of 60 /60
DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL DIREKTORAT JENDERAL PERIMBANGAN KEUANGAN PERIMBANGAN KEUANGAN Banjarmasin, 19 Banjarmasin, 19 Maret 2009 Maret 2009 SOSIALISASI BAGI APARAT PENGAWAS SOSIALISASI BAGI APARAT PENGAWAS FUNGSIONAL, PEMERIKSA, DAN PENEGAK FUNGSIONAL, PEMERIKSA, DAN PENEGAK HUKUM. HUKUM. KEBIJAKAN PERIMBANGAN KEUANGAN KEBIJAKAN PERIMBANGAN KEUANGAN Oleh : Drs.Pramudjo, M.Soc.Sc, Direktur Dana Perimbangan, Oleh : Drs.Pramudjo, M.Soc.Sc, Direktur Dana Perimbangan, disampaikan pada: disampaikan pada:

Desentralisasi Fiskal

Embed Size (px)

Citation preview

Page 1: Desentralisasi Fiskal

DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL PERIMBANGAN KEUANGAN DIREKTORAT JENDERAL PERIMBANGAN KEUANGAN

Banjarmasin, 19 Maret 2009Banjarmasin, 19 Maret 2009SOSIALISASI BAGI APARAT PENGAWAS FUNGSIONAL, SOSIALISASI BAGI APARAT PENGAWAS FUNGSIONAL, PEMERIKSA, DAN PENEGAK HUKUM.PEMERIKSA, DAN PENEGAK HUKUM.

KEBIJAKAN PERIMBANGAN KEUANGANKEBIJAKAN PERIMBANGAN KEUANGAN

Oleh : Drs.Pramudjo, M.Soc.Sc, Direktur Dana Perimbangan, disampaikan pada:Oleh : Drs.Pramudjo, M.Soc.Sc, Direktur Dana Perimbangan, disampaikan pada:

Page 2: Desentralisasi Fiskal

DesentralisasiDesentralisasiFiskalFiskal

Dasar HukumDasar Hukum

PermasalahanPermasalahan

SolusiSolusi

GambaranGambaranKondisiKondisiDaerahDaerah

Dana Transfer Dana Transfer Ke DaerahKe Daerah

Pengunaan Pengunaan DanaDana

Penyaluran Penyaluran DanaDana

Penyimpanan Penyimpanan DanaDana

Page 3: Desentralisasi Fiskal

UU No 41 Tahun 2008 tentang APBN 2009UU No 41 Tahun 2008 tentang APBN 2009

Page 4: Desentralisasi Fiskal

DesentralisDesentralisasi Fiskalasi Fiskal

Page 5: Desentralisasi Fiskal

PermasalahanPermasalahan

adanya ketidakseimbangan diantara adanya ketidakseimbangan diantara daerah karena perbedaan daerah karena perbedaan

