Click here to load reader

Perawatan Refractory Periodontitis, Necrotizing Ulcerative Periodontitis, Dan Periodontitis Yang Berhubungan Dengan Penyakit Sistemik

  • View
    138

  • Download
    24

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Periodontal disease on Refractor Periodontitis, NUP and Systemic Periodontitis

Text of Perawatan Refractory Periodontitis, Necrotizing Ulcerative Periodontitis, Dan Periodontitis Yang...

BAB IPENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Kebanyakan pasien periodontitis kronis ditemui dengan tipe bentuk yang umum dan akan mudah sembuh saat diberi terapi yang konvensional. Pada tipe ini, terapi yang diberikan adalah debridement non bedah dan bedah, dilanjutkan dengan perawatan jangka lama yang adekuat. Namun, ada beberapa pasien dengan tipe periodontitis yang tidak menunjukkan perkembangan membaik saat dilakukan perawatan konvensional, tipe ini lebih jarang terjadi. Beberapa diantaranya adalah periodontitis refraktori, necrotizing ulcerative periodontitis dan periodontitis yang berkaitan dengan penyakit sistemik.(Carranza & Newman, 1996)Periodontitis refraktori adalah periodontitis yang tidak sembuh dengan terapi yang biasa diberikan atau dapat sembuh tapi tidak lama setelah terapi akan kambuh lagi. Keadaan periodontitis dapat dikatan periodontitis refraktori bila terapi yang diberikan berjalan dengan benar. Periodontitis refraktori disebabkan respon host yang abnormal, organisme yang resisten atau secara morfologis ada bagian yang sulit dijangkau, selain itu dapat juga dikaitkan dengan kebiasaan merokok. Necrotizing ulcerative periodontitis (NUP) terjadi pada penderita Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS). NUP terjadi setelah acute necrotizing ulcerative gingivitis (ANUG). NUP ditandai dengan adanya bentukan kawah yang dalam pada tulang interdental, namun tidak ditemukan pocket. Periodontitis yang berkaitan dengan penyakit sistemik akan sangat bergantung pada keadaan penyakit sistemik yang diderita. Oleh karena itu terapi yang diberikan akan saling berhubungan. (Carranza & Newman, 1996)Terapi yang diberikan pada penderita periodontitis ini kompleks dan membutuhkan terapi yang intensif dan komprehensif. Karena pasien dengan kasus tersebut tidak memberikan respon secara normal pada terapi yang biasa, pertanyaan yang mendasari pada adanya kasus ini adalah apakah ada masalah yang berhubungan dengan respon tubuh host. Meskipun terdapat banyak usaha untuk menjelaskan tipe imunologi pasien, amun tidak ada pemecahan yang menentukan perbadaan hasil terapi. Perawatan terbaik yang dilakukan adalah kombinasi dari terapi anti mikrobial dengan scalling dan root planning. Identifikasi bakteri menjadi akan menjadi kunci utama pada perawatan yang dilakukan, karena akan menentukan antibiotik yang akan diberikan. (Carranza & Newman, 1996)Pada makalah ini akan dijelaskan terapi yang sebaiknyanya diberikan pada penderita dengan periodontitis refraktori, necotizing ulcerative periodontitis, dan periodontitis yang berkaitan dengan penyakit sistemik. 1.2. Tujuan

Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah untuk mengetahui terapi dan perawatan yang sebaiknya dilakukan untuk pasien dengan periodontitis refraktori, necotizing ulcerative periodontitis dan periodontitis yang berkaitan dengan penyakit sistemik.

1.3. Manfaat

Makalah ini dapat menambah wawasan mahasiswa S1 Pendidikan Dokter Gigi Universitas Airlangga tentang perawatan pada periodontitis.BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Refraktori Periodontitis

2.1.1 DefinisiRefractory Periodontitis telah didefinisikan oleh American Academy of Periodontology sebagai "Periodontitis pada pasien yang tidak menunjukkan perubahan terhadap perawatan apapun yang diberikan, bagaimanapun ketelitian atau frekuensinya." Refractory Periodontitis harus dibedakan dari penyakit yang berulang lainnya, dimana penyembuhan secara total terjadi setelah dilakukan terapi, namun diikuti oleh kambuhnya penyakit sebagai akibat dari reformasi plak, dan kalkulus (Carranza & Newman, 2002).Untuk mengklasifikasikan kasus sebagai refractory (tidak responsif), klinisi harus jelas membedakan kauss ini dari kasus yang terapinya tidak sampai selesai. Pada pasien seperti iritasi mungkin belum sepenuhnya ditangani sampai sembuh, dan penyakitnya mungkin tidak menjadi semakin parah tetapi penyakitnya tidak pernah benar-benar sembuh. Karena kurangnya pedoman dan parameter yang jelas untuk diagnosis dan klasifikasi pasien dengan Refractory Periodontitis, ada dua pendapat yang berbeda dalam literatur :

