of 34/34
32 BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Gambaran Umum Sekolah Kristen Lentera 4.1.1 Sejarah Sekolah Kristen Ambarawa menjadi Sekolah Kristen Lentera Ambarawa Sekolah Kristen di Ambarawa dimulai pada masa sebelum perang dunia kedua dengan kehadiran sekolah H.C.S Met den Bijbel yang melanjutkan pelayanan Zendeling Baard untuk mengadakan pelayanan pemberantasan buta huruf di kalangan masyarakat Ambarawa. Akan tetapi, saat terjadinya perang dunia kedua sekolah HCS terpaksa ditutup. Melihat kondisi demikian, pada akhirnya beberapa orang yakni Sdr. Oie Ping Hoo, Sdr. Ang Liem Tjhiang dan beberapa rekannya terpanggil untuk melayani sekolah Kristen pada masa pendudukan Jepang. Mereka bersama dengan seorang yang berasal dari Belanda yakni Nn. Dorst pada tahun 1945 memulai merintis sekolah Kristen satu-satunya di Ambarawa pada saat itu. Namun, pada tahun 1950 sekolah Kristen di Ambarawa kembali ditutup sejalan dengan kepulangan Nn. Dorst ke Negeri Belanda (Koesomo 2011). 1 Agustus 1954 dicatat sebagai tanggal berdirinya lagi Sekolah Kristen Ambarawa di era kemerdekaan RI. Perjalanan panjang sekolah ini dimulai pada waktu masuknya Jepang dengan sekolah yang sangat

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Gambaran Umum Sekolah Kristen Lentera 4.1.1 Sejarah ... · 2015. 7. 6. · 32 BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Gambaran Umum Sekolah Kristen Lentera 4.1.1

  • View
    2

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Gambaran Umum Sekolah Kristen Lentera 4.1.1 Sejarah ... · 2015. 7....

  • 32

    BAB 4

    HASIL DAN PEMBAHASAN

    4.1 Gambaran Umum Sekolah Kristen Lentera

    4.1.1 Sejarah Sekolah Kristen Ambarawa menjadi

    Sekolah Kristen Lentera Ambarawa

    Sekolah Kristen di Ambarawa dimulai pada masa

    sebelum perang dunia kedua dengan kehadiran sekolah

    H.C.S Met den Bijbel yang melanjutkan pelayanan

    Zendeling Baard untuk mengadakan pelayanan

    pemberantasan buta huruf di kalangan masyarakat

    Ambarawa. Akan tetapi, saat terjadinya perang dunia

    kedua sekolah HCS terpaksa ditutup. Melihat kondisi

    demikian, pada akhirnya beberapa orang yakni Sdr. Oie

    Ping Hoo, Sdr. Ang Liem Tjhiang dan beberapa

    rekannya terpanggil untuk melayani sekolah Kristen

    pada masa pendudukan Jepang. Mereka bersama

    dengan seorang yang berasal dari Belanda yakni Nn.

    Dorst pada tahun 1945 memulai merintis sekolah

    Kristen satu-satunya di Ambarawa pada saat itu.

    Namun, pada tahun 1950 sekolah Kristen di Ambarawa

    kembali ditutup sejalan dengan kepulangan Nn. Dorst

    ke Negeri Belanda (Koesomo 2011).

    1 Agustus 1954 dicatat sebagai tanggal berdirinya

    lagi Sekolah Kristen Ambarawa di era kemerdekaan RI.

    Perjalanan panjang sekolah ini dimulai pada waktu

    masuknya Jepang dengan sekolah yang sangat

  • 33

    tergantung pada situasi perang pada masa itu

    (www.sekolah.lentera.org). Kegiatan belajar dan

    mengajar mulai berjalan lagi dan mengambil tempat di

    rumah Sdr. Siauw Oen Nio, dengan seorang pengajar

    Sdr. E. Goei Gwat Bing yang melayani 7 orang murid.

    Kemudian terjadi perpindahan lokasi lagi ke rumah

    sewaan milik Sdr. Kwee Kiem Gie, JL . Jend. Sudirman

    No. 117 Ambarawa. Setiap tahun jumlah murid terus

    bertambah sehingga lokasi sekolah tidak memadai

    untuk kegiatan belajar mengajar. Oleh karena itu,

    melalui seorang Pendeta yakni Ds. Tan Ik Hay,

    dilakukan pembangunan gedung sekolah tahun 1956.

    Tahun 1957 Sekolah Kristen Ambarawa pindah ke Jl.

    Dr. Cipto Mangunkusumo 20 Ambarawa dengan

    fasilitas 4 buah lokal, untuk 6 kelas SR (SD) dan satu

    kelas TK. Tahun 1961 atas kerjasama pengurus

    sekolah dengan Majelis GKI Salatiga, para Pendeta

    GKJ, Kepala SR (SD) Kristen Kupang dan Girimargo,

    maka dibukalah SMP Kristen menempati bekas Gedung

    Ketoprak (Koesomo 2011).

    Sekolah Kristen sejak awal kehadirannya adalah

    milik GKI Ambarawa dan dikelola sendiri oleh pihak

    GKI. Akan tetapi, sekitar tahun 1961 jemaat GKI

    Ambarawa mulai mengalami kesulitan dalam hal

    pengelolaan sekolah karena situasi yang dihadapi pada

    masa itu. Kondisi demikian pada akhirnya membuat

    Sekolah Kristen Ambarawa diampukan kepada Yayasan

  • 34

    PSAK Semarang (Wawancara tanggal 14 Juni 2013

    dengan Ibu Ratna selaku Ketua Yayasan Lentera

    Edukasi).

    Sejak dikelola oleh Yayasan PSAK pada tahun

    1961, Sekolah Kristen Ambarawa menjadi salah satu

    sekolah yang berkembang dan terkenal. Akan tetapi,

    seiring berjalannya waktu yaitu sekitar tahun 1990an

    Sekolah Kristen yang dikelola oleh Yayasan PSAK mulai

    mengalami kemerosotan. Menurut Ketua Yayasan

    lentera Edukasi, hal tersebut disebabkan karena

    pengelolaan sekolah yang dirasa kurang maksimal

    dilakukan oleh Yayasan PSAK. Oleh karenanya, pihak

    GKI berkeinginan untuk dapat kembali mengelola

    Sekolah Kristen yang merupakan milik GKI.

    Pendapat yang berbeda dikemukakan oleh salah

    satu pengurus Yayasan PSAK yang mengatakan bahwa

    pergantian sekolah yang terjadi tidak disebabkan

    karena ketidakmampuan Yayasan PSAK dalam

    mengelola sekolah melainkan adanya permasalahan

    yang terjadi antara YPSAK dan pihak gereja (GKI)

    tentang status tanah yang selama ini dihibahkan untuk

    sekolah (Wawancara tanggal 6 April 2013). Meskipun

    terdapat berbagai pendapat tentang latar belakang

    terjadinya pergantian, hal tersebut tidak menimbulkan

    permasalahan yang serius antar kedua pihak tersebut.

    Keinginan GKI untuk dapat kembali memiliki

    Sekolah Kristen milik Gereja terus diupayakan dan

  • 35

    disampaikan kepada pihak Yayasan PSAK meskipun

    hasilnya tetap mengecewakan. Pada tahun 2000,

    Majelis Jemaat Yang diwakili Pdt. Budimoeljono

    Reksosoesilo, S.Th, Pnt. Legiman Haryo Koesemo, Pnt.

