of 198 /198
KARYA TULIS ILMIAH ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DIABETES MELITUS DENGAN MASALAH GANGGUAN INTEGRITAS KULIT DI RUMAH SAKIT PANTI WALUYA SAWAHAN MALANG Diajukan sebagai salah satu syarat mendapatkan gelar Ahli Madya Keperawatan (A. Md. Kep) pada STIKes Panti Waluya Malang Oleh : MUHAMMAD SHOLIKAN NIM: 17.1456

repository.stikespantiwaluya.ac.idrepository.stikespantiwaluya.ac.id/448/1/STIKESPW... · Web viewKARYA TULIS ILMIAH. ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN . DIABETES MELITUS. DEN. GAN MASALAH

  • Author
    others

  • View
    4

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of repository.stikespantiwaluya.ac.idrepository.stikespantiwaluya.ac.id/448/1/STIKESPW... · Web...

KARYA TULIS ILMIAH

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DIABETES MELITUS DENGAN MASALAH GANGGUAN INTEGRITAS KULIT DI RUMAH SAKIT PANTI WALUYA SAWAHAN MALANG

Diajukan sebagai salah satu syarat mendapatkan gelar Ahli Madya Keperawatan

(A. Md. Kep) pada STIKes Panti Waluya Malang

Oleh :

MUHAMMAD SHOLIKAN

NIM: 17.1456

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN PANTI WALUYA MALANG

PROGRAM STUDI D-III KEPERAWATAN

2020

viii

KARYA TULIS ILMIAH

Halaman judul

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DIABETES MELITUS DENGAN MASALAH GANGGUAN INTEGRITAS KULIT DI RUMAH SAKIT PANTI WALUYA SAWAHAN MALANG

Oleh :

MUHAMMAD SHOLIKAN

NIM: 17.1456

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN PANTI WALUYA MALANG

PROGRAM STUDI D-III KEPERAWATAN

2020

ii

xi

KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala berkat dan rahmat serta kasih-Nya bagi peneliti karena dapat menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah ini dengan judul “Asuhan Keperawatan Pada Klien Diabetes Melitus dengan masalah Gangguan Integritas Kulit di Rumah Sakit Panti Waluya Malang”. Penulis menyusun Karya Tulis Ilmiah ini sebagai salah satu syarat dalam mendapatkan gelar Ahli Madya Keperawatan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Panti Waluya Malang. Tidak lupa pula dalam penulisan Karya Tulis Ilmiah ini, peneliti mendapat banyak sekali bantuan dari para pembimbing dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis mengucapkan banyak terimakasih kepada:

1. Ibu Ns. Ellia Ariesti, M.Kep selaku Pjs Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Panti Waluya Malang.

2. Ibu Maria Magdalena Setyaningsih, Ns. Sp. Kep. Mat selaku pembimbing 1 yang telah memberikan saran dan bersedia membimbing penulis untuk penyusunan ini.

3. Ibu Wisoedhanie Widi Anugrahanti, SKM., M.Kes selaku pembimbing 2 yang telah memberikan saran dan bersedia membimbing penulis untuk penyusunan ini.

4. Ibu Kriestien Teguh Wahyuni, S.Kep., Ns selaku pembimbing 3 yang telah memberikan bimbimbingan serta arahan dalam penulisan ini.

5. Ibu Ns. Nanik Dwi Astutik, S.Kep., M.Kes selaku asisten dosen 1 yang telah memberikan saran dan bersedia membimbing penulis untuk penyusunan ini

6. Bpk Ns. Kristianto Dwi Nugroho, M.Kep selaku asisten dosen 2 yang telah memberikan saran dan bersedia membimbing penulis untuk penyusunan ini

7. Keluarga tercinta Bapak Suparman dan ibu Muslimah yang telah memberikan dukungan serta doa disetiap penulisan sehingga dapat menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah ini dapat terselesaikan.

8. Kakak tercinta Siti Nur Sholichah dan Taufik Afriyanto yang telah mendukung dan bertanggung jawab atas proses selama pendidikan di Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Panti Waluya Malang.

9. Semua teman-teman Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Panti Waluya Malang yang telah memberikan banyak bantuan, semangat, dan dorongan untuk penulisan Karya Tulis Ilmiah ini khususnya angkatan ke-20.

10. Serta semua pihak yang tidak dapat saya sebutkan satu-persatu dalam membantu penulisan Karya Tulis Ilmiah ini.

Penulis menyadari bahwa penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini jauh dari kata sempurna. Oleh karna itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang dapat menyempurnakan penulisan Karya Tulis Ilmiah ini. Semoga Karya Tulis Ilmiah ini dapat bermanfaan bagi penulis pada khususnya institusi, lahan penelitian, dan para pembaca pada umumnya.

Malang, 13 Juli 2020

Penulis

Muhammad Sholikan

ABSTRAK

Sholikan, Muhammad. 2020. Asuhan Keperawatan pada klien Diabetes Melitus dengan masalah Gangguan Integritas Kulit di Rumah Sakit Panti Waluya Sawahan Malang, Karya Tulis Ilmiah, Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Panti Waluya Malang. Pembimbing :(1) Maria Magdalena Setyaningsih, Ns. Sp. Kep. Mat (2) Wisoedhanie Widi Anugrahanti, SKM., M.Kes

Diabetes Melitus merupakan gangguan metabolisme yang bersifat kronis ditandai dengan peningkatan kadar glukosa darah, kondisi tersebut depat menyebabkan darah menjadi pekat sehingga mempengaruhi sirkulasi menjadi tidak lancar, dengan demikian sari-sari makanan dan O2 tidak dapat beredar keseluruh tubuh dan dapat menyebabkan timbulnya luka, sehingga pada klien Diabetes Melitus dapat terjadi gangguan integritas kulit. Penelitian dilakukan pada bulan Mei 2020,dengan lama waktu perawatan selama tiga hari untuk kedua klien hasil penelitian menunjukan masalah belum teratasi, masalah kerusakan integritas kulit dapat teratasi melalui implementasi perawatan luka, mengontrol gula darah dan memenuhi nutrisi, bagi peneliti selanjutnya lebih memperhatikan keadaan pasien khususnya Diabetes Melitus dengan masalah gangguan integritas kulit, baik segi pola asuhan dan pemberian tindak lanjut yang lebih maksimal kepada klien dengan masalah gangguan integritas kulit secara lebih baik.

Kata kunci : Diabetes Melitius, Gangguan Integritas Kulit.

ABSTRACT

Sholikan, Muhammad. 2020. Nursing Care for Diabetes Melitus clients with problems with skin integrity disorders at Panti Waluya Sawahan Hospital Malang, Scientific Writing, Panti Waluya Malang College of Health Sciences. Advisors: (1) Maria Magdalena Setyaningsih, Ns. Sp. Kep. Mat (2) Wisoedhanie Widi Anugrahanti, SKM., M.Kes

Diabetes mellitus is a chronic metabolic disorder characterized by an increase in blood glucose levels, this condition can cause blood to become concentrated so that it affects circulation to not smooth, thus food juices and O2 cannot circulate throughout the body, these conditions can cause injury, so In Diabetes Mellitus clients, skin integrity disorders can occur. The study was conducted in May 2020, with a length of treatment for three days for both clients, the results of the study showed that the problem had not been resolved, the problem of damage to skin integrity could be resolved through the implementation of wound care, controlling blood sugar and fulfilling nutrition, for further researchers to pay more attention to the patient's condition in particular. Diabetes Mellitus with problems with impaired skin integrity, both in terms of pattern of care and providing maximum follow-up to clients with problems with skin integrity disorders.

Key words: Diabetes Melitius, Impaired Skin Integrity.

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDULiiSURAT PERNYATAAN……...…………….……………………………………………… iiiHALAMAN PERSETUJUAN……………..…………………………………………………ivHALAMAN PENGESAHAN……..…………………………………………………………..vDAFTAR RIWAYAT HIDUP………...…………………………………………………...…viKATA PENGANTARviiABSTRAKixDAFTAR ISIxiDAFTAR TABELxivDAFTAR GAMBARxvDAFTAR BAGANxviDAFTAR LAMPIRANxviiBAB I PENDAHULUAN11.1 Latar Belakang11.2 Batasan Masalah41.3 Rumusan Masalah41.4 Tujuan51.4.1 Tujuan Umum51.4.2 Tujuan Khusus51.5 Manfaat51.5.1 Manfaat Teoritis51.5.2 Manfaat Praktis6BAB II TINJAUAN PUSTAKA72.1 Konsep Diabetes Melitus72.1.1 Pengertian Diabetes Melitus72.1.2 Etiologi Diabetes Melitus82.1.3 Klasifikasi102.1.4 Patofisiologi102.1.5 Pathway Diabetes Melitus142.1.6 Manifestasi Klinis152.1.7 Komplikasi162.1.8 Penatalaksanaan182.1.9 Pemeriksaan penunjang202.2 Konsep Gangguan Integritas kulit212.2.1 Definisi kulit212.2.2 Anatomi kulit212.2.3 Fungsi kulit222.2.4 Definisi Gangguan Integritas kulit232.2.5 Klasifikasi Gangguan integritas kulit242.2.6 Jenis dan tipe luka242.2.7 Jenis luka Diabetes Melitus262.3 Asuhan keperawatan282.3.1 Pengkajian282.3.2 Masalah Keperawatan342.2.4 Rencana Asuhan Keperawatan362.2.5 Implementasi Keperawatan382.2.6 Evaluasi keperawatan38BAB III METODE PENELITIAN403.1 Desain Penelitian403.2 Batasan istilah403.3 Partisipan413.4 Lokasi dan waktu penelitian413.5 Pengumpulan Data413.6 Uji Keabsasan Data423.7 Analisis Data423.8 Etik Penelitian43BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN454.1 Hasil454.1.2 Gambaran Lokasi pengambilan Data454.1.2 Karakteristik Partisipan464.1.2 Data Asuhan Keperawatan474.2 Pembahasan694.2.1 Pengkajian694.2.2 Diagnosa Keperawatan694.2.3 Rencana Keperawatan704.2.4 Implementasi Keperawatan724.2.5 Evaluasi Keperawatan73BAB V KESIMPULAN DAN SARAN755.1 Kesimpulan755.1.1 Pengkajian755.1.2 Diagnosa Keperawatan755.1.3 Rencana Keperawatan765.1.4 Implementasi Keperawatan765.1.5 Evaluasi Keperawatan765.2 Saran765.2.1 Bagi Lahan Penelitian765.2.2 Bagi Institusi Pendidikan775.2.3 Bagi Peneliti Selanjutnya77DAFTAR PUSTAKA78LAMPIRAN81

xii

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Rencana keperawatan Klien Diabetes Melitus.34

Tabel 4.1 Identitas Klien .45

Tabel 4. 2 Identitas Penanggung Jawab45

Tabel 4. 3 Riwayat Penyakit46

Tabel 4. 4 Persepsi Diri47

Tabel 4. 5 Pola Kesehatan48

Tabel 4. 6 Pemeriksaan Fisik50

Tabel 4. 7 Pemeriksaan Penunjang Klien 152

Tabel 4. 8 Pemeriksaa Penunjang Klien 253

Tabel 4. 9 Terapi Obat Klien 154

Tabel 4. 10 Terapi Obat Klien 255

Tabel 4. 11 Analisa Data56

Tabel 4. 12 Diagnosa Keperawatan57

Tabel 4. 13 Intervensi Keperawatan Klien 158

Tabel 4. 14 Intervensi Keperawatan Klien 260

Tabel 4. 15 Implementasi Keperawatan62

Tabel 4. 16 Evaluasi Keperawatan63

Tabel 4. 17 Tabel Pembahasan Pengkajian66

Tabel 4. 18 Diagnosa keperawatan66

Tabel 4. 19 Tabel Pembahasan Tujuan Intervensi Keperawatan67

Tabel 4. 20 Tabel Pembahasan Kriteria Hasil Intervensi Keperawatan68

Tabel 4. 21 Tabel Pembahasan Intervensi Keperawatan68

Tabel 4. 22 Tabel Pembahasan Implementasi Keperawatan69

Tabel 4. 23 Tabel Evaluasi Keperawatan Berdasarkan Kriteria Hasil70

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Tipe luka 25

Gambar 2.2 Jenis luka26

DAFTAR BAGAN

Bagan 2.1: Diabetes Melitus14

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Studi Pendahuluan81

Lampiran 2 Jawaban Studi Pendahuluan82

Lampiran 3 Surat Jawaban Ijin Penelitian83

Lampiran 4 Lembar konsultasi Pembimbing 184

Lampiran 8 Lembar Konsultasi Pembimbing 285

Lampiran 9 Lembar Konsultasi Pembimbing 386

Lampiran 10 Satuan Acara Penyuluhan……………………….……………..……...90

Lampiran 11 Leaflet……………………………….……………………………….108

Lampiran 12 Manuskrip…………………………….……………………………...110

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Diabetes melitus yang dikenal sebagai penyakit kencing manis adalah kumpulan gejala pada seseorang dikarenakan kadar gula darah yang meningkat (glukosa), sehingga pankreas bekerja kebih keras untuk memproduksi insulin guna menyeimbangkan kadar gula di dalam darah (Dyah restuning, 2015). Diabetes melitus juga merupakan penyakit metabolisme timbul dengan gejala yang khas, yaitu polidipsia, polifagia, dan poliuria terkadang mengakibatkan penurunan berat badan (Perkeni, 2011). Diabetes melitus bisa mengakibatkan gangguan Integritas Kulit disebabkan karena tingginya kandungan glukosa sehingga darah menjadi pekat dan menyebabkan aliran darah tidak lancar sehingga dapat memunculkan luka (Hermand, 2013).