kondisi daerahkondisi daerahyang tercermin dalam yang tercermin dalam

penduduk, wilayah, dan keuanganpenduduk, wilayah, dan keuangan

Page 6: Desentralisasi Fiskal

MELAYANI MELAYANI PENDUDUKPENDUDUK

MENGELOLA MENGELOLA WILAYAHWILAYAH

PELAYAN & PELAYAN & PE PE

NGELOLANGELOLA

Page 7: Desentralisasi Fiskal

MELAYANI MELAYANI PENDUDUKPENDUDUK

JUMLAHJUMLAH

KONDISIKONDISI

KEGIATAN KEGIATAN EKONOMIIEKONOMII

JUMLAHJUMLAH

IPMIPM

PDRBPDRB

PADPADDBH DBH

PAJAKPAJAK

Page 8: Desentralisasi Fiskal

MENGELOLA MENGELOLA WILAYAHWILAYAH

LUASLUAS

KONDISIKONDISI

LUASLUAS

IKKIKK

PDRBPDRB

DBH DBH SDASDA

Page 9: Desentralisasi Fiskal

PELAYAN & PELAYAN & PE PE

NGELOLANGELOLA

PNSDPNSD

GAJI GAJI PNSDPNSD

Page 10: Desentralisasi Fiskal

0,00

5.000,00

10.000,00

15.000,00

20.000,00

25.000,00

30.000,00

35.000,00

40.000,00

da

lam

rib

u ji

wa

Irjab

ar

Ma

lut

Go

ron

talo

Su

lba

r

Ba

be

l

Ma

luk

u

Ke

p R

iau

Be

ng

ku

lu

Ka

lten

g

Pa

pu

a

Su

lten

gg

Su

lut

Su

lten

g

Ja

mb

i

Ka

ltim

Ka

lse

l

Yo

gy

ak

arta

Ba

li

NA

D

Ka

lba

r

NT

B

NT

T

Su

mb

ar

Ria

u

Su

lse

l

Su

ms

el

La

mp

un

g

DK

I

Ba

nte

n

Su

mu

t

Ja

ten

g

Ja

tim

Ja

ba

rPETA JUMLAH PENDUDUK

KABUPATEN/KOTA SE-PROVINSI DI INDONESIA TAHUN 2005-2006

2005 2006

Daerah Jumlah % Daerah Jumlah %

Total 33 219.026,03 100 33 220.615,07 100

Tertinggi Jabar 39.066,70 17,84 Jabar 39.648,64 17,97

Terendah Irjabar 643,01 0,29 Irjabar 688,42 0,31

Rata-Rata 33 6.637,15 - 33 6.685,31 -

2005 2006Uraian Daerah Jumlah % Daerah Jumlah %

Total 33 219.026,03 100 33 220.615,07 100

Tertinggi Jabar 39.066,70 17,84 Jabar 39.648,64 17,97

Terendah Irjabar 643,01 0,29 Irjabar 688,42 0,31

Rata-Rata 33 6.637,15 - 33 6.685,31 -

2005 2006Uraian

Page 11: Desentralisasi Fiskal

0,00

50.000,00

100.000,00

150.000,00

200.000,00

250.000,00

300.000,00

350.000,00

da

lam

km

2

DK

I

Yo

gy

ak

arta

Ba

li

Ba

nte

n

Go

ron

talo

Su

lba

r

Su

lut

Ba

be

l

Be

ng

ku

lu

NT

B

Ke

p R

iau

Ja

ten

g

Ja

ba

r

La

mp

un

g

Ka

lse

l

Su

lten

gg

Su

mb

ar

Su

lse

l

Ma

lut

Ja

tim

Ja

mb

i

NT

T

NA

D

Ma

luk

u

Su

mu

t

Su

lten

g

Ria

u

Su

ms

el

Irjab

ar

Ka

lten

g

Ka

lba

r

Ka

ltim

Pa

pu

aPETA LUAS WILAYAH

KABUPATEN/KOTA SE-PROVINSI DI INDONESIA TAHUN 2005-2006

2005 2006

Daerah Jumlah % Daerah Jumlah %

Total 33 1.961.860,27 100 33 2.117.887,45 100

Tertinggi Papua 309.934,40 15,80 Papua 319.160,93 15,07

Terendah DKI 740,29 0,04 DKI 1.969,89 0,09

Rata-Rata 33 59.450,31 - 33 64.178,41 -

2005 2006Uraian Daerah Jumlah % Daerah Jumlah %

Total 33 1.961.860,27 100 33 2.117.887,45 100

Tertinggi Papua 309.934,40 15,80 Papua 319.160,93 15,07

Terendah DKI 740,29 0,04 DKI 1.969,89 0,09

Rata-Rata 33 59.450,31 - 33 64.178,41 -

2005 2006Uraian

DJPKDJPK(EPIKD)(EPIKD)

Page 12: Desentralisasi Fiskal

SolusiSolusi

perlu adanya upaya perlu adanya upaya menyeimbangkan kemampuan menyeimbangkan kemampuan

keuangan antara keuangan antara Pemerintah Pusat dan daerah dan Pemerintah Pusat dan daerah dan

antar daerahantar daerah

Page 13: Desentralisasi Fiskal
Page 14: Desentralisasi Fiskal
Page 15: Desentralisasi Fiskal
Page 16: Desentralisasi Fiskal

