of 90 /90
RANCANGAN PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR … TAHUN ….. TENTANG PENGESAHAN INTERNATIONAL CONVENTION ON STANDARDS OF TRAINING, CERTIFICATION AND WATCHKEEPING FOR FISHING VESSEL PERSONNEL, 1995 (KONVENSI INTERNASIONAL TENTANG STANDAR PELATIHAN, SERTIFIKASI DAN TUGAS JAGA BAGI AWAK KAPAL PENANGKAP IKAN, 1995) DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. dalam rangka meningkatkan keselamatan jiwa, harta benda di laut serta perlindungan lingkungan laut melalui kesepakatan bersama untuk menetapkan standar internasional pelatihan, sertifikasi dan tugas jaga bagi orang yang bertugas diatas kapal penangkap ikan, di London telah diadopsi oleh International Maritime Organization pada konferensi internasional yang diadakan tanggal 26 Juni sampai dengan 7 Juli 1995 International Convention on Standards of Training, Certification and Watchkeeping for Fishing Vessel Personnel 1995, (Konvensi Internasional tentang Standar Pelatihan, Sertifikasi dan Tugas Jaga Bagi Awak Kapal Penangkap Ikan) 1995; b. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud pada huruf a, perlu mengesahkan Konvensi tersebut dengan Peraturan Presiden; DRAFT 6 JULI 2015

DRAFT 6 JULI 2015 - JDIH | KKP

  • Author
    others

  • View
    0

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of DRAFT 6 JULI 2015 - JDIH | KKP

VESSEL PERSONNEL, 1995
IKAN, 1995)
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
Menimbang : a. dalam rangka meningkatkan keselamatan jiwa, harta benda di laut serta perlindungan
lingkungan laut melalui kesepakatan bersama untuk menetapkan standar internasional pelatihan, sertifikasi dan tugas jaga bagi orang
yang bertugas diatas kapal penangkap ikan, di London telah diadopsi oleh International Maritime Organization pada konferensi internasional yang diadakan tanggal 26 Juni sampai dengan 7 Juli 1995 International Convention on Standards of Training, Certification and Watchkeeping for Fishing Vessel Personnel 1995, (Konvensi
Internasional tentang Standar Pelatihan, Sertifikasi dan Tugas Jaga Bagi Awak Kapal
Penangkap Ikan) 1995;
b. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud pada huruf a, perlu mengesahkan
Konvensi tersebut dengan Peraturan Presiden;
DRAFT 6 JULI 2015
Mengingat : 1. Pasal 4 ayat (1), dan Pasal 11 Undang-Undang Dasar 1945;
2. Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional (Lembaran
Negara Tahun 2000 Nomor 185, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4012);
3. Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2004
tentang Perikanan (Lembaran Negara Tahun 2004 Nomor 118, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4433), sebagaimana telah
diubah dengan Undang-Undang Nomor 45 Tahun 2009 (Lembaran Negara Tahun 2009
Nomor 154, Tambahan Lembaran Negara Nomor 5073);
4. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2008
tentang Pelayaran (Lembaran Negara Tahun 2008 Nomor 64, Tambahan Lembaran Negara
Nomor 4849);
Menetapkan : PERATURAN PRESIDEN TENTANG PENGESAHAN INTERNATIONAL CONVENTION ON STANDARDS OF TRAINING, CERTIFICATION AND
WATCHKEEPING FOR FISHING VESSEL PERSONNEL, 1995 (KONVENSI INTERNASIONAL
TENTANG STANDAR PELATIHAN, SERTIFIKASI DAN TUGAS JAGA BAGI AWAK KAPAL PENANGKAP IKAN).
Pasal 1
Mengesahkan International Convention on Standards of Training, Certification and Watchkeeping for Fishing Vessel Personnel, 1995, (Konvensi Internasional tentang Standar Pelatihan, Sertifikasi dan
Tugas Jaga bagi Awak Kapal Penangkap Ikan, STCW-F 1995, yang naskah aslinya dalam bahasa Inggris dan terjemahannya dalam Bahasa Indonesia sebagaimana terlampir dan merupakan bagian
yang tidak terpisahkan dari Peraturan Presiden ini.
Pasal 2
Apabila terjadi perbedaan penafsiran antara naskah terjemahan International Convention dalam bahasa Indonesia dengan naskah
aslinya dalam bahasa Inggris sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1, maka yang berlaku adalah naskah aslinya dalam bahasa Inggris.
Pasal 3
Negara Republik Indonesia.
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA
REPUBLIK INDONESIA,
8.05.08
NASKAH PENJELASAN
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pekerjaan di atas kapal penangkap ikan memiliki karakteristik pekerjaan bersifat 3d yaitu ”kotor (dirty)”, ”membahayakan
(dangerous)” dan ”sulit (difficult)”. Untuk mengisi pekerjaan tersebut diperlukan awak kapal yang memenuhi kualifikasi keahlian dalam keselamatan (safety), navigasi (navigation), pengoperasian kapal (ship operation) penangkapan ikan (fishing) guna memperkecil tingkat kecelakaan dan kesulitan dalam setiap kegiatan di atas kapal.
Tingkat kecelakaan kapal penangkap ikan di tingkat dunia menunjukan kenaikan demikian juga kecelakaan kapal penangkap
ikan di Indonesia. ILO memperkirakan 24.000 kapal penangkap ikan di dunia mengalami kecelakaan fatal setiap tahunnya (ILO 1999). Faktor penyebab kecelakaan kapal penangkap ikan adalah kesalahan
manusia (human error) sebesar 42 % karena keterampilan dan keahlian awak kapal rendah, serta penyebab kecelakaan lainnya
dikarenakan kebakaran, kerusakan kapal karena kontruksi kapal tidak tahan terhadap terjangan ombak besar, kandas, dan terbalik karena stabilitas kurang baik (FAO, 2000).
Di sisi lain kegiatan penangkapan ikan yang tidak bertanggung jawab menyebabkan terpolusinya laut baik oleh sisa bahan bakar atau pelumas yang dibuang ke laut atau alat tangkap jaring yang
dibuang sembarangan di laut. Pembuangan air pencucian tanki bahan bakar, atau pembuangan pelumas bekas ke laut menyebabkan
polusi. Pembuangan jaring dapat menyebabkan jebakan bagi hewan- hewan laut termasuk ikan.
International Maritime Organisation (IMO) telah mengadopsi
standar pelatihan, sertifikasi dan dinas jaga kapal bagi awak kapal penangkap ikan tahun 1995 yang dikenal dengan Standards of Training, Certification and Watchkeeping for Fishing Vessel Personnel (STCW-F) 1995. Konvensi Internasional STCW-F 1995 merupakan
pengembangan khusus dari Konvensi Internasional STCW 1978 amandemen 1995 yang diperuntukan bagi awak kapal niaga. Hasil pengembangan ini dibahas dalam suatu Konperensi Internasional yang
diadakan di London dari tanggal 26 Juni – 7 Juli 1995. Konvensi STCW-F 1995 diberlakukan secara internasional 12 bulan setelah tidak kurang dari 15 (lima belas) negara menandatangani tanpa syarat
sebagai ratifikasi, penerimaan atau persetujuan atau telah
8.05.08
menyampaikan instrumen: ratifikasi, penerimaan, persetujuan atau penambahan anggota sesuai Pasal 11 Konvensi.
Konvensi diadopsi dalam rangka meningkatkan keselamatan jiwa, harta benda di laut serta perlindungan lingkungan laut melalui
kesepakatan bersama untuk menetapkan standar internasional pelatihan, sertifikasi dan tugas jaga bagi orang yang bertugas di atas kapal perikanan. Tujuan terbaik dapat dicapai melalui penetapan
suatu Konvensi Internasional tentang Standar Pelatihan, Sertifikasi dan Tugas Jaga bagi Awak Kapal Perikanan (1995). Konvensi ini mengatur standar pendidikan dan pelatihan, sertifikasi awak kapal,
dinas jaga pada kapal penangkap ikan diutamakan pada kapal yang berukuran panjang 24 meter atau lebih.
Sampai bulan Juli 2015, STCW-F 1995 telah diratifikasi oleh 17 negara, yakni Kanada, Kongo, Denmark, Islandia, Kiribati, Latvia, Lithuania, Mauritania, Moroko, Namibia, Norwegia, Palau, Rusia,
Sierra Leone, Spanyol, Syria, dan Ukraina. Palau merupakan negara ke-15 yang meratifikasi STCW-F pada tanggal 29 September 2011.
Sesuai dengan Pasal 12 STCW-F, Konvensi tersebut berlaku 12 bulan setelah tanggal pendepositan instrumen ratifikasi oleh negara ke-15. Dengan demikian, konvensi ini mulai berlaku pada tanggal 29
September 2012.
Indonesia memiliki armada penangkapan ikan sebanyak 555.190 unit kapal yang didominasi oleh kapal-kapal berukuran sekitar 5 GT.
Kapal-kapal berskala industri umumnya memiliki panjang kapal di atas 24 meter berjumlah 330 unit kapal. Walaupun demikian data
menunjukan kapal-kapal yang berukuran panjang kurang dari 24 meter banyak yang berlayar di laut lepas untuk melakukan penangkapan ikan sehingga memiliki potensi resiko kecelakaan relatif
tinggi. Sementara itu, jumlah awak kapal di Indonesia adalah sebanyak 2,6 juta orang dan diperkirakan 7.260 orang bekerja pada armada kapal berukuran panjang 24 meter atau lebih sedangkan
333.000 bekerja pada kapal-kapal penangkap ikan 12 – 24 m.
Untuk meningkatkan kualitas awak kapal armada penangkapan
nasional maupun awak kapal yang akan bekerja di kapal-kapal luar negeri maka diperlukan lembaga pendidikan dan/atau pelatihan yang mampu menghasilkan lulusan yang berstandar internasional STCW-F
1995, dimana lembaga pendidikan dan/pelatihan diwajibkan menerapkan kurikulum, tenaga pengajar, sarana-prasarana dan
proses belajar mengajar dan sertifikasi mengikuti prinsip-prinsip pendidikan dan atau pelatihan sebagaimana diatur dalam konvensi STCW-F 1995.
Saat ini kurikulum pendidikan dan pelatihan kepelautanpada lembaga pendidikan di bawah Kementerian Kelautan dan Perikanan sudah mengacu kepada konvensi STCW-F 1995 namun belum
memiliki kekuatan hukum mengingat pemerintah Republik Indonesia belum meratifikasi konvensi tersebut.
8.05.08
Sejalan dengan rencana pengembangan perikanan tangkap dimana armada perikanan skala kecil akan diarahkan ke daerah
penangkapan di laut dalam (deep sea fishing) tentu memerlukan awak kapal yang berkualitas dan ukuran kapal yang lebih besar mengingat
kegiatan penangkapan di laut dalam merupakan usaha yang penuh dengan risiko baik ditinjau dari keselamatan jiwa maupun risiko bisnis maka peningkatan kualitas awak kapal menjadi hal sangat
penting melalui pendidikan dan pelatihan perikanan berstandar internasional STCW-F 1995.
Kualitas awak kapal dimaksud meliputi kompetensi dalam bernavigasi, pengendalian dan pengoperasian kapal perikanan, alat tangkap ikan, metode dan teknik penangkapan, penanganan ikan,
permesinan kapal, elektrik dan elektronika, keselamatan pelayaran, dan penangkapan.
Keahlian para pelaut dibuktikan dengan sertifikat kepelautan
berstandar internasional STCW-F 1995 untuk dapat diterima di tingkat nasional maupun internasional sehingga para pelaut yang
akan bekerja di kapal-kapal penangkap ikan asing mampu bersaing dengan pelaut dari negeri lain dan dapat menduduki jabatan nakhoda atau perwira pada kapal-kapal luar negeri.
Indonesia telah meratifikasi Konvensi Hukum Laut (UNCLOS 1982) dengan Undang-undang Nomor 17 Tahun 1985.
Konsekwensinya bahwa pemerintah RI tunduk pada semua aturan yang ada dalam konvensi hukum laut 1982 dan mengimplementasikannya dalam peraturan nasional. Ada beberapa
konvensi internasional yang berkaitan dengan kapal perikanan yang perlu mendapat perhatian untuk mendapat pengesahan dari
pemerintah Republik Indonesia. STCW-F 1995 merupakan salah satu turunan dari Konvensi Hukum Laut 1982 tersebut.
Pengesahan STCW-F 1995 tidak lepas dari perlunya kerjasama
internasional dalam pengembangan sumberdaya manusia awak kapal, pengelolaan sumberdaya ikan, secara rasional, lestari dan serasi sebagai mandat dari hukum laut Internasional 1982, dan
untuk mewarnai peraturan dan perundangan nasional dengan peraturan internasional agar dalam proses selanjutnya dapat
berlangsung harmonis sesuai dengan standar internasional.