Menurut WHO pada tahun 2014 terdapat 422 juta jiwa penderita Diabetes Melitus di dunia diantaranya dialami oleh orang dewasa. Tingkat prevelensi global penderita Diabetes Melitus di Asia Tenggara pada tahun 2014 sebesar 8,3% dengan jumlah 96 juta jiwa (International Diabetes Federation, 2015). Jumlah penderita Diabetes Melitus di Indonesia pada tahun 2015 dari data Riskesdas sebanyak 3,9 juta jiwa (Fitri, 2015). Angka kejadian Diabetes Melitus di Jawa Timur yang terdiagnosa Diabetes Melitus ditahun 2018 mencapai 83.160 jiwa, Angka kejadian di Kota Malang pada tahun 2014 menempati urutan ke-3 di Jawa timur yang terdiagnosa Diabetes Melitus sebesar 7.534 penderita (Lukita, 2018). Prevalensi di Rumah Sakit Panti Waluya Sawahan Malang didapatkan data dari Rekam Medik pasien yang mengalami Diabetes melitus pada bulan Januari–Desember 2018 didapatkan 95 pasien dewasa, pada tahun 2019 terdapat 55 pasien dan 28 pasien dengan adanya luka (Rekam Medis RS Panti Waluya Malang, 2018 ).

Diabetes Melitus merupakan penyakit dengan dampak serius, salah satunya Gangguan Integritas Kulit karena adanya penyempitan pembuluh darah sehingga menimbulkan ulkus diabetik (Maghfuri ali, 2016). Terjadinya ulkus diabetik disebabkan oleh tingginya glukosa dalam darah dan tidak cukupnya sediaan insulin yang dihasilkan tubuh, sehingga glukosa tidak dapat dikirim ke sel tubuh untuk dijadikan sumber energi yang dapat menopang sistem kerja organ, sehingga organ tidak dapat bekerja secara optimal (Damayanti & Kurniawan, 2014). Glukosa dengan jumlah banyak menyebabkan darah menjadi pekat sehingga aliran darah tidak lancar, aliran darah yang tidak lancar menyebabkan neuropati pada saraf perifer karena suplai oksigen dan nutrisi kejaringan terhambat sehingga kondisi tersebut mempengaruhi proses penyembuhan luka (Perkeni, 2015).

Fenomena yang ditemukan oleh penulis saat praktek klinik di Rumah Sakit Panti Waluya Malang pada bulan Februari 2019. didapatkan dua klien diruang Isolasi yang menderita Diabetes Melitus. klien pertama bernama Ny S mengalami DM selama 1 tahun klien . Awalnya klien mengatakan sering merasakan kesemutan pada bagian extremitas bawah, disebabkan kebanyakan duduk waktu bekerja. pada saat dilakukan pengkajian terdapat luka pada kaki bagian kiri dan tungkai sebelah kanan dengan lebar 5 cm kedalaman luka 1 cm, luka mengeluarkan bau yang menyengat berwarna kemerahan tidak edema dan mengeluarkan pus berwarna kuning encer, saat dilakukan pemeriksaan gula darah mendapatkan hasil 340 mg/dl. Klien kedua Ny T perempuan berusia 45 tahun dengan riwayat Diabetes Melitus selama 2 tahun yang lalu. Luka klien diawali saat kakinya terkena kaca. Luka tersebut semakin lama semakin memburuk pada saat dilakukan pengkajian terdapat luka pada bagian ibu jari, berwarna hitam kemerahan dan mengeluarkan bau yang menyengat, pada saat dilakukan pemeriksaan gula darah didapatkan hasil 380 mg/dl. Kedua klien berdasarkan data tersebut mengalami Gangguan Integritas Kulit.

Gangguan Integritas Kulit pada Diabetes Melitus akan banyak menimbulkan dampak buruk karena terdapat luka seperti ulkus, bula diabetik, dan gangrene, dengan demikian akan mudah terinfeksi dan menimbulkan bau yang tidak sedap (Ali maghfuri, 2016). Jika Gangguan Integritas Kulit tidak segera ditangani dapat membahayakan bagi penderita karena adanya jaringan kulit yang terbuka maka mikroorganisme akan mudah masuk dan tumbuh subur sehingga mengakibatkan infeksi dan berujung pada kematian (Harahap, 2012). Masalah Gangguan Integritas Kulit dapat menyebabkan gangguan fisik maupun psikis karena Diabetes melitus dapat mengakibatkan intoleransi aktifitas, gangguan pola tidur, dan cemas, sehingga akan berdampak pada 5 kebutuhan dasar manusia terutama ketubuhan fisiologi makan dan minum (Baxter, Hastings, Law, & Glass, 2012)

Peran perawat dalam mengatasi masalah tersebut adalah melakukan asuhan keperawatan dengan menstabilkan gula darah, memenuhi kebutuhan dasar, memonitor nutrisi yang masuk dan perawatan luka, jika luka tidak segera dirawat dapat penyebabkan infeksi serta komplikasi lainya. perawat juga harus memberikan penjelasan kepada keluarga dan klien tentang perawatan luka, informasi tentang cara mengontrol gula darah seperti pola makan yang dianjurkan dan tidak, olah raga yang tepat, pengobatan secara rutin, dan tanda gejala yang akan timbul. Berdasarkan Latar Belakang tersebut, peneliti tertarik melakukan study kasus yang berjudul “Asuhan Keperawatan Pada klien Diabetes Melitus dengan masalah Gangguan Integritas Kulit di Rumah Sakit Panti Waluya Malang“.

1.2 Batasan Masalah

Karya Tulis Ilmiah ini dibatasi pada Asuhan Keperawatan Pada Klien Diabetes Melitus dengan Gangguan Integritas Kulit di Rumah Sakit Panti Waluya Malang.

1.3 Rumusan Masalah

Bagaimanakah Asuhan Keperawatan pada klien yang mengalami penyakit Diabetes Melitus dengan masalah Gangguan Integritas Kulit di Rumah Sakit Panti Waluya Malang?

1.4 Tujuan

1.4.1 Tujuan Umum

Melaksanakan Asuhan Keperawatan pada klien yang mengalami penyakit Diabetes Melitus dengan masalah Gangguan Integritas Kulit di Rumah Sakit Panti Waluya Malang.

1.4.2 Tujuan Khusus

1) Melakukan pengkajian keperawatan pada klien Diabetes Melitus dengan Gangguan Integritas Kulit di Rumah Sakit Panti Waluya Malang.

2) Menetapkan Diagnosa Keperawatan pada klien Diabetes Melitus dengan Gangguan Integritas Kulit di Rumah Sakit Panti Waluya Malang.

3) Menyusun perencanaan keperawatan pada klien Diabetes Melitus dengan Gangguan Integritas Kulit di Rumah Sakit Panti Waluya Malang.

4) Melaksanakan tindakan keperawatan pada klien Diabetes Melitus dengan Gangguan Integritas Kulit di Rumah Sakit Panti Waluya Malang.

5) Melakukan evaluasi pada klien Diabetes Melitus dengan Gangguan Integritas Kulit di Rumah Sakit Panti Waluya Malang.

1.5 Manfaat

1.5.1 Manfaat Teoritis

Diharapkan Karya Tulis ini dapat digunakan menambah ilmu pengetahuan dalam bidang keperawatan mengenai Asuhan keperawatan pada Diabetes Melitus dengan Gangguan Integritas Kulit, sehingga dapat memberikan tindakan perawatan luka pada klien Diabetes melitus.

1.5.2 Manfaat Praktis

1) Bagi Institusi Pendidikan

Karya Tulis Imliah ini dapat dijadikan referensi dalam penulisan asuhan keperawatan pada klien Diabetes Melitus dengan Gangguan Integritas Kulit.

2) Bagi Perawat

Karya Tulis Ilmiah ini diharapkan bisa menjadi acuan dan masukan pada perawat dalam memberikan asuhan keperawatan pada klien Diabetes Melitus dengan Gangguan Integritas Kulit.

3) Bagi Peneliti Selanjutnya

Karya Tulis Ilmiah ini diharapkan dapat menjadi acuan dan data awal dalam penelitian mengenai Diabetes Melitus dengan Gangguan Integritas Kulit.

4) Bagi klien dan keluarga

Karya Tulis Ilmiah ini diharapkan dapat memberikan informasi yang tepat kepada klien dan keluarga dalam menjaga dan melakukan perawatan luka pada klien Diabetes Melitus dengan Gangguan Integritas Kulit.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Pada bab ini penulis mengemukakan teori-reori yang mendukung study kasus tentang “Asuhan Keperawatan Pada Klien Diabetes dengan masalah Gangguan Integritas kulit di Rumah Sakit Panti Waluya Malang” yang terdiri dari konsep Diabetes Melitus, Konsep Gangguan Integritas Kulit pada Klien Diabetes Melitus dengan masalah Gangguan Integritas Kulit.

2.1 Konsep Diabetes Melitus 2.1.1 Pengertian Diabetes Melitus

Diabetes Melitus merupakan penyakit gangguan metabolisme karbohidrat lemak dan protein yang berkaitan dengan defisiensi atau resistensi insulin secara absolute maupun relatif yang bersifat kronis, ditandai dengan ciri khas peningkatan kadar Glukosa darah atau Hiperglikemia diatas nilai normal, Hiperglikemia terjadi karena adanya gangguan kerja insulin atau sekresi insulin didalam tubuh (Miharja, 2013, Awad dkk, 2013). Glukosa darah dikatakan normal jika tidak melebihi 70-<100 mg/dl pada gula darah puasa, jika melebihi gula darah puasa antara 100-125 pdikatakan pre Diabetes, sedangkan seseorang dikatakan terkena Diabetes Melitus jika kadar Glukosa darah >126 mg/dl (Subekti, 2012).

Berdasarkan pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa Diabetes melitus adalah penyakit gangguan metabolisme yang disertai dengan penurunan insulin dalam tubuh yang bersifat kronis, sehingga berakibat meningkatnya kadar gula didalam darah.

2.1.2 Etiologi Diabetes Melitus

Penyebab Diabetes Melitus pada umumnya disebebkan oleh rusaknya sebagian besar atau kecil sel betha pankreas yang berfungsi sebagai penghasil insulin didalam tubuh, karena ada kerusakan sel betha maka berakibat tubuh akan kekurangan insulin (Riyadi, 2012). Selain itu terdapat juga faktor-faktor resiko yang mempengaruhi terjadinya Diabetes Melitus faktor tersebut ada yang bisa diubah dan tidak dapat diubah, Faktor resiko yang tidak dapat diubah yaitu:

1. Faktor Genetik

Penyakit Diabetes Melitus dapat diturunkan oleh orangtua kepada anak. Penyebabnya yaitu Gen orangtua akan dibawa oleh anak pada saat anak masih didalam kandungan, pewarisan ini dapat berlanjut sampai sampai kecucunya bahkan bisa sampai cicit walaupun resikonya sangat kecil (Kekenusa, 2013).

2. Usia

Menurut Hardianah (2012), Diabetes Melitus mengalami peningkatan pada usia muda dikarenakan meningkatnya kejadian obesitas pada usia muda.

3) Gender

Meskipun sampai saat ini belum ditemukan prevalensi Diabetes Melitus pada wanita dan pria, namun berbagai study menyatakan bahwa ada perbedaan prevelensi antara jenis kelamin tersebut, study yang dilakukan pencegahan dan pengendalian penyakit 2012, menunjukan peningkatan kejadian Diabetes Melitus pada wanita sebasar 4,8%, dan 3,2% pada pria (Hotma,2014).

4) Diabetes Melitus Gestasiaonal

Adalah suatu kondisi intoleransi terhadap glukosa yang ditemukan pada ibu hamil dengan gangguan toleransi glukosa. Berkembangnya GDM pada masa kehamilan menjadi faktor resiko penyebab Diabetes Melitus (Damayanti, 2015).

