PPOK (2) Edit

  • View
    354

  • Download
    0

Embed Size (px)

Transcript

PENYAKIT PARU OBSTRUKSI KRONIK Defenisi Penyakit Paru Obstruksi Kronis (PPOK) didefenisikan sebagai penyakit atau gangguan paru yang memberikan kelainan ventilasi berupa gangguan obstruksi saluran napas.atau penyakit yang ditandai oleh keterbatasan jalan udara yang progresif yang tidak sepenuhnya dapat pulih kembali. Sumbatan aliran udara ini umumnya bersifat progresif nonreversibel dan berkaitan dengan respon inflamasi abnormal paru-paru terhadap partikel asing atau gas yang beracun/berbahaya. Ada 2 penyebab penyumbatan aliran udara pada penyakit paru obstruksi kronis ini yaitu bronkitis kronis dimana terjadi sekresi berlebih mukus kronik atau berulang ke dalam cabang bronkus dan enfisema yaitu suatu kelainan anatomis paru yang ditandai dengan terjadinya pelebaran rongga udara distal bronkiolus terminal, disertai kerusakan dinding alveoli. Gangguan obstruksi yang terjadi menimbulkan dampak buruk terhadap penderita karena menimbulkan gangguan oksigenisasi dengan segala dampaknya. Obstruksi saluran napas yang terjadi bisa bertambah berat jika ada gangguan lain seperti infeksi saluran napas dan eksaserbasi akut penyakit penderita. Beberapa rumah sakit di Indonesia ada yang menggunakan istilah PPOM (Penyakit Paru Obstruksi Menahun) yang merujuk pada penyakit yang sama atau lebih dikenal dengan nama COPD (Chronic Obtructive Pulmonary Disease). Epidemiologi Penyakit paru obstruksi kronis (PPOK) di anggap sebagai penyakit yang berhubungan antara genetik dengan lingkungan. Dimana bila seseorang bekerja di lingkungan yang tercemar oleh asap kimia atau debu yang berbahaya, maka bisa meningkatkan resiko terjadinya penyakit paru obstruksi kronis. Tetapi kebiasaan merokok pengaruhnya lebih besar dibandingkan dengan pekerjaan seseorang, dimana sekitar 10-15 % perokok menderita Penyakit paru obstruksi kronis. Sehingga bisa dikatakan penyebab utama PPOK sampai saat ini adalah merokok.

Menurut data Sukernas tahun 2001, penyakit pernafasan (termasuk PPOK) merupakan penyebab kematian ke 2 di Indonesia. WHO memperkirakan pada tahun 2020 prevalensi PPOK akan terus meningkat dari urutan 6 menjadi peringkat ke-3 di dunia dan dari peringkat ke-6 menjadi peringkat ke-3 penyebab kematian tersering setelah penyakit kardiovaskuler dan kanker. Di Indonesia diperkirakan terdapat 4,8 juta penderita PPOK dengan prevalensi 5,6 persen, dimana kejadian meningkat dengan makin banyaknya jumlah perokok atau 90 % persen penderita PPOK adalah smoker atau ex-smoker. Prevalensi ini akan meningkat seiring dengan meningkatnya usia dan juga prevalensi ini lebih tinggi pada pria daripada wanita karena pada umumnya pria lebih banyak menjadi perokok. Survey tahun 2001 di Amerika Serikat, kira-kira 12,1 juta pasien menderita PPOK, 9 juta menderita bronkitis kronik dan sisanya menderita emfisema, atau kombinasi keduanya. PPOK merupakan penyebab kematian keempat di AS dan menyebabkan 5% kematian. PPOK berkembang 20-30 tahun setelah seseorang mulai merokok, tetapi tidak semua perokok akan menderita PPOK. Etiologi Ada beberapa faktor resiko utama berkembangnya PPOK, yang dibedakan menjadi faktor paparan lingkungan dan factor host. Beberapa faktor paparan lingkungan antara lain adalah : 1. Merokok Merokok adalah faktor risiko utama penyebab PPOK dan merupakan penyebab dari 85-90 % kasus PPOK. Komponen dari asap rokok dapat mengaktifkan sel-sel inflamasi yang memproduksi dan melepaskan mediator inflamasi, jika hal ini terus berlangsung maka dapat menyebabkan kerusakan paru-paru dan jaringan sehingga timbul PPOK. Namun demikian, hilangnya fungsi paru-paru terutama ditentukan oleh status merokok dan sejarahnya. Perokok 12 sampai 13 kali lebih mungkin untuk meninggal akibat PPOK dibanding yang bukan perokok. Kematian akibat PPOK terkait dengan

banyaknya rokok yang dihisap, umur mulai merokok, dan status merokok yang terakhir saat PPOK berkembang. Namun demikian, tidak semua penderita PPOK adalah perokok. 10% orang yang tidak merokok juga mungkin menderita PPOK. Perokok pasif (tidak merokok tetapi sering terkena asap rokok) juga berisiko menderita PPOK. Menurut buku Report of the WHO Expert Committe on Smoking Control, rokok adalah penyebab utama timbulnya bronchitis kronik dan emfisema paru. Terdapat hubungan yang erat antara merokok dan penurunan VEP (Volume Ekspirasi Paksa) 1 detik. Secara patologis rokok berhubungan dengan hyperplasia kelenjar mucus bronkus dan metaplasia epitel skuamus saluran pernapasan. Juga dapat menyebabkan broncokontriksi akut. 2. Pekerjaan Pekerjaan juga faktor risiko penting untuk. Para pekerja tambang emas atau batu bara, industri gelas dan keramik yang terpapar debu silika, atau pekerja yang terpapar debu katun dan debu gandum, toluene diisosianat, dan asbes, mempunyai risiko yang lebih besar daripada yang bekerja di tempat selain yang disebutkan di atas. 3. Polusi udara Pasien yang mempunyai disfungsi paru akan semakin memburuk gejalanya dengan adanya polusi udara. Polusi ini bisa berasal dari luar rumah seperti asap pabrik, asap kendaraan bermotor, dll, maupun poluso dari dalam rumah misalnya asap dapur. 4. Infeksi Koloisasi bakteri pada saluran pernafasan secara kronis merupakan suatu pemicu inflamasi neurotofilik pada saluran nafas, terlepas dari paparan rokok. Adanya kolonisasi bakteri menyebabkan peningkatan kejadian inflamasi yang dapat diukur dari peningkatan jumlah sputum, peningkatan frekuensi eksaserbasi, dan percepatan penurunan fungsi paru, yang semua ini meningkatkan risiko kejadian PPOK. Sedangkan faktor risiko yang berasa dari host/pasiennya antara lain adalah : 1. Usia

Semakin bertambah usia, semakian besar risiko menderita PPOK. Pada pasien yang didiagnosa PPOKA sebelum usia 40 tahun, kemungkinan besar dia menderita gangguan genetik berupa defisiensi 1-antitripsin. Namun kejadian ini hanya dialami