Persaingan dalam perdagangan ikan dunia dewasa ini melibatkan mutu produk dan harga ikan. Mutu produk sangat dipengaruhi,
antara lain, oleh teknik penangkapan ikan, teknik penanganan pasca tangkap, teknik pembongkaran ikan, dan teknik transportasi ke
tempat pendaratan ikan di pelabuhan perikanan. Efektifitas dan efisiensi dalam penerapan kompetensi sangat dipengaruhi oleh keahlian awak kapal penangkap ikan dan keterampilan dalam
mempergunakan peralatan/teknologi yang ada atau tersedia di atas kapal. Efektifitas dan efisiensi dari kerja awak kapal perikanan tersebut serta kualitas ikan yang dihasilkannya pada akhirnya akan
mempengaruhi biaya operasi kapal yang akan menjadi komponen
8.05.08
Naskah Penjelasan STCW-F 1995 4
penentuan harga. Oleh karena itu, awak kapal perikanan diharuskan untuk memenuhi standar pelatihan tertentu untuk dapat
menghasilkan produk yang berkualitas.
berkewajiban menghasilkan lulusan yang menguasai pengetahuan minimum (knowledge) dan keahlian/ketrampilan (skills) serta pemahaman (understanding) sesuai standar internasional
sebagaimana tertuang dalam Konvensi Bab II/3, II/4, II/5, dan II/6. Lembaga pendidikan dan pelatihan wajib menggunakan kurikulum
sebagaimana diatur dalam STCW-F 1995 untuk menghasilkan lulusan yang memenuhi kompetensi minimum.
Sedangkan petugas jaga laut di atas kapal perikanan diwajibkan
hanya dapat dilaksanakan oleh sumberdaya manusia yang memiliki keahlian yang dibuktikan dengan sertifikat kepelautan serta harus
dalam keadaan tidak lelah (bugar).
Setiap peseta didik atau peserta pelatihan akan diberikan sertifikat sebagai tanda bahwa awak kapal perikanan telah memenuhi
standar kompetensi yang dipersyaratkan yang diminta oleh ketentuan internasional. Pelaksanaan tugas-tugas awak kapal tersebut perlu dimonitor oleh petugas jaga yang bersertifikat pula sesuai ketentuan
STCW-F 1995.
dan mengevaluasi terhadap standar-standar dan penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan kepelautan perikanan, ujian kepelautan dan sertifikasi serta endorsemen kepelautan serta pengawakan kapal
penangkap ikan oleh lembaga berwenang.
B. Tujuan Pengesahan STCW-F 1995
1. untuk meningkatkan standar pendidikan, pelatihan, sertifikasi dan tugas jaga bagi awak kapal perikanan;
2. memposisikan awak kapal perikanan agar memperoleh pengakuan dan peluang kerja di tingkat internasional.
3. meningkatkan kualitas lingkungan laut dengan mengurangi terjadinya pencemaran laut akibat operasional kapal ikan;
4. meningkatkan kualitas penangkapan ikan dengan menerapkan
tata laksana penangkapan ikan yang bertanggung jawab;
5. untuk meningkatkan keselamatan jiwa dan harta benda di laut.
C. Materi Pokok STCW-F 1995
Konvensi Internasional tentang STCW-F 1995 merupakan
pengembangan khusus dari konvensi internasional tentang STCW 1978 yang diperuntukan bagi awak kapal niaga. Sedangkan STCW-F
1995 diperuntukan bagi awak kapal penangkap ikan. Karena awak kapal penangkap ikan dianggap memiliki spesifikasi khusus, berbeda
8.05.08
dengan kapal niaga, maka pengaturan tentang standar pelatihan, sertifikasi dan tugas jaga bagi awak kapal penangkap ikan, dianggap
perlu diatur tersendiri dalam konvensi internasional yang terpisah yang disebut STCW-F. Karena pembahasan pengaturan secara
terpisah dari STCW dilakukan terpisah pada tanggal 26 Juni s/d 7 Juli 1995, maka penyebutan konvensi internasional ini sering ditulis STCW-F 1995.
STCW-F 1995 berisi ketentuan-kententuan pokok yang mengatur hal-hal sebagai berikut:
1. Sertifikasi
Substansi pokok Konvensi Internasional STCW-F 1995 dimuat dalam Pasal 6 (Lampiran I) yang menyatakan bahwa ”awak kapal perikanan harus disertifikasi sesuai dengan ketentuan dalam lampiran Konvensi ini”.
Sertifikasi tersebut meliputi: a. Sertifikasi bagi nakhoda kapal perikanan dengan panjang 24 meter
atau lebih yang beroperasi di perairan tak terbatas.
b. Sertifikasi bagi perwira tugas jaga navigasi pada kapal perikanan dengan panjang 24 meter atau lebih yang beroperasi di perairan tak terbatas.
c. Sertifikasi bagi nakhoda kapal perikanan dengan panjang 24 meter atau lebih yang beroperasi di perairan terbatas.
d. Sertifikasi bagi perwira tugas jaga navigasi pada kapal perikanan dengan panjang 24 meter atau lebih yang beroperasi di perairan terbatas.
e. Sertifikasi Kepala Kamar Mesin dan Masinis II pada kapal perikanan yang digerakkan oleh mesin penggerak utama dengan
daya 750 KW atau lebih.
f. Sertifikasi GMDSS bagi petugas radio di kapal perikanan.
Keahlian, keterampilan dan kemampuan awak kapal perikanan
yang telah disertifikasi sebagaimana tersebut di atas diwajibkan untuk senantiasa diperbaharui dan ditingkatkan. Disamping itu, seluruh awak kapal perikanan diwajibkan untuk mengikuti pelatihan
keselamatan tingkat dasar sesuai ketentuan yang berlaku.
Sertifikasi kompetensi yang diterbitkan melalui ujian keahlian
dan sertifikat pengukuhan bagi para pelaut perikanan dikeluarkan setelah memiliki pengalaman di kapal perikanan yang diterbitkan melalui ujian pengukuhan oleh lembaga yang kompeten.
2. Standarisasi
seperti diwajibkan oleh Konvensi Internasional mengenai STCW-F 1995, maka penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan awak kapal
8.05.08
perikanan harus memenuhi standar pelatihan, sertifikasi dan tugas jaga sebagaimana ditentukan di dalam Konvensi ini. Hal ini berarti
bahwa proses belajar-mengajar beserta fasilitasnya dalam penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan awak kapal perikanan
harus mengikuti ketentuan Konvensi STCW-F 1995.
3. Resolusi Konvensi STCW-F 1995 mengesahkan 9 (sembilan) resolusi
sebagai bagian yang tak terpisahkan dari Konvensi. Kesembilan resolusi tersebut adalah: a. Resolusi 1: Pelatihan bagi Operator Radio untuk The Global
Maritime Distress and Safety System (GMDSS).
b. Resolusi 2: Pelatihan Radar Simulator.
c. Resolusi 3: Petunjuk dan Rekomendasi untuk Awak Kapal Perikanan.
d. Resolusi 4: Pelatihan Anak Buah Kapal (ABK) Kapal Perikanan.
e. Resolusi 5: Pelatihan Teknik Penyelamatan Diri bagi Awak Kapal Perikanan.
f. Resolusi 6: Pelatihan dan Sertifikasi bagi Awak Kapal Perikanan berukuran besar.
g. Resolusi 7: Persyaratan Perwira Jaga Bagian Mesin dan Peraturan
Tugas Jaga.
h. Resolusi 8: Promosi berpartisipasinya wanita dalam industri penangkapan ikan.
i. Resolusi 9: Hubungan antar manusia.
4. Prinsip Dasar STCW-F 1995
Konvensi STCW-F 1995 menetapkan prinsip-prisip dasar yang wajib dipatuhi dalam melaksanakan tugas jaga navigasi di atas kapal perikanan sebagai berikut :
a. Prinsip-Prinsip Dasar Umum Prinsip-prinsip dasar yang secara umum wajib dipenuhi oleh
pemilik dan pengusaha penangkapan ikan, nakhoda kapal perikanan,
dan petugas jaga adalah: 1) Setiap saat mempertahankan keamanan dalam pelaksanaan tugas
jaga.
2) Senantiasa menjaga keamanan dan keselamatan pelayaran, terutama dalam hal mencegah tubrukan kapal dan kapal kandas.
3) Kapal perikanan dengan ukuran panjang di bawah 24 meter yang beroperasi di perairan yang terbatas dapat dikecualikan dari
prinsip-prinsip dasar ini.
b. Prinsip-Prinsip Dasar Khusus Prinsip-prinsip dasar khusus yang berlaku bagi pelayaran kapal
perikanan dari dan ke daerah penangkapan meliputi: 1) Pengaturan tugas jaga navigasi yang meliputi komposisi petugas
jaga dan faktor-faktor yang harus diperhatikan pada saat pelaksanaan tugas jaga.
2) Kebugaran awak kapal perikanan dalam melaksanakan tugas jaga.
3) Pengaturan pelayaran yang meliputi antara lain rencana pelayaran, posisi, kecepatan dan arah kapal, alat bantu navigasi, dan larangan untuk alih tugas jaga.
4) Ketentuan tentang peralatan navigasi dan tata cara penggunaannya.
5) Pengaturan tugas-tugas navigasi dan tanggung jawab petugas jaga.
6) Pengamatan keliling kapal perikanan.
7) Perlindungan lingkungan laut.
8) Kondisi cuaca.
Disamping prinsip-prinsip dasar yang bersifat khusus di atas, hal lain yang harus diperhatikan menurut konvensi ini adalah: 1) Nakhoda dan perwira jaga tetap bertanggung jawab atas navigasi
dengan pandu di atas kapal.
2) Nakhoda dan perwira jaga pada saat menangkap ikan dan pada saat mencari gerombolan ikan wajib memperhatikan situasi dan
kondisi internal dan lingkungan di sekitar kapal perikanan.
3) Tugas jaga radio harus dilakukan selama pelayaran sesuai
peraturan radio.
4) Tugas jaga wajib dilakukan pada saat kapal penangkap ikan tambat labuh.
8.05.08
BAB II
STCW-F 1995
Pengesahan STCW-F oleh Indonesia diharapkan akan memnerikan keuntungan sebagai berukut: 1. adanya kepastian hukum bagi awak kapal perikanan dalam
melaksanakan aktifitasnya sebagai nelayan, sehingga diharapkan mereka akan lebih produktif adan meningkat penghasilannya;
2. adanya perlakuan yang adil dan tidak diskriminatif terhadap awak kapal perikanan Indonesia;
3. dengan meningkatnya standar kualitas awak kapal perikanan
Indonesia, dunia internasional akan memposisikan awak kapal perikanan Indonesia sejajar dengan awak kapal perikanan negara lain yang lebih maju;
4. pengakuan pihak asing tentang mutu produk perikanan yang higienis dan aman;
5. meningkatkan penyerapan dan daya saing awak kapal perikanan asal Indonesia di pasar kerja global;
6. meningkatkan devisa negara dari pemasaran produk perikanan
dan penempatan tenaga kerja di luar negeri;
7. meningkatkan keselamatan navigasi dan penangkapan ikan;
8. optimalisasi pemanfaatan sumber daya kelautan dan perikanan secara bertanggung jawab;
9. membatasi awak kapal perikanan asing yang tidak memiliki
kompetensi yang akan bekerja di kapal perikanan Indonesia;
10. meningkatkan kerja sama internasional khususnya di bidang kelautan dan perikanan;
11. meningkatkan investasi usaha di bidang kelautan dan perikanan di dalam negeri;
12. meningkatkan kemampuan awak kapal perikanan dalam memanfaatkan teknologi maju;
13. memacu nelayan kecil untuk meningkatkan kompetensi
kepelautan dan perikanan;
negara maritim di dunia internasional.
8.05.08
Pengesahan Konvensi STCW-F 1995 yang dilakukan oleh
Indonesia akan membawa 3 (tiga) konsekuensi sebagai berikut:
1. Konsekuensi Hukum
Bila Indonesia mengesahkan Konvensi STCW-F 1995, maka konsekuensi logisnya dari sudut hukum adalah bahwa semua peraturan perundang-undangan yang mengatur pendidikan dan
pelatihan awak kapal perikanan, sertifikasi kepelautan, pengawakan kapal perikanan, ketenagakerjaan yang berkaitan dangan kapal perikanan, keselamatan pelayaran kapal perikanan, keselamatan
dalam penangkapan ikan pada kapal perikanan, daerah pelayaran kapal perikanan, perlu diharmonisasikan dengan Konvensi STCW-F
1995.
konsekuensi logisnya dari sudut kelembagaan adalah bahwa Indonesia harus menetapkan lembaga pemerintah yang
bertanggungjawab dalam pelaksanaan Konvensi STCW-F 1995. Departemen Kelautan dan Perikanan dalam hal ini Badan Pengembangan SDM Kelautan dan Perikanan, yang paling
memungkinkan untuk itu. Salah satu tugas pokok Badan Pengembangan SDM Kelautan dan Perikanan adalah menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan dibidang kelautan dan
perikanan. Penyelenggaraannya sudah berlangsung selama ini, hanya saja belum sepenuhnya mengikuti standar yang ada dalam Konvensi
STCW-F 1995 . Kelembagaan harus ini diinformasikan kepada IMO dan menjadi anggota kelembagaan yang berada di bawah IMO.