    Tang Lan Hoa dan beberapa anggota jemaat yang tahu

    tentang sejarah persekolahan yakni Ibu Boenjamin,

    Sdr. Swandiyanto, Ibu Laila melakukan pembicaraan

    dengan pihak PSAK di Rumah Makan De Konning

    Semarang (Koesomo 2011).

    Dalam pertemuan tersebut, pihak PSAK bersedia

    mengembalikan persekolahan termasuk para

    pengajarnya kepada GKI Ambarawa dengan syarat GKI

    Ambarawa menyerahkan uang sebesar Rp 200.000.000

    yang akan dipergunakan untuk mendanai peningkatan

    mutu personalia SMEA Masehi Ambarawa. Namun, hal

    tersebut tidak dapat dipenuhi oleh GKI Ambarawa pada

    saat itu karena GKI Ambarawa merupakan sebuah

    gereja kecil yang memiliki keterbatasan dalam hal dana.

    Hingga pada akhir tahun 2006, dengan bantuan dari

    Bpk. Gunawan Tirtaatmaja dari Semarang yang

    menyediakan dana pinjaman sebesar yang diperlukan

    oleh GKI kepada Majelis Jemaat GKI Ambarawa,

    akhirnya pihak GKI dapat membayar kompensasi

    tersebut dan kembali mengelola Sekolah Kristen.

    Dalam proses penyelesaian keuangan hingga

    pengembalian sekolah, pihak-pihak yang dilibatkan

    yaitu pihak Yayasan PSAK dan pihak GKI Ambarawa

  • 36

    yang diwakili oleh panitia kecil yang terdiri dari

    Pemimpin Jemaat GKI yaitu Pdt. Budimoeljono

    Reksosusilo, S.Th dan Majelis. Baik Pendeta maupun

    Majelis yang mewakili pihak GKI inilah yang pada

    akhirnya juga menjadi bagian dari pengurus Yayasan

    Lentera Edukasi sejak resmi didirikan Sekolah Kristen

    Lentera tanggal 1 Juli 2007.

    Sekolah Kristen Lentera berdiri dengan memiliki

    empat jenjang pendidikan yaitu Kelompok Bermain, TK,

    SD dan SMP. Tujuan utama didirikan Sekolah Kristen

    Lentera yaitu untuk menghadirkan sebuah sekolah

    yang ideal. Sebuah sekolah dimana anak-anak yang

    dibentuk di dalamnya tidak hanya dikembangkan

    secara kogntif tetapi juga secara karakter dan spiritual.

    Oleh karena itu, Sekolah Kristen Lentera dikelola oleh

    Yayasan Lentera Edukasi dengan filosofi:

    1. Berpusat pada Allah Tritunggal

    2. Membentuk karakter seperti Kristus

    3. Menolong pertumbuhan kecerdasan individual,

    sesuai anugerah Tuhan Yesus Kristus

    Selain itu, Sekolah Kristen Lentera juga memiliki Motto

    yaitu Menjadi diri dalam anugerah-Nya dan Slogan

    yaitu Anak-anak Lentera menjadi baik, lebih baik dan

    terbaik.

  • 37

    4.1.2 Visi dan Misi Sekolah Kristen Lentera

    Visi : Terwujudnya kecerdasan hidup sesuai anugerah-

    Nya.

    • Terwujudnya, yakni panggilan dan ketaatan

    untuk mewujudkan anugerah Tuhan bagi

    sesama;

    • Kecerdasan Hidup, yaitu kemampuan yang

    dianugerahkan Allah bagi setiap orang untuk

    semaksimal mungkin dikembangkan;

    • Anugerah-Nya, ialah ukuran dan orientasi dalam

    menilai semua proses terwujudnya kecerdasan

    hidup.

    Misi : Sekolah Kristen Lentera mempunyai komitmen

    untuk mewujudkan visi dengan:

    1. Berfokus pada Allah Tritunggal sebagai komitmen

    iman dalam mewujudkan anugerah-Nya;

    2. Menolong pendidik mengembangkan diri sesuai

    anugerah Allah;

    3. Membantu pendidik menerapkan anugerah Allah

    pada siswa;

    4. Mengembangkan sistem edukasi yang

    berorientasi pada anugerah Allah;

    5. Menjadikan edukasi, yang mengutamakan nilai-

    nilai kristiani, sebagai pintu menghadapi realita

    global;

  • 38

    6. Menyiapkan generasi yang mampu menghadapi

    realita global;

    7. Menggunakan pendekatan Multiple Intelligences

    untuk menerjemahkan kurikulum pendidikan

    nasional;

    8. Mengajak masyarakat untuk membangun diri

    sebagaimana anugerah Allah telah berikan.

    4.1.3 Struktur Organisasi Sekolah Kristen Lentera

    Robbin dan Fattah (dalam Amtu 2011)

    mengemukakan bahwa suatu struktur organisasi

    menetapkan bagaimana tugas pekerjaan dibagi,

    dikelompokkan, dan dikoordinasikan secara formal.

    Pada struktur organisasi tergambar posisi kerja,

    pembagian kerja, jenis kerja yang harus dilakukan,

    hubungan atasan dan bawahan, kelompok, komponen

    atau bagian, tingkat manajemen dan saluran

    komunikasi. Berikut ini merupakan gambaran struktur

    organisasi dari Sekolah Kristen Lentera di Ambarawa :

    Gambar 4.1 Struktur Organisasi Yayasan Lentera Edukasi (Sumber : www.sekolah.lentera.org)

  • 39

    Dalam menjalankan proses pendidikan di

    Sekolah Kristen Lentera, setiap pihak dalam struktur

    organisasi memiliki tugas yang diatur dalam SOP dan

    pedoman kerja. Dengan demikian pihak yang dimaksud

    akan menjalankan tugasnya berdasarkan job

    description yang ada untuk kemajuan sekolah.

    Untuk pengelolaan pada masing-masing jenjang

    pendidikan, setiap Kepala Sekolah diberikan

    kepercayaan penuh oleh pihak Yayasan Lentera

    Edukasi dalam memimpin sekolah dan melakukan

    berbagai upaya untuk perkembangan sekolah dengan

    bantuan guru dan karyawan lainnya. Untuk tingkat

    pendidikan SMP sendiri, saat ini Sekolah Kristen

    Lentera didukung dengan tenaga pengajar sebanyak 12

    orang serta beberapa karyawan lainnya yaitu satu

    pegawai TU, satu Bendahara, satu Pembantu Umum

    dan satu petugas keamanan.

    4.2 Analisis Strategi Bersaing Sekolah Kristen

    Lentera

    Strategi bersaing merupakan upaya sekolah

    untuk menghadapi persaingan dengan cara

    memberikan berbagai hal yang terbaik guna memenuhi

    kebutuhan masyarakat. Strategi bersaing yang

    dijalankan oleh sekolah dapat terdiri dari keunggulan

    biaya, diferensiasi dan fokus. Dengan menjalankan

    strategi bersaing, maka sekolah akan mampu untuk

  • 40

    bertahan dan bahkan berkembang dari waktu ke waktu

    meskipun diperhadapkan dengan persaingan.

