Dualitas Giddens Dalam Menengahi Dualisme Teori Strukturasi

  • View
    815

  • Download
    22

Embed Size (px)

Text of Dualitas Giddens Dalam Menengahi Dualisme Teori Strukturasi

Dualitas Dalam Menengahi Dualisme Teori Strukturasi

Giddens

Bahar Awal Septian

070810505

JURUSAN ILMU POLITIK FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS AIRLANGGA TAHUN 2010

Kata Pengantar

Bismillahirrohmanirrohim Dengan mengucapkan puji syukur kepada Allah SWT, akhirnya kami dapat menyelesaikan tugas individu ini sebagai tugas akhir semester mata kuliah Teori Politik Kontemporer dengan judul Dualitas Giddens Dalam Menengahi Dualisme di dalam Teori Strukturasi Makalah ini tentunya dapat tersusun berkat bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak. Pada kesempatan ini kami mengucapkan terima kasih atas bantuan dan bimbingan serta kerjasama semua pihak yang telah membantu dan membimbing kami. Kami menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih terdapat banyak kekurangan. Maka dari itu kami mohon kritik dan saran dari semua pihak agar tercapainya kesempurnaan. Kami juga berharap, semoga makalah ini dapat berguna bagi semua pihak.

Surabaya, 1 Januari 2010

Bahar Awal Septian

Teori Strukturasi

Teori strukturasi dipelopori oleh Anthony Giddens, seorang sosiolog Inggris yang mengembangkan apa yang disebutnya sebagai sosiologi sehari-hari. Sosiologi didasarkan pada pemahamanya atas strukturasi dalam sistem sosial. Teori ini ditawarkan dalam rangka membahas pertanyaan-pertanyaan seperti apakah manusia sebagai pelaku atau agen atau kekuatan sosial yang merupakan struktur yang membentuk masyarakat. Teori strukturasi menunjukkan bahwa agen secara kontinyu mereproduksi stuktur sosial artinya individu dapat melakukan perubahan atas struktur sosial. Tetapi struktur juga bisa mengekang manusia untuk tunduk dan patuh terhadap struktur sehingga tidak bisa memberdayakan manusia. Dua hal tersebut menunjukan adanya hubungan dualisme antara agen dan struktur yang saling menegasi atau bersitegang. Anthony Giddens berusaha menengahi dualisme tersebut dengan dualitas agen dan struktur dimana antara agen dan struktur bisa terjalin hubungan dialog bukan monolog.

1.

Latar Belakang Teori Strukturasi dan Kritik Giddens di Dalamnya Teori strukturasi menurut Giddens merupakan teori yang menepis dualisme (pertentangan) dan mencoba mencari hubungan timbal balik setelah terjadi pertentangan tajam antara struktur dan agen. Giddens tidak puas dengan teori pandangan yang menyebutkan bahwa agen dan struktur sama sama mampu mendominasi atau memiliki hubungan dualisme sehingga tidak bersifat dialog melainkan monolog, saling menegasi. Agen dianggap lebih dominan karena agen memiliki rasionalitas dan kebebasan yang lebih tinggi dibanding struktur, dan agenlah yang memiliki kebutuhan dibanding struktur sehingga bisa saja agen mendobrak struktur. Struktur bisa terbentuk oleh agen sehingga struktur diibaratkan seperti wayang yang dikendalikan oleh dalang sebagai agen karena agen dianggap memiliki intervensi dan kebebasan dalam menjalankan perintahnya atau aturannya sendiri. Menurut Hoobes bagaimana menciptakan suatu keteraturan dalam negara dimana negara harus berubah menjadi monster atau negara leviatan dimana negara menjadi struktur yang mengekang dan mengikat manusia untuk mendisiplinkan manusia agar tercipta keteraturan. Dalam pandangan Hoobes menyebutkan bahwa pada dasarnya manusia itu memiliki insting alamiah saling memangsa sehingga dibutuhkan aturan untuk mendisiplinkan sifat manusia tersebut sehingga menuntut manusia untuk patuh pada aturan tersebut dan akhirnya terciptalah keteraturan. Dari situ terlihat bahwa peran struktur sangat dominan dalam hubungan antara agen dengan struktur. Giddens menyelesaikan debat antara agen dan struktur dengan menyatakan atau berpegang bahwa struktur dibentuk melalui praktek sosial oleh agen dan tindakan manusia ditentukan oleh struktur yang lahir akibat adanya praktek sosial yang juga dipengaruhi oleh ruang dan waktu. Struktur tidak disamakan dengan kekangan seperti yang dikemukakan E. Durkheim dimana Durkheim menyebutkan bahwa struktur lebih dominan dan bersifat mengekang.

Sebelum membahas lebih lanjut teori strukturalist Anthony Giddens dan dualitasnya, kita akan melihat peta pemikiran teori strukturalis dari beberapa pemikir sebelum Anthony Giddens

2. Peta Pemikiran Teori Strukturasi Sebelum Giddens

Auguste Comte (1798) berpendapat bahwa keteraturan sosial tergantung pada pembagian pekerjaan dan kerjasama ekonomi. Individu-individu menjalankan kegiatan ekonomi untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Tetapi begitu pembagian kerja muncul, partisipasi individu dalam kegiatan ekonomi menghasilkan kerjasama, kesadaran akan ketergantungan juga bertambah. Pendapat Comte ini dimentahkan oleh Karl Marx (1818-1883), terutama ketika dia menganalisis bahwa potensi konflik akan lebih besar ketika ada perbedaan pekerjaan, karena perbedaan ini kemudian akan mengakibatkan munculnya perbedaan kelas dalam masyarakat. Menurut Marx, masyarakat terbentuk atas struktur dalam bentuk pembagian kelas masyarakat, yang terdiri dari kelompok kapitalis dan kelompok buruh/ pekerja. Ada dua macam kelas yang ditemukan Marx ketika menganalisis kapitalisme, yakni borjuis dan proletar. Kelas borjuis merupakan nama khusus untuk para kapitalis dalam ekonomi modern. Mereka memiliki alatalat produksi dan mempekerjakan pekerja upahan. Struktur dalam masyarakat terbentuk karena ada perbedaan penguasaan aset-aset ekonomi. Dimana kelompok kapitalis menguasai berbagai komoditas, alat-alat produksi, dan bahkan waktu kerja para pekerja karena mereka membeli para pekerja tersebut dengan gaji, sedangkan para pekerja hanya memiliki sedikit hak milik dan mereka harus memproduksi komoditas-komoditas demi keuntungan sejumlah kecil kapitalis. Dari sini dapat dilihat bahwa orang dalam masyarkat kapitalis dilihat juga sebagai penghasil berbagai produk dan komoditas. Marx berpendapat bahwa kekuasaan-kekuasaan politis telah diubah menjadi relasi-relasi ekonomi. Di samping itu, struktur ekonomi kapitalisme turut menentukan pemikiran dan tindakan individu. Marx berpikir bahwa eksistensi kelas-kelas dalam masyarakat berpotensi menimbulkan konflik. Konflik ini terjadi manakala muncul konfik kepentingan antara orang yang memberi upah para buruh dan para buruh yang bekerja. Misalnya: orang yang memberi upah berharap memberikan upah sekecil-kecilnya, sedangkan para buruh menghendaki yang sebaliknya. Marx berpikir bahwa perbedaan kelas dan konflik yang menyertainya hanya bisa diatasi dengan menciptakan dunia sosialis, dimana tidak ada penguasaan aset-aset produksi oleh salah satu pihak. Jadi aset-aset produksi harus dimiliki bersama. Dari sini Marx kemudian mendambakan sebuah masyarkat komunis dalam mana terjadi revolusi ekonomi besar-besaran. Sementara gerakan massa kaum buruh yang tidak puas dengan perlakuan yang mereka terima dari kaum kapitalis merupakan kekuatan revolusioner yang sewaktu-waktu bisa bangkit dan meruntuhkan kekuatan kapitalisme. Namun, teori Marx ini disanggah oleh Vilfredo Pareto (1848-1923). Pareto justru berpikir bahwa tidak realistis berharap akan tercapainya perubahan sosial yang dramatis melalui revolusi ekonomi. Menurut Pareto, masyarakat akan didominasi oleh sejumlah kecil elite yang memerintah berdasarkan kepentingan diri sendiri. Elite kecil ini memerintah massa rakyat yang didominasi oleh faktor non-rasional. Menurut Pareto, karena kapasitas rasional terbatas, maka mereka bukanlah kekuatan revolusioner. Pareto berpikir bahwa perubahan sosial terjadi manakalah elite mulai mengalami kemerosotan moral dan digantikan oleh elite baru