1. Refractory Periodontitis berbeda dari semua jenis periodontitis. Refractory Periodontitis disebabkan oleh agen bakteri yang berbeda, respon host yang menunjukkan perubahan spesifik, atau kombinasi faktor ini. Menurut pandangan ini, memungkinkan adanya beberapa kategori atau subtipe dari pasien refractory. 2. Refractory Periodontitis bukanlah hal yang berbeda, dan semua kasus periodontitis refractory dapat masuk ke dalam beberapa kategori lain periodontitis. Kasus Refractory yang paling sering terlihat selama perawatan agresif periodontitis, periodontitis sebagai manifestasi dari penyakit sistemik yang tidak dapat diselesaikan, dan periodontitis kronis yang diperburuk oleh kebiasaan merokok atau kondisi sistemik yang tidak terkontrol seperti diabetes dan AIDS (Carranza & Newman, 2002).Penggabungan Refractory Periodontitis ke klasifikasi penyakit periodontal menunjukkan bahwa ada faktor-faktor yang tidak diketahui yang menyebabkan perawatan yang tidak menunjukkan hasil. Sebagai hasilnya penyebutan Refractory Periodontitis sebagai suatu penyakit tersendiri telah dihapus, meskipun disadari bahwa ada beberapa kasus periodontitis yang mungkin tidak menunjukkan perubahan selama perawatan konvensional yang tidak adekuat atau tidak tepat atau faktor lain yang tidak diketahui. Gambaran klinis dan keparahan sebelum perawatan bukan merupakan diagnosa Refractory Periodontitis. Setelah perawatan awal, tidak ada perubahan jumlah plak di tempat yang mengalami pembengkakan atau attachment loss, tetapi daerah yang yang mengalami attachment loss mengalami perdarahan yang persisten saat dilakukan probing dan ada nanah (Carranza & Newman, 2002).Refractory periodontitis dapat disebabkan karena respon host yang abnormal, patogen dan microflora virulen yang tidak normal, kegagalan mengeliminasi faktor retensi plak, atau kombinasi dari faktor-faktor ini. Proporsi yang tinggi dari bakteri A.actinomycetemcomitans dan P. intermedia ditemukan pada Refractory Periodontitis. Rodenburg menyatakan jumlah keseluruhan bakteri dalam poket pasien Refractory lebih rendah dibandingkan pasien yang tdak mendapat perawatan apa-apa, tetapi A.actinomycetemcomitans memiliki proporsi yang lebih besar pada microflora subgingiva dibandingkan dengan pasien yang tidak medapat perawatan apa-apa.. Hal ini dapat dijelaskan dengan asumsi bahwa A.actinomycetemcomitans lebih sulit dibersihkan dari area subgingiva daripada bakteria lain karena kemampuan invasifnya dan adanya re-infeksi dari bagian lain dalam mulut (Carranza & Newman, 2002).Slot dan Rams menyebutkan jenis mikroorganisme pada kejadian refractory chronic periodontitis sebagai berikut :

1. F.nucleatum (75% tiap pasien tiap regio)

2. P.intermedia (40%)

3. A.actinomycetemcomitans (30%)

4. Peptostreptococcus micros (30%)

5. Staphylococcus sp (30%)

6. Bacteroides forsythus (25%)

7. Campylobacter rectus (25%)

8. P. gingivalis (15%)

9. Candida sp (15%)

10. Enterobacteriaceae atau Pseudomonadacea spp (10%)

Haffajee et al mengidentifikasi tiga kompleks mikrobial utama pada pasien Refractory Peridodontitis yaitu :

1. B.forsythus, F.nucleatum,C.rectus2. Streptococcus intermedius, B.gingivalis dan Peptostreptococcus micros3. S.intermedius dan F.nucleatum.Walker et al mengindikasikan setidaknya ada 2 pola attachment loss yang berhubungan dengan refractory periodontitis, tiap pola mengindikasikan flora yang berbeda. Pola yang menunjukkan attachment loss yang besar dan cepat adalah karakteristik dari flora gram negatif yang mengandung spirochaeta, P.intermedia dan spesies Fusobacterium. Pola yang lambat dan terus-menerus dominan pada flora gram negatif yang memiliki proporsi yang besar pada spesies S.intermedius atau organisme yang mirip S.intermedius. Namun Refractory Periodontitis tidak hanya berhubungan dengan persistensi spesies mikrobial saja. Mac Farlane et all mendeskripsikan gangguan fagositosis PMN pada kasus Refractory Periodontitis dan reduksi kemotaksis PMN dan persentase kasus yang tinggi pada kelompok perokok. Hernichel-Gorbach et al melaporkan bahwa terdapat perubahan mononuclear-cell cytokine system (Carranza & Newman, 2002).2.1.2 Diagnosis Refractory Periodontitis Diagnosis periodontitis refraktori membutuhkan pengumpulan data dan evaluasi. Ini adalah cara utama di mana dokter dapat menentukan normalitas respon pasien terhadap pengobatan. Beberapa individu bisa saja datang untuk pertama kalinya dengan bentuk kerusakan pada periodontal yang luar biasa parah untuk usia mereka. Dalam kasus ini awal diagnosis bukan periodontitis refraktori, melainkan salah satu penyakit agresif lainnya. Seorang pasien dengan periodontitis refraktori sering tidak memiliki karakteristik klinis membedakan pada awal pemeriksaan dibandingkan dengan periodontitis tipe lainnya (Carranza & Newman, 2002).Setelah perawatan, differential diagnosa Refractory Periodontitis meliputi :

1. Periodontitis dengan penanganan yang tidak tepat

Kebanyakan jenis periodontitis dapat dirawat dengan efektif jika tahapan perawatan dilakukan dengan baik. Jika selama pemeriksaan setelah perawatan, ditemukan bahwa pasien tidak menunjukkan respon yang adekuat, maka kemungkinan terapi tersebut tidak tepat. Cara untuk menunjukkan suatu perawatan yang adekuat adalah melakukan semua perawatan yang terbaik dengan menghilangkan segala faktor etiologi dan menggunakan teknik terbaik.

2. Periodontitis yang berhubungan dengan pengendalian plak yang buruk oleh pasien

Pengendalian plak sangat menentukan keberhasilan perawatan periodontal sehingga perhatian khusus untuk melakukan pengendalian plak harus dilakukan sebelum mengklasifikasikan sebagai Refractory Periodontitis.

3. Lesi Endodontik

Keberadaan lesi endodontik harus diperhatik