of 45/45
MAKALAH KASUS CYSTOMA OVARII Disusun Oleh: Arini Estetia Putri 108103000028 Dokter Pembimbing: Dr. Chamim SpOG (K) Kepaniteraan Klinik Stase Kebidanan dan Kandungan RSUP Fatmawati Program Studi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta

Ovarian Cyst Arini

  • View
    133

  • Download
    20

Embed Size (px)

DESCRIPTION

ginekologi

Text of Ovarian Cyst Arini

MAKALAH KASUS CYSTOMA OVARII

Disusun Oleh: Arini Estetia Putri 108103000028 Dokter Pembimbing: Dr. Chamim SpOG (K) Kepaniteraan Klinik Stase Kebidanan dan Kandungan RSUP Fatmawati Program Studi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta 2013

KATA PENGANTAR Segala puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas Rahmat dan Inayahnya. Shalawat serta salam semoga selalu tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW. atas nikmat dan karunia-Nya sehingga dapat terselesaikannya makalah presentasi kasus ini. Penulisan makalah kasus ini dibuat dengan tujuan untuk memenuhi salah satu tugas kepaniteraan Ilmu Obstetri dan Ginekologi di Rumah Sakit Umum Pusat Fatmawati, Penulis menyadari bahwa tanpa bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak sangatlah sulit untuk menyelesaikan makalah ini. Oleh karena itu, tak lupa penulis ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya pada dr. Chamim, Sp.OG (K), selaku pembimbing yang telah membantu dan memberikan bimbingan dalam penyusunan makalah ini. Dan kepada semua pihak yang turut serta membantu penyusunan makalah kasus ini. Akhir kata dengan segala kekurangan yang penulis miliki, segala saran dan kritik yang bersifat membangun akan penulis terima untuk perbaikan selanjutnya. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi semua pihak yang mempergunakannya terutama untuk proses kemajuan pendidikan selanjutnya.

Jakarta, Maret 2013

Penulis

2

DAFTAR ISI KATA PENGANTAR.............................................................................................2 DAFTAR ISI............................................................................................................3 BAB I BAB II PENDAHULUAN ...................................................................................4 TINJAUAN PUSTAKA..........................................................................5

BAB III ILUSTRASI KASUS.............................................................................18 BAB IV ANALISA KASUS.................................................................................26 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN................................................................28 DAFTAR PUSTAKA............................................................................................29

3

BAB I PENDAHULUAN

Ovarium adalah sepasang organ pada wanita yang berfungsi untuk reproduksi. Terletak di pelvis dan mengapit uterus, bentuk dan ukurannya seperti buah almond. Ovarium berfungsi untuk menghasilkan telur dan hormon-hormon. (1,2) Ovarium manusia mempunyai kecenderungan yang mencolok untuk terjadi berbagai macam tumor yang kebanyakannya jinak. Sesungguhnya sebagian besar tumor ovarium adalah non neoplastik. Wanita normalnya memiliki 2 ovarium yang berfungsi untuk menyimpan dan mengeluarkan telur. Kista ovarium dapat mengenai semua wanita dan di semua umur terutama pada masa reproduksi. Kista tersebut dapat terjadi saat periode neonatus sampai setelah menopause. Pada anak-anak tipe yang tersering adalah tumor sel germinosa, pada usia reproduktif(sampai 45 tahun) sering ditemukan kista fungsional,dan pada usia menopause sering ditemukan keganasan.(3)

Biasanya kista ovarium muncul mulai pada saat

usia anak-anak dan saat dewasa, dimana saat itu merupakan periode perkembangan hormonal secara akti. Penemuan kista ovarium pada seorang wanita akan sangat ditakuti oleh karena adanya kecenderungan menjadi ganas, tetapi kebanyakan kista ovarium memiliki sifat yang jinak (80-85%). Pada usia reproduktif insiden keganasan pada kista ovarium antara 0,48,9/100000 wanita dan semakin meningkat dengan bertambahnya usia,yaitu 60/100000 pada wanita usia 60-80 tahun.Tumor ovarium ganas adalah penyebab tersering kematian oleh karena kanker ginekologi di Amerika dan Eropa Barat. (3) Pada makalah ini penyaji akan mencoba membahas satu kasus kista ovarium . akan dibahas mengenai gejala klinik yang muncul, assessment dan tatalaksana yang dilakukan yang kemudian akan dicocokan dengan tinjauan pustaka tentang kista ovarium. Dan diharapkan makalah ini dapat bermanfaat bagi penyaji dan bagi pembaca sehingga sedikit banyak dapat mendeteksi secara dini diagnosa kista ovarium.

4

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

II.1

ANATOMI DAN FISIOLOGI Normalnya wanita memiliki 2 ovarium yang berfungsi mengeluarkan telur. Ovarium digantung oleh mesentarium dibelakang ligamentum latum kiri dan kanan. Ovarium berukuran kurang lebih sebesar ibu jari tangan dengan ukuran panjang kirakira 4 cm,lebar dan tebal kira-kira 1,5 cm.Ovarium memproduksi sel telur dan hormon-hormon yang akan mengatur fungsi organ reproduksi. (3)