3. Konsekuensi Pendidikan dan Pelatihan, Ujian dan Sertifikasi
Kepelautan Perikanan
Bila Indonesia mengesahkan Konvensi STCW-F 1995, maka konsekuensi logisnya dari sudut pendidikan dan pelatihan
kepelautan perikanan adalah Indonesia harus memenuhi standar kurikulum, tenaga pengajar, sarana dan prasarana, ujian dan
sertifikasi, dan pengelolaan pendidikan dan pelatihan kepelautan perikanan sesuai dengan Konvensi STCW-F 1995. Bagi lembaga pendidikan dan pelatihan yang tidak memenuhi persyaratan Konvensi
STCW-F 1995, maka lembaga tersebut tidak dapat mengikutsertakan peserta didiknya untuk mengikuti sertifikasi kepelautan perikanan
berstandar Konvensi STCW-F 1995.
metode ujian harus memenuhi persyaratan Konvensi STCW-F 1995.
8.05.08
4. Konsekuensi Ekonomi
Bila Indonesia meratifikasi Konvensi SCTW-F 1995, maka konsekuensi logisnya dari sudut ekonomi adalah bahwa Indonesia
harus membiayai pelaksanaan Konvensi SCTW-F 1995 di Indonesia, dan membayar iuran wajib dan iuran sukarela sebagai anggota kelembagaan Konvensi SCTW-F 1995 sesuai ketentuan yang berlaku.
E. Urgensi Pengesahan
1. Aspek Filosofis
Dalam UUD 1945, ditemukan beberapa landasan kebijakan yang terkait dengan urgensi pengesahan STCW-F 1995. Dalam Pasal 27
ayat 2, Pasal 28C ayat1, dan Pasal 28 D UUD 1945 ditegaskan bahwa tiap-tiap warga negara berhak atas pekerjaan, penghidupan yang layak bagi kemanusiaan, mendapat pendidikan dan memperoleh
manfaat dari ilmu pengetahuan dan teknologi, serta berhak untuk bekerja serta mendapat imbalan dan perlakuan yang adil dan layak
dalam hubungan kerja. Hak-hak tersebut merupakan hak dasar yang dimiliki oleh setiap warga negara Indonesia.
Dalam konteks perikanan, apa yang digariskan di atas sangat relevan sebagai landasan pemerintah dalam melakukan upaya
peningkatan perluasan lapangan kerja, penghidupan yang layak, kompetensi, serta nilai tawar dari para pelaku utama di bidang
perikanan, termasuk mereka yang berkerja sebagai awak kapal perikaan. Rendahnya kompetensi awak kapal perikanan Indonesia selama ini, telah menyebabkan tingginya tingkat kecelakaan kapal
perikanan, kurang mampu bersaingnnya awak kapal Indonesia dengan awak kapal asing, diskriminasi dalam penerimaan upah kerja, dan perlakuann tidak adil lainya dalam hubungan kerja sebagai awak
kapal. Oleh karena itu, upaya untuk meningkatkan kompetensi awak kapal melalui pengesahan STCW-F menjadi penting adanya.
2. Urgensi Yuridis
Indonesia telah meratifikasi Konvensi Hukum Laut (UNCLOS 1982) dengan Undang-undang Nomor 17 Tahun 1985. Konvensi ini mengatur secara global hal-hal yang terkait dengan hukum laut dan
memberi negara-negara hak serta tanggung jawab sumber daya laut mereka secara rasional dan berkelanjutan.
Terkait dengan keselamatan, UNCLOS 1982 mengatur bahwa setiap negara wajib secara efektif mengelola jurisdiksi dan pengawasan mereka, secara administrative, teknis, dan sosial atas
kapal yang mengibarkan bendera mereka. Selanjutnya negara bendera wajib mengambil tindakan atas kapal yang mengibarkan bendera negara tersebut, untuk memastikan hal-hal yang terkait
dengan keamanan di laut, seperti berkenaan dengan: (a) konstruksi,
8.05.08
perlengkapan, dan kelaiklautan kapal; (b)pengawakan kapal, kondisi kerja, dan pelatihan bagi awak kapal, dengan mempertimbangkan
instrumen hukum internasional; (c) penggunaan sinyal, pemeliharaan alat komunikasi, dan pencegahan tabrakan. Dalam melakukan
tindakan tersebut, setiap negara perlu menyesuaikan dengan persetujuan internasional yang secara umum diterima, prosedur dan praktek, dan mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk
memastikan kepatuhan mereka (Pasal 94(5)).
Sementara itu, Pasal 57 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2004 tentang Perikanan sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang
Nomor 45 Tahun 2009, ditegaskan bahwa Pemerintah menyelenggarakan pendidikan, pelatihan, dan penyuluhan perikanan
untuk meningkatkan pengembangan sumber daya manusia di bidang perikanan. Pemerintah menyelenggarakan sekurang-kurangnya 1 (satu) satuan pendidikan dan/atau pelatihan perikanan untuk
dikembangkan menjadi satuan pendidikan dan/atau pelatihan yang bertaraf internasional. Dalam ranggka menyelenggarakan
pendidikan, pelatihan, dan penyuluhan perikanan tersebut, Pemerintah dapat bekerja sama dengan lembaga terkait, baik di tingkat nasional maupun di tingkat internasional (Paal 58).
3. Aspek Sosial dan Ekonomi Sumber daya perikanan merupakan potensi ekonomi yang dapat
dimanfaatkan untuk masa depan bangsa dan sebagai tulang punggung pembangunan nasional. Pemanfaatan secara optimal
diarahkan pada pendayagunaan sumber daya ikan dengan memperhatikan daya dukung yang ada dan kelestariannya untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat, meningkatkan taraf hidup
nelayan, meningkatkan penerimaan dari devisa negara, menyediakan perluasan dan kesempatan kerja, meningkatkan produktivitas, nilai tambah dan daya saing hasil perikanan, serta menjamin kelestarian
sumber daya ikan.
Sebagai negara maritim besar, Indonesia memiliki jumlah
nelayan yang cukup besar, yaitu sekitar 2,6 juta orang. Dari jumlah tersebut, diperkirakan sebanyak 7.260 orang bekerja pada armada kapal berukuran panjang 24 meter atau lebih dan 333.000 bekerja
pada kapal-kapal penangkap ikan 12 – 24 m. Dengan komposisi demikian, maka sebagian besar dari awak kapal ikan kita masih
termasuk dalam kategori yang belum memiliki kompetensi yang memadai. Akibatnya, awak kapal Indonesia sebagian besar masih belum bisa bersaing dengan awak kapal perikanan asing, sering
mendapat perlakuan diskriminatif dan ketidak adilan dalam hubungan kerja.
Berdasarkan gambaran di atas, upaya untuk mendorong
peningkatkan kompetensi awak kapal Indonesia menjadi sangat penting. Pengesahan STCW-F sebagai instrumen hokum internasional
yang memberikan pangaturan tentangn standar pelatihan, sertifikasi
8.05.08
Naskah Penjelasan STCW-F 1995 12
dan tugas jaga awak kapal perikanan sangat diperlukan agar lembaga pendidikan dan/atau pelatihan di bidang perikanan mampu
menghasilkan tenaga-tenaga awak kapal yang bestandar internasional. Pada saat yang sama, lembaga pendidikan
dan/pelatihan di bdiang perikanan dapat menerapkan kurikulum, tenaga pengajar, sarana-prasarana dan proses belajar mengajar dan sertifikasi mengikuti prinsip-prinsip pendidikan dan atau pelatihan
sebagaimana diatur dalam konvensi STCW-F 1995.
F. Kewajiban Pemerintah RI
1. memberlakukan mensosialisasikan ketentuan-ketentuan Konvensi STCW-F1995 dan seluruh lampirannya;
2. pengelolaan pendidikan dan pelatihan harus sesuai dengan yang
dipersyaratkan dalam Konvensi STCW-F 1995 yaitu memenuhi standar kurikulum, tenaga pengajar, sarana dan prasarana serta
ujian dan sertifikasi;
3. memenuhi standar tugas jaga pada kapal perikanan untuk menjamin keselamatan pelayaran dan penangkapan ikan sesuai
dengan yang dipersyaratkan Konvensi STCW-F1995;
4. melaporkan kebijakan yang telah diambil dalam memberlakukan sepenuhnya ketentuan-ketentuan Konvensi STCW-F1995,
termasuk contoh sertifikat yang diterbitkan oleh Pemerintah RI sesuai dengan Konvensi STCW-F1995 kepada Sekjen IMO;
5. menetapkan proses dan prosedur penyelidikan terhadap hal-hal yang dapat mengakibatkan ancaman keselamatan jiwa, harta benda di laut, atau lingkungan laut yang dilakukan oleh para
pemegang sertifikat yang diterbitkan Pemerintah RI;
6. meninjau kembali kesepakatan, perjanjian, dan konvensi untuk menjamin bahwa tidak ada pertentangan dengan Konvensi STCW-
F 1995;
7. semua hal-hal yang tidak dengan tegas diatur dalam Konvensi
STCW-F1995 tetap harus tunduk kepada perundang-undangan yang berlaku di Indonesia;
8. menentukan denda atau sanksi terhadap kasus-kasus
pelanggaran peraturan perundangan nasional yang menunjang pemberlakuan Konvensi STCW-F 1995;
9. melakukan kerjasama dengan negara lain yang telah mengesahkan Konvensi STCW-F 1995;
10. memeriksa sertifikat awak kapal penangkap ikan milik negara
lain yang telah mengesahkan Konvensi STCW-F 1995 pada saat berada di pelabuhan-pelabuhan Indonesia;
8.05.08
Naskah Penjelasan STCW-F 1995 13
11. menilai tingkat kesalahan kapal yang membahayakan awak kapal penangkap ikan, harta benda, dan lingkungan laut dan mengambil
tindakan guna menjamin bahwa kapal tersebut tidak akan berlayar sampai persyaratan dipenuhi. Fakta tersebut harus
dilaporkan kepada IMO;
12. melakukan konsultasi dengan IMO untuk dapat bekerja sama antar negara-negara yang telah mengesahkan STCW-F 1995
secara sub regional, regional dan kerjasama dengan Organisasi Buruh Internasional (ILO) dan Organisasi Pangan dan Pertanian Sedunia (FAO).
BAB III
KETERKAITAN STCW-F DENGAN PERATURAN PERUNDANG- UNDANGAN LAINNYA
1. Peraturan Perundang-Undangan Nasional Peraturan Perundangan-undangan nasional yang berkaitan
dengan STCW-F adalah : a. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 1982 tentang Pengesahan
Konvensi Hukum Laut (UNCLOS 1982);
b. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1983 tentang Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia;
c. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi
Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya;
d. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran;
e. Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang;
f. Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1996 tentang Perairan Indonesia.
g. Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian
Internasional;
h. Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional;
i. Undang- Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2004 tentang Perikanan sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 45
Tahun 2009;
k. Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 1984 tentang Pengelolaan
Sumber daya Alam Hayati di ZEE Indonesia.
l. Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 2000 tentang Kepelautan;
dan
8.05.08
2. Persetujuan Internasional Persetujuan internasional yang berkaitan dengan STCW-F
adalah : 1. Torremolinos International Convention for The Safety of Fishing
Vessel, 1977, Torremolinos International Protocol for The Safety of Fishing Vessel, 1993;
2. Safety of Life at Sea (SOLAS) Convention, 1974;
3. Works in Fishing Sector Convention, 2007;
4. Code of Conduct for Responsible Fisheries, 1995;
5. United Nations Convention on the Law of the Sea (UNCLOS), 1982
6. MARPOL (Maritime Polution Prevention) Convention, 1973;
7. COLREG (Collision Regulation) Convention, 1972;
8. Code of Safety for Fishing Vessel and Fishermen, 1995;
9. Tonnage Convention, 1969
10. SAR Convention, 1979
11. Inmarsat Convention, 1976
BAB V PENUTUP
hal-hal sebagai berikut:
1. Konvensi STCW-F 1995 merupakan persetujuan internasional yang mengatur tentang pendidikan dan pelatihan, sertifikasi
kepelautan perikanan dan tugas jaga pada kapal perikanan yang telah diadopsi oleh badan dunia IMO, ILO dan FAO. Konvensi
tersebut akan mulai berlaku pada tanggal 29 September 2012, setelah Palau menjadi negara ke 15 yang mendepositkan dokumen ratifikasinya pada tanggal 29 September 2011;
2. Pengesahan Konvensi STCW-F 1995 sangat penting bagi Indonesia, khusunya dalam mendorong meningkatkan kualitas SDM awak kapal perikanan agar memiliki kompetensi yang berstandar
internasional dan mampu bersaing dipasar tenaga kerja global, meningkatkan keselamatan jiwa dan harta benda di laut, serta
meningkatkan harkat dan martabat bangsa Indonesia sebagai negara maritim di dunia internasional.