    Berkaitan dengan hal tersebut, hasil penelitian

    menunjukkan bahwa SMP Kristen Lentera juga

    menjalankan strategi bersaing untuk menghadapi

    persaingan yang terjadi dalam dunia pendidikan. Untuk

    mengetahuinya secara rinci maka akan dijelaskan

    dalam ketiga pendekatan (keunggulan biaya,

    diferensiasi, fokus) dari strategi bersaing berikut ini,

    berdasarkan data-data yang diperoleh pada saat

    penelitian.

    4.2.1 Keunggulan Biaya

    Keunggulan biaya merupakan strategi sekolah

    dalam memberikan biaya yang murah kepada

    masyarakat bila dibandingkan dengan sekolah lainnya.

    Dalam hal ini setiap sekolah berupaya untuk

    menetapkan biaya yang tepat agar masyarakat dapat

    tertarik dan memilih sekolah tersebut. Untuk

    menentukan biaya yang murah dan tepat, sekolah juga

    perlu mempertimbangkan kondisi sekolah itu sendiri

    dan besarnya biaya pada sekolah lainnya. Dengan

    demikian, biaya yang telah ditentukan oleh sekolah

    akan memberikan keuntungan bagi kedua pihak yakni

    sekolah dan masyarakat.

  • 41

    Berkaitan dengan hal tersebut, hasil penelitian

    menunjukkan bahwa SMP Kristen Lentera telah

    berupaya untuk menetapkan biaya yang tepat dengan

    berbagai pertimbangan sehingga mendapatkan biaya

    pendidikan yang sesuai dengan kondisi SMP Kisten

    Lentera, meskipun tidak sepenuhnya tergolong murah.

    Berikut ini merupakan rincian biaya pendidikan pada

    SMP Kristen Lentera dan juga beberapa sekolah swasta

    lainnya, yang ditunjukkan pada tabel 4.1

    Tabel 4.1 Kewajiban Biaya Pendidikan di SMP Kristen Lentera

    dan SMP Swasta lainnya di Ambarawa

    Jenis SMP Kristen Lentera

    SMP Pangudi Luhur

    SMP Taman Dewasa

    Uang SPP Rp 100.000 – Rp 200.000/bln

    Rp 150.000 – Rp 200.000/bln

    Rp 70.000 – Rp 80.000/bln

    Uang Kegiatan Rp 125.000/thn Rp 20.000/bln –

    Uang Tes Rp 10.000/tes – Rp 100.000/tes

    Tabungan Wajib Rp 15.000/bln Rp 25.000/bln –

    Uang Komite Rp 4.000/bln – –

    Uang Komputer _ Rp 20.000/bln _

    Sumber : Kepala SMP Kristen Lentera, Kepala SMP Taman Dewasa,

    Administrasi SMP Pangudi Luhur

    Biaya pendidikan SMP Kristen Lentera seperti

    terlihat dalam tabel 4.1 merupakan biaya yang berlaku

    hingga tahun pelajaran 2012/2013. Biaya pendidikan

    khususnya untuk uang kegiatan dan uang SPP dapat

    mengalami perubahan bergantung pada kondisi dan

    kebutuhan sekolah setiap tahunnya serta adanya

    kesepakatan bersama dari semua pihak. Biaya

    pendidikan tersebut bila dibandingkan dengan sekolah

  • 42

    swasta lainnya maka terlihat bahwa terdapat beberapa

    perbedaan. Pada SPP, SMP Taman Dewasa

    menawarkan biaya pendidikan yang lebih murah dari

    SMP Kristen Lentera sedangkan SMP Pangudi Luhur

    menawarkan biaya pendidikan yang kisarannya sama

    dengan SMP Kristen Lentera.

    Untuk uang kegiatan, SMP Kristen Lentera tidak

    menetapkan pembayaran secara bulanan seperti

    sekolah lainnya melainkan dibayarkan sekali untuk

    kegiatan selama setahun. Bila dilakukan perhitungan

    tentang biaya tersebut dan dibandingkan dengan

    sekolah lainnya, maka akan mendapatkan hasil bahwa

    biaya pada SMP Kristen Lentera lebih murah

    dibandingkan sekolah lainnya. Selain itu, biaya

    pendidikan lainnya pada SMP Kristen Lentera juga

    lebih murah dibandingkan sekolah swasta lain seperti

    uang tes dan tabungan wajib. Sedangkan beberapa

    biaya pendidikan pada SMP Kristen Lentera yang tidak

    terdapat di sekolah swasta lainnya disebabkan karena

    disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan setiap

    sekolah.

    Perbedaan lainnya berkaitan dengan biaya

    pendidikan yaitu besarnya SPP yang berlaku di sekolah

    swasta lain pada umumnya sama untuk semua siswa

    ataupun sama untuk setiap tingkatan kelas. Sedangkan

    pada SMP Kristen Lentera setiap siswa dari berbagai

    tingkatan kelas memiliki SPP yang berbeda-beda.

  • 43

    Berikut ini penjelasan Kepala SMP Kristen Lentera

    tentang SPP, saat wawancara tanggal 13 Juni 2013 :

    “SPP-nya berjenjang tetapi tidak jauh berbeda antara satu dengan yang lainnya. Jadi ada yang Rp 130.000, Rp 140.000 dan Rp 170.000. Tergantung kemampuan orang tua.”

    Penjelasan Kepala SMP Kristen Lentera tersebut

    menunjukkan bahwa adanya kebijakan pihak Sekolah

    Kristen Lentera dalam hal menetapkan biaya

    pendidikan yang berbeda atau berjenjang karena

    sekolah mempertimbangkan latar belakang dan

    kemampuan dari orang tua siswa. Pihak sekolah tidak

    ingin memberatkan orang tua siswa dengan biaya

    pendidikan tersebut sehingga pada akhirnya pihak

    sekolah tidak menetapkan biaya tertentu yang

    kemudian diberlakukan merata untuk semua siswa.

    Untuk menentukan berbagai biaya pendidikan

    pada SMP Kisten Lentera seperti yang terdapat dalam

    tabel 4.1, pihak sekolah tidak melakukannya sendiri

    melainkan melibatkan juga pihak Yayasan, Komite

    Sekolah serta orang tua siswa khususnya pada saat

    penentuan besarnya SPP. Penentuan besarnya jumlah

    SPP dilakukan melalui proses wawancara hingga pada

    akhirnya mencapai kesepakatan bersama antara orang

    tua dan pihak sekolah sedangkan biaya lainnya

    ditentukan oleh pihak sekolah.

  • 44

    Dalam menentukan biaya yang tepat, pihak SMP

    Kristen Lentera juga mempertimbangankan pada

    besarnya biaya pendidikan sekolah swasta lain di

    sekitar Ambarawa, selain melihat kepada kemampuan

    orang tua siswa itu sendiri. Hal ini bertujuan agar biaya

    yang ditetapkan tidak terlalu mahal dan pihak sekolah

    sendiri tidak memberatkan siswa dengan biaya

    pendidikan tersebut.

