana maksud awalnya dan bisa dipahami oleh pendengar kontemporer. Seseorang bisa, sebagai contoh, mulai men-jelaskan ini dengan berbicara mengenai “dibenarkan” oleh Tuhan, membuat aspek relasional dan yudisial dari konsep pembenaran bisa eksplorasi.

    Dari yang sudah kita bahas sejauh ini, jelaslah bahwa apologetika memerhatikan tiga tema, masing-masing tema menolong memberikan pengertian baru dalam iman pribadi kita dan kualitas yang baru dalam

  • ApologetikA DAsAr20

    kesaksian Kristen kita:

    1. Mengidentifikasi dan merespons berbagai keberatan atau kesulitanmengenai Injil, dan menolong mengatasi halangan terhadap imantersebut.

    2. Mengomunikasikan keindahan dan daya tarik iman Kristen, supayapotensinya yang mentransformasi keadaan manusia dihargai.

    3. Menerjemahkan ide utama dari iman Kristen ke dalam bahasa yangmasuk akal bagi orang luar.

    Nanti kita akan membahas poin-poin ini lebih mendalam. Sekarang kita perlu melihat bagaimana apologetika berkaitan dengan penginjilan.

    Apologetika dan PenginjilanDari apa yang baru saja dikatakan, bisa dilihat bahwa apologetika merepre-sentasikan pergulatan yang serius terhadap “pertanyaan ultimat” yang diajukan oleh budaya, kelompok orang, atau individu, bertujuan untuk menunjukkan bagaimana iman Kristen sanggup memberikan jawaban yang bermakna kepada setiap pertanyaan tersebut. Di manakah Allah ketika ada penderitaan di dunia ini? Apakah iman kepada Allah masuk akal? Apologetika mempersiapkan lahan untuk penginjilan, sama seperti Yohanes Pembaptis mempersiapkan jalan untuk kedatangan Yesus dari Nazaret.

    Penginjilan bergerak melampaui upaya untuk mendemonstrasikan iman Kristen yang masuk akal. Di mana apologetika bisa dianggap sebagai tindakan mempersiapkan lahan bagi iman kepada Kristus, penginjilan mengundang orang untuk merespons kepada Injil. Di mana apologetika bertujuan untuk mendapatkan persetujuan yang meyakinkan, penginjilan bertujuan untuk mendapatkan komitmen yang kuat. Definisi David Bosch yang berpengaruh dan diterima secara luas tentang penginjilan menjelas-kan poin ini dengan baik:

    Penginjilan adalah proklamasi keselamatan di dalam Kristus kepada mereka yang tidak percaya kepada Dia, mengundang mereka untuk berubah dan bertobat, mengumumkan pengampunan atas dosa, dan mengundang mereka untuk menjadi anggota keluarga komunitas Kristus di dunia dan untuk memulai hidup melayani orang lain di dalam kuasa Roh Kudus.3

  • 21Memulai

    Membangun pendekatan yang sama, bisa dikatakan bahwa apolo-getika bertujuan untuk membuktikan kemungkinan keselamatan di dalam Kristus—sebagai contoh, dengan mengembangkan argumen intelektual berdasarkan sejarah kultural atas kebobrokan atau keberdosaan manusia, atau dengan berdasarkan pengalaman kerinduan spiritual sebagai tanda keterasingan dari Allah dan takdir kita yang sebenarnya. Oleh karena itu, tugas apologetika, adalah mempersiapkan jalan untuk kedatangan Kristus, sama seperti seorang yang membersihkan batu dan penghalang dari jalan.

    Garis pemisah antara apologetika dan penginjilan agak kabur; tetapi membedakan mereka berdua tetap akan menolong. Apologetika bersifat percakapan, sementara penginjilan bersifat undangan.4 Sementara perca- kapan apologetis bisa dengan mudah mengarah pada undangan untuk memperoleh iman, lebih peduli dengan menyingkirkan kesalahpahaman, menjelaskan ide, dan mendalami relevansi iman personal. Apologetika adalah tentang meyakinkan orang bahwa ada pintu menuju dunia lain—sebuah pintu yang mungkin tidak pernah mereka sadari keberadaannya. Penginjilan adalah tentang menolong seseorang membuka pintu itu dan masuk ke dunia baru yang ada di baliknya.