yang berasal dari elite yang tak memerintah atau unsur yang lebih tinggi dari massa. Segera setelah elite baru berkuasa, proses yang baru pun terjadi. Jadi, Pareto menyodorkan teori perubahan sosial melingkar, sedangkan Marx menyodorkan teori perubahan sosial linear. Pareto membayangkan masyarakat sebagai sebuah sistem yang berada dalam keseimbangan, sebagai kesatuan yang terdiri dari bagian-bagian yang saling tergantung. Perubahan satu bagian dipandang menyebabkan perubahan bagian lain dalam sistem. Dari sini dapat dilihat Pareto menganut teori sistem dalam pemikirannya tentang masyarakat. Dalam mana setiap sub-sistem dalam kesatuan sistemnya akan dipengaruhi dan turut mempengaruhi sub-sistem lainnya. Berbeda dengan Pareto yang menekankan masyarakat yang terikat dalam sistem, George Simmel (1858-1918) meninjau masyarakat lebih dari sudut interaksi sosial yang tercipta di dalamnya. Ia berpendapat bahwa masyarakat merupakan serangkaian interaksi. Menurutnya, struktur yang terbentuk dalam masyarakat, seperti: Negara, marga, keluarga, kota atau serikat pekerja, merupakan kristalisasi dari interaksi tersebut. Dalam kaitan dengan kelompok yang muncul dalam masyarakat, Simmel mengungkapkan pemikirannya tentang dyad (kelompok yang terdiri dari dua orang) dan triad (kelompok yang terdiri dari tiga orang). Dyad tidak memperoleh makna di luar individu yang terlibat di dalamnya, dan masing-masing anggota dyad akan mempertahankan tingginya level individualis. Sebaliknya, triad (yang memiliki kemungkinan besar memperoleh makna di luar individu yang terlibat) berpotensi melairkan struktur kelompok. Hal inilah yang menjadi ancaman bagi individualitas anggotanya. Lain halnya dengan pandangan Max Webber (1864-1920) seputar struktur sosial. Berbeda dari Karl Marx yang melihat stratifikasi yang tercipta dalam masyarakat diakibatkan semata karena faktor ekonomi, Weber menilai bahwa stratifikasi tersebut terbentuk karena halhal yang bersifat multidimensional, yakni basis ekonomi, status dan kekuasaan. Implikasinya adalah orang dapat menempati peringkat yang tinggi di satu atau dua dimensi stratifikasi tersebut sementara berada pada posisi yang lebih rendah di dimensi lainnya. Teori Weber ini merupakan kritik teori Marx sekaligus merupakan perkembangan teori yang melihat bahwa faktor ekonomi bukanlah faktor tunggal penentu struktur sosial masyarakat. Eksistensi George Lukacs sebagai seorang teoritisi yang menganut paham MarxismeHegelian tak dapat diabaikan dalam perkembangan teori sturktur. Lukacs mengkritik teori Marx yang mengungkapkan bahwa orang dalam masyarakat kapitalis merupakan penghasil produk atau komoditas, sehingga nilai dilihat sebagai sesuatu yang dihasilkan pasar dan bukan oleh aktor itu sendiri. Menurut Lukacs, oranglah yang menghasilkan komoditas dan sekaligus memberi nilai kepadanya. Perbedaan kelas dalam masyarakat yang menurut Marx disebabkan karena dampak dari distribusi faktor ekonomi yang tidak merata dinilai berbeda oleh Lucaks. Justru menurutnya, manusia dalam masyarakat kapitalis berhadapan dengan realitas yang diciptakannya sendiri (sebagai kelas) yang baginya tampak sebagai fenomena alamiah yang asing bagi dirinya sendiri. Dengan demikian, kaum proletar bukan teralienasi karena sistem, tapi karena diri mereka sendiri yang menganggap demikian. Hal tersebut karena mereka tunduk pada hukumhukum yang mereka buat sendiri. Konsep Lukacs inilah yang dikemudian dikenal dengan konsepnya mengenai kelas dan kesadaran palsu. Kesadaran kelas ini merujuk pada sistem kepercayaan yang dimiliki bersama oleh mereka yang menempati posisi kelas yang sama dalam masyarakat. Jadi, pada umumnya, masyarakat kapitalisme tidak memiliki pengertian yang jelas tentang kesadaran kelas mereka

sebenarnya. Kesadaran kelas mereka berarti ketidaksadaran atas kondisi ekonomi dan sosiohistoris seseorang yang dikondisikan kelasnya oleh kelas kepalsuan. Jika menurut Marx, perbedaan kelas dalam masyarakat menyebabkan rusaknya harmoni masyarakat, para penganut teori fungsionalisme struktural justru berpikir sebaliknya. Para penganut teori ini beranggapan bahwa perbedaan aktifitas dalam masyarakat merupakan hal yang harus diperlihara untuk mempertahankan kehidupan masyarakat. Perbedaan posisi dan aktifitas berarti juga perbedaan fungsi. Fungsi-fungsi yang berbeda dalam sistem ini, jika dipelihara dengan baik sangat produktif untuk mencapai tujuan masyarakat. Gugusan aktivitas justru harus diciptakan sesuai dengan kebutuhan sistem. Talcot Parson, salah seorang tokoh fungsionalisme struktural mengemukakan sistem yang disebut AGIL, yakni adaptasi, pencapaian tujuan, integrasi, dan latensi (pemeliharaan pola). Sistem inilah yang harus dijalankan agar masyarakat bisa harmonis. Menurut para fungsionalis, masyarakat adalah statis atau masyarakat selalu berada dalam keadaan berubah secara seimbang. Masyarakat hidup dalam suatu sistem yang teratur, karena mereka secara formal diikat oleh norma, nilai dan moral. Setiap elemen masyarakat berperan dalam menjaga stabilitas. Robert Merton (1910-2003), salah seorang teoritisi fungsionalisme-sturktural agak berbeda pendapat dengan pendahulunya. Menurutnya, tidak setiap struktur, adat-istiadat, gagasan, keyakinan dan lain sebagainya memiliki fungsi positif. Menurutnya, suatu fakta sosial dapat mengandung konsekuensi negatif bagi fakta sosial lain. Untuk itulah maka Merton mengembangkan teorinya mengenai disfungsi. Ketika struktur atau institusi dapat memberikan kontribusi pada terpeliharanya bagian lain sistem sosial, mereka pun dapat mengantung konsekuensi negatif bagi bagian-bagian lain tersebut. Dalam kaitan dengan disfungsi di atas, Merton mengembangkan konsep fungsi manifest dan fungsi laten. Dimana fungsi manifest adalah fungsi yang dikehendaki, sedangkan fungsi laten adalah fungsi yang tidak dikehendaki. Dalam perkembangannya, teori struktur-fungsional diperhadapkan dengan kritik yang muncul dari teoritisi lainnya. Konsep Herbert Blumer (1900-1987) tentang interaksionisme simbolik merupakan salah satu bentuk kritik terhadap teori fungsionalisme struktural. Menurut Blumer, teori fungsionalisme struktural cenderung memusatkan perhatiannya kepada beberapa faktor, misalnya norma, yang menyebabkan perilaku manusia. Menurutnya, teori ini mengabaikan proses krusial ketika para aktor menopang kekuatan yang bertindak padanya dan pada perilaku mereka sendiri dengan makna. Blumer juga menolak teori fungsionalisme struktural yang mengemukakan bahwa perilaku individu ditentukan oleh kekuatan-kekuatan eksternal. Ia menolak anggapan bahwa perilaku aktor ditentukan oleh faktor yang tidak dapat dikendalikan oleh aktor itu sendiri. Karena yang terpenting menurut Blumer adalah proses pendefinisian ketika aktor melakukan perbuatannya. Kritik terhadap teori Struktur-fungsional datang juga dari Ralf Dahrendorf (1929) dengan teori konfliknya. Ia menolak pandangan para fungsionalis yang menganggap bahwa masyarakat adalah statis, atau kalaupun berubah maka perubahan tersebut secara seimbang. Menurutnya, masyarakat setiap saat tunduk pada proses perubahan. Jika para fungsionalis menekankan keteraturan masyarakat, para teoritisi konfliki melihat apa pun tatanan yang ada di tengah masyarakat tumbuh dari tekanan yang dilancarkan segelintir anggota yang berada di puncak. Kalau para fungsionalis memusatkan perhatiannya pada kohesi yang diciptakan oleh nilai masyarakat yang dimiliki bersama, para teoritisi konflik menitikberatkan pada peran kekuasaan dalam memelihara tatanan di tengah-tengah masyarakat.

Dahrendorf mengemukakan gagasannya bahwa masyarakat memiliki dua wajah, yakni konflik dan konsensus. Teori konsensus merupakan teori yang membahas tentang integrasi nilai di tengah-tengah masyarakat, sedangkan teori konflik membahas tentang konflik kepentingan dan hal-hal yang menyatukan masyarakat di bawah tekanan-tekanan tersebut. Menurut Dahrendorf, masyarakat tak mungkin ada tanpa konflik dan konsensus. Pendapat Dahrendorf ini semakin memperjelas perbedaan antara dirinya dengan para penganut teori fungsional-struktural. Dalam kaitan dengan struktur yang terbentuk dalam masyarakat, menurut Dahrendorf, kelompok mana yang berada di atas dan mana yang berada di bawah ditentukan oleh kepentingan bersama. Dalam setiap asosiasi, kelompok yang berada di atas berusaha mempertahankan posisi mereka, sementara kelompok yang berada dibawah akan berusaha melakukan perubahan. Dalam hal inilah kemudian konflik terjadi. Sehingga konflik dalam kelompok-kelompok tersebut akan berlangsung sepanjang waktu.