    Berkaitan dengan biaya pendidikan pada SMP

    Kristen Lentera, hasil penelitian melalui wawancara dan

    juga penyebaran kuesioner mengungkapkan adanya

    berbagai pendapat dan penilaian yang dikemukakan

    oleh orang tua, guru, Kepala Sekolah dan pihak

    Yayasan Lentera Edukasi tentang mahal tidaknya biaya

    pendidikan yang ditetapkan oleh SMP Kristen Lentera.

    Pendapat yang pertama dikemukakan Kepala

    SMP Kristen Lentera saat wawancara 13 Juni 2013 :

    “Kalau dibandingkan dengan sekolah negeri jelas tidak lebih murah karena kita juga berusaha untuk memberikan pelayanan yang baik. Tentu juga tidak bisa kalau murah untuk suatu hal yang memadai, yang layak bagi pelayanan pendidikan. Kalau dibandingkan dengan negeri pasti lebih mahal. Kalau dibandingkan dengan swasta yang lain, memang ada swasta yang lain yang lebih rendah tapi ada juga swasta yang imbang dengan kita.”

    Pendapat yang dikemukakan oleh Kepala SMP

    Kristen Lentera tersebut menunjukkan bahwa biaya

    pendidikan pada SMP Kristen Lentera tidak tergolong

    murah namun juga tidak mahal. Dengan kata lain

  • 45

    biaya pendidikan pada SMP Kristen Lentera berada

    pada posisi menengah. Hal ini didasari pada kenyataan

    yang dilihat oleh Kepala Sekolah dimana sekolah

    swasta yang lain memiliki SPP yang hampir sama

    dengan SMP Kristen Lentera dan tidak banyak sekolah

    yang menawarkan biaya yang murah karena adanya

    tuntutan kebutuhan dari setiap sekolah.

    Biaya pendidikan pada SMP Kristen Lentera

    dapat juga dikatakan relatif. Bagi sebagian orang dapat

    dikatakan murah namun juga sebaliknya, tergantung

    dari penilaian dan kemampuan setiap orang. Hal ini

    seperti pendapat dan penilaian yang dikemukakan oleh

    Ketua Yayasan Lentera Edukasi, orang tua dan guru.

    Meskipun adanya berbagai pendapat dan

    penilaian terhadap biaya pendidikan pada SMP Kristen

    Lentera, namun menurut pandangan orang tua dan

    Kepala SMP Kristen Lentera biaya pendidikan tersebut

    untuk saat ini sudah tepat karena mempertimbangkan

    pada kemampuan orang tua siswa. Selain itu, biaya

    tersebut juga cukup membantu dalam memenuhi

    kebutuhan sekolah khususnya dana. Meskipun pada

    kenyataannya tidak semua kebutuhan sekolah dapat

    tercukupi oleh iuran dari orang tua siswa misalnya saja

    dalam upaya memenuhi fasilitas olah raga.

    Untuk itu, agar dapat memenuhi semua

    kebutuhan sekolah dan memperlancar proses

    pendidikan kedepannya, pihak SMP Kristen Lentera

  • 46

    akan terus meninjau dan mengevaluasi biaya

    pendidikan tersebut serta melakukan perubahan jika

    dimungkinkan.

    4.2.2 Diferensiasi

    Diferensiasi merupakan strategi sekolah untuk

    dapat menjadi berbeda dengan sekolah-sekolah lainnya.

    Dalam mencapai hal tersebut, sekolah berupaya

    memberikan program, pelayanan dan juga ciri khas

    sekolah yang berbeda dan unik sehingga dapat menarik

    minat masyarakat.

    Berkaitan dengan hal tersebut, hasil penelitian

    menunjukkan bahwa yang membedakan SMP Kristen

    Lentera dengan sekolah swasta lainnya di Ambarawa

    yaitu terletak pada ciri khas sekolah. Sebagai satu-

    satunya sekolah swasta Kristen untuk jenjang SMP di

    Kecamatan Ambarawa, SMP Kristen Lentera berupaya

    untuk mewujudkan ciri khasnya dengan menekankan

    pengenalan akan Tuhan Yesus kepada para siswa. Hal

    ini seperti yang dikemukakan oleh Ketua Yayasan

    Lentera Edukasi pada saat wawancara tanggal 14 Juni

    2013:

    “Kami konsen dengan pengenalan Tuhan Yesus kepada anak. Itu yang mungkin di sekolah lain tidak. Karena kami satu-satunya sekolah Kristen di Kecamatan Ambarawa untuk SMP dan kami terbeban untuk memperkenalkan Tuhan Yesus kepada mereka. Itu yang menjadi ciri khas Sekolah Kristen Lentera.”

  • 47

    Pengenalan akan Tuhan dilakukan karena sesuai

    dengan tugas dan fungsi dari Sekolah Kristen. Selain

    itu juga untuk mewujudkan Visi dari Sekolah Kristen

    Lentera yaitu “Terwujudnya kecerdasan hidup sesuai

    anugerah-Nya”. Meskipun sekolah sangat menekankan

    ciri khasnya sebagai sekolah Kristen, tetapi pihak

    sekolah tidak membatasi siswanya hanya kepada yang

    beragama Kristen saja melainkan juga menerima siswa

    yang beragama lain seperti Islam. Hal ini menunjukkan

    bahwa SMP Kristen Lentera bersikap terbuka terhadap

    perbedaan meskipun sekolah berciri khas Agama.

    Untuk dapat lebih menekankan ciri khasnya

    sebagai sekolah yang didirikan atas dasar Kristen,

    Kepala SMP Kristen Lentera mengemukakan bahwa

    sekolah perlu diwarnai dengan kegiatan-kegiatan

    Kristen. Berkaitan dengan hal tersebut, SMP Kristen

    Lentera mengadakan berbagai kegiatan kerohanian

    yang dilakukan untuk menunjukkan ciri khasnya

    sehingga sesuai dengan Visi & Misi Sekolah. Kegiatan

    tersebut yaitu ibadah untuk guru dan karyawan yang

    dilakukan setiap hari pada pukul 07.00 pagi. Bentuk

    ibadah tersebut bervariasi setiap harinya seperti

    khotbah, share dalam kelompok kecil, kesaksian dan

    doa bersama. Sedangkan untuk siswa diadakan ibadah

    rutin setiap bulan dan juga renungan pagi di setiap

    kelas untuk mengawali kegiatan belajar pada hari

    tersebut. Selanjutnya ibadah thanks giving day sebagai

  • 48

    bentuk ungkapan syukur kepada Tuhan atas segala

    hal, yang diikuti oleh seluruh keluarga besar Sekolah

    Kristen Lentera.

    Selain menekankan pada ciri khas sebagai

    sekolah Kristen, SMP Kristen Lentera juga memiliki

    beberapa diferensiasi lainnya bila dibandingkan dengan

    sekolah lain di sekitar Ambarawa. Diferensiasi tersebut

    meliputi kegiatan pembelajaran, hubungan sosial

    dengan masyarakat, pelayanan bagi semua pihak yakni

    siswa, guru, maupun orang tua siswa. Berbagai hal

    tersebut akan ditampilkan dalam tabel 4.2 berikut ini :

    Tabel 4.2 Diferensiasi SMP Kristen Lentera

    NO PROGRAM

    1 Multiple Intelligences

    - Multiple Intelligences (MI) diterapkan sejak berdirinya Sekolah Kristen Lentera pada tanggal 1 Juli 2007.