DANA PERIMBANGAN

DANA OTSUS DANPENYESUAIAN

DBH

DAU

DAK

DANA OTSUS PAPUA

DANA OTSUS NAD

DANA TAMBAHAN INFRAS OTSUS PAPUA

DANA TAMBAHAN DAU UNTUKPENINGKATAN PENDAPATAN

GURU PNSD

DANA 0TSUS

DANA PENYES

DBH PBB

DBH PPH

DBH KEHUTANAN

DBH PERT UM

DBH PERIKANAN

DBH MIGAS

DBH CUKAI

DBH PAJAKDBH PAJAK

DBH SDADBH SDA

DBH BPHTB

DANA TAMBAHAN INFRAS OTSUS PAPUA BARAT

DANA OTSUS PAPUA BARAT

Page 17: Desentralisasi Fiskal

Bel Pem Pusat Transfer

Bel Pem Pusat Transfer

Page 18: Desentralisasi Fiskal

DBH Pajak DBH SDA DAU DAK Dana Otsus Dana Penyes

DBH Pajak DBH SDA DAU DAK Dana Otsus Dana Penyes

Page 19: Desentralisasi Fiskal

0

50

100

150

200

250

300

350

81,1 98,1 120,3 129,7 150,5 226,2 254,2 292,4 320,7

2001

2002

2003

2004

2005

2006

2007

2008

2009

2009 Rev

TRILIUNTRILIUN303,0303,0

Page 20: Desentralisasi Fiskal

0

50

100

150

200

250

300

350

2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009

DAU DBH DAK

Page 21: Desentralisasi Fiskal

DBH Pajak DBH SDA DAU DAK Dana Otsus Dana Penyes

DAU :DAU : Berasal dari Berasal dari 26% PDN Neto 26% PDN Neto

DBH PAJAK:DBH PAJAK: Berasal dari Berasal dari

Realisasi PNP Realisasi PNP

DBH SDA :DBH SDA : Berasal dari Berasal dari

Realisasi PNBP Realisasi PNBP

DOTSUS DOTSUS : : Berasal dari 2% Berasal dari 2% DAU Nas DAU Nas

DPENYESDPENYES : Sebagian berasal : Sebagian berasal dari Anggaran Pendidikan. dari Anggaran Pendidikan.

DAK :DAK : Sebagian Sebagian berasal dari berasal dari anggaran anggaran

pendidikan pendidikan

Page 22: Desentralisasi Fiskal

Alat Pemerata kemampuan keuangan daerah

Sumber daya alam dan sumber daya lainnya, untuk di-share sebagian dengan daerah lainnya sebagai wujud kepedulian nasional

Bantuan untuk memperbaiki infrastruktur

Page 23: Desentralisasi Fiskal

DBHDAU

DAK

PEMERINTAH PUSAT MENGALOKASIKAN DANA PERIMBANGAN KE DAERAH BERDASARKAN DATA DAERAH

DATA, KRITERIA, FORMULA, DAN SATUAN UKURAN DITERAPKAN SECARA KONSISITEN

BELUM MEPERTIMBANGKAN USULAN DAERAH

Page 24: Desentralisasi Fiskal

DBHDAU

DAK

Pasal 10 ayat (1) UU no.33/2004

DANA PERIMBANGAN

ALOKASINYA DALAM APBN TIDAK DAPAT DIPISAHKAN SATU

SAMA LAIN

MASING-MASING JENIS DANA

PERIMBANGAN SALING MENGISI

DAN SALING MELENGKAPI

Page 25: Desentralisasi Fiskal

SDA DIBAGI ANTARA PEM PUSAT DENGAN DAERAH (1) PENGHASIL,

(2) PROVINSI , (3) DAERAH TETANGGA SE PROVINSI

Page 26: Desentralisasi Fiskal

Pembagian SDA dan SDP untuk Pemerinah Pembagian SDA dan SDP untuk Pemerinah Pusat dan masing-masing daerah dengan Pusat dan masing-masing daerah dengan persentase tertentu ditetapkan dengan undang-persentase tertentu ditetapkan dengan undang-undangundang

Data Realisasi PNBP dan PNP disediakan oleh Data Realisasi PNBP dan PNP disediakan oleh instansi yang berwenang atas PNBP dan PNP dan instansi yang berwenang atas PNBP dan PNP dan dilakukan rekonsiliasi sebelum dibagidilakukan rekonsiliasi sebelum dibagi

Perkiraan Alokasi DBH masing-masing Daerah Perkiraan Alokasi DBH masing-masing Daerah ditetapkan dengan PMK dan dipublikasikanditetapkan dengan PMK dan dipublikasikan

Hak daerah berdasarkan realisasi dibayarkan Hak daerah berdasarkan realisasi dibayarkan sampai lunassampai lunas