Faktor resiko yang dapat diubah antara lain:

1) Obesitas

Pola makan yang tidak sehat yang banyak mengandung gula dan lemak akan menumpuk didalam tubuh sehingga menyebabkan kelenjar pankreas bekerja lebih keras untuk menghasilkan insulin untuk mengelola gula yang masuk kedalam tubuh (American Diabetes Association, 2017).

2) Pola hidup

Penyebab Diabetes melitus juga disebabkan oleh pola hidup, kurangnya olahraga dan aktifitas fisik dapat beresiko tinggi terkena Diabetes Melitus karena fungsi olahraga yaitu untuk membakar kalori yang berlebihan didalam tubuh, kalori yang terlalu banyak didalam tubuh merupakan faktor utama penyebab Diabetes Melitus (Tarwoto, 2012).

2.1.3 Klasifikasi

Diabetes Melitus dibagi menjadi 2 tipe yaitu:

a) Diabetes Melitus tipe 1 (Diabetes tergantung pada insulin)

Diabetes Melitus tipe 1 terjadi akibat kerusakan dari sel beta pankreas sehingga tubuh mengalami kekurangan insulin, sehingga penderita Diabetes tipe 1 akan ketergantungan insuli seumur hidup, Diabetes Melitus tipe 1 disebabkan oleh faktor genetik (keturunan) faktor imunologik dan faktor lingkungan (Hardianah, 2013).

b) Diabetes Melitus tipe tipe 2 (Diabetes Melitus tidak tergantung pada insulin)

Diabetes Melitus tipe 2 ini disebabkan insulin yang berada didalam tubuh tidak bekerja dengan baik, bisa meningkat bahkan menurun , Diabetes tipe ini umum terjadi dikarenakan oleh faktor resikonya yaitu malas olahraga dan obesitas, faktor yang mempengaruhi Diabetes yaitu riwayat keluarga obesitas, gaya hidup dan usia yang lebih 65 tahun memiliki resiko tinggi

(Muhlisin, 2015).

2.1.4 Patofisiologi

Kombinasi antara faktor genetic faktor lingkungan resistensi insulin dan gangguan sekresi insulin merupakan penyebab DM. faktor lingkungan yang mempengaruhi seperti obesitas, kurangnya aktifitas fisik, stress dan pertambahan umur (Kaku, 2013).

Gejala awalnya berhubungan dengan efek langsung dari gula darah yang tinggi. Jika kadar gula darah melebihi 160-180 mg/dl maka glukosa akan dikeluarkan melalui air kemih dengan jumlah yang banyak (poliuri). Sehingga penderita akan sering haus dan akan banyak minum (polidipsi). Sejumlah kalori akan hilang ikut terbuang didalam air kemih sehingga penderita akan mengalami penurunan berat badan. Untuk mengkompensasi hal ini seringkali penderita akan merasakan lapar yang luar biasa sehingga penderita akan banyak makan dalam jumlah yang banyak (polifagi). Gejala lainya adalah pandangan kabur, pusing, mual, dan berkurangnya ketahanan tubuh selama beraktifitas atau olahraga. Penderita Diabetes Melitus dengan kadar gula kurang terkontrol lebih peka terhadap infeksi (Muttaqin, 2010).

Pada penderita Diabetes Melitus tipe 1 akan menimbulkan keadaan yang disebut ketoasidosis diabetikum, Meskipun kadar glukosa tinggi tetapi sebagian besar sel tidak dapat menggunakan gula tanpa insulin, sehingga kebutuhan energi sel diambil dari sumber lain, sumber lain biasanya diambi dari lemak tubuh. Sel lemak dipecah dan akan menghasilkan keton, yang merupakan senyawa kimia beracun yang mengakibatkan darah menjadi asam (ketoasidosis). Gejala awal dari ketoadosis diabetikum adalah rasa haus dan berkemih dengan jumlah yang banyak, mual, muntah, lelah dan nyeri perut. nafas menjadi dalam dan cepat karena tubuh berusaha memperbaiki keasaman darah, bau nafas penderita akan berbau seperti aseton, jika tanpa pengobatan ketoadosis diabetikum bisa berkembang menjadi koma, biasanya hanya dalam waktu beberapa jam. Bahkan setelah rutin terapi insulin, penderita Diabetes Melitus tipe I bisa mengalami ketoasidosis jika penderita lupa atau melewatkan penyuntikan insulin atau penderita mengalami stres akibat infeksi, kecelakaan atau penyakit yang serius (Soegondo, 2010).

Pada Diabetes Melitus tipe II terdapat dua masalah yang berhubungan dengan insulin, yaitu resistensi insulin dan gangguan sekresi insulin. Pada normalnya insulin akan terikat reseptor kusus pada permukaan sel. Akibat terikatnya reseptor dengan insulin maka terjadi suatu rangkaian reaksi dalam metabolisme glukosa didalam sel. Resistensi insulin pada Diabetes Melitus tipe II disertai dengan penurunan reaksi intrasel. Dengan demikian insulin tidak efektif untuk menstimulus dalam pengambilan glukosa oleh jaringan. Akibat intoleransi glukosa yang lambat maka Diabetes Melitus tipe II dapat berjalan tanpa terdeteksi. Jika pasien mengalami gejala tersebut bersifat ringan dan mencakup kelelahan, iritabilitas, poliuri, polidipsia, luka yang lama proses penyembuhanya, infeksi vagina atau pandangan kabur (jika kadar glukosa sangat tinggi) (Andra Saferi, 2013)

Diabetes Melitus dapat membuat gangguan/komplikasi melalui kerusakan pada pembuluh darah diseluruh tubuh yang disebut juga dengan angiopati diabetik. Penyakit ini bisa menjadi kronis dan dibagi menjadi gangguan pembuluh darah besar (makrovaskuler) disebut dengan makroangiopati. dan pada pembuluh darah kecil (mikrovaskuler) disebut dengan mikroangiopati. yang berefek terhadap saraf perifer dan suplay faskuler gangguan pada pembuluh darah kecil dapat mengakibatkan neuropati, dan terhambatnya suplai oksigen dan sari-sari makanan kejaringan, sehingga bisa mengakibatkan timbulnya ulkus diabetikum, neuropati sensori perifer memungkinkan terjadinya trauma sehingga mengakibatkan terjadinya Gangguan integritas jaringan dibawah area kalus. (Subekti,2012)

2.1.5 Pathway Diabetes Melitus

(Ideopatik, Usia, Gaya hidup) (Genetik, Reaksi auto imun)DM Tipe IDM Tipe II

(Resistensi insulin, gangguan sekresi insulin) (Kerusakan sel beta pankreas)

(Defisiensi insulin)

(Penurunan pemakaian glukosa oleh sel)

(GANGGUAN INTEGRITAS KULIT) (Terjadi ulkus)

(Luka sukar sembuh) (Hiperglikemia)

( Glycosuria)

(Trauma infeksi)

(Jaringan terjauh tubuh) (Mikrovaskuler)

(Penyempitan pembuluh darah) (Suplay darah & oksigen ke jaringan perifer menurun)

(Gangguan sirkulasi)

Bagan 2.1: Diabetes Melitus

(Sumber: Fady, 2015)

2.1.6 Manifestasi Klinis

Manifestasi Klinis utama DM berupa:

1) Kadar gula darah meningkat

Dikarenakan kerusakan sel betha pankreas yang mengakibatkan insulin tidak dapat diproduksi dengan demikian gula darah tidak dapat masuk dalam sel sehingga terjadi penumpukan gula darah atau disebut juga dengan Hiperglikemia (Semiardji, 2012)

2) Poliuria

Disebut juga dengan kencing yang berlebihan disebabkan karena kadar gula darah tidat dapat masuk dalam sel dan terjadi penumpukan gula dalam darah (Hiperglikemia) maka ginjal akan bekerja untuk menskresi glukosa kedalam urin yang mengakibatkan dieresis osmotik yang memicu gangguan sering berkemih (Laniwati, 2012).

3) Polifagia (Makan yang berlebihan)

Pada Saat berkemih kalori yang berada dipembuluh darah akan ikut hilang terbawa air kemih, penderita mengalami penurunan berat badan, untuk mengkompensasi hal ini penderita sering merasa lapar yang luar biasa (Perkeni, 2015).

4) Polidipsia (peningkatan rasa haus)

Disebabkan jumlah urin yang sangat besar dan keluarnya air yang menyebabkan dehidrasi extrasel. intrasel mengikuti dehidrasi extrasel karena air intrasel akan berdifusi keluar sel mengikuti penurunan gradient konsentrasi keplasma yang hipertonik (sangat pekat). Dehidrasi intrasel merangsang pengeluaran ADH (antidiuretic hormon) dan menimbulkan rasa haus (Hotma, 2014)

Menurut Hasdianah (2012) Manifestasi lain yang berlangsung berlahan dari beberapa hari hingga beberapa minggu yaitu:

1) Rasa tebal dikulit

2) Kesemutan

3) Gatal

4) Mata kabur

5) Mudah mengantuk

6) Kulit terasa panas atau seperti di tusuk-tusuk jarum

2.1.7 Komplikasi

1) Komplikasi akut :

a) Hipoglikemia

Adalah penurunan kadar gula darah lebih rendah dari 60 mg/dl dan akan menimbukan gejala yaitu takhicardi, mual, muntah, lapar, dan bisa mengakibatkan penurunan kesadaran (Tjokroprawiro, 2012).

b) Diabetes Ketoasidosis

Merupakan gejala yang paling buruk dari Diabetes yang timbul secara tiba-tiba karena adanya stres fisik seperti kehamilan atau mengalami penyakit akut dan trauma (Lemone, 2016).

c) Hiperglikemia

Adalah sebuah perburukan dari Diabetes Melitus dapat memperburuk suatu penyakit tetapi tidak rentan mengalami ketosis, tetapi akan mengalami hiperglikemia berat dengan kadar glukosa darah lebih dari 300mg/100 ml bagi penderita yang mengalaminya (Boedisantoso, 2011).

2) Komplikasi kronik

a) Komplikasi makrovaskuler

Sebuah komplikasi yang menyerang pembuluh darah besar akibat aterosklerotik (Hotma, 2014)

b) Komplikasi mikrovaskuler

1) Retinopati Diabetikum

Penyebabnya adalah perubahan dalam pembuluh darah kecil yang berda diretina mata yang banyak mengandung pembuluh darah kecil sehingga dapat memicu kebutaan jika tidak segera di tangani.

2) Nefropati diabetikum

Adalah penyakit ginjal yang ditandai adanya albumin didalam urine, hipertensi, edema, dan insufiensi ginjal progresif. (Tjokroprawiro, 2012).

3) Neuropati Diabetikum

Disebabkan karena hiperglikemia yang mengakibatkan darah menjadi kental sehingga aliran darah kepembuluh darah perifer tidak lancar. Terdapat 2 tipe neuropati diabetikum yang sering dijumpai yaitu polineuropati sensori dan neuropati otonom (Hotma, 2014)

2.1.8 Penatalaksanaan

Terapi Diabetes Melitus merupakan terapi yang bertujuan untuk menormalkan aktivitas insulin dan kadar gula darah dalam upaya mengurangi komplikasi vaskuler dan neuropatik, Dengan tujuan kadar gula dalam darah menjadi normal tanpa adanya gangguan yang serius pada pola aktivitas klien (Perkeni, 2015).

Terdapat lima komponen penatalaksanaan Diabetes Melitus yaitu:

1) Penyuluhan atau edukasi

Edukasi kepada penderita Diabetes Melitus dengan tujuan untuk memberikan penjelasan tentang cara memperbaiki gaya hidup yang lebih sehat kususnya dalam pola makan dan olahraga. Penyuluhan bisa mengguanakan media lain seperti leaflet, poster, video dan diskusi kelompok agar lebih jelas dan mudah difahami (Suyono, 2010).

2) Latihan Fisik

Manfaat latihan fisik bagi penderita Diabetes Melitus

a) Dapat meningkatkan kepekaan insulin, apabila dilakukan 1 jam setelah makan.

b) Memperbaiki pembuluh darah perifer dan memperlancar suplai oksigen.

c) Dapat merangsang glikogen baru, karena kadar glukosa otot dan hati berkurang.

d) Pembakaran asam lemak lebih baik karena kolestrol dan trigliserida menurun (Suyono, 2010).