3. Pengesahan Konvensi STCW-F 1995 juga diharapkan dapat
membatasi masuknya awak kapal perikanan asing yang tidak memiliki kompetensi yang akan bekerja di kapal perikanan
Indonesia.
1. Mengingat urgensi pengesahan STCW-F 1995 bagi kepentingan
Indonesia, maka Indonesia perlu meratifikasi persetujuan tersebut.
2. Pemerintah Indonesia perlu segera memproses pengesahan STCW-F
1995 ke dalam peraturan perundang-undangan nasional dalam bentuk Peraturan Presiden.
Jakarta, July 2015
Tentang Standar, Pelatihan, Sertifikasi dan Tugas Jaga Bagi Awak Kapal
Penangkap Ikan, 1995
1. Sesuai dengan Keputusan Majlis Organisasi Maritim Internasional (IMO)
pada sesi ke 16 dan Komite Keselamatan Maritim dari IMO sesi ke 62 dan sebagai kelanjutan Keputusan Dewan IMO sesi ke 17 dan Majlis sesi ke 18, Konvensi Internasional tentang Standar Pelatihan, sertifikasi dan
Tugas Jaga bagi Awak Kapal Penangkap Ikan yang telah disepakati oleh Direktur Jenderal Kantor Perburuhan Internasional untuk
mempertimbangkan dan menerima Konvensi Internasional tentang Standar Pelatihan, Sertifikasi dan Tugas Jaga bagi Awak Kapal Penangkap Ikan.
2. Atas undangan Organisasi Maritim Internasional (IMO), Konferensi telah
dilaksanakan di London dari tanggal 16 Juni sampai dengan 7 Juli 1995.
3. Perwakilan dari 74 Negara yang turut berpartisipasi pada Konferensi
tersebut, terdiri dari:
Irlandia Rumania
Nigeria Uruguay
Norwegia Vanuatu
Panama Venenzuela
Konferensi tersebut.
Konferensi tersebut terdiri dari :
Komisi Masyarakat Eropa (EC)
Federasi Pelayaran Internasional (ISF) Kamar Dagang Internasional (ICC)
Konfederasi Internasional tentang Serikat Perdagangan Bebas (ICFTU) Asosiasi Badan Klasifikasi Internasional ( IACS) Asosiasi Pandu Laut Internasional (MPA)
3
Federasi Lifeboat (ILF) Serikat Angkutan Jalan Raya Internasional (IRU)
Asosiasi Pemilik Kapal Barang Muatan Kering Internasional (INTERCARGO)
8. Konferensi dibuka oleh Sekretaris Jenderal Organisasi Maritim Internasional. Mr. W. A. O’Neil
9. Mr. G.G. Ivanov delegasi-delegasi dari Federasi Rusia, terpilih sebagai Presiden Konferensi.
11. Berikut ini yang terpilih sebagai Wakil Presiden Konferensi, yaitu: Mr. R. Hjaltadottir (Islandia) Mr. Abdelkebir Rafiki (Maroko)
Mr. R.Rabiners Cardoso (Peru) Mr. E.E. Nielsen (Kep. Solomon)
DR. J. Cowley (Vanuatu) 12. Sekretariat Konferensi terdiri dari:
Sekretaris Jenderal : Mr. W.A. O’Neil Sekretaris Jenderal Organisasi
Sekretaris Eksekutif : Mr. E.E. Metropoulos
Direktur Divisi Keselamatan Maritim
Deputi Direktur Senior Divisi Keselamatan Maritim Asisten Sekretaris Eksekutif : Mr. E.O. Agbakoba
Pejabat Senior Teknik Divisi Keselamatan Maritim
13. Konferensi menetapkan Komite sebagai berikut: Ketua : Mr. Y. Sasamura (Jepang) Wakil Ketua : Mr. P.A. Maneses Roque (Spanyol)
Wakil Ketua : Mr. J. T. Kim (Republik Korea) Komite Perancang Konsep Ketua : Mr. M.E. Jenkins (Kanada) Wakil Ketua : Mr. J.J.H. Sas (Belgia) Wakil Ketua : Mr. J.E.C. Aveline (Brazil)
Komite Surat Kepercayaan Ketua : Mr. J. Ndoutoumebe (Gabon)
14. Komite Perancang terdiri dari Perwakilan negara-negara:
Belgia Brazil Kanada
Indonesia Salandia Baru
15. Komite Pembuat Mandat terdiri dari negara-negara: Gabon Liberia
Swedia Thailand Ukraina
Internasional Standar Pelatihan, Sertifikasi dan Tugas Jaga bagi awak Kapal Penangkap Ikan dan dimasukkan dalam konsep Resolusi Konferensi.
17. Konferensi juga mempertimbangkan proposal, pendapat dan pengamat yang disampaikan oleh Pemerintah dan Organisasi Internasional terkait.
18. Hasil-hasil pertimbangan dicatat dalam laporan oleh masing-masing
Komisi dan dituangkan dalam putusan sidang pleno Komferensi dan
pertemuan Komisi umum, serta mengesahkan Konvensi Internasional mengenai Standar Pelatihan, Sertifikasi dan Tugas Jaga bagi Awak Kapal Penangkap Ikan, 1995 yang dinyatakan dalam Lampiran 1 dari
Naskah Akhir.
19. Konferensi juga mengesahkan resolusi berikut yang dituangkan dalam Lampiran 2 dari Naskah Akhir sebagai berikut:
Resolusi 1 : Pelatihan bagi Operator Radio untuk sistem mara bahaya dan keselematan maritim Global /the global
Maritime Distress and Safety System (GMDSS)
Resolusi 2 : Pelatihan Radar Simulator
Resolusi 3 : Petunjuk dan Rekomendasi untuk Awak Kapal Penangkap Ikan
Resolusi 4 : Pelatihan Anak Buah Kapal (ABK) bagian deck kapal, pada Kapal Penangkap Ikan yang panjangnya 24 meter atau lebih.
Resolusi 5 : Pelatihan teknik penyelamatan diri bagi Awak Kapal Penangkap Ikan
Resolusi 6 : Pelatihan dan Sertifikasi bagi Awak Kapal Penangkap Ikan berukuran besar
Resolusi 7 : Persyaratan perwira jaga bagian mesin dan peraturan tugas jaga
Resolusi 8 : Peningkatan partisipasi perempuan dalam industri penangkapan ikan
Resolusi 9 : Hubungan antar manusia
20. Teks asli Naskah Akhir (Final Act) disusun dalam bahasa : Arab,
China, Inggris, Perancis, Rusia , Spanyol dan disimpan oleh Sekretaris
Jenderal Organisasi Maritim Intewrnasional.
salinan naskah akhir yang telah disyahkan, berikut lampirannya kepada pemerintah negara yang menghadiri Konferensi tersebut.
MENYAKSIKAN yang bertanda tangan di bawah ini telah membubuhkan tanda tangan mereka di dalam naskah akhir ini.
DITANDATANGANI DI LONDON tanggal tujuhbelas juli, seribu sembilan ratus sembilan puluh lima
6
Konvensi Internasional Standar Pelatihan, Sertifikasi dan Tugas Jaga Bagi Awak Kapal
Penangkap Ikan, 1995
PARA PESERTA KONVENSI :
“Konvensi STCW 1978”).
TELAH MENYETUJUI hal-hal berikut:
Pasal 1 Kewajiban Umum
Konvensi dan Tambahannya (Annex), yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Konvensi ini. Setiap acuan terhadap Konvensi ini
sekaligus merupakan acuan terhadap ketentuan Tambahan . 2. Peserta berkewajiban menyebarluaskan semua undang-undang,
ketetapan-ketetapan, keputusan-keputusan dan aturan-aturan dengan mengambil langkah lain apapun yang mungkin perlu untuk
memberlakukan Konvensi ini secara menyeluruh, sedemikian rupa untuk dapat menjamin bahwa ditinjau dari segi keselamatan jiwa, harta benda di laut dan perlindungan lingkungan laut, awak kapal penangkap ikan
berkualifikasi dan mampu menjalankan tugasnya dalam pelayaran.
Pasal 2 Definisi
Untuk tujuan Konvensi ini, kecuali dinyatakan lain : 1. “Peserta (Party)” adalah suatu negara yang telah memberlakukan
Konvensi ini; 2. “Administrasi” adalah Pemerintahan dari suatu negara yang
bersangkutan yang memberi kuasa kepada sebuah kapal untuk
mengibarkan benderanya; 3. “Sertifikat “adalah dokumen yang syah apapun namanya yang dapat
diketahui, yang dikeluarkan atau diakui sesuai ketetapan Konvensi,
yang diberi wewenang kepada pemegang untuk bertindak seperti yang dinyatakan dalam dokumen ini atau sebagaimana yang diwenangkan oleh
peraturan nasional; 4. “Bersertifikat ” adalah memiliki sertifikat secara syah; 5. “Organisasi” adalah Organisasi Maritim Internasional (IMO); 6. “Sekertaris Jenderal” adalah Sekretaris Jenderal Organisasi;
7
7. “Kapal Penangkap Ikan ” atau kapal adalah kapal yang digunakan secara komersil untuk menangkap ikan atau sumberdaya laut hidup lainnya;
8. “Kapal Penangkap Ikan samudera” adalah kapal penangkap ikan selain dari kapal yang dilayarkan secara khusus di perairan pedalaman atau
perairan yang berdekatan dengan perairan yang terlindung, atau perairan-perairan dimana pelabuhan diberlakukan.
Pasal 3 Aplikasi
Konvensi berlaku bagi awak kapal yang berperan serta dalam operasi kapal penangkap ikan di samudera yang berhak mengibarkan bendera suatu negara peserta.
Pasal 4
Penyampaian Informasi
Masing-masing Peserta harus menyampaikan informasi kepada Sekretaris
Jenderal informasi berikut : 1. Suatu Laporan tentang tindakan yang telah diambil dalam
memberlakukan sepenuhnya ketentuan – ketentuan dari Konvensi ini
termasuk contoh sertifikat yang dikeluarkan dalam pemenuhan Konvensi ; dan
2. Informasi lain yang dapat ditetapkan atau ditentukan untuk peraturan
I/5.
1. Semua perjanjian, Konvensi dan pengaturan sebelum diberlakukannya
Standar Pelatihan, Sertifikasi dan Tugas Jaga bagi awak kapal penangkap ikan, harus diberlakukan secara penuh selama jangka waktu yang telah ditetapkan, sehubungan dengan:
1. Awak kapal penangkap ikan yang kepadanya Konvensi ini tidak diberlakukan.
2. Awak kapal penangkap ikan yang kepadanya diberlakukan Konvensi ini, namun belum ditetapkan dengan tegas.
2. Dalam batas tertentu, seperti perjanjian – perjanjian, Konvensi-Konvensi atau penyelenggaraan – penyelenggaraan yang bertentangan dengan ketetapan-ketetapan Konvensi ini, semua Peserta harus meninjau kembali
kesepakatan-kesepakatan, perjanjian-perjanjian, Konvensi-Konvensi dan penyelenggaraan tersebut dengan suatu pertimbangan untuk menjamin
bahwa tidak ada pertentangan antara kesepakatan-kesepakatan dan kewajiban-kewajiban terhadap Konvensi.
3. Semua hal-hal yang tidak dengan tegas ditentukan dalam Konvensi ini, tetap harus tunduk kepada perundang-undangan yang belaku bagi Peserta
tersebut.
8
Sertifikasi
Bagi awak kapal penangkap ikan harus bersertifikat sesuai dengan ketentuan dalam lampiran Konvensi ini.
Pasal 7 Ketetapan-Ketetapan Nasional
1. Setiap Peserta harus menetapkan proses dan prosedur – prosedur penyelidikan yang tidak memihak terhadap setiap ketidak mampuan setiap
tindakan atau kelalaian, yang dapat mengakibatkan suatu ancaman langsung terhadap keselamatan jiwa atau harta benda di laut, atau lingkungan laut yang dilakukan oleh para pemegang sertifikat atau
pengukuhannya yang diterbitkan Peserta dalam kaitannya dengan unjuk kerja yang berkaitan dengan sertifikat mereka masing-masing dan juga
proses dan prosedur pencabutan,penangguhkan, atau pembatalan sertifikat tersebut untuk pencehagan pemalsuan.
2. Setiap Peserta harus menentukan denda atau sanksi hukum disiplin untuk kasusu-kasus dimana peraturan perundangan nasional yang menunjang pemberlakuan Konvensi, tidak dipatuhinya oleh kapal yang
telah diberi hak untuk mengibarkan benderanya atau awak kapal penangkap ikan yang telah disertifikasi oleh peserta tersebut.