    - Tujuan menerapkan multiple intelligences (MI) agar dapat membantu siswa-siswi dalam menemukan dan mengembangkan bakat atau kepintarannya.

    - Pendekatan multiple intelligences (MI) telah berhasil menjadikan siswa-siswi SMP Kristen Lentera berprestasi dalam berbagai bidang (lihat lampiran 3)

    2 Parent Seminar

    - Seminar bagi orang tua siswa dengan tema-tema tertentu seperti “Kerjasama Sekolah-Orangtua” dan “Sikap dan Kebiasaan Belajar Menghadapi Tantangan Abad 21”.

    - Pihak sekolah berkomitmen untuk terus membangun relasi yang dekat dengan para orang tua/wali murid dan memberikan informasi serta materi yang bermanfaat bagi para orang tua.

    - Kegiatan ini diselenggarakan dengan bantuan dari Direktur Eksekutif Sekolah Kristen Lentera dan kejasama dengan pihak lainnya seperti sekolah IPEKA Jakarta. Dalam kerjasama tersebut IPEKA mendatangkan AAS (Adobe A School) dari Jakarta.

  • 49

    NO PROGRAM

    3 Moving Class

    - Program Moving Class mulai diterapkan di SMP Kristen Lentera sejak tahun pelajaran 2012/2013 dan belum dilakukan oleh sekolah lainnya di kecamatan Ambarawa.

    - Pertimbangan sekolah menerapkan moving class yaitu untuk mengatasi masalah keterbatasan ruang kelas.

    - Sekolah menyesuaikan antara ruang kelas yang ada dengan setiap mata pelajaran dan menyediakan fasilitas pendukung program moving class (lihat lampiran 4).

    4 Hari Budaya

    - Program Hari Budaya Sekolah Kristen Lentera dilaksanakan pada bulan Oktober dalam rangka memperingati Sumpah Pemuda dan bulan Bahasa.

    - Kegiatan ini berupa Pawai Budaya yang diikuti oleh siswa dan guru dari semua jenjang pendidikan di Sekolah Kristen Lentera yang juga mengenakan pakaian adat dari berbagai daerah di Indonesia.

    5 Sekolah Lima Hari

    - Sekolah lima hari hanya diterapkan di SMP Kristen Lentera untuk Kecamatan Ambarawa. Sekolah dimulai pukul 07.25 dan berakhir pukul 14.30.

    - Sekolah mempertimbangkan kondisi siswa dan memberikan kesempatan untuk siswa memiliki waktu yang cukup di akhir pekan sehingga ketika kembali bersekolah di hari Senin lebih siap dan bersemangat.

    6 Wasana Warsa Sekolah Kristen Lentera

    - Wasana Warsa adalah kegiatan untuk menutup tahun ajaran yang telah selesai untuk semua jenjang pendidikan yang ada di Sekolah Kristen Lentera.

    - Kegiatan diisi dengan ibadah, penampilan berbagai bakat dan talenta dari siswa Sekolah Kristen Lentera, serta pemberian penghargaan dan piagam kepada 3 siswa peraih nilai tertinggi di setiap grade.

    7 Field Trip

    - Field Trip merupakan program SMP Kristen Lentera dan Sekolah Pelita Harapan International Lippo Village yang telah dilakukan sejak tahun 2011

    - Siswa-siswa dari SKL dan SPH berkesempatan untuk belajar bahasa (Jawa dan Inggris), mengenal permainan daerah dan juga merasakan kehidupan masyarakat di desa seperti menanam padi, memancing dan berbelanja di pasar tradisional.

  • 50

    Tabel 4.2 di atas menunjukkan bahwa SMP

    Kristen Lentera memiliki berbagai program yang sejauh

    ini tidak ditemukan pada sekolah lainnya di Kecamatan

    Ambarawa. Hal ini dapat dibuktikan dengan data

    tentang program-program dari sekolah lainnya di

    Ambarawa yang diperoleh berdasarkan wawancara

    dengan beberapa pihak pada sekolah lainnya di

    Ambarawa. Dalam wawancara tersebut diperoleh

    informasi bahwa SMP swasta lainnya menjalankan

    program yakni sekolah selama enam hari seperti

    sekolah pada umumnya dan kegiatan sosial seperti

    program bakti sosial, penyerahan hewan kurban pada

    saat hari raya serta kunjungan ke Panti Asuhan.

    Sedangkan kegiatan untuk orang tua sendiri dilakukan

    pada awal tahun pelajaran untuk mensosialisasikan

    progam sekolah dalam tahun ajaran yang baru dan

    juga pada kahir tahun pelajaran pada saat pembagian

    laporan pendidikan.

    Berdasarkan berbagai penjelasan tersebut

    tentang program dari sekolah swasta lainnya, maka

    dapat dikatakan bahwa program yang dimiliki oleh SMP

    Kristen Lentera seperti terlihat dalam tabel 4.2, benar-

    benar tidak ditemukan pada SMP swasta lainnya di

    Ambarawa.

    Pertimbangan SMP Kristen Lentera untuk

    melaksanakan berbagai program yang berbeda dengan

    sekolah lainnya karena sekolah ingin mengembangkan

  • 51

    siswa sesuai dengan minat juga bakatnya dan hal

    tersebut akan semakin baik ketika dilakukan sejak

    dini. Pertimbangan lainnya yaitu karena berbagai

    program tersebut sesuai dengan perkembangan di masa

    sekarang dan merupakan kebutuhan dari siswa, guru

    dan orang tua siswa. Berbagai program tersebut dapat

    dilaksanakan berdasarkan keputusan bersama dari

    pihak sekolah dengan persetujuan pihak Yayasan.

    Beragam ide berkaitan dengan program tersebut dapat

    berasal dari guru, kepala sekolah maupun pihak

    yayasan.

    Berkaitan dengan berbagai program sekolah,

    Ketua Yayasan Lentera Edukasi mengemukakan bahwa

    pihak Sekolah Kristen Lentera telah berencana untuk

    menjalankan beberapa program kedepannya. Akan

    tetapi, belum dapat dipastikan kapan program tersebut

    direalisasikan karena pihak sekolah sendiri masih

    terkendala dengan ketersediaan tenaga pengajar yang

    sesuai kebutuhan. Berikut ini pernyataan Beliau, saat

    wawancara tanggal 14 Juni 2013 :

    “sebenarnya sekolah memiliki banyak harapan kedepan. Kami ingin ada klub Matematika, klub Kuark. Kami ingin ada bentukan kelompok-kelompok yang memang anak ini dia tertarik dengan alam, tertarik dengan matematika. Tidak hanya sekedar menyanyi dan menari. Kami juga ingin ada Bahasa Mandarin. Tapi kendalanya ya belum ada pengajarnya di Ambarawa.”

  • 52

    Rencana untuk mengadakan program baru juga

    diungkapkan oleh Kepala SMP Kristen Lentera. Beliau

    mengatakan bahwa pihak sekolah juga berencana

    untuk menambahkan beberapa kegiatan kedepannya

    seperti sablon dan pembuatan asesoris pada pelajaran

    Mulok sehingga semakin banyak pilihan yang diberikan

    kepada siswa.

    Berbagai pendapat yang dikemukakan tentang

    rencana progam kedepannya menunjukkan bahwa SMP

    Kristen Lentera selalu memberikan hal-hal yang baru

    kepada siswa dan mengupayakan yang terbaik untuk

    proses pendidikan di Sekolah Kristen Lentera. Hal ini

    dilakukan agar sekolah dapat menjadi unik dan

    berbeda dengan sekolah lainnya, dengan tetap mengacu

    pada visi dan misi sekolah.

    4.2.3 Fokus

    Fokus merupakan strategi sekolah dalam

    menentukan kelompok tertentu yang akan menjadi

    target atau sasarannya. Dalam strategi ini, pihak

    sekolah akan memberikan program-program ataupun

    menawarkan biaya tertentu yang sesuai dengan

    kelompok masyarakat yang telah ditentukannya. Hal ini

    dilakukan pihak sekolah agar dapat menarik minat

    kelompok tertentu dalam memilih sekolah.

    Berkaitan dengan strategi fokus, hasil penelitian

    menunjukkan bahwa dalam melaksanakan proses

  • 53

    pendidikan ataupun dalam menghadapi persaingan di

    dunia pendidikan, SMP Kristen Lentera tidak berfokus

    pada kelompok masyarakat tertentu untuk menarik

    minat mereka terhadap sekolah. Berikut pendapat

    Kepala SMP Kristen Lentera pada saat wawancara

    tanggal 13 Juni 2013 berkaitan dengan strategi fokus:

    “Kami tidak memiliki target untuk masyarakat tertentu. Kami terbuka dalam menerima siswa dan untuk siapa saja yang berminat. Di sekolahan kami bahkan siswanya tidak hanya dari Ambarawa tetapi ada yang dari Bawen, Banyu Biru, Tuntang.”

    Pendapat Kepala Sekolah tersebut dengan kata

    lain menunjukkan bahwa keberadaan SMP Kristen

    Lentera di Kecamatan Ambarawa terbuka untuk

    menerima siswa dari berbagai latar belakang tanpa

    adanya batasan. SMP Kristen Lentera juga memiliki

    program-program yang sasarannya ditujukan kepada

    masyarakat luas dan semua pihak yang ada di

    lingkungan Sekolah Kristen Lentera.

    Meskipun SMP Kristen Lentera terbuka untuk

    semua lapisan masyarakat tanpa adanya batasan

    untuk kelompok tertentu, akan tetapi hasil penelitian

    juga menunjukkan bahwa sebagian besar masyarakat

    yang memilih SMP Kristen Lentera berasal dari

    kalangan menengah ke bawah.

    Untuk hal tersebut, SMP Kristen Lentera

    berupaya untuk peduli dan memperhatikan siswa-siswi

    yang berasal dari kalangan bawah atau kurang mampu

  • 54

    khususnya dalam hal biaya pendidikan dengan cara

    memberikan beasiswa atau potongan SPP bagi siswa

    tersebut. Bukti nyata adanya pelaksanaan program

    sekolah berupa potongan SPP bagi siswa dikemukakan

    secara langsung oleh salah satu orang tua siswa pada

    saat wawancara tanggal 14 Juni 2013 :

    “Biaya SPP anak saya Rp 135.000 dan mendapatkan potongan dari sekolah Rp 70.000 jadinya setiap bulan anak saya hanya perlu membayar Rp 65.000.”

    Sedangkan untuk beasiswa, Sekolah Kristen

    Lentera memiliki salah satu program beasiswa yang

    dinamakan program Saudara Asuh sebagai hasil

    kerjasama dengan Sekolah IPEKA Jakarta. Dalam

    program ini sejumlah peserta didik Sekolah Kristen

    Lentera dari jenjang TK, SD dan SMP mendapatkan

    beasiswa dari Saudara Asuh mereka di IPEKA. Setiap

    bulannya para siswa IPEKA menyisihkan sebagian uang

    saku untuk mendukung saudara-saudara asuh mereka

    di berbagai sekolah Kristen di daerah-daerah, salah

    satunya adalah SKL.

    Tindakan yang dilakukan oleh SMP Kristen

    Lentera menunjukkan bahwa SMP Kristen Lentera

    peduli dan mampu mengatasi masalah biaya

    pendidikan yang dihadapi oleh siswa yang kurang

    mampu, meskipun SMP Kristen Lentera tidak memiliki

    fokus terhadap kelompok tertentu.

  • 55

    4.3 Pembahasan

    Berdasarkan hasil penelitian tentang strategi

    bersaing SMP Kristen Lentera yang mencakup tiga

    pendekatan yaitu keunggulan biaya, diferensiasi dan

    fokus, maka di dapat strategi bersaing yang digunakan

    oleh SMP Kristen Lentera. Oleh karena itu, agar dapat

    mengetahui lebih jelas apa yang melatarbelakangi SMP

    Kristen Lentera sehingga menjalankan strategi bersaing

    tersebut maka akan dilakukan pembahasan dari setiap

    pendekatan strategi bersaing tersebut.

    4.3.1 Keunggulan biaya

    Biaya pendidikan pada SMP Kristen Lentera

    terdiri dari SPP, uang kegiatan, uang tes, tabungan dan

    uang komite. Apabila dibandingkan dengan biaya pada

    sekolah swasta lainnya di Ambarawa, maka terlihat

    perbedaan dimana biaya yang ditetapkan oleh pada

    SMP Kristen Lentera khususnya dalam hal SPP akan

    sama besarnya dengan sekolah lainnya bahkan juga

    lebih mahal. Sedangkan untuk biaya lainnya SMP

    Kristen Lentera menetapkan biaya yang lebih murah

    dibandingkan sekolah lainnya. Dengan demikian dapat

    dikatakan juga bahwa SMP Kristen Lentera tidak

    menetapkan biaya pendidikan yang murah secara

    menyeluruh karena ada biaya yang tergolong mahal

    namun ada juga yang murah.

  • 56

    Kenyataan tersebut menjadikan SMP Kristen

    Lentera sebagai sekolah yang tidak tergolong murah

    dan juga menunjukkan bahwa SMP Kristen Lentera

    tidak menjalankan strategi keunggulan biaya. Sehingga

    pendapat yang dikemukakan oleh Hunger & Whellen

    (2003) bahwa sebuah lembaga akan menjadi produsen

    berbiaya rendah atau menawarkan biaya paling rendah

    yang bersaing dengan sekolah lainnya tidak terbukti

    dilakukan oleh SMP Kristen Lentera. Dengan kata lain,

    dapat dikatakan juga bahwa berbagai pendapat yang

    mengemukakan bahwa SMP Kristen Lentera sebagai

    sekolah yang tidak murah merupakan hal yang benar.

    Meskipun demikian, ada juga pendapat lainnya

    yang mengatakan bahwa biaya pendidikan pada SMP

    Kristen Lentera relatif, dalam artian tidak murah dan

    juga tidak mahal. Hal ini dikemukakan oleh sebagian

    guru dan orang tua siswa. Bagi orang tua siswa

    ataupun guru yang berasal dari kalangan menengah

    mungkin akan mengatakan biaya tersebut murah,

    namun bagi yang berasal dari kalangan bawah atau

    kurang mampu akan mengatakan biaya pendidikan

    tersebut tidak murah (mahal). Hal ini menunjukkan

    bahwa setiap orang memiliki penilaian yang berbeda-

    beda terhadap biaya pendidikan tersebut tergantung

    dari latar belakang kemampuan ekonomi dan juga

    sudut pandang mereka.