3) Terapi gizi

Menurut Brunner& Suddarth tahun 2012, Prinsip pengaturan gizi pada Diabetes Melitus adalah pada gizi seimbang serta pengaturan jumlah kalori, jenis makanan yang dianjurkan seperti :

a) Karbohidrat

Tujuan diet ini adalah meningkatkan konsumsi karbohidrat kompleks (khususnya yang berserat tinggi) seperti roti, gandum utuh, nasi beras tumbuk, sereal dan pasta/mie yang berasal dari gandum yang masih mengandung bekatul. Karbohidrat sederhana tetap harus dikonsumsi dalam jumlah yang tidak berlebihan dan lebih baik jika dicampur ke dalam sayuran atau makanan lain daripada dikonsumsi secara terpisah.

b) Lemak

Asupan lemak yang dianjurkan sekitar 20-25% dari total kebutuhan Kalori. Lemak jenuh<7% dari kebutuhan Kalori.

c) Protein

Makanan sumber protein nabati misal : kacang-kacangan dan biji-bijian yang utuh dapat membantu mengurangi asupan kolesterol serta lemak jenuh.

d) Serat

Dianjurkan makan makanan dengan serat yang tinggi dalam 1000kkl/hari serat mencapai 25g.

4) Farmakoterapi

Digunakan jika dalam upaya-upaya lain tidak dapat menyeimbangkan kadar gula darah penderita dapat mengguanakan obat-obatan golongan hipoglikemik dalam mengatur keseimbangan glukosa.

5) Mengontrol gula darah

Dilakukan secara rutin untuk memantau kondisi kesehatan saat menjalankan diit dan tidak menjalanjan diit. (Tjokroprawiro, 2012).

2.1.9 Pemeriksaan penunjang

1) Pemeriksaan Laboratorium

Hasil pemeriksaan didapatkan adanya glukosa urine/pemeriksaan dilakukan dengan cara benedict(reduksi).

2) Kadar glukosa darah

Pemeriksaan darah meliputi : pemeriksaan gula darah sewaktu (GDS) nilai normal 100-126 mg/dl, gula darah puasa 70-<100 mg/dl. Dan gula darah 2 jam post pradial <180 mg/dl (Subekti, 2012).

3) Pemeriksaan fungsi tiroid

Pemeriksaan aktifitas hormon tiroid meningkatkan glukosa darah dan kebutuhan insulin (Srihartini, 2014)

2.2 Konsep Gangguan Integritas kulit

2.2.1 Definisi kulit

Kulit adalah suatu massa atau jaringan terbesar didalam tubuh, fungsinya untuk melindungi struktur-struktur yang ada dibawahnya dan sebagai tempat cadangan kalori (Saferi, 2014).

2.2.2 Anatomi kulit

Menurut Muttaqin tahun 2013 terdapat lima komponen dari kulit dimulai dari lapisan terluar:

1) Epidermis

Lapisan kulit yang paling luar terdiri dari selapis sel yang berbentuk pipih dan rapat, sel epidermis yang terus mengalami mitosis dan akan berganti dengan yang baru dalam 30 hari. Didalam epidermis mengandung reseptor-reseptor sensori untuk sentuhan, suhu, getaran, dan nyeri, tersusun komponen utama epidermis yaitu protein keratin, yang dihasilkan oleh sel yang disebut keratinosit. Fungsi keratin adalah menjaga air tubuh dan untuk melindungi epidermis dari mikroorganisme dan iritan serta untuk mencegah infeksi.

2) Dermis

Merupakan lapisan kulit dibawah epidermis yang memberikan kekuatan pada dan struktur pada kulit dengan bagian terbesar dari kulit. Fungsinya untuk menyokong dan memberi nutrisi pada epidermis, proteksi terhadap injuri dan mikroorganisme, serta regulasi temperature tubuh.

3) Lapisan subkutis

Letak dari lapisan subkutis terletak dibawah dermis terdiri dari lemak dan jaringan ikat yang berfungsi untuk memberikan bantalan antara lapisan kulit dan struktur internal otot dan tulang dan sebagai peredam kejut dan isolator panas.

4) Rambut

Pembentukan rambut dibentuk oleh proses diferensiasi, sel-sel epidermis tertentu dapat membentuk folikel-folikel rambut, kemudian suatu epitel akan terbentuk dan akan keluar rambut melalui saluran epitel dan akan keluar kepermukaan tubuh.

5) Kuku

Dibentuk oleh sel-sel epidermis matriks kuku yang merupakan lempeng keratin mati.

2.2.3 Fungsi kulit

Menurut Saferi (2014).Kulit mempunyai 6 fungsi utama yaitu:

1) Proteksi

Fungsi kulit sebagai pelindung dari mikroorganisme, pelindung terhadap infeksi serta sebagai pelindung dari kehilangan cairan tubuh.

2) Sensasi

Untuk merasakan sentuhan, panas, tekanan dan dingin karena terdapat saraf-saraf diujung kulit.

3) Sistensi vitamin D

Kulit yang terpapar sinar matahari akan membantu produksi vitamin D yang berfungsi untuk absopsi kalsium dan fosfor dalam sistem pencernaan.

4) Gambaran Tubuh

Sebagai penampilan dan untuk mempermudah dalam identifikasi seseorang.

5) Imunitas tubuh

Didalam kulit mengandung sel memiliki peran yang penting dalam imunitas tubuh, disebut juga dengan sel langerhan dan sel dendritik dermal.

6) Termoregulasi

Berfungsi sebagai meregulasi temperature tubuh melalui vasokontriksi, vasodilatasi, berkeringat, ekskresi air dan elektrolit

2.2.4 Definisi Gangguan Integritas kulit

Gangguan integritas kulit adalah kerusakan mukosa kulit dan jaringan integument (Jennifer, 2010). Dimana penderita mengalami gangguan epidermis pada lapisan kulit disebabkan oleh metabolic Diabetes, sehingga dapat memunculkan luka (Hermand, 2013). Luka yang disebabkan oleh Diabetes Melitus meliputi Dermopati Diabetes, diabetik foot atau luka pada kaki yang dipengarui oleh neuropati, vaskulopati (iskemia) dan imunopati, Lokasi luka biasanya muncul dikaki dan jari tengah, berisi cairan dan tidak edema. Apabila luka tersebut tidak dilakukan penanganan yang serius akan mengakibatkan Gangguan integritas kulit, Gangguan integritas kulit pada penderira Diabetes melitus terjadi karena adanya gangguan sirkulasi, gangguan neuropati perifer, deformitas kaki, imobilisasi dan juga trauma (Harahap, 2012).

2.2.5 Klasifikasi Gangguan integritas kulit

Menurut Tjokronegoro (2013) berdasarkan penyebab luka yaitu :

1) Luka mekanik terdiri atas :

a) Valnus scussum atau luka sayat benda tajam pinggiran luka kelihatan rapi

b) Vulnus contusum luka memar dikarenakan cedera pada bagian bawah kulit akibat benturan benda tumpul.

c) Vulnus kaceratum, luka robek akibat terkena mesin atau benda lainya yang menyebabkan robeknya jaringan rusak yang dalam.

d) Vulnus punctum, luka tusuk yang kecil dibagian luar bagian muka, mulut, akan tetapi besar dibagian dalamnya.

e) Vulnus seloferadum, luka tembak akibat tembakan peluru bagian tepi luka tampak kehitam-hitaman.

f) Vulnus abrasion, luka terkikis yang terjadi pada bagian luka dan tidak sampai pembuluh darah.

2.2.6 Jenis dan tipe luka

Luka terbagi menjadi beberapa macam yaitu :

1) Berdasarkan kedalaman dan luas luka

a) Stadium 1 luka superficial, yaitu luka yang terjadi pada lapisan epidermis kulit

b) Stadium 2 luka partial thickness, yaitu hilangnya lapisan kulit pada epidermis dan bagian atas dari dermis.

c) Stadium 3 luka full thickness, yaitu hilangnya kulit keseluruhan meliputi kerusakan dan nekrosis pada jaringan subkutan yang dapat meluas sampai bawah tetapi tidak melewati jaringan yang mendasari.

d) Stadium 4 luka full thickness yang telah mencapai lapisan otot tendon dan tulang dengan adanya destruksi/Gangguan yang luas (Ali maghfuri,2016).

2.1 Gambar stadium luka

(Ali maghfuri,2016)

2) Berdasarkan waktu penyembuhan

a) Luka akut, luka yang penyembuhanya sesuai dengan konsep penyembuhan yang telah disepakati.

b) Luka kronis, luka yang mengalami kegagalan dalam proses penyembuhan, dapat dikarenakan faktor eksogen dan endogen. (Mutaqin& sari, 2013)

2.2 Gambar jenis luka

(Mutaqin& sari, 2013)

2.2.7 Jenis luka Diabetes Melitus

1. Ulkus

Terjadinya ulkus diabetik disebabkan oleh tingginya glukosa dalam darah dan tidak cukupnya sediaan insulin yang dihasilkan tubuh, sehingga glukosa tidak dapat dikirim ke sel tubuh (Damayanti & Kurniawan, 2014).

2. Bula Diabetik

Bula Diabetik atau Bulosis Diabetikum adalah bula yang muncul secara spontan diarea extremitas bawah tidak ada riwayat trauma atau infeksi terjadi secara akut penyebabnya dikareana kulit yang rapuh pada penderita Diabetes Melitus (Damayanti & Kurniawan, 2014).

3. Gangrene

Adalah kondisi bagian tubuh yang mati karena tidak mendapatkan pasokan darah dan nutrisi yang cukup dan adanya infeksi pada area luka (Ali maghfuri,2016).

2.2.8 Derajat/ Grade luka Diabetes Melitus

a. Derajat 0 : Tidak ada lesi yang terbuka, Bisa terdapat deformitas atau selulitis (dengan kata lain: kulit utuh, tetapi ada kelainan bentuk kaki akibat neuropati).

b. Derajat 1: luka superficial terbatas pada kulit.

c. Derajat 2: luka dalam sampai menembus tendon, atau tulang

d. Derajat 3: luka dalam dengan abses, osteomielitis atau sepsis persendian

e. Derajat 4: Gangren setempat, di telapak kaki atau tumit ( dengan kata lain : gangren jari kaki atau tanpa selulitis)

f. Derajat 5: Gangren pada seluruh kaki atau sebagian tungkai bawah. (Mutaqin& sari, 2013)

2.3 Asuhan keperawatan

2.3.1 Pengkajian

Pengumpulan data antara lain meliputi :

1) Biodata

Informasi yang harus ditanyakan meliputi (nama, tempat tanggal lahir, umur, jenis kelamin, alamat, agama suku, pendidikan, pekerjaan, status, tanggal masuk, tanggal pengkajian, diagnosa medis (Purwaningsih, 2012).

2) Riwayat kesehatan

a) Keluhan utama

Keluhan yang dirasakan klien saat pengkajian pertama kalinya klien mengalami nyeri, perdarahan, kemerahan, dan hematoma dengan di Diaknosa Diabetes Melitus serta adanya luka yang lama sembuh sampai membusuk dan berbau (Susilowati, 2014).

b) Riwayat kesehatan sekarang

Data yang berisi tentang kapan terjadinya luka, penyebab terjadinya dan apa saja upaya yang dilakukan oleh penderita untuk mengatasinya (Purwaningsih, 2012).

c) Riwayat penyakit dahulu

Berisi tentang riwayat penyakit Diabetes Melitus atau penyakit-penyakit lainya seperti penyakit pankreas (Kasron, 2012).

d) Riwayat kesehatan keluarga

Adanya anggota keluarga yang mempunyai riwayat penyakit Diabetes Melitus karena Diabetes melitus merupakan penyakit yang dapat diturunkan (Kasron, 2012).

e) Riwayat psikososial

Berisi tentang riwayat adanya pasien stres fisik maupun emosional karena dengan adanya stres dapat mempengaruhi peningkatan hormon stres seperti kortisol, epinefrin, glukagon yang menyebabkan kadar gula darah meningkat (Purwaningsih, 2012).

f) Pola aktifitas dan latihan

Berisi tentang gambaran aktifitas sehari-hari seperti fungsi pernafasan dan sirkulasi, pada pasien Diabetes Melitus yang mengalami luka pada kaki atau tungkai bawah penderita akan tidak mampu melakukan aktifitas sehari-hari secara normal dan penderita akan merasakan mudah lelah (Purwaningsih, 2012).

g) Status kesehatan umum

Berisi tentang keadaan penderita, kesadaran, tanda-tanda vital, gula darah jika didapatkan hipoglikemia gejala yang muncul pasien akan mengalami takikardi, palpitasi, namun jika sebaliknya pasien mengalami hiperglikemia pasien akan mengalami neuropati diabetikum, dan harus dilihat dari bentuk badan karena penderita Diabetes Melitus cenderung mengalami penurunan berat badan (Kasron, 2012).

h) Pola metabolic nutrisi

Pada penderita Diabetes Melitus cenderung mengalami peningkatan nafsu makan tetapi berat badan akan semakin turun, karena glukosa didalam darah tidak bisa dihantar oleh insulin ke sel-sel tubuh sehingga sel mengalami penurunan massa. Pada pengkajian intake cairan terkaji sebanyak 2500-4000 cc/hari (Kasron, 2012).

i) Pola eliminasi

Berisi data tentang eliminasi dan BAB, jumlah urin yang banyak dijumpai baik volume maupun frekuensi pada frekuensi biasa lebih dari 10 x /hari dengan volume mencapai 2500-3000cc /hari. Untuk warna tidak berubah dan untuk bau terdapat unsure aroma gula (Purwaningsih, 2012).

j) Pola tidur dan istirahat

Penderita Diabetes Melitus akan mengalami perubahan pola tidur karena terjadi (poliuria) penderita akan sering kencing pada malam hari yang mengakibatkan terganggunya pola tidur dan istirahat pasien (Purwaningsih, 2012).

k) Pola konsep diri

Penurunan harga diri yang dialami penderita Diabetes Melitus dikarenakan mengalami perubahan fungsi dan struktur tubuh, lamanya perawatan, banyaknya biaya yang dikeluarkan, serta pengobatan mengakibatkan klien mengalami gangguan peran pada keluarga dan menimbulkan kecemasan (Kasron, 2012).

l) Pola nilai keyakinan

Untuk menemukan bagaimana tenaga kesehatan yang menangani kasus Diabetes Melitus dalam memberikan motivasi dan dukungan pada penderita (Susilowati, 2014).