    Secara kasar definisi yang tepat dari penginjilan bisa dikatakan “mengundang seseorang untuk menjadi Kristen.” Apologetika bisa dipi- kirkan sebagai mempersiapkan lahan agar undangan itu lebih mungkin menerima respons positif. Atau lagi, penginjilan bisa dikatakan seperti menawarkan roti kepada seseorang. Maka apologetika adalah tentang meyakinkan seseorang bahwa ada sebuah roti dan roti itu baik untuk dimakan.

    Sebuah contoh mungkin bisa memperjelas poin ini. Yesus dari Nazaret sering membandingkan kerajaan Allah dengan sebuah perjamuan (Luk. 14:15-24). Apologetika dapat dianggap sebagai tindakan untuk menjelas-kan kepada orang bahwa benar-benar akan ada sebuah pesta. Apologetika menolong mereka untuk memikirkan apa yang mungkin mereka temukan di sana—makan dan minuman. Betapa menyenangkannya apabila kita diundang! Andai saja ini benar! Seperti Blaise Pascal pernah katakan, kita harus “memastikan orang berharap [iman Kristen] itu benar, dan kemudian menunjukkan bahwa memang itulah yang benar.”5 Poin Pascal adalah kita seharusnya menolong orang untuk merindukan apa yang dijanjikan oleh iman Kristen—dan kemudian menunjukkan bahwa memang itu benar dan riil. Hasrat membangkitkan motivasi untuk mengecek lebih lanjut.

  • ApologetikA DAsAr22

    Penginjilan itu berbeda. Penginjilan menyatakan sebuah undangan personal: “Anda diundang ke perjamuan! Silakan datang!” Apologetika meletakkan dasar bagi undangan ini; penginjilan memperluas undangan tersebut. Keduanya adalah bagian esensial dari misi gereja. Apologetika mendirikan dan memproklamasikan bahwa Injil itu masuk akal dan menarik; penginjilan memanggil orang untuk masuk ke dalamnya dan berbagi dalam kebaikannya. Apologetika bukanlah penginjilan, dan tidak lengkap tanpanya. Tetapi ia memiliki peran yang penting dan berbeda untuk dimainkan dalam keterkaitan komunitas Kristen dengan dunia, demikian pula dalam mendorong dan mengembangkan iman orang Kristen.

    Bagaimanapun, ada kesulitan yang potensial dengan apologetika yang perlu dikenali. Setiap alat perlu dikalibrasi untuk memastikan bahwa kita memahami kekuatan dan kelemahannya. Kita perlu tahu kondisi yang bisa membuatnya berfungsi dengan baik, dan kapan fungsinya terganggu. Kita akan membahas soal ini di bagian berikutnya.

    Keterbatasan-keterbatasan ApologetikaKetika dipahami dengan benar dan dilakukan dengan tepat, apologetika sangat penting dalam pelayanan gereja. Ia bisa memberikan kualitas dan kedalaman intelektual yang baru dalam kehidupan orang percaya pada umumnya, memperlengkapi mereka untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka sendiri ataupun yang diajukan oleh teman mereka. Dan apologetika menolong kita untuk membangun jembatan untuk budaya kita, menyiapkan jalan bagi proklamasi Injil. Tetapi apologetika bisa dengan mudah disalahpahami dan disalahgunakan.

    Salah satu tujuan apologetika adalah menerjemahkan gagasan penting iman Kristen ke dalam kategori yang bisa dipahami dunia. Sebagai contoh, beberapa istilah Alkitab—seperti pembenaran—perlu diinterpretasikan bagi budaya sekuler, karena istilah ini cenderung disalahpahami. Meskipun proses “penerjemahan budaya” atas gagasan kunci dari Injil ini menjadi sangat penting untuk menolong orang memahami iman Kristen, namun bisa mengarah pada dua hasil yang buruk.

    Pertama, penerjemahan ke dalam istilah budaya dengan mudah bisa mereduksi gagasan Kristen menjadi sama dengan budaya yang serupa. Sebagai contoh, sangat menolong jika kita berpikir Yesus sebagai media- tor antara manusia dan Allah, dan ada pembenaran yang kuat dari PB untuk membicarakan Kristus dengan cara ini. Hal ini menolong meng-

  • 23Memulai

    identifikasikan apa yang penting mengenai Kristus dari perspektif Kristen. Masalahnya budaya Barat modern ini memahami “mediator” dalam pengertian profesional—orang yang berpengalaman dalam resolusi kon-flik yang diminta untuk menyelesaikan pertengkaran dari dua pihak. Berbicara tentang Yesus Kristus sebagai mediator berisiko mere-duksi peran-Nya menjadi apa yang dipahami oleh budaya kontemporer tentang mediator—sebagai contoh, Yesus sebagai pendamai. Kita perlu memastikan bahwa kita tidak mereduksi Yesus Kristus atau Injil Kristen menjadi sama dengan budaya yang ingin kita terjemahkan. Apologetika bisa membuat kita kehilangan identitas Kristen yang unik.