Page 27: Desentralisasi Fiskal

NO. JENIS % UNTUK DAERAH

PROPORSI

PROV KAB/KOTA PENGHASIL

KAB/KOTA LAIN DLM

PROV

UPAH PUNGUT

1. PBB 90% 16,2% 64,8% 9%

2. BPHTB 80% 16% 64%

3. PPH 20% 8% 12% *)

4. CUKAI 2% 0,6% 0,8% 0,6%

*) DIRINCI MENJADI:8,4% KAB/KOTA TEMPAT WP TERDAFTAR3,6% KAB/KOTA DALAM PROVINSI YANG SAMA

Page 28: Desentralisasi Fiskal

Prov Kalimantan Selatan

Page 29: Desentralisasi Fiskal

NO. JENIS BAGI HASIL% UNTUK DAERAH

PORSI

PROV KAB/KOTA

PENGHASILKAB/KOTA LAIN

DALAM PROV

1. KEHUTANAN

A. IHPH 80% 16% 64% -

B. PSDH 80% 16% 32% 32%

C. REBOISASI 40% - 40% -

2. PERTAMBANGAN UMUM

A. LAND RENT KAB/KOTA PENGHASIL 80% 16% 64% -

B. LAND RENT PROVINSI PENGHASIL 80% 80% - -

C. ROYALTI KAB/KOTA PENGHASIL 80% 16% 32% 32%

D. ROYALTI PROVINSI PENGHASIL 80% 26% - 54%

DILANJUTKAN …..

Page 30: Desentralisasi Fiskal

CONTINUED

NO JENIS DBH% UNTUK DAERAH

PROPORTION

PROVKAB/KOTA

PENGHASIL

KAB/KOTA LAIN DALAM

PROV YG SAMA *)

3. PERIKANAN **) 80%      

4. MINYAK BUMI        

      

A. DARI KAB/KOTA PENGHASIL 15,5%      

  

15% 3% 6% 6%

0,5% ***) 0,1% 0,2% 0,2%

B. DARI PROVINSI PENGHASIL 15,5%      

  

15% 5% - 10%

0,5% ***) 0,17% - 0,33%

*) DIBAGI RATA**) DIBAGI RATA KEPADA DAERAH SELURUH INDONESIA***) HASIL DIMANFAATKAN UNTUK PENDIDIKAN DASAR

Page 31: Desentralisasi Fiskal

Prov. Kalimantan Selatan

Prov. Kalimantan Selatan

Page 32: Desentralisasi Fiskal

*) DIBAGI SECARA MERATA***) DIALOKASIKAN UNTUK ANGGARAN PENDIDIKAN MULAI TAHUN 2009

Lanjutan …

5. GAS BUMI      

   

A. DARI KAB/KOTA PENGHASIL 30,5%      

30% 6% 12% 12%

0,5% ***) 0,1% 0,2% 0,2%

B. DARI PROVINSI PENGHASIL 30,5%      

30% 10% - 20%

0,5% ***) 0,17% - 0,33%

NO. JENIS BAGI HASIL% UNTUK DAERAH

PORSI

PROV KAB/KOTA

PENGHASIL

KAB/KOTA LAIN DALAM

PROV

Page 33: Desentralisasi Fiskal

Dikembalikan untuk pembangunan sektor Dikembalikan untuk pembangunan sektor kehutanan di daerah yaitu untuk penghijauan kehutanan di daerah yaitu untuk penghijauan

kembali.kembali.

Sesuai dengan:Sesuai dengan:

PMK No 126/PMK.07/2007 tentang Pedoman PMK No 126/PMK.07/2007 tentang Pedoman Umum Pelaksanaan DBH Kehutanan-DRUmum Pelaksanaan DBH Kehutanan-DR

Per Men Kehutanan No P.14/Menhut-V/2008 Per Men Kehutanan No P.14/Menhut-V/2008 tentang Pedoman Teknis Pelaksanaan tentang Pedoman Teknis Pelaksanaan

Rehabilitasi Hutan dan LahanRehabilitasi Hutan dan Lahan

Page 34: Desentralisasi Fiskal

Daerah

provinsi

Daerah Penghasil

Daerah lain se Prov

Daerah Penghasil

provinsi

Daerah Penghasil

Daerah lain se Prov

Daerah Penghasil

Untuk mendanai

program/ kegiatan pendidikan dasar di daerah

Page 35: Desentralisasi Fiskal

Daerah

provinsi

Daerah Penghasil

Daerah lain se Prov

Daerah Penghasil

provinsi

Daerah Penghasil

Daerah lain se Prov

Daerah Penghasil

Untuk mendanai

program/ kegiatan pendidikan dasar di daerah

Page 36: Desentralisasi Fiskal

Pembagian DAU untuk masing-masing daerah Pembagian DAU untuk masing-masing daerah dengan Formula tertentu ditetapkan dengan undang-dengan Formula tertentu ditetapkan dengan undang-undangundang