Struktur ovarium terdiri atas: (3) (1) korteks,bagian luar yang diliputi oleh epitelium germinativum berbentuk kubik dan didalamnya terdiri atas stroma serta folikel-folikel primordial. (2) medulla,bagian disebelah dalam korteks tempat terdapatnya stroma dengan pembuluh-pembuluh darah,serabut-serabut saraf,dan sedikit otot polos. Sel telur dilepaskan dari salah satu ovarium setiap bulan dalam suatu proses yang disebut sebagai ovulasi. Telur tersebut melakukan perjalanan sepanjang tuba fallopi menuju uterus. Salah satu bagian ovarium yang penting adalah yang berada di dalam cavum peritonei dilapisi oleh epitel kubik silindrik, disebut epitelium germinativum. Dibawah epitel ini terdapat tunika albuginea dan dibawahnya lagi baru ditemukan lapisan tempat folikel primordial. Diperkirakan pada perempuan terdapat kira-kira 100.000 folikel primer. Setiap bulannya, secara normal ovarium yang berfungsi menghasilkan kista kecil yang disebut dengan folikel de graff, pada pertengahan siklus, suatu folikel dominan muncul dengan diameter mencapai 2.8mm yang akan 5

melepaskan oosit yang matang. Folikel yang pecah ini kemudian menjadi korpus luteum, yang jika matang berukuran 1.5-2cm dengan bangunan kistik di tengahnya. Tanpa terjadinya fertilisasi pada oosit, oosit akan menjadi fibrotik dan menciut. Jika fertilisasi terjadi maka korpus luteum akan membesar pada awalnya dan selanjutnya menurun ukurannya saat kehamilan.(1) II.2 DEFINISI Kista berarti kantung yang berisi cairan. Kista ovarium (atau kista indung telur) berarti kantung berisi cairan, normalnya berukuran kecil, yang terletak di indung telur (ovarium).

Kista indung telur dapat terbentuk kapan saja, pada masa pubertas sampai menopause, juga selama masa kehamilan. II.3 ETIOLOGI Kista ovarium disebabkan oleh gangguan (pembentukan) hormon pada hipotalamus, hipofisis, dan ovarium. Sampai sekarang ini penyebab dari Kista Ovarium belum sepenuhnya dimengerti, tetapi beberapa teori menyebutkan adanya gangguan dalam pembentukan estrogen dan dalam mekanisme umpan balik ovariumhipotalamus. 1. Teori ovulasi : setelah ovulasi terjadi invaginasi dari dinding epitel ke stroma ovarium.(4) Dengan adanya rangsangan hormon pada struma inilah yang menimbulkan tumor epitel pada ovarium.(5) 2. Teori endokrin : dinding epitel ovarium terdiri dari sel Mulleri, jaringan ini sama dengan jaringan yang ada di endometrium dan tuba falopii. Dengan adanya ketidak seimbangan hormonal menyebabkan terjadinya tumor.(5) 3. Teori oksigen : dengan adanya iritasi atau peradangan merupakan faktor pencetus terjadinya tumor jinak maupun ganas ovarium.(4) 6

4. Teori transformasi : yang paling banyak terjadi, umumnya kanker ovarium bukan berasal pada proses transformasi sel, meskipun ada juga degenerasi keganasan pada tumor jinak.(6) II.4 EPIDEMIOLOGI(6,7,8) Kista ovarium fungsional ditemukan pada setiap usia dan terbanyak ditemukan pada wanita dalam masa reproduksi dan jarang pada wanita yang telah menopause. Kista ovarium biasanya terdapat pada 50 % dari wanita yang mengalami siklus menstruasi yang tidak teratur. 30 % dari wanita dengan siklus menstruasi teratur dan 6 % dari wanita postmenopause. Di Amerika Serikat kista ovarium ditemukan pada hampir seluruh wanita premenopause dengan USG transvaginal dan pada 14,8% wanita postmenopause. Sebagian besar kista ini jinak. Kista teratoma atau dermoid ditemukam pada lebih dari 10% dari seluruh neoplasma ovarium. Insidens karsinoma ovarium diperkirakan 15 kasus per 100.000 wanita per tahun. Setiap tahun di Amerika Serikat, karsinoma ovarium didiagnosa pada 22.000 wanita, dan menimbulkan kematian pada 16.000 wanita. Tumor ovarium malignan sebagian besar adalah kista adenokarsinoma epitel ovarium, paling sering mengenai wanita Eropa dan Amerika Utara, sedangkan wanita dari Asia dan Afrika lebih jarang. 20%-nya adalah tumor malignan potensi rendah, tumor sel garminosa pada kurang dari 5%, dan kurang lebih 2% tumor sel granulosa. II.5 KLASIFIKASI Diantara tumor-tumor ovarium ada yang bersifat neoplastik dan non neoplastik. Tumor neoplastik dibagi atas tumor jinak dan ganas, dan tumor jinak dibagi dalam tumor kistik dan solid A. Tumor Non Neoplastik 1. Tumor akibat radang a. Abses ovarial Abses ovarii dan ooforitis primer jarang terjadi. Abses ditemukan primer pada penderita yang telah menjalani histerektomi.Gejala klasik dari abses ovarii terdiri dari suhu badan yang meningkat dan menetap setelah operasi dengan nyeri pelvis yang tidak spesifik dan drainase purulen yang lama dari 7

vagina. Diagnosis bandingnya terdiri dari tumor radang tubo-ovarium, benda asing dan komplikasi intestinal. Pada penatalaksanaan, yang tepat, ovarii yang terinfeksi diangkat oleh karena tidak dapat diobati dengan antibiotik yang memerlukan konsentrasi adekuat supaya terjadi resolusi. b. Abses tubo ovarial c. Kista tubo ovarial 2. Tumor lain a. Kista folikel Kista ini sering diketemukan secara kebetulan pada pememeriksaan pelvis, walaupun bisa pecah dan menimbulkan rasa nyeri dan tanda-tanda peritonitis. Kista folikel ovarium ini biasanya asimptomatik. Kista ini berasal dari folikel de graff yang tidak sampai berovulasi, namun tumbuh terus menjadi kista folikel, atau dari beberapa folikel primer yang setelah tumbuh di bawah pengaruh estrogen tidak mengalami proses atresianya, melainkan membesar menjadi kista. Bisa didapati satu kista atau beberapa dan biasanya bilateral serta tumbuh di permukaan ovarii sebagai gelembung yang berisi cairan. Folikel berisi dengan cairan yang jernih dan sering kali mengandung estrogen. Diameter biasanya 1-1,5 cm. Tidak jarang terjadi perdarahan yang masuk ke dalam rongga kista, sehingga terjadi suatu hematoma folikuler. Sebaian besar kista folikel lambat laun mengecil dan regresi pada siklus haid berikutnya dan dapat menghilang spontan. Kista fungsional yang paling sering terjadi adalah kista folikuler. (1,2,6,10)

b. Kista korpus luteum Dalam keadaan normal, kerpus luteum lambat laun mengecil dan menjadi korpus albikans. Kadang-kadang korpus luteum mempertahankan diri (korpus luteum persistens); pendarahan yang sering terjadi didalamnya menyebabkan terjadinya kista, berisi cairan yang berwarna merah coklat karena darah tua. Dinding kista terdiri atas lapisan berwarna kuning, terdiri atas sel-sel luteum 8

yang berasal dari sel teka. Kista lutein labih besar daripada kista folikel, cenderung lebih keras dan padat dalam konsistensi, dan lebih mudah menyebabkan nyeri atau tanda-tanda iritasi peritoneum. Gejala klinik yang terjadi pada kista orpus luteum adalah: gangguan haid, berupa amenore diikuti perdarahan tidak teratur rasa berat di perut bagian bawah nyeri mendadak yang hebat

hal ini sering menyebabkan sulit mendiagnosa dengan KET Penanganan kista korpus luteum adalah menunggu sampai kista hilang sendiri, biasanya dalam waktu 2 bulan pada wanita tidak hamil dan mengecil perlahan-lahan pada trimester terakhir pada wanita hamil. (1,2,11,12) c. Kista endometriosis Kista ini terdapat pada endometriosis yang berlokasi di ovarium yang disebut sebagai kista endometrial atau kista coklat. Dalam ovarium berukuran kecil sampai sebesar tinju yang berisi darah sampai coklat. Darah tersebut dapat keluar sedikit-sedikit karena luka pada dinding kista yang dapat menyebabkan perlengketan antara permukaan ovarium dengan uterus. Kadang dapat mengalir dalam jumlah yang banyak ke dalam rongga peritoneum dan menimbulkan akut abdomen. d. Kista lutein Ukuran dari kista ini sangat bervariasi. Umumnya, kista ini terjadi bilateral, dan berisi cairan jernih dan didapati berhubungan dengan mola hidatidosa, koriokarsinoma. Pada pemeriksaan mikroskopik terlihat luteinisasi, akan tetapi seingkali sel-sel mnghilang karena atresia.Tumbuhnya kista ini ialah akibat pengaruh hormon HCG yang berlebihan, dan dengan hilangnya mola atau koriokarsinoma, kista ovarium mengecil dengan spontan.(10)

Tetapi

apabila kista ini besar sekali, sudah tentu harus dilakukan ekstirpasi. (10) e. Kista inklusi germinal Kista ini terjadi karena invaginasi dan isolasi bagian-bagian kecil dari epitel germinativum pada permukaan ovarium. Tumor ini lebih banyak terdapat pada wanita lanjut umurnya dan besarnya jarang melebihi diameter 1 9

cm. Kista ini biasanya secara kebetulan ditemukan pada pemeriksaan histologik ovarium yang diangkat waktu operasi. Kista terletak di bawah permukaan ovarium dan berisi cairan jernih dan serous. Kista ini tidak pernah memberikan gejala-gejala yang berarti. f. Kista steven leventhal Kista ini ditandai oleh pembesaran bilateral dari polikistik ovarium, amenorea atau oligomenorea sekunder. 50% dari penderita gemuk dan mengalami hirsutisme tanpa maskulinisasi. Sindroma ini terjadi pada wanita antara usia 15-30 tahun. Ovarium pucat, membesar, polikistik, permukaan licin, dan kapsulnya menebal. Kelainan ini disebabkan oleh gangguan keseimbangan hormonal. Umumnya pada wanita tersebut terdapat gangguan ovulasi oleh karena endometrium hanya dipengaruhi oleh estrogen, hiperplasia endometrii juga sering ditemukan. (1,2,9,10) B. Tumor Neoplastik Jinak a. Kistik b. Kistoma ovarii simpleks Kista ini mempunyai permukaan rata dan halus, biasanya bertangkai, seringkali bilateral, dan dapat menjadi besar. Dinding kista tipis dan cairan dalam kista jernih, serous, dan berwarna kuning. Berhubung dengan adanya tangkai, maka dapat terjadi torsi (putaran tangkai) dengan gejala-gejala mendadak. c. Kistadenoma ovarii musinosum Asal tumor ini belum diketahui dengan pasti. Tumor ini mungkin muncul sebagai tumor unilateral kista teratoma atau sebagai metaplasia mucinosum dari mesothelium. Tumor mucinous yang berasal dari teratoid ditemukan pada penderia yang muda. Paling sering pada wanita berusia antara 20-50 tahun dan jarang sekali pada masa prapubertas. Tumor evarium ini terbanyak ditemukan bersama-sama dengan kistadenoma ovarii serosum. Kedua ovarium. Kista ini biasanya mempunyai dinding yang licin, permukaan lobulated dan 10 tumor ini merupakan kira-kira 60% dari seluruh ovarium, sedang kistadenoma ovaii musinosum nerupakan 40% dari seluruh kelompok neoplasma

umumnya multitokular dan odematosa; lokular yang mengandung niukosa ini kelihatan biru dari peregangan kapsulnya. Kira-kira 10% dapat mencapai ukuran yang amat besar dan pada tumor ini tidak dapat ditemukan jaringan yang normal lagi. Tumor biasanya unilateral, akan tetapi dapat juga dijumpai yang bilateral (8-10%).(8) d. Kistadenoma ovarii serosum Tumor mucinous yang berasal dari teratoid ditemukan pada penderita yang muda.(4)

Paling sering pada wanita berusia antara 20-50 tahun, dan jarang sekali pada masa

prapubertas. Kista ini sering ditemukan bilateral (10-20%). Tumor serosa dapat membesar sehingga memenuhi ruang abnomen, tetapi lebih kecil dibanding dengan ukuran kistadenoma musinosum. Permukaan tumor biasanya licin, tetapi dapat juga lobulated karena kista serosum pun dapat berbentuk multikolur, meskipun lazimnya berongga satu. Warna kista putih keabuan. Ciri khas dari kista ini adalah potensi pertumbuhan papiler ke dalam rongga kista sebesar 50% dan keluar pada permukaan kista sebesar 5%. Isi kista cair, kuning dan kadang-kadang coklat karena bercampur darah. Tidak jarang, kistanya sendiri kecil, tetapi permukaannya penuh dengan pertumbuhan papiler (solid papiloma). Tidak ada gejala klasik yang menyertai tumor serosa proliferatrif. Kebanyakan ditemukan pada pemeriksaan rutin dari pelvis. Kadang-kadang pasien mengeluh rasa ketidaknyamanan daerah pelvis dan pada pemeriksaan ditemukan massa abdomen atau pun ascites. Kelainan ekstra abdomen jarang ditemukan pada keganasan ovarium kecuali pada stadium terminal. Apabila ditemukan pertumbuhan papiler, proliferasi dan stratifikasi epitel, serta anaplasia dan mitosis pada sel-sel, kistadenoma serosum secara mikroskopik digolongkan ke dalam kelompok tumor ganas. 30-35% dari kistadenoma serrosum mengalami perubahan keganasan. e. Kista endometroid Kista ini biasanya unilateral dengan permukaan licin; pada dinding dalam terdapat satu lapisan sel-sel, yang menyerupai lapisan epitel endometrium. Kista ini tidak ada hubungannva dengan endometriosis ovarii. f. Kista dermoid Tumor ini merupakan 10% dan seluruh neoplasma ovarium yang kistik, dan paling sering ditemukan pada wanita yang masih muda. 25% dari semua kista dermoid bilateral, lazimnya dijumpai pada masa reproduksi walaupun dapat ditemukan pada anak 11

kecil. Tumor ini dapat mencapai ukuran sangat besar, sehingga beratnya mencapai beberapa kilogram. Kista ini tidak mempunyai ciri yang khas. Dinding kista kelihatan putih keabuan dan agak tipis. Konsistensi tumor sebagian kistik kenyal, di bagian lain padat. Dapat ditemukan kulit, rambut kelenjer sebasea, gigi (ektodermal), tulang rawan, serat otot jaringan ikat (mesodemal) dan mukosa traktus gasttrointotinelis, epitel saluran kista terdapat produk kelenjer sebasea berupa massa lembek seperti lemak, bercampur dengan rambut Pada kista dermoid dapat terjadi torsio tangkai dengan gejala nyeri mendadak di perut bagian bawah. Ada kemungkinan terjadinya sobekan dinding kista dengan akibat pengeluaran isi kista dalam rongga peritoneum. Perubahan keganasan dari kista sangat jarang, hanya 1,5% dari semua kista dermoid dan biasanya pada wanita lewat menopause. (1,2,9,10) 2. Solid a. Fibroma ovarii Fibroma ovarii berasal dari elemen fibroblastik stroma ovarium atau sel mesenkim yang multipoten. Tumor ini merupakan 5% dari semua neoplasma ovarium dan paling sering ditemukan pada penderita menopause. Tumor ini mencapai diameter 2 sampai 30 cm; dan beratnya 20 kg, dengan 90% uniteral. Permukaan tidak rata, konsistensi keras, warnanya merah jambu keabuan. Apabila konsistensi sangat padat disebut fibroma durum, dan apabila lunak disebut fibroma molle. Pada tumor ini sering ditemukan sindroma Meigs (tumor ovarii, ascites, hidrotoraks). b. Tumor Brenner Merurupakan suatu neoplasma ovarium yang sangat jarang ditemukan, biasanya pada wanita dekat atau sesudah menopause. Frekuensinya 0,5% dari semua tumor ovarium.Besar tumor ini beraneka ragam, dari sangat kecil ke yang beratnya beberapa kilogram. Biasanya tumor ini unilateral. Pada pembelahan berwarna kuning muda seperti fibroma, dengan kista-kista kecil. Kadang-kadang pada tumor ini temukan sindroma Meigs. Tumor Brenner tidak menimbulkan gejala-gejala klinik yang khas, dan jika masih kecil, biasanya ditemukan secara kebetulan pada pemeriksaan histopatologik ovarium. Meskipun biasanya jinak, dalam beberapa kasus tumor ini menunjukkan keganasan pada histopatologi dan klinisnya. 12

c. Tumor sisi aderenal (makulinovo-blastoma) Tumor ini sangat jarang terjadi. Biasanya unilateral dan besarnya bervariasi antara 0,5-16 cm. Beberapa dari tumor ini menyebabkan gejala maskulinasi, terdiri atas hirsutisme, pembesaran klitoris, atrofi memmae, dan perubahan suara. (9,10) C. Tumor Neoplastik Ganas Tumor ganas ovarium merupakan 20% dari semua keganasan alat reproduksi wanita. Kira-kira 60% pada usia perimenopause, 30% pada masa reproduksi dan 10% pada usia jauh lebih muda. Letak tumor tersembunyi dalam rongga perut dan dapat menjadi besar tanpa disadari pasien. Pertumbuhan tumor primer mengakibatkan keluhan perasaan sebah, makan sedikit terasa cepat kenyang, sering kembung, dan nafsu mekan menurun. Cara penyebaran adalah secara limfogen ke kelenjer paraaorta, mediastinal dan supraklavikular, kemudian menyebar ke alat-alat yang jauh, terutama paru-paru, hati dan otak. Obstruksi usus dan ureter merupakan masalah yang sering menyertai. Secara Internasional hingga saat ini diakui 2 sistem klasifikasi yang kedua-duanya umum digunakan yaitu sistem TNM dari UICC dan sistem FIGO.

II.6

GEJALA KLINIS Banyak tumor ovarium tidak menunjukkan gejala dan tanda, terutama tumor

ovarium yang kecil. Adanya tumor bisa menyebabkan pembenjolan perut. Rasa sakit atau tidak nyaman pada perut bagian bawah. Rasa sakit tersebut akan bertambah jika kista tetsebut terpuntir atau terjadi ruptur. Terdapat juga rasa penuh di perut.Tekanan terhadap alat-alat di 13

sekitarnya dapat menyebabkan rasa tidak nyaman, gangguan miksi dan defekasi. Dapat terjadi penekanan terhadapat kandung kemih sehingga menyebabkan frekuensi berkemih menjadi sering. Kista ovarium dapat menyebabkan obstipasi karena pergerakan usus terganggu atau dapat juga terjadi penekanan dan menyebabkan defekasi yang sering. Pasien juga mengeluhkan ketidaknyamanan dalam coitus, yaitu pada penetrasi yang dalam. Pada tumor yang besar dapat terjadi tidak adanya nafsu makan dan rasa enak dan rasa sesak. Pada umumnya tumor ovarium tidak mengubah pola haid, kecuali jika tumor tersebut mengeluarkan hormon. Ireguleritas siklus menstruasi dan pendarahan vagina yang abnormal dapat terjadi. Pada anak muda, dapat menimbulkan menarche lebih awal. Polikistik ovari menimbulkan sindroma polistik ovari, terdiri dari hirsutism, inferilitas, aligomenorrhea, obesitas dan acne. Pada keganasan, dapat ditemukan penurunan berat badan yang drastis.(10,11,12,13,14)

Pada pemeriksaan fisik, kista yang besar dapat teraba dalam palpasi abdomen. Walau pada wanita premonopause yang kurus dapat teraba ovarium normal tetapi hal ini adalah abnormal jika terdapat pada wanita postmenopause. Perabaan menjadi sulit pada pasien yang gemuk. Teraba massa yang kistik, mobile, permukaan massa umummnya rata. Cervix dan uterus dapat terdorong pada satu sisi. II.7 DIAGNOSA Diagnosa kista ovarium dapat ditegakkan dengan: 1. Anamnesa Dari anamnesa dapat ditegakkan melalui keluhan-keluhan yang muncul, seperti adanya benjolan d perut, Keluhan rasa berat dalam perut, kadang disertai gangguan BAK dan BAB, edema pada tungkai, tidak nafsu makan, rasa sesak dan lain-lain, disertai gangguan haid apabila tumor itu mengeluarkan hormon dan nyeri perut bila terinfeksi, terpuntir atau pecah. 2. Pemerisaksaan fisik Pada palpasi abdomen, akan teraba masa konsistensi kistik, mobile, permukaan tumor umumnya rata. Cervix dan uteri terdorong ke salah satu sisi. 3. Pemeriksaan penunjang A. USG USG adalah alat diagnostik imaging yang utama untuk kista ovarium. akan terlihat sebagai struktur kistik yang bulat (kadang-kadang oval) dan terlihat sangat echolucent dengan dinding dinding yang tipis/tegas/licin, dan di tepi 14

belakang kista nampak bayangan echo yang lebih putih dari dinding depannya. Kista ini dapat bersifat unillokuler (tidak bersepta) atau multilokuler (berseptasepta). B. Laparoskopi Mengetahui asal tumor dari ovarium atau tidak, dan menentukan sifatsifat tumor. C. Laboratorium Tidak ada tes laboratorium diagnostik untuk kista ovarium. Cancer antigen 125 (CA 125) adalah protein yang dihasilkan oleh membran sel ovarium normal dan karsinoma ovarium. Level serum kurang dari 35 U/ml adalah kadar CA 125 ditemukan meningkat pada 85% pasien dengan karsinoma epitel ovarium. Terkadang CA 125 ditemukan meningkat pada kasus jinak dan pada 6% pasien sehat. D. Foto Rontgen Menentukan adanya hidrotoraks. Pada kista dermoid kadang dapat terlihat gigi. E. Tes kehamilan HCG negatif, kecuali bila terjadi kehamilan. II.8 DIAGNOSA BANDING Kehamilan KET Mioma uteri Tumor kolon sigmoid Ginjal ektopik Limpa bertangkai Ascites a.c penyakit lain Tuberculosis pentoriei Infeksi pelvis Apendisitis akut.

II.9

PENATALAKSANAAN 15

Tindakan operasi pada tumor ovarium neoplastik yang tidak ganas adalah pengangkatan tumor dengan mengadakan reseksi pada bagian ovarium yang mengandung tumor. Tetapi jika tumornya besar atau ada komplikasi perlu dilakukan pengangkatan ovarium, disertai dengan pengangkatan tuba. Seluruh jaringan hasil pembedahan perlu dikirim ke bagian patologi anatomi untuk diperikasa. Laparoskopi digunaknan pada pasien dengan kista benigna, kista fungsional atau simpleks yang memberikan keluhan. Laparotomi harus dikerjakan pada pasien dengan resiko keganasan dan panda pasien dengan kista benigna yang tidak dapat diangkat dengan laparaskopi. Pengangkatan ovarium sebelahnya harus dipertimbangkan pada wanita postmenopause, perimenopause, dan wanita premenopasue yang lebih tua dari 35 tahun yang tidak menginginkan anak lagi serta yang beresiko menyebabkan karsinoma ovarium. Jika keadaan meragukan, perlu pada waktu operasi dilakukan penteriksaan sediaan yang dibekukan (frozen section) oleh seorang ahli patologi anatomik untuk mendapat kepastian tumor ganas atau tidak. Radioterapi hanya efektif untuk jenis tumor yang peka terhadap radisi, disgerminoma dan tumor sel granulosa. Kemoterapi menggunakan obat sitostatika seperti agens alkylating (cyclophosphamide, chlorambucyl) dan antimetabolit (adriamycin). FoIlow up tumor ganas sampai 1 tahun setelah penanganan setiap 2 bulan, kemudian 4 bulan selama 3 tahun setiap 6 bulan sampai 5 tahun dan seterusnya setiap tahun sekali. (1,2,10,12) II.10 KOMPLIKASI (11,12,13,14) Perdarahan ke dalam kista, biasanya terjadi sedikit-sedikit, berangsur-angsur menyebabkan pembesaran kista, dan hanya menimbulkan gejala klinik yang minimal. Tetapi bila dalam jumlah banyak akan terjadi distensi cepat dan nyeri perut mendadak. Putaran tangkai menimbulkan rasa sakit yang berat akibat tarikan melalui ligamentum infundibulopelvikum terhadap peritoneum parietale. Robekan dinding kista terjadi pada torsi tangkai, tetapi dapat pula akibat trauma yaitu jatuh, pukulan pada perut dan coitus. Bila kista hanya mengandung cairan serosa, rasa nyeri akbat robekan akan segera berkurang. Namun bila terjadi hemoragi yang timbul secara akut, perdarahan bebas dapat berlangsung terus menerus dalam rongga peritoneum dan menimbulkan rasa nyeri terus menerus disertai tandatanda abdomen akut. Infeksi dapat terjadi, jika dekat tumor terdapat sumber kuman patogen, seperti appendicitis, divertikulitis, atau salpingitis akuta. Perubahan keganasan dapat terjadi pada kista jinak, misalnya pada kista denoma ovarii derosum, kistadenoma ovarii musinosum 16

dan kista dermoid. Sindroma Meigs ditemukan pada 40% dari kasus febroma ovarii yaitu tumor ovarium disertai asites dan hidrotoraks. II.11 PENCEGAHAN Setiap wanita harus melakukan pemeriksaan ginekologis tahunan. Pada wanita dengan resiko tinggi dengan riwayat keluarga atau riwayat kanker payudara terdahulu harus melakukan pemeriksaan USG dan CA 125 tahunan. Bila dijumpai tanda-tanda keganasan, segera dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.

17

BAB III LAPORAN KASUS

I.

IDENTITAS Nama Jenis Kelamin Umur Pendidikan Pekerjaan Agama Suku/bangsa Alamat Tgl. Masuk RSF No.RM : Ny. A : Perempuan : 23 tahun : Tamat SLTA : Ibu Rumah Tangga : Islam : Jawa/indonesia : Jl.Pupan Pondok Pinang Jakarta Selatan : 3 Maret 2013

: 1202946

II.

ANAMNESIS A. Keluhan Utama : autoanamnesa pada tanggal 4 Maret 2013, pukul 07.00 Nyeri perut bagian bawah sejak 2 bulan SMRS B. Riwayat Penyakit Sekarang Pasien datang dengan keluhan nyeri di perut bagian bawah sejak 2 bulan SMRS. Nyeri dirasakan hilang timbul dan tidak pernah timbul secara mendadak. Pasien juga baru menyadari perutnya membuncit 1 bulan SMRS dan perut terasa begah. BAK dan BAB normal. Nyeri saat senggama, perdarahan di luar siklus menstruasi, Mual, muntah, sesak nafas, BB menurun, nafsu makan berkurang tidak ada. Siklus menstruasi teratur dan tidak ada nyeri saat menstruasi. Keputihan(-), Demam (-). Pasien USG di RS Syarif Hidayatullah dikatakan terdapat kista ukuran 7 cm. C. Riwayat Penyakit Dahulu

18

Pasien menyangkal menderita darah tinggi, jantung dan kencing manis. Pasien pernah menderita kista ovarium saat usia 17 tahun, dengan diameter 3 cm. Dokter mengatakan kista dapat mengecil sendiri dan akan diobservasi 3 bulan kemudian. Tiga bulan kemudian pasien datang untuk USG, dinyatakan kista telah hilang. D. Riwayat Penyakit Keluarga Tidak ada keluarga pasien yang menderita penyakit yang sama. E. Riwayat Menstruasi Menarche Siklus Lamanya Banyaknya Dismenore Menopause F. Pernikahan Status pernikahan G. Riwayat Obstetri Laki-laki , 1 tahun 4 bulan, BL 3000, ditolong bidan H. Riwayat Keluarga Berencana Suntik KB 3 bulan I. Riwayat Operasi Pasien tidak tidak pernah dioperasi sebelumnya J. Riwayat Kebiasaan Psikoseksual Pasien tidak merokok dan tidak minum alkohol III. PEMERIKSAAN FISIK A. Status Generalis Keadaan umum Kesadaran Tanda Vital : Tampak sakit sedang : Compos mentis : TD : 110/70 mmHg 19 : menikah : usia 13 tahun : 30 hari : 7-10 hari : 3-4 pembalut per hari : Tidak ada : -

N RR S Kepala Mata THT Leher Thoraks : Cor Pulmo Mamae Abdomen Anogenital Ekstremitas

: 84 x/menit : 20 x/m : 36,50C

: normocephali, tidak mudah dicabut. : Pupil bulat isokor, konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik. : Dalam batas normal : kelenjar tiroid tidak teraba membesar Kelenjar getah bening tidak teraba membesar : BJ1-BJ2 normal reguler, murmur (-), gallop (-) : Suara nafas vesikuler, ronchi -/-, wheezing -/-, ronchi-/-, wheezing : Simetris, besar normal, retraksi putting (-), areola mamae tidak hiperpigmentasi. : lihat status Ginekologikus : lihat status Ginekologikus : Akral hangat, oedema tungkai -/-, reflex fisiologis +/+, deformitas (-)

B.

Status Ginekologi Abdomen Inspeksi Palpasi Perkusi Auskultasi Anogenital Inspeksi Inspekulo : vulva uretra tampak tenang, tidak tampak perdarahan pervaginam : porsio licin, ostium tertutup, fluor(-), fluxus(-) : Simetris, agak membuncit : Teraba massa sampai 3 jari atas simfisis, kenyal, batas tegas, permukaan rata, mobile,NT(-) : Nyeri ketok (-), shifting dullness (-) : Bising usus (+) normal

20

VT

: corpus uteri besar dan ukuran normal, portio tertutup, permukaan licin, teraba massa kistik hingga 3 jari atas simfisis, parametrium lemas, massa adneksa -/+

IV.

PEMERIKSAAN PENUNJANG

PEMERIKSAAN 29-01-13 DARAH Hemoglobin Hematokrit Lekosit Trombosit Eritrosit LED VER HER KHER RDW Basofil Eosinofil Netrofil Limfosit Monosit PT aPTT SGOT

HASIL 13,3 g/dL 42 % 5000/uL 206000/uL 3.79 juta/uL 20.0 87.7 27.8 31.7 14.0 1 1 45 45 4 12,8 34,8 16 21

SGPT Protein total Albumin Globulin Bilirubin total Bilirubin Direk Bilirubin Indirek Asam urat Ureum Creatinin Gula darah puasa Glukosa darah 2 jam PP Trigliserida Kolesterol total HDL LDL ELEKTROLIT Natrium Kalium Clorida HbsAg Golongan darah Ca 125 URINALISA Urobilinogen

13 6,3 4,2 2.6 0,30 0,10 0.20 2.7 20 0,6 76 89 56 136 50 74 139 4,38 108 Negatif A/rh (-) 11,2 0,2 22

Protein urin Berat jenis Bilirubin Keton Nitrit pH Lekosit Darah / Hb Glukosa Warna Kejernihan SEDIMEN URIN Epitel Lekosit Eritrosit Kristal Bakteri

Negative 1,025 (-) Negatif Negatif 5,5 negatif Negatif Negatif Kuning Clear Positif 2-4 0-1 Negatif Negatif Negatif

Lain-lain Negatif B-HcG USG 28/1/2013: Uterus antefleksi besar dan ukuran normal, ovarium kanan bentuk dan ukuran normal, tampak massa kistik di depan uterus ukuran 8,2x9,8x8,7 sebagian kesan anekoik sebagian ekoik ,bagian padat (-), papil (-), asites (-) kesan: NOK sinistra serosum

23

Ro Thorax Kedua sinus dan diafragma baik, mediastinum superior tidak menebal, Cor: ukuran dan bentuk normal, CTR < 50%. Pulmo: Hilus tidak menebal. Corakan bronkovaskuler kedua paru baik. Tidak tampak nodul-nodul di kedua lapangan paru. Kedua sinus kostofrenikus lancip. Kesan : Tidak tampak kelainan pada Cor/Pulmo saat ini VI. RESUME Pasien datang dengan keluhan nyeri di perut bagian bawah sejak 2 bulan SMRS. Nyeri dirasakan hilang timbul dan tidak pernah timbul secara mendadak. Pasien juga baru menyadari perutnya membuncit 1 bulan SMRS dan perut terasa begah. BAK dan BAB normal. Nyeri saat senggama, perdarahan di luar siklus menstruasi, Mual, muntah, sesak nafas, BB menurun tidak ada. Siklus menstruasi teratur dan tidak ada nyeri saat menstruasi. Keputihan(-), Demam (-). Pasien USG di RS Syarif Hidayatullah dikatakan terdapat kista ukuran 7 cm. Pada pemeriksaan fisik didapatkan status generalis dalam batas normal, Abdomen: Simetris, agak membuncit, Teraba massa sampai 3 jari atas simfisis, kenyal, batas tegas, permukaan rata, mobile, Nyeri ketok (-), shifting dullness, Bising usus (+) normal, VT: corpus uteri besar dan ukuran normal, portio tertutup, permukaan licin, teraba massa kistik hingga 3 jari atas simfisis, parametrium lemas, massa adneksa -/+. Pada pemeriksaan penunjang didapatkan laboratorium dengan kesan dalam batas normal, hasil USG kista ovarium serosum sinistra hasil Ro thorax jantung dan paru dalam batas normal. VII. DIAGNOSIS Kista ovarium serosum sinistra IX. SIKAP Perencanaan laparaskopi kistektomi tanggal 5 Maret 2013 X. PROGNOSIS Ad Vitam Ad Fungsionam Ad Sanationam : : : Dubia ad bonam Dubia ad bonam Dubia ad bonam

24

XI.

PENATALAKSANAAN LAPORAN OPERASI Operator/Asisten Diagnosa pre op Diagnosa post op Macam operasi : dr.Setyo, Sp.OG : Kista ovarium serosum kiri : Kista ovarium serosum kiri : Laparoskopi kistektomi

1. Pasien telentang diatas meja operasi dalam anestesi umum. 2. Dalam eksplorasi lapang pandang laparoskopi, tampak uterus normal bentuk dan ukurannya. Tampak massa kistik ukuran 10 cm berasal dari ovarium kiri. Tuba dan ovarium kanan dalam batas normal. 3. Dilakukan kistektomi setelah massa kistik dipungsi (keluar cairan kesan serosum). 4. Perdarahan dirawat 5. Rongga abdomen dicuci NaCl 1000 cc 6. Perdarahan minimal 7. Operasi selesai Operasi 5 Maret 2013 12.45-14.30 Berlangsung laparoskopi kistektomi sinistra ai kista ovarium serosum sinistra. Perdarahan minimal Instruksi pasca operasi Observasi tanda vital, nyeri/akut abdomen Cek Hb post op, transfuse jika Hb < 8 gr/dL Mobilisasi bertahap Realimentasi/ diet bertahap setelah BU (+) Ceftriaxone 2x1 gr i.v Alinamin F 3x1 amp iv Profenid supp 3x1 Vitamin C 2x400 gr iv

25

Follow up post operasi Tanggal 6 Maret 2013 S O : : Nyeri luka post op (+) Keadaan umum Kesadaran TD : : : baik compos mentis 110/70 mmHg N S RR : : : 9o x/menit 36,80C 20 x/menit

Status generalis Abdomen Status ginekologi Anogenital Hb: 8 gr/dL Ht: 25 % Leukosit: 14.100/uL Trombosit: 273.000/uL A P : : post laparoskopi kistektomi hari I - Observasi TTV, perdarahan - Mobilisasi aktif - Cefadroxil 2x500 mg - Asam mefenamat 3x500 mg - Enervon C 2x1 - Diet biasa Tanggal 7 Maret 2013 S O : : Keluhan (-) Keadaan umum Kesadaran TD Status generalis Abdomen Status ginekologi 26 : luka operasi di 3 titik, rembesan darah (-), pus (-) : : : baik 110/70mmHg N RR : 90 x/menit : 36,60C : 20 x/menit compos mentis S : V/U tenang, tidak tampak perdarahan pervaginam Lab Post op (05/03/2013) : luka operasi baik, rembesan darah (-)

Anogenital A P : : - boleh pulang

: V/U tenang, tidak tampak perdarahan pervagina

post laparoskopi kistektomi hari II - cefadroxil 2x500 mg - as. Mefenamat 3x500 mg - Hemobion 2x1

27

BAB IV ANALISA KASUS

Pada kasus ini diagnosa kista ovarium serosum ditegakkan atas dasar anamnesa, pemeriksaan fisik, serta pemeriksaan penunjang. Berdasarkan anamnesa didapatkan data pasien berusia 23 tahun, hal ini sesuai dengan predisposisi penderita kista ovarium dermoid paling sering pada wanita berusia antara 20-50 tahun, dan jarang sekali pada masa prapubertas. Keluhan utama pasien adalah rasa sakit yang hilang ditimbul di perut bagian bawah sejak 2 bulan SMRS. Dari anamnesis ditemukan data pasien 23 tahun,sesuai dengan predisposisi dari kista serosum,yaitu pada usia reproduktif (20-50 tahun). Pasien mengeluh perut terasa membuncit dan terasa penuh yang baru disadari sejak 1 bulan. Keluhan sakit perut dapat terjadi karena torsio,adanya perdarahan, infeksi, dan mendesak organ lain. Pada pasien ini kemungkinan sakit perutnya disebabkan karena mendesak organ. Pada pasien ini tidak didapatkan adanya gangguan BAB dan BAK, hal ini bisa terjadi apabila massa tidak menekan kandung kemih atau usus. Pada pasien tidak didapatkan penurunan BB dan nafsu makan. Hal ini menunjukkan kemungkinan bahwa tidak terdapat adanya keganasan pada pasien ini. Pada pasien ini tidak ada kelainan pada siklus menstruasi menunjukkan bahwa tumor tersebut tidak mengeluarkan hormon. Dari pemeriksaan fisik pada perut bagian bawah didapatkan perut yang membuncit teraba massa sampai 3 jari atas simfisis, kenyal, batas tegas, permukaan rata, mobile, Nyeri ketok (-), shifting dullness, Bising usus (+) normal, VT: corpus uteri besar dan ukuran normal, portio tertutup, permukaan licin, teraba massa kistik hingga 3 jari atas simfisis, parametrium lemas, massa adneksa -/+. Pada pemeriksaan penunjang didapatkan laboratorium dengan kesan dalam batas normal, hasil USG kista ovarium serosum sinistra. hasil Ro thorax jantung dan paru dalam batas normal. Dari data tersebut diatas,maka pada pasien ini kami tegakkan diagnosis preoperatif neopasma ovarium kistik serosum sinistra Test HCG yang negatif pada pasien menyingkirkan pemikiran adanya kehamilan. Dalam eksplorasi lapang pandang laparoskopi, tampak uterus normal bentuk dan ukurannya. Tampak massa kistik ukuran 10 cm berasal dari ovarium kiri. Tuba dan

28

ovarium kanan dalam batas normal. Dilakukan kistektomi setelah massa kistik dipungsi (keluar cairan kesan serosum), kemudian dilakukan sampel untuk PA.

29

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan Penegakkan diagnosis kista ovarium pada kasus ini sudah benar yaitu berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang. USG digunakan sebagai pemeriksaan penunjang yang membantu menegakkan diagnosis. Prinsip penatalaksanaannya adalah bahwa kista ovarium membutuhkan operasi dan VC kemudian dilakukan pemeriksaan patologi anatomi, sudah sesuai. Saran Kesadaran untuk segera memeriksakan ke dokter ahli kebidanan dan kandungan apabila mendapati gejal-gejala seperti tumor ovarium agar kemungkinan adanya keganasan dapat dideteksi lebih dini.

30

DAFTAR PUSTAKA

1. Cunningham FG, Gant NF, Leveno KJ, Gilstrap LC, Haulth JC, Wenstrom KD. Williams Obstetrics. 21st ed. New York : McGraw-Hill 2001.p. 911-936. 2. DeCherney Alan H, Nathan Lauren. Current Obstetric and Gynecologic Diagnosis and Treatment. 9th edition. McGraw-Hill 2003.p. 708-715. 3. Saifuddin ,AB. Ilmu Kebidanan. Edisi Keempat. PT. Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. Jakarta. 2009. hal 126-128 4. Willson J.R, Ovarian Neoplasms in Willson J.R, Carrington E.R, Ledger W.J, Obstetrics & Gynecology, 7th Edition, The CV Mosby Company 1983, page 656 667. 5. Tumor Ovarium, dalam Ginekologi, Edisi tahun 1977, Bagian Obstetri dan Ginekologi, Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjajan, Bandung, hal : 168 196 6. Boroboonhirunsarn D,Sermboon A.Accuracy of Frozen Section In The Diagnosis Of Malignant Ovarian Tumor.J Obstet Gynaecol Res.2004;30:394-399 7. Nagar,H.Management of Early-Stage Epithelial Ovarian Cancer.The Obstetrician&Gynaecologist.2007;9:4:243-247 8. Pascual MA,Hereter L,Tresserra F,et al.Transvaginal Sonographic Appearance of Functional Ovarian Cyst.Human Reprod.1997;12:1246-9 9. Hacker Neville F, Moore J George. Essentials of Obstetrics and Gynecology. Saunders Company. 1992. p. 388-399. 10. Wiknjosastro Hanifa, Saifuddin Abdul Bari, Rachimhadhi Trijatmo. Ilmu Kandungan. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. 1999. h. 314-366. 11. http://www.amazon.com/cystovary+symptom 12. http://www.emedicine.com 13. http://www.prevention.com/cancersymptoms 14. http://www.4woman.gov/cystovary

31