3.

Pandangan Teori Strukturasi Tentang Hakekat Manusia Teori strukturasi merupakan teori umum dari aksi sosial. Teori ini menyatakan bahwa manusia adalah proses pengambilan, meniru dan menciptakan beragam sistem sosial. Dengan kata lain, tindakan manusia adalah sebuah proses memproduksi dan mereproduksi sistemsistem sosial yang beraneka ragam. Interaksi antar individu dapat menciptakan struktur baru dalam masyarakat yang memiliki hubungan individu itu sendiri. Individu yang menjadi komunikator bertindak secara strategis berdasarkan pada peraturan untuk meraih tujuan mereka dan tanpa sadar menciptakan struktur baru yang mempengaruhi aksi selanjutnya. Struktur dinyatakan seperti hubungan pengharapan, kelompok peran dan norma-norma, jaringan komunikasi dan institusi sosial dimana keduanya berpengaruh dan dipengaruhi oleh praktek sosial. Struktur menfasilitasi individu dengan aturan yang membimbing tindakan meraka. Akan tetapi, tindakan mereka juga bertujuan untuk menciptakan aturan-aturan baru dan mereproduksi yang lama. Manusia menurut teori ini yaitu agen pelaku bertujuan yang memiliki alasan-alasan atau kebutuhan-kebutuhan atas aktivitas-aktivitasnya dan mampu menguraikan alasan itu secara berulang-ulang. Aktivitas-aktivitas sosial manusia ini bertujuan agar aktivitas-aktivitas sosial itu tidak dilaksanakan oleh pelaku-pelaku sosial tetapi diciptakan untuk mengekspresikan dirinya sebagai agen secara terus menerus dengan mendayagunakan seluruh sumberdaya yang dimilikinya. Pada dan melalui akivitas-aktivitasnya, agen-agen mereproduksi kondisi-kondisi yang memungkinkan dilakukannya aktivitas-aktivitas itu. Tindakan manusia diibaratkan sebagai suatu arus perilaku yang terus menerus seperti kognisi.

Strukturasi mengandung tiga dimensiyang sangat memengaruhi agen, yaitu sebagai berikut: 1. 2. Pemahaman (interpretation / understanding), yaitu menyatakan cara agen memahami sesuatu. Moralitas atau arahan yang tepat, yaitu menyatakan cara bagaimana seharusnya sesuatu itu dilakukan.

3.

Kekuasaan dalam bertindak, yaitu menyatakan cara agen mencapai suatu keinginan. Tiga dimensi strukturasi ini mempengaruhi tindakan agen. Tindakan agen diperkuat oleh struktur pemahaman, moralitas, dan kekuasaan. Dalam hal ini agen menggunakan aturanaturan untuk memperkuat tindakannya. Dalam satu kelompok yang telah terbentuk strukturnya, masing-masing individu saling membicarakan satu topik tertentu. Dalam strukturasi, hal ini tidaklah direncanakan dan merupakan konsekuensi yang tidak diharapkan dari perilaku anggota-anggota kelompok. Norma atau aturan yang ada diinterpretasi oleh tiap individu dan menjadi arahan tingkah laku mereka. Kekuatan yang mereka miliki memungkinkan mereka untuk mencapai tujuan dan mempengaruhi tindakan orang lain. Dalam prakteknya, tindakan seseorang dapat dipengaruhi dan mempengaruhi beberapa struktur yang berbeda dalam waktu yang sama. Pertemuan lebih dari satu struktur ini kemungkinan akan menimbulkan: 1. Mediasi, Yaitu struktur yang satu menjadi perantara munculnya struktur yang lain. Dapat dikatakan produksi dari suatu struktur dapat membentuk struktur baru atau melengkapi struktur yang sudah ada.

2.

Kontradiksi, yaitu struktur yang satu mengatasi atau menghapus struktur yang lama. Hal ini disebabkan adanya pertentangan yang memicu konflik antar struktur sehingga menghasilkan perubahan struktur yang berguna untuk mengatasi munculnya konflik yang berkepanjangan ataupun menghapus struktur yang sudah tidak relevan.

Kritik Giddens Terhadap Fungsionalisme

Fungsionalisme adalah mazhab yang sudah cukup tua dan paling sering kita dengar digunakan dalam menganalisis beragam fenomena sosial, dan rasanya paling laris digunakan oleh para pemikir Indonesia. Fungsionalisme yang digagas Parsons menyusun perangkat teoritiknya, mula-mula dengan melihat masyarakat dalam perspektif Thomas Hobbes (Hobbesian), ialah masyarakat di mana individu di dalamnya merupakan aktor konflik sepanjang masa. Di tangan Parsons, konflik tersebut merupakan kondisi asli di mana akan tumbuh tindakan pendamaian.

Dalam proses pendamaian konflik itulah, kunci yang disodorkan adalah nilai (value) yang dinilai bisa mengikat kebutuhan atau tindakan para individu untuk membentuk masyarakat agar bisa tertata. Parsons menyatakan bahwa setiap anggota masyarakat sekedar merupakan pelaksana dari peran sosial (social role) tertentu. Apa yang menjadi isi peran sosial individu adalah apa yang dituntut oleh peran tersebut. Parsons menegaskan setiap tata masyarakat memiliki setidaknya memiliki empat prasyarat yang harus dipenuhi. Para pengajar sosiologi kerap menyingkat empat syarat tersebut dengan istilah AGIL.1. 2. 3.

Adaptation sebagai prasyarat adaptasi, Goal sebagai tujuan tertentu yang ingin dicapai, Integration ialah prasyarat integrasi dan 4. Latency ialah prasyarat perekat. Ketaatan kita atas peran sosial yang kita jalani juga dilestarikan melalui mekanisme sanksi dan hukuman. Inilah sistem nilai masyarakat yang menjadi pedoman bagi anggotanya untuk melakukan tindakan. Sebagai contoh misalnya dalam lebaran, seorang muslim satu terhadap seorang muslim lainnya dalam satu kerabat dan lingkungan harus menjalankan peran sosialnya, ialah meminta maaf satu sama lain. Mereka yang tidak melakukannya, atau mengabaikannya dengan kesengajaan akan dihukum secara sosial karena ia dianggap justru pemelihara konflik. Bermaafan merupakan tindakan sosial kaum muslim untuk menjaga solidaritas dan kelanggengan bermasyarakat, begitu setidaknya dalam kacamata fungsionalisme. Bagi kaum muslim, lebaran merupakan sistem nilai yang memaksa orang untuk saling bermaafan demi terjaganya kehidupan sosial yang teratur.1. Bagi pebelanja, lebaran di masa kini juga merupakan sistem nilai yang menghimbau 2.

3.

4.

5.

6.

7.

dirinya agar segera membeli baju baru lebaran di mall-mall maupun pasar tradisional. Lebaran juga mengajak banyak orang untuk saling berkirim SMS sebagai pertanda pengampunan dosa masing-masing. Bagi stasiun televisi, lebaran adalah momentum panen iklan dengan beragam sajian yang amat menggoda setahun sekali, sebagaimana petani panen padi setiap empat bulan sekali, dan karenanya ia harus melakukan tindakan menyajikan acara-acara yang berbau lebaran. Bagi para pemasang iklan, lebaran merupakan saat di mana berbagai mata terfokus ke satu titik, ialah lebaran, dan karenanya setiap promosi harus menyertakan ucapan selamat idul fitri mohon maaf lahir batin, atau setidaknya melakukan tindakan mencantumkan gambar ketupat di pojok-pojok kemasan produknya, dengan tujuan agar pembaca iklan memahami bahwa produknya juga merupakan subyek yang ingin merayakan lebaran bersama-sama. Bagi sebagian selebritis artis, lebaran adalah momentum penting untuk unjuk gigi, melakukan tindakan menampilkan pribadi yang relijius dibanding bulan-bulan sebelumnya. Bagi tempat hiburan keluarga, Idul Fitri bisa digunakan untuk mengukur kapasitas maksimum pengunjung, begitu ramai dan berdesakan. Bagi sebagian besar anak-anak, lebaran harus disambut dengan melakukan tindakan berkunjung dari satu rumah ke rumah lainnya untuk berburu angpao lebaran.