Data Dasar sebagai komponen Formula DAU Data Dasar sebagai komponen Formula DAU disediakan oleh Lembaga Pemerintah yang disediakan oleh Lembaga Pemerintah yang berwenang di bidang statistik berwenang di bidang statistik

Kebijakan atas Formula DAU adalah hasil Kebijakan atas Formula DAU adalah hasil kesepakatan antara Pemerintah Pusat bersama DPR kesepakatan antara Pemerintah Pusat bersama DPR yang dimuat dalam UU APBNyang dimuat dalam UU APBN

Perhitungan alokasi per daerah diaudit oleh BPKPerhitungan alokasi per daerah diaudit oleh BPK

Penetapan alokasi DAU per daerah dengan Perpres Penetapan alokasi DAU per daerah dengan Perpres dan dipublikasikandan dipublikasikan

Page 37: Desentralisasi Fiskal

Prov. Sulawesi Utara

3.427,84 M

Prov. Sulawesi Utara

3.427,84 M

Page 38: Desentralisasi Fiskal

PAD

DBH PJ

DBH SDA

PENDUDUK

LUAS WILAYAH

TINGKAT HARGA

KONDISI MANUSIA

PDRB PER KAPITA

KEBUTUHAN FISKAL

KEMAMPUAN FISKAL

CELAH FISKAL

CELAH FISKAL

ALOKASI DASAR

GAJI PNSD

Page 39: Desentralisasi Fiskal

39

ALOKASIALOKASIDASARDASAR

KEBUTUHANKEBUTUHANFISKALFISKAL

KAPASITASKAPASITASFISKALFISKAL

BELANJA PNSDBELANJA PNSD

JUMLAH PENDUDUKJUMLAH PENDUDUK

LUAS WILAYAH LUAS WILAYAH DARAT & LAUTDARAT & LAUT

IKKIKK

IPMIPM

PDRB PER KAPITAPDRB PER KAPITA

PADPAD

DBH PAJAKDBH PAJAK

DBH SDADBH SDA

DAERAH & DEP KEUDAERAH & DEP KEU

BPSBPS

DEP DAGRI & DEP DAGRI & BAKOSURTANALBAKOSURTANAL

BPSBPS

BPSBPS

BPSBPS

DAERAH & DEPKEUDAERAH & DEPKEU

DEPKEUDEPKEU

DEPKEUDEPKEU

TBRTBR DAERAH & DEPKEUDAERAH & DEPKEU

FORMASI PNSDFORMASI PNSD MENPAN / BKNMENPAN / BKN

T-T- ½ ½

T-T- ½½

T-1T-1

T-1T-1

T-1T-1

T-2T-2

T-2T-2

T-2T-2

T-2T-2

T-2T-2

T-2T-2

Page 40: Desentralisasi Fiskal
Page 41: Desentralisasi Fiskal
Page 42: Desentralisasi Fiskal

Pembagian DAK untuk masing-masing daerah Pembagian DAK untuk masing-masing daerah dengan Kriteria tertentu ditetapkan dengan dengan Kriteria tertentu ditetapkan dengan undang-undangundang-undang

Komponen Kriteria DAK disediakan oleh Komponen Kriteria DAK disediakan oleh Kementerian/Lembaga yang berwenang di bidang Kementerian/Lembaga yang berwenang di bidang keuangan dan infrastrukturkeuangan dan infrastruktur

Kebijakan atas Kriteria DAK adalah hasil Kebijakan atas Kriteria DAK adalah hasil kesepakatan antara Pemerintah Pusat bersama kesepakatan antara Pemerintah Pusat bersama DPR yang dimuat dalam UU APBNDPR yang dimuat dalam UU APBN

Alokasi DAK untuk masing-masing Daerah Alokasi DAK untuk masing-masing Daerah ditetapkan dengan PMK dan dipublikasikanditetapkan dengan PMK dan dipublikasikan