3) Pemeriksaan fisik

a) Tanda-tanda vital

1. Tekanan darah : Penderita Diabetes akan mengalami peningkatan tekanan darah karena adanya gangguan penanganan insulin

2. Nadi : Kaji adanya sirkulasi yang adekuat pada klien Diabetes Melitus akan terjadi bradikardia atau takikardi.

3. Pernafasan : adanya frekuensi pernafasan yang meningkat nafas dalam atau hiperventilasi (bila terjadi gangguan asam basa/asidosis metabolic akibat penumpukan benda keton dalam tubuh ).

Suhu : pada penderita Diabetes Melitus suhu normal berkisaran 36,5-37,5 o C (Kasron, 2012).

b) Kepala dan rambut

1) Inspeksi: kaji bentuk kepala warna rambut, kebersihan, persebaran warna rambut dan adanya lesi atau tidak.

2) Palpasi: raba adanya massa dan nyeri tekan

c) Mata

1) Inspeksi: kaji reflek cahaya konjungtiva anemis atau tidak, penglihatan kabur atau tidak, dan kesimetrisan bola mata.

2) Palpasi: kaji ada tidaknya nyeri tekan (Rohman& Walid, 2011 ).

d) Hidung

1) inspeksi: kaji bentuk hidung, lubang hidung, persebaran warna kulit, kesimetrisan dan adanya pernafasan cuping hidung.

2) Palpasi: kaji ada tidaknya nyeri tekan pada sinus (Susilowati, 2014).

e) Mulut

1) Inspeksi: kaji mukosa bibir, lidah terasa tebal, gigi mudah goyah, terdapat caries dentis, ada tidaknya perdarahan pada gusi, dan apakah adanya peradangan pada tonsil.

2) Palpasi: kaji reflek menghisap dan menelan (Purwaningsih, 2012).

f) Telinga

1) Inspeksi: kaji ada tidaknya serumen, kesimetrisan dan kebersihan telinga.

2) Palpasi: ada tidaknya nyeri tekan pada tragus (Rohman& Walid, 2011).

g) Leher

1) Inspeksi: kaji persebaran kulit dan adanya benjolan.

2) Palpasi: kaji adanya pembesaran kelenjar tiroid, ada tidaknya pembesaran kelenjar linfe, dan ada tidaknya bendungan fena jugularis (Kasron, 2012).

h) Paru-paru

1) Inspeksi: persebaran warna kulit, kesimetrisan dada, warna kulit, bentuk, nyeri dada, dan pergerakan dinding dada.

2) Palpasi: kaji getaran taktil fremitus

3) Perkusi: suara pekak pada paru jika paru terisi cairan.

4) Auskultasi: adanya suara nafas tambahan (Sudart, 2012).

i) Jantung

1) Inspeksi: kaji adanya ictus kordis, detak pulmonal merupakan detak jantung yang apabila teraba pada BJ 2 maka dikataka normal.

2) Perkusi: suara jantung terdengar pekak.

3) Auskultasi: nada S1 S2 dan lub dup (Kasron, 2012).

j) Abdomen

1) Inspeksi: kaji persebaran warna kulit, ada tidaknya bekas luka dan bentuk abdomen.

2) Auskultasi: peristaltik usus, bising usus terdengar 5-30x menit.

3) Perkusi: terdengar suara timpani kaji adanya asites.

4) Palpasi: kaji ada tidaknya pembesaran hepar kaji ada tidaknya nyeri tekan (Rohman& Walid, 2011).

k) Extremitas

1) Inspeksi: kaji persebaran warna kulit, turgor kulit kembali <2 detik, akral hangat, sianosis, produksi keringat (menurun atau tidak) pada penderita Diabetes dilihat adanya luka pada extremitas, kedalaman luka, luas luka, adanya nekrosis (jaringan mati atau tidak ) adanya edema, adanya pus dan bau luka.

2) Palpasi: kaji kekuatan otot ada tidaknya piting edema (Purwaningsih, 2012).

l) Kulit dan kuku

1) Inspeksi: lihat adanya luka, warna luka, dan edema, kedalaman luka, ada tidaknya nekrosis, adanya pus atau tidak.

2) Palpasi: akral teraba dingin, kulit pecah-pecah, pucat, kulit kering, pada ulkus terbentuk kalus yang tebal atau juga bisa teraba lembek (Kasron, 2012).

2.3.2 Masalah Keperawatan

1) Diagnosa keperawatan

Gangguan Integritas Kulit berhubungan dengan neuropati perifer, suhu lingkungan yang ekstrim Gangguan Integritas Kulit ditandai dengan, perubahan pigmentasi, faktor mekanik, imobilitas, dan penurunan sensabilitas.

Batasan karakteristik

Batasan mayor:

a) Gangguan perfusi jaringan perifer

Batasan minor:

b) Kerusakan lapisan kulit

c) Luka pada extremitas

d) Hematoma

e) Kemerahan

f) Kadar gula sewaktu darah lebih dari 126 mg/dl

g) Perubahan status nutrisi

(SDKI, Subekti, 2016, 2012)

2.2.4 Rencana Asuhan Keperawatan

Tabel 2.1 Rencana keperawatan Klien Diabetes Melitus

Tujuan

Kreteria hasil

Intervensi

Rasional

Tupan:

Dapat mempertahankan integritas kulit yang baik setelah dilakukan asuhan keperawatan 3x24 jam.

Tupen : kadar gula kembali normal setelah di lakukan asuhan keperawatan selam 1x24 jam.

Menurut Tim Pokja SLKI DPP PPNI

1.Perfusi jaringan meningkat(warna luka, sensabilitas baik)

2.Perdarahan sedang

3.Kemerahan sedang

4.Hematoma menurun

5.Nekrosis menurun

6.Suhu kulit membaik

7.Sensasi meningkat

Menurut Tim Pokja SIKI DPP PPNI

Perawatan integritas kulit :1.11353

Monitor:

1.Monitor perubahan sirkulasi (dengan mengukur tanda-tanda vital)

2.Monitor perubahan status nutrisi

3.Monitor penurunan kelembapan

Terapeutik:

4.Gunakan produk berbahan petrolium atau minyak pada kulit kering

Edukasi :

5.Anjurkan mengguanakan pelembab (mis. Lotion,serum)

Perawatan luka:

1.14564

6.Monitor karakteristik luka (mis. Drainase warna, ukuran, bau)

7.Monitor tanda-tanda infeksi

8.Lepaskan balutan dan plester secara berlahan

9.Bersihkan dengan cairan NaCl atau pembersih non toksik

10.Bersihkan jaringan nekrotik

11. Berikan salep yang sesuai kekulit/lesi,jika perlu

12.Pasang balutan sesuai dengan jenis luka

13.Pertahankan tehnik steril pada saat perawatan luka

14.Ganti balutan sesuai jumlah exsudat dan drainase

15.Edukasi perawatan kulit

16.Anjurkan mika miki(bila perlu)

17.Edukasi pola

perilaku kebersihan

18.Edukasi 5 pilar DM

19.Kolaborasi dengan dokter dan ahli gizi dalam pemberian terapi dan diit

20.Pemeriksaan gula darah

1.Memastikan sirkulasi pada daerah luka normal

2.Untuk memaksimalkan penyembuhan luka

3.Mencegah terjadinya lesi

4. Mengurangi adanya kulit kering dan retak

5.Untuk melembabkan kulit dan mencegah terjadinya lesi

6.Untuk mengetahui perkembangan luka

7.Untuk mengetahui terdapat infeksi atau tidak

8.Agar mengurangi rasa nyeri dan tidak merusak jaringan granulasi

9.Untuk membersihkan luka

10.Agar mempercepat tumbuhnya jaringan baru

11.Sebagai antibiotic dan mempercepat tumbuhnya jaringan baru

12.Untuk menutup luka yang terbuka

13.Mencegah terjadinya infeksi

14.Mencegah berkembangnya bakteri

15.Mencegah terjadinya lesi pada kulit

16.Mencegah terjadinya ulkus dekubitus dan mengontrol kelembapan kulit

17.Menjaga kebersihan tubuh dan mencegah terjadinya infeksi

18.Menjaga kesetabilan kadar gula darah

19.Agar mempercepat penyembuhan luka

20.Untuk mengetahui nilai kadar gula darah

2.2.5 Implementasi Keperawatan

Adalah tindakan keperawatan dari sebuah perencanaan yang langsung diberikan kepada penderita. Tindakan keperawatan dibagi menjadi dua macam yaitu tindakan (dependen) atau disebut juga kolaborasi, tindakan kolaborasi adalah tindakan yang berdasarkan hasil keputusan bersama, yang kedua tindakan (independen) disebut juga dengan tindakan mandiri (Wartonah, 2012). Dalam penelitian ini penulis menggunakan implementasi keperawatan sebagai perencanaan yang sudah ditentukan pada klien Diabetes Melitus dengan Gangguan Integritas Kulit.

2.2.6 Evaluasi keperawatan

Evaluasi adalah sebuah tindakan keperawatan yang terahir untuk mengetahui antara intervensi hasil dari asuhan keprawatan yang telah diberikan (Nikmatur& Saiful, 2012). Dengan tujuan membandingkan dan hasil implementasi keperawatan. Pada klien Diabetes Melitus diharapkan menunjukan hasil yang semakin baik dengan ciri-ciri :

1. Perfusi jaringan meningkat(warna luka, sensabilitas baik)

2. Perdarahan sedang

3. Kemerahan sedang

4. Hematoma menurun

5. Nekrosis menurun

6. Suhu kulit membaik

7. Sensasi meningkat

(SLKI, 2018)

BAB III METODE PENELITIAN

3.1 Desain Penelitian

Studi kasus ini adalah studi untuk mengeksplorasi Asuhan Keperawatan pada Klien Diabetes Melitus dengan masalah Gangguan Integritas Kulit di Rumah Sakit Panti Waluya Sawahan Malang.

3.2 Batasan istilah

Asuhan keperawatan Diabetes Melitus pada pasien dewasa dan lansia dengan di Diagnosa Diabetes Melitus Di Ruang rawat inap Rumah Sakit Panti Waluya Malang. Pada kasus ini dibutuhkan 2 klien untuk dilakukan asuhan keperawatan dengan batasan istilah di masing-masing klien:

1) Klien dengan diagnosis medis Diabetes Melitus tanpa penurunan kesadaran

2) Kerusakan lapisan kulit( dibuktikan dengan stadium luka 1-4)

3) Kadar gula darah sewaktu <90 atau >126

4) Kadar gula darah puasa <70 atau >100

5) Kadar gula darah 2 jam post pradial >180

(Tim Pokja SDKI, Subekti, 2016, 2012).

3.3 Partisipan

Pada penelitian ini yang menjadi partisipan adalah 2 pasien Diabetes melitus dengan masalah Gangguan integritas kulit di Ruang rawat inap Rumah Sakit Panti Waluya Malang yaitu Tn. M 56 tahun dan Tn. I 39 tahun data didapatkan dari perawat atau data skunder.

3.4 Lokasi dan waktu penelitian

Pelaksanaan study kasus ini berada di Rumah Sakit Panti Waluya Malang terkusus di ruang rawat inap dewasa (Santa Anna Atas, Santa Ana Bawah, Ruang Isolasi, Placida Paviliun, Maria Paviliun) yang akan dilaksanakan pada bulan April 2020 klien pertama masuk pada tanggal 14-05-2020 di ruang Placida Paviliun dank lien kedua masuk pada tanggal 22-05-2020 di ruang Santa Anna Bawah, Masing-masing pasien diberikan Asuhan Keperawatan 3 kali 24 jam. Jika < 3 kali 24 jam pasien meninggal maka akan dibuat resume, data didapatkan dari perawat atau data skunder.