Pada sebagian besar pelaku yang dicontohkan di atas, lebaran Idul Fitri adalah puncak keistimewaan dari keseharian yang biasa-biasa saja. Itu semua akibat adanya struktur yang bernama hari raya. Artinya struktur bisa dikatakan mengekang dan mengikat agen? Para pelaku di dalamnya hanya bisa bertindak demikian bila lebaran datang. Pandangan fungsionalisme sudah cukup lama menjadi mainstream sebagian besar pemikir sosial Indonesia. Apa yang menjadi pokok analisis dalam setiap gejala sosial adalah pelaku (agent) dan struktur. Struktur-lah yang menentukan pelaku harus bertindak apa. Seseorang yang menyimpang dari sistem nilai yang sudah disepakati bersama bukan saja dianggap sebagai menyimpang, melainkan ia rentan dituduh sebagai penyebar konflik, dan karenanya ia harus rela menerima hukuman. Sebaliknya, bila sebuah tindakan dianggap memberikan dukungan kepada struktur lebih di atas rata-rata, ia akan menerima hadiah (reward). Intinya, pelaku berada dalam genggaman struktur, ia terkekang oleh struktur sebab keberadaan struktur memang bersifat mengekang (constrain). Itu adalah cermin dari dualisme yang seringkali menghasilkan beragam oposisi biner dan berhadap-hadapan. Kendatipun demikan, pandangan teori seperti ini rasanya memang sudah banyak mengandung kelemahan dalam banyak sisi. Meminjam cara Giddens mengritik fungsionalisme, setidaknya terdapat tiga hal pokok kelemahan cara pandang seperti ini. Pertama, fungsionalisme mengandaikan manusia sebagai pelaku yang mesti taat buta atas berbagai tindakan-tindakannya, dan seolah semua yang ia lakukan harus sesuai dengan peran yang sudah ditentukan. Sebagai contoh Lebaran adalah sistem nilai yang memaksa orang, khususnya kaum muslim, dalam satu ikatan untuk saling bermaafan. Bila saling bermaafan, maka seharusnya secara sosial tidak ada hambatan dari segi usia, kepangkatan, kekayaan maupun kekuasaan. Saling bermaafan mengandaikan para pelaku yang bermaafan di dalamnya tidak menyertakan pangkat dan status sosial yang dimilikinya, sebab permaafan adalah untuk melebur kesalahan. Siapa yang merasa bersalah bisa terlebih dahulu menyampaikan permintaan maaf. Namun dalam hal ini kita melihat amat sedikit orang kaya berkedudukan yang meminta maaf terlebih dahulu dengan mendatangi rumah-rumah kaum miskin. Amat sedikit pula para pejabat yang meminta maaf terlebih dahulu kepada rakyatnya dengan cara bersikap aktif mendatangi mereka-mereka yang telah dikecewakan oleh beragam kebijakannya. Alih-alih justru para pejabat melakukan tindakan open house untuk memberikan kesempatan kepada rakyat agar mendatangi rumahnya untuk meminta maaf. Logika yang tertanam adalah selama ini rakyat telah banyak melakukan kesalahan kepada para pejabatnya, dan karenanya setiap lebaran ia harus meminta ampun kepadanya. Dalam logika fungsionalisme, itulah nilai yang perlu dipelihara, rakyat bersalah dan menjalankan perannya untuk meminta ampun, sedangkan pejabat adalah pihak pengampun. Konon itu adalah etika. Contoh lain, seseorang mungkin tidak sungguh-sungguh meminta maaf saat ia bersalam-salaman karena ia menjalankan tindakannya berdasarkan ketidaksengajaan atau hanya untuk mengikuti tren lebaran. Contoh lainnya lagi, ucapan selamat Idul Fitri yang terdapat di berbagai spanduk di jalan-jalan yang disampaikan oleh perusahaan-perusahaan besar tidak bisa secara cepat dan jelas untuk dibaca, sebab dalam hal ini tidak jelas mereka meminta maaf kepada siapa dan apakah masyarakat juga bisa memaafkan suatu kesalahan hanya dengan berbekal spanduk, atau apakah ia merasa memiliki kesalahan besar sehingga ia harus meminta maaf dalam bentuk reklame.

Lalu lalang SMS di HP kita itu juga pantas dicurigai apakah ia sungguh-sungguh merupakan manifestasi dari permohonan maaf atau sekedar ikut-ikutan tren lebaran masa kini (bila tak kirim SMS lebaran artinya ia tidak gaul, tidak dianggap bermasyarakat). Begitu juga dengan sekelompok ibu-ibu yang bergerombol dari rumah ke rumah dan bersalam-salaman juga tidak mesti ia berniat untuk bermaafan, malah lebih sering dapat dilihat sebagai kegiatan mencicipi jajanan tetangganya dan membanding-bandingkannya. Sekelompok anak-anak merayakan lebaran justru untuk berburu angpao, tanpa memahami makna sebenarnya makna memaafkan. Seseorang yang berkunjung ke tetangganya dan bersalam-salaman juga tidak selamanya merupakan proses bermaafan yang sesungguhnya, adakalanya ia hanya memamerkan baju baru atau jam tangannya yang baru, atau kendaraan barunya, atau istri cantiknya. Dan seterusnya. Kedua, fungsionalisme mengandaikan cara berpikir yang mengklaim bahwa sistem sosial punya kebutuhan untuk dipenuhi agar ia langgeng sebagai sistem sosial. Padahal secara praktek tidak demikian struktur atau sistem sosial tetap berjalan meskipun tidak didukung aktor. Sebagai contoh bagi mereka yang memaknai lebaran sebenarnya adalah mudik, perlu memahami bahwa Idul Fitri tidak mungkin ditunda hanya karena mereka tidak pulang mudik untuk bersilaturahmi ke sanak saudara. Bagi mereka yang miskin juga berhadapan pada fakta bahwa Idul Fitri tidak mungkin dibatalkan kendatipun dia tidak memiliki sepeser uang pun untuk berbelanja lebaran. Pun demikian, Idul Fitri tetap akan menjadi hari raya kaum muslim kendatipun pemerintah menetapkan hari yang berbeda antar kaum muslim (NUMuhammadyah) dengan yang diyakini sebagian besar orang. Idul Fitri tidak membutuhkan aktor-aktor di dalamnya agar sistem nilai Idul Fitri tetap langgeng. Idul Fitri adalah struktur sosial dalam mana keyakinan akan kefitrian disematkan oleh setiap orang secara individual dan berlaku secara massif, karena itu ia tidak akan bergantung kepada apapun untuk kelanggengannya. Andaikata semua mall tutup menjelang lebaran, Idul Fitri akan tetap berjalan. Inilah kelemahan fungsionalisme ketika ia mengklaim bahwa sistem sosial memiliki kebutuhan yang harus dipenuhi agar ia tetap bisa langgeng sebagai sistem sosial. Dengan cara pandang ini bisa dipahami bahwa fungsionalisme terlalu membuat jarak dalam rentang yang jauh antara pelaku (agent) dan struktur, antara tindakan dan sistem. Perbedaan itu kenyataannya justru sering kali ekstrim menegasikan yang satu di atas yang lain, yang kita kenal dengan dualisme. Ketiga, fungsionalisme membuang dimensi ruang (space) dan waktu (time). Inilah yang menyebabkan seringkali timbul oposisi biner, antara yang tetap dan berubah, antara yang benar dan salah. Lebaran tahun 1940an tentu sangat berbeda dengan lebaran tahun 2010. Bila dahulu mungkin orang merasa belum berlebaran bila belum bertemu dengan kedua orang tua, melakukan sungkem sambil menangis meratapi kesalahan, tapi lebaran masa kini antara seorang anak dan orang tua mungkin bisa dilakukan melalui kontak telepon, chatting di Yahoo Messenger, mengirim status di Facebook, atau paling sial mengirim SMS. Si pelaku lebaran sudah merasa berlebaran dengan orang tua dalam tempat dan situasi berbeda. Idul Fitri bukan selalu melalui perilaku mudik dan bertatap muka dengan handai tolan, karena semua bisa dikerjakan di dunia maya. Dalam situasi yang dikemukakan pada contoh sebelumnya, sebuah perusahaan rokok juga sudah merasa berlebaran hanya dengan memasang spanduk meminta maaf kepada para pembacanya di jalanan. Itu pastilah tidak kita temui di era zaman dahulu kala manakala pabrik rokok tidak secanggih sekarang baik dalam teknologi produksi sampai dengan teknik komunikasi massa. Idul Fitri adalah sebuah gejala sosial yang berkembang seturut dengan perkembangan zaman, dan bukan merupakan sistem sosial yang kaku. Ia bisa dirayakan oleh kaum miskin

yang tidak bisa berbelanja busana lebaran, pedagang non muslim yang menangguk keuntungan milyaran rupiah akibat suasana lebaran, maupun kaum muslim yang tidak menjalankan puasa sama sekali selama Ramadlan. Di sini, fungsionalisme tidak memperhatikan adanya ruang dan waktu yang sangat mempengaruhi cara kita melakukan analisis terhadap sebuah gejala sosial. Fungsionalisme menekankan pada aspek struktural dan mengandaikan peran sosial yang melekat dan mengekang pelaku akibat struktur yang ada. Ada dualisme, antara pelaku dan struktur yang dipisahkan dan bahwa struktur diklaim sebagai yang paling punya kekuatan untuk menentukan perilaku sosial. Inilah akar dari strukturalisme sebagaimana juga diterapkan oleh marxisme. Bahkan dalam penjelasan Durkheimian, struktur merupakan entitas lain yang berada di luar pelaku yang bersifat mengekang (constraining). Dalam marxisme klasik, kunci untuk memahami suatu masyarakat berikut gejala-gejala di dalamnya adalah dengan membacanya melalui sistem kapitalisme akan akumulasi modal. Berbagai gejala dan fenomena sosial di masyarakat hanya akan bermakna bila ia memiliki keterkaitan dengan akumulasi modal kaum kapitalis. Misalnya cara berbusana lebaran, tren rambut, jenis kendaraan, merk handphone, cara bergaya, cara berkomunikasi dan bergaul dan seterusnya sangat ditentukan dari cara berproduksi (mode of production) suatu masyarakat. Itu semua diandaikan mencerminkan kebutuhan sistem kapitalisme yang ada. Begitu pula dengan materialisme historis yang menempatkan faktor ekonomi sebagai dominan di atas segalanya. Lebaran baru bisa dianggap benar-benar berlebaran bila semua pelaku di dalamnya menggunakan aksesoris yang diproduksi oleh cara berproduksi kaum kapitalis. Seseorang akan berlebaran dengan bersedih hati bila ia mudik tanpa menggunakan sanggul, gaya rambut, cara berperilaku yang tidak sesuai dengan perintah iklan di televisi. Pola struktural fungsionalisme seperti ini mengandaikan adanya pertentangan (dualisme) antara aktor dan struktur. Dalam beragam analisis sosial yang kita jumpai, struktur selalu berada dominan di balik tingkah laku para aktor. Dengan kata lain, manusia adalah robot yang gerak-geriknya ditentukan dan diawasi oleh bagaimana struktur atau sistem nilai beroperasi dalam suatu masyarakat.

Kritik Giddens Terhadap Strukturalisme dan PostStrukturalisme

Strukturalisme berasal dari gagasan baru dalam filsafat bahasa yang dirintis oleh Ferdinand de Saussure. Dalam ilmu-ilmu sosial, strukturalisme merupakan penerapan analisis bahasa ke dalam analisis gejala sosial, seperti yang dilakukan oleh Claude Levi-Strauss. Pokok strukturalisme yang di kembangkan dalam praktek ilmu sosial adalah perbedaan antara bahasa (langue) dan ujaran/percakapan (parole). Sebagai contoh presiden secara langue adalah orang yang memimpin negara tetapi secara parole kata presiden bisa menunjuk pada Bill Canton di Amerika, Soekarno di Indonesia, Tabo Mbeki di Afrika Selatan ataupun

Soeharto di Indonesia era Orde Baru. Perbedaan antara langue dan parole merujuk pada perbedaan antara apa yang sosial dan apa yang individual, antara apa yang hakiki dan apa yang kebetulan. Dalam perspektif Struktualis secara langue kenapa Soeharto disebut presiden bukan pesinden karena secara fakta Soeharto merupakan orang yang memimpin negara. Tetapi secara parole Soeharto di sebut presidan bukan karena keterkaitannya dengan yang memimpin pemerintahan suatu negara tetapi karena keterkaitanya denagan perbedaannya dengan kata-kata sultan, gubernur, bupati, camat dsb yang juga merupakan pemimpin tetapi berbeda lingkup. Sama seperti kursi secara langue kursi merupakan benda yang kita duduki tetapi ketika dikaitkan dengan benda lain seperti meja, lemari, rak buku dsb akan terlihat kursi sebagai fungsi parole. Dengan kata lain bahwa pada tataran langue semua bisa dipahami secara umum tanpa harus mengkaitkan denga objek lain tetapi secara parole suatu objek hanya bisa dipahami jika dengan mengkaitkanya dengan objek lain. Dalam cara pandang Levi-Strauss yang menerapkan pada analisis sosial, hal seperti ini semakin menarik diikuti. Jadi apa yang utama dalam suatu analisis sosial, menurutnya, adalah bagaimana menemukan kode tersembunyi yang ada di balik yang terlihat oleh mata telanjang, sebagaimana langue yang menjadi kunci untuk memahami labih lanjut secara parole. Kode tersembunyi inilah yang disebut struktur. Tindakan individual dalam ruang dan waktu hanyalah suatu kebetulan belaka. Jadi, kalau memahami makna lebaran idul fitri, yang perlu diperdalam adalah logika di balik keberadaan lebaran, bukan pada masyarakat yang merayakannya. Dalam strukturalisme, subyek disingkirkan begitu rupa dan dalam konteks ini sungguhsungguh mempelajari kode tersembunyi sebagai struktur yang bisa memaksa aktor untuk bertindak. Mengapa seseorang harus mencopet untuk keperluan mudik, pada hakikatnya, jawabannya akan bisa ditemukan dari hal-hal yang tidak dapat dilihat secara kasat mata dalam perayaan lebaran. Jawaban mengapa polisi melarang para pelaku mudik untuk menggunakan sepeda motor berboncengan lebih dari tiga, dalam pandangan ini akan bisa ditemukan dari mempelajari kode tersembunyi yang dimaksud. Bisa saja maksud polisi memang sungguhsungguh menginginkan perjalanan yang aman bagi pemudik, atau bisa saja ada konspirasi penguasa untuk merumuskan kebijakan lain agar pemudik menggunakan angkutan umum yang sudah disediakan. Kita tidak tahu persis jawabannya karena ada sesuatu yang tidak terlihat. Jawaban mengapa pemerintah pada periode tertentu lebih mengedepankan penentuan lebaran dengan kalender, dan bukan pada melihat bulan, atau sebaliknya, dituntun dari kode tersembunyi yang tersimpan dalam proses penentuan hari raya, apakah kepentingan politiknya, dari golongan manakah sang menteri berasal, dan seterusnya. Mengapa kini banyak pemudik yang pulang kampung dengan menggunakan mobil rental sehingga menyebabkan mobil pribadi di jalanan semakin ramai, dan macet, harus diteliti dari kode tersembunyi yang tidak terlihat. Bisa saja sang pemudik ingin pamer kekayaan di kampung karena dia sudah memiliki barang tertier itu, bisa saja untuk memudahkan perjalanannya, sewa kendaraan makin murah, bisa juga merupakan kritik terhadap sarana transportasi yang disediakan pemerintah yang kian hari kian buruk. Dan seterusnya. Ada dua sentral yang terlibat dalam cara pikir strukturalis, yaitu sifat manasuka (arbitrary) dan perbedaan (difference). Fakta di atas bahwa yang kita duduki disebut kursi pada suatu ruang dan waktu tertentu disebut kursi adalah perkara manasuka dan karena perbedaannya dengan kata mejaatau lemari. Atau Hari Raya Idul Fitri merupakan hari raya orang muslim adalah perkara manasuka karena banyak orang non muslim atau yang tidak

berpuasa ramadhan yang juga ikut merayakan hari raya tersebut dimana Hari Raya Idul Fitri ini berbeda dengan Hari Raya Idul Adha, Natal, Galungan dan juga berbeda dengan hari hari biasa. Atas semua itu, dapat dilihat bahwa struktur dan yang ada di balik struktur mendominasi kegiatan pelaku dalam menjalankan tindakannya. Subyek bukanlah barang yang perlu dianalisis. Subyek disingkirkan. Orang-orang post-strukturalis menggarisbawahi cara berpikir dalam strukturalis yang secara manasuka (arbitrary) dan memulai analisis dengan menekankan pada perbedaan (difference). Sebagaimana pemikiran post-strukturalisme, misalnya Jacques Derrida, perbedaan bukan hanya metode untuk menunjuk sesuatu, melainkan perbedaan itu merupakan cara untuk membentuk identitas, dan bahkan menentukan makna sesungguhnya dari identitas itu. Jadi perbedaan antara hari raya dan bukan hari raya bukanlah semata-mata hari raya adalah apa yang bukan hari raya, melainkan karena identitas bukan hari raya itu sendiri memiliki hakikat eksistensi. Intinya, berbeda adalah identitas itu sendiri. Kritik Giddens terhadap strukturalis adalah dimana perspektif strukturalis hampir sama dengan fungsionalisme yang melakukan penolakan penuh terhadap subyek. Gejala penyingkiran subyek (de-centring) ini dibawa ke implikasinya yang terjauh oleh para penggagas post-strukturalisme. Seperti disebutkan di atas pada contoh kursi. Dalam perspektif strukturalis kursi terbentuk bukan karena secara subyek kursi merupakan benda yang kita duduki melainkan karena perbedaannya dengan meja atau lemari.

