of 202/202
2012 PEDOMAN PELAKSANAAN KEGIATAN DAN ANGGARAN PENYULUHAN DAN PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA PERTANIAN BADAN PENYULUHAN DAN PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA PERTANIAN KEMENTERIAN PERTANIAN

1. pedum-bpsdmp2012

  • View
    291

  • Download
    1

Embed Size (px)

Text of 1. pedum-bpsdmp2012

2012

PEDOMAN PELAKSANAAN

KEGIATAN DAN ANGGARAN PENYULUHAN DAN PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA PERTANIAN

BADAN PENYULUHAN DAN PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA PERTANIAN KEMENTERIAN PERTANIAN

KATA PENGANTAR

Mengacu pada visi dan misi pembangunan pertanian, Rencana Strategis Kementerian Pertanian tahun 2010-2014 dan Renstra Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian, maka Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian beserta Satuan Kerja Perangkat Daerah lingkup pertanian mengemban tugas untuk menyelesaikan program dan kegiatan tahun 2012. Pelaksanaan program pengembangan sumber daya manusia pertanian dan kelembagaan petani tahun 2012 dimaksud, beserta berbagai kegiatan untuk pemberdayaan dan peningkatan kapasitas petani, diharapkan dapat berjalan secara efektif dengan mengikutsertakan berbagai pihak, termasuk partisipasi masyarakat. Sehubungan dengan itu, maka diterbitkan Pedoman Pelaksanaan Kegiatan dan Anggaran Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian Tahun Anggaran 2012. Pedoman yang merupakan lampiran dari keputusan Kepala Badan PPSDMP ini merupakan acuan bagi seluruh Satuan Kerja lingkup Badan PPSDMP dalam pelaksanaan Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) tahun 2012. Dalam hal terjadi perubahan kebijakan dalam pelaksanaan kegiatan penyuluhan dan pengembangan sumber daya manusia pertanian, maka pedoman ini akan di revisi sesuai keperluan. Akhirnya kami sampaikan penghargaan dan ucapan terima kasih kepada semua pihak yang berpartisipasi aktif dalam pelaksanaan kegiatan dan anggaran penyuluhan dan pengembangan sumber daya manusia pertanian

Jakarta, 30 Desember 2011 Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian,

Dr.Ir. Ato Suprapto, MS

i

LAMPIRAN

PERATURAN KEPALA BADAN PENYULUHAN PENGEMBANGAN SUMBERDAYA MANUSIA PERTANIAN NOMOR : ....../PER/SM.030/J/12/11 TANGGAL : .... Desember 2011

DAN

PEDOMAN PELAKSANAAN KEGIATAN DAN ANGGARAN PENYULUHAN DAN PENGEMBANGAN SUMBERDAYA MANUSIA PERTANIAN TAHUN 2012 I.1.Latar BelakangRencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) tahap ke 2 (2010-2014), sektor pertanian tetap memegang peranan penting dan strategis dalam perekonomian nasional. Peran strategis sektor pertanian tersebut tercermin pada kontribusi yang nyata terhadap pembentukan kapital, penyediaan pangan, penyedia bahan baku industri, pakan dan bio energi, penyerap tenaga kerja, sumber devisa negara dan pendapatan, peningkatan pendapatan petani dan pelestarian lingkungan. Dalam rangka mempertahankan dan meningkatkan peran sektor pertanian tersebut, Kementerian Pertanian telah menetapkan target empat sukses pembangunan pertanian yaitu 1) pencapaian swasembada dan swasembada berkelanjutan, 2) peningkatan diversifikasi pangan, 3) peningkatan nilai tambah dan daya saing eksport,dan 4) peningkatan kesejahteraan petani. Untuk mewujudkan empat sukses pembangunan pertanian, diperlukan dukungan sumberdaya manusia pertanian yang profesional, kreatif, inovatif, dan berwawasan global. Kegiatan Badan PPSDMP yang meliputi pemantapan sistem penyuluhan pertanian, pemantapan sistem pelatihan pertanian dan revitalisasi sistem pendidikan pertanian, standardisasi dan sertifikasi profesi sumberdaya manusia pertanian, ditujukan untuk: 1) memperkuat kelembagaan petani, 2) memberdayakan usaha petani, dan 3) mewujudkan pelaku utama pembangunan pertanian yang mandiri, berjiwa wirausaha, berdaya saing, dan berwawasan global, sehingga mampu bersaing di pasar regional dan internasional. Berdasarkan Peraturan Menteri Pertanian RI Nomor: 61/Permentan/OT.140/10/2010 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Pertanian, Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (yang selanjutnya disebut Badan PPSDMP) mempunyai tugas melaksanakan pengembangan sumberdaya manusia (SDM) pertanian, dan menjalankan fungsi : 1) Penyusunan Kebijakan teknis, rencana dan program kebijakan di bidang pengembangan penyuluhan, pendidikan dan pelatihan, standarisasi dan sertifikasi SDM pertanian; 2) Pelaksanaan penyusunan, pendidikan, pelatihan, standarisasi dan sertifikasi SDM pertanian; 3) Pemantauan evaluasi dan pelaporan pelaksanaan, penyuluhan, pendidikan, pelatihan, standarisasi dan sertifikasi SDM Pertanian; dan 4) Pelaksanaan administrasi Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian.

PENDAHULUAN

Pedoman Pelaksanaan Kegiatan dan Anggaran PPSDMP TA.2012

1

Untuk melaksanakan tugas dan fungsi tersebut, Badan PPSDMP di Pusat mempunyai 4 (empat) unit kerja Eselon II, yaitu: 1) Pusat Penyuluhan Pertanian; 2) Pusat Pelatihan Pertanian; 3) Pusat Pendidikan, Standarisasi dan Sertifikasi Profesi Pertanian; dan 4) Sekretariat Badan Operasionalisasi kegiatan penyuluhan dan pengembangan SDM pertanian di daerah dilaksanakan oleh 19 Unit Pelaksana Teknis (UPT), Badan/Dinas yang menangani penyuluhan dan pengembangan SDM pertanian di 33 provinsi. Dalam upaya menyelaraskan pelaksanaan program dan kegiatan maka ditetapkan Pedoman Pelaksanaan Kegiatan dan Anggaran Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian Tahun Anggaran 2012.

2.

Tujuandan anggaran penyuluhan dan pengembangan SDM pertanian tahun anggaran 2012.

Pedoman ini diterbitkan untuk memberikan acuan bagi pejabat/petugas dalam melaksanakan kegiatan

3.

Ruang lingkupPedoman pelaksanaan kegiatan dan anggaran penyuluhan dan pengembangan SDM pertanian ini mengatur tentang: 1) Mekanisme pengelolaan kegiatan dan anggaran yang dijelaskan dalam bab IV; 2) Penyelenggaraan pemantapan sistem penyuluhan pertanian yang dijelaskan dalam bab V; 3) Penyelenggaraan pemantapan sistem pelatihan pertanian yang dijelaskan dalam bab VI; 4) Penyelenggaraan revitalisasi pendidikan pertanian serta standardisasi dan Sertifikasi Profesi Pertanian yang dijelaskan dalam bab VII; 5) Penyelenggaraan dukungan manajemen dan dukungan teknis lainnya yang dijelaskan dalam bab VIII;

2

II.1.

PROGRAM, KEGIATAN, TARGET DAN INDIKATOR

Program dan KegiatanPada anggaran 2012 Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) hanya mempunyai satu program yaitu Program Pengembangan SDM Pertanian dan Kelembagaan Petani. Program ini dijabarkan kedalam 5 (lima) kegiatan prioritas Badan PPSDMP yaitu : 1) Revitalisasi Pendidikan Pertanian, Standarisasi dan Sertifikasi Profesi Pertanian; 2) Pengembangan Pendidikan Menengah Pertanian; 3 ) Pemantapan Sistem Pelatihan Pertanian; 4) Pemantapan Sistem Penyuluhan Pertanian; dan 5) Dukungan Manajemen dan Dukungan Teknis Lainnya. Untuk melaksanakan program dan kegiatan tersebut dalam tahun anggaran 2012 Badan PPSDMP mendapat alokasi dana sejumlah Rp.1.419.377.621.000,-

2.

Target dan IndikatorProgram Pengembangan SDM Pertanian dan Kelembagaan Petani mempunyai 7 (tujuh) target dan indikator utama, meliputi: 1) Meningkatnya kompetensi 4.443 orang aparatur di sektor pertanian; 2) Meningkatnya kapasitas 22.205 orang non aparatur di sektor pertanian ; 3) Meningkatnya kinerja 58.289 orang ketenagaan penyuluhan; 4) Meningkatnya kompetensi 4.429 orang aparatur fungsional; 5) Tersedianya 16.248 tenaga teknis menengah dan calon wirausaha muda pertanian 6) Meningkatnya kapasitas 52.103 unit kelembagaan petani ; 7) Meningkatnya kapasitas 2.080 unit kelembagaan penyuluhan. Target dan indikator utama dari Program Pengembangan SDM Pertanian dan Kelembagaan Petani pada tahun anggaran 2012 kemudian dijabarkan kedalam target dan indikator masing masing kegiatan prioritas Badan PPSDMP, sebagai berikut.

2.1. Pemantapan Sistem Penyuluhan Pertanian1) 2. 080 unit kelembagaan penyuluhan pertanian pemerintah yang difasilitasi (Bakorluh, Bapelluh, dan BPP); 2) 52.103 orang kelembagan petani (Gapoktan/Poktan) yang difasilitasi dan dikembangkan; 3) 4.369 judul meliputi materi penyuluhan dan informasi pertanian yang dihasilkan dan disebarluaskan; 4) 247 dokumen kegiatan pemantapan sistem penyuluhan pertanian; 5) 58.289 orang ketenagaan penyuluhan pertanian yang difasilitasi;

6) 772 desa yang kegiatan penyuluhannya di kelola petani (FMA FEATI)

2.2. Pemantapan Sistem Pelatihan Pertanian1) 29 unit kelembagaan pelatihan UPT Pusat dan Daerah yang difasilitasi dan dikembangkan; 2) 229 unit kelembagaan pelatihan milik petani (P4S) yang terbina dan terklasifikasi kelembagaannya; 3) 1.277 orang ketenagaan pelatihan pertanian yang difasilitasi dan dikembangkan;

Pedoman Pelaksanaan Kegiatan dan Anggaran PPSDMP TA.2012

3

4) 23.166 orang aparatur pertanian yang ditingkatkan kompetensinya melalui pelatihan pertanian; 5) 22.205 orang non aparatur pertanian yang ditingkatkan pertanian; 6) 150 desa yang meningkat kapasitasnya melalui program READ; 7) 258 dokumen perencanaan, keuangan, organisasi dan kepegawaian serta evaluasi dan pelaporan kegiatan pemantapan sistem pelatihan pertanian; 8) 12 bulan pelaksanaan pelayanan perkantoran. kapasitasnya melalui pelatihan

2.3. Revitalisasi Pendidikan Pertanian serta Standarisasi dan Sertifikasi Profesi Pertanian1) 7 SKKNI Profesi SDM Pertanian yang distandarisasi; 2) 1.400 orang penyuluh pertanian profesi yang disertifikasi;

Pengembangan

3) 10 unit kelembagaan pendidikan yang ditingkatkan dan dikembangkan kualitasnya; 4) 1.142 orang ketenagaan yang ditingkatkan kualitasnya; 5) 2.610 orang tenaga fungsional yang mengikuti jenjang pendidikan kedinasan yang sesuai standar kompetensinya; 6) 204 orang aparatur yang mengikuti jenjang pendidikan formal S2 dan S3; 7) 110 dokumen perencanaan, keuangan, organisasi dan kepegawaian serta evaluasi dan pelaporan kegiatan revitalisasi pendidikan, standarisasi dan sertifikasi profesi pertanian; 8) 12 bulan pelaksanaan pelayanan perkantoran.

2.4. Pendidikan Menengah Pertanian1) 16.248 orang generasi muda pertanian yang difasilitasi melalui pendidikan di SMK-SPP; 2) 9 unit kelembagaan pendidikan menengah pertanian (SMK-SPP) yang ditingkatkan kualitasnya; 3) 132 orang ketenagaan pendidikan menengah pertanian (SMK-SPP) yang ditingkatkan kualitasnya; 4) 31 dokumen perencanaan, keuangan, organisasi dan kepegawaian serta evaluasi dan

pelaporan kegiatan pendidikan menengah; 5) 12 bulan pelaksanaan pelayanan perkantoran.

2.5. Dukungan Manajemen dan Dukungan Teknis Lainnya Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian1) 91 dokumen perencanaan, keuangan, organisasi dan kepegawaian serta evaluasi dan pelaporan program penyuluhan dan pengembangan SDM pertanian; 2) 12 bulan pelaksanaan pelayanan perkantoran.

4

III.1.

