of 40 /40
PERMAINAN BERBASIS KETERAMPILAN SOSIAL GERAK KINESTETIK DAN KEBUGARAN JASMANI SISWA SD Supriya di Siti Nurrochmah Universitas Negeri Malang, Jl. Semarang 5 Malang E-mail: [email protected] [email protected] Abstrak: Permainan Berbasis Keterampilan Sosial Gerak Kinestetik dan Kebugaran Jasmani Siswa SD. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan need assessment dan pengembangan produk model permainan berbasis keterampilan sosial gerak kenistetik dan kebugaran jasmani. Rancangan penelitian pada tahap pertama menggunakan jenis penelitian deskriptif yang dilakukan dengan metode survey. Hasil yang didapat adalah : 1) pengembangan instrumen keterampilan sosial diperoleh 25 butir pernyataan dan hasil pengujian reliabilitas alat ukur nilai keterampilan sosial terdiri tujuh dimensi diperoleh reliabilitas r = 0,84, 2) 1) Hasil uji kelompok kecil; aspek kemenarikan rata-rata 77,1%, kesenangan 76,7%, kemudahan 91,0%, tingkat kelelahan 81,7% kategori cukup lelah sampai sangat lelah 2) Hasil uji kelompok besar; aspek kemenarikan rata-rata 78,3%, kesenangan 79,8%, kemudahan 88,3%, tingkat kelelahan 78,1% kategori cukup lelah sampai sangat lelah 3) Untuk aspek sosial dari unsur membangun kedekatan rata-rata 75,1% , kerjasma 90,3%, pegendalian emosi 73,1%, dan meningkatkan komunikasi 72,3% untuk uji keompok kecil, 4) Uji kelompok besar dari unsur membangun kedekatan rata-rata 75,2% , kerjasma 75,7%, pegendalian emosi 73,0%, dan meningkatkan komunikasi 76,4%, 5) Model permainan yang hasil pengembangan pada penelitian ini ada 12 model permainan, 6) Masing-masing permainan berisi 6 komponen yakni: Tujuan permainan, perlengkapan, prosedur permainan, perarturan permainan, serta instrumen penilaian keterampilan sosial dan gerak kinestetik. Kata kunci: keterampilan sosial, gerak kinestetik, kebugaran jasmani Pendidikan adalah fenomena antropologis yang sudah berlangsung cukup lama dalam kehidupan manusia. Terminologi pendidikan dipahami sebagai proses pengembangan seluruh potensi manusia. Tujuan Pendidikan Undang-undang Nomor 20

lp2m.um.ac.idlp2m.um.ac.id/.../2015/02/Dr.-SUPRIYADI-M.Kes_artikel.docx · Web viewPERMAINAN BERBASIS KETERAMPILAN SOSIAL GERAK KINESTETIK DAN KEBUGARAN JASMANI SISWA SD. S. u. p

  • Author
    lythuy

  • View
    220

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of lp2m.um.ac.idlp2m.um.ac.id/.../2015/02/Dr.-SUPRIYADI-M.Kes_artikel.docx · Web viewPERMAINAN...

PERMAINAN BERBASIS KETERAMPILAN SOSIAL GERAK KINESTETIK DAN KEBUGARAN JASMANI SISWA SD

Supriyadi

Siti Nurrochmah

Universitas Negeri Malang, Jl. Semarang 5 Malang E-mail: [email protected] [email protected]

Abstrak: Permainan Berbasis Keterampilan Sosial Gerak Kinestetik dan Kebugaran Jasmani Siswa SD. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan need assessment dan pengembangan produk model permainan berbasis keterampilan sosial gerak kenistetik dan kebugaran jasmani. Rancangan penelitian pada tahap pertama menggunakan jenis penelitian deskriptif yang dilakukan dengan metode survey. Hasil yang didapat adalah : 1) pengembangan instrumen keterampilan sosial diperoleh 25 butir pernyataan dan hasil pengujian reliabilitas alat ukur nilai keterampilan sosial terdiri tujuh dimensi diperoleh reliabilitas r = 0,84, 2) 1) Hasil uji kelompok kecil; aspek kemenarikan rata-rata 77,1%, kesenangan 76,7%, kemudahan 91,0%, tingkat kelelahan 81,7% kategori cukup lelah sampai sangat lelah 2) Hasil uji kelompok besar; aspek kemenarikan rata-rata 78,3%, kesenangan 79,8%, kemudahan 88,3%, tingkat kelelahan

78,1% kategori cukup lelah sampai sangat lelah 3) Untuk aspek sosial dari unsur membangun kedekatan rata-rata 75,1% , kerjasma 90,3%, pegendalian emosi 73,1%, dan meningkatkan komunikasi 72,3% untuk uji keompok kecil, 4) Uji kelompok besar dari unsur membangun kedekatan rata-rata 75,2% , kerjasma 75,7%, pegendalian emosi 73,0%, dan meningkatkan komunikasi 76,4%, 5) Model permainan yang hasil pengembangan pada penelitian ini ada 12 model permainan, 6) Masing-masing permainan berisi 6 komponen yakni: Tujuan permainan, perlengkapan, prosedur permainan, perarturan permainan, serta instrumen penilaian keterampilan sosial dan gerak kinestetik.

Kata kunci: keterampilan sosial, gerak kinestetik, kebugaran jasmani

Pendidikan adalah fenomena antropologis yang sudah berlangsung cukup lama dalam kehidupan manusia. Terminologi pendidikan dipahami sebagai proses pengembangan seluruh potensi manusia. Tujuan Pendidikan Undang-undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pasal 3, tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Sejalan dengan itu, pada periode 2010-2014, Kementerian Pendidikan Nasional menetapkan visi terselenggaranya layanan prima pendidikan nasional untuk membentuk insan Indonesia cerdas komprehensif (Kemendiknas, 2010). Insan Indonesia cerdas komprehensif adalah insan yang cerdas spiritual, cerdas emosional, cerdas sosial, cerdas intelektual dan cerdas kinestetis.

Sebagai satu dari berbagai mata pelajaran yang diajarkan di sekolah, pendidikan jasmani memiliki peran yang penting dalam proses pendidikan siswa. Terdapat tiga aspek yang dapat disentuh melalui pendidikan jasmani (Schmottlach & McManama, 2010) yaitu: psikomotor, sikap (afeksi), dan kecerdasan (kognisi). Ketiga aspek di atas dapat melebur ke dalam suatu aktivitas yang dinamakan pendidikan jasmani. Akan tetapi pada kenyataannya hasil penelitian

yang dilakukan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Pusat Kurikulum menunjukkan

1

bahwa praktek pembelajaran pendidikan jasmani di sekolah berupa perilaku motorik, yang menekankan penguasaan teknik dasar dan keterampilan olahraga, tidak memasukkan unsur kognitif-reflektif dan afektif dalam kegiatannya. Seharusnya agar dapat memberikan warna kepada siswa, guru merancang program pendidikan jasmani yang menyeluruh. Program yang telah dirancang sedemikian rupa oleh guru agar ketiga aspek yang telah disebut di atas dapat tercapai. Demikian juga keterkaitan antara pendidikan jasmani dan tanggung jawab sosial menjadi penting dalam proses pembelajaran.

Aktivitas sosial merupakan suatu kebutuhan bagi kehidupan manusia. Kebutuhan tersebut merupakan kebutuhan dasar untuk merasa aman, diterima, dan bermanfaat bagi kehidupan masyarakat. Setiap manusia diharapkan mampu menemukan cara mereka yang unik untuk ikut menyumbang dalam berbagai aktivitas serta bertanggung jawab pada setiap perilaku yang dilakukan.

Dalam hubungannya dengan prestasi diri dan sebagai mahluk sosial, maka perlu penekanan lebih pada keterampilan sosial dan kemampuan penyesuaian diri terhadap lingkungan sekitarnya, biasanya disebut dengan aspek psikososial. Keterampilan sosial harus mulai dikembangkan sejak masih anak-anak, dengan mengembangkan keterampilan sosial sejak dini maka akan memudahkan anak dalam memenuhi tugas-tugas perkembangan berikutnya sehingga ia dapat berkembang secara normal dan sehat saat ia remaja atau dewasa Yonathan (2001) berpendapat bahwa keterampilan sosial merupakan kemampuan individu berinteraksi dengan individu lain dalam konteks sosial yang bermanfaat baik secara individu maupun kelompok. Keterampilan sosial mempengaruhi penyesuaian individu, individu yang memiliki keterampilan sosial tinggi, cenderung mendapat penerimaan sosial lebih baik, sedangkan individu yang memiliki keterampilan sosial rendah cenderung mendapat

penerimaan sosial kurang baik (Darmiany, 2004).

Kaitannya dengan hasil belajar, Suherman (2008) melakukan pengkajian tentang hasil belajar dan keterampilan sosial, kesimpulan hasil penelitiannya dilaporkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan terhadap perolehan hasil belajar antara kelompok siswa yang memiliki keterampilan sosial tinggi dengan kelompok siswa yang memiliki keterampilan sosial rendah.