Agen, Struktur, Ruang dan Waktu yang menjadi Pokok Pemikiran Dualitas Giddens

Seperti yang telah di singgung diatas, dualitas antara pelaku dan struktur serta sentralitas waktu dan ruang, menjadi dua tema sentral yang menjadi poros teori strukturasi. Dualitas berarti tindakan dan struktur yang saling mengandaikan. Dualitas struktur adalah struktur sebagai media dan hasil perilaku yang diorganisasikannya dan secara terus-menerus terlibat dalam produksi dan reproduksi. Perjumpaan antara dualitas pelaku dan struktur itu terjadi dengan sendirinya karena adanya konvergensi waktu-ruang. Dalam hal ini, mobilitas waktu ruang merupakan poros eksistensi masyarakat. Dalam memahami pemikiran Giddens, minimal kita bisa berangkat dari dua pokok pembicaraan. Pertama, ialah pelaku (agent) dan struktur (structur), kedua ialah ruang (space) dan waktu (time).

1. Dualitas Agen dan Struktur Menurut Giddens Inilah kritik paling menonjol dalam gagasan strukturasi Giddens. Ia mengritik keras gagasan tentang hubungan keduanya yang selalu dilekati dengan dualisme sebagai pokok analisis sosiologi dalam berbagai teori. Baginya, analisis sosial semestinya menekankan pada aspek dualitas keduanya, bukan dualisme. Bahwa agen dan struktur berhubungan memanglah tak disangkal. Tapi bagaimana keduanya berkaitan dalam berbagai praktek sosial, itulah yang harus dipersoalkan. Apakah agen dan struktur berhubungan dengan mengedepankan perbedaan (tegangan atau pertentangan) atau dualitas (timbal balik)? Ilmu sosial, menurut Giddens, selama ini dikuasai pandangan dualisme. Ia menolak itu dan mengenalkan hubungan keduanya dalam gagasan dualitas. Bagi Giddens, Agen dan struktur memiliki hubungan timbal balik sehingga tidak monolog melainkan dialog. Agen adalah orang-orang yang kongkrit dalam arus kontinu tindakan dan peristiwa di dunia. Agen berbeda dengan aktor dimana aktor merupakan pelaku yang hanya mampu memproduksi nilai-nilai yang berasal dari struktur sedangkan agen adalah pelaku yang mampu memproduksi tindakan-tindakan yang tidak selalu berasal dari nilai yang berasal dari struktur. Menurut Giddens Agen tidak selalu manusia bisa lembaga, organisasi atau bahkan negara, The Origin of Agen, dimana agen bisa berubah menjadi institusi. Sebagai contoh Institusi merupakan struktur karena memiliki hubungan berupa aturan-aturan yang harus dipatuhi anggotanya tetapi Institusi bisa berubah menjadi agen jika dilihat hubungannya dengan Institusi lain. Struktur dalam pengertian Giddens bukanlah totalitas gejala, bukan kode tersembunyi khas strukturalisme, bukan cara produksi marxis, bukan sebagian dari totalitas gejala khas fungsionalisme. Bila Durkheim memandang struktur bersifat mengekang (constraining), Giddens justru menyatakan struktur bersifat memberdayakan (enabling), dengan unsur timbal balik (dualitas) nya dengan agen, di dalam struktur itu memungkinkan terjadinya berbagai praktik sosial (sosial practices). Struktur adalah aturan (rules) dan sumberdaya (resources) yang terbentuk (dan membentuk) dari perulangan praktik sosial sehingga mampu memberdayakan agen sehingga mampu membentuk agen yang memiliki peran dan bisa menciptakan struktur baru. Struktur dapat dipahami secara subjektif dan objektif, secara subjektif struktur merupakan tempat dimana individu atau agen mampu atau turut menentukan struktur didalamnya dan secara objektif struktur merupakan tatanan nilai, norma yang tak lekang sepanjang zaman. Obyektivitas struktur yang terdapat dalam teori strukturasi dapat diandaikan sebagai melekat dalam tindakan atau praktik sosial itu sendiri. Ada tiga pokok gugus yang biasanya terdapat dalam struktur yang saling berkaitan satu sama lain sebagaimana dinyatakan dalam teori strukturasi Giddens : 1. Signifikansi : yang menyangkut skemata simbolik, pemaknaan bahasa, penyebutan dan wacana. 2. Penguasaan Dominasi : penguasaan atas orang (politik) dan penguasaan atas barang. 3. Pembenaran Legitimasi : peraturan normatif berupa hukum. Sebagai contoh adalah Guru, guru merupakan struktur jika dikaitkan dengan murid. Guru secara signifikansi merupakan orang yang mengajar. Dalam struktur dominasi guru memiliki otoritas terhadap murid dan dalam struktur legitimasi guru memiliki legitimasi untuk

menilai baik tidaknya seorang murid. Adapun contoh lain yaitu Menyebut Idul Fitri sebagai lebaran merupakan struktur signifikasi, penentuan hari H lebaran oleh kementerian agama merupakan struktur dominasi dalam pengertian kebijakan politik, pengaturan lalu lintas para pemudik oleh aparat polisi maupun departemen perhubungan merupakan praktik struktur legitimasi. Pada saat tertentu, gugus struktur di atas bisa saling terkait. Dalam bahasa lain, struktur dalam pengertian Giddens ini menyangkut simbol/wacana, tata ekonomi, tata politik dan tata hukum. Teori Strukturasi menurut Giddens adalah Dualitas struktur dan agen yang merupakan hasil sekaligus sarana suatu praktik sosial dimana struktur dibentuk melalui tindakan oleh agen dan sebaliknya tindakan yang dipraktikan agen dibentuk oleh sturktur. Dualitas yang dimaksud terletak pada struktur yang menuntun agen sebagai sarana (medium dan resources) dan menjadi pedoman praktik sosial di berbagai tempat. Sesuatu yang mirip pedoman atau prinsip-prinsip aturan itu merupakan sarana dalam melakukan proses perulangan tindakan sosial masyarakat. Bila Marx berpendapat bahwa struktur lebih dulu ada dan lebih dominan daripada agen maka Giddens berpendapat bahwa praktek sosial lah yang ada terlebih dahulu dimana struktur dan agen terbentuk akibat praktek sosial dimana antara struktur dan agen memiliki hubungan timbal balik. Praktik sosial yang mampu melahirkan dualitas seperti inilah yang seharusnya menjadi pokok pembahasan dalam analisis sosial. Dari pengertian seperti inilah teori stukturasi dibangun. Teori strukturasi Giddens ini mengandaikan sebuah proses yang terjadi dan memungkinkan terjadinya perulangan untuk membentuk praktek sosial. Tugas ilmu sosial adalah mencari proses sosial dan relasi antara manusia dengan manusia lain serta aturan di lingkungannya dimana tidak lepas dari konteks dualitas agen dan struktur serta ruang dan waktu. Praktek sosial inilah yang semestinya menjadi obyek utama kajian ilmu sosial, bukan struktur atau agen secara terpisah. Bila status agen diibaratkan seperti halnya wayang (agen-wayang) di tangan dalang dan melakoni peran-peran yang sudah ditentukan (sesuai aturan-struktur), muncul pertanyaan lanjutan, apakah agen dalam dualitas struktur khas Giddens ini tahu dan sadar akan tindakannya? Sebagai contoh apakah para pemudik sebagai agen itu tahu bahwa yang ia lakukan adalah sebuah proses mudik (sebagai struktur) atau sekedar rutinitas tak sadar pelaku bahwa setiap lebaran ia harus pulang kampung naik kereta berdesak-desakan? Giddens menyatakan bahwa setiap pelaku atas strukturnya tahu, walaupun tak selalu harus menyadari (conscious). Di sinilah Giddens membedakan tiga dimensi internal pelaku, yaitu 1. Motivasi Tak Sadar (unconscious motives) : Motif lebih merujuk ke potensial bagi tindakan, ketimbang cara (mode) tindakan itu dilakukan oleh si agen. Motif hanya memiliki kaitan langsung dengan tindakan dalam situasi yang tidak biasa, yang menyimpang dari rutinitas. Sebagian besar dari tindakantindakan agen sehari-hari tidaklah secara langsung dilandaskan pada motivasi tertentu.

2. Kesadaran Diskursif (discursive consciousness) :

Yaitu, apa yang mampu dikatakan atau diberi ekspresi verbal oleh para aktor, tentang kondisi-kondisi sosial, khususnya tentang kondisi-kondisi dari tindakannya sendiri. Kesadaran diskursif adalah suatu kemawasdirian (awareness) yang memiliki bentuk diskursif.

3. Kesadaran Praktis (practical consciousness) : Yaitu, apa yang aktor ketahui (percayai) tentang kondisi-kondisi sosial, khususnya kondisi-kondisi dari tindakannya sendiri. Namun hal itu tidak bisa diekspresikan si aktor secara diskursif. Bedanya dengan kasus ketidaksadaran (unsconscious) adalah, tidak ada tabir represi yang menutupi kesadaran praktis.