PROGRAM DAN ANGGARAN KINERJA PENGEMBANGAN SDM PERTANIAN Pengorganisasian Pengelolaan Anggaran Terpadu Berbasis KinerjaBerdasarkan PP Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah sebagai daerah otonom dan PP Nomor 7 Tahun 2008 tentang Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan, kewenangan pemerintah pusat adalah menyusun pedoman, norma, standar teknis, kriteria, prosedur dan pedoman pelaksanaan kewenangan pemerintah di bidang pertanian. Kewenangan provinsi sebagai wakil pemerintah pusat adalah sinkronisasi dengan

penyelenggaraan urusan pemerintah daerah, penyiapan perangkat daerah yang akan melaksanakan program dan kegiatan dekonsentrasi, koordinasi, pengendalian, pembinaan, pengawasan, dan pelaporan. Adapun kewenangan Kabupaten/Kota adalah pelaksanaan tugas pembantuan yang dilakukan oleh Pemerintah Pusat dan Provinsi. Secara umum penerapan anggaran kinerja di Indonesia didasarkan atas ketentuan perundangundangan yang berlaku, yaitu Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 2004 tentang Rencana Kerja Pemerintah dan Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2004 tentang Penyusunan Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian Negara/Lembaga Pemerintah, Peraturan Menteri Keuangan Nomor 93/PMK.02/2011 tentang Petunjuk Penyusunan dan Penelahaan Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian Negara/Lembaga TA.2012, serta Peraturan Menteri Keuangan Nomor 164 /PMK.05 /2011 tanggal 10 Oktober 2011 tentang Pengesahan Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran. Untuk pengelolaan kegiatan pengembangan SDM pertanian tahun anggaran 2012, Badan PPSDMP dibantu oleh 130 satker yang terdiri dari 2 satker pusat, 20 satker Unit Pelaksana Teknis (UPT) Badan PPSDMP dan 35 satker Dinas/Badan lingkup Pertanian di tingkat provinsi serta 73 satker Dinas/Badan/Kantor di tingkat kabupaten/kota. Secara lengkap Satuan Kerja (Satker) Badan PPSDMP sebagai pelaksana kegiatan pengembangan SDM pertanian dapat dilihat pada Formulir 2. Pengelola anggaran berdasarkan program dan anggaran kinerja adalah sebagai berikut: Petunjuk Penyusunan dan

2.

Pengelola Anggaran di Pusat1) Kepala Badan bertindak sebagai Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian sejalan dengan tugasnya sebagai pembina program dan anggaran kinerja organisasi yang dipimpinnya. Dalam operasional sehari-hari, KPA dibantu oleh seorang Bendaharawan Pengeluaran yang bertanggung

jawab atas keuangan yang dikelola, serta seorang Pejabat Penguji dan Perintah Pembayaran; 2) Sekretaris Badan dan Kepala Pusat (Eselon II Badan PPSDMP) bertindak sebagai pembantu KPA/Kepala Badan yang sehari-hari bertugas sebagai pembina pelaksanaan kegiatan dan anggaran kinerja sesuai dengan tupoksi unit organisasi yang dipimpinnya;

Pedoman Pelaksanaan Kegiatan dan Anggaran PPSDMP TA.2012

5

3) Pejabat Pembuat Komitmen (P2K) ditunjuk oleh KPA untuk setiap unit Eselon II. P2K bertugas dan bertanggungjawab terhadap pelaksanaan kegiatan dan anggaran kinerja pada unit organisasi masing-masing.

3.

Pengelola Anggaran di UPT Pusat1) Kuasa Pengguna Anggaran/KPA dijabat oleh Kepala UPT; 2) Kuasa Pengguna Anggaran dalam menjalankan tugasnya dibantu oleh satu orang bendahara pengeluaran, Pejabat Pembuat Komitmen dan satu orang Pejabat Penguji dan Perintah Pembayaran;

3) Pejabat Pembuat Komitmen (P2K) ditunjuk oleh KPA sebagai pengelola pelaksanaankegiatan dan anggaran dari unit kerja, sesuai dengan tugas pokok dan fungsi unit kerja ybs .

4.

Pengelola Anggaran Dekonsentrasi di Tingkat Provinsi1) Gubernur selaku penerima pelimpahan wewenang dari pemerintah pusat bertanggung jawab terhadap pelaksanaan kegiatan yang dibiayai dari dana dekonsentrasi kepada Menteri Pertanian; 2) Gubernur menetapkan Kuasa Pengguna Anggaran (KPA), Pejabat Pembuat Komitmen (P2K), Bendahara Pengeluaran serta Pejabat Penguji dan Perintah Pembayaran sebagai pelaksana kegiatan yang dibiayai dari dana dekonsetrasi Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian; 3) Kepala Dinas/Badan lingkup pertanian tingkat provinsi sebagai Kepala Satker atau pejabat yang ditunjuk sebagai Kuasa Pengguna Anggaran, bertanggung jawab atas seluruh

kegiatan serta keberhasilan program dan anggaran kinerja Pengembangan SDM Pertanian pada Satker yang dipimpinnya; 4) Untuk kelancaran operasional kegiatan program dan anggaran kinerja (tertib administrasi dan keuangan) sehari-hari, masing-masing KPA dibantu oleh Bendahara Pengeluaran,

Pejabat Pembuat Komitmen (P2K) serta Pejabat Penguji dan Perintah Pembayaran; 5) Pejabat Pembuat Komitmen (P2K) dapat ditunjuk lebih dari satu orang dan ditetapkan sesuai dengan kedudukan dan kesesuaian tugas pokok dan fungsi unit kerjanya dengan kegiatan dan anggaran pengembangan SDM pertanian yang akan menjadi tanggungjawabnya. Sehubungan dengan itu, pada Satker yang mendapat kegiatan dan anggaran pelatihan, agar menunjuk P2K yang berasal dari Unit Kerja/ Balai Pelatihan Pertanian Eks UPT Badan PPSDMP

5.

Pengelola

Anggaran

Tugas

Pembantuan

di

Tingkat

Kabupaten/Kota1) Bupati selaku penerima tugas dari pemerintah pusat bertanggung jawab terhadap pelaksanaan kegiatan yang dibiayai dari dana tugas pembantuan kepada Menteri Pertanian; 2) Bupati mengusulkan Kuasa Pengguna Anggaran (KPA), Pejabat Pembuat Komitmen (P2K), Bendahara Pengeluaran serta Pejabat Penguji dan Perintah Pembayaran sebagai pelaksana kegiatan yang dibiayai dari dana tugas pembantuan Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian;

6

3) Menteri Pertanian menetapkan Kuasa Pengguna Anggaran (KPA), Bendahara Pengeluaran serta Pejabat Penguji dan Perintah Pembayaran sebagai pelaksana kegiatan yang dibiayai dari dana tugas pembantuan; 4) Kepala Dinas/Badan/Kantor lingkup pertanian tingkat kabupaten sebagai Kepala Satker atau pejabat yang ditunjuk sebagai Kuasa Pengguna Anggaran, masing-masing

bertanggung jawab atas seluruh kegiatan serta keberhasilan program dan anggaran kinerja Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian pada Satker yang dipimpinnya; 5) Untuk kelancaran operasional kegiatan program dan anggaran kinerja (tertib administrasi dan keuangan) sehari-hari, masing-masing KPA dibantu oleh Bendahara Pengeluaran,

Pejabat Pembuat Komitmen (P2K) serta Pejabat Penguji dan Perintah Pembayaran.

Pedoman Pelaksanaan Kegiatan dan Anggaran PPSDMP TA.2012

7

IV. 1.

MEKANISME PENGELOLAAN KEGIATAN DAN ANGGARAN

Perencanaan Kegiatan dan AnggaranMenyikapi perubahan pola penganggaran dan tantangan PPSDMP, kebijakan program dan anggaran PPSDMP perlu dijabarkan secara lebih terstruktur, terukur dan operasional dengan berbasiskan kepada tugas dan fungsi masing-masing instansi PSDMP. Untuk itu prinsip perencanaan program dan anggaran PPSDMP adalah sebagai berikut: 1) Pembangunan pertanian khususnya PPSDMP menempatkan aparatur pemerintahan sebagai fasilitator, motivator dan dinamisator bagi masyarakat/swasta. Sedangkan petani sebagai pelaku utama dan subyek pembangunan didorong agar mampu meningkatkan kesejahteraannya melalui pengembangan usaha dan peningkatan nilai tambah dan daya saing produk pertanian; 2) Perencanaan di tingkat pusat tidak lagi tersekat-sekat, melainkan terpadu dalam sistem yang dikoordinasikan dengan instansi terkait baik pusat maupun daerah. Tampilan program di lapangan tidak lagi dalam bentuk kegiatan parsial, tetapi dalam bentuk program PPSDMP yang terpadu guna menunjang ketahanan pangan, peningkatan nilai tambah dan daya saing serta peningkatan kesejahteraan petani; 3) Bagi UPT Badan PPSDMP, kegiatan dan penganggaran diusulkan langsung ke Pusat; 4) Bagi Dinas/badan lingkup pertanian di tingkat provinsi selaku penyelenggara kegiatan pendidikan/pelatihan/penyuluhan pertanian maupun UPT Daerah, usulan kegiatan dan penganggaran dilakukan melalui satuan kerja daerah. Musyawarah Perencanaan

Pembangunan Pertanian (Musrenbangtan) Tingkat kabupaten, Provinsi dan Nasional; dan kemudian disesuaikan dengan kebijakan PPSDMP. Bagi satuan kerja yang mendapatkan kegiatan yang bersumber dari dana PHLN, usulan kegiatan dan penganggaran dilakukan oleh Pusat dengan mengacu pada loan agreement disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan daerah. 5) Untuk dapat menyelenggarakan kegiatan PPSDMP yang berkualitas, secara bertahap dilakukan upaya pengembangan kapasitas lembaga pendidikan, lembaga pelatihan dan kelembagaan penyuluhan pertanian. 6) Usulan kegiatan dan anggaran seperti dimaksud di atas, dituangkan dalam dokumen Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian/Lembaga (RKA-KL) Badan PPSDMP tahun 2012. Penyusunan RKA-KL tersebut, selain berdasarkan kebutuhan kegiatan, juga harus didasarkan pada Peraturan Presiden tentang Rencana Kerja Pemerintah, Undang-undang APBN dan alokasi pagu APBN serta persetujuan DPR. Selanjutnya setelah dilakukan penelaahan terhadap RKA-KL pagu tetap antara Direktorat Jenderal Anggaran Kementerian Keuangan (DJA) dengan Kementerian Pertanian c.q. Badan PPSDMP, DJA menerbitkan Arsip Data Komputer (ADK) dan Surat Penetapan Rencana Kegiatan dan Anggaran (SPRKA) untuk satker lingkup Badan PPSDMP.

2.

Penyusunan Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA)DIPA disahkan sebagai dasar pelaksanaan kegiatan untuk masing-masing Satuan Kerja (Satker) dan setiap DIPA hanya memuat kegiatan untuk satu Satker. DIPA Kementerian Negara/Lembaga dikategorikan sebagai berikut.

8

2.1. DIPA Kantor PusatDIPA Kantor Pusat adalah dokumen pelaksanaan anggaran yang pelaksanannya dilakukan oleh Satker Kantor Pusat Kementerian Negara/ Lembaga, dalam hal ini Badan PPSDMP. Penyusunan DIPA didasarkan pada ADK dan SP-RKA yang diterbitkan oleh DJA. Validasi ADK RKA dan SP RKA dilakukan secara bersama antara Direktorat Jenderal Perbendaharaan Kementerian Keuangan (DJPb) dengan Kementerian/ Lembaga terkait. Kepala Badan PPSDMP selaku Kuasa Menteri Pertanian menetapkan DIPA Badan PPSDMP, dan DIPA FEATI dan selanjutnya Direktur Jenderal Perbendaharaan atas nama Menteri Keuangan mengesahkan DIPA dengan menerbitkan Surat Pengesahaan DIPA (SP-DIPA).

2.2. DIPA Kantor DaerahDIPA Kantor Daerah adalah dokumen pelaksanaan anggaran yang pelaksanaannya dilakukan oleh Satker Kantor Daerah/Instansi Vertikal Kementerian/Lembaga, dalam hal ini Unit Pelaksana Teknis (UPT) Badan PPSDMP. Penyusunan DIPA didasarkan pada ADK RKA dari DJA dan Daftar Nominatif Anggaran (DNA) yang diterbitkan oleh DJPb. Validasi ADK RKA dan DNA Satker dilakukan secara bersama antara Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan (Kanwil DJPb) dengan Kantor Daerah/Instansi Vertikal Kementerian/Lembaga. Kepala UPT Badan PPSDMP selaku Kuasa Menteri Pertanian atau menetapkan DIPA dan selanjutnya Kepala Kanwil DJPb atas nama Menteri Keuangan mengesahkan DIPA dengan menerbitkan SP DIPA.

2.3. DIPA dalam rangka Pelaksanaan Dekonsentrasi dan Tugas PembantuanDIPA dalam rangka pelaksanaan Dekonsentrasi adalah dokumen pelaksanaan anggaran yang pelaksanaannya dilimpahkan kepada Gubernur dalam hal ini Satker Dekonsentrasi di provinsi. Sedangkan DIPA dalam rangka pelaksanaan Tugas Pembantuan adalah dokumen DIPA Pusat yang pelaksanaannya ditugaskan kepada Kabupaten/ Kota dalam hal ini Satker Tugas Pembantuan di kabupaten/kota. Penyusunan DIPA didasarkan pada ADK RKA dari DJA dan Daftar Nominatif Anggaran (DNA) yang diterbitkan oleh DJPb. Validasi ADK RKA dan DNA Satker dilakukan secara bersama antara Kanwil DJPb dengan Satker terkait atas nama Gubernur atau Bupati. Gubernur selaku Kuasa Menteri Pertanian dan Bupati selaku penerima tugas dari Menteri Pertanian, yang dalam hal ini diwakili oleh Kepala Satker menetapkan DIPA, dan selanjutnya Kepala Kanwil DJPb atas nama Menteri Keuangan menetapkan SP-DIPA.