Pesatnya kemajuan ilmu dan teknologi ditandai oleh banyaknya alat yang diciptakan untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia, seperti alat tranportasi dan komunikasi, juga alat hiburan seperti TV, video game, dan play station. Pada satu sisi kehidupan manusia menjadi lebih nyaman. Pada sisi yang lain, hilangnya kesempatan bergerak alamiah manusia. Ditunjang dengan lingkungan kurang aman dan nyaman, orang tua bekerja lebih, daya tarik hiburan seperti video game mejadi semakin kuat untuk anak-anak, banyak anak yang semakin malas untuk bermain di luar rumah setelah pulang sekolah.

(10)

Beberapa penelitian menunjukkan: (1) Anak-anak Amerika menghabiskan lebih banyak waktu menonton televisi dan bermain video game dari pada yang mereka lakukan pada hal lain sebelum tidur, (2) Anak-anak menonton televisi rata-rata 25 hingga 27 jam seminggu, (3) Banyak anak menghabiskan waktu kurang dari 15 menit sehari untuk terlibat dalam aktivitas jasmani, (Hastie & Martin, 2006). Semua temuan ini menunjukkan bahwa anak-anak menjadi makin kurang aktif dalam kegiatan jasmani, lebih mengkhawatirkan lagi adalah hasil penelitian Hovel yang dinyatakan oleh (Hastie & Martin, 2006) bahwa aktivitas jasmani anak-anak terus berkurang karena usia, dengan penurunan secara signifikan dalam aktivitas fisik, terjadi antara

kelas empat dan enam. Hilangnya kesempatan gerak alamiah manusia tentu akan membawa dampak seperti: hipokinetik, gangguan jantung, kegemukan, dan sosialisasi.

Bermain merupakan kegiatan yang penting bagi pertumbuhan dan perkembangan fisik, sosial, emosi, intelektual, dan spiritual anak sekolah dasar. Dengan bermain anak dapat mengenal lingkungan, berinteraksi, serta mengembangkan emosi dan imajinasi dengan baik. Bermain memiliki fungsi yang sangat luas, seperti untuk anak, untuk guru, orang tua dan fungsi lainnya. Dengan bermain dapat mengembangkan fisik, motorik, sosial, emosi, kognitif, daya cipta (kreativitas), bahasa, perilaku, ketajaman pengindraan, melepaskan ketegangan, dan terapi bagi fisik, mental ataupun gangguan perkembangan lainnya (Simon, Hartati & Arsilah,

2007). Karena teritorial pergaulannya mulai berkembang dan meluas, maka anak usia SD

perkembangan keterampilan motorik, sosialnya perlu ditingkatkan.

Aktivitas Jasmani

Aktivitas jasmani menurut Morrow, Jackson, Disch, dan Mood (2000) adalah gerakan tubuh yang dihasilkan oleh kontraksi otot rangka untuk meningkatkan pengeluaran energi. Aktivitas jasmani adalah gerakan tubuh dari jenis apa pun dan mungkin termasuk rekreasi, kebugaran dan kegiatan olahraga seperti lompat tali, bermain sepakbola, angkat beban, serta kegiatan sehari-hari seperti berjalan kaki, naik tangga atau menyapu (Ballard, et all, 2005). Aktivitas jasmani adalah setiap kegiatan yang mengharuskan seseorang untuk memindahkan atau menggerakan tubuh berupa latihan, olahraga, menari, dan bentuk lain dari kegiatan rekreasi (Hastie & Martin, 2006).

Powers dan Howley (2010) berpendapat bahwa aktivitas jasmani adalah bentuk dari aktivitas otot yang dapat digunakan untuk memperbaiki kebugaran jasmani. Aktivitas jasmani didefinisikan sebagai gerakan tubuh yang dihasilkan oleh kontraksi otot rangka yang meningkatkan pengeluaran energi di atas tingkat istirahat. Manfaat dari aktivitas jasmani secara teratur meliputi: (a) Mengurangi risiko penyakit kronis kelebihan berat badan, diabetes dan lainnya; (b) Membantu dalam prestasi akademis; (c) Membantu anak-anak merasa lebih baik; (d) Mengurangi risiko depresi dan efek stress; (e) Membantu anak-anak mempersiapkan diri untuk menjadi anggota masyarakat yang produktif dan sehat; (f) Meningkatkan kualitas hidup secara keseluruhan.

Sebuah aspek penting dalam aktivitas jasmani adalah untuk membantu anak untuk bersosialisasi antar individu. Sebuah program kegiatan fisik menawarkan kesempatan tak terbatas untuk mengembangkan pemahaman sosial yang luas, kontak awal antara budaya masyarakat yang sebelumnya jauh dapat dilakukan melalui kepentingan bersama dalam olahraga (Mood, Musker, & Rink, 2007).

Diberbagai negara telah dilakukan penelitian pada masalah kebugaran jasmani untuk anak- anak, agar mereka dapat terus tumbuh dan berkembang dengan optimal. Berbagai bentuk formula telah dirancang oleh para ahli melalui kajian-kajian penelitian mendalam dengan tujuan meningkatkan aktivitas gerak jasmani. Formula-formula tersebut dirancang melalui berbagai bentuk intervensi di sekolah dengan berbagai cara, salah satu cara intervensi adalah melalui kurikulum dan pelajaran pendidikan jasmani. Intervensi yang dimaksud adalah sebuah program atau set of actions yang dirancang atau dimodifikasi dengan hasil akhir sehat (health outcome) (Pate, Davis, Robinson, Stone, McKenzie, & Young, 2006). Banyak intervensi dilakukan di sekolah melalui pelajaran pendidikan jasmani, karena pendidikan jasmani

merupakan laboratium yang bagus tidak hanya peningkatan kebugaran jasmani tetapi juga membangun kekuatan otak.

Sekolah dan masyarakat memiliki potensi untuk meningkatkan kesehatan anak dengan menyediakan instruksi, program, pelayanan untuk meningkatkan kepuasan aktivitas jasmani sepanjang hayat (Sparling, Neville, Estelle, & Haskell, 2000), untuk itu program yang tepat untuk meningkatan kebugaran jasmani, motorik, dan pendidikan nilai di sekolah adalah melalui penyediaan program yang terintegrasi yang dapat dilakukan setiap hari agar menjadi pembiasaan yang baik di sekolah.

Berdasarkan beberapa kajian terdapat wilayah intervensi yang telah dilakukan diantaranya; intervensi seting sekolah (school setting), intervensi berbasis keluarga (family base intervention), intervensi pada pelayanan khusus (primary care intervention), intervensi berbasis komunitas (community based intervention) dan intervensi berbasis internet (internet based intervention) (Salmon, Booth, Phongsavan, Murphy, & Timperio, 2007). Dari bererapa model intervensi kajian ini lebih fokus pada intervensi seting sekolah, dengan program Daily Physical Activity (DPA).

Keterampilan Sosial

Tiraieyari dan Uli (2011: 3660), menyatakan bahwa keterampilan sosial mencerminkan pemahaman interpersonal dan kemampuan untuk seseorang untuk menyesuaikan perilaku dengan tuntutan situasional yang berbeda dan dapat mempengaruhi dan mengontrol tanggapan orang lain secara efektif. Keterampilan sosial sering dianggap sebagai satu set keterampilan yang memungkinkan kita untuk berkomunikasi, berhubungan dan bersosialisasi dengan orang lain (Rashid, 2010). Pendapat Coleman dan Lindsay yang dikutip oleh (Rashid, 2010) menyatakan keterampilan sosial sebagai fungsi kognitif dan perilaku verbal dan nonverbal tertentu dimana seseorang terlibat dalam interaksi dengan orang lain, termasuk di dalamnya kemampuan verbal dan nonverbal, sedangkan Caldarella dan Merrell yang dikutip oleh Franklin (2010) menguraikan lima dimensi keterampilan sosial yakni: keterampilan relasional sebaya, keterampilan pengelolaan diri, kemampuan akademik, keterampilan kepatuhan, dan keterampilan pernyataan.

Pada hakikatnya keterampilan sosial adalah tingkah laku kompleks yang terdiri atas berbagai perilaku sosial tunggal. Philips yang dikutip oleh (Handarini, 2000) mengemukakan keterampilan sosial pada elemen makro dalam hubungan sosial ditinjau dari sudut interaksi antar individu. Kesimpulan yang dikemukakannya menyebutkan bahwa seseorang yang memiliki keterampilan sosial adalah individu yang dapat berkomunikasi dengan orang lain. Dengan cara memenuhi hak, kebutuhan, kepuasan dan keperluan-keperluan untuk hal-hal yang dapat diterima tanpa mengganggu hak-hak, kebutuhan, kepuasan, dan keperluan orang lain. Suasana berkomunikasi diharapkan bebas dan terbuka dalam berelasi dengan orang lain. Definisi ini mengacu pada konsep keterampilan sosial yang sangat luas dan komplek. Sebab keterampilan sosial menyangkut situasi sosial yang bermacam-macam dan sulit diprediksi oleh individu.