Dengan kata lain Motivasi Tak Sadar menyangkut keinginan tak sadar pelaku yang mengarahkan pada tindakan, tapi bukan tindakan itu sendiri. Kesadaran Diskursif menyangkut kemampuan pelaku untuk merefleksikan tindakannya. Sedangkan Kesadaran Praktis menyangkut pada kemampuan untuk melakukan tindakan yang dilengkapi dengan pengetahuan (knowledge). Melalui pengetahuan itu seterusnya agen melakukan tindakan sehari-hari tanpa harus mempertanyakan kembali apa yang harus dilakukan/diperankan. Kita tak lagi mempertanyakan mengapa setiap lebaran perlu mengulurkan tangan tanda meminta bersalam-salaman, perlu berkirim SMS lebaran meminta maaf, mengisi status Facebook dan Twitter kita dengan puisipuisi lebaran dan seterusnya. Adapun aspek dinamika dari tindakan sosial ini dapat dipahami sebagai berikut, bila dahulu lebaran hanya perlu bersalaman, lalu berkembang menjadi saling berkirim kartu lebaran, saling berkirim SMS atau email, memasang banner dan spanduk di jalan-jalan sampai dengan cukup mengisi status kita di berbagai situs jejaring sosial (social networking). Dewasa ini, misalnya, para anggota dewan begitu gemar memasang spanduk dengan foto yang dikemas begitu tampan/cantik sebesar tiga perempat lebar spanduk/baliho di sudut-sudut jalan perkotaan dengan ucapan permohonan maaf lahir batin. Selain bermanfaat untuk media berlebaran, kegiatan demikian juga diandaikan bermanfaat untuk pencitraan sebagai wakil rakyat yang baik, yang terlihat peduli pada konstituennya.

Bagaimana bisa terjadi perubahan (change) dalam struktur? Pemahaman tentang kesadaran praktis ini sangat fundamental bagi teori strukturasi. Struktur dibentuk oleh kesadaran praktis, berupa tindakan berulang-ulang, yang tidak memerlukan proses refleksif (perenungan), dan tidak ada pengambilan jarak oleh si agen terhadap struktur. Ketika makin banyak agen mengadopsi cara-cara mapan atau rutinitas keseharian dalam melakukan sesuatu, mereka sebenarnya telah memperkuat tatanan struktur. Perubahan (change) struktur bisa terjadi jika semakin banyak aktor/agen yang mengadopsi kesadaran diskursif. Yaitu, manakala si agen mengambil jarak dari struktur, dan melakukan sesuatu tindakan dengan mencari makna/nilai dari tindakannya tersebut. Hasilnya

bisa berupa tindakan yang menyimpang dari rutinitas atau kemapanan, dan praktis telah mengubah struktur tersebut. Perubahan juga bisa terjadi karena konsekuensi dari tindakan, yang hasilnya sebenarnya tidak diniatkan sebelumnya (unintended consequences). Unintended consequences mungkin secara sistematis menjadi umpan balik, ke arah kondisi-kondisi yang tidak diketahui bagi munculnya tindakan-tindakan lain lebih jauh. Dalam kasus unintended consequences ini, bukan adanya atau tidak-adanya niat (intensi) yang penting. Namun, adanya kompetensi atau kapabilitas di pihak si agen untuk yang secara tidak sadar akan mengarahkan dengan sendirnya untuk melakukan perubahan. Jadi, hal ini sebenarnya berkaitan dengan kuasa atau power. Giddens menekankan pentingnya power, yang merupakan sarana mencapai tujuan, dan karenanya terlibat secara langsung dalam tindakan-tindakan setiap orang. Power adalah kapasitas transformatif seseorang untuk melakukan suatu perubahan. Seperti contoh perubahan dalam struktur adalah para pejabat dengan kekuatan dan merasa memiliki kekuasaan terhadap rakyat mereka memanfaatkan kekuatan dan kekuasaannya dengan melakukan tindakan open house pada Hari Raya Idul Fitri untuk memberikan kesempatan kepada rakyat agar mendatangi rumahnya untuk meminta maaf. Hal tersebut melogikakan bahwa selama ini rakyat telah banyak melakukan kesalahan kepada para pejabatnya, dan karenanya setiap lebaran ia harus meminta ampun kepadanya. Padahal secara strukturas, pada Hari Raya Idul Fitri tidak memandang seseorang dari sudut pandang apapun dan tetap menegaskan bahwa setiap orang wajib bersalam-salaman dan bermaaf-maafan.

2. Ruang dan Waktu Ruang dan waktu adalah pokok sentral lain dalam teori strukturasi. Tidak ada tindakan perilaku sosial tanpa ruang dan waktu. Ruang dan waktu menentukan bagaimana suatu perilaku sosial terjadi. Mereka bukan semata-mata arena atau panggung suatu tindakan terjadi sebagaimana dipahami dalam teori-teori sosial sebelumnya. Mereka adalah unsur konstitutif dalam proses tindakan itu sendiri. Dengan mengadaptasi filsafat waktu Martin Heidegger, Giddens menegasikan bahwa ruang dan waktu semestinya menjadi bagian integral dalam ilmu sosial. Unsur ruang dan waktu ini sedemikian sentralnya dalam gagasan strukturasi Giddens sehingga ia menamakan teorinya sebagai strukturasi. Tambahan asi di dalamnya bermakna sebagai kelangsungan proses. Ada proses menjadi yang dipengaruhi oleh ruang dan waktu. Lebaran di China tentu saja berbeda dengan lebaran di Arab Saudi, apalagi di Indonesia. Begitu pula, lebaran bagi orang dengan status sosial di ruang dan waktu yang berbeda akan menghasilkan perilaku sosial yang berbeda juga ditentukan oleh ruang dan waktu. Mereka yang berada di kota lebih mengutamakan lebaran dengan berlibur di tempat-tempat wisata atau rekreasi dan yang berada di desa merayakannya dengan bersilaturrahmi. Kedua perilaku sosial yang terjadi itu dipengaruhi oleh ruang dan waktu. Orang yang bersalam-salaman dan meminta maaf yang terjadi di hari-hari biasa, bukan disebut sebagai proses pemfitrian sebagaimana terjadi hari raya. Pejabat yang membagi-bagi amplop dan jajanan menjelang pemilihan kepala daerah, juga bukan disebut sebagai pembagian zakat khas Idul Fitri. Giddens sungguh-sungguh menekankan bahwa ruang dan waktu bukan sekedar panggung tindakan sosial terjadi, tapi ruang dan waktu adalah unsur konstitutif dan

integral dalam proses pembentukan perilaku sosial itu sendiri. Dengan kata lain, ruang-waktu, di samping menentukan makna tindakan kita di satu sisi dan menjelaskan perbedaan jenis tindakan kita di sisi lain. Koordinasi ruang-waktu, menurut Giddens, merupakan faktor utama dalam kehidupan masyarakat. Seperti dicontohkan di atas, perilaku orang bersalam-salaman bisa terjadi kapan saja dan di mana saja karena perilaku itu bukan monopoli Idul Fitri saja, namun perilaku bersalam-salaman di dalam lebaran memiliki makna yang berbeda dengan perilaku bersalamsalaman dalam sehari-hari. Perlu penegasan bahwa semua perilaku di sini berjalan dalam ruang dan waktu bukan melalui ruang dan waktu. Dalam pandangan Giddens, ruang-waktu bisa digunakan untuk membaca fenomena globalisasi, membedakan praktik sosial maupun menentukan perbedaan antara masyarakat modern dan tradisional. Itulah mengapa orang sekarang untuk beridul fitri cukup dengan menulis status di Facebook atau sekedar mengirim SMS. Hal yang sama tidak akan kita jumpai tahun 1970an, saat mana orang beridul fitri harus berjumpa dengan saudara atau kerabatnya. Sebagai contoh lain terkait masalah ruang dan waktu yang mampu memengaruhi perilaku agen dan struktur Dalam waktu yang tidak terlalu lama, mudik pada era 2000an lebih didominasi oleh pemudik yang menggunakan alat transportasi umum (bus, kereta atau kapal laut) dibandingkan mudik zaman 2010 yang lebih menyukai menggunakan kendaraan pribadi, minimal motor pribadi. Gejala pembelian barang melalui sistem kredit yang semakin mudah diakses oleh siapa saja dengan persyaratan yang begitu mudah juga memberikan andil besar dalam perkembangan ini. Seseorang yang tak memiliki penghasilan tetap pun bisa mengajukan kredit kepemilikan sepeda motor atau mobil dengan mudah. Jalanan pun macet dipenuhi dengan kendaraan pribadi. Trotoar yang seharusnya diperuntukkan pejalan kaki pun kini sering dirampas oleh pengguna sepeda motor. Pejabat sering menuduh pengguna sepeda motor tidak taat aturan tanpa memahami bahwa umumnya mereka bertindak demikian karena fasilitas publik yang begitu buruk, didukung kebijakan publik yang hanya mementingkan keuntungan pejabat. Begitulah ruang dan waktu mempengaruhi tindakan yang sama yang dilakukan pelaku dan menghasilkan praktik sosial yang berbeda. Di zaman internet ini, kini waktu dan ruang semakin lebur sebagai batas alami yang sulit ditembus. Ruang-waktu menjadi sesuatu yang bisa diatur.