3.

Petunjuk Operasional KegiatanPetunjuk Operasional Kegiatan (POK) yang merupakan bagian dari DIPA dan sudah terprogram dalam aplikasi DIPA harus menjadi dasar pelaksanaan kegiatan dan pengelolaan anggaran. POK diterbitkan oleh Kepala Satker selaku KPA, dan meliputi rencana penarikan anggaran per bulan, penanggung jawab kegiatan, cara pelaksanaan/pengadaan, jadwal kegiatan (Peran POK).

4.

Revisi AnggaranBerdasarkan PMK Nomor 49/PMK.02/2011 tentang Tata Cara Revisi Anggaran Anggaran 2011, bahwa Revisi Anggaran adalah Tahun perubahan Rincian Anggaran Belanja 9

Pedoman Pelaksanaan Kegiatan dan Anggaran PPSDMP TA.2012

Pemerintah Pusat

yang telah ditetapkan berdasarkan Anggaran Pendapatan dan Belanja

Negara (APBN), Surat Penetapan Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian Negara/Lembaga ( Sp RKA-KL), dan/atau Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) .

4.1. Ruang Lingkup dan Batasan Revisi Anggaran4.1.1. Ruang Lingkup Revisi Anggaran terdiri atas:1) Perubahan rincian anggaran yang disebabkan penambahan atau pengurangan pagu anggaran belanja termasuk pergeseran rincian anggaran belanjanya; 2) Perubahan atau pergeseran rincian anggaran belanja dalam hal pagu anggaran tetap; dan/atau; 3) Perubahan/ralat karena kesalahan administrasi.

4.1.1.1. Perubahan rincian anggaran yang disebabkan penambahan atau pengurangan pagu anggaran belanja termasuk pergeseran rincian anggaran belanjanya sebagai akibat antara lain dari :1) Kelebihan realisasi PNBP di atas target yang direncanakan dalam APBN; 2) Lanjutan kegiatan yang dananya bersumber dari PHLN 3) Percepatan penarikan PHLN 4) Penerimaan hibah Luar Negeri yang diterima oleh pemerintah Cq Kemenkeu dan dilaksanakan oleh Kementerian/ Lembaga; 5) Penerimaan hibah luar negeri yang diterima dalam bentuk uang dan dilaksanakan langsung oleh Kementerian/Lembaga; 6) Tambahan pinjaman Luar Negeri 7) Pengurangan alokasi PHLN. 8) Penggunaan anggaran belanja yang bersumber dari PNBP di atas pagu APBN.

4.1.1.2. Perubahan atau pergeseran rincian anggaran belanja dalam hal pagu anggaran tetap, antara lain meliputi :1) Pergeseran antar program dalam satu bagian anggaran untuk memenuhi kebutuhan biaya operasional; 2) Pergeseran antar kegiatan dalam satu program sepanjang pergeseran tersebut merupakan Hasil Optimalisasi; 3) Pergeseran antar jenis belanja dalam satu kegiatan; 4) Perubahan volume Keluaran berupa penambahan volume Keluaran dalam satu

Keluaran dan/atau antarkeluaran dalam satu kegiatan dan satu satuan kerja; 5) Perubahan volume Keluaran berupa pengurangan Keluaran dalam satu kegiatan dan satu satuan kerja; volume Keluaran dalam satu

10

6) Perubahan volume Keluaran berupa penambahan atau pengurangan

volume Keluaran

antarsatuan kerja sepanjang dalam kegiatan yang sama dan digunakan untuk Keluaran yang sama; 7) Pergeseran dalam satu propinsi/kabupaten/kota untuk kegiatan dalam rangka Tugas Pembantuan atau dalam satu propinsi untuk Kegiatan dalam rangka Dekonsentras; 8) Pergeseran dalam satu propinsi/kabupaten/kota untuk memenuhi Biaya Operasional yang dilaksakan oleh unit organisasi di tingkat pusat maupun oleh instansi vertikalnya di daerah; 9) Perubahan kurs sepanjang perubahan tersebut terjadi setelah kontrak ditandatangani; 10) Pencairan blokir/ tanda bintang (*) yang dicantumkan oleh Direktorat Jenderal Anggaran; 11) Pergeseran anggaran antar kegiatan yang tidak berasal dari Hasil Optimalisasi; 12) Pergeseran rincian anggaran belanja yang mengakibatkan perubahan Hasil Program; 13) Penggunaan anggaran yang harus mendapat persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR-RI) terlebih dahulu; 14) Pencairan blokir/ tanda bintang(*) yang dicantumkan oleh DPR-RI termasuk pencairan blokir yang tidak sesuai dengan rencana peruntuka.penggunaanya; 15) Pergeseran reincian anggaran belanja yang digunakan untuk Program/Kegiatan yang tidak sesuai dengan hasil kesepakatan anarata Pemerintah dengan DPR-RI (kesimpulan repat kerja dalam rangka APBN) 16) Perubahan lainnya sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan.

4.1.1.3. Perubahan/ralat karena kesalahan administrasi antara lain karena:1) Perubahan/ralat kode akun; kode KPPN; kode nomor register PHLN; kode kewenangan; kode lokasi; cara penarikan PHLN; sumber dana; pejabat perbendaharaan; ralat kode dan nomenklatur satua kerja; rumusan keluaran; 2) Perubahan Nomenklatur bagian anggaran dan /atau satuan kerja sepanjang kode tetap; 3) Ralat pencantuman volume, jenis dan satuan Keluaran pada RKA-Kl dan DIPA sesuai dengan dokumen RKP atau hasil kesepakatan DPR - RI; 4) Perubahan lainnya sebagaimana diatur dalam Peraturan Direktur Menteri Keuangan.

4.1.2. Batasan Revisi Anggaran: 4.1.2.1. Revisi Anggaran dapat dilakukan sepanjang tidak mengakibatkan pengurangan alokasi anggaran terhadap :1) Kebutuhan Biaya Operasional satuan kerja; 2) Alokasi tunjangan profesi guru/dosen; 3) Pembayaran berbagai tunggakan; 4) Paket pekerjaan pekerjaan yang bersifat multiyears;

Pedoman Pelaksanaan Kegiatan dan Anggaran PPSDMP TA.2012

11

5) Paket pekerjaan yang telah dikontrakan dan/atau direalisasikan daqnanya sehingga menjadi

minus.

4.1.2.2. Revisi Anggaran dapat dilakukan sepanjang tidak mengubah Sasaran Kinerja dengan ketentuan :1) Tidak mengurangi volume Keluaran Kegiatan Prioritas Nasional dan/ atau Prioritas Bidang; 2) Tidak mengurangi spesifikasi keluaran;

4.2. Kewenangan dan Tata Cara Revisi Anggaran4.2.1. Revisi Anggaran Pada Direktorat Jenderal Anggaran 4.2.1.1. Revisi Anggaran yang dilaksanakan pada Direktorat Jenderal Anggaran meliputi perubahan berupa penambahan dan/atau

perubahan atau pergeseran rincian anggaran belanja sebagai akibat adanya:1) Kelebihan realisasi PNBP di atas target yang direncanakan dalam APBN; 2) Lanjutan kegiatan yang dananya bersumber dari PHLN 3) Percepatan penarikan PHLN 4) Penerimaan hibah Luar Negeri yang diterima oleh pemerintah Cq Kemenkeu dan dilaksanakan oleh Kementerian/ Lembaga; 5) Pengurangan alokasi PHLN. 6) Penggunaan anggaran belanja yang bersumber dari PNBP di atas pagu APBN. 7) Perubahan volume Keluaran berupa pengurangan volume Keluaran dalam satu Keluaran, dalam satu kegiatan dan satu satuan kerja; 8) Perubahan volume Keluaran berupa penambahan atau pengurangan volume Keluaran antarsatuan Kerja sepanjang dalam Kegiatan yang sama dan digunakan untuk Keluaran yang sama; 9) Perubahan kurs sepanjang perubahan tersebut terjadi setelah kontrak ditandatangani; 10) Pencairan blokir/ tanda bintang(*) yang dicantumkan oleh Direktorat Jenderal Anggaran; 11) Perubahan/ralat karena kesalahan administrasi.

4.2.1.2. Usulan Revisi Anggaran yang disampaikan kepada Direktur Jenderal Anggaran paling sedikit dilampiri dokumen: RKA- satuan kerja yang memuat usulan perubahan atau pergeseran rincian anggaran belanja beserta perubahan ADK RKA-K/L dan dilengkapi dengan dokumen pendukung meliputi:

12

1) Perhitungan anggaran yang diusulkan dilakukan perubahan/pergeseran termasuk dana pendamping untuk PHLN yang mensyaratkan dana rupiah pendamping; 2) Rincian sisa dana PHLN yang ditandatangani oleh Kepala Satuan Kerja dan diketahui oleh KPPN setempat, khusus untuk perubahan pagu PHLN akibat lanjtan PHLN; 3) Surat keterangan pengelola kegiatan dan Annual Work Plan (AWP) yang disetujui Lender dalam hal percepatan penarikan PHLN; 4) Kerangka Acuan Kerja, Rincian Anggaran Biaya dan Revisi DIPA terakhir. RKA-satuan kerja yang memuat usulan perubahan pendapatan dilampiri ADK RKA-K/L fotocopi Surat Edaran Bukan Pajak (SSBP) dan Nomor dan

transaksi Penerimaan Negara

(NTPN) yang telah divalidasi oleh KPPN setempat dalam hal perubahan anggaran karena PNBP yang melampaui target.

4.2.2. Revisi Anggaran Yang Memerlukan Persetujuan DPR-RI 4.2.2.1. Revisi Anggaran yang memerlukan persetujuan DPR-RI diajukan oleh Kementerian Negara kepada Menteri Keuangan c.q Direktorat Jenderal Anggaran untuk selanjutnya dimintakan persetujuan dari DPR RI 4.2.2.2. Revisi Anggaran yang memerlukan persetujuan DPR-RI terdiri dari:1) Tambahan Pinjaman Proyek Luar Negeri 2) Pergeseran Oreasional; 3) Pergeseran anggaran antarkegiatan yang tidak berasal dari Hasil Optimalisasi; 4) Pergeseran rincian anggaran belanja yang mengakibatkan perubahan hasil program; 5) Penggunaan Anggaran yang harus mendapat persetujuan DPR-RI terlebih dahulu; 6) Pencairan blokir/tanda Bintang (*) yang dicantumkan oleh DPR-RI termasuk pencairan blokir yang tidak sesuai dengan rencana peruntukan/penggunaanya; 7) Pergeseran rincian anggaran belanja yang digunakan untuk Program/Kegiatan yang tidak sesuai dengan hasil kesepakatan antara Pemerintah dengan DPR-RI (Kesimpulan rapat kerja dalam rangka APBN); Anggaran antarprogram selain untuk memenuhi kebutuhan Biaya

4.2.2.3. Revisi Anggaran dapat ditetapkan oleh Menteri Keuangan setelah mendapatkan persetujuan DPR-RI; 4.2.3. Revisi Anggaran Yang Memerlukan Persetujuan Menteri Keuangan 4.2.3.1. Revisi Anggaran yang memerlukan persetujuan Menteri Keuangan diajukan oleh Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) kepada Direktur Jenderal Anggaran untuk selanjutnya dimintakan persetujuan

Menteri Keuangan;Pedoman Pelaksanaan Kegiatan dan Anggaran PPSDMP TA.201213

4.2.3.2. Revisi Anggaran yang memerlukan persetujuan Menteri Keuangan terdiri dari:1) Pergeseran antarkegiatan dalam satu Program sepanjang pergeseran tersebut merupakan Hasil Optimalisasi

4.2.4. Revisi Anggaran pada Kantor Pusat/Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan 4.2.4.1. Revisi Anggaran yang dilaksanakan pada Kantor Pusat/Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan meliputi :1) Penerimaan Hibah Luar Negeri yang diterima dalam bentuk uang dan dilaksanakan secara langsung oleh Kementerian Negara/Lembaga; 2) Penggunaan Anggaran Belanja yang bersumber dari PNBP diatas pagu APBN ; 3) Pergeseran antarprogram dalam satu Bagian Anggaran untuk memenuhi kebutuhan Biaya Operasional; 4) Pergeseran antarjenis belanja dalam satu Kegiatan; 5) Pergeseran antar propinsi/kabupaten/kota untuk memenuhi Biaya Operasional yang dilaksanakan oleh unit organisasi di tingkat Pusat maupun oleh instansi vertikalnya di daerah; 6) Perubahan rincian belanja sebagai akibat dari penyelesaian tunggakan tahun yang lalu sepanjang dalam Program yang sama, dananya masih tersedia dan tidak mengurangi Sasaran Kinerja; 7) Perubahan/ralat karena kesalahan administrasi.

4.2.4.2. Usulan Revisi Anggaran yang disampaikan kepada Direktur Jenderal Perbendaharaan/Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal

Perbendaharaan paling sedikit dilampiri dokumen :1) Konsep Revisi DIPA yang telah ditandatangani oleh KPA beserta ADK;

4.2.4.3. Satuan kerja pelaksana Kegiatan dalam rangka Dekonsentrasi/Tugas Pembantuan melaporkan perubahan tersebut kepada Unit Eselon I. 4.2.5. Revisi Anggaran Pada Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran. 4.2.5.1. Revisi Anggaran dapat dilaksanakan oleh PA/KPA dengan ketentuan sebagai berikut:1) Tidak mengurangi alokasi anggaran; 2) Tidak mengubah Sasaran Kinerja; 3) Penambahan volume Keluaran dalam satu Keluaran dan/atau antarkeluaran dalam satu kegiatan; 14

4) Pergeseran antarkomponen untuk memenuhi kebutuhan biaya operasional; 5) Pergeseran antarkomponen dalam satu Keluaran sepanjang tidak menambah jenis

honorarium baru dan besaran honoraium yang sudah ada; 6) Pergeseran antarkomponen dan antarkeluaran dalam satu kegiatan.