3.5 Pengumpulan Data

Pelaksanaan Asuhan keperawatan pada pasien Diabetesmelitus dengan masalah Gangguan integritas kulit di Rumah Sakit Panti Waluya Malang, pengumpulan data pasien, penulis menggunakan tehnik sebagai berikut :

1. Data Skunder

Data yang dapat digunakan untuk melengkapi hasil penilitain yang didapatkan dari list klien Diabetes Melitus dengan masalah Gangguan Integritas Kulit di RS Panti Waluya Malang. data didapatkan dari perawat atau data skunder.

3.6 Uji Keabsasan Data

Disamping integritas penulis, uji keabsahan data dilakukan dengan cara berikut ini:

1) Memperpanjang waktu pengamatan / tindakan.

2) Sumber informasi tambahan menggunakan triangulasi dari tiga sumber data utama yaitu pasien, data rekam medik dan keluarga pasien yang berkaitan dengan masalah yang diteliti.

3.7 Analisis Data

1) Pengumpulan data

Data dikumpulkan dari hasil WOD (wawancara, observasi, dokumen). Hasil ditulis dalam bentuk catatan lapangan, kemudian disalin dalam bentuk transkrip (catatan terstruktur).

2) Penyajian data

Penyajian data dapat dilakukan dengan tabel, gambar, bagan maupun teks naratif. Kerahasiaan dari pasien dijamin dengan jalan identitas pasien dibuat inisial.

3) Kesimpulan

Dari data yang disajikan, kemudian data dibahas dan dibandingkan dengan hasil-hasil penelitian terdahulu dan secara teoritis dengan perilaku kesehatan. Penarikan kesimpulan dilakukan dengan metode induksi. Data yang dikumpulkan terkait dengan data pengkajian, diagnosis, perencanaan, tindakan, dan evaluasi.

3.8 Etik Penelitian

Etik penelitian merupakan norma untuk berperilaku, menghormati privasi, harkat manusia dan hak penelitian mambatasi apa yang boleh dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan, terdiri dari :

1) Informed Consent (persetujuan menjadi klien)

Informed Consent merupakan suatu kesepakatan atau persetujuan pasien berupa lembar persetujuan, Lembar persetujuan diberikan kepada pasien 1 dan pasien2 yang akan diteliti dan memenuhi kriteria sesuai batasan istilah dan disertai judul penelitian dan manfaat penelitian.

2) Anonimity (tanpa nama)

Anonimity merupakan jaminan dan kerahasiaan untuk menjaga kerahasiaan penelitian tidak mencantumkan nama pasien namun hanya dicantumkan inisial saja.

3) Confidentiality (kerahasiaan)

Merupakan etika yang memberikan jaminan kerahasiaan hasil penelitian dari informasi yang didapat sampai masalah-masalah lainya, kerahasiaan informasi responden dijamin oleh penulis dan hanya kelompok data tertentu yang dilaporkan hasil penelitian.

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pada BAB ini penulis membahas hasil dan pembahasan tentang Asuahan Keperawatan pada Klien Diabetes Melitus dengan masalah Gangguan Integritas Kulit di Rumah Sakit Panti Waluya Malang.

4.1 Hasil4.1.2 Gambaran Lokasi pengambilan Data

Penelitian ini dilaksanakan di ruang rawat inap dewasa yaitu Placida Paviliun dan Santa Ana Bawah Rumah Sakit Panti Waluya Malang. Ruang Placida Paviliun dengan kapasitas 11 kamar, 35 tempat tidur setiap kamar terdiri dari 3 tempat tidur, masing-msing tempat tidur dilengkapi dengan bed side rail dan dapat diatur derajad sudutnya, dilengkapi 2 kamar mandi, serta tersedia pispot dan urinal, 1 almari pakaian klien, kursi yang disediakan untuk keluarga, untuk menjaga privasi klien, antara tempat tidur satu dengan yang lainnya dipisahkan oleh tirai.

Ruang Santa Anna Bawah (STAB) dengan kapasitas 8 kls III (5 kamar 15 tempat tidur). Masing-masing kamar terdiri 2 tempat tidur, yang dilengkapi dengan bedside rail dan dapat diatur derajad sudutnya, dilengkapi 1 kamar mandi dan perlengkapan kebutuhan klien seperti pispot dan urinal, almari pakaian, kursi yang disediakan untuk keluarga, untuk menjaga privasi klien, antara tempat tidur satu dengan yang lainnya dipisahkan oleh tirai.

Pengkajian klien 1 dilakukan tanggal 15 Mei 2020 di ruang Placida Paviliun di kamar nomor 107 bed 2. Pengkajian klien ke 2 di lakukan pada tanggal 23 mei 2020 di ruang Santa Ana Bawah kamar 69 bed 1 dan dijaga oleh saudaranya.

4.1.2 Karakteristik Partisipan

Tabel 4. 1 Identitas Klien

IdentitasKlien

Klien 1

Klien 2

No. RM

Nama

Umur

JenisKelamin

Alamat

Agama

Pendidikan

Pekerjaan

Status Pernikahan

Suku Bangsa

Ruang

Kamar

Tanggal MRS

Tanggal Pengkajian

Diagnosa Medis

204xxx

Tn. M

56 Tahun

Laki-Laki

Blimbing, Malang

Islam

SLTA

Pegawai Swasta

Kawin

Jawa

Placida Paviliun

107

14-05-2020/09.00

15-05-2020/14.00

Diabetes Melitus + ulkus dekubitus

204xxx

Tn. I

39 tahun

Laki-laki

Sukun Malang

Katolik

S 1

Pegawai swasta

kawin

Jawa

Santa Ana Bawah

69

22-05-2020/22.40

23-05-2020/08.40

Diabetes Melitus +Diabetic foot

Tabel 4. 2 Identitas Penanggung Jawab

Identitas

Klien 1

Klien 2

Nama

Umur

Agama

Pendidikan

Pekerjaan

Hubungan dengan klien

Ny. I

30 Tahun

Islam

SLTA

Ibu RumahTangga

Keluarga

Tn.P

40 Tahun

Katolik

SMA

Pegawai swasta

Saudara

4.1.2 Data Asuhan Keperawatan

1) Data Riwayat Klien

Tabel 4. 3 Riwayat Penyakit

Riwayat Penyakit

Klien 1

Klien 2

Keluhan Utama

Berdasarkan informasi dari perawat, didapatkan data sekunder Klien mengatakan nyeri karena luka pada area punggung

Berdasarkan informasi dari perawat, didapatkan data sekunder Klien mengatakan nyeri pada kaki, kaki bengkak dan adanya luka dikedua kaki

Riwayat Penyakit Sekarang

Berdasarkan informasi dari perawat, didapatkan data sekunder Keluarga mengatakan pada tanggal 14-05-2020 pukul 16.00 WIB klien mengeluhkan, nyeri direa punggung dikarenakan adanya luka, luka disebabkan sering tertekan pada area tulang punggung(tulang sakrum), skala nyeri 6 dan hilang timbul, kluarga mengatakan luka dipunggung klien sejak 25-04-2020, keluarga mengatakan klien sebelumnya pernah masuk rumah sakit 2 minggu yang lalu dikarenakan Diabetes Melitus

Keluarga membawa klien ke RS Panti Waluya pukul 09.15 WIB lalu masuk di ruang IGD .Saat dilakukan pemeriksaan didapatkan data kesadaran Composmentis , GCS: E 4 V 5 M 6, terdapat luka diarea punggung pada tulang sakrum dengan ukuran 10cm x 7cm, dasar luka pus, berwarna kuning kemerahan, terdapat jaringan nekrotik, luka tampak kotor, tepi luka nekrotik teraba hangat, kekuatan otot hasil TTV; TD: 111/72 mmHg, N: 129 x/menit, S: 37,3 ºC, RR:20x /menit.. pemeriksaan Gula darah dengan hasil 397 mg/dL, Kemudian dokter memberikan advice infuse Ns 500 ml 30 tpm ditangan kanan, Kemudian dokter menyarankan untuk rawat inap, karena klien membutuhkan perawatan khusus, atas persetujuan keluarga, klien dipindahkan keruang Placida Paviliun, hasil pemeriksaan kesadaran composmentis, GCS E 4 V 5 M 6, Klien tidak bisa memenuhi ADL secara mandiri (makan, oral hygiene, toileting, berpakaian, mandi), kebutuhan aktivitas klien dibantu oleh keluarga dan perawat.

Berdasarkan informasi dari perawat, didapatkan data sekunder Klien mengatakan kaki klien bengkak sudah 2-3 bulan, klien mengatakan terdapat luka dikedua kakinya sejak tanggal 18-05-2020, klien mengatakan luka disebabkan karena merendam kaki dengan air panas, klien mengatakan kakinya sering kebas dan kesemutan, klien mengatakan badanya lemas tidak bisa bangun, keluarga membawa klien ke Rumah Sakit Panti Waluya pukul 22.40 masuk memalui IGD. Saat dilakukan pemeriksaan didapatkan data kesadaran Composmentis GCS: E 4 V5 M6, badan lemas, sesak (+), extremitas atas dan bawah bengkak, terdapat luka pada extremitas bawah kanan

warna dasar luka merah dengan ukuran 8x12 cm , terdapat pus, tidak ada jaringan nekrotik, tepi luka berwarna merah, teraba hangat, luka pada extremitas kiri warna dasar luka merah dengan ukuran 10x8 cm terdapat pus, tidak ada jaringan nekrotik, tepi luka merah, luka tampak bersih, teraba hangat, kekuatan otot hasil TTV; TD: 149/92 mmHg, N: 82 x/menit, S: 36,6 ºC, RR:22x /menit,

dan dilakukan pemeriksaan GDA mendapatkan hasil: 47 mg/dL, SpO2: 94%. Dokter memberikan advice infuse D10 20 tpm, D40 2 flas langsung per IV, O2 nasal 5 lpm, kemudian dokter menyarankan pada klien untuk rawat inap, karena kondisi klien harus mendapat penanganan khusus, keluarga menyetujui lalu klien dipindahkan keruang rawat inap dewasa yaitu ruang Santa Anna Bawah, saat di ruang STAB didapatkan hasil pemeriksaan GCS E 4 V 5 M 6, badan lemas, sesak (+), semua kebutuhan ADL di bantu oleh keluarga dan perawat

Riwayat Penyakit Dahulu

Berdasarkan informasi dari perawat, didapatkan data sekunder Keluarga klien mengatakan bahwa klien memiliki riwayat Diabetes Melitus sejak tahun 2018

Berdasarkan informasi dari perawat, didapatkan data sekunder Klien mengatakan bahwa memiliki riwayat Diabetes melitus sejak 2017 + Hipertensi

Klien rutin mengkonsumsi obat:

Hipertensi: Amlodipin

DM: Glukovans, Metformin

Riwayat Penyakit Keluarga

Berdasarkan informasi dari perawat, didapatkan data sekunder Klien menjelaskan keluarga tidak memiliki riwayat penyakit Diabetes Melitus .

Berdasarkan informasi dari perawat, didapatkan data sekunder Klien mengatakan memiliki riwayat penyakit Diabetes Melitus dalam keluarga

Genogram

: :laki-laki

:perempuan

:menikah

:keturunan

:tinggalserumah

X :meninggal

:klien

:laki-laki

:perempuan

:menikah

:keturunan

:tinggalserumah

X :meninggal

:klien

Riwayat Alergi

Berdasarkan informasi dari perawat, didapatkan data sekunder Klien mengatakan tidak memiliki riwayat alergi baik terhadap makanan, minuman maupun obat.

Berdasarkan informasi dari perawat, didapatkan data sekunder klien mengatakan memiliki riwayat alergi terhadap obat jenis penicillin

2). Pola KonsepDiri

Tabel 4. 4 Persepsi Diri

PersepsiDiri

Klien 1

Klien 2

Gambaran Diri

Klien mampu menerima keadaannya saat ini, meski terdapat adanya luka pada punggungnya

Klien mengatakan menyukai semua anggota tubuhnya dan bersyukur kepada Allah atas tubuhnya.

Identitas Diri

Klien adalah suami yang masih mampu bekerja sebagai wiraswasta

Klien mengatakan berperan sebagai suami dari istrinya dan sudah tidak mampu berkerja

Peran Diri

Klien adalah suami dari istrinya yang mempunyai 3 anak

Klien adalah suami dari istrinya dan mempunyai anak 2

Ideal Diri

Klien mengatakan ingin cepat pulang dan bisa beraktivitas seperti biasa.

Klien mengatakan ingin segera sembuh dari sakit nya dan segera pulang ke rumah

Harga Diri

Klien mengatakan tidak malu dengan penyakit yang dideritanya saat ini

Klien mengatakan tidak malu dengan penyakitnya dan menganggap hal ini sudah takdir

3). Perubahan Pola Kesehatan

Tabel 4. 5 Pola Kesehatan

Pola Kesehatan

Klien 1

Klien 2

Pola Nutrisi

Di Rumah

Berdasarkan informasi dari perawat, didapatkan data sekunder Makan 2x/hari

Minum ± 1200 cc/hari

Jenis makanan sayur,tempe, tahu, nasi

Jenis minuman air putih

Keterangan: klien mengatakan menyukai semua jenis makanan, tetapi bukan makanan sembarangan (sesuai anjuran dokter).

Berdasarkan informasi dari perawat, didapatkan data sekunder Makan 2x/hari

Minum 6-8 gelas/hari

Jenis makanan sayur lauk dan nasi

Jenis minuman air putih

Keterangan: klien mengatakan suka pada semua jenis makanan

Di Rumah Sakit

Berdasarkan informasi dari perawat, didapatkan data sekunder Pada saat dilakukan pengkajian klien mendapat diet DM nasi 1900 kkl karbohidrat 50%.

Minum sari kacang hijau, jus dan air putih

Input cairan ± 1250

BB:57 kg

TB: 185 cm

IMT:BB/TB²=57/185²=

57/1,85=57/3,43=16,6

Klien dalam katagori berat badan kurang /kurus

Berdasarkan informasi dari perawat, didapatkan data sekunder

· Klien mengatakan makan 3 x dalam sehari

· Keluarga klien mengatakan klien setiap makan hanya menghabiskan makanan ¼ porsi saj

· Diit nasi DM1700 kkl rendah purin

· Jenis minuman : klien mengatakan selama di rumah sakit hanya minum air putih

BB: 105 kg

TB: 173 cm

IMT :BB/TB²=105/173²=

105/1,73=105/2,99=35,1

Klien memiliki berat badan berlebih (obesitas)

Pola Kebersihan Diri

Di Rumah

Berdasarkan informasi dari perawat, didapatkan data sekunder Klien mengatakan di rumah mandi 2x sehari menggunakan sabun mandi, keramas 2x satu minggu menggunakan shampo.

Berdasarkan informasi dari perawat, didapatkan data sekunder Mandi: 2 kali/ sehari

Gosok gigi: 2 kali/ sehari

Keramas: 2x/minggu

Gunting kuku: saat kuku panjang

Ket: pola kebersihan klien dilakukandengan bantuan keluarga

Di Rumah Sakit

Berdasarkan informasi dari perawat, didapatkan data sekunder Saat dilakukan pengkajian, keluarga mengatakan di seka 2x sehari oleh perawat dan oral hygine 2x sehari.

Berdasarkan informasi dari perawat, didapatkan data sekunder Mandi: klien mengatakan diseka 2 kali/sehari

Gosok gigi: 1 kali/ dua hari

Keramas: sampai dilakukannya pengkajian klien belum keramas. Rambut klien tampak bersih.

Gunting kuku: selama di Rumah Sakit klien belum pernah gunting kuku, kuku dalam keadaan pendek, rapi dan bersih

Ket: pemenuhan personal hygiene klien di bantu sebagian oleh keluarga dan perawat

Pola Eliminasi

Di Rumah

Berdasarkan informasi dari perawat, didapatkan data sekunder Klien mengatakan BAK frekuensi ±5-6 x/hari, warna urine kuning jernih. Klien mengatakan BAB 1 x/hari, konsistensi lembek, bau khas BAB warna kuning kecoklatan

Berdasarkan informasi dari perawat, didapatkan data sekunder

BAK

· Frekuensi : ±4x/hari

· Konsistensi : cair

· Jumlah : ±900 cc/hari

· Bau : khas urine

· Warna : kuning jernih

BAB

· Frekuensi : 1x/hari

· Konsistensi : lembek

· Jumlah : -

· Bau : khas feses

· Warna : kuning kecoklatan

Di RumahSakit

Berdasarkan informasi dari perawat, didapatkan data sekunder

BAK

· Frekuensi : ±3-5x

· Konsistensi : cair

· Jumlah : ±1000cc

· Bau : khas urine

· Warna : kuning keruh

BAB

· Frekuensi : 1x

· Konsistensi : lembek

· Bau : khas feses

Warna : kuning kecoklatan

Berdasarkan informasi dari perawat, didapatkan data sekunder

· Klien mengatakan BAK sehari ±4-7x/ hari

· Jumlah : 1400 cc

· Konsistensi cair, berwarna kuning agak keruh, bau khas urine

· Saat dilakukan pengkajian, klien mengatakan belum BAB sejak masuk rumah sakit.

Klien tidak menggunakan kateter urin dan menggunakan pempers karena ADL dibantu oleh keluarga dan perawat

Pola Aktivitas

Di Rumah

Berdasarkan informasi dari perawat, didapatkan data sekunder Klien berperan sebagai seorang suami dari istri dan ketiga anaknya tinggal bersama istri dan anak terahir , kegiatan sehari-hari di rumah di lakukan dengan bantuan keluarga (istri, dan anak)

Berdasarkan informasi dari perawat, didapatkan data sekunder Klien berperan sebagai seorang suami dari istri dan kedua anaknya tinggal bersama istri dan anaknya, kegiatan sehari-hari di rumah di lakukan dengan bantuan keluarga (istri, dan anak)

Di RumahSakit

Berdasarkan informasi dari perawat, didapatkan data sekunder Klien bedrest aktivitas dilakukan di tempat tidur ADL dibantu oleh keuarga

Berdasarkan informasi dari perawat, didapatkan data sekunder Saat dilakukan pengkajian, Klien mengatakan tidak mampu melakukan aktivitas karena sesak nafas, dan juga lemas dan untuk kebutuhan ADL dibantu oleh keluarga dan perawat

Pola IstirahatTidur

Di Rumah

Berdasarkan informasi dari perawat, didapatkan data sekunder Klien mengatakan tidur selama 7 jam mulaidari jam 22.00 WIB sampai jam 05.00 WIB klienmengatakantidursiang 2 jam dari jam 13.00 WIB sampai jam 15.00 WIB

Berdasarkan informasi dari perawat, didapatkan data sekunder Tidur siang: tidak pernah

Tidur malam: ± 7 jam, klien biasa tidur jam 21.00 dan bangun jam 04.00

Keterangan: klien mengatakan tidak pernah tidur siang

Di Rumah Sakit

Berdasarkan informasi dari perawat, didapatkan data sekunder Klien tidur malam 9 jam, mulai jam 20.00 WIB sampai jam 05.00 WIB tidursiang ±1 jam mulaidari jam 12.00 WIB kemudian tidur siang mulai jam 14.00 sampai jam 15.00 WIB

T Berdasarkan informasi dari perawat, didapatkan data sekunder tidur siang : tidak tidur siang

Tidur malam: 22.00-04.00

Ket : klien mengatakan ia tidak bisa tidur malam karena sedikit sesak

4). PemeriksaanFisik

Tabel 4. 6 Pemeriksaan Fisik

Observasi

Klien 1

Klien 2

Berdasarkan informasi dari perawat, didapatkan data sekunder

Kesadaran Umum

Kesadaran

GCS

TD

Nadi

Suhu

Respirasi

Spo2

Cukup

Composmentis

E 4 V 5 M 6

110/80 mmHg

100 x/menit

36,8 0C

20x/menit

98%

Cukup

Composmentis

E 4 V 5 M 6

130/80 mmHg

80 x/menit

36,3 0C

20x/menit

97%

Pemeriksaan Kepala

Berdasarkan informasi dari perawat, didapatkan data sekunder Inspeksi: bentuk kepala chepal rambut tampak bersih, warna rambut hitam ada uban ,persebaran warna rambut dan pertumbuhan rambut merata, kulit kepala tampak bersih, tidakada massa atau lesi

Palpasi: tidak terdapat nyeri tekan, tidak teraba massa, tidak terdapat

Berdasarkan informasi dari perawat, didapatkan data sekunder Inspeksi: bentuk kepala normal chepal rambut tampak bersih, warna rambut hitam, persebaran warna rambut dan pertumbuhan rambut merata, kulit kepala tampak bersih, tidakada massa atau lesi

Palpasi: tidak terdapat nyeri tekan, tidak teraba massa.

Pemeriksaan Mata

Berdasarkan informasi dari perawat, didapatkan data sekunder

Inspeksi

Alis : persebaran merata, simetris kanan-kiri

Mata : simetris antara kiri dan kanan

Bola mata : bulat dapat bergerak kesegara arah

Sklera : putih susu tidak ikterik

Konjungtiva : merah muda

Refleks cahaya : +/+

Palpasi : teraba kenyal pada kedua bola mata.

Berdasarkan informasi dari perawat, didapatkan data sekunder

Inspeksi

Alis : Alis sebelah kiri dan kanan simetris, persebaran alis merata dan berwarna putih.

Mata : simetris antara kiri dan kanan, terdapat kantung mata atau lingkaran hitam pada mata klien

Bola mata :dapat bergerak ke delapan arah namun lambat, bulat

Sklera : berwarna putih susu dan tidak ikterik

Pupil : isokor

Konjungtiva : Anemis

Refleks cahaya : +/+

· Palpasi

Mata : Teraba kenyal dan tidak terdapat nyeri tekan pada kedua kelopak mata.

Pemeriksaan Hidung

Berdasarkan informasi dari perawat, didapatkan data sekunder

Inspeksi

Lubang hidung: bentuk simetris, lubang hidung bersih, Hidung : Palpasi: tidak terdapat nyeri tekan tidak ada massa

Berdasarkan informasi dari perawat, didapatkan data sekunder

Inspeksi

Lubang hidung: bentuk simetris, lubang hidung bersih, Hidung : terpasang masker nasal kanul 3 lpm Palpasi: tidak terdapat nyeri tekan

Pemeriksaan Telinga

Berdasarkan informasi dari perawat, didapatkan data sekunder

Inspeksi

Daun telinga : simetris, tidak ada lesi

Lubang telinga : terdapat sedikit serumen, gendang telinga utuh

Palpasi :

Telinga : Tidak terdapat nyeri tekan

Berdasarkan informasi dari perawat, didapatkan data sekunder

Inspeksi :

Daun telinga : simetris, tidak ada lessi disekitar telinga, letak aurikel sejajar dengan mata

Kondisi lubang teling : terdapat sedikit serumen pada kedua telinga

Palpasi :

Telinga : Tidak terdapat nyeri tekan

Pemeriksaan Mulut

Berdasarkan informasi dari perawat, didapatkan data sekunder

Inspeksi

Bibir :mukosa bibir lembab

Gigi :gigi masih utuh, gigi tampak bersih, tidak ada caries gigi

Gusi :berwarna merah muda

Lidah :berwarna merah muda

Uvula :tepat berada ditengah

Tonsil :Tidak ada pembesaran tonsil

Berdasarkan informasi dari perawat, didapatkan data sekunder

Inspeksi

Bibir :mukosa bibir lembab

Gigi : gigi masih utuh, gigi tampak bersih, tidak ada caries gigi

Gusi : berwarna merah muda

Lidah :berwarna merah muda

Uvula : tepat berada ditengah

Tonsil : Tidak ada pembesaran tonsil

Pemeriksaan Leher

Berdasarkan informasi dari perawat, didapatkan data sekunder

Inspeksi:

Kondisi kulit bersih persebaran merata tidak ada lesi.

Palpasi:Tidak ada pembesaran pada kelenjar tyroid dan kelenjar limfe, trakea tepat ditengah, tidak ada massa atau luka.

Berdasarkan informasi dari perawat, didapatkan data sekunder

Inspeksi

Kondisi kulit: persebaran warna pada kulit merata, tidak ada massa

Palpasi

Kelenjar thyroid: tidak ada perbesaran pada kelenjar thyroid dan nyeri tekan

Vena jugularis: tidak terdapat pembengkakan vena jugularis

Trakea : tepat berada ditengah, tidak ada deviasi trakea

Kelenjar limfe : tidak ada nyeri tekan

Pemeriksaan Thorax

Berdasarkan informasi dari perawat, didapatkan data sekunder

Pemeriksaan paru

Inspeksi:

Bentuk dada normal chest, pergerakan dinding dada simetris, persebaran warna kulit merata.

Palpasi:

Saat dilakukan pemeriksaan taktil fremitus teraba getaran suara yang sama diseluruh lapang paru, tidak terdapat krepitasi tulang, tidak ada massa.

Perkusi:

Pada ICS 3-5 sebelah kiri sternum terdengar pekak

Auskultasi:

Tidak terdengar bunyi nafas tambahan.

Wheezing Ronchi

- -

- -

- -

- -

- -

Pemeriksaan jantung

Inspeksi:

Ictus tampak pada ICS 5 midclavicula line sinistra, persebaran warna kulit merata, tidak ada lesi.

Palpasi:

Teraba ictus cordis pada ICS 5 midclavicula sinistra.

Perkusi:

Terdengar pekak (ICS 3-5 sebelah kiri sternum).