Kesimpulan dan Penutup

Sebenarnya menarik membahas teori strukturasi Giddens secara lebih mendalam apabila kita juga bisa memahami kritik secara holistik yang dikemukakannya untuk fungsionalisme Parsons, Strukturalisme Saussure Levi-Strauss, Post-Strukturalisme Derrida, materialisme historis, fenomenologi, teori komunikasi Habermas, teori pilihan rasional (rational choice) sampai psikoanalisis Freud. Dengan membaca lebih jauh telaah Giddens atas berbagai pandangan teori-teori itu akan bisa memudahkan kita untuk memahami sesungguhnya teori-teori tersebut. Kita akan memahami teori Giddens dengan setidaknya mempelajari pandanganpandangannya untuk kedua teori yang sudah disampaikan sebelumnya, yakni fungsionalisme dan strukturalisme. Yang paling inti dalam memahami strukturasi Giddens adalah kritik kerasnya atas gejala dualisme yang melekat dalam berbagai teori khususnya dua teori di atas. Ia tidak setuju dengan dualisme struktur dan pelaku, namun ia lebih menekankan apa yang ia sebut dengan dualitas. Atas fakta struktur dan pelaku bukanlah sesuatu yang saling menegasikan atau bertentangan, tapi keduanya saling mengandaikan. Dalam pembahasan diatas menyebutkan bahwa giddens mengkritik Fungsionalisme yang menyebutkan : 1. Fungsionalisme mengandaikan manusia sebagai pelaku yang mesti taat buta atas berbagai tindakan-tindakannya, dan seolah semua yang ia lakukan harus sesuai dengan peran yang sudah ditentukan. 2. Fungsionalisme mengandaikan cara berpikir yang mengklaim bahwa sistem sosial punya kebutuhan untuk dipenuhi agar ia langgeng sebagai sistem sosial. 3. Fungsionalisme membuang dimensi ruang (space) dan waktu (time). Giddenns juga mengkritik Strukturalisme dan Post-Strukturalisme yaitu Giddens menganggap bahwa perspektif strukturalis hampir sama dengan fungsionalisme yang melakukan penolakan penuh terhadap subyek dan lebih menekankan pada struktur akibat

adanya kode tersembunyi dalam struktur baik bersifat parole atau language. Bagaimana menemukan kode tersembunyi yang ada di balik yang terlihat oleh mata telanjang, sebagaimana langue yang menjadi kunci untuk memahami labih lanjut secara parole. Kode tersembunyi inilah yang disebut struktur. Tindakan individual dalam ruang dan waktu hanyalah suatu kebetulan belaka. Serta menengahi dualisme agen dan struktur, didalam strukturasi menegaskan bahwa agen selalu tunduk dan patuh terhadap struktur padahal tidak demikian. Secara logika agen lah yang memiliki kebutuhan dibanding struktur dan agen pula yang menciptakan struktur sehingga bisa saja agen yang mendobrak struktur. Dalam Ilmu sosial, menurut Giddens, selama ini dikuasai pandangan dualisme. Ia menolak itu dan mengenalkan hubungan keduanya dalam gagasan dualitas. Bagi Giddens, Agen dan struktur memiliki hubungan timbal balik sehingga tidak monolog melainkan dialog.

Dualitas struktur adalah struktur sebagai media dan hasil perilaku yang diorganisasikannya dan secara terus-menerus terlibat dalam produksi dan reproduksi. Perjumpaan antara dualitas pelaku dan struktur itu terjadi dengan sendirinya karena adanya konvergensi waktu-ruang. Dalam hal ini, mobilitas waktu ruang merupakan poros eksistensi masyarakat. Bahwa agen dan struktur berhubungan memanglah tak disangkal. Tapi bagaimana keduanya berkaitan dalam berbagai praktek sosial, itulah yang harus dipersoalkan. Apakah agen dan struktur berhubungan dengan mengedepankan perbedaan (tegangan atau pertentangan) atau dualitas (timbal balik)? Ilmu sosial, menurut Giddens, selama ini dikuasai pandangan dualisme. Ia menolak itu dan mengenalkan hubungan keduanya dalam gagasan dualitas. Bagi Giddens, Agen dan struktur memiliki hubungan timbal balik sehingga tidak monolog melainkan dialog. Menurut Giddens Agen tidak selalu manusia bisa lembaga, organisasi atau bahkan negara, The Origin of Agen, dimana agen bisa berubah menjadi institusi. Sebagai contoh Institusi merupakan struktur karena memiliki hubungan berupa aturan-aturan yang harus dipatuhi anggotanya tetapi Institusi bisa berubah menjadi agen jika dilihat hubungannya dengan Institusi lain. Struktur dalam pengertian Giddens bukanlah totalitas gejala, bukan kode tersembunyi khas strukturalisme, bukan cara produksi marxis, bukan sebagian dari totalitas gejala khas fungsionalisme. Giddens justru menyatakan struktur bersifat memberdayakan (enabling), dengan unsur timbal balik (dualitas) nya dengan agen, di dalam struktur itu memungkinkan terjadinya berbagai praktik sosial (sosial practices). Struktur adalah aturan (rules) dan sumberdaya (resources) yang terbentuk (dan membentuk) dari perulangan praktik sosial sehingga mampu memberdayakan agen sehingga mampu membentuk agen yang memiliki peran dan bisa menciptakan struktur baru. Teori Strukturasi menurut Giddens adalah Dualitas struktur dan agen yang merupakan hasil sekaligus sarana suatu praktik sosial dimana struktur dibentuk melalui tindakan oleh agen dan sebaliknya tindakan yang dipraktikan agen dibentuk oleh sturktur. Dualitas yang dimaksud terletak pada struktur yang menuntun agen sebagai sarana (medium dan resources) dan menjadi pedoman praktik sosial di berbagai tempat. Sesuatu yang mirip pedoman atau prinsip-prinsip

aturan itu merupakan sarana dalam melakukan proses perulangan tindakan sosial masyarakat. Bila Marx berpendapat bahwa struktur lebih dulu ada dan lebih dominan daripada agen maka Giddens berpendapat bahwa praktek sosial lah yang ada terlebih dahulu dimana struktur dan agen terbentuk akibat praktek sosial dimana antara struktur dan agen memiliki hubungan timbal balik. Ruang dan waktu adalah pokok sentral lain dalam teori strukturasi. Tidak ada tindakan perilaku sosial tanpa ruang dan waktu. Ruang dan waktu menentukan bagaimana suatu perilaku sosial terjadi. Mereka bukan semata-mata arena atau panggung suatu tindakan terjadi sebagaimana dipahami dalam teori-teori sosial sebelumnya. Mereka adalah unsur konstitutif dalam proses tindakan itu sendiri. Dengan mengadaptasi filsafat waktu Martin Heidegger, Giddens menegasikan bahwa ruang dan waktu semestinya menjadi bagian integral dalam ilmu sosial. Unsur ruang dan waktu ini sedemikian sentralnya dalam gagasan strukturasi Giddens sehingga ia menamakan teorinya sebagai strukturasi. Tambahan asi di dalamnya bermakna sebagai kelangsungan proses. Ada proses menjadi yang dipengaruhi oleh ruang dan waktu. Lebaran di China tentu saja berbeda dengan lebaran di Arab Saudi, apalagi di Indonesia. Begitu pula, lebaran bagi orang dengan status sosial di ruang dan waktu yang berbeda akan menghasilkan perilaku sosial yang berbeda juga ditentukan oleh ruang dan waktu. Mereka yang berada di kota lebih mengutamakan lebaran dengan berlibur di tempat-tempat wisata atau rekreasi dan yang berada di desa merayakannya dengan bersilaturrahmi. Kedua perilaku sosial yang terjadi itu dipengaruhi oleh ruang dan waktu. Perlu penegasan bahwa semua perilaku di sini berjalan dalam ruang dan waktu bukan melalui ruang dan waktu. Dalam pandangan Giddens, ruang-waktu bisa digunakan untuk membaca fenomena globalisasi, membedakan praktik sosial maupun menentukan perbedaan antara masyarakat modern dan tradisional. Itulah mengapa orang sekarang untuk beridul fitri cukup dengan menulis status di Facebook atau sekedar mengirim SMS. Hal yang sama tidak akan kita jumpai tahun 1970an, saat mana orang beridul fitri harus berjumpa dengan saudara atau kerabatnya.

Referensi

http://setyafi.multiply.com/journal/item/9/TEORI_STRUKTURASI_http://www.radea.web.id/2008/08/05/teori-strukturasi-anthony-giddens/ http://warugakita.blogspot.com/2009/12/kata-pengantar-menarik-sebuah-benang.html

Slide Teori Strukturasi mata kuliah Teori Politik Kontemporer. Catatan Kuliah.