    Tentu saja ini bisa dihindari dengan memperjelas bahwa apolo-getika bertujuan untuk membangun jembatan dengan budaya kon-temporer. Akhirnya, Injil bukanlah dan tidak seharusnya direduksi menjadi sekadar norma budaya Barat. Injil justru adalah sesuatu yang kebenaran dan relevansinya bisa dikomunikasikan dengan lebih efektif melalui pilihan analogi budaya, nilai atau cerita yang bijaksana. Injil sama sekali tidak sama dengan satu pun dari semua itu. Kita bisa menggunakan frasa seperti “Kira-kira doktrin ini seperti . . .” Tetapi akhirnya, kita harus menyadari bahwa Injil melampaui dan mengubah setiap dan semua gagasan budaya yang kita dapat gunakan sebagai media komunikasi. Inilah sarana dan media untuk Injil; bukan Injil itu sendiri.

    Kedua, kita membutuhkan apologetika yang mampu menciptakan kesan bahwa menunjukkan iman Kristen itu masuk akal. Ini adalah salah satu alasan yang menekankan pentingnya penginjilan. Dengan contoh analogi dari tulisan Martin Luther, iman itu seperti naik ke atas kapal dan menyeberangi lautan menuju ke sebuah pulau. Apologetika dapat membantu dan memperlihatkan bahwa kita dapat meyakini ada kapal yang akan membawa kita ke seberang, yang juga tampak aman, dan ada sebuah pulau di balik horizon tersebut. Tetapi Anda tetap perlu naik ke atas kapal dan berlayar menuju pulau tersebut. Iman adalah tentang berkomitmen kepada Allah, bukan hanya sekadar percaya kepada Allah. Sekali lagi, kesulitan ini bisa dihindari dengan menyadari bahwa apolo-getika dan penginjilan itu amat diperlukan dan partner yang saling ter-hubung untuk menjangkau lebih banyak orang.

  • ApologetikA DAsAr24

    Bergerak MajuDalam bab pembuka ini, kita telah merefleksikan beberapa tema dasar dari apologetika Kristen. Bagaimana kita menghubungkan iman Kristen dengan budaya kontemporer? Seperti yang akan kita lihat di dalam buku ini, salah satu cara terbaik untuk melakukannya adalah dengan memasti-kan bahwa kita benar-benar memahami iman Kristen, dan menghargai kekuatan intelektual, relasional, estetika, imajinasi, dan etikanya. Banyak yang perlu kita hargai!

    Tetapi kita juga perlu merefleksikan konteks budaya yang di dalamnya kita dapat memproklamasikan, menjelaskan, dan menawarkan Injil. Manu- sia tidak akan ada tanpa budaya. Mereka hidup dalam situasi yang spesifik dan sering kali memeluk sebagian ide-ide dan nilai-nilai setempat. Di bab berikutnya, kita akan mulai merefleksikan peran budaya dalam apologetika.

    Bacaan Lebih LanjutCraig, William Lane. Reasonable Faith: Christian Truth and Apologetics, edisi ke-3

    (Wheaton: Crossway, 2008).

    Kreeft, Peter, dan Ronald K. Tacelli. Handbook of Catholic Apologetics: Reasoned Answers to Questions of Faith (San Francisco: Ignatius Press, 2009).

    Markos, Louis. Apologetics for the Twenty-First Century (Wheaton: Crossway, 2010).

    Peters, James R. The Logic of the Heart: Augustine, Pascal, and the Rationality of Faith (Grand Rapids: Baker Academic, 2009).

    Sire, James W. A Little Primer on Humble Apologetics (Downers Grove, IL: Inter- Varsity, 2006).

    Sproul, R. C. Defending Your Faith: An Introduction to Apologetics (Wheaton: Crossway, 2003).

    Stackhouse, John G. Humble Apologetics: Defending the Faith Today (Oxford: Oxford University Press, 2002).

    Taylor, James E. Introducing Apologetics: Cultivating Christian Commitment

    (Grand Rapids: Baker Academic, 2006).

  • LITERATUR SAATwww.literatursaat.com

    JudulCover DalamDaftar IsiBab 1Cover Belakang