Prinsip umum terbentuknya keterampilan sosial adalah perilaku sosial yang muncul dan direspon serta diikuti oleh reinforcement, maka respon sosial tersebut akan berkembang. Oleh sebab itu, keterampilan sosial dapat dipelajari dan dikembangkan melalui proses belajar. Menurut Libert dan Lewinsohn yang dikutip oleh (Handarini, 2000), keterampilan sosial adalah

kemampuan yang kompleks dari individu untuk memunculkan tingkah laku yang positif maupun negatif. Keterampilan sosial merupakan hasil belajar dan sebagian ditentukan oleh pengalaman sebelumnya. Keterampilan sosial dipengaruhi oleh konteks atau situasi individu dalam berperilaku, dan dapat diubah dengan cara menggunakan berbagai intervensi yang didasarkan pendekatan behavior management.

Marlowe yang dikutip oleh Handarini (2000) mengemukakan bahwa keterampilan sosial adalah subkonstruk kecerdasan sosial (sosial intelligence). Berdasarkan penelitian yang dilakukan Marlowe ditemukan bahwa kecerdasan sosial terdiri atas empat subkontrak, yaitu social interest, social self efficacy, emphaty skills, dan social skills. Social interest kerkenaan dengan dengan kemauan atau minat individu untuk menaruh perhatian (concern) pada orang lain. Social self-efficacy berkenaan dengan kemauan dengan kemampuan individu untuk berperilaku sosial sebagaimana yang diharapkan. Emphaty skills berkenaan dengan kemampuan individu untuk memahami pikiran dan perasaan orang lain. Social skills mengacu pada kemampuan individu untuk menunjukkan perilaku-perilaku sosialnya dalam bentuk perilaku yang diamati.

Senada dengan Marlowe, Riggio (1986) juga menyatakan bahwa keterampilan sosial adalah suatu konstruk yang terdiri atas sejumlah subkonstruk. Riggio menemukan bahwa keterampilan sosial terdiri atas dua domain, yaitu domain emosional dan domain sosial. Domain emosional terdiri atas tiga kategori yaitu: (1) ekspresi emosi, (2) kepekaan emosi, dan (3) kontrol emosi. Domain sosial terdiri atas empat kategori yaitu; (1) ekspresi sosial, (2) kepekaan sosial, (3) kontrol sosial, dan (4) manipulasi sosial, dengan demikian keterampilan sosial terdiri atas tujuh konstruk.

Mengacu pendapat beberapa ahli, Rashid (2010) berpendapat tentang pentingnya keterampilan sosial, kemampuan positif yang membantu anak untuk berinteraksi dengan orang lain dalam situasi yang berbeda. National Association of School Psychologists Center yang dukutip oleh (Rashid, 2010) mencatat bahwa keterampilan sosial yang baik sangat penting untuk mencapai sukses dalam hidup. Keterampilan ini membantu seseorang untuk mengetahui harus berkata apa, bagaimana membuat pilihan yang baik, dan bagaimana berperilaku dalam situasi yang beragam. Kurangnya Keterampilan sosial dapat menyebabkan kesulitan perilaku di sekolah, tidak perhatian, kenakalan, penolakan teman sebaya, kesulitan emosional, bullying, agresivitas, masalah dalam hubungan interpersonal, konsep diri yang buruk, kegagalan akademik, kesulitan konsentrasi, isolasi dari teman sebaya, dan depresi.

Gerak Kinenstetik

Istilah kinestetik sudah dikenal cukup lama dan dalam proses perkembangan ilmu pengetahuan juga terus berkembang khususnya berkaitan dengan belajar gerak dan pembelajaran. Ada beberapa definisi mendasar dari kinestetik, namun pada dasarnya memiliki makna sama. Dalam bahasa Yunani kinestetik berasal dari kin yang berarti motion atau gerak dan Esthesia yang berarti pengamatan seseorang tentang gerakannya sendiri, baik tentang gerakan anggota badannya dengan memperhatikan anggota badan lain, maupun gerakan tubuh secara keseluruhan. Betapa pentingnya fungsi penginderaan dalam melakukan aktivitas gerak tertentu (Schimidt dan Wrisberg, 2001).

Definisi lain tentang kinestetik adalah suatu keadaan waspada pada gerakan, berat,tegangan dan posisi bagian tubuh yang bergantung pada masukan dari bagian sendi, otot

dan sel rambut. Dari penginderaan ini posisi atau tubuh tertentu akan menimbukan balikan yang berguna untuk menyesuaikan posisi gerak tubuh yang dibutuhkan. Adam (1991) mendifinisikan kinestetik adalah hasil pancaran dalam susunan system saraf yag memberikan suatu kesadaran akan posisi dan gerakan tubuh dan bagian-bagiannya di dalam ruangan tanpa melihat dengan jelas.

Secara lebih sederhana kinestetik adalah pemberitahuan informasi gerakan tubuh pada saat bergerak. Berdasarkan beberapa definisi yang telah dipaparkan dapat dipahami bahwa kinestetik secara umum berkaitan dengan gerak fisik yang melibatkan system penerima informasi dan juga saraf. Pada saat anak sedang bergerak dalam konteks bermain suatu permainan apakah itu melibatkan otot besar (gross motor skills) maupun otot kecil (fine motor skills) disitulah kinestetik berperan besar.

Pada saat ini yang banyak di kaji oleh praktisi pendidikan yakni isitilah kinestetik yang dikenal sebagai salah satu kecerdasan dari sembilan kecerdasan (Multiple Intelligences) yakni kecerdasan kinestetik yang dikemukakan oleh Howard Gardner (Goleman, Kaufman, dan Rey,

2005). Elemen utama dari kecerdasan kinestetik adalah kemampuan mengontrol gerak anggota

tubuh dan kemampuan memainkan suatu objek dengan terampil (Grow, 2008), sedangkan Seitzs (2010) menyatakan ada tiga elemen kecerdasan kinestetik, pertama logik motorik yaitu kemampuan saraf otot untuk bergerak, kedua memori kinestetik yaitu kemampuan anak mengatur batas dari gerakan melalui kontraksi otot, gerakan dan posisi dalam ruang, ketiga kesadaran kinestetik yaitu kemampuan sensor gerak anak untuk mengikuti perintah dan petunjuk. Sensor gerak ini meneruskan informasi yang diperoleh ke otak kemudian direspon dalam bentuk postur tubuh, gerak dan keseimbangan.

Pada saat anak bermain suatu permainan keterlibatan kinestetik secara spesifik adalah gerakan koordinasi dan kesimbangan. Ada dua komponen biomotorik yang paling penting berkaitan dengan kinestetik yakni koordinasi dan keseimbangan. Hasil penelitian juga menunjukan kinestetik sangat berperan penting untuk koordinasi gerak fisik (Magill, 2001). Melakukan aktivitas gerak fisik melalui kegiatan bermain suatu permainan tertentu dapat mengembangkan komponen biomotorik terutama keseimbangan dan koordinasi. Adapun beberapa komponen biomotorik lainnya, yakni kecepatan, kelincahan,kekuatan, daya tahan, keseimbangan, kelentukan dan kecepata reaksi akan berkembang seiring dengan pengembangan koordinasi dan keseimbangan yang telah dikuasai. Anak sangat senang permainan yang aktif yakni yang melibatkan aktivitas gerak jasmani yang cukup banyak yang berarti mengembangkan semua komponen biomotorik dengan lebih baik.

Berbagai bentuk permainan yang melibatkan peran kinestetik ini akan semakin terlihat jelas apabila melihat lebih ke dalam beberapa elemen dasar kinestetik. Ada empat elemen dasar kinestetik yakni: bentuk, bentuk gerakan seperti apa yang dipraktikkan dalam permainan yang dimainkan oleh anak, apakah gerak simetris atau a-simetris; ruang, pada saat melakukan permainan apakah dilakukan di ruang terbuka atau di dalam kelas, termasuk tinggi rendah dan jauh dekat. Gerak, gerakan seperti apa yang dipraktikan missal gerak cepat atau lambat. Waktu, berapa lama permainan itu dipraktikan. Anak ketika melakukan suatu permainan tertentu dengan menggunakan pendekatan kinestetik maka elemen ini dapat digunakan sebagai ciri khas pendekatan kinestetik.

Pendekatan kinestetik dapat diaplikasikan melalui permainan dan olahraga yang dirancang khusus untuk tujuan tertentu. Artinya permainan yang melibatkan aktivitas jasmani

yang dirancang khusus dengan media tertentu tau tanpa media atau alat untuk mencapai tujuan tertentu.

Kebugaran Jasmani

Istilah Kebugaran (kebugaran) jasmani berasal dari terjemahan bahasa Inggris physical fitness, istilah ini sudah meluas dan telah diterima oleh masyarakat Indonesia namun demikian dari berbagai ahli belum terdapat suatu kesepakatan tentang pengunaan istilah tersebut. Secara sederhana dapat diartikan bahwa kebugaran jasmani adalah kesanggupan tubuh untuk melakukan aktivitas tanpa mengalami kelelahan yang berarti (Mutohir & Maksum, 2007).

Secara umum kebugaran jasmani terdiri dari dua konsep yaitu kebugaran umum menyangkut keadaan kesehatan dan kesejahteraan dan Kebugaran spesifik yang berorientasi pada tugas, yaitu kemampuan untuk melakukan tugas-tugas khusus seperti olahraga atau pekerjaan. Kebugaran jasmani umumnya dicapai melalui nutrisi yang benar, olahraga, dan istirahat yang cukup. Kebugaran jasmani menurut Power dan Howley (2010) adalah kemampuan melakukan kegiatan sehari-hari dengan penuh vitalitas dan kesiagaan tanpa mengalami kelelahan yang berarti dan masih cukup energi untuk beraktivitas pada waktu senggang dan menghadapi hal-hal yang bersifat darurat.

Dari berbagai pendapat tersebut dapat dikemukakan bahwa kebugaran jasmani adalah sebagai kesanggupan tubuh melakukan penyesuaian terhadap pembebanan fisik yang diberikan tanpa menimbulkan kelelahan yang berarti.

Berdasarkan uraian di atas, maka kebugaran jasmani dapat diartikan sebagai kemampuan fisik untuk melakukan tugas pekerjaan sesuai dengan bidangnya tanpa mengalami kelelahan yang berlebihan dan akan mendapat pemulihan yang cepat seperti pada waktu sebelum melakukan kegiatan/aktivitas. Pengertian tersebut menunjukkan bahwa kebugaran jasmani lebih dari tidak sakit dan tidak hanya kebal dari penyakit. Tiap orang mempunyai tingkat kebugaran jasmani yang berbeda-beda, bahwa pada diri seseorangpun tingkat kebugarannya akan berbeda-beda dari waktu ke waktu tergantung aktivitas dan latihan yang dilakukannya.

Kebutuhan aktivitas jasmani antara kelompok anak-anak dan dewasa terdapat perbedaan. Pada kelompok anak-anak kebutuhan waktu untuk melakukan aktivitas jasmni lebih banyak dibandingkan dengn kelompok dewasa. Anak-anak melakukan aktivitas jasmani kira-kira selama 60 menit dan kelompok dewasa minimal 30 menit tergantung usia dan kondisi masing- masing individu dan tujuan melakukan aktivitas fisik. Power, Dodd dan Jackson (2011) berpendapat bahwa untuk memperbaiki dan meningkatkan kebugaran jasmani, dapat memilih bentuk latihan fisik yang bervariasi dan aman serta nyaman seperti lari, renang, bersepeda termasuk bermain bolabasket.

Berbagai unsur komponen kebugaran jasmani dapat meningkat, jika setiap individu melakukan aktivitas jasmani secara rutin dan teratur dengan program pelatihan yang dirancang dengan baik. Kebiasaan berjalan kaki sebagai aktivitas jasmani atau aktivitas olahraga seperti bermain bolabasket mendukung peningkatan derajat kebugaran jasmani. Sudianto (2005) berpendapat bahwa aktivitas jasmani seperti jalan, lari, lompat atau bentuk-bentuk parmainan lainnya, mempersyaratkan kapasitas otak yang memadai agar gerakan yang dilakukan menghasilkan kinerja yang efisien dan efektif. Oleh karena itu jika anak-anak setiap hari rutin melakukan aktivitas rutin seperti bermain bolabasket, maka diprediksi tingkat kebugaran jasmaninya mengalami peningkatan.

METODE PENELITIAN

Rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah rancangan penelitian pengembangan (developmental & research). Dalam penelitian ini research and developmental dimanfaatkan untuk menghasilkan model permainan berbasis keterampilan sosial, gerak kinestetik, dan kebugaran jasmani. Adapun model pengembangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah: 1) Melakukan kajian literaratur, observasi, diskusi, dan kajian lapangan (survei) untuk menyusun prototipe model hipotetik permainan dan instrumen pengukuran. 2) Mengembangkan produk permainan berbasis keterampilan sosial, gerak kinestetik dan kebugaran jasmani dan instrumen pengukuran berdasarkan protitipe dan produk hipotetik hasil kegiatan pada tahun I. 3) Evaluasi ahli, tinjauan ahli merupakan kegiatan dalam mengkaji dan menganalisis produk permainan, sehingga diperoleh data dan informasi yang dijadikan bahan untuk melakukan revisi dan modifikasi. 4) Uji coba awal pada kelompok kecil, dengan menggunakan 3 kelas, 5) Revisi produk I, 6) Uji coba kelompok besar, kegiatan uji coba pada tahap ini menggunakan lima kelas. Uji coba lapangan untuk kelompok besar dilakukan setelah hasil analisis data dari uji coba kelompok kecil terhadap aspek yang berhubungan dengan instrumen-instrumen permainan berbasis keterampilan sosial seperti sarana prasarana, aturan permainan. 7) Revisi produk yang dilakukan berdasarkan hasil uji lapangan kelompok besar.

8) Produk permainan berbasis keterampilan sosial, gerak kinestetik dan kebugaran jasmani.

HASIL PENELITIAN Model Hipotetik Permainan

Pengumpulan data dan informasi tentang model hipotetik permainan berbasis keterampilan sosial untuk anak usia SD dilakukan dengan menggunakan instrumen yang telah dibuat, tujuannya adalah untuk melakukan inventarisasi dan mendeskripsikan substansi dan bentuk permainan yang ideal dan relevan dengan tujuan.

Hasil analisis tanggapan responden terhadap persyaratan tersebut disajikan dalam tabel berikut ini.

Tabel 1. Rata-rata Pernyataan Responden Guru Untuk Permainan Model 1 sampai 12

Rata-rata pernyataan

Pernyataan

Sesuai

% Tidak %

sesuai

Kesesuain nama permainan dengan karakteristik permainan model 1

sampai 12.

24.3

81.1

5.7

18.9

Kesesuain tujuan permainan model 1 sampai 12 dengan aspek yang

dikembangkan.

26.8

89.4

3.2

10.6

Kesesuaian perlengkapan permainan model 1 sampai dengan 12.

27.5

91.7

2.5

8.3

Kesesuaian prosedur model 1 sampai 12 dengan karakteristik permainan

26.0

86.7

4.0

13.3

Kesesuaian peraturan permainan model 1 sampai 12 dengan karakteristik

permainan

25.8

86.1

4.2

13.9

Kesesuaian instrumen penilaian sikap (keterampilan sosial) dengan

karakteristik permainan model 1 sampai 12.

25.2

83.9

4.8

16.1

Kesesuaian instrumen penilaian kemampuan gerak kinestetik dengan

permainan model 1 sampai 12.

25.8

86.1

4.2

13.9

Terlihat dalam tabel 1. di atas rata-rata 81,1% responden menyatakan bahwa nama permainan sudah sesuai dengan karakteristik dari permainan berbasis keterampilan sosial,

sedangkan 5,7% menyatakan tidak sesuai. Dari aspek tujuan rata-rata 89.4% responden menyatakan bahwa permainan yang dikembangkan pada model 1 sampai 12 sudah sesuai dengan tujuan. Untuk perlengkapan permainan 91,7% responden menyatakan sudah sesuai, demikian juga dalam pelaksanaan atau prosedur permainan 86.7% responden menyatakan sudah sesuai. Demikian pula untuk pernyataan mengenai peraturan permainan, instrumen penilaian sikap dan penilaian kemampuan gerak kebanyakan responden menyatakan sudah sesuai.

Hasil Uji Kelompok Kecil dan Besar (Responden Siswa)

Tabel 2. Kemenarikan Model Permainan

Uji Kelopok Kecil Uji Kelompok Besar

Jenis Permainan

Menarik Tidak menarik Menarik Tidak menarik

f % f % f % f %

Lomplar ketsos 55 82,1 12 17,9 145 78,8 39 21,2

Pantul lingkaran ketsos 59 88,1 8 11,9 150 81,5 34 18,5

Pantul oper berantai ketsos 54 80,6 13 19,4 137 74,5 47 25,5

Pantul zig-zag berantai ketsos 56 83,6 11 16,4 142 77,2 42 22,8

Bermain lemkap ketsos 49 73,1 18 26,9 160 87,0 24 13,0

Tembakan berurutan ketsos 51 76,1 16 23,9 162 88,0 22 12,0

Lari estafet bola ketsos 52 77,6 15 22,4 143 77,7 41 22,3

Menangkap ekor ketsos 62 92,5 5 7,5 165 89,7 19 10,3

Memindahkan ban berpasangan ketsos 43 64,2 24 35,8 134 72,8 50 27,2

Permainan melempar sasaran ketsos 47 70,1 20 29,9 139 75,5 45 24,5

Melempar bola ketsos 50 74,6 17 25,4 124 67,4 60 32,6

Menggiring ketsos 42 62,7 25 37,3 127 69,0 57 31,0

Rata-rata 51,7 77,1 15,3 22,9 144 78,3 40 21,7

Terlihat dalam tabel 1. dalam pelaksanaan kegiatan permainan di lapangan dengan keseluruhan responden sebesar 67 siswa dalam uji kelompok kecil menunjukan bahwa semua jenis permainan masuk kategori menarik dengan prosesntase terbesar yakni 92,5% pada permainan menangkap ekor ketsos, sedangkan memperoleh prosentase terkecil yakni 62,7% pada permainan menggiring ketsos, rata-rata untuk semua permainan 77,1%, sedangkan pada uji kelompok besar rata-rata 78,3%.

Tabel 3. Tingkat Kesenangan Model Permainan

Uji Kelompok Kecil Uji Kelompok Besar

Jenis Permainan

Senang Tidak senang Senang Tidak

senang

f % f % f % f %

Lomplar ketsos 54 80,6 13 19,4 168 91,3 16 23,9

Pantul lingkaran ketsos 61 91,0 6 9,0 154 83,7 30 44,8

Pantul oper berantai ketsos 54 80,6 13 19,4 149 81,0 35 52,2

Pantul zig-zag berantai ketsos 58 86,6 9 13,4 144 78,3 40 59,7

Bermain lemkap ketsos 45 67,2 22 32,8 137 74,5 47 70,1

Tembakan berurutan ketsos 52 77,6 15 22,4 151 82,1 33 49,3

Lari estafet bola ketsos 48 71,6 19 28,4 127 69,0 57 85,1

Menangkap ekor ketsos 62 92,5 5 7,5 171 92,9 13 19,4

Memindahkan ban berpasangan ketsos 45 67,2 22 32,8 125 67,9 59 88,1

Permainan melempar sasaran ketsos 48 71,6 19 28,4 155 84,2 29 43,3

Melempar bola ketsos 51 76,1 16 23,9 146 79,3 38 56,7

Menggiring ketsos 39 58,2 28 41,8 135 73,4 49 73,1

Rata-rata 51,4 76,7 15,6 23,3 147 79,8 37,2 55,5

Terlihat dalam tabel 2. dalam pelaksanaan kegiatan permainan di lapangan dengan keseluruhan responden sebesar 67 siswa dalam uji kelompok kecil menunjukan bahwa semua jenis permainan masuk kategori menarik dengan prosesntase terbesar yakni 92,5% pada permainan menangkap ekor ketsos, sedangkan memperoleh prosentase terkecil yakni 62,7% pada permainan menggiring ban ketsos diperoleh rata 76,7% sedangkan untuk uji kelompok besar diperoleh rata-rata 79,8% dari 184 responden.

Tabel 4. Kemudahan Model Permainan

Uji Kelompok Kecil Uji Kelompok Besar

Jenis Permainan

Mudah Sulit Mudah Sulit

f % f % f % f %

Lomplar ketsos

62

92,5

5

7,5

156

84,8

28

41,8

Pantul lingkaran ketsos

64

95,5

3

4,5

166

90,2

18

26,9

Pantul oper berantai ketsos

56

83,6

11

16,4

161

87,5

23

34,3

Pantul zig-zag berantai ketsos

60

89,6

7

10,4

156

84,8

28

41,8

Bermain lemkap ketsos

57

85,1

10

14,9

157

85,3

27

40,3

Tembakan berurutan ketsos

62

92,5

5

7,5

160

87,0

24

35,8

Lari estafet bola ketsos

58

86,6

9

13,4

169

91,8

15

22,4

Menangkap ekor ketsos

65

97,0

2

3,0

173

94,0

11

16,4

Memindahkan ban berpasangan ketsos

64

95,5

3

4,5

162

88,0

22

32,8

Permainan melempar sasaran ketsos

59

88,1

8

11,9

157

85,3

27

40,3

Melempar bola ketsos

60

89,6

7

10,4

166

90,2

18

26,9

Menggiring ketsos 65 97,0 2 3,0 167 90,8 17 25,4

Rata-rata 61,0 91,0 6,0 8,96 163 88,3 21,5 32,1

Terlihat dalam tabel 5.3. di atas semua permainan yang diuji di lapangan memenuhi aspek kemudahan artinya hampir sebagian besar siswa mampu memahami dan melakukan permainan tanpa mengalami kesulitan, dimana dari dua belas permainan rata-rata mendapat tanggapan respon dengan prosesntase di atas 80%. Kemudahan dalam sebuah permainan merupakan satu hal penting yang harus diperhatikan, karena hal ini terkait dengan aspek

efektifitas dan efisiensi.

Tabel 5. Tingkat Kelelahan Uji Kelompok Kecil

Pilihan

Janis Permainan

Sangat lelah lelah Cukup lelah Tidak lelah

f

%

f

%

f

%

f

%

Lomplar ketsos

0

0

30

44,8

27

40,3

10

14,9

Pantul lingkaran ketsos

0

0

25

37,3

34

50,7

8

11,9

Pantul oper berantai ketsos

1

1,5

35

52,2

26

38,8

5

7,5

Pantul zig-zag berantai ketsos

0

0

31

46,3

24

35,8

12

17,9

Bermain lemkap ketsos

2

3,0

22

32,8

35

52,2

8

11,9

Tembakan berurutan ketsos

0

0

15

22,4

24

35,8

28

41,8

Lari estafet bola ketsos

0

0

28

41,8

37

55,2

2

3,0

Menangkap ekor ketsos

2

3,0

36

53,7

28

41,8

1

1,5

Memindahkan ban berpasangan ketsos

0

0

19

28,4

39

58,2

9

13,4

Permainan melempar sasaran ketsos

0

0

10

14,9

32

47,8

25

37,3

Melempar bola ketsos

0

0

7

10,4

36

53,7

24

35,8

Menggiring ketsos 0 0 12 17,9 40 59,7 15 22,4

Rata-rata 0,42

0,62 22,5 33,6

31,8

47,5 12,3 18,3

Kelelahan otot merupakan istilah digunakan untuk menunjukkan penurunan sementara kapasitas organ otot untuk melakukan kegiatan fisik. Kelelahan otot dapat juga diartikan sebagai penurunan kekuatan maksimal atau kapasitas daya otot setelah melakukan kerja, dan ini merupakan salah satu indikasi awal dari pengaruh sebuah latihan yang akan berdampak terhadap kesegaran jasmani dari tabel 5 dan tabel 6. terlihat bahwa semua permainan yang dikembangkan mampu memberikan rasa lelah dalam kategori cukup sampai lelah bagi responden. Sedangkan pada uji kelompok besar dari kategori cukup lelah sampai dengan sangat lelah mendapatkan prosentase 78,1%.

Tabel 6. Tingkat Kelelahan (Uji Kelompok Besar)

Pilihan

Janis Permainan

Sangat lelah lelah Cukup lelah Tidak lelah

f

%

f

%

f

%

f

%

Lomplar ketsos

3

1,6

66

35,9

90

48,9

25

13,6

Pantul lingkaran ketsos

6

3,3

75

40,8

82

44,6

21

11,4

Pantul oper berantai ketsos

12

6,5

45

24,5

92

50,0

35

19,0

Pantul zig-zag berantai ketsos

9

4,9

69

37,5

78

42,4

28

15,2

Bermain lemkap ketsos

5

2,7

33

17,9

86

46,7

60

32,6

Tembakan berurutan ketsos

2

1,1

35

19,0

102

55,4

45

24,5

Lari estafet bola ketsos

12

6,5

28

15,2

80

43,5

64

34,8

Menangkap ekor ketsos

15

8,2

71

38,6

88

47,8

10

5,4

Memindahkan ban berpasangan ketsos

4

2,2

65

35,3

92

50,0

23

12,5

Permainan melempar sasaran ketsos

1

0,5

34

18,5

79

42,9

70

38,0

Melempar bola ketsos

4

2,2

55

29,9

69

37,5

56

30,4

Menggiring ketsos 5 2,7 56 30,4 77 41,8 46 25,0

Rata-rata 6,5 3,5 52,7 28,6 84,6 46,0 40,3 21,9

Tabel 7. Interaksi Sosial Dengan Pertanyaan Memungkinkan Lebih Dekat Dengan Teman

Uji Kelompok Kecil Uji Kelompok Besar

Jenis Permainan

Ya Tidak Ya Tidak

f % f % f % f %

Lomplar ketsos

64

95,5

3

4,5

155

84,2

29

15,8

Pantul lingkaran ketsos

58

86,6

9

13,4

141

76,6

43

23,4

Pantul oper berantai ketsos

62

72,9

23

27,1

133

72,3

51

27,7

Pantul zig-zag berantai ketsos

49

73,1

18

26,9

139

75,5

45

24,5

Bermain lemkap ketsos

56

83,6

11

16,4

156

84,8

28

15,2

Tembakan berurutan ketsos

52

77,6

15

22,4

125

67,9

59

32,1

Lari estafet bola ketsos

45

67,2

22

32,8

144

78,3

40

21,7

Menangkap ekor ketsos

46

68,7

21

31,3

156

84,8

28

15,2

Memindahkan ban berpasangan ketsos

43

64,2

24

35,8

134

72,8

50

27,2

Permainan melempar sasaran ketsos

49

73,1

18

26,9

123

66,8

61

33,2

Melempar bola ketsos

53

79,1

14

20,9

124

67,4

60

32,6

Menggiring ketsos

40

59,7

27

40,3

130

70,7

54

29,3

Rata-rata

51,4

75,1

17,1

24,9

138,3

75,2

45,7

24,8

Secara harfiah interaksi berarti tindakan (action) yang berbalasan antar individu atau antar kelompok. Tindakan saling mempengaruhi ini seringkali dinyatakan dalam bentuk simbol-simbol atau konsep-konsep. Jadi, pengertian interaksi sosial, yaitu hubungan timbal balik yang dinamis antara individu dan individu, antara individu dan kelompok, atau antara kelompok dengan kelompok baik dalam kerja sama, persaingan, ataupun pertikaian. Interaksi sosial melibatkan proses-proses sosial yang bermacam-macam, yang menyusun unsur-unsur

dinamis dari masyarakat, yaitu proses-proses tingkah laku yang dikaitkan dengan struktur

sosial.

Permainan yang dikembangkan hendaknya memenuhi aspek atau pola pengembangan terhadap hubungan antar individu maupun kelompok. Dari tabel 7. terlihat bahwa aspek yang ditanyakan pada responden terkait dengan bisa membangun kedekatan dengn teman, memperoleh prosentase cukup besar yakni rata-rata 75,1% untuk uji kelompok kecil dan 75,2% untuk uji kelompok kecil.

Tabel 8 Interaksi Sosial Dengan Pertanyaan Memungkinkan Bekerjasama

Uji Kelompok Kecil Uji Kelompok Besar

Jenis Permainan

Ya Tidak Ya Tidak

f % f % f % f %

Lomplar ketsos

62

92,5

5

7,5

142

77,2

42

22,8

Pantul lingkaran ketsos

52

77,6

15

22,4

137

74,5

47

25,5

Pantul oper berantai ketsos

81

95,3

4

4,7

143

77,7

41

22,3

Pantul zig-zag berantai ketsos

63

94,0

4

6,0

151

82,1

33

17,9

Bermain lemkap ketsos

64

95,5

3

4,5

142

77,2

42

22,8

Tembakan berurutan ketsos

63

94,0

4

6,0

137

74,5

47

25,5

Lari estafet bola ketsos

62

92,5

5

7,5

134

72,8

50

27,2

Menangkap ekor ketsos

58

86,6

9

13,4

142

77,2

42

22,8

Memindahkan ban berpasangan ketsos

63

94,0

4

6,0

135

73,4

49

26,6

Permainan melempar sasaran ketsos

61

91,0

6

9,0

142

77,2

42

22,8

Melempar bola ketsos

60

89,6

7

10,4

137

74,5

47

25,5

Menggiring ketsos

54

80,6

13

19,4

128

69,6

56

30,4

Rata-rata

61,9

90,3

6,6

9,7

139,2

75,7

44,8

24,3

Kerjasama merupakan salah satu cara untuk cepat mencapai sebuah tujuan yang diinginkan oleh manusia. Hampir dalam semua aspek kehidupan, menjalin kerjasama dalam aktifitas apapun akan berdampak positif terhadap kinerja yang efektif. Salah satu hal yang mengawali lahirnya kerjasama adalah jalinan komunikasi yang baik. Dari dua belas permainan yang dikembangkan oleh peneliti, memperoleh hasil dari responden yang cukup baik dimana dalam uji kelompok kecil memperoleh tanggapan sebesar 90,3% dan pada uji kelompok besar sebesar 75,7% terlihat pada tabel 8.

Tabel 9 Interaksi Sosial Dengan Pertanyaan Memungkinkan bisa Mengendalikan Emosi

Uji Kelompok Kecil Uji Kelompok Besar

Jenis Permainan

Ya Tidak Ya Tidak

f % f % f % f %

Lomplar ketsos

51

76,1

16

23,9

160

87,0

24

13,0

Pantul lingkaran ketsos

56

83,6

11

16,4

139

75,5

45

24,5

Pantul oper berantai ketsos

68

80,0

17

20,0

129

70,1

55

29,9

Pantul zig-zag berantai ketsos

51

76,1

16

23,9

128

69,6

56

30,4

Bermain lemkap ketsos

52

77,6

15

22,4

137

74,5

47

25,5

Tembakan berurutan ketsos

46

68,7

21

31,3

129

70,1

55

29,9

Lari estafet bola ketsos

50

74,6

17

25,4

138

75,0

46

25,0

Menangkap ekor ketsos

47

70,1

20

29,9

136

73,9

48

26,1

Memindahkan ban berpasangan ketsos

47

70,1

20

29,9

126

68,5

58

31,5

Permainan melempar sasaran ketsos

48

71,6

19

28,4

132

71,7

52

28,3

Melempar bola ketsos

42

62,7

25

37,3

126

68,5

58

31,5

Menggiring ketsos

44

65,7

23

34,3

131

71,2

53

28,8

Rata-rata

50,2

73,1

18,3

26,9

134,3

73,0

49,8

27,0

Emosi adalah semua jenis perasaan yang ada dalam diri seseorang. Emosi memiliki peran yang besar dalam dinamika jiwa dan mengendalikan tingkah laku seseorang. Dan menurut Regio, emosi merupakan variabel dari keterampilan sosial, dalam rangka untuk mengembangkan permainan maka hal ini merupakan unsur yang penting untuk dimasukan sebagai komponen yang harus diperhatatikan, dari pertanyaan yang digunakan untuk mengekplor aspek ini dalam permainan diperoleh tanggapan respoden rata-rata untuk uji kelompok kecil sebesar 73,1% dan uji kelompok besar 73%.

Tabel 10. Interaksi Sosial Dengan Pertanyaan Memungkinkan Meningkatkan Komunikasi

Uji Kelompok Kecil Uji Kelompok Besar

Jenis Permainan

Ya Tidak Ya Tidak

f % f % f % f %

Lomplar ketsos

63

94,0

4

6,0

137

74,5

47

25,5

Pantul lingkaran ketsos

61

91,0

6

9,0

146

79,3

38

20,7

Pantul oper berantai ketsos

63

74,1

22

25,9

153

83,2

31

16,8

Pantul zig-zag berantai ketsos

50

74,6

17

25,4

135

73,4

49

26,6

Bermain lemkap ketsos

50

74,6

17

25,4

152

82,6

32

17,4

Tembakan berurutan ketsos

45

67,2

22

32,8

146

79,3

38

20,7

Lari estafet bola ketsos

52

77,6

15

22,4

127

69,0

57

31,0

Menangkap ekor ketsos

43

64,2

24

35,8

141

76,6

43

23,4

Memindahkan ban berpasangan ketsos

39

58,2

28

41,8

131

71,2

53

28,8

Permainan melempar sasaran ketsos

43

64,2

24

35,8

147

79,9

37

20,1

Melempar bola ketsos

43

64,2

24

35,8

128

69,6

56

30,4

Menggiring ban ketsos

43

64,2

24

35,8

144

78,3

40

21,7

Rata-rata

49,6

72,3

18,9

27,7

140,6

76,4

43,4

23,6

Komunikasi memegang peran besar dalam keberhasilan seseorang, dan hal ini menjadi unsur penting dalam keterampilan sosial, hasil dari pengembangan permainan yang telah dilakukan diperoleh hasil tanggapan responden dalam uji kelompok kecil untuk aspek ini rata- rta sebesar 72,3% dan untuk uji kelompok besar rata-rata 76,6% terlihat pada tabel 10.

PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN Model Permainanan

Dalam uji kelompok dan uji kelompok besar sarana permainan yang dikembangkan oleh peneliti memberikan kontribusi pada ketertarikan siswa dalam melakukan aktivitas jasmani yang berdampak pada peningkatan keterampilan gerak kinestetik dan kebugaran jasmani anak. Agar sarana prasarana, dapat meningkatkan ketertarikan dalam suatu permainan maka peneliti mengembangkan perlengkapan sederhana. Dari uji kelompok kecil didapatkan rata-rata 77,1% responden untuk dua belas model permainan menyatakan menarik. Sedangkan pada uji kelompok besar dengan rata-rata kemenarikan model permainan dinyatakan oleh 78,3% responden.

Dengan demikian dari hasil kajian di lapangan diperoleh hasil, untuk permainan sesuai dengan kapasitas untuk anak SD kelas V. Hal ini sejalan dengan apa yang dinyatakan oleh Husein (2005) untuk permainan dalam katagori lead game semuanya dapat dimodifikasi dan disederhanakan sehingga membuat permainan menjadi menarik.

Hal-hal yang berkaitan dengan kesenangan dan kemudahan didapat hasil rata-rata sebesar 76,7% responden menyatakan senang untuk uji kelompok kecil, dan pada uji kelompok besar dinyatakan oleh rata-rata 79,8%. Rata-rata 91% responden menyatan mudah untuk seluruh model permainan pada uji kelompok kecil sedangkan pada uji kelompok besar dinyatakan oleh rata-rata 88,3% responden. Permainan dalam konteks pendidikan dapat dimanfaatkan sebagai pembekalan pentingnya aktivitas jasmani untuk meningkatkan kondisi sehat, kebugaran fisik, hubungan sosial, pengendalian emosi, dan moral. Permainan atau bermain merupakan fenomena masyarakat, dari mulai kanak-kanak hingga orang tua. Bagi anak-anak bermain menjadi suatu kebutuhan utama dan terkadang mereka lupa waktu. Dalam bermain dilakukannya secara sungguh-sungguh dan tidak ada paksaan. Oleh karena itu, maka permainan harus membuat pelakunya merasa senang dan dibuat peraturan yang sederhana agar mudah untuk melakukannya, peraturan dibuat agar berjalan tertib dan teratur dalam pelaksanaannya.

Peraturan permainan, telah memenuhi unsur kepraktisan yakni keterlaksanaan masuk kategori tinggi untuk kegiatan permainan di lapangan hal ini dapat dilihat dari kegiatan pada uji kelompok kecil, uji kelompok besar, dimana menurut observer siswa tidak mengalami kesulitan dalam memahami permainan secara keseluruhan termasuk, aturan-aturan yang dilaksanakan dalam kegiatan bermain.

Melalui latihan yang mirip dengan permainan yang menyenangkan, minat dan kegembiraan seluruh siswa akan meningkat. Secara khusus bagi siswa yang memiliki kemampuan gerak kinestetik rendah, pendekatan bermain ini adalah tepat, karena tidak menekankan pada keterampilan teknik, namun pada pengembangan keterampilan, dan pemecahan masalah. Dalam aktivitas bermain siswa disamping mengimplementasikan berbagai jenis keterampilan sosial, siswa juga menerapkan berbagai keterampilan dasar/gerak kinestetik. Proses tersebut menyebabkan terjadinya transfer latihan. Hal tersebut didukung dengan pendapat Schmidt dan Wrisberg (2001) yang mengatakan bahwa transfer latihan terjadi apabila kebiasaan yang telah terbentuk sebelumnya memberikan pengaruh terhadap penguasaan gerak, penampilan atau relearning dari kebiasaan berikutnya.

Untuk hasil uji kelompok kecil dan besar terkait dengan kedekatan, kerjasama dengan teman, pengendalian emosi dan kemampuan komunikasi dengan teman diperoleh dengan kategori yang cukup baik yakni rata-rata diperoleh hasil diatas 65%. Permainan yang dikembangkan merupakan kegiatan aktivitas jasmani yang dilakukan dalam kelompok, selain terjadinya interaksi lansung yang efektif pada saat bermain, bentuk interaksi sosial dalam permainan ini bisa terjadi secara simultan. Dalam penelitian ini permainan yang dikembangkan juga memasukkan unsur-unsur keterampilan sosial seperti; bermain dengan aturan-aturan, perilaku kerjasama, bertanggung jawab, berperan aktif, menghormati hak-hak orang lain untuk belajar dan pengambil peran, menjadi pendukung kawan regu, dan menyatakan penghargaan kepada lawan, hal yang ada ini merupakan unsur-unsur penting dari interaksi sosial yang

positif.

Banyak penelitian yang menyatakan manfaat sosial dari aktivitas jasmani untuk perkembangan anak. Salah satu manfaat sosial adalah bahwa anak-anak mengembangkan keterampilan interpersonal dan belajar berinteraksi secara positif dengan satu sama lain dan orang dewasa. Anak-anak juga belajar bagaimana untuk menyesuaikan dengan benar kepengaturan sosial dan norma-norma. Interaksi sosial dengan teman sebaya merupakan suatu

keharusan bagi anak-anak. Kegiatan kelompok fisik membantu anak-anak membuat keputusan yang sehat dan memungkinkan mereka mendapat kesempatan untuk membantu rekan-rekan mereka. Membangun sikap yang sehat, moral, dan nilai-nilai pada anak-anak dapat memiliki efek mendalam pada teman-teman mereka (Vey, 2007). Anak-anak sangat dipengaruhi oleh tindakan rekan-rekan mereka. Berinteraksi satu sama lain memungkinkan anak-anak untuk melihat apa yang anak-anak lain lakukan dan membantu mereka untuk mengambil keputusan yang tepat bagi diri mereka sendiri.

Penelitian baru menunjukkan aktivitas jasmani dapat membantu anak-anak remaja mengembangkan keterampilan penting seperti kepemimpinan dan empati. Pada gilirannya, keterampilan ini dapat mempengaruhi perilaku sehat (Jackson, 2010). Sementara olahraga tim dan aktivitas jasmani telah dikaitkan dengan peningkatan harga diri, gizi yang lebih baik dan berkurangnya penyalahgunaan rokok dan narkoba di kalangan anak-anak, penelitian ini menunjukkan bahwa pembinaan keterampilan kepemimpinan dan empati pada anak-anak dapat memperkuat perilaku gaya hidup sehat.

Penelitian lain menyatakan anak-anak sekolah menengah yang memperoleh skor tertinggi dalam keterampilan kepemimpinan ternyata lebih aktif secara fisik ( 20 menit/hari). Anak-anak ini juga cenderung menunjukkan skor tinggi dalam empati. Olahraga ringan ( 30 menit/hari) dan partisipasi dalam olahraga tim juga berkorelasi dengan kepemimpinan dan nilai empati (Jackson, 2010). Disini terlihat bahwa aktivitas jasmani melalui olahraga tim atau kelas olahraga memiliki manfaat di luar kebugaran jasmani. Temuan ini menunjukkan bahwa anak- anak yang mengembangkan kepemimpinan dan empati terhadap orang lain lebih peduli tentang kesehatan mereka sendiri.

Taylor, Sallis, dan Needlle (1985), menyatakan bahwa aktivitas jasmani yang kuat memiliki efek positif pada kesehatan mental di kedua populasi klinis dan bukan klinis. Bukti terkuat menunjukkan bahwa aktivitas jasmani dan olahraga mungkin mengurangi beberapa gejala yang berhubungan dengan depresi ringan sampai sedang. Bukti juga menunjukkan bahwa aktivitas jasmani dan olahraga dapat memberikan manfaat peningkatkan citra diri, keterampilan sosial, dan mengurangi gejala kecemasan serta fungsi kognitif lain.

Hal ini secara luas diakui bahwa aktivitas jasmani sangat penting untuk pertumbuhan dan perkembangan anak-anak. Aktivitas jasmani secara teratur dapat memiliki dampak positif pada fisik siswa, mental, dan sosial. Secara khusus, aktivitas jasmani cenderung memiliki dampak pada prestasi, kesiapan untuk belajar, perilaku, dan harga diri. Pengalaman positif dengan aktivitas jasmani pada usia muda juga membantu meletakkan dasar yang kuat untuk hidup sehat dan produktif.

Studi lain menunjukkan efek positif aktivitas jasmani harian, siswa yang melakukan aktivitas jasmani harian dengan permainan kelompok memiliki kinerja dan prestasi akademik yang baik hal ini terkait dengan peningkapan memori, observasi, pemecahan masalah dan pengambilan keputusan, serta perbaikan yang signifikan dalam sikap, seperti disiplin dan kreativitas hal ini dinyatakan oleh Keays dan Allison yang dikutip dalam (Resource Guide,

2005).

Dalam psikologi olahraga, sejumlah penelitian mengenai bagaimana sebuah kelompok olahraga berproses banyak dilakukan. Penelitian mengenai dinamika kelompok dalam psikologi olahraga dianggap penting dilakukan dengan asumsi bahwa olahraga adalah media interaksi sosial yang sehat dan karena dinamika yang terjadi kelompok dalam olahraga juga

berpengaruh terhadap performa kelompok. Misalnya dalam olahraga tim seperti bolabasket, sepakbola, bolavoli dsb, kohesifitas (kekompakan), kepemimpinan, komunikasi dan interaksi antara anggota kelompok turut menyumbang keberhasilan tim.

Sebuah kelompok pada dasarnya adalah sekumpulan dua individual atau lebih Zajonc yang dikutip oleh (Hagger & Chatzisarantis, 2005). Kehadiran seseorang dalam melakukan tugas motorik berpengaruh terhadap kognisi, perilaku dan penampilan. Carron dan Hausenblas yang dikutip oleh (Hagger & Chatzisarantis, 2005) membuat sebuah kerangka konseptual mengenai performa sebuah kelompok dalam olahraga. Keanggotaan dalam sebuah kelompok akan membangkitkan seperangkat kognisi sosial spesifik atau kepercayaan diantara anggota kelompok, yang dibawa melalui interaksi antar anggota, kesamaan tujuan, struktur yang sepsifik dalam kelompok, dan kehadiran elemen group processes yang penting seperti kekompakan dan komunikasi.

Beauchamp dan Eys (2007) mengembangkan sebuah kerangka (framework) untuk membangun kesaling pahaman antar individu dalam kelompok. Terdapat tiga fase konseptual dalam membangun pemahaman interpersonal dalam kelompok, yaitu:

1) Fase pertama: memahami diri sendiri (understamnding self). Individu harus

melakukan refleksi terhadap perilaku dan kepribadiannya sendiri, memahami kelemahan dan keunggulannya, dan efek-efeknya terhadap perilakunya sendiri dalam tim.

2) Fase kedua: memahami orang lain (understanding others); siswa/atlit dan pelatih/guru memfasilitasi komunikasi, memonitor interaksi antar individu dalam kelompok, dan mengidentifikasi kelemahan dan keunggulan kolektif.

3) Fase ketiga: saling menyesuaikan dan saling berhubungan (adapting and connecting);

merangsang individu untuk saling berkomunikasi, mengidentifikasi hambatan komunikasi, dan merancang sejumlah peraturan untuk memfasilitasi terjadinya komunikasi yang efektif.

Penyesuaian sosial dengan memahami norma-norma sosial sangat penting bagi anak- anak untuk sehingga mereka dapat tumbuh menjadi orang dewasa yang baik. Berpartisipasi dalam kegiatan kelompok memungkinkan anak untuk belajar bergaul dengan anak-anak lain dan untuk menghormati atau menghargai perbedaan mereka (ras, jenis kelamin, tipe tubuh, dan budaya).

Kegiatan aktivitas jasmani dalam kelompok, seperti permainan, memungkinkan anak- anak merasa menjadi bagian dari sesuatu yang penting. Dalam kegiatan kelompok juga memberikan kesempatan anak untuk mengekspresikan diri atau menunjukkan bakat individu mereka sendiri. Merasa baik tentang diri mereka sendiri membuat merasa baik tentang orang lain di sekitar mereka (Mack & Ablon, 2006). Aktivitas jasmani menyajikan situasi dimana keberhasilan dan penguatan positif dapat terjadi dan dengan demikian membantu untuk mengembangkan harga diri positif pada anak. "Sebagian besar sumber telah menemukan bahwa anak-anak yang aktif, miliki harga diri yang semakin tinggi. Tentu saja ini adalah manfaat sosial yang paling penting dari kegiatan aktivitas jasmni berkelompok untuk anak- anak SD.

Hasil uji kelompok kecil untuk aspek kelelahan diperoleh hasil 81,7% dalam kualifikasi cukup lelah sampai lelah dan hanya 18,3% responden yang menyatakan tidak lelah sedangkan untuk uji kelompok besar 78,1% sedangkan 21,9% menyatakan tidak lelah. Dua belas

permainan yang dikembangkan merupakan kegiatan jasmani yang termasuk dalam kombinasi bioenergetic aerobic and anaerobic sport, dengan dominasi bioenergi atau energy aerobik. Secara umum aktivitas yang terdapat dalam kegiatan olahraga terdiri dari kombinasi dua jenis aktivitas yaitu aktivitas yang bersifat aerobik dan dan aktivitas yang bersifat anaerobik (Irawan,

2007).

Aktivitas aerobik merupakan aktivitas yang bergantung terhadap ketersediaan oksigen untuk membantu proses pembakaran sumber energi sehingga juga akan bergantung terhadap kerja optimal dari organ-organ tubuh seperti jantung, paru-paru dan juga pembuluh darah untuk dapat mengangkut oksigen agar proses pembakaran sumber energi dapat berjalan dengan sempurna. Aktivitas ini biasanya merupakan aktivitas olahraga dengan intensitas rendah sedang yang dapat dilakukan secara kontinu dalam waktu yang cukup lama.

Aktivitas anaerobik merupakan aktivitas dengan intensitas tinggi yang membutuhkan energi secara cepat dalam waktu yang singkat namun tidak dapat dilakukan secara kontinu untuk durasi waktu yang lama. Aktivitas ini biasanya juga akan membutuhkan interval istirahat agar ATP dapat diregenerasi sehingga kegiatannya dapat dilanjutkan kembali (Irawan, 2007). Dalam beberapa jenis olahraga beregu atau juga individual akan terdapat pula gerakan- gerakan/aktivitas sepeti meloncat, mengoper, melempar, menendang bola, memukul bola atau juga mengejar bola dengan cepat yang bersifat anaerobik. Oleh sebab itu maka beberapa cabang olahraga seperti sepakbola, bolabasket atau juga tenis lapangan disebutkan merupakan kegiatan olahraga dengan kombinasi antara aktivitas aerobik dan anaerobik.

Penelitian Rowland (1999) di Inggris menunjukkan adanya korelasi positif yang bermakna antara aktivitas jasmani dengan kebugaran jasmani pada anak berusia 8-10 tahun. Koutedakis (2003) menyatakan bahwa aktivitas jasmani di sekolah melalui kurikulum pendidikan jasmani mempengaruhi tingkat kebugaran jasmani yang berkaitan dengan kardiovaskuler dan motorik. Demikian pula dengan pernyataan Barwani (2004) bahwa kebugaran aerobik pada anak laki-laki dan perempuan berkorelasi negatif dengan aktivitas jasmani pasif/duduk seperti menonton televisi, main komputer dan video games.

Penelitian lain yang melihat hubungan aktivitas jasmani, kebugaran dengan kegemukan pada anak kelas V dan VI di Meksiko. Menyimpulkan bahwa kebugaran merupakan prediktor kuat yang berkorelasi dengan total adipositas perut karena aktivitas jasmani pada anak sekolah di Meksiko. Namun demikian, pentingnya aktivitas jasmani dalam mencegah obesitas dan mempromosikan peningkatan kebugaran, tidak harus disimpulkan sebagai penentu satu- satunya kebugaran (Galaviz, et all., 2012). Hasil penelitian dari Ruiz, et all (2006) menyatakan bahwa rendahnya lemak tubuh secara bermakna dikaitkan dengan tingkat aktivitas jasmani yang kuat, bukan dengan aktivitas jasmani yang sedang . Anak-anak yang terlibat dalam aktivitas jasmani 40 menit dengan intesitas kuat lebih baik dalam menurunkan lemak tubuh dari pada anak-anak yang terlibat aktivitas jasmani 10-18 menit dengan intensitas kuat. Aktivitas jamani yang kuat, sampai sedang, berkorelasi positif dengan kebugaran kardiorepirasi. Hal ini diperkuat dengan hasil penelitian dari Muhyi (2011) program pendekatan kinestetik dapat meningkatkan kebugaran jasmani pada siswa kelas IV dan kelas V.

PENUTUP Simpulan

Berdasarkan hasil uji kelompok kecil dan besar, diperoleh kesimpulan bahwa diperlukan tindakan ilmiah untuk mengembangkan sebuah model permainan berbasis keterampilan sosial, sehingga diperoleh model permainan yang relevan dengan kebutuhan yang ada. Model permainan seperti itu dideskripsikan dalam model permainan, sebagai berikut:

1) Hasil uji kelompok kecil; aspek kemenarikan rata-rata 77,1%, kesenangan 76,7%, kemudahan 91,0%, tingkat kelelahan 81,7% kategori cukup lelah sampai sangat lelah.

2) Hasil uji kelompok besar; aspek kemenarikan rata-rata 78,3%, kesenangan 79,8%, kemudahan 88,3%, tingkat kelelahan 78,1% kategori cukup lelah sampai sangat lelah.

3) Untuk aspek sosial dari unsur membangun kedekatan rata-rata 75,1% , kerjasma 90,3%, pegendalian emosi 73,1%, dan meningkatkan komunikasi 72,3% untuk uji keompok kecil.

4) Uji kelompok besar dari unsur membangun kedekatan rata-rata 75,2% , kerjasma

75,7%, pegendalian emosi 73,0%, dan meningkatkan komunikasi 76,4%.

5) Model permainan yang hasil pengembangan pada penelitian ini ada 12 model permainan, yakni : Lomplar Ketsos, Pantul Dalam Lingkaran Ketsos, Pantul Oper Berantai Ketsos, Pantul Zig-Zag Berantai Ketsos, Bermain Lemkap Ketsos, Tembakan Berurutan Ketsos, Lari Estafet Bola Ketsos, Menangkap Ekor Ketsos, Memindahkan Banpas Ketsos, Melempar Kotak Ketsos, Lempar Bola Ketsos, Menggiring Ban Ketsos.

6) Masing-masing permainan berisi 6 komponen yakni: Tujuan permainan, perlengkapan, prosedur permainan, perarturan permainan, serta instrumen penilaian keterampilan

sosial dan gerak kinestetik.

Saran

Berdasarkan data dan informasi yang telah dianalisis di bagian depan, dapat disarankan hal-hal sebagai berikut: 1) Karena permainan berbasis keterampilan sosial gerak kinestetik dan kebugaran jasmani merupakan suatu kebutuhan dalam pembelajaran pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan, maka kajian terhadapnya juga perlu dilakukan secara intensif dan berkesinambungan untuk memperoleh permainan yang betul-betul sesuai dan memenuhi tujuan yang diharapkan, 2) Uji efektifitas dan diseminasi model permainan yang telah dikembangkan mendesak dilakukan ke sekolah-sekolah yang ada di Jawa Timur.

DAFTAR PUSTAKA

Adams, C. 1991. Foundation of Physical Education, Exercise and Sport Sciences. Pennylvania: Malvern.

Ballard, K. Caldwell, D. Dunn, C. Hardison, A. Newkirk, J, Sanderson, M., Thaxton, V.S.

Thomas C. 2005. Move More, NC's Recommended Standards For Physical Activity In School. North Carolina DHHS, NC Division of Public Health, Raleigh, NC;. (http://www.aahperd.org/naspe/ publications /teachingTools/PAvsPE.cfm).

Beauchamp, M.R. & Eys, M.A. 2007. Group Dynamics in Exercise and Sport Psychology. This edition published in the Taylor & Francis e-Library.

Darmiany. 2004. Pengembangan Paket Keterampilan Sosial untuk Siswa SMA. Tesis. Tidak

Diterbitkan. Malang: Program Pasca Sarjana. Universitas Negeri Malang.