3. Secara khusus, hukuman atau tindakan disiplin tersebut harus
ditentukan dan ditegakkan pada kasus-kasus dalam hal :
1. Pemilik kapal, agen pemilik kapal atau Nakhoda yang telah melibatkan seseorang yang tidak bersertifikat sebagaimana yang disyaratkan oleh Konvensi.
2. Nakhoda telah mengijinkan suatu tugas yang wajib dilakukan oleh orang yang memegang sertifikat, dilakukan oleh orang yang tidak
memegang sertifikat, atau dispensasi yang syah; atau 3. Melalui suatu kecurangan atau dokumen-dokumen palsu, seseorang
yang telah melaksanakan fungsi atau tugas menggantikan suatu
kedudukan yang oleh peraturan yang ada seharusnya dijabat oleh orang yang memegang sertifikat atau dispensasi yang syah.
4. Peserta dimana wilayah hukumnya terdapat pemilik kapal, agen atau
seseorang yang diyakini telah menyebabkan atau mengetahui sesuatu
ketidak patuhan terhadap Konvensi yang ditetapkan dalam Paragraph 3, harus bersedia melakukan kerjasama yang memungkinkan, dengan Peserta lain yang mungkin dapat menjelaskan maksud untuk memulai
penyelidikan di bawah wilayah hukumnya.
Pasal 8 Pengawasan
1. Kapal-kapal penangkap ikan sewaktu berada di pelabuhan Peserta lain akan diawasi oleh petugas yang berwenang dalam memeriksa seluruh
sertifikat awak kapal penangkap ikan sebagaimana yang disyaratkan oleh
9
Konvensi ini atau pemberian dispensasi yang tepat untuk sertifikat tersebut.
2. Mengoreksi tingkat kesalahan seperti disebutkan pada pada Paragraph 3
Peraturan I/4 sepanjang peraturan tersebut membahayakan awak kapal penangkap ikan, harta benda, dan lingkungan laut maka Peserta-Peserta yang mengawasi harus mengambil tindakan guna menjamin bahwa kapal
tersebut tidak akan berlayar sepanjang hal itu membahayakan untuk dilaksanakan sampai persyaratan dipenuhi. Fakta yang terjadi segera dilaporkan kepada Sekretaris Jenderal dan Administrasi.
3. Ketika melaksanakan Pengawasan harus :
1. Jika memungkinkan agar dilakukan upaya – upaya untuk menghindari keterlambatan. Jika kapal tertahan atau terlambat akan diberikan kompensasi untuk beberapa kerugian atau kerusakan yang dihasilkan;
dan 2. Kebijaksanaan yang diizinkan dalam hal ini bagi personil kapal ikan
asing adalah tidak boleh kurang dari yang diperbolehkan kepada personil yang mengibarkan bendera negara pelabuhan tersebut.
4. Pasal ini hendaknya digunakan seperlunya untuk menjamin bahwa tidak ada lagi perlakuan yang menguntungkan diberikan kepada kapal yang mengibarkan bendera bukan peserta, dengan yang diberikan kepada kapal
yang mengibarkan bendera Peserta.
1. Peserta Konvensi harus mengembangkan konsultasi dengan asisten Organisasi guna mendukung negara yang membutuhkan bantuan teknik
untuk : 1. Pelatihan personil administrasi dan personil teknik;
2. Pembentukan institusi lembaga pelatihan bagi personil kapal penangkap ikan;
3. Mensuplai penyediaan perlengkapan dan fasilitas institusi lembaga
pelatihan; 4. Mengembangkan program pelatihan termasuk latihan praktek yang
memadai di atas kapal penangkap ikan; dan 5. Mengatur fasilitas dan lainnya cara untuk meningkatkan kualifikasi
personil kapal penangkapan ikan,
terutama pada tingkat nasional, Sub Regional atau Regional untuk maksudnya dan tujuan dari Konvensi ini, lebih diutamakan bagi kebutuhan
negara-negara berkembang
Dalam bagian ini. Organisasi harus meningkatkan, upaya-upaya apa yg telah disepakati, bila memungkinkan melakukan konsultasi atau kerjasama dengan Organisasi, khususnya internasional di bawah naungan Organisasi
Buruh Sedunia (ILO) dan Organisasi Pangan dan Pertanian Sedunia (FAO) dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
10
1. Konvensi dapat diamandemen dengan salah satu prosedur yang diatur
dalam pasal ini : 2. Amandemen – amandemen, setelah melalui pertimbangan di dalam
Organisasi : 1. Setiap amandemen yang diusulkan oleh Peserta harus diserahkan ke
Sekretaris Jenderal yang kemudian akan diserahkan ke semua anggota
Organisasi, kantor Direktur Jenderal Organisasi Buruh Internasional Sedunia (ILO) dan Organisasi Pangan dan Pertanian Sedunia (FAO) dari
PBB, paling lambat 6 (enam) bulan sebelum Organisasi mengadakan pertimbangannya;
2. Setiap amandemmen yang diusulkan dan disebar-luaskan seperti tersebut diatas harus mengacu kepada Komisi Keselamatan Maritim
(the Maritime Safety Committee) dari Organisasi untuk bahan pertimbangan;
3. Peserta baik anggota maupun bukan anggota Organisasi diperbolehkan turut serta dalam sidang-sidang Komisi Keselamatan Maritim untuk mempertimbangkan dan mengesahkan amandemen-amandemen
tersebut;
4. Amandemen harus disahkan melalui dua pertiga mayoritas suara Peserta yang hadir dan memberikan suaranya dalam Komisi Keselamatan Maritim yang diperluas sebagaimana ditetapkan pada
paragraf 2.3 (yang selanjutnya disebut; Komite Keselamatan Maritim yang diperluas, dengan syarat paling sedikit sepertiga Peserta yang hadir pada waktu pemungutuan suara;
5. Amandemen – amandemen yang disyahkan sesuai dengan paragraf 2.4
harus disampaikan oleh Sekretaris Jenderal kepada semua Peserta; 6. Amandemen terhadap pasal-pasal harus dianggap diterima pada
tanggal ketika disahkannya oleh dua pertiga Peserta;
7. Amandemen terhadap lampiran atau terhadap tambahan harus dianggap telah diterima; 7.1 Pada akhir masa tahun ke dua, sejak tanggal pengesahan; atau
7.2 Pada akhir periode tidak kurang dari satu tahun dan telah ditentukan oleh dua pertiga mayoritas Peserta melalui pemungutan suara pada Komisi Keselamatan Maritim yang diperluas.
8. Amandemen terhadap suatu pasal yang akan diberlakukan sehubungan
dengan Peserta – Peserta, enam bulan setelah disahkannya dan bagi masing-masing Peserta yang menerimanya, diberlakukan enam bulan setelah diterima oleh masing-masing Peserta;
9. Amandemen terhdap tambahan dan lampiran akan diberlakukan
sehubungan dengan semua Peserta kecuali Peserta yang menolak
11
amandemen tersebut sesuai paragraf 2.7 dan yang belum mencabut penolakannya, enam bulan setelah tanggal dimana amandemen
tersebut dipertimbangkan untuk diterima. Namun demikian sebelum tanggal pemberlakukan setiap Peserta dapat menyampaikan catatan
kepada Sekeretaris Jenderal dalam periode kurang dari satu tahun sejak tanggal pemberlakuan atau dalam waktu yang lebih lama setelah ditentukan oleh dua pertiga mayoritas peserta melalui pemungutan
suara pada Komisi Keselamatan Maritim yang diperluas pada saat diadopsinya amandemen.
3. Amandemen melalui suatu Konferensi 1. Atas permintaan Peserta yang disetujui paling sedikit sepertiga dari
Peserta maka Organisasi bersama-sama atau melalui konsultasi dengan kantor Buruh Internasional dan Organisasi Pangan dan Pertanian Sedunia dari Badan PBB harus menyelenggarakan suatu Konferensi
dari para peserta untuk mempertimbangkan amandemen Konvensi yang ada.
2. Setiap amandemen yang diadopsi Konvensi melalui dua pertiga
mayoritas peserta yang hadir dan memberikan suaranya harus
disampaikan kepada seluruh Peserta melalui Sekretaris Jenderal. 3. Kecuali jika Konferensi memutuskan lain, amandemen harus dianggap
telah diterima dan diberlakukan sesuai dengan prosedur-prosedur yang ditetapkan dalam paragraf 2.6 dan 2.8 atau 2.7 dan 2.9 asalkan
memuat acuan dalam paragraf tersebut yang digunakan oleh Komite Keselamatan Maritim yang diperluas harus dijadikan referensi bagi Konvensi.
4. Setiap pernyataan menerima atau menolak terhadap suatu amandemen
atau setiap catatan yang diberikan pada paragraf 2.9 dapat di usulkan
dalam bentuk tertulis kepada Sekretaris Jenderal yang selanjutnya akan menginformasikan kepada Peserta-Peserta terkait
5. Sekretaris Jenderal harus menginformasikan ke semua Peserta tentang
setiap amandemen yang diberlakukan. bersama tanggal
pemberlakuannya
1. Konvensi akan tetap terbuka untuk penandatanganan di Kantor Pusat
Organisasi dari 1 Januari 1996 sampai 30 September 1996 dan
selanjutnya kembali terbuka bagi penambahan keanggotaan Suatu negara dapat menjadi Peserta Konvensi melalui :
1. Penandatanganan tanpa syarat mengenai ratifikasi, penerimaan atau persetujuan; atau
2. Penandatangan dengan harus mengikuti ratifikasi, penerimaan,
persetujuan dan diikuti dengan ratifikasi penerimaan atau persetujuan; atau
3. Menjadi Anggota.
dilaksanakan dengan memasukkan instrumen ke Sekretaris Jenderal.
Pasal 12 Pemberlakuan
1. Konvensi mulai berlaku 12 (dua belas) bulan setelah tidak kurang dari lima belas negara menandatangani tanpa syarat sebagai ratifikasi,
penerimaan atau persetujuan atau telah menyampaikan instrumen,
ratifikasi, penerimaan, persetujuan atau penambahan anggota sesuai pasal 11.
2. Untuk negara-negara yang telah menyampaikan instrumen mengenai
pengesahan, penerimaan, persetujuan atau penambahan anggota dalam
kaitan dengan Konvensi, setelah persyaratan – persyaratan pemberlakuan telah dipenuhi sebelum tanggal berlakunya pengesahan, penerimaan,
persetujuan atau penambahan anggota hendaknya berlaku pada tanggal berlakunya Konvensi ini atau akan berlaku tiga bulan sesudah tanggal penyampaian instrumen, dimana tanggal terakhir adalah tanggal yang
dipilih. 3. Bagi negara-negara yang telah menyerahkan instrumen, pengesahan,
penerimaan, persetujuan atau penambahan anggota setelah tanggal dimana Konvensi mulai berlaku, Konvensi akan efektif tiga bulan sesudah
tanggal penyimpanan instrumen. 4. Setelah tanggal diterimanya amandemen Konvensi sesuai pasal 10, setiap
penyimpanan instrumen, penerimaan, persetujuan atau penambahan anggota yang disampaikan akan diterapkan konvensi yang telah diamandemen.
Pasal 13
1. Konvensi dapat dimintakan untuk diakhiri masa berlakunya oleh setiap
Peserta, setelah lima (lima) tahun dari tanggal berlakunya Konvensi bagi Peserta yang bersangkutan.
2. Permintaan untuk mengakhiri masa berlaku, harus dilakukan melalui
pemberitahuan tertulis kepada Sekretaris Jenderal.
3. Permintaan untuk mengakhiri masa berlakunya, akan diberlakukan 12
bulan setelah diterima oleh Sekretaris Jenderal atau setelah melalui
periode waktu yang telah ditentukan.
Pasal 14 Tempat Penyimpanan
13
1.1 Setiap penandatanganan baru atau penyampaian instrumen pengesahan, penerimaan, persetujuan atau penambahan anggota bersama-sama dengan tanggal tersebut;
1.2 Tanggal mulai berlakunya Konvensi;
1.3 Penyimpanan setiap permintaan berakhir masa berlaku dengan tanggal
dimana permintaan berakhir berlaku masa diterima dan tanggal dimana permintaan berakhir masa berlaku terjadi; dan
2. Mengirimkan salinan Konvensi yang syah kepada pemerintahan semua negara yang telah menandatangani Konvensi, atau yang telah menyetujuinya;
3. Segera setelah Konvensi diberlakukan, salinan yang syah harus dikirimkan
oleh Bagian Penyimpanan kepada Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa Bangsa untuk pendaftaran dan publikasi sesuai pasal 10 Piagam Perserikatan Bangsa Bangsa.