Page 43: Desentralisasi Fiskal

Rata-rata kemampuan keuangan daerah secara nasional Kondisi

Infrasttruktur yang rusak

Kemampuan Keuangan Daerah

KRITERIA UMUM

KRITERIA KHUSUS

KRITERIA TEKNIS

Otonomi Khusus Daerah Tertinggal Daerah Rawan Bencana dll

Page 44: Desentralisasi Fiskal

PELAKSANA DAK DI DAERAH

No Bidang & Pelaksana di Daerah

1 Pendidikan Komite Sekolah / Dinas Pendidikan

2 Kesehatan Rumah Sakit / Dinas Kesehatan

3 Infrastruktur Jalan dan Jembatan Dinas PU

4 Infrastruktur Irigasi Dinas PU

5 Infrastruktur Air Minum dan Sanitasi Dinas PU

6 Prasarana Pemerintahan Sekretariat Daerah

7 Kelautan dan Perikanan Dinas Perikanan

8Pertanian Dinas

Pertanian

9Lingkungan Hidup Instansi yg menangani

lingkungan

10 Keluarga Berencana Instansi yg menangani KB

11 Kehutanan Dinas Kehutanan

12 Sarana dan Prasarana Perdesaan Dinas Perhubungan

13 Perdagangan Dinas Perdagangan

Page 45: Desentralisasi Fiskal

Kegiatan sesuai dengan bidang-bidang DAK

Page 46: Desentralisasi Fiskal

0

2000

4000

6000

8000

10000

12000

14000

16000

18000

Pagu 2007

Realisasi 2007

Sisa 2007

Disalurkan 2009

REALISASI REALISASI PENYERAPAN DAK PENYERAPAN DAK

2007 SAMPAI 2007 SAMPAI DENGAN TANGGAL DENGAN TANGGAL

14 DES 200714 DES 2007

SISA DAK 2007 SISA DAK 2007 S/D AKHIR S/D AKHIR

TAHUN 2007TAHUN 2007 SISA DAK 2007 SISA DAK 2007 YANG AKAN YANG AKAN DISALURKAN DISALURKAN

TH 2009TH 2009

Page 47: Desentralisasi Fiskal

Seluruh dana Seluruh dana sudah ditarik sudah ditarik

sebelum tahun sebelum tahun anggaran berakhir anggaran berakhir

tidak setara dng tidak setara dng prestasi pekerjaanprestasi pekerjaan

Pekerjaan belum Pekerjaan belum selesai sampai selesai sampai

dengan akhir dengan akhir tahun anggarantahun anggaran

Pekerjaan Pekerjaan terus terus dilaksanakan dilaksanakan pada tahun pada tahun anggaran anggaran barubaru

Dana dipindahkan Dana dipindahkan dari Rek DAK dari Rek DAK

kerekening lain kerekening lain supaya sisanya supaya sisanya

terlihat kurang dari terlihat kurang dari 10%10%

Pekerjaan fiktif, Pekerjaan fiktif, rencana kegiatan rencana kegiatan

tidak dilaksanakan tidak dilaksanakan tapi dana dicairkan tapi dana dicairkan

dari Kas Daerahdari Kas Daerah

PENCAIRAN DANA TDK SESUAI REALISASI FISIK

DANA DIBLOKIR PER 31 DES 2007 PADA 208 REKENING

A/N 152 PEMILIK

PEKERJAAN FIKTIF

PEKERJAAN KURANG

PEKERJAAN BELUM SELESAI

HASIL KEGIATAN DAK TIDAK DAPAT DIMANFAATKAN SECARA OPTIMAL

Page 48: Desentralisasi Fiskal

Prov Kalimantan Selatan

Prov Kalimantan Selatan

Page 49: Desentralisasi Fiskal
Page 50: Desentralisasi Fiskal

Diberikan kepada daerah yang Diberikan kepada daerah yang dengan undang-undang dengan undang-undang

ditetapkan sebagai otonomi ditetapkan sebagai otonomi khususkhusus

Besarnya dana masing-masing Besarnya dana masing-masing 2% dari Total DAU Nasional2% dari Total DAU Nasional