  • 57

    Adanya berbagai pendapat yang berbeda tentang

    biaya pendidikan pada Lentera tidak menjadi suatu

    permasalahan terlebih lagi jika pendapat tersebut

    menyebutkan bahwa SMP Kristen Lentera tidak

    tergolong sekolah yang murah. Dikatakan demikian

    karena pihak Sekolah Kristen Lentera sendiri

    menyediakan berbagai program dan fasilitas untuk

    menunjang aktivitas di sekolah yang sebanding dengan

    biaya yang dikeluarkan oleh siswa. Sedangkan bila

    dibandingkan dengan sekolah lain yang biaya

    pendidikannya lebih murah, maka akan terlihat

    perbedaan dimana fasilitas yang disediakan sekolah

    lainnya tidak sama dengan yang tersedia pada SMP

    Kristen Lentera atau dengan kata lain masih memiliki

    kekurangan. Dengan demikian dapat disimpulkan

    bahwa sekolah yang memberikan biaya murah belum

    tentu mampu memberikan fasilitas yang memadai.

    Kebijakan SMP Kristen Lentera dengan tidak

    menjalankan strategi tersebut tentunya didasari atas

    berbagai pertimbangan, salah satunya yaitu kondisi

    sekolah yang menghadapi masalah kekurangan dana

    sehingga menyebabkan defisit setiap bulannya. Defisit

    dapat dialami sekolah hingga saat ini karena seperti

    telah diketahui bahwa SMP Kristen Lentera merupakan

    sekolah yang baru berdiri tahun 2007 setelah

    terjadinya pergantian. Hal tersebut tentunya

    mempengaruhi kondisi sekolah dan membuat sehingga

  • 58

    SMP Kristen Lentera membutuhkan banyak dana agar

    dapat memperbaiki, menata dan mengelola sekolah

    agar lebih baik lagi kedepannya.

    Meskipun SMP Kristen Lentera tidak

    menjalankan strategi keunggulan biaya dan disebut

    juga sebagai sekolah yang tidak murah, pihak sekolah

    terus berupaya untuk menetapkan biaya pendidikan

    yang tepat dan sesuai dengan kondisi siswa serta

    kebutuhan sekolah. Hal ini sejalan dengan pendapat

    Lubis (2004) bahwa setiap sekolah perlu menetapkan

    harga yang paling tepat. Akan tetapi, sedikit

    perbedaannya yaitu Lubis menyebutkan juga bahwa

    biaya tersebut harus memberikan keuntungan,

    sedangkan biaya yang ditentukan oleh SMP Kristen

    Lentera tidak sepenuhnya memberikan keuntungan

    bagi pihak sekolah baik untuk jangka pendek maupun

    jangka panjang. Biaya tersebut hanya membantu

    sekolah dalam mengatasi kebutuhan dana saat ini.

    Tindakan sekolah lainnya yang dirasa tepat

    dalam menentukan biaya pendidikan namun tidak

    sejalan dengan strategi keunggulan biaya yaitu SPP

    yang berjenjang. Dikatakan tidak sesuai karena dalam

    menentukannya pihak sekolah mempertimbangkan

    faktor lain yaitu kemampuan orang tua siswa atau

    kondisi ekonomi keluarga siswa yang sebagian besar

    berasal dari keluarga menengah ke bawah. Sedangkan

    Wijaya (2008) menyebutkan bahwa dalam

  • 59

    melaksanakan strategi bersaing, sekolah hanya

    berfokus pada harga dan tidak memperhatikan

    berbagai faktor lainnya karena hal utama bagi sekolah

    adalah menawarkan jasa dan harga yang sangat

    bersaing. Oleh karena itu, meskipun sekolah memiliki

    tujuan yang baik dan tidak hanya mengutamakan

    kepentingan sekolah sendiri, akan tetapi hal tersebut

    tetap menunjukkan ketidaksesuaian dengan strategi

    keunggulan biaya.

    4.3.2 Diferensiasi

    SMP Kristen Lentera memiliki diferensiasi dalam

    hal ciri khasnya sebagai sekolah Kristen dan berbagai

    program yang dilaksanakan untuk siswa, guru, orang

    tua siswa maupun masyarakat. Untuk ciri khas sebagai

    sekolah Kristen, upaya sekolah dalam menekankan

    pengenalan akan Tuhan Yesus merupakan langkah

    yang tepat dan sesuai dengan tujuan sekolah Kristen

    dalam dunia pendidikan (Wirowidjojo, 2011) yaitu

    membantu berkembangnya seseorang atas dasar

    pandangan Kristen agar mencapai kedewasaan yang

    religious dan bertanggungjawab.

    Ketika setiap pihak yang menjadi bagian dari

    SMP Kristen Lentera dibentuk setiap hari melalui

    berbagi kegiatan rohani maka mereka dibantu untuk

    memiliki kehidupan dan karakter yang baik. Hal ini

    juga sangat penting karena dapat mempererat

  • 60

    hubungan antar siswa maupun guru dan

    meningkatkan rasa kebersamaan, kesatuan juga

    kerjasama dalam berbagai hal untuk kemajuan

    sekolah. Dengan demikian, maka SMP Kristen Lentera

    dapat menunjukkan bahwa SMP Kristen Lentera tidak

    hanya dikenal sebagai satu-satunya sekolah Kristen di

    Kecamatan Ambarawa, tetapi juga benar-benar mampu

    mewujudkan tujuan sekolah Kristen.

    Sebagai Sekolah Kristen yang menekankan

    pengenalan akan Tuhan Yesus, SMP Kristen Lentera

    terbuka untuk umum dan memberikan kesempatan

    bagi siswa yang beragama lain dan dari berbagai

    kalangan. Hal ini sejalan dengan pendapat Sairin (2011)

    yang mengatakan bahwa sekolah Kristen harus terbuka

    bagi semua peserta didik tanpa membedakan jenis

    kelamin, suku, agama, ras, golongan, kedudukan

    sosial, dan tingkat kemampuan ekonomi. Hal ini

    merupakan langkah yang tepat agar dapat

    menunjukkan bahwa sebagai Sekolah Kristen tidak

    berarti bahwa sekolah tersebut harus eksklusif dan

    hanya untuk kalangan tertentu. Dengan ciri khasnya,

    sekolah justru harus tetap terbuka untuk umum dan

    tidak membeda-bedakan karena itu merupakan wujud

    nyata pelayanan dan kesaksian kepada masyarakat

    luas. Selain itu juga karena sekolah dan pendidikan

    merupakan hak dari setiap orang. Siapapun dapat

    merasakan hal tersebut ketika mampu untuk

  • 61

    memenuhi ketentuan dan aturan yang berlaku di

    sekolah dan ketika nantinya mampu untuk memenuhi

    kewajibannya. Hal ini sesuai dengan empat fungsi dari

    Sekolah Kristen (Sairin, 2011) yaitu fungsi kesaksian

    dan pelayanan, fungsi pendidikan dan pengajaran,

    fungsi pembinaan, serta fungsi pelayanan masyarakat.