Pasal 15 Bahasa
Konvensi ditetapkan dalam suatu bahasa asli yaitu bahasa Arab, Cina,
Inggris, Perancis, Rusia dan Spanyol. Setiap teks memiliki keaslian yang sama. MENYAKSIKAN HAL INI, yang bertanda tangan di bawah ini, dengan
kewenangan yang diberikan oleh pemerintah masing-masing untuk maksud ditanda tanganinya Konvensi ini. DITETAPKAN DI LONDON, pada tanggal tujuh bulan Juli tahun seribu
sembilan ratus sembilan puluh lima.
14
LAMPIRAN
Peraturan 1
1. Peraturan adalah peraturan-peraturan yang termuat dalam tambahan
Konvensi .
2. Disetujui adalah disetujui oleh Peserta yang bersangkutan sesuai dengan
peraturan.
3. Nakhoda adalah orang yang memegang komando pada sebuah kapal
penangkap ikan.
4. Perwira adalah seorang anggota Awak kapal selain Nakhoda yang
ditunjuk oleh hukum atau peraturan nasional atau dengan berdasarkan kesepakatan bersama atau adat kebiasaaan setempat
5. Perwira Jaga Navigasi (Officer in charge of a navigational watch) ” adalah
seorang perwira yang bertanggung jawab terhadap tugas jaga navigasi yang ahli sesuai peraturan II/2 atau II/4 dari Konvensi ini.
6. Perwira Mesin (Engineer Officer)” adalah seorang perwira yang ahli di bagian mesin sesuai dengan peraturan II/5 dari konvensi ini.
7. Kepala Kamar Mesin (Chief engineer Officer)” adalah perwira mesin senior
yang bertanggung jawab atas propulsi mekanis dan pengoperasian serta pemeliharaan dari instalasi mekanis dan instalasi listrik kapal.
8. Masinis II adalah perwira mesin di bawah pangkat Kepala Kamar Mesin dan kepadanya diberikan tanggung jawab untuk menggantikan tugas
Kepala Kamar Mesin jika berhalanagan (atas propulsi mekanik kapal).
9. “Operator Radio” adalah orang yang memegang sertifikat yang dikeluarkan atau diakui oleh pemerintah berdasarkan ketentuan-
ketentuan Peraturan Radio )
11. Konvensi SCTW 1978 adalah Konvensi Internasional tentang Standar Pelatihan, Sertifikasi dan Tugas Jaga bagi pelaut, tahun 1978 yang diamandemen.
12. Protokol Torremolinos 1993 adalah Protokol Torremolinos tahun 1993 yang berhubungan dengan Konvensi Internasional Torremolinos tentang
Keselamatan bagi Kapal penangkap Ikan tahun 1977.
13. Tenaga Penggerak adalah jumlah tenaga maksimum terus menerus dalam kilowatt yang dihasilkan oleh mesin penggerak utama kapal yang
tercantum dalam Sertifikat Pendaftaran Kapal atau dokumen resmi
15
lainnya.
14. Perairan terbatas adalah perairan di sekitar Peserta yang ditentukan oleh
Administrasi dimana tingkat keselamatan menjadi bahan pertimbangan Administrasi yang memungkinkan standar kualifikasi dan sertifikasi bagi
Nakhoda dan Perwira Kapal penangkap ikan ditetapkan lebih rendah dari tingkatan yang diperuntukan bagi daerah pelayaran di luar yang ditentukan batasnya. Dalam menentukan luas perairan terbatas,
Administrasi harus mempertimbangkan pedoman yang dikembangkan oleh Organisasi.
15. Perairan tak terbatas adalah selain dari perairan terbatas.
16. Panjang (L) harus diambil 96% dari panjang keseluruhan suatu garis air
(water line) pada 85 % dari kedalaman terkecil yang diukur dari garis lunas kapal atau panjang dari sisi luar bagian depan haluan tinggi sampai ke poros daun kemudi pada garis air itu, yang lebih besar. Pada
kapal-kapal yang dirancang dengan lunas yang melengkung, maka garis air dimana panjang ini diukur harus sejajar dengan rancangan garis air
tersebut.
17. Tinggi Moulded adalah jarak vertikal yang diukur dari lunas kapal sampai bagian atas balok geladak kerja di bagian sisi.
Peraturan 2 Penerapan
Administrasi dari Peserta, jika ia menganggap tidak dapat diterima atau tidak
dapat diterapkan, maka untuk menerapkan secara penuh persyaratan peraturan II/3, II/4, II/5 dan persyaratan penggunaan bahasa Inggris bagi awak kapal penangkap ikan dengan panjang kurang dari 45 meter yang
beroperasi dari pelabuhan basisnya dan menangkap ikan di perairan terbatas, dapat menentukan yang mana dari peraturan ini yang tidak harus
diterapkan seluruhnya atau sebagian kepada personil, tanpa menghilangkan prinsip – prinsip keselamatan dalam Konvensi. Dalam kasus seperti itu Administrasi harus melaporkan ke Sekretaris Jenderal tentang rincian
tindakan yang telah dilakukan berkaitan dengan pelatihan dan sertifikasi personil-personil tersebut.
Peraturan 3 Sertifikat dan Pengukuhan
1. Sertifikat untuk awak kapal penangkap ikan hanya diterbitkan jika
persyaratan pengalaman berlayar, umur, kesehatan secara medis, latihan, kualifikasi, dan ujian-ujian memenuhi aturan ini;
2. Sertifikat yang diterbitkan oleh Peserta sesuai paragraf 1 harus
dikukuhkan oleh Peserta tersebut guna membuktikan penerbitannya
seperti contoh sebagaimana dijelaskan pada lampiran 1 atau lampiran 2; 3. Sertifikat dan pengukuhannya harus diterbitkan dalam bahasa resmi
atau bahasa-bahasa negara yang menerbitkannya. Jika bahasa yang
16
4. Untuk Operator radio, Peserta membolehkan :
1. Menyertakan pengetahuan tambahan yang disyaratkan oleh peraturan II/6, dalam ujian untuk penerbitan sertifikat yang memenuhi Peraturan Radio; atau
2. Menerbitkan sertifikat tersendiri yang menunjukkan bahwa pemegangnya memiliki pengetahuan tambahan yang disyaratkan oleh peraturan II/6.
5. Administrasi yang telah mengakui sertifikat yang diterbitkan oleh atau dibawah kewenangan Peserta lain sesuai dengan peraturan 7 wajib
menerbitkan pengukuhan guna membuktikan pengakuan terhadap sertifikat itu dalam bentuk seperti terlihat pada Lampiran 3;
6. Pengukuhan akan habis masa berlakunya, jika sertifikat yang dikukuhkan telah habis masa berlakunya atau telah dicabut,
ditangguhkan atau dibatalkan oleh Peserta yang menerbitkannya dan dalam hal ini tidak lebih dari lima tahun setelah tanggal penerbitan;
7. Sertifikat yang diterbitkan menurut ketentuan Konvensi STCW 1978 kepada seorang pemegang untuk bertugas sebagai Kepala Kamar Mesin, Perwira mesin atau Petugas radio akan dipertimbangkan sertifikatnya
untuk kapal ikan seperti yang dimaksud dalam paragraf 1;
8. Administrasi dapat menggunakan format yang berbeda dari format yang diberikan pada Lampiran 1,2 dan 3. Asalkan format demikian berisikan informasi yang diperlukan ditulis dalam huruf Romawi dan angka-angka
Arab.
pasal 8 harus dibatasi oleh hal berikut
1. melakukan verifikasi bahwa seluruh awak kapal penangkap ikan yang bertugas diatas kapal yang harus memiliki sertifikat sesuai dengan
Konvensi ini diberikan sertifikat atau memegang dispensasi yang sesuai. Sertifikat semacam itu harus diterima sampai ada alasan yang jelas dan untuk diprcaya bahwa sertifikat tersebut diperoleh secara
curang atau pemegang sertifikat tersebut bukan orang yang berhak untuk sertifikat tersebut; dan
2. menilai kemampuan awak kapal penangkapan ikan untuk
mempertahankan standar tugas jaga sebagaimana yang dipersaratkan oleh Konvensi , jika ada alasan yang jelas dan dapat dipercaya bahwa
standar tersebut tidak dapat dipertahankan disebabkan oleh kejadian tersebut :
2.1 kapal tersebut mengalami tubrukan, kandas atau terdampar; atau 2.2 telah terjadi pembuangan bahan-bahan tertentu dari kapal ketika
sedang berlayar, sedang berlabuh jangkar atau sedang sandar
17
yang melanggar ketentuan Konvensi Internasional. 2.3 kapal diolah gerak secara ceroboh atau tidak aman, sementara
jalur pelayaran telah diatur secara syah oleh Organisasi atau prosedur dan praktek keselamatan pelayaran yang belum diikuti;
atau 2.4 kapal dioperasikan dalam kondisi membahayakan orang, harta
benda dan lingkungan.
2. Bilamana terjadi adanya kekurangan menurut paragraf 1. Petugas yang
melakukan pengawasan harus segera menginformasikan secara tertulis
kepada Nakhoda kapal dan Administrasi, sehingga dapat diambil tindakan yang tepat. Pemberitahuan demikian harus menyebutkan
keterangan tentang kekurangan yang dijumpai dan alasan dimana Administrasi menentukan bahwa kekurangan demikian dapat membahayakan orang, harta benda dan lingkungan;
3. Kekurangan yang dianggap mungkin dapat membahayakan orang, harta
benda dan lingkungan antara lain :
1. kurangnya orang-orang yang memiliki sertifikat yang dipersyaratkan
atau dispensasi yang dipersyaratkan. 2. kurangnya pengaturan tugas jaga navigasi atau permesinan untuk
memenuhi persyaratan yang ditetapkan oleh Administrasi 3. tidak hadirnya seseorang yang kompeten dalam tugas jaga untuk
mengoperasikan peralatan yang penting dalam rangka pelayaran yang aman, komunikasi radio yang aman atau pencegahan pencemaran; atau
4. ketidak mampuan untuk menyediakan orang-orang yang telah
istirahat untuk tugas jaga pertama untuk suatu pelayaran. Sehingga
tidak mampu melaksanakan tugasnya dengan baik.
Peraturan 5
Penyampaian Informasi
1. Sekretaris Jenderal wajib meminta dan memberikan kepada para Peserta
informasi yang disampaikan kepadanya sesuai Pasal 4; 2. Para Peserta yang gagal menyampaikan informasi yang dipersyaratkan
dalam Pasal 4 dalam waktu 24 bulan setelah tanggal diberlakukannya Konvensi , maka tidak berhak mengajukan kemudahan dari Konvensi sampai waktu informasi tersebut telah diterima oleh Sekretaris Jenderal.
Peraturan 6
18
mencapai standar keahlian dan selalu dipantau dan diawasi secara teratur keefektifannya.
2. Tiap Peserta berusaha semaksimal mungkin, untuk hal yang dapat
dilaksanakan, menyelenggarakan suatu registrasi atau register-register seluruh sertifikat dan pengukuhannya sesuai dengan peraturan 3 dan II/1 sampai II/6 yang diterbitkan, yang telah habis masa berlakunya dan
yang telah di revalidasi, dilaporkan hilang, dibatalkan, dan yang diterbitkan dispensasinya serta melengkapi keterangan mengenai status sertfikat pengukuhan dan dispensasi pada saat di ajukan oleh Peserta
lainnya.
1. Setiap Administrasi harus menjamin untuk memberi pengakuan dengan cara pengukuhan sesuai dengan peraturan 3, sertifikat yang diterbitkan
oleh dan atau dibawah kewenangan Peserta lain, dimana persyaratan untuk memenuhi standar kompetensi sebagaimana penerbitan dan pengukuhan sertifikat oleh Peserta Peserta dipenuhi sebagaimana
mestinya; 2. Sertifikat yang dikeluarkan oleh atau berdasarkan kewenangan suatu
negara bukan Peserta tidak diakui;
3. Sesuai dengan paragraf 1 peraturan ini dan paragraf 5 dari Peraturan 3, Administarsi dapat jika memungkinkan diperbolehkan seseorang untuk bertugas selama jangka waktu tidak lebih dari tiga bulan diatas kapal
berhak mengibarkan bendera negaranya, dimana sertifikat yang dipergunakannya diterbitkan oleh Peserta lain dan belumen mendapatkan pengukuhan sebagaimana yg dipersyaratkan oleh paragraf 5 peraturan 3,
asalkan terdapat bukti dokumen yang menyatakan bahwa permohonan untuk suatu pengukuhan telah diserhkan pada Administrasi tersebut.