4.2.5.2. Revisi anggaran dilakukan dengan cara mengubah ADK RKA satuan kerja melalui aplikasi RKA-K/L, mencetak POK, dan KPA menetapkan perubahan POK 4.2.5.3. PA/KPA wajib menyampaikan setiap perubahan ADK RKA satuan kerja kepada Direktur Jenderal Perbendaharaan untuk DIPA yang disahkan oleh Direktur Jenderal Perbendaharaan atau Kepala Kantor Wilayah disahkan Direktorat oleh Jenderal Kepala Perbendaharaan Wilayah untuk DIP yang

Kantor

Direktorat

Jenderal

Perbendaharaan. 4.2.5.4. Dalam hal Revisi Anggaran mengakibatkan perubahan DIPA,

perubahan POK dapat ditetapkan oleh KPA setelah perubahan DIPA disahkan oleh Direktur Jenderal Perbendaharaan / Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan. 4.2.6. Hal-Hal Khusus 4.2.6.1. Paket Pekerjaan yang alokasi anggarannya diblokir/dibintang (*) sebagai akibat belum dilengkapi TOR/RAB/dokumen pendukung lainya dan alokasi anggaran yang belum jelas peruntukannya, apabila sampai dengan akhir bulan bulan Juni KPA tidak melengkapi dokumen yang dipersyaratkan, alokasi anggaran yang diblokir tersebut tidak dapat digunakan sampai dengan akhir tahun anggaran. 4.2.6.2. Paket Pekerjaan yang alokasi anggarannya diblokir/dibintang (*) tidak termasuk paket pekerjaan yang sudah jelas peruntukannya namun pelaksanaannya memerlukan syarat dan kondisi tertentu. 4.2.6.3. Direktorat Jenderal Anggaran dapat memproses/menyelesaikan

usulan Revisi Anggaran yang diajukan oleh Kementerian Negara dalam hal substansi dan kewenanganya meliputi kewenangan Direktorat Jenderal Anggaran dan Direktorat Jenderal

Perbendaharaan.

Pedoman Pelaksanaan Kegiatan dan Anggaran PPSDMP TA.2012

15

4.2.6.4. Dalam hal terjadi perubahan rumusan Keluaran sebagai akibat adanya perubahan tugas fungsi unit atau penugasan, KPA dapat mengajukan usul perubahan rumusan Keluaran kepada Direktur Jenderal Anggaran sepanjang tidak mengubah pagu anggaran dan tidak mengurangi volume Keluaran Kegiatan Prioritas Nasional dan/ atau Prioritas Bidang.

4.3. Pengesahan Revisi DIPA4.3.1. Pengesahan Revisi DIPA yang dilaksanakan oleh Direktur Jenderal Perbendaharaan meliputi:1) Revisi DIPA satuan kerja Pusat yang berlokasi di DKI Jakarta; 2) Revisi DIPA satuan kerja pusat dalam rangka penerimaan Hibah Luar Negeri yang diterima dalam bentuk uang dan dilaksanakan secara langsung oleh Kementerian Negara;

4.3.2. Pengesahan Revisi DIPA yang dilaksanakan oleh Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan meliputi:1) Revisi DIPA untuk satuan kerja pusat yang berlokasi di daerah (diluar DKI Jakarta); 2) Revisi DIPA untuk Satuan Kerja Vertikal; 3) Revisi DIPA Dekonsentrasi; 4) Revisi DIPA Tugas Pembantuan;

5) Revisi DIPA baik untuk DIPA yang disahkan di Pusat maupun di Daerah.

5.

Pelaksanaan Kegiatan dan Pengelolaan Anggaran1) Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara (Lembaran Negara Tahun 2003 Nomor 47, tambahan Lembaran Negara Nomor 4286); 2) Undang -Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharan Negara (Lembaran Negara Tahun 2004 Nomor 5, tambahan Lembaran Negara Nomo 4355); 3) Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan

5.1. Landasan Operasional

Tanggungjawab Keuangan Negara (Lembaran Negara Tahun 2004 Nomor 66, tambahan Lembaran Negara Nomor 4400); 4) Undang-Undang Nomor 47 Tahun 2009 Tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2010(Lembaran Negara Tahun 2009 Nomor 156, Tambahan Lembaran Negara Nomor 5075); 5) Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintah; 6) Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2006 Tentang Pelaporan Keuangan dan Kinerja Instansi Pemerintah; 7) Keputusan Presiden Nomor 42 Tahun 2002 Tentang Pedoman Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara;

16

8) Peraturan

Pemerintah

Nomor

6

Tahun

2006

tentang

Pengelolaan

BMN/Daerah,

sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2008; 9) Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 2009 tenatng Perubahan Atas Keputusan Presiden Nomor 17 Tahun 2007 tentang Penertiban BMN; 10) Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah; 11) Peraturan Pemerintah Nomor 102/PMK.05/2009 tahun 2009 tentang Tata Cara Rekonsiliasi dalam rangka Penyusunan Laporan Keuangan Pemerintah Pusat; 12) Peraturan Menteri Keuangan Nomor 96/PMK.06/2007 tetang Tata CaraPelaksanaan, Penggunaan, Pemanfaatan, Penghapusan dan Pemindahtangan BMN; 13) Peraturan Menteri Keuangan Nomor 97/PMK.06/2007 tentang Penggolongan dan Kodefikasi BMN; 14) Peraturan Menteri Keuangan Nomor 109/PMK.06/2009 tentang Pedoman Pelaksanaan Inventarisasi, Penilaian dan Pelaporan Dalam Rangka Penertiban BMN; 15) Peraturan Menteri Keuangan Nomor 134/PMK.06/2005 Tantang Pedoman Pembayaran Dalam Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara; 16) Peraturan Menteri Keuangan Nomor 73/PMK.05/2008 tentang Tatacara Penatausahaan dan Penyusunan Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) Bendahara Kementerian

Negara/Lembaga/Kantor/Satker; 17) Peraturan Menteri Keuangan Nomor 192/PMK.05/2009 Tentang Perencanaan Kas; 18) Peraturan Menteri Keuangan Nomor 91/PMK.05/2007 Tentang Bagan Akun Standar; 19) Peraturan Menteri Keuangan Nomor 171/PMK.05/2007 Tentang Sistem Akuntansi dan Pelaporan Keuangan Pemerintah Pusat. 20) Peraturan Menteri Pertanian Nomor 61/Permentan/OT.140/10/2010 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Pertanian; 21) Peraturan Menteri Pertanian Nomor 31 Tahun 2010 tentang Pedoman Sistem Pemantauan, Evaluasi dan Pelaporan Pembangunan Pertanian; 22) Keputusan Menteri Pertanian Nomor 720.1/Kpts/OT.140/12/2006 Tentang Pedoman Administrasi Keuangan Kementerian Pertanian.

5.2. Ketentuan UmumDalam pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) ada ketentuanketentuan yang harus diperhatikan, sebagai berikut.

5.2.1. Pelaksanaan Anggaran Belanja Negara didasarkan atas prinsip-prinsip:1) hemat, tidak mewah, efisien dan sesuai kebutuhan teknis yang disyaratkan; 2) efektif, terarah dan terkendali sesuai dengan rencana/kegiatan; 3) mengutamakan penggunaan produksi dalam negeri.

5.2.2. Anggaran Belanja Negara tidak diperkenankan untuk membiayai kegiatan:1) perayaan atau peringatan hari besar, hari ulang tahun Kementerian/Lembaga; 2) pemberian ucapan selamat , hadiah/tanda mata, iklan, karangan bunga dan sebagainya untuk berbagai peristiwa; 3) pesta untuk berbagai peristiwa pada Kementerian/Lembaga, termasuk Pekan Olah Raga; 4) pengeluaran lain-lain untuk kegiatan sejenis seperti tersebut di atas.

Pedoman Pelaksanaan Kegiatan dan Anggaran PPSDMP TA.2012

17

5.3. Struktur Organisasi Pengelola KeuanganPengelola Keuangan terdiri dari Kuasa Pengguna Anggaran (KPA), Bendahara Pengeluaran, Bendahara Penerimaan, dan Pejabat Penguji dan Perintah Pembayaran (P4) yang ditetapkan oleh Menteri Pertanian. Sedangkan Pejabat Pembuat Komitmen ditetapkan oleh Kuasa Pengguna Anggaran.

5.4. Dokumen Pendukung PelaksanaanSetelah menerima DIPA pengelolaan anggaran (daftar isian pelaksanaan anggaran) maka Kuasa Pengguna Anggaran dan Bendahara Pengeluaran serta Pejabat Pembuat Komitmen berkoordinasi dengan Bagian/Bidang yang menangani program dan menginformasikan kepada penanggungjawab kegiatan, untuk menyiapkan dokumen pendukung pengelolaan anggaran sebagai berikut. 1) Matriks Rencana Kegiatan Matrik rencana kegiatan disiapkan oleh Penanggungjawab kegiatan yang berkoordinasi dengan Bagian/Bidang yang menangani program yang ditandatangani oleh

penanggungjawab kegiatan dan disahkan oleh Kepala Satker. 2) Kerangka Acuan Kegiatan (KAK) dan Rincian Anggaran Biaya (RAB) KAK dan RAB disiapkan oleh penanggungjawab kegiatan. Kerangka Acuan Kegiatan (KAK) merupakan dokumen yang memuat informasi yang lengkap dan rinci tentang kegiatan yang akan dilaksanakan. Rincian Anggaran Biaya (RAB) merupakan dokumen rincian biaya yang dibutuhkan untuk pelaksanaan kegiatan. KAK dan RAB ditandatangani oleh

penanggungjawab kegiatan dan disahkan oleh Kepala Satker. 3) Rencana Penyerapan Anggaran Rencana Penyerapan Anggaran yang dikompiliasi menjadi Rencana Penarikan Dana (RPD) sebagai lampiran dokumen DIPA disusun sekaligus untuk 12 bulan dengan mengacu kepada kebutuhan anggaran yang disesuaikan dengan jadwal rencana pelaksanaan kegiatan. Rencana penyerapan anggaran ditandatangani oleh penanggungjawab dan disahkan oleh Kepala Satker. 4) Rencana Kinerja Tahunan Dokumen ini berfungsi sebagai dokumen kendali dan acuan evaluasi atas pelaksanaan kegiatan dan anggaran yang diterimanya. Rencana Kinerja Tahunan merupakan penjabaran dari sasaran dan program yang telah ditetapkan. Dokumen Kinerja Tahunan memuat informasi tentang sasaran yang ingin dicapai dalam tahun yang bersangkutan dengan indikator kinerja sasaran dan rencana capaiannya yang terukur. Didalam dokumen rencana kinerja indikator keberhasilan harus dinyatakan dengan parameter yang jelas, spesifik dan terukur. Rencana Kinerja Tahunan merupakan komitmen suatu unit kerja yang akan dicapai dalam tahun tertentu, harus ditandatangani oleh Penanggungjawab Kegiatan dan disahkan oleh Kepala Satker. 5) Rencana Triwulan Masing-masing Penanggung jawab Kegiatan agar menyiapkan rencana triwulanan sekaligus untuk 4 triwulan dan disahkan oleh Kepala Satker. Rencana triwulan diharapkan memperlihatkan progress pencapaian kinerja maupun rencana penyerapan anggaran.

18

Rencana triwulan dimaksud tersebut

menjadi acuan penyusunan laporan triwulan yang

merupakan realisasi kinerja dan penyerapan anggaran pada triwulan yang berjalan. Keseluruhan rencana triwulan (I, II, III dan IV) akan memberikan gambaran tahapan realisasi dan anggaran. Rencana triwulan diajukan triwulan ini dapat dievaluasi dan disesuaikan pada awal triwulan yang akan dilaksanakan. Rencana triwulanan diajukan dan ditandatangani oleh Penanggungjawab Kegiatan dan disahkan oleh Kepala Satker.

5.5. Pengajuan dan Pelaksanaan Biaya KegiatanPengajuan dan pelaksanaan biaya kegiatan sangat tergantung dengan ketersediaan Uang pada Bendahara Pengeluaran. Proses pengajuan kegiatan dilakukan dengan: 1) Menyusun Rencana Kegiatan dan Kebutuhan Biaya Kegiatan Bulanan; 2) Melakukan Rapat Koordinasi Rencana Pelaksanaan Kegiatan dan Kebutuhan Dana; 3) Merekapitulasi Usulan Kegiatan dan Kebutuhan Biaya Kegiatan; 4) Mengajukan Surat Permintaan Pembayaran (SPP) dan Surat Perintah Membayar (SPM); 5) Mencairkan Uang Persediaan dan Tambahan Biaya Persediaan; 6) Mendistribusikan Biaya Kegiatan; 7) Pertanggungjawaban Biaya Kegiatan.

