Tulus Tambunan Kadin Indonesia, 2007 Kenaikan Harga BBM ?· investor terhadap kenaikan harga BBM negatif,…

  • View
    212

  • Download
    0

Embed Size (px)

Transcript

PERKIRAAN DAMPAK DARI KENAIKAN HARGA BBM 2005 DAN 2007 TERHADAP INFLASI DAN PERTUMBUHAN PDB.

Tulus Tambunan Kadin Indonesia, 2007

Kenaikan Harga BBM 2005 -Dampak terhadap inflasi Pemerintah dan kelompok kerja dari anggaran (APBN) dari DPR sepakat bahwa akibat kenaikan harga

bahan bakar minyak (BBM) tanggal 1 Oktober 2005 inflasi pada akhir tahun ini akan mencapai antara 8%-

8,6%, sedangkan Bank Indonesia memperkirakan jika harga BBM naik 50% maka inflasi akhir tahun akan

mencapai 9%, sedangkan jika harga BBM naik 80% inflasi bisa menembus dua digit atau tepatnya 12%.

Namun apakah perkiraan ini benar-benar akan terwujud, sangat tergantung pada empat hal utama.

Pertama, apa dampak dari kenaikan harga BBM terhadap biaya produksi. Kedua, langkah-langkah

penyesuaian apa yang akan diambil oleh dunia usaha, apakah akan meningkatkan efisiensi pemakaian energi

BBM atau mengurangi volume produksi sehingga bisa mengurangi tekanan inflasi. Ketiga, apa reaksi dari

masyarakat atau rumah tangga sebagai pemakai terbesar BBM, apakah akan mengurangi pemakaian BBM.

Keempat, apa reaksi dunia usaha, khususnya investor terhadap kenaikan harga BBM.

Untuk memperkirakan berapa besar kemungkinan dampak inflasi dan dampak pertumbuhan dari

kenaikan harga BBM, ada baiknya sedikit melihat sejarah kenaikan harga BBM yang telah terjadi beberapa

kali ini sejak reformasi dan perubahan Indeks Harga Konsumen (IHK) yang mencerminkan laju inflasi dan

pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) (Tabel 1 dan Gambar 1).

Tabel 1: Kenaikan harga BBM, Indeks Harga Konsumen (IHK), dan pertumbuhan per tahun Periode Besarnya kenaikan harga BBM IHK Pertumbuhan PDB per tahun

4 May 1998

Oktober 2000

Juni 2001 Januari 2003 Maret 2005 Juli 2005 Agustus 2005

71% (yang membuat akhirnya Soeharto turun) 12% 30% 22% (namun dibatalkan karena demonstrasi) 30% 115% (untuk industri) 93% - 150% (untuk industri)

77,63% Desember

7,97% Oktober 9,35% Desember

12,11% Juni

12,55% Desember

8,74% Januari 5,06% Desember

8,81% Maret (kenaikan 1,91%)*

8,12% April 7,40% Mei 7,84% Juli 8,33% Agustus**

-13.1%/tahun

5,1% September 4.,9%/tahun

3,8% Juni

3,8%/tahun

5,5% Maret 4,9%/tahun

6,4% Maret 5,5% Juni

5,9% (I-05/I-04) 2,4% (I-05/II-04)

Keterangan: *) menurut perhitungan LPEM-UI, jika harga BBM waktu itu naik 50%, inflasi diprediksi akan naik 2,5%. **) Biaya produksi diperkirakan naik 10%-30%

1

Gambar 1: Perkembangan Harga Minyak Domestik, IHK dan Pertumbuhan PDB di Indonesia

Keterangan: HP = harga premium; HD = harga diesel; HK harge kerosene. Semua dalam bentuk rasio terhadap harga pada tahun

-20

-10

0

10

20

30

40

50

60

70

80

90

1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 Juni

%

Pertumbuhan PDB riil IHK HP HD HK

1997 (tanpa dikali 100). Sumber: BPS

-Dampak terhadap pertumbuhan.

Pada semester I 2005 pertumbuhan ekonomi mencapai hanya 5,9%. Dengan kondisi suku bunga Bank

Indonesia (BI) 10%, diperkirakan pertumbuhan PDB Indonesia akan melemah, walaupun penurunannya

sangat kecil, ke 5,7%. Ini berarti bahwa dengan tingkat suku bunga 11%, tanpa memperhitungkan dampak

dari kenaikan harga BBM, pertumbuhan ekonomi rata-rata dalam tahun 2005 akan sekitar 5,5%, karena

investasi, terutama investasi langsung, diperkirakan akan melambat. Berdasarkan berbagai sumber (Dana

Moneter Internasional (IMF), Bank Pembangunan Asia (ADB) dan Citigroup), ekonomi Indonesia setelah

kenaikan harga BBM hingga Agustus 2005 diperkirakan akan tumbuh 5,6% tahun 2005 dan 5,9% tahun

2006 (Tabel 2); tentu dengan asumsi tidak ada goncangan-goncangan lainnya yang bisa sangat berpengaruh

terhadap pertumbuhan atau stabilitas ekonomi nasional.

Namun demikian, realisasi dari perkiraan di atas itu sangat tergantung pada banyak faktor yang juga

harus diprediksi arah pergerakannya atau kemungkinan perubahannya, diantaranya adalah insentif dari

pemerintah yang bisa menggairahkan sisi permintaan (konsumsi masyarakat) dan mengurangi dampak

peningkatan biaya akibat kenaikan BBM di sisi penawaran/produksi, dan empat faktor lainnya yang dibahas

di bagian berikutnya dari makalah ini.

2

Tabel 2: Realisasi Pergerakan Sejumlah Variabel Ekonomi Indonesia dan Prediksi 2005 dan 2006

Sumber: IMF, ADB, Citigroup.