Peraturan 8 Ketentuan Peralihan
1. Sertifikat kompetensi atau pelayanan dalam suatu kapasitas dimana Konvensi ini menuntut suatu sertifikat dan sebelum diberlakukannya Konvensi di suatu negara Peserta harus diterbitkan sesuai dengan
hukum yang berlaku dinegara peserta tersebut atau Peraturan Radio harus diakui dan syah untuk pelayanan setelah Konvensi diberlakukan disuatu negara Peserta;
2. Setelah diberlakukannya Konvensi di suatu negara Peserta, dapat
dilanjutkan dengan penerbitan sertifikat kompetensi sesuai dengan praktek praktek sebelumnya dalam periode tidak lebih dari lima tahun. Sertifikat-sertifikat tersebut harus diakui sebagai sertifikat yang syah
untuk tujuan Konvensi. Selama periode transisi ini sertifikat tersebut diterbitkan hanya untuk orang-orang yang memiliki pengalaman berlayar
sebelum diberlakukannya Konvensi di suatu negara Peserta. sesuai
19
dengan spesifikasi kapal dan sertifikatnya. Peserta harus menjamin kandidat lain untuk memperoleh sertifikat harus diuji dan diberikan
sertifikat sesuai dengan Konvensi;
3. Suatu negara Peserta dalam waktu dua tahun setelah diberlakukannya Konvensi ini diperbolehkan menerbitkan suatu sertifikat untuk melayani awak kapal penangkap ikan yang tidak memegang baik sertifikat yang
sesuai berdasarkan Konvensi ataupun sertifikat kompetensi yang dikeluarkan berdasarkan hukum sebelum diberlakukannya Konvensi untuk itu Peserta yang telah :
1. Bertugas dalam kapasitas dimana mereka mencari suatu sertifikat
untuk bertugas dalam jangka waktu tidak kurang dari 3 tahun dalam waktu 7 tahun terakhir sebelum diberlakukannya Konvensi untuk Peserta tersebut;
2. Menunjukan bukti bahwa mereka telah melakukan tugas dengan baik;
dan 3. Meyakinkan Peserta mengenai kesehatan medis termasuk penglihatan
dan pendengaran dengan mempertimbangkan usia mereka pada saat mengajukan permohonan.
Untuk tujuan konvensi, sebuah sertifikat yang diterbitkan berdasarkan paragraf ini harus setara dengan sertifikat yang diterbitkan berdasarkan
konvensi.
1. Dalam kondisi khusus administrasi apabila menganggap bahwa hal ini
tidak akan membahayakan awak kapal, harta benda dan lingkungan, dapat menerbitkan suatu dispensasi yang mengizinkan awak kapa selama
periode tidak lebih dari enam bulan dalam suatu jabatan, selain dari pada itu operator radio kecuali sebagimana yang tercantum dalam peraturan radio bagi awak kapal yang tidak mempunyai sertifikat, asalkan orang
yang diberikan dispensasi cukup memenuhi syarat untuk menduduki jabatan yang kosong tersebut dengan cara yang aman menurut
pandangan Administrasi; 2. Dispensasi yang diberikan untuk suatu jabatan haruslah diberikan hanya
kepada orang yang bersertifikat yang pantas untuk mengisi jabatan yang ada setingkat dibawahnya. Bilamana sertifikasi jabatan di bawahnya tidak dibutuhkan oleh Konvensi, dispensasi dapat dikeluarkan kepada
orang yang memiliki keahlian dan pengalaman, menurut pendapat Administrasi yang bersangkutan, setara untuk mengisi jabatan tersebut
tidak memiliki sertifikat yang layak tetapi harus telah lulus ujian yang dilaksanakan oleh Administrasi, merupakan dispensasi yang aman untuk dikeluarkan. Sebagai tambahan Administrasi harus menjamin bahwa
posisi yang aman tersebut diisi oleh orang yang memegang sertifikat yang sesuai;
20
3. Masing-masing Peserta sesegera mungkin setelah tanggal 1 Januari setiap tahun mengirim laporan kepada Sekretaris Jenderal untuk
menyampaikan informasi tentang jumlah total dispensasi dalam kaitannya dengan kapasitas sertifikat yang dibutuhkan termasuk yang
dikembalikan.
1. Konvensi tidak akan menghalangi suatu negara Peserta untuk menambah
atau menerima pengaturan sistem pendidikan yang lain termasuk yang terkait dengan tugas jaga dan Organisasi diatas kapal khususnya yang
disesuaikan dengan perkembangan teknik dan jenis-jenis kapal khusus asalkan tingkat pengalaman berlayar, pengetahuan dan efisiensi mengenai navigasi dan teknik penanganan kapal menjamin tingkat
keselamatan di laut dan memiliki penangnanan teknis penanganan dan melayarkan kapal menjamin tingkat keselamatan di laut dan memiliki
prosedur untuk pencegahan pencemaran seperti yang dipersyaratkan dalam Konvensi;
2. Keterangan rinci mengenai hal ini harus dimasukkan dalam laporan pada Pasal 4 .
BAB II Sertifikasi Nakhoda, Perwira,
Perwira Mesin dan Operator Radio
Peraturan 1 Persyaratan Minimum yang Diwajibkan untuk Sertifikasi Nakhoda
Kapal Penangkap Ikan panjang 24 meter atau lebih
yang Beroperasi di Perairan Tak Terbatas
1. Setiap nakhoda kapal penangkap ikan panjang 24 meter atau lebih yang beroperasi di perairan tak terbatas hendaknya memiliki sertifikat yang sesuai;
2. Setiap calon yang akan mengikuti sertifikasi harus :
1. memenuhi persyaratan Peserta, mengenai kesehatan, khususnya
menyangkut penglihatan dan pendengaran.
navigasi pada kapal penangkap ikan yang panjangnya 24 atau lebih
yang beroperasi di perairan tak terbatas dan memiliki pengalaman berlayar yang syah tidak kurang dari dua belas bulan sebagai perwira
jaga navigasi atau nakhoda pada kapal penangkap ikan dengan panjang tidak kurang dari 12 m. Namun demikian Peserta dapat mengijinkan untuk mengganti periode pengalamn berlayar tidak lebih
dari enam bulan sebagai perwira jaga navigasi sesuai dengan Konvensi STCW 1978. dan
21
3. telah lulus ujian atau ujian-ujian dalam rangka penilaian kompetensi untuk memenuhi aturan Peserta sesuai dengan materi yang tertuang
dalam lampiran peraturan ini. Seorang calon peserta ujian yang memiliki sertifikat kompetensi yang syah yang dikeluarkan sesuai
dengan peraturan Konvensi STCW 1978 tidak perlu diuji kembali untuk mata pelajaran yang tercantum dalam lampiran yang telah ditempuhnya setingkat lebih tinggi atau setara tingkatnya untuk
penerbitan sertifikat berdasarkan Konvensi.
yang Beroperasi di Perairan Tak Terbatas
1. Silabus yang diberikan di bawah ini disusun untuk calon peserta ujian
sertifikasi sebagai nakhoda kapal penangkap ikan yang panjangnya 24 m atau lebih yang beroperasi di perairan tak terbatas. Perlu diingat bahwa nakhoda memiliki tanggung jawab dalam hal keselamatan kapal dan
ABKnya sepanjang waktu termasuk selama operasi penangkapan. Ujian dalam mata pelajaran tersebut hendaknya dirancang untuk menguji
kemampuan calon dalam hal menyerap semua informasi yang ada yang mempengaruhi keselamatan kapal dan ABKnya sesuai silabus;
2. Navigasi dan Penentuan Posisi 2.1 Perencanaan pelayaran dan navigasi untuk segala kondisi :
1. Dengan metode yang dapat dipergunakan dalam menentukan rute
pelayaran; 2. Dalam perairan terbatas; 3. Bila memungkinkan diperairan yang ber - es;
4. Dalam jarak pandang yang terbatas; 5. Bilamana memungkin dalam jalur pemisah pelayaran; dan
6. Dalam daerah yang dipengaruhi oleh pasang surut atau arus. 2.2 Penentuan Posisi :
1. Dengan pengamatan benda bumi. 2. Dengan pengamatan benda darat, termasuk kemampuan menggunakan
baringan dari tanda-tanda daratan seperti menara suar, rambu-rambu dan pelampung dalam hubungannya dengan peta, berita pelaut dan publikasi lainnya untuk menilai ketelitian penentuan posisi yang
dihasilkan; dan 3. Dengan menggunakan, sesuai yang disyaratkan oleh Peserta, alat bantu
navigasi elektronik kapal modern seperti yang terpasang pada kapal-
kapal penangkap ikan, khususnya berkenaan dengan pengetahuan tentang prinsip-prinsip cara pengoperasian, keterbatasan
keterbatasan, sumber-sumber kesalahan, pendeteksian informasi yang salah dan metode pembetulan untuk memperoleh posisi yang akurat.
3. Tugas Jaga 3.1 Mendemontrasikan pengetahuan yang menyangkut isi, aplikasi dan
maksud dari peraturan Internasional mengenai Pencegahan Tubrukan di Laut, 1972 (The International Regulation for Preventing Collision at Sea), khususnya tambahan II dan IV tentang navigasi yang aman.
3.2 Mendemontrasikan pengetahuan mengenai Prinsip Dasar yang harus diperhatikan dalam melaksanakan tugas jaga Navigasi seperti diuraikan
pada Bab IV. 4. Navigasi Radar
4.1. Mendemontrasikan kemampuan pengoperasian dan menggunakan radar dengan menggunakan simulator radar atau bila tidak memungkinkan, papan olah gerak, pengetahuan dasar tentang radar dan
23
1. Faktor-faktor yang mempengaruhi tampilan gambar dan keakuratan; 2. mengatur dan memelihara monitor;
3. mendeteksi informasi yang tidak tepat, gema palsu dan riak laut; 4. jarak dan baringan; 5. pengenalan gema kritis;
6. haluan dan kecepatan kapal lain; 7. waktu dan jarak terdekat dari kapal lain dalam situasi silang, saling
berhadapan, atau saling menyusul;
8. mendeteksi perobahan haluan dan kecepatan kapal lain; 9. pengaruh perobahan haluan atau kecepatan kapal kita atau kedua-
duanya; 10. penerapan Peraturan Internasional untuk Mencegah Tubrukan di
Laut, 1972.
5.1. Kemampuan menggunakan benda angkasa dan benda-benda darat untuk menentukan dan menerapkan kesalahan pedoman magnit dan pedoman gasing (Gyro compass).
6. Meteorologi dan Oceanografi
6.3 Pengetahuan tentang ciri-ciri berbagai sistem cuaca, termasuk kebijaksanaan dari Peserta yang bersangkutan, badai tropis dan penghindaran badai dan quadran –quadran berbahaya dari angin siklon;
6.4 Pengetahuan tentang kondisi cuaca yang cenderung membahayakan kapal, termasuk kebijaksanaan Peserta, kabut, gunung es,bongkahan es;
6.5 Kemampuan menggunakan publikasi-publikasi navigasi tentang pasang
surut dan arus; 6.6 Kemampuan menghitung waktu dan ketinggian-ketinggian pasang tinggi
dan pasang rendah dan memperkirakan arah dan kecepatan arus. 7. Olah Gerak dan Penanganan Kapal Penangkap Ikan
7.1 Olah gerak dan penggunaan kapal penangkap ikan dalam semua kondisi meliputi :
1. sandar, lepas sandar dan berlabuh jangkar pada berbagai kondisi angin
dan air pasang;
2. olah Gerak di perairan dangkal; 3. pengelolaan dan penanganan kapal penangkap ikan dalam cuaca
buruk, termasuk kecepatan yang sesuai, khususnya pada perairan
saling menyusul dan pada perairan tertentu, membantu kapal atau pesawat udara dalam keadaan bahaya. Menolong kapal yang tidak
terkendalikan untuk keluar dari suatu perairan-perairan bergelombang dan mengurangi hanyut;
4. olah Gerak kapal selama melakukan operasi penangkapan dan memperhatikan secara khusus faktor-faktor yang dapat mempengaruhi
keselamatan kapal selama kegiatan operasi penangkapan;
24
5. menghindari kecelakaan dalam olah gerak untuk peluncuran skoci penolong atau rakit penolong dalam cuaca buruk;
6. cara melakukan pertolongan orang-orang dalam bahaya ke atas kapal dari skoci penolong atau rakit penolong;
7. apabila memungkinkan, tindakan-tindakan praktis hendaknya diambil ketika berlayar di perairan es atau terjadi penimbunan salju di kapal.
8. penggunaan, dan olah gerak kapal di bagan pemisah lalu lintas.
9. pentingnya berlayar pada kecepatan yang rendah untuk menghindari kerusakan yang disebabkan oleh ombak depan kapal atau ombak buritan kapal itu sendiri.
10. memindahkan ikan di laut ke kapal pabrik pengolahan ikan atau kapal lain.
11. pengisian kembali bahan bakar di laut. 8. Bangunan dan Stabilitas Kapal Penangkap Ikan
5.1 Pengetahuan umum tentang struktur bagian utama dari kapal dan
nama-nama berbagai bagian dari kapal; 5.2 Pengetahuan tentang teori dan faktor-faktor yang mempertahankan
trim dan stabilitas dan tindakan yang perlu untuk memelihara trim
dan stabilitas yang aman; 5.3 Memperagakan penggunaan tabel trim dan stabilitas serta
memperhitungkan akibat kondisi-kondisi tersebut;
5.4 Pengetahuan tentang pengaruh permukaan bebas dan penimbunan salju di kapal;
5.5 Pengetahuan tentang pengaruh air di atas geladak; 5.6 Pengetahuan tentang pentingnya kesatuan kedap cuaca dan kedap
air.