    Diferensiasi lainnya dari SMP Kristen Lentera

    yaitu berbagai program yang dijalankan oleh Yayasan

    Lentera Edukasi maupun oleh SMP Kristen Lentera.

    Berbagai program tersebut menunjukkan bahwa pihak

    sekolah tidak hanya memberikan program yang pada

    umumnya ditemukan di sekolah lain, melainkan

    sekolah mencoba memberikan program-program yang

    baru dan berbeda. Upaya tersebut dilakukan dengan

    cara sekolah mengumpulkan informasi dari siswa, guru

    maupun pihak lainnya di lingkungan Sekolah Kristen

    Lentera serta melihat perkembangan yang ada saat ini.

    Hal yang dilakukan SMP Kristen Lentera dapat

    dikatakan merupakan langkah yang tepat karena

    sekolah berupaya untuk memenuhi kebutuhan semua

    pihak yang berada di lingkungan SMP Kristen Lentera

    dan selalu mencoba memberikan pelayanan yang

    terbaik untuk kemajuan dan perkembangan sekolah.

    Tindakan sekolah ini sesuai dengan yang dikemukakan

    dalam salah satu sumber (staff.uny.ac.id) bahwa untuk

    dapat bersaing maka sebuah lembaga pendidikan perlu

    untuk memperhatikan faktor kebutuhan masyarakat.

  • 62

    Ketika sekolah mampu untuk terus memberikan yang

    terbaik bagi masyarakat maka sekolah akan mampu

    mempertahankan dan meningkatkan minat masyarakat

    akan sekolah.

    Jika dikaitkan dengan pendapat David (2008)

    yang mengatakan bahwa setiap sekolah harus selalu

    mencari cara melakukan diferensiasi untuk

    memungkinkan terus unggul dan mendapatkan

    kesetiaan dari pelanggan, maka dapat dikatakan bahwa

    upaya SMP Kristen Lentera dalam memberikan

    berbagai program merupakan salah satu cara sekolah

    untuk dapat tetap bertahan dan terus berkembang

    sebagai sekolah yang baru berdiri selama enam tahun.

    Semakin banyak pilihan yang dimiliki tentunya akan

    memperkuat struktur sekolah secara maksimal

    (Purwanto, 2011) dan pada akhirnya menimbulkan

    kesetiaan dari masyarakat yang telah menentukan

    pilihannya pada SMP Kristen Lentera.

    4.3.3 Fokus

    Hasil penelitian menunjukkan bahwa SMP

    Kristen Lentera tidak memiliki fokus pada kelompok

    masyarakat tertentu untuk menarik minat mereka

    terhadap sekolah. Dengan kata lain SMP Kristen

    Lentera terbuka kepada masyarakat dari berbagai

    kalangan dan wilayah. Langkah yang diambil oleh

    pihak sekolah ini berbeda dengan pendapat Porter

  • 63

    (1992) bahwa dalam menjalankan strategi fokus setiap

    sekolah akan terlebih dahulu memilih atau

    menentukan kelompok tertentu dan melayani kelompok

    tersebut dengan berbagai fasilitas dan program yang

    telah disediakan. Oleh karena itu maka dapat

    dikatakan bahwa SMP Kristen Lentera merupakan

    sekolah yang tidak menjalankan strategi fokus.

    Kebijakan sekolah untuk tidak memilih strategi

    fokus mungkin disebabkan karena keberadaan sekolah

    yang baru berdiri selama enam tahun dan masih

    berada dalam tahap memperkenalkan keberadaan

    sekolah kepada masyarakat luas. Oleh karena itu

    sekolah tidak dapat menjalankan strategis fokus untuk

    saat ini dan lebih memilih target yang luas. Ketika

    keberadaan SMP Kristen Lentera nantinya telah dikenal

    secara luas oleh masyarakat, maka pihak sekolah

    dimungkinkan untuk memilih fokus mereka.

    Keputusan sekolah untuk tidak memilih strategi

    fokus merupakan suatu langkah yang tepat bagi pihak

    sekolah. Hal ini mungkin disebabkan karena pihak

    sekolah sendiri tidak ingin adanya batasan dan

    perlakuan yang berbeda terhadap kelompok tertentu.

    Pihak SMP Kristen Lentera ingin memberikan

    kesempatan kepada semua masyarakat untuk

    menikmati pendidikan seperti beberapa Misi dari

    sekolah yaitu mengembangkan sistem edukasi dan

    mengajak masyarakat untuk membangun diri. Oleh

  • 64

    karena itu, SMP Kristen Lentera berupaya dalam

    memenuhi kebutuhan dan memberikan pelayanan yang

    baik kepada semua pihak yang ada di lingkungan

    Sekolah Kristen Lentera melalui program dan fasilitas

    yang tersedia meskipun SMP Kristen Lentera memiliki

    target yang luas.

    Salah satu contohnya dapat dilihat melalui

    kepedulian SMP Kristen Lentera kepada siswa-siswi

    yang memiliki masalah keuangan atau yang kurang

    mampu. Kepedulian yang dilakukan oleh pihak sekolah

    ini menunjukkan bahwa sekolah konsisten dalam

    memperhatikan semua pihak yang menjadi bagian dari

    sekolah. Hal tersebut tidak hanya ditunjukkan ketika

    sekolah ingin mendapatkan banyak peminat tetapi juga

    dalam berbagai situasi.

    Hal ini pada akhirnya menunjukkan bahwa

    sekolah yang memiliki target atau sasaran yang luas

    juga mampu untuk memberikan pelayanan yang baik

    kepada semua lapisan masyarakat, sama seperti

    sekolah yang memiliki fokus kepada kelompok tertentu.

    Dengan demikian maka pernyataan Hunger & Wheelen

    (2013) yang mengemukakan bahwa dengan strategi

    fokus suatu lembaga dapat melayani kelompok tertentu

    yang menjadi pilihannya dengan lebih baik

    dibandingkan yang lainnya tidak selamanya benar.

    Upaya tersebut sama-sama dilakukan oleh

    sekolah yang memilih strategis fokus dan tidak dengan

  • 65

    tujuan untuk tetap mempertahankan kelompok

    masyarakat yang menjadi pilihan mereka. Jadi upaya

    kepedulian sekolah ini tidak hanya dilakukan oleh

    sekolah yang memiliki fokus kepada kelompok tertentu

    untuk tetap mempertahankan strateginya seperti salah

    satu ciri-ciri strategi fokus (Widhyaestoeti 2012), akan

    tetapi juga dilakukan oleh sekolah yang memiliki

    sasaran luas.

    Selain itu, salah satu hasil penelitian juga

    menunjukkan bahwa sebagian besar siswa yang

    memilih SMP Kristen Lentera berasal dari kalangan

    menengah ke bawah meskipun pihak sekolah telah

    memberikan kesempatan kepada masyarakat luas. Hal

    ini dapat terjadi karena dipengaruhi juga oleh lokasi

    sekolah yang berada di Kecamatan Ambarawa, dimana

    sebagian besar masyarakat di sana berasal dari

    kelompok masyarakat menengah ke bawah. Dengan

    demikian, peminat pada Sekolah Kristen Lentera juga

    berasal dari kelompok masyarakat tersebut.