-Beberapa Faktor

Pertama: Dampak terhadap Biaya Produksi.

Untuk mengetahui berapa besar efek dari kenaikan harga BBM terhadap biaya produksi, perlu diketahui

terlebih dahulu berapa sebenarnya kontribusi pemakaian energi BBM terhadap total biaya input atau

produksi di kalangan dunia usaha secara agregat; walaupun rasio ini sangat bervariasi antar jenis usaha.

Banyak sekali pendapat mengenai atau perkiraan dampak dari kenaikan harga BBM terhadap kegiatan

ekonomi, khususnya industri, dari sisi produksi (suplai). Misalnya, diperkirakan biaya produksi di Jawa

Timur akan naik lebih dari 30%. Pada saat harga BBM untuk industri naik pada bulan Agustus 2005 sebesar

93% (bensin) dan 150% (minyak tanah), biaya produksi naik antara 10%-30%.1Menurut hasil penelitian

dari Ekuitas AAA Securities, yang paling terpengaruh oleh kenaikan harga BBM adalah sektor barang

konsumsi, farmasi, dan otomotif. Akibat kenaikan harga BBM bulan Oktober ini, diperkirakan penjualan

kendaraan roda empat hanya tumbuh 20%, sedangkan untuk roda dua diperkirakan pertumbuhannya akan

turun dari perkiraan semula (sebelum kenaikan BBM) 30%-35% ke 25%-28%.2

1 Runik Sri Astuti dan Agustina Liliasari (2005), Industri di Jatim Mulai Loyo. Butuh Intensif Pajak, Penyederhanaan Administrasi, dan Kepastian Usaha, Kompas, Bisnis & Keuangan, Jumat 30 September, halaman 27. 2 Kompas, Bisnis & Keuangan, Pasar Optimistis Indeks Harga Saham Melonjak Tidak Langsung Berpengaruh ke Industri, Sabtu, 1 Oktober 2005, halaman 19.

3

Hasil pengolahan data statistik industri menunjukkan bahwa dari total input industri skala menengah dan

besar di Indonesia pada tahun 2003, bahan bakar minyak ternyata merupakan input dengan porsi terkecil,

yakni hanya sekitar 3,68% rata-rata dari total input industri. Implikasinya adalah bahwa jika harga BBM

naik 80%, maka biaya input industri naik hanya 2,94%.

Data statistik terakhir menunjukkan bahwa pangsa dari biaya energi (minyak, gas dan listrik) di dalam

total biaya industri sekitar 6,6% rata-rata. Tiga industri manufaktur yang memiliki porsi yang tinggi dari

biaya energi adalah semen, perkapuran dan gips (46%), barang-barang dari batu bara (24%), dan mebel

(22%). Sedangkan, industri tekstil, yang padat karya, porsi biaya energinya hanya sekitar 12% (Gambar 2).

Jadi, berdasarkan data ini, diperkirakan dampak dari kenaikan harga BBM terhadap kenaikan harga dari

prodk-produk manufaktur tidak akan besar, terkecuali industri-industri yang pangsa dari biaya energinya

cukup tinggi seperti industri semen.

Tentu cara penghitungan ini tidak sepenuhnya sempurna, karena input produksi juga menyangkut biaya

transportasi yang menggunakan BBM sebagai inputnya. Penelitian dari LPEM-UI menunjukkan bahwa

biaya BBM di dalam rata-rata biaya transportasi juga kecil.3Dengan memakai Tabel Input-Output (IO), hasil

penelitian tersebut menunjukkan bahwa biaya BBM untuk bus angkutan kota sekitar 22,2%, atau lebih

rendah dibandingkan biaya penyusutan dengan proporsi 33,9% dari total biaya sektor transportasi. Dengan

demikian, jika hanya diperhitungka kenaikan harga BBM (biaya-biaya lain konstan), secara rasional

kenaikan input produksi sektor transportasi pada kenaikan harga BBM awal Maret yang lalu hanya sekitar

6,44%.4

Menurut BPS, ada sekitar 14 jenis barang dan jasa yang mana harganya dikontrol oleh pemerintah.

Secara total, barang-barang dan jasa-jasa terebut mempunyai timbangan sekitar 20,74% di dalam Indeks

Harga Konsumen (IHK), dengan beras memiliki porsi terbesar sekitar 4,72%, disusul oleh transportasi

4,43%, listrik 2,96%, telefon 2,71% dan bahan bakar 1,95%. Jadi, hasil simulasi menunjukkan bahwa

dampak dari harga BBM yang lebih tinggi terhadap inflasi IHK sekitar 0,3%-0,5% untuk setiap 10%

kenaikan harga BBM; walaupun harus dibedakan antara kenaikan harga bahan bakar minyak dengan

kenaikan harga bahan bakar disel, karena timbangan dari jenis bahan bakar yang terakhir ini di dalam

keranjang konsumsi tidak terlalu tinggi, hanya sekitar 0,07%, dibandingkan 1,95% untuk bahan bakar

3 Syarif Syahrial (2005), Redam Ekspektasi Kenaikan Harga, Kompas, Bisnis & Keuangan, Sabtu, 1 Oktober, halaman 21. 4 Walaupun dalam kenyataannya, inflasi sektor transportasi yang ditunjukkan dengan pertumbuhan Indeks Harga Konsumen (IHK) transportasi bulan Maret dibandingkan bulan Februari mencapai 15,44%. Menurut Syahrial dari LPEM-UI, perbedaan ini, atau kenaikan yang lebih tinggi dari seharusnya disebabkan oleh faktor ekspektasi masyarakat yang berlebihan akan kenai