Auskultasi:

Tidak terdengar bunyi jantung tambahan.

Berdasarkan informasi dari perawat, didapatkan data sekunder

Pemeriksaan paru

Inspeksi:

Bentuk dada normal chest, pergerakan dinding dada simetris, persebaran warna kulit merata.

Palpasi:

Saat dilakukan pemeriksaan taktil fremitus teraba getaran suara yang sama diseluruh lapang paru, tidak terdapat krepitasi tulang, tidak ada massa.

Perkusi:

Pada ICS 3-5 sebelah kiri sternum terdengar pekak

Auskultasi:

Tidak terdengar bunyi nafas tambahan.

Wheezing Ronchi

- -

- -

- -

- -

- -

Pemeriksaan jantung

Inspeksi:

Ictus tampak pada ICS 5 midclavicula line sinistra, persebaran warna kulit merata, tidak ada lesi.

Palpasi:

Teraba ictus cordis pada ICS 5 midclavicula sinistra.

Perkusi:

Terdengar pekak (ICS 3-5 sebelah kiri sternum).

Auskultasi:

Tidak terdengar bunyi jantung tambahan.

Pemeriksaan punggung

Berdasarkan informasi dari perawat, didapatkan data sekunder

Inspeksi : persebaran warna kulit merata terdapat luka dengan ukuran 10cm x 7cm, dasar luka pus dan terdapat jaringan nekrotik

- Berdasarkan informasi dari perawat, didapatkan data sekunder

Inspeksi : persebaran warna kulit merata tidak terdapat lesi atau massa

Pemeriksaan Abdomen

Berdasarkan informasi dari perawat, didapatkan data sekunder

Inspeksi:

Persebaran warna kulit merata, tidak terdapat massa atau lesi,, umbilicus terletak tepat di tengah.

Auskultasi:

Bunyi peristaltic usus 10 x/menit.

Perkusi:

Terdengar timpani disemua lapang abdomen

Palpasi:

Tidak ada pembesaran hepar tidak ada nyeri tekan pada abdomen

Berdasarkan informasi dari perawat, didapatkan data sekunder

Inspeksi

Persebaran warna kulit merata, tidak terdapat lessi

Auskultasi :

Bising usus terdengar 15 x/menit

Perkusi :Pada saat dilakukan perkusi bunyi timpani terdengar pada area yang berisi usus, sedangkan bunyi pekak terdengar pada area hepar dan pankreas.

Palpasi

Tidak terdapat nyeri tekan pada keempat kuadran abdomen klien belum BAB.

Pemeriksaan Genetalia

· Berdasarkan informasi dari perawat, didapatkan data sekunder

· Inspeksi:

Keadaan genetalia bersih, tidak ada lessi dan edema

· Berdasarkan informasi dari perawat, didapatkan data sekunder

· Inspeksi:

Keadaan genetalia bersih, tidak ada lessi dan edema

Pemeriksaan Ekstremitas

Berdasarkan informasi dari perawat, didapatkan data sekunder

Ekstermitasatas

· Inspeksi

Tidak ada edema, persebaran warna kulit merata, tidak tampak bekas luka, tidak tampak adanya lesi

Mobilisasi : mika miki

· Kekuatan otot :

5 5

5 5

Berdasarkan informasi dari perawat, didapatkan data sekunder

Ekstermitasatas

· Inspeksi

Terdapat edema di extremitas atas dan bawah, persebaran warna kulit merata tidak ada kehitaman, terdapat luka.

Mobilisasi : mika miki

· Kekuatan otot :

5 5

4 4

Terdapat luka pada extremitas bawah kanan warna dasar luka merah dengan ukuran 8x12 cm dan terdapat pus, dan luka pada extremitas kiri warna dasar luka merah dengan ukuran 10x8 cm terdapat pus,

Pemeriksaan Kulit dan Kuku

Berdasarkan informasi dari perawat, didapatkan data sekunder

Inspeksi: warna kulit sawo matang, persebaran merata, terdapat luka pada area punggung , kuku sedikit panjang belum gunting kuku

Palpasi:Kondisi kulit kering, akral teraba hangat, kulit lembab, turgor kulit kembali< 2 detik, CRT kembali< 2 detik

Berdasarkan informasi dari perawat, didapatkan data sekunder

Inspeksi: warna kulit kuning sawo matang, persebaran merata, adanya edema di bagian extremitas atas bawah,terdapat luka pada kedua extremitas, kuku bersih dan pendek

Palpasi: kondisi kulit lembab, akral teraba hangat, kulit lembab, turgor kulit kembali> 2 detik, CRT kembali> 2 detik

5). Pemeriksaan Penunjang

Tabel 4. 7 Pemeriksaan Penunjang Klien 1

Tanggal

JenisPemeriksaan

Hasil

Nilai Normal

14-05-2020;

Hemoglobin

PCV

Lekosit

Trombosit

LED 1Jam

Eritrosit

MCV

MCH

MCHC

Hitung jenis

Eosinifil

Basofil

Batang

Segmen

Limfosit

Monosit

URINE

MAKROSKOPIK

Warna

Kekeruhan

CLEMIC ANALYSER MEDITRON

Bj

Ph

Lekosit (esterase)

Nitrit

Protein

Glukosa 2jam pp

Keton

Urobilinogen

Bilirubin

Eritrosit/Hb

GDA

11,8

35,8

14.200

189.000

25

4,41

81,2

26,8

33,0

1

0

0

73

5

21

Kuning

Keruh

1,015

6,0

4+(500)

Neg

1+(25)

+(1000)

Neg

2+(4)

Neg

3+(50)

397

g/%

%

Sel/uL

Sel/uL

Mm/1jam

Juta/uL

Fl

Pg

g/dl

%

%

%

%

%

%

uL

mg/dL

mg/dL

mg/dL

mg/dL

mg/dL

mg/dL

mg/dL

L13,5-17,7 P:11,4-15,1

L:40-54 P: 37-47

4000-10.500

140.000-440.000

L:0-15 P:0-20

L:4,5-6,5 P:3,8-5,8

80-97

26,5-33,5

31,5-35,0

1-5

0-1

3-5

50-70

15-40

2-8

1.001-1035

4,7-8,0

NEGATIP

NEGATIP

NEGATIP

NEGATIP

NEGATIP

NEGATIP

NEGATIP

NEGATIP

Tabel 4. 8 Pemeriksaa Penunjang Klien 2

Tanggal

JenisPemeriksaan

Hasil

Nilai Normal

23-05-2020

HGB

MCV

MCH

MCHC

RDW-SD

RDW-CV

NRBC%

NRBC#

WBC

EO%

BASO%

NEUT%

LYMPH%

MONO%

EO#

BASO#

NEUT#

LYMPH#

MONO#

IG%

IG%

PLT

PDW

MPV

P-LCR

PCT

RET#

RET%

IRF

LFR

MFR

HFR

RET-He

Neutrophilia

Lymphopenia

Monocytosis

Leucytosis

IG Present

Creatinin Cleareance

Albumin

Gula darah sewaktu

8,6

71,2

25,8

36,3

39,9

15

21,86

0,0

0,1

92,2

1,6

6,1

0,00

0,02

20,16

0,35

1,33

0,7

0,16

318

10,2

10,2

26,4

0,33

L 8,7

L 2,07

42

g/dL

fL

pg

g/dL

fL

%

%

10^3/µL

10^3/µL

%

%

%

%

%

10^3/µL

10^3/µL

10^3/µL

10^3/µL

10^3/µL

%

10^3/µL

10^3/µL

fL

fL

%

%

10^3/µL

%

%

%

%

%

pg

Ml/mnt/1,7m^2

g/dL

mg/dL

14,0-17,5

80.0-97.0

25.6-33.5

31,5-35.0

35-47

11.5-14.5

4,4-11,3

2-4

0-1

50-70

25-40

2-8

<0,5

<003

150-450

10-18

6,6-11

15,0-25,0

0,150-0,400

3-116

0,77-2,22

2,8-13,4

89,9-98,6

2,7-11,9

0,1-1,6

31,5-37,7

Anemia

90,0-130,0

3,5-5,2

<200

Tabel 4.9 Terapi Obat Pasien 1

Nama Obat

Dosis

Waktu

Pemberian

Fungsi Obat

Humolog

10-0-8 unit

2x/hari

SC

Obat insulin untuk membantu mengontrol gula dalam darah

Levemir

10 unit

1 x /hari

SC

Obat insulin untuk membantu mengontrol gula dalam darah

Eritromizin

1 gr

3x1

Per oral

Obat digunakan untuk mengatasi infeksi bakteri dan antibiotik

NS

500 ml

1 flas/5,5

jam

Intravena

Pengganti cairan tubuh akibat dehidrasi

Tabel 4.8 Terapi Obat Pasien 2

Nama Obat

Dosis

Waktu

Pemberian

Fungsi Obat

Kalmethasone

0,5 mg

2x/hari

PO

Obat yang digunakan untuk mengatasi peradangan, meredakan pembengkakan dan sebagai mengatasi edema

Amlodipine

10 mg

1 x /hari

PO

Obat digunakan untuk menurunkan tekana darah

Furosemide

40mg

3x2 amp

Intravena

Obat digunakan untuk mengeluarkan kelebihan cairan dari dalam tubuh memalui urine

Ondansetron

8 mg

3 x 4 mg

Intravena

Obat yang digunakan untuk mengobati mual muntah

Metronidazole

500mg

3x30mg

Intravena

Obat yang digunakan sebagai antibiotic menangani infeksi akibat bakteri atau parasit

D 10

500 ml

1 fash/12 jam

Intravena

Obat yang digunakan untuk menangani kekurangan glukosa

6). Analisa Data

Tabel 4.10 Analisa Data

Tgl

Analisa Data

Etiologi

Masalah

Klien 1

15 Mei

2020

DS:

· Klien mengatakan terdapat luka diarea punggung

· Klien mengatakan luka sejak tiga minggu terahir

· Klien mengatakan luka karena adanya tekanan pada tonjolan tulang belakang

· Klien mengatakan mempunyai riwayat Diabetes Melitus sejak 2 tahun

· Klien mengatakan nyeri diarea punggung , skala 6, hilang timbul

DO :

· Klien berbaring ditempat tidur

· Tampak luka diarea punggung pada tulang sakrum dengan ukuran 10cm x 7cm, dasar luka pus, berwarna kuning kemerahan, terdapat jaringan nekrotik, luka tampak kotor, tepi luka nekrotik teraba hangat

· GDA: 397 mg/dL

TTV

TD : 110/70 mmHg

S : 37.2C

N: 125x/menitRR : 20x/menit

SpO2: 98%

DM tipe II

Defisiensi insulin

Penurunan glukosa oleh sel

Hiperglikemi

Glykosuria

Mikrovaskuler

Penyempitan pembuluh darah

Gangguan sirkulasi

Suplai darah &O2 kejaringan menurun

Terjadi ulkus

Gangguan Integritas Kulit

Gangguan Integritas Kulit

Kien 2

Tgl

Analisa Data

Etiologi

Masalah

23 Mei 2020

DS:

· Klien mengatakan kakinya bengkak sudah 2-3 bulan

· Klien mengatakan kakinya sering kebas(sensasi menurun) dan kesemutan

· Klien mengatakan terdapat luka pada kedua kakinya

· Klien mengatakan luka sejak 4 hari terahir

· Klien mengatakan luka pada kaki disebebkan saat merendam kaki dengan air panas karena kebas

· Klien mengatakan mempunyai riwayat Diabetes Melitus sejak tahun 2017

DO:

· Klien berbaring ditempat tidur

· Tampak adanya luka diarea kaki kanan dengan warna dasar luka merah dengan ukuran 8x12 cm , terdapat pus, tidak ada jaringan nekrotik, tepi luka berwarna merah, teraba hangat

- luka pada extremitas kiri warna dasar luka merah dengan ukuran 10x8 cm terdapat pus, tidak ada jaringan nekrotik, tepi luka merah, luka tampak bersih, teraba hangat

· GDA : 42 mg/dL

TTV

TD : 149/92 mmHg

S : 36.6C

N:82x/menitRR : 22x/menit

SpO2 : 94%

Penyempitan pembuluh darah

Gangguan sirkulasi

Suplay darah & oksigen ke jaringan perifer menurun

Jaringan terjauh tubuh

Terjadi luka

Gangguan Integritas kulit

Gangguan Integritas Kulit

7). Diagnosa Keperawatan

Tabel 4. 11 Diagnosa Keperawatan

Tanggal

DiagnosaKeperawatan

Klien 1

15-05-2020

Gangguan Integritas Kulit berhubungan dengan Faktor Mekanis(penekanan pada tonjolan tulang ) ditandai dengan adanya luka diarea punggung

Klien 2

23-05-2020

Gangguan Integritas Kulit berhubungan dengan suhu lingkungan yang ekst