UU No 21 UU No 21 Th 2001Th 2001

UU No 11 UU No 11 Th 2006Th 2006

Page 51: Desentralisasi Fiskal

KPPN

KPPN

KPPN

KPPN

KPPN

KPPN

KPPN

KPPN

KPPNKPPN

KPPN

KPPN

KPPN

KPPN

KPPNKPPN

KPPN

KPPN

KPPN KPPN

KPPNKPPN

KPPNKPPN

KPPN

KPPN

KPPN

KPPN

KPPN

KPPN KPPN

KPPN

KPPN

KPPN

KPPN

KPPNKPPN

KPPN

KPPN

KPPN

KPPN

KPPN

SPMSPM

SP2DSP2D

Page 52: Desentralisasi Fiskal
Page 53: Desentralisasi Fiskal

Sejak 2 Januari 2008Sejak 2 Januari 2008

Penyaluran langsung dari Kas Negara ke Kas Penyaluran langsung dari Kas Negara ke Kas Daerah, (daerah tidak perlu mengajukan Daerah, (daerah tidak perlu mengajukan tagihan/permintaan)tagihan/permintaan)

Dikaitkan dengan kinerja daerah dalam Dikaitkan dengan kinerja daerah dalam menyelesaiakn Perda APBD dan meyampaikan menyelesaiakn Perda APBD dan meyampaikan Laporan PenyerapanLaporan Penyerapan

Ditujukan untuk mempercpat penyaluran dana ke Ditujukan untuk mempercpat penyaluran dana ke daerah dan mempercepat pelaksanaan APBD, daerah dan mempercepat pelaksanaan APBD, dan mengurangi besarnya sisa dana APBD yang dan mengurangi besarnya sisa dana APBD yang tidak terseraptidak terserap

Page 54: Desentralisasi Fiskal

NO TRANSFER TW-1 TW-2 TW-3 TW-4 Tahun Depan

1 DBH SDA 20% 20% Realisasi – (T1+T2)

Realisasi – (T3)

Kekurangannya

2 DBH PBB/BPHTB

3 DBH PPH 20% 20% 20% Prognosa – (T1+T2+T3)

4 DAU

5 DAK 30% 45% 25%

6 OTSUS 15% 30% 40% 15%

MINGGUAN SETIAP Jum’atMINGGUAN SETIAP Jum’at

SE-PER DUA BELAS SETIAP BULANSE-PER DUA BELAS SETIAP BULAN

Page 55: Desentralisasi Fiskal

DAK

DAU

DBH

DEKON

PAD

TP

Page 56: Desentralisasi Fiskal

DAK

DAU

DBH

DANA PROV

PAD

TP

Page 57: Desentralisasi Fiskal

DAKDAU

DBH

DANA PROV

PAD

Dekon & TP

Tidak Masuk Tidak Masuk Rekening Kas Rekening Kas

Daerah Tidak dicatat Daerah Tidak dicatat dalam APBDdalam APBD

Page 58: Desentralisasi Fiskal

Dana Transfer yang sifatnya Block Dana Transfer yang sifatnya Block Grant (DBH Pajak kecuali DBH Cukai, Grant (DBH Pajak kecuali DBH Cukai, DBH SDA kecuali DBH SDA DBH SDA kecuali DBH SDA Reboisasi, dan DAU) digunakan untuk Reboisasi, dan DAU) digunakan untuk mendanai kegiatan sesuai dengan mendanai kegiatan sesuai dengan kebutuhan dan prioritas daerahkebutuhan dan prioritas daerah

Dana Transfer yang sifatnya Specific Dana Transfer yang sifatnya Specific Grant (DBH Cukai, DBH SDA Grant (DBH Cukai, DBH SDA Reboisasi, dan DAK) digunakan untuk Reboisasi, dan DAK) digunakan untuk mendanai kegiatan sesuai dengan sifat mendanai kegiatan sesuai dengan sifat kekhususannyakekhususannya

Page 59: Desentralisasi Fiskal

DBH SDA

Kehutanan

Migas

DBH PAJAK

Cukai HT

DAK 13 Bidang

Page 60: Desentralisasi Fiskal

SelesaiSelesai Terima Kasih Atas PerhatiannyaTerima Kasih Atas Perhatiannya

Alamat :Alamat :Gd. D Lantai 16 Jl. DR. Wahidin No. 1 Jakarta Pusat 10710Gd. D Lantai 16 Jl. DR. Wahidin No. 1 Jakarta Pusat 10710Telp. 021-350 9442 Faks: 021-350 9443Telp. 021-350 9442 Faks: 021-350 9443Website: Website: www.djpk.depkeu.go.idE-mail: [email protected]: [email protected]

Silahkan mengunjungi Silahkan mengunjungi website kami:website kami: