Click here to load reader

Pendidikan sebagai Garda Terdepan · Web viewPENDIDIKAN SEBAGAI GARDA TERDEPAN PENGUATAN KARAKTER BANGSA Oleh : Drs. H. Syafruddin Amir, MM Disampaikan pada Acara Deklarasi Piagam

  • View
    240

  • Download
    3

Embed Size (px)

Text of Pendidikan sebagai Garda Terdepan · Web viewPENDIDIKAN SEBAGAI GARDA TERDEPAN PENGUATAN...

Pendidikan sebagai Garda Terdepan

PAGE

2

File dapat diunduh di:

www.rumahpendidikan.wordpress.com

PENDIDIKAN SEBAGAI GARDA TERDEPAN

PENGUATAN KARAKTER BANGSA

Oleh : Drs. H. Syafruddin Amir, MM

Disampaikan pada Acara Deklarasi Piagam Djembrana

Bali, 03-05 Maret 2012

MUQADIMAH

Pendidikan dapat dikatakan sebagai proses pemberdayaan, yaitu proses untuk mengungkapkan potensi yang ada pada manusia sebagai individu, yang selanjutnya dapat memberikan sumbangan kepada keberdayaan masyarakat lokal, kepada bangsanya, dan pada akhirnya pada masyarakat global. Dengan demikian pendidikan perlu diarahkan untuk mengembangkan potensi yang dimiliki oleh anak didik agar mampu mandiri.

Setiap anak didik perlu diberi berbagai kemampuan dalam pengembangan berbagai hal, seperti konsep, prinsip, kreativitas, tanggung jawab, dan keterampilan. Inilah makna pendidikan yang harus senantiasa dipegangi oleh para pendidik, yaitu mengembangkan aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik.

Dalam kamus Websters New World Dictionary, sebagaimana dikutip oleh Nanang Fattah, pendidikan dirumuskan sebagai proses pengembangan dan latihan yang mencakup aspek pengetahuan (knowledge), keterampilan (skill) dan kepribadian (character), terutama yang dilakukan dalam suatu bentuk formula (per sekolahan) kegiatan pendidikan mencakup proses dalam menghasilkan (production) dan transfer (distribution) ilmu pengetahuan yang dilakukan oleh individu atau organisasi belajar (learning organization).

Memang sudah tidak terbantahkan lagi bahwa pendidikan adalah kebutuhan pokok bagi semua makhluk yang mempunyai akal sebagai alat berpikir, karena pendidikan yang akan mengantarkan manusia kepada ilmu, dan ilmu yang akan memberikan apa pun yang menjadi obsesi dan cita-cita seluruh manusia.

Bagi sebagian orang, definisi dari pendidikan adalah menyekolahkan anak mereka pada sebuah sekolah yang dapat memberikan ilmu pengetahuan bagi anak tersebut. Ringkasnya, bagi mereka pendidikan hanya dapat diperoleh di sekolahan. Padahal, pendidikan sesunggunya bukan hanya dapat diperoleh di sekolah, melainkan juga di luar sekolah. Pendidikan bisa diperoleh lewat orang tua, teman-teman, lingkungan, hingga media massa seperti televisi, koran, majalah, atau buku. Semua itu dapat menjadi guru bagi anak-anak. Tentu saja, hal tersebut merupakan tantangan bagi kita untuk mampu membuat dan merekayasanya agar menjadi tuntunan yang baik.

Agama, Pancasila, dan UUD 1945 adalah rujukan di mana seluruh gerak langkah aktivitas di negara Indonesia dalam bentuk apa pun mesti disandarkan kepadanya, ketiga dasar rujukan itu dapat menjadi pedoman yang sinergis untuk menciptakan keteraturan dalam berbagai dinamika kehidupan di negeri ini, termasuk di dalamnya adalah masalah penyelenggaraan pendidikan.

Agama manampakkan tata nilai tertinggi dengan meletakkan pendidikan sebagai basis perjuangan; Pancasila merupakan ideologi untuk mewujudkan karakternya sebagai ruh ajaran pada setiap sisi perjalanan bangsa, serta memberikan doktrin kepada seluruh anak bangsa untuk senantiasa cinta tanah air; dan UUD 1945 adalah konstitusi negara yang mengamanatkan banyak hal berkaitan dengan penyelenggaraan pendidikan yang kemudian harus menjadi guiden bagi seluruh pihak yang terkait, terlebih pemerintah sebagai komponen utama.

Hasil amandemen ke-4 UUD 1945 yang disahkan pada 10 Agustus 2002, pada alinea keempat Pembukaan dapat ditarik empat makna yang berarti tujuan dari pembentukan pemerintah Indonesia yaitu:

1. Melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia;

2. Memajukan kesejahteraan umum;

3. Mencerdaskan kehidupan bangsa;

4. Ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.

Kemudian pada batang tubuh UUD 1945 terdapat poin-poin penting di antaranya:

1. Pasal 28C ayat (1) yang berbunyi: Setiap orang berhak mengembangkan diri melalui pemenuhan kebutuhan dasarnya, berhak mendapat pendidikan dan memperoleh manfaat dari ilmu pengetahuan dan teknologi seni dan budaya, demi meningkatkan kualitas hidupnya dan demi kesejahteraan umat manusia

2. Pasal 28E ayat (1) yang berbunyi: Setiap orang bebas memeluk agama dan beribadat menurut agamanya, memilih pendidikan dan pengajaran, memilih pekerjaan, memilih kewarganegaraan, memilih tempat tinggal di wilayah negara dan meninggalkannya, serta berhak kembali.

3. Pasal 31:

(1) Tiap-tiap warga negara berhak mendapat pendidikan

(2) Setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya

(3) Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional, yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang diatur dengan undang-undang

(4) Negara memprioritaskan anggaran pendidikan sekurang-kurangnya dua puluh persen dari anggaran pendapatan dan belanja negara serta dari anggaran pendapatan dan belanja daerah untuk memenuhi kebutuhan penyelenggaraan pendidikan nasional

(5) Pemerintah memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan menjunjung tinggi nilai-nilai agama dan persatuan bangsa untuk kemajuan peradaban serta kesejahteraan umat manusia.

Sejalan dengan UUD 1945, untuk menjalankan pola dan manajemen pendidikan, Indonesia juga memiliki Undang-undang khusus yang mengatur tata sistem penyelenggaraan pendidikan, yakni Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Apabila merujuk kepada undang-undang tersebut, pada Bab I (Ketentuan Umum) Pasal 1 Ayat 2 menyatakan bahwa yang disebut dengan Pendidikan Nasional adalah pendidikan yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang berakar pada nilai-nilai agama, kebudayaan nasional Indonesia, dan tanggap terhadap tuntutan perubahan zaman.

Kemudian pada Bab II (Dasar, Fungsi dan Tujuan) Pasal 3 disebutkan bahwa Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Apabila kita mencermati pasal-pasal tersebut, tampak jelas adanya sebuah konsep, bahkan grand design yang ditujukan untuk menciptakan sistem penyelenggaraan pendidikan yang profesional, progressif, dan bertanggung jawab, yang bersinergi antara satu komponen dengan komponen yang lainnya, serta masing-masing memainkan fungsinya dengan baik, hal itu senapas dengan tujuan yang termaktub dalam Pembukaan UUD 1945 Mencerdaskan kehidupan bangsa.

Konsep yang ideal tersebut tampaknya memang tidak mudah untuk diejawantahkan. Kenyataan di lapangan tidak seindah yang tertulis. Semua komponen seperti menjalankan tugasnya sendiri-sendiri tanpa menyesuaikan dengan arah pokok sinergitas yang diamanatkan oleh undang-undang.

Di pihak lain, derasnya arus globalisasi dan modernisasi pun sulit dibendung. Kita lihat betapa berbagai informasi dari segenap penjuru bumi kini dapat dengan mudah diakses. Fenomena ini tentu turut mempengaruhi upaya penyelenggaraan pendidikan nasional kita.

Di satu sisi, derasnya informasi global sesungguhnya banyak memberi nilai positif pada perkembangan anak didik. Akan tetapi, di sisi lain, serbuan informasi dengan segala kemudahan untuk mengaksesnya itu pula yang dapat menjerumuskan anak didik.

Tidak dapat dipungkiri jika beragam informasi, ilmu dan pengetahuan baru kini dapat dengan mudah diperoleh. Semua itu tentu memberi efek percepatan pada kualitas intelektual anak didik. Namun, kita juga tidak dapat menutup mata bahwa informasi-informasi yang bermuatan negatif pun kini sulit dibendung. Nyaris tidak ada teknologi yang dapat memfilter informasi-informasi negatif tersebut agar tidak sampai kepada anak didik.

Memang pada kenyataannya kita tidak boleh mengisolasi diri dari perkembangan global, kecuali jika kita memang ingin tergilas oleh perkembangan tersebut. Yang perlu dipikirkan adalah bagaimana agar menu dan metodologi pengajaran yang ada dapat menanamkan filter dalam nurani setiap anak didik sehingga mereka bisa memilih dan memilah dengan arif dan bijak.

Dengan demikian, sebagai salah satu komponen bangsa yang concern terhadap pendidikan anak negeri, sudah sepatutnya kita senantiasa melakukan penelaahan dan menganalisis berbagai realitas tersebut agar kelak tercipta formulasi ideal sekaligus manifestatif bagi sistem penyelenggaraan pendidikan yang lebih baik.

Menilik pada apa yang telah diuraikan sebelumnya maka satu pokok pikiran penting yang harus dikaji lebih cermat adalah masalah budaya dan karakter, yakni bagaimana menciptakan keseragaman langkah yang terpadu dan simultan untuk menjadikan Pendidikan Sebagai Garda Terdepan Penguatan Karakter Bangsa.

KULTURISASI DAN TATAKELOLA PENDIDIKAN

Pendidikan nasional yang berakar pada kebudayaan bangsa Indonesia, berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 diarahkan untuk meningkatkan kecerdasan kehidupan bangsa dan kualitas sumber daya manusia, mengembangkan manusia serta masyarakat Indonesia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan, keahlian dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, serta kepribadian yang mantap dan mandiri. Pendidikan nasional juga harus menumbuhkan dan mempertebal rasa cinta tanah air, meningkatkan semangat kebangsaan, wawasan keunggulan, kesetiakawanan sosial, kesadaran pada sejarah bangsa dan sikap menghargai jasa para pahlawan, serta berorientasi masa depan.

Pendidikan nasional per