5.6. Pengajuan dan Pelaksanaan Perjalanan Dinas Dalam Negeri5.6.1. Usulan Perjalanan Dinas1) Usulan Perjalanan Dinas harus diketahui oleh Atasan Langsung untuk disampaikan kepada Kuasa Pengguna Anggaran melalui Pejabat Pembuat Komitmen untuk mendapatkan persetujuan. 2) Menerbitkan Surat Tugas Perjalanan Dinas oleh Atasan Langsung. 3) Menerbitkan Surat Perintah Perjalanan Dinas (SPPD) oleh Pejabat Pembuat Komitmen. 4) Berdasarkan SPPD, Bendahara Pengeluaran membuat Surat Bukti Pengeluaran Perjalanan Dinas yaitu Rincian Perjalanan Dinas dan Kuitansi Pembayaran Perjalanan Dinas.

5.6.2. Pembayaran dan pelaksanaanPembayaran Perjalanan Dinas, dibayarkan oleh Bendahara Pengeluaran setelah SPPD dan Surat Bukti Pengeluaran Perjalanan Dinas disetujui oleh Pejabat Pembuat Komitmen.

5.6.3. Pelaporan Perjalanan Dinas1) Pelaksana perjalanan dinas setelah selesai melaksanakan perjalanan dinas segera membuat laporan perjalanan dinas serta melaporkan kepada atasan langsung paling lama 3 (tiga) hari setelah pelaksanaan perjalanan dinas. 2) Pelaksana perjalanan dinas yang belum melaporkan hasil perjalanan dinas tidak dapat untuk diajukan kembali dan atau ditugaskan kembali melakukan perjalanan dinas sampai laporan sebelumnya diselesaikan

5.6.4. Biaya Perjalanan DinasBiaya perjalanan dinas jabatan terdiri dari : 1) uang harian yang meliputi uang makan, uang saku, dan transport lokal; 2) biaya transport pegawai;

Pedoman Pelaksanaan Kegiatan dan Anggaran PPSDMP TA.2012

19

3) biaya penginapan.

5.6.5. Ketentuan Lain1) Pejabat Negara, Pegawai Negeri Sipil dan Pegawai Tidak Tetap, dilarang menerima biaya perjalanan dinas rangkap (dua kali atau lebih) untuk perjalanan dinas yang dilakukan dalam waktu yang sama 2) Perjalanan Dinas Luar Negeri diatur sesuai dengan ketentuan yang berklaku untuk itu.

6.

Pengadaan Barang dan JasaPengadaan Barang/Jasa Pemerintah adalah kegiatan untuk memperoleh Barang/Jasa oleh Kementerian/Lembaga/Satuan Kerja Perangkat Daerah/Institusi lainnya yang prosesnya dimulai dari perencanaan kebutuhan sampai diselesaikannya seluruh kegiatan untuk memperoleh Barang/Jasa. Peraturan yang mengatur Pengadaan Barang/Jasa adalah Perpres 54 Tahun 2010.

7.

Pengelolaan Barang Milik NegaraPengelolaan Barang Milik Negara/BMN mengacu kepada Peraturan Pemerintah No. 6 tahun 2006 tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah dan Peraturan Menteri Keuangan No. 96 tahun 2007 tentang Tata Cara Pelaksanaan Penggunaan, Pemanfaatan, Penghapusan, dan Pemindahtanganan Barang Milik Negara.

8.

Penyusunan Laporan KeuanganPenyusunan Laporan Keuangan Sistim Akuntansi Instansi (SAI) Satker Pusat dan Eselon I dan merekonsiliasi data Laporan Realisasi Anggaran Belanja (LRA), laporan realisasi anggaran belanja pengembalian belanja, laporan realisasi pendapatan negara, neraca dengan tahapan pelaksanaan kegiatan sebagai berikut: 1) Mengumpulkan SPP, SPM, SP2D, SSPB, SSBP, data kerugian Negara/ transaksi keuangan lainnya dan menginput kedalam program aplikasi SAK guna menyusun laporan keuangan, merekonsiliasi data transaksi keuangan dengan dokumen BMN serta menggabung data dari aplikasi SAK dengan SIMAKBMN; 2) Menyusun konsep Laporan Keuangan dan Neraca Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian; 3) Memverifikasi kelengkapan, kebenaran Laporan Realisasi Anggaran (LRA) dan neraca dengan cara membandingkan kesesuaian bukti pengeluaran dengan dokumen pendukung (SPM, SP2D dan SSBP, SSPB) untuk kepastian besarnya realisasi anggaran sebelum dan sesudah dilakukan penggabungan kedalam program Sistem Akuntansi Instansi (SAI) untuk mengetahui kepastian nilai asset; 4) Merekonsiliasi LRA, neraca dengan cara membandingkan data realisasi Anggaran data SIMAK BMN guna kesesuaian realisasi belanja modal dan penambahan aset sebelum melakukan rekonsiliasi dengan KPPN; 5) Merekonsiliasi data realisasi anggaran belanja dan pendapatan seluruh satker dengan Direktorat Jenderal Perbendaharaan dengan program Sistem Akuntansi Uang (SAU) guna memperoleh keakuratan realisasi anggaran;

20

6) Mengkonsolidasikan LRA dab neraca dari seluruh satker dengan menggabungkan LRA, neraca kedalam program SAI eselon I untuk dilaporkan ke Biro Keuangan dan Perlengkapan Kementerian Pertanian, sebagai bahan laporan Kementerian Pertanian; 7) Menganalisis LRA, LRP, Neraca seluruh satker dengan membandingkan tahun yang lalu untuk dituangkan kedalam Catatan atas Laporan Keuangan (CaLK) 8) Menyusun Laporan Keuangan Satker Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian untuk pertanggungjawaban Kepala Badan selaku Kuasa Penggunan Anggaran/Barang.

9.

VerifikasiRuang lingkup verifikasi terhadap dokumen pengeluaran anggaran (pertanggungjawaban) mencakup 5 (lima) aspek yakni aspek ketersediaan anggaran, ketetapan tujuan pengeluaran, kebenaran pembebanan anggaran, aspek kebenaran tagihan dan aspek kelengkapan bukti pengeluran sebagai berikut: 1) Aspek Ketersediaan Anggaran Pengujian terhadap dokumen pengeluaran anggaran dilihat dari aspek ketersediaan angaran adalah untuk mengetahui jumlah pengeluaran anggaran yang tercantum dalam dokumen 2) Aspek Ketepatan Tujuan Pengeluaran Pengujian terhadap dokumen pengeluaran anggaran dilihat dari aspek ketepatan tujuan pengeluaran adalah untuk mengetahui apakah tujuan pengeluaran yang tercantum dalam tanda bukti pengeluaran telah sesuai dengan tujuan yang ditetapkan dalam dokumen anggaran; 3) Aspek Kebenaran Pembebanan Dokumen Pengujian terhadap dokumen pengeluaran anggaran dilihat dari aspek kebenaran pembebanan anggaran adalah untuk mengetahui apakah pembebanan anggaran yang tercantum dalam dokumen bukti pengeluaran yang telah dilakukan. 4) Aspek Kebenaran Tagihan Pengujian terdahap dokumen pengeluaran anggaran dilihat dari aspek kebenaran tagihan adalah untuk mengetahui apakah secara formal maupun material bukti pengeluaran telah benar dan sah sehingga layak untuk dibayar. 5) Aspek Kebenaan Kelengkapan Bukti Pengeluaran Pengujian terhadap dokumen pengeluaran anggaran dilihat dari aspek kelengkapan bukti pengeluaran adalah tanda bukti pengeluaran telah dilengkapi dengan persyaratan yang telah diwajibkan, yaitu : a) Lampiran tanda bukti pengeluaran; b) Lampiran dokumen-dokumen tanda bukti pengeluaran.

Pedoman Pelaksanaan Kegiatan dan Anggaran PPSDMP TA.2012

21

10. Pengelolaan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP )10.1. Jenis PenerimaanPNBP adalah bagian yang tidak dapat dipisahkan dari anggaran APBN yaitu pendapatan yang berasal dari penerimaan dalam negeri berupa penerimaan umum dan fungsional. 1) Penerimaan Umum adalah penerimaan yang tidak berasal dari pelaksanaan tugas pokok dan fungsi Kementerian, yang pada dasarnya terdapat pada setiap Kementerian a.l. barang yang dihapuskan/berlebih/rusak, sewa rumah dinas, jasa giro, dst. 2) Penerimaan Fungsional adalah penerimaan yang diperoleh dalam rangka pelaksanaan tugas pokok dan fungsi Kementerian Pertanian a.l. perjanjian kerjasama operasional, jasa persewaan, penjualan hasil samping (ternak, kebun, dst)

10.2. Kelompok PenerimaanDalam Penerimaan Negara Bukan Pajak terdapat 4 kelompok besar PNBP yang terdiri dari: 1) Penerimaan Penjualan Hasil Samping 2) Penerimaan Sewa dan Jasa 3) Penerimaan Pendidikan 4) Penerimaan Lain-lain.

10.3. Penyusunan Target PenerimaanDalam penyusunan target Penerimaan Negara Bukan Pajak agar mengacu pada Surat Edaran Direktur Jenderal Anggaran Nomor SE-49/A/2001 tanggal 9 April 2001. Sumber dana mata anggaran Penerimaan Negara Bukan Pajak agar dibedakan sebagai berikut. 1) Peneriman Umum a) Penjualan Rumah, Gedung Bangunan dan tanah b) Sewa Rumah Dinas, c) dan seterusnya. 2) Penerimaan Fungsional a) Penjualan Hasil Pertanian, Hasil Kebun b) Penjualan Hasil Peternakan c) Sewa Gedung, Bangunan dan Gudang d) dan seterusnya. Sedangkan untuk menentukan besaran target yang dapat diterima mengacu pada PP. Nomor 7 tahun 2004 tanggal 11 Pebruari 2004 tentang ketentuan tarif atas jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak yang berlaku pada Kementerian Pertanian.

10.4. Penggunaan Hasil Penerimaan FungsionalPenggunaan hasil penerimaan fungsional mengacu pada peraturan pemerintah Nomor 73 tahun 1999 tentang Penggunaan PNBP yang bersumber dari kegiatan tertentu dan harus mendapat persetujuan dari Menteri Keuangan yang permohonannya dilengkapi: 1) Tujuan penggunaan dana PNBP 2) Rincian kegiatan pokok yang akan dibiayai PNBP 3) Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak serta tarif yang berlaku.

22

4) Laporan realisasi dan perkiraan tahun anggaran berjalan, serta perkiraan 2 (dua) tahun anggaran mendatang. Dalam pengajuannya dilakukan selambat-lambatnya tanggal 15 Nopember tahun berjalan yang akan diteliti dan dibahas oleh Kementerian keuangan bersama Instansi terkait.

10.5. Prosedur Pencairan Hasil Penerimaan FungsionalPada Instansi Badan PPSDMP pencairan dana Hasil Penerimaan Fungsional yang baru disetujui izin penggunaannya sebesar 90%, yaitu sewa gedung, aula, mess dan pencairannya langsung membuat LS ke KPKN, dengan melampirkan bukti setor SSBP tahun berjalan yang jumlah penyetorannya lebih besar dari jumlah target penerimaan yang tertera dalam DIPA.

10.6. PelaporanDalam pembuatan laporan SPJ/SPJ Bendahara Penerima masing-masing jenis penerimaan (Penerimaan Umum dan Penerimaan fungsional) harus dilampirkan bukti-bukti pendukung antara lain: 1) Surat Setoran Penerimaan Negara Bukan Pajak (SSBP). 2) Copy SPM sepanjang penerimaan yang dipotong melalui daftar gaji. 3) Copy Nota debet dari Bank atas jasa giro yang dipindah bukukan. 4) Kuitansi penerimaan dan bukti-bukti pendukung lainnya. Hal-hal yang perlu mendapat perhatian oleh Bendaharawan dalam pembuatan SPJ adalah sbb.: 1) Apabila dalam satu bulan tidak terdapat penerimaan/penyetoran, maka laporan SPJ tetap dibuat dengan laporan NIHIL 2) Laporan/SPJ tidak dibenarkan digabung untuk beberapa bulan, melainkan harus dibuat setiap bulan; 3) Penerimaan dan penyetoran tahun dinas yang lalu tidak dibenarkan dimasukan pada penerimaan/penyetoran tahun dinas berjalan. 4) Bukti setor dan tanda bukti pengeluaran/kuitansi penerimaan, harus dicantumkan dengan jelas Jenis Penerimaan, lokasi dan nama kantor/satuan kerja yang bersangkutan.

11. Tuntutan Perbendaharaan11.1. Tuntutan Perbendaharaan (TP)Tuntutan Perbendaharaan (TP) ialah tuntutan yang dikenakan terhadap orang atau badan yang menurut pasal 77 ICW dibebani tugas menerima, menyimpan, membayar atau mengeluarkan uang/barang dalam penyimpanannya, telah melakukan kelalaian/ kesalahan yang menimbulkan kerugian Negara.

Prosedur Penyelesaian1) Kepala Kantor/Satuan Kerja melaporkan kepada Kepala Badan PPSDMP bahwa pada kantor/satuan kerjanya telah terjadi kerugian Negara yang disebabkan oleh perbuatan melanggar hukum/lalai yang dilakukan oleh Bendaharawan yang berada di unit organisasinya, tembusan laporan disampaikan kepada : a) Badan Pemeriksa Keuangan;

Pedoman Pelaksanaan Kegiatan dan Anggaran PPSDMP TA.2012

23

b) Sekretaris Jenderal Kementerian Pertanian; c) Inspektur Jenderal Kementerian Pertanian; d) Atasan Langsung dari pejabat yang melapor. e) Kepala Badan PPSDMP tersebut diatas memerintahkan kepada : f) Sekretaris Badan PPSDMP;

g) Kepala Bagian Keuangan Cq. Kepala Sub Perbendaharaan; h) Pihak lainnya yang terkait (bila dipandang perlu). 2) Laporan lengkap hasil penelitian dan pemeriksaan yang dilaksanakan oleh pejabat tersebut pada point 2b diatas, disampaikan kepada Kepala Badan PPSDMP; 3) Kepala Badan PPSDMP meneruskan berkas laporan tersebut disertai dengan

saran/pendapat kepada Menteri Pertanian Cq. Sekretaris Jenderal Kementerian Pertanian untuk diproses lebih lanjut; 4) Menteri Pertanian Cq. Sekretaris Jenderal memerintahkan kepada Kepala Biro Keuangan dan Perlengkapan Cq. Kepala Bagian Perbendaharaan untuk mengadakan penelitian dan pemeriksaan atas berkas laporan dan saran/pendapat yang disampaikan oleh Kepala Badan PPSDMP; 5) Apabila dipandang perlu untuk mendapatkan kebenaran atas laporan dimaksud, Menteri dapat memerintahkan tim TP/TGR Depertemen agar dapat membantu Biro Keuangan untuk meneliti berkas maupun penelitian setempat guna dapat diberikan pertimbangan/saran tindak penyelesaian kasus tersebut; Biro Keuangan dan Tim TP/TGR Kementerian memberikan laporan hasil penelitian yang

dilakukan dan pertimbangan / saran tindak penyelesaian kasus dimaksud kepada Menteri Pertanian disertai dengan konsep surat pengantar kepada Badan Pemeriksa Keuangan untuk penyelesaian selanjutnya.

12. Penatausahaan Kas dan Penyusunan Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) Bendaharawan InstansiBendahara instansi (Bendahara Penerimaan dan Bendahara Pengeluaran) dalam mengelola uang untuk pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) bertanggugjawab secara fungsional dan wajib menatausahakan dan menyusun laporan pertanggungjawabannya dan disamapaikan kepada Bendahara Umum Negara (BUN), atau Kuasa Bendahara Umum Negara, Menteri/Pimpinan Lembaga , dan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Hal ini

merupakan amanah Undang-Undang Nomor 1 tahun 2004 dan Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2006. Penatausahaan kas dan penyusunan laporan pertanggungjawaban (LPJ) Bendahara Instansi merupakan managerial report sebagai sarana pengambilan keputusan dalam pelaksanaan kegiatan operasional seharihariterkait dengan pagu dana yang sesungguhnya, pelengkap SAI dan terkait dengan perkiraan Kas di Bendahara Instansi. Bendahara instansi adalah pejabat fungsional yang diangkat oleh Pengguna Anggaran (PA)/Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) yang secara fungsional bertanggugjawab kepada Bendahara Umum Negara (BUN)/Kuasa Bendahara Umum Negara. Bendahara instansi mempunyai tugas menerima, menyimpan, membayar, menatausahakan dan mempertanggugjawabkan uang dan surat berharga yang berada dalam pengelolaannya. Dalam

24

menjalankan tugasnya bendahara instansi mempunyai kewenangan melakukan pembayaran atas perintah Pengguna Anggaran (PA) / Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) dan wajib menolak perintah bayar dari PA/KPA/PPK apabila persyaratan tidak terpenuhi dan bertanggugjawab secara pribadi atas pembayaran yang dilaksanakannya. Kewajiban yang harus dilaksanakan

oleh Bendahara Instansi adalah menatausahakan seluruh transaksi Satuan Kerja (termasuk Surat Perintah Membayar Langsung/SPM-LS), melakukan pemotongan pajak dan bukan pajak pihak ketiga kepada Negara yang langsung disetorkan ke Kas Negara, menyetorkan seluruh uang negara yang dikuasai ke Kas Negara pada akhir tahun anggaran/kegiatan dan menyampaikan Laporan Pertanggugjawaban kepada Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) paling lambat 10 hari kerja bulan berikutnya dengan disertai salinan rekening Koran. Dalam menjalankan tugas, kewenangan dan kewajiban Bendahara Instansi dapat dibantu oleh Bendahara Pengeluaran Pembantu (BPP) yang diangkat oleh Menteri/Pimpinan Lembaga atau pejabat yang diberi kuasa, atas dasar pertimbangan lokasi dan kompleksitas kegiatan. Bendahara Pengeluaran Pembantu (BPP) mempunyai tugas membantu Bendahara Pengeluaran untuk kelancaran pelaksanaan kegiatan. Ketentuan mengenai penatausahaan kas berlaku juga bagi BPP, sedangkan pada akhir tahun anggaran/kegiatan , BPP wajib menyetorkan seluruh uang negara yang dikuasainya ke kas negara, khusus sisa Uang Persediaan (UP) dikembalikan kepada Bendahara Pengeluaran. Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) BPP disamapaikan kepada Bendahara Pengeluaran paling lambat 5 hari kerja bulan berikutnya, dengan disertai salinan rekening Koran.

12.1. Pembukuan Bendahara InstansiBendahara Instansi wajib menyelenggarakan pembukuan terhadap seluruh penerimaan dan pengeluaran/penyetoran atas penerimaan dan pengeluaran yang meliputi seluruh transaksi dalam rangka pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Satuan Kerja yang berada di bawah pengelolaannnya. Pembukuan seluruh transaksi harus segera dicatat baik secara tulis tangan / atau komputer dalam Buku Kas Umum sebelum dibukukan dan dicatat dalam buku-buku pembantu dan pengawasan anggaran berdasarkan azas perhitungan bruto (kotor). Buku-Buku Bantu/register selain Buku Kas Umum dapat ditentukan oleh Pengguna

Anggaran (PA) /Kuasa Pengguna Anggaran (KPA). Dokumen sumber pembukuan adalah seluruh dokumen terkait dengan uang yang dikelola Bendahara Penerimaan atau Bendahara Pengeluaran serta transaksi dalam rangka

pelaksanaan anggaran satuan kerja, antara lain Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) yang telah mendapat pengesahan; Surat Perintah Membayar Uang Persediaan (SPM-UP)/Surat Perintah Membayar Tambahan Uang Persediaan (TUP)/ Surat Perintah Membayar Penggantian Uang Persediaan (SPM-GUP)/Surat Perintah Membayar Langsung (SPM-LS) yang telah diterbitkan Surat Perintah Pencairan Dana (SP2D); kwitansi/dokumen pembayaran atas uang yang bersumber dari Uang Persediaan atau Langsung (LS) Bendahara Instansi; Faktur Pajak atas potongan uang yang bersumber dari Uang Persediaan (UP) atau Langsung(LS) Bendahara Instansi, Surat Bukti Setoran (SBS)/Bukti Penerimaan Bendahara Penerimaan. Pencatatan seluruh transaksi dalam pembukuan harus sesuai dengan peraturan yang berlaku dan petunjuk pelaksanaan pada Peraturan Direktur Jenderal Perbendaharaan Kementerian Keuangan Nomor

Pedoman Pelaksanaan Kegiatan dan Anggaran PPSDMP TA.2012

25

47/PB/2009 seperti dalam lampiran. Pembukuan dalam Buku Kas Umum dan Buku-Buku Pembantu dengan menggunakan sarana komputer wajib di cetak dan ditandatangani oleh

Bendahara dan Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) sekurang-kurangnya satu kali dalam satu bulan.

12.2. Laporan Pertanggungjawaban (LPJ)Laporan Pertanggungjawaban menyajikan keadaan pembukuan pada bulan pelaporan yang meliputi saldo awal, penambahan, penggunaan, dan saldo akhir dari buku-buku pembantu, keadaan kas baik tunai di brankas dan saldo rekekning bank, hasil rekonsiliasi internal antara pembukuan dengan unit akuntansi serta penjelasan selisih antara saldo pembukuan dan saldo kas pada akhir bulan pelaporan. Laporan Pertangungjawaban (LPJ) disusun oleh Bendahara dan diketahui oleh KPA

berdasarkan Buku Kas Umum, Buku-Buku Pembantu dan Buku Pengawasan Anggaran yang telah diperiksa dan direkonsiliasi oleh KPA/PPK. Laporan Pertanggungjawaban disampaikan secara bulanan dengan disertai salinan rekening Koran kepada BUN/Kuasa BUN, Menteri / Pimpinan Lembaga dan BPK. Sanksi keterlambatan penyampaian LPJ berupa penundaan penerbitan SP2D atas SPM-GUP / SPM-TUP dan tidak membebaskan Bendahara dari kewajiban menyampaikan LPJ bulan bersangkutan.

12.3. Perencanaan KasPerencanaan Kas berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 192/PMK.05/2009, dimana bertujuan untuk memperoleh dana senilai perkiraan penarikan dana untuk membiayai kegiatan sesuai dengan waktu pelaksanaan pada Kementerian/Lembaga. Penyusunan rencana/Jadwal pelaksanaan kegiatan dan Perkiraan Penarikan dan / atau Penyetoran berdasarkan waktu

pelaksanaan kegiatan wajib dibuat oleh Menteri/Pimpinan Lembaga yang dideligasikan kepada Kepala Kantor/Kepala Satuan Kerja. Perencanaan kas yang harus disusun dan dibuat adalah perencanaan kas harian, mingguan dan bulanan.

12.3.1. Perencanaan Kas BulananPerencanaan Kas Bulanan merupakan perkiraan dalam satu tahun anggaran yang dirinci dalam dua belas bulan dan disampaikan paling lambat 10 hari kerja setelah pengesahan DIPA dan jika ada perubahan ,updating/pemutahiran disampaikan tiap bulan, paling lambat 3 hari kerja sebelum bulan penarikan. Fungsinya untuk mendapatkan batas maksimal penyediaan dana yang bias ditarik oleh satker pada bulan bersangkutan. Apabila perkiraan Satker terlalu tinggi sedangkan realisasi SPMnya lebih rendah dari perkiraan maka selisih antara realisasi dan perkiraan penarikan tidak dapat dicairkan , dapat dicairkan kembali apabila dilakukan revisi penyusunan rencana kas bulanan pada bulan berikutnya. Begitu pula sebaliknya

apabila Perkiraan kas yang diajukan lebih rendah dari realisasi SPM, maka selisihnya tidak dapat dicairkan pada bulan bersangkutan, dapat dicairkan kembali apabila dilakukan revisi Perkiraanm Kas pada bulan berikutnya. (Format Terlampir)

26

12.3.2. Perencanaan Kas MingguanPerencanaan Kas Mingguan merupakan perkiraan dalam satu bulan yang dirinci dalam empat periode/minggu. Disusun tiap dua bulan dan disampaikan paling lambat lima hari kerja

sebelum minggu pertama perkiraan. Updating/pemutahiran tiap bulan paling lambat dua hari kerja sebelum minggu pertama perkiraan. Perkiraan mingguan tidak menjadi batas maksimal penarikan dana Satker, tetapi jumlah perkiraan mingguan dalam satu bulan harus sama dengan Perkiraan Penarikan Dana Bulanan. (Format Terlampir)

12.3.3. Perencanaan Kas HarianPerencanaan Kas Harian merupakan perkiraan dalam satu minggu yang dirinci dalam hari kerja pada minggu tersebut. Disusun tiap minggu dan disampaikan setiap hari Kamis minggu sebelumnya. Updating/pemutahiran paling lambat satu hari kerja sebelumnya. Media

penyampaian Perkiraan Penarikan Dana Harian menggunakan Aplikasi Forecating Satker (AFS), dengan diantar langsung berupa ADK dari Aplikasi AFS, Email maupun SMS. ( Format Terlampir)

12.4. Langkah-Langkah Penyusunan Perkiraan Penarikan Dana1) Penyusunan Jadwal Pelaksanaan Kegiatan Penyusunan Jadwal Kegiatan harus sesuai dan mengacu pada kegiatan di RKAKL, dengan membedakan kegiatan yang bersifat Kontraktual (Mengacu pada aturan Kepres 80 Tahun 2003) dan Non Kontraktual ( Kegiatan Rutin tiap bulan dan kegiatan insidental). 2) Penyusunan Perkiraan Penarikan Dana a) Membagi kegiatan yang bersifat kontraktual dan non kontraktual. Kegiatan yang

bersifat kontraktual merupakan kegiatan yang cara pembayarannya melalui kontrak dengan pihak ketiga. Kegiatan Kontraktual terbagi menjadi kegiatan yang sudah

dikontrakkan dan akan dikontrakkan. Perkiraan Penarikan Dana disesuaikan dengan termin pembayaran. b) Menentukan besarnya biaya yang dibutuhkan setiap kegiatan disesuaikan dengan pagu dan jadwal kegiatan. Biaya per kegiatan yang sesuai dengan jadwal kegiatan ini yang kemudian menjadi Perkiraan Penarikan Dana. 3) Updating Perkiraan Penarikan Dana Updating data dilakukan minimal tiap bulan sekali , hal ini Jika ada perubahan kondisi yang merubah jadwal kegiatan dan jadwal penarikan/penyetoran dana. Beberapa hal yang

mengharuskan updating data jika lebih kecil dari perkiraan belanja, revisi yang meubah pagu (revisi kuning), revisi yang tidak merubah pagu (revisi putih), perubahan jadwal pelaksanaan kegiatan, terima SKPA, dan diperkirakan belanja tidak bisa dicairkan.

13. Pemantauan dan Pelaporan13.1. Tujuan Pemantauan1) memantau proses dan kemajuan pelaksanaan sekaligus mendapatkan data dan informasi yang akurat tentang kemajuan yang telah dicapai dari setiap kegiatan: 2) melaksanakan penilaian dan perbaikan terhadap pelaksanaan kegiatan agar berjalan lebih efektif dan efisien sesuai dengan tujuan yang ditetapkan.

Pedoman Pelaksanaan Kegiatan dan Anggaran PPSDMP TA.2012

27

3) mengantisipasi secara dini terhadap permasalahan dan kendala yang dihadapi sehingga dapat segera dicari solusinya. 4) mendapatkan masukan informasi bagi perumusan perencanaan dalam menyusun rancangan pengembangan kegiatan tahap berikutnya.

13.2. Alur PemantauanAlur sistem pemantauan, evaluasi dan pelaporan secara umum dapat dilihat pada Gambar1.

Gambar 1. Alur Sistem Pemantauan, Evaluasi dan Pelaporan

BAPPENAS

Nasional

Outcome/Impact nasional

Kementerian Pertanian

Sektor/ program

Outcome/Impact sektor

Unit Eselon I

Program

Outcome

Unit Eselon-II, UPT Pusat, Dekon/TP SKPD Provinsi

Kegiatan

Output

Tugas Pembantuan di SKPD Kab/Kota

Kegiatan

Output

Keterangan :

= Pemantauan dan Evaluasi

= Pelaporan

13.3. Tatalaksana PelaporanTata cara, urutan, waktu, dan format pelaporan hasil pemantauan program/kegiatan penyuluhan dan pengembangan sumberdaya manusia pertanian diatur sebagai berikut: 1) Setiap penanggung jawab kegiatan pada SKPD Kab/Kota dan Provinsi, Satker Pusat dan UPT-Pusat menyampaikan laporan pelaksanaan kegiatan kepada penanggung jawab program di instansi masing-masing dengan menggunakan Formulir A setiap triwulan paling lambat 3 (tiga) hari kerja setelah triwulan yang bersangkutan berakhir. Sumber data yang digunakan adalah SP2D untuk realisasi anggaran dan menggunakan data target fisik sesuai dengan rencana.

28

2) Setiap penanggung jawab program pada SKPD Kab/Kota dan Provinsi, Satker Pusat dan UPT-Pusat menyusun laporan pelaksanaan program/kegiatan dengan menggunakan Formulir B dan disampaikan kepada Kepala Satker di instansi masing-masing paling lambat 4 (empat) hari kerja setelah triwulan yang bersangkutan berakhir. Sumber data diperoleh dari Formulir A. 3) Kepala SKPD Kab/Kota, Provinsi, Satker Pusat dan UPT-Pusat wajib menyusun laporan dengan menggunakan Formulir C berdasarkan laporan Formulir B dari penanggung jawab program di instansi masing-masing. 4) Kepala SKPD Kab/Kota menyampaikan laporan dalam rangka pelaksanaan Tugas Pembantuan dengan menggunakan Formulir C kepada Bupati/Walikota melalui Kepala Bappeda dan kepada Menteri Pertanian melalui unit organisasi Eselon-I terkait, dan menyampaikan tembusannya kepada SKPD Provinsi yang mempunyai tugas dan kewenangan yang sama. Laporan disampaikan paling lambat 5 (lima) hari kerja setelah triwulan yang bersangkutan berakhir. 5) Kepala SKPD Provinsi menyampaikan laporan dalam rangka pelaksanaan Dekonsentrasi dan/atau Tugas Pembantuan dengan menggunakan Formulir C kepada Gubernur melalui Kepala Bappeda dan kepada Menteri Pertanian melalui unit organisasi Eselon-I terkait. Laporan disampaikan paling lambat 5 (lima) hari kerja setelah triwulan yang bersangkutan berakhir. 6) Kepala SKPD Provinsi setelah menerima laporan Formulir C pelaksanaan Tugas Pembantuan dari SKPD Kab/Kota, merekapitulasi, mengevaluasi dan menyampaikan laporan tersebut kepada Kepala Unit Organisasi Eselon-I yang terkait paling lambat 8 (delapan) hari kerja setelah berakhirnya triwulan yang bersangkutan. 7) Kepala Satker Pusat menyusun dan menyampaikan laporan pelaksanaan program dan kegiatan dengan menggunakan Formulir C kepada Menteri Pertanian melalui Kepala Unit Organisasi Eselon-I terkait paling lambat 5 (lima) hari kerja setelah triwulan yang bersangkutan berakhir. Bagi Satker Pusat yang tidak mempunyai DIPA tersendiri cukup menyusun dan menyampaikan laporan dengan menggunakan Formulir B kepada Kepala Unit Organisasi Eselon-I terkait. 8) Kepala UPT Pusat menyusun dan menyampaikan laporan pelaksanaan program dan kegiatan dengan menggunakan Formulir C kepada Menteri Pertanian melalui Kepala Unit Organisasi Eselon-I terkait dengan tembusan kepada Kepala Daerah dimana kegiatan berlokasi melalui Kepala Bappeda paling lambat 5 (lima) hari kerja setelah triwulan yang bersangkutan berakhir. 9) Kepala Unit Organisasi Eselon-I menyusun dan menyampaikan laporan pelaksanaan program kegiatan dengan menggunakan Formulir C kepada Menteri Pertanian melalui Sekretaris Jenderal paling lambat 10 (sepuluh) hari kerja setelah triwulan yang bersangkutan berakhir. 10) Menteri Pertanian menyusun dan menyampaikan laporan pelaksanaan program dan kegiatan pembangunan pertanian kepada Menteri Negara PPN/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Menteri Keuangan dan Menteri Pendayagunaan

Pedoman Pelaksanaan Kegiatan dan Anggaran PPSDMP TA.2012

29

Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PAN & RB) dengan menggunakan Formulir C paling lambat 14 (empat belas) hari kerja setelah triwulan yang bersangkutan berakhir. Penyusunan laporan tersebut menggunakan data dari laporan Formulir C Unit Organisasi Eselon-I lingkup Kementerian Pertanian. Dalam upaya memudahkan pengisian dan penyampaian laporan, serta mengakomodir beberapa informasi yang diperlukan, maka digunakan software SIMONEV. Jadwal penyampaian laporan dapat dilihat pada Gambar 2.

BAPPENAS

Nasional (tgl 25 Triwulan berikutnya)

Sekjen Kementerian Pertanian (Biro yg Membidangi Monev) Unit Eselon I

Sektor/program (14 hari kerja Triwulan berikutnya)

Sub-sektor/Sub-program (10 hari kerja Triwulan berikutnya) Kompilasi Kegiatan Dana TP (8 hari kerja Triwulan berikutnya) Kegiatan Dana Dekonsentrasi (5 hari kerja Triwulan berikutnya)

SKPD Provinsi

SKPD Kab/Kota

Kegiatan Dana TP (5 hari kerja Triwulan berikutnya)

Gambar 2. Alur dan Jadwal Penyampaian Laporan Triwulan

13.4. Jenis Laporan, Media Penyampaian dan Instansi Penerima PelaporanJenis pelaporan hasil pemantauan, periode waktu pelaporan, instansi pelapor, formulir laporan dan instansi penerima laporan diatur sebagaimana pada Tabel 1, 2 dan 3.

30

Tabel 1. Jenis Laporan, Format dan Waktu Penyampaian Laporan Pemantauan Kabupaten/Kota

PERIODESASI DAN MEKANISME PELAPORAN PELAKSANAAN RENCANA PEMBANGUNAN JENIS LAPORAN Laporan Dlm Rangka Pelaksanaan Dana Pembantuan di SKPD Kabupaten/Kota PERIODE LAPORAN PELAPOR a. Penanggung Jawab Kegiatan Triwulan b. Penanggung Jawab Program Form - B FORMULIR PELAPORAN Form - A PENYAMPAIAN LAPORAN 3 hari kerja setelah triwulan berakhir 4 hari kerja setelah triwulan berakhir 5 hari kerja setelah triwulan berakhir PENERIMA LAPORAN Penanggung Jawab Program TEMBUSAN

Kepala SKPD

c. Kepala SKPD

Form - C

1. Ka.unit oragini-. sasi terkait ( ES.I ) 2. Ka. Bappeda Ka.Bappeda Prop

Ka. SKPD Propinsi yg tugas dan kewenangan nya sama

d. Ka. Bappeda Kab/Kota

Form - C

10 hari kerja setelah triwulan berakhir

Tabel 2. Jenis Laporan, Format dan Waktu Penyampaian Laporan Pemantauan Provinsi

Pedoman Pelaksanaan Kegiatan dan Anggaran PPSDMP TA.2012

31

Tabel 3. Jenis Laporan, Format dan Waktu Penyampaian Laporan Tingkat Pusat

13.5. Format Pelaporan Hasil Pemantauan13.5.1. Format Laporan Pemantauan Satuan Kerja Perangkat Daerah(SKPD) Kab/KotaSetiap SKPD lingkup pertanian Kabupaten/Kota menyusun laporan hasil pemantauan dengan menggunakan formulir laporan yang ditetapkan di dalam Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 2006. Penanggung jawab kegiatan menyusun laporan pemantauan dengan menggunakan Formulir A. Laporan penanggung jawab kegiatan disampaikan kepada penanggung jawab program pada Satuan Kerja masing-masing. Penanggung jawab program menyusun laporan hasil pemantauan dengan menggunakan Formulir B. Laporan Penanggung Jawab program Kabupaten/Kota disampaikan kepada Kepala SKPD. Kepala SKPD

menyusun laporan hasil pemantauan berdasarkan laporan dari

Penanggung Jawab Program dengan menggunakan Formulir C. Laporan tersebut disampaikan Kepada Menteri Pertanian melalui SKPD Provinsi yang ruang lingkup tugas dan fungsinya sama.

13.5.2. Format Laporan Pemantauan Satuan Kerja Perangkat Daerah(SKPD) ProvinsiSetiap SKPD lingkup pertanian Provinsi menyusun laporan hasil pemantauan dengan menggunakan formulir laporan yang ditetapkan di dalam Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 2006. Penanggung jawab kegiatan menyusun laporan hasil pemantauan dengan menggunakan Formulir A. Laporan penanggung jawab kegiatan disampaikan kepada penanggung jawab program pada Satuan Kerja masing-masing. Penanggung jawab program menyusun laporan hasil pemantauan dengan menggunakan formulir B. Laporan Penanggung Jawab program disampaikan kepada Kepala Satuan Kerja (SKPD). Kepala SKPD Provinsi menyusun laporan hasil pemantauan berdasarkan laporan dari Penanggung 32

Jawab Program dalam Satuan kerjanya dari SKPD Kabupaten/Kota yang ruang lingkup tugas dan fungsinya sama dengan menggunakan formulir C. Laporan tersebut disampaikan Kepada Menteri Pertanian melalui Eselon-I terkait.

13.5.3. Format Laporan Pemantauan Satuan Kerja Pusat dan UPT PusatSetiap Satuan Kerja Pusat (Eselon-II/UPTPusat) di lingkup Kementerian Pertanian menyusun laporan hasil pemantauan dengan menggunakan formulir laporan yang ditetapkan di dalam Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 2006. Penanggung jawab kegiatan menyusun laporan hasil pemantauan dengan menggunakan Formulir A. Laporan Penanggung Jawab Kegiatan disampaikan kepada penanggung Jawab Program.

Penanggungjawab Program menyusun laporan dengan menggunakan Formulir B. Kepala satuan kerja menyusun laporan hasil pemantauan di Satuan Kerja kepada Menteri

pertanian melalui Eselon-I dengan menggunakan Formulir C. Bila Satuan kerja dimaksud tidak mempunyai DIPA sendiri, maka laporan kepala Satuan kerja cukup menggunakan Formulir B.

13.5.4. Format Laporan Pemantauan Unit Organisasi Eselon-IKepala Unit Organisasi Eselon-I menyusun laporan hasil pemantauan pelaksanaan rencana pembangunan dengan menggunakan laporan hasil pemantauan Satuan Kerja lingkup Eselon-I dan Laporan SKPD (pelaksanaan DK & TP), dengan menggunakan Formulir C. Laporan Hasil pemantauan Unit Organisasi Eselon-I disampaikan kepada Menteri Pertanian.

13.5.5. Format Laporan Pemantauan Kementerian PertanianMenteri Pertanian menyusun laporan hasil pemantauan Kementerian Pertanian dengan menggunakan laporan hasil pemantauan dari Eselon-I lingkup Kementerian Pertanian dengan menggunakan Formulir C. Laporan hasil pemantauan Kementerian Pertanian disampaikan dengan menggunakan Formulir C, kepada Menteri Negara Perencanaan Nasional /Kepala Bappenas.

13.6. Pedoman Pengisian Formulir Hasil PemantauanFormulir laporan hasil pemantauan pelaksanaan rencana pembangunan yang digunakan pada pedoman ini mengikuti ketentuan yang telah diatur dalam lampiran Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 2006 tentang Tata Cara Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan, yang terdiri dari Formulir A, B, dan C. 1) Formulir A: Formulir yang harus disi oleh Setiap Penanggung Jawab Kegiatan. 2) Formulir B: Formulir yang harus diisi oleh Penanggung Jawab Program. 3) Formulir C: Formulir yang harus diisi oleh Kepala Satuan Kerja Pusat & SKPD serta Menteri Pertanian. Rincian petunjuk pengisian formulir beserta contohnya dapat dilihat pada Lampiran II

Pedoman Pelaksanaan Kegiatan dan Anggaran PPSDMP TA.2012

33

14. Evaluasi Kinerja14.1. TujuanTujuan evaluasi adalah untuk mengetahui : (1) pencapaian kinerja; (2) Output, outcome dan keberhasilan program dan kegiatan; (3) gambaran potensi pengembangan; dan (4) permasalahan yang dihadapi, solusi yang dilakukan dan rekomendasi perbaikan di masa mendatang.

14.2. Mekanisme Evaluasi KinerjaEvaluasi pelaksanaan program/kegiatan disusun menggunakan format dengan pendekatan indikator kinerja dan menggunakan alat ukur kerangka logis ( input, output, outcome, benefit dan impact). Secara umum hirarki pelaksanaan evaluasi secara berjenjang menurun dimulai dari level pemerintahan yang lebih tinggi mengevaluasi pelaksanaan di level bawahnya. Sedangkan periode pelaksanaan evaluasi diatur sebagai berikut: 1) Di tingkat Kementerian Pertanian minimal satu kali setiap tahun melakukan evaluasi pelaksanaan Rencana Kerja dan minimal satu kali setiap lima tahun melakukan evaluasi pelaksanaan Rencana Strategis. Evaluasi dilakukan untuk menilai capaian kinerja benefit dan impact pada tingkat Kementerian dan outcome pada tingkat masing-masing Eselon-I dengan menggunakan metode evaluasi yang relevan, seperti rapat koordinasi dan atau kunjungan ke daerah/ke lapang. Evaluasi dilakukan pada kegiatan yang telah dilaksanakan tahun sebelumnya. 2) Di tingkat Eselon-I minimal satu kali setiap tahun melakukan evaluasi pelaksanaan Rencana Kerja dan minimal satu kali setiap lima tahun melakukan evaluasi pelaksanaan Rencana Strategis pada masing-masing unit kerja Eselon-II. Evaluasi dilakukan untuk menilai capaian outcome Eselon-I yang bersangkutan dan output pada Eselon-II di unit kerjanya dengan menggunakan metode yang paling relevan, antara lain metode rapat koordinasi, desk-study, atau kunjungan ke provinsi/kabupaten/kota dan atau ke lapangan. 3) Di tingkat Eselon-II minimal satu kali setiap tahun melakukan evaluasi pelaksanaan Rencana Kerja dan minimal satu kali setiap lima tahun melakukan evaluasi pelaksanaan Rencana Strategis untuk mengukur capaian output dengan menggunakan metode yang relevan. 4) Di tingkat SKPD lingkup pertanian provinsi minimal satu kali setiap tahun melakukan evaluasi pelaksanaan Rencana Kerja (program/kegiatan) untuk mengukur capaian outcome dari program dan output kegiatan yang telah dilaksanakan di wilayahnya pada tahun yang lalu dengan menggunakan metode yang relevan. 5) Di tingkat SKPD lingkup pertanian kabupaten/kota minimal satu kali setiap tahun melakukan evaluasi pelaksanaan Rencana Kerja (kegiatan) untuk mengukur capaian output kegiatan yang telah dilaksanakan di wilayahnya pada tahun yang lalu dengan menggunakan metode yang relevan.

34

14.3. Pelaporan Hasil Evaluasi Rencana Kerja (Renja)14.3.1. Laporan Evaluasi Pelaksanaan Renja Dekonsentrasi dan Tugas PembantuanSetiap Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) Provinsi dan Kabupaten/Kota paling lambat 15 (lima belas) hari setelah berakhir tahun pelaksanaan APBN diharuskan untuk melakukan evaluasi pelaksanaan Renja Dekonsentrasi (DK), dan atau Tugas Pembantuan (TP). Evaluasi dilakukan berdasarkan sumberdaya yang digunakan; Indikator dan sasaran kinerja keluaran untuk kegiatan, dan atau indikator dan sasaran kinerja hasil untuk program. Hasil Evaluasi pelaksanaan DK , dan atau TP masing-masing SKPD dilaporkan secara berjenjang kepada Menteri Pertanian melalui Unit Organisasi (Eselon-I) terkait. Berdasarkan laporan evaluasi pelaksanaan DK, dan atau TP tersebut, dapat dimanfaatkan oleh eselon-I terkait untuk menyusun Laporan Evaluasi Renja Satuan Kerja Pusat terkait.

14.3.2. Laporan Evaluasi Pelaksanaan Renja Satuan Kerja Pusat/ UPTSetiap Satuan Kerja Pusat (Eselon-II) maupun Unit Pelaksanaan Teknis (UPT) Pusat lingkup Kementerian Pertanian menyusun Laporan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Kerja masingmasing Satuan Kerja di Pusat/UPT serta evaluasi Rencana Kerja hasil kompilasi Renja SKPD Provinsi, Kab/Kota paling lambat 1 (satu) bulan setelah berakhirnya tahun pelaksanaan APBN. Evaluasi dilakukan berdasarkan sumberdaya yang digunakan; Indikator dan sasaran kinerja keluaran untuk kegiatan, dan atau indikator dan sasaran kinerja hasil untuk program. Laporan disampaikan kepada Menteri Pertanian secara berjenjang melalui Unit Organisasi (Eselon-I) yang terkait. Laporan evaluasi Rencana Kerja Satuan Kerja tersebut akan

digunakan oleh Eselon-I untuk digunakan sebagai bahan penyusunan evaluasi Rencana Kerja Eselon-I.

14.3.3. Laporan Evaluasi Pelaksanaan Renja Eselon-IUnit Organisasi Eselon-I menyusun Laporan Evaluasi Pelaksanaan Renja dengan menggunakan Laporan evaluasi dari Satuan Kerja lingkup Eselon-I (Pusat & Daerah) dan SKPD. Evaluasi dilakukan berdasarkan sumberdaya yang digunakan, indikator dan sasaran kinerja keluaran untuk kegiatan, dan atau indikator dan sasaran kinerja hasil untuk program. Laporan evaluasi dari Eselon-I dilaporkan kepada Menteri Pertanian melalui Sekretariat Jenderal paling lambat 45 (empat puluh lima) hari setelah berakhir pelaksanaan APBN. Laporan evaluasi Eselon-I lingkup Kementerian Pertanian akan digunakan sebagai bahan untuk penyusunan laporan evaluasi Renja Kementerian Pertanian.

14.3.4. Laporan Evaluasi Pelaksanaan Renja Kementerian PertanianMenteri Pertanian paling lambat 2 (dua) bulan setelah berakhirnya pelaksanaan APBN sudah harus menyusun Laporan Evaluasi Renja dengan menggunakan Laporan evaluasi Renja dari Eselon-I lingkup Kementerian Pertanian. Evaluasi dilakukan berdasarkan sumberdaya yang digunakan; indikator dan sasaran hasil maupun dampak dari suatu program. Laporan tersebut disampaikan kepada Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala

Pedoman Pelaksanaan Kegiatan dan Anggaran PPSDMP TA.2012

35

Badan Perencanaan Pembangunan Nasional

untuk selanjutnya digunakan dalam

penyusunan Laporan Evaluasi Renca Kerja Pemerintah (RKP).

14.4. Laporan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Strategis (Renstra)14.4.1. Laporan Evaluasi Renstra Satuan KerjaSetiap Satuan Kerja Pusat dan UPT Pusat, minimal satu kali dalam lima tahun melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan Renstra. Evaluasi disusun dengan menggunakan laporan evaluasi Dekonsentrasi dan atau Tugas Pembantuan SKPD terkait maupun evaluasi kegiatan Satker sendiri selama periode minimal empat tahun dengan menggunakan bahan analisis laporan evaluasi Renja berupa pencapaian indikator dan sasaran keluaran maupun hasil (outcome). Evaluasi setiap Satuan Kerja dilaksanakan paling lambat enam bulan sebelum berakhir untuk disampaikan kepada Eselon-I terkait.

14.4.2. Laporan Evaluasi Pelaksanaan Renstra EselonIEselon-I menyiapkan laporan evaluasi Renstra dengan menggunakan bahan laporan Evaluasi Pelaksanaan Renstra Satuan Kerja lingkup Eselon-I yang bersangkutan selama periode minimal empat tahun dengan bahan analisis laporan evaluasi Renja dan Renstra berupa pencapaian indikator dan sasaran hasil (outcome). Laporan Evaluasi Renstra Eselon-I disampaikan kepada Menteri Pertanian, paling lambat tiga bulan sebelum berakhirnya pelaksanaan Renstra tersebut melalui Sekretariat Jenderal.

14.4.3. Laporan Evaluasi Pelaksanaan Renstra Kementerian PertanianMenteri Pertanian minimal satu kali dalam lima tahun menggunakan Laporan Evaluasi Pelaksanaan Renstra Eselon-I untuk menyusun laporan evaluasi pelaksanaan Renstra Kementerian Pertanian dengan menggunakan data periode minimal empat tahun meliputi pencapaian indikator dan sasaran hasil (outcome) dan dampak. Laporan Evaluasi Pelaksanaan Renstra tersebut disampaikan paling lambat dua bulan sebelum berakhir periode pelaksanaanaan Renstra. Laporan Evaluasi Renstra Kementerian Pertanian akan digunakan sebagai bahan penyusunan Laporan Evaluasi RPJM Nasional oleh Menteri Negera Perencanaan/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional.

14.5. Format Pelaporan Evaluasi KinerjaFormat pelaporan evaluasi kinerja Renja maupun Renstra setidaknya memenuhi persyaratan standar antara lain: (1) memiliki judul evaluasi yang secara jelas; (2) memuat tabel, figur dan grafik; (3) memuat ringkasan eksekutif yang berisi uraian singkat evaluasi tidak lebih dari 5 halaman, serta penjelasan mengenai kekuatan dan kelemahan pemilihan design evaluasi; (4) latar belakang; (5) metodologi; (6) pelaksanaan; (7) hasil evaluasi; (8) kesimpulan dan saran; dan (9) lampiran-lampiran. Agar hasil evaluasi dapat dikomunikasikan dengan baik dan efektif, pelaksana evaluasi perlu menyampaikan ringkasan eksekutif dan melakukan presentasi dalam bentuk audio visual di depan para pengambil keputusan. Hasil evaluasi akan sangat bermanfaat apabila disebar-

36

luaskan kepada pengambil keputusan dan pengguna lainnya untuk dapat ditindaklanjuti bagi penyempurnaan di masa mendatang. Format Laporan Evaluasi Kinerja Renja dan Renstra dapat dilihat pada Gambar 3. Box: Format Laporan Evaluasi Kinerja Renja dan Renstra Judul evaluasi Judul dan jenis evaluasi Judul program yang dievaluasi Identifikasi pelaksana evaluasi, serta jadual penyerahan evaluasi Tabel Judul Tabel dan sub judul tabel Index tabel figur dan grafik Ringkasan eksekutif Gambaran singkat evaluasi tidak lebih dari 5 halaman Uraian kekuatan dan kelemahan pemilihan design evaluasi. Latar Belakang Deskripsi program yang erat kaitannya dengan kebutuhan, tujuan, serta sistem pelaksanaan program Tujuan melakukan evaluasi dalam konteks ruang lingkup, serta aspek-aspek yang akan dievaluasi Deskripsi studi evaluasi lain yang pernah dilakukan Metodologi Disain studi evaluasi Pendekatan yang digunakan Pengumpulan data Analisis data Pelaksanaan Program................................. Tujuan dan sasaran................ Pelaksanaan........................... Hasil Evaluasi Hasil yang dicapai................... Faktor Penunjang/Penghambat Pembahasan/Analisis ............. Kesimpulan dan Rekomendasi Kesimpulan Rekomendasi Lampiran Kerangka kerja studi evaluasi Tabel-tabel tambahan Sumber rujukan Daftar istilah

Gambar 3. Format Laporan Evaluasi Kinerja Renja dan Renstra

15. Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (Sistem AKIP)15.1. Sistem Pelaporan Kinerja Instansi PemerintahPelaporan merupakan salah satu kegiatan yang sangat penting di dalam proses pembangunan. Pelaporan dilakukan untuk memberikan informasi yang cepat, tepat, dan akurat kepada

pemangku kepentingan/pimpinan sebagai bahan pengambilan keputusan sesuai dengan kondisi yang terjadi serta penentuan kebijakan yang relevan.

Pedoman Pelaksanaan Kegiatan dan Anggaran PPSDMP TA.2012

37

Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (Sistem AKIP)

merupakan

perwujudan

pertanggungjawaban pelaksanaan tugas pokok dan fungsi serta pengelolaan sumberdaya pelaksanaan kebijakan dan program yang dipercayakan kepada setiap instansi pemerintah, berdasarkan suatu sistem akuntabilitas yang memadai. Output SAKIP adalah Laporan

Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP) yang dilakukan melalui proses penyusunan rencana strategis, penyusunan rencana kinerja, pencapaian sasaran. Dalam SAKIP terdapat dokumen perencanaan yang mempunyai keterkaitan yang sangat erat, antara rencana strategis, rencana kinerja dan penetapan kinerja. Renstra memberikan arah pembangunan organisasi jangka menengah, sedangkan rencana kinerja dan penetapan kinerja merupakan target dan komitmen kinerja yang akan diwujudkan pad