9. Penanganan dan Penyimpanan Hasil Tangkapan 9.1 Penanganan dan penyimpanan hasil tangkapan di atas kapal, termasuk
alat tangkap; 9.2 Kegiatan bongkar muat, khususnya berkaitan dengan momen
kemiringan pengaruh dari alat tangkap dan hasil tangkapan. 10. Instalasi Tenaga Kapal Penangkap Ikan
10.1 Prinsip kerja instalasi tenaga kapal pada kapal penangkap ikan; 10.2 Mesin bantu kapal;
10.3 Pengetahuan umum tentang istilah-istilah mesin kapal 11. Pencegahan kebakaran dan alat-alat pemadam kebakaran
11.1 Organisasi latihan darurat pemadam kebakaran; 11.2 Bahan kimia dan kelas-kelas kebakaran; 11.3 Sistem pemadam kebakaran;
11.4 Telah mengikuti suatu latihan pemadaman kebakaran yang telah diakui;
11.5 Pengetahuan tentang peraturan mengenai perlengkapan pemadam kebakaran.
12. Prosedur Darurat 12.1 Tindakan-tindakan yang harus dilakukan sebelum mengandaskan kapal;
12.2 Tindakan yang akan diambil sebelum dan sesudah kapal kandas;
25
12.3 Tindakan yang akan dilakukan bila alat tangkap tersangkut didasar atau benda lain;
12.4 Mengapungkan kapal yang kandas, dengan dan tanpa alat bantu; 12.5 Tindakan yang akan diambil bila terjadi tubrukan;
12.6 Penyumbatan sementara terhadap kebocoran-kebocoran; 12.7 Tindakan pencegahan dan keselamatan ABK dalam keadaan bahaya; 12.8 Memperkecil kerusakan dan menyelamatkan kapal bila terjadi kebakaran
atau ledakan; 12.9 Meninggalkan kapal; 12.10 Sistem kemudi darurat, cara-cara pemasangan dan penggunaan tali
dalam sistem kemudi serta cara-cara yang digunakan untuk mengatur kemudi.
12.11 Menolong orang-orang dalam keadaan bahaya atau kapal karam; 12.12 Prosedur cara menolong orang jatuh ke laut (man over board); 12.13 Menunda dan sedang ditunda.
13. Pelayanan Medis
berikut :
2. Seksi medis dalam Isyarat Kode Internasional.
14. Hukum Maritim 14.1 Pengetahuan tentang hukum Maritim Internasional seperti yang
tercantum dalam perjanjian dan Konvensi-Konvensi internasional yang berpengaruh terhadap kewajiban dan tanggung jawab tertentu dari
nakhoda khususnya yang menyangkut keselamatan dan perlindungan lingkungan laut. Hal khusus hendaknya diberikan dalam hal berikut : 1. Sertifikat-sertifikat dan dokumen-dokumen lain yang diperlukan
untuk dibawa diatas kapal penangkap ikan berdasarkan Konvensi- Konvensi Internasional, cara memperolehnya dan masa berlakunya secara resmi;
2. Tanggung jawab berdasarkan tuntutan-tuntutan yang berhubungan dengan Protokol Internasional Torremalinos, 1993.
3. Tanggung jawab berdasarkan tuntutan yang berhubungan dengan Bab V Konvensi Internasional tentang Keselamatan Jiwa di Laut, 1974;
4. Tanggung jawab berdasarkan Tambahan I dan Tambahan V Marpol 73/78 Konvensi untuk pencegahan pencemaran dari kapal (MARPOL)
1973 seperti yang telah diperbaharui dengan Protokol 1978; 5. Deklarasi Kesehatan Maritim dan persyaratan Peraturan-peraturan
Kesehatan Internasional;
7. Tanggung jawab berdasarkan dokumen Internasional resmi lainnya
yang menyangkut keselamatan kapal dan ABK.
14.2 Cakupan pengetahuan tentang perundang-undangan Kemaritiman
26
penerapan Konvensi-Konvensi dan persetujuan-persetujuan Internasional.
15. Bahasa Inggris
pengoperasian kapal dan untuk menyatakan dirinya secara jelas dalam komunikasinya dengan kapal lain atau stasiun-stasiun pantai.
Kemampuan untuk mengerti dan menggunakan Kamus Pelayaran di laut berdasarkan standar IMO.
16. Komunikasi
16.1 Pengetahuan tentang prinsip-prinsip umum dan faktor-faktor dasar yang diperlukan untuk penggunaan secara efisien dan aman terhadap semua sub sistem dan perlengkapan yang diperlukan dalam GMDSS;
16.2 Pengetahuan tentang sistem-sistem peringatan tentang metereologi dan navigasi serta pemilihan dari pelayanan komunikasi yang sesuai;
16.3 Pengetahuan umum tentang akibat yang merugikan kesalahan pengggunaan salah satu perlengkapan komunikasi;
16.4 Dimana Peserta telah menguji calon dalam mata ujian ini pada tingkat- tingkat sertfikasi lebih rendah, mereka dapat mempunyai pilihan untuk tidak menguji kembali dalam mata ujian ini;
16.5 Mampu menerima dan mengirim sinyal Morse dengan cahaya dan menggunakan the International Code of Signals.
17. Penyelamatan diri (Life Saving)
17.1 Pengetahuan mendalam tentang alat-alat penyelamat dan persiapannya. 17.2 Pengetahuan mendalam tentang prosedur darurat dan kumpulan-
kumpulan orang dan latihan-latihan
18. Search and rescue
18.1 Pengetahuan mendalam tentang Regu Penolong Kapal Niaga (MERSAR)
19. Keselamatan nelayan dan kapal penangkap ikan (the FAO/ILO/IMO
Code of Safety for Fishermen and Fishing Vessels) 19.1 Pengetahuan tentang the FAO/ILO/IMO Code of Safety for Fishermen and
Fishing Vessels (bagian A) 20. Metode Peragaan Kecakapan
20.1 Navigasi 20.1.1 Mendemonstrasikan penggunaan sextant , pelorus, azimuth mirror
kemampuan menentukan posisi, haluan dan baringan.
20.2 Konvensi tentang Peraturan Internasional Mencegah Tubrukan di Laut,
27
1972.
20.3 Radar 20.3.1 Simulator radar
20.4 Pemadam Kebakaran
20.4.1 Ikut serta pada latihan pemadaman kebakaran yang disetujui. 20.5 Komunikasi 20.5.1 Ujian Praktek
20.6 Penyelamatan diri (Life Saving) 20.6.1 Penanganan alat-alat penyelamat, termasuk pemakaian jaket penolong
dan bila memungkinkan pakaian selam.
28
Peraturan 2 Persyaratan Minimum yang Diwajibkan untuk Sertifikasi Perwira yang
Melaksanakan Tugas Jaga Navigasi pada Kapal Penangkap Ikan dengan Panjang 24 meter atau lebih yang Beroperasi di Perairan Tak
Terbatas.
1. Setiap perwira yang melaksanakan tugas jaga navigasi pada kapal penangkap ikan panjang 24 meter atau lebih beroperasi di perairan tak
terbatas, hendaknya memiliki sertifikat yang memadai.
2. Setiap calon pemegang sertifikat harus:
1. Usia tidak kurang dari 18 tahun.
2. Memenuhi persyaratan Peserta yang bersangkutan mengenai kesehatan,
terutama menyangkut penglihatan dan pendengaran. 3. Memiliki pengalaman berlayar yang syah di bagian dek pada kapal
penangkap ikan tidak kurang dari dua tahun dengan panjang tidak kurang dari 12 meter. Namun demikian Administrasi dapat mengijinkan penggantian pengalaman berlayar tersebut dengan periode pelatihan
khusus tidak lebih dari satu tahun, pelatihan tersebut harus setara nilainya dengan periode pengalaman berlayar yang digantikannya atau
dengan periode masa berlayar yang syah dengan dibuktikan dengan buku pelaut yang syah sesuai dengan Konvensi STCW 1978;
4. Telah lulus ujian yang sesuai atau ujian-ujian untuk penilaian kompetensi untuk memenuhi persyaratan Peserta. Ujian seperti itu atau ujian-ujian tersebut harus meliputi materi yang tercantum dalam
lampiran aturan ini. Calon peserta ujian yang memiliki sertifikat kompetensi yang dikeluarkan menurut ketetapan Konvensi STCW 1978
tidak perlu diuji kembali dalam mata ujian – mata ujian yang tercantum dalam lampiran yang telah diujikan pada tingkat yang lebih tinggi atau setara dengan tingkat sertifikat yang dikeluarkan oleh Konvensi
tersebut.
5. Memenuhi persyaratan peraturan 6, layak untuk melaksanakan tugas jaga radio sesuai Peraturan Radio.
29
Pengetahuan Minimum yang Disyaratkan untuk Sertifikasi Perwira
yang Melaksanakan tugas jaga pada kapal penangkap ikan dengan panjang 24 meter atau lebih yang beroperasi di perairan tak terbatas.
1. Silabus yang diberikan dibawah ini disusun untuk ujian bagi calon dengan sertifikasi sebagai perwira jaga navigasi pada kapal penangkap ikan yang panjangnya 24 meter atau lebih yang beroperasi di perairan tak
terbatas.
3.1 Kesanggupan menentukan posisi kapal melalui penggunaan : 1. Benda-benda darat
2. Benda-benda bantu navigasi, termasuk menara suar, rambu-rambu dan pelampung-pelampung.
3. Menentukan posisi duga dengan memperhitungkan pengaruh angin, air
pasang, arus dan kecepatan oleh putaran baling-baling per menit dengan topdal.
3.2 Pengetahuan yang mendalam dan kesanggupan menggunakan peta laut,
publikasi navigasi misalnya kepanduan bahari, daftar pasang/surut, berita pelaut dan peringatan navigasi radio.
4. Navigasi Radar 4.1 Mendemontrasikan penggunaan simulator atau jika tidak ada dapat
menggunakan papan manuver pengetahuan tentang prinsip-prinsip dasar radar, kemampuan menggunakan radar menafsirkan dan menganalisa informasi yang diperoleh dari radar yang meliputi:
1. Faktor-faktor yang mempengaruhi tampilan gambar dan keakuratan;
2. Memasang dan mengatur gambar pada layar radar; 3. Mendeteksi keterangan-keterangan yang kurang benar dari informasi
yang ada, gema/palsu, gema pantulan air laut, dll.;
4. Jarak dan arah baringan; 5. Identifikasi gema kritis;
6. Haluan dan kecepatan kapal-kapal lain; 7. Waktu dan jarak terdekat dari kapal yang dalam situasi silang, saling
berhadapan atau saling menyusul;
8. Mendeteksi perobahan haluan dan kecepatan kapal-kapal lain; 9. Akibat perobahan haluan atau kecepatan kapal sendiri atau kedua-
duanya;
10. Penerapan Peraturan Internasional untuk Mencegah Tubrukan di Laut, 1972.
5. Tugas Jaga
5.1 Dapat memperagakan seluruh pengetahuan tentang isi, penerapan dan maksud Peraturan Internasional untuk Mencegah Tubrukan di Laut,
1972, terutama lampiran II dan IV menyangkut pelayaran yang aman.
30
dalam Bab IV.
6. Sistem elektronik untuk penentuan posisi dan navigasi. Mampu menentukan posisi kapal dengan menggunakan alat bantu navigasi elektronik untuk memenuhi persyaratan Peserta.
7. Meteorologi 7.1 Pengetahuan tentang peralatan meteorologi kapal dan cara
penggunaannya 7.2 Pengetahuan tentang karakter berbagai sistem cuaca.
8. Kompas Magnit dan Kompas Gasing Perawatan dan penggunaan kompas serta peralatan yang terkait.
9. Komunikasi
9.1 Pengetahuan umum tentang prinsip umum dan faktor-faktor pokok yang perlu untuk keselamatan dan penggunaan secara efisien setiap sub sistem dan peralatan yang dibutuhkan dalam GMDSS.
9.2 Pengetahuan tentang sistem peringatan navigasi dan meteorologi serta pemilihan sirkuit komunikasi yang sesuai.
9.3 Pengetahuan tentang akibat yang dapat merugikan dari kesalahan
penggunaan peralatan komunikasi.
10. Pencegahan kebakaran dan alat-alat pemadam kebakaran 10.1 Pengetahuan tentang bahan kimia dan kelas-kelas kebakaran. 10.2 Pengetahuan tentang sistem pemadaman kebakaran dan prosedur-
prosedurnya. 10.3 Mengikuti pelatihan pemadaman kebakaran yang telah mendapat
pengesahan.
penyelamatan diri di laut termasuk keikutsertaan pada latihan menyelamatkan diri di laut.
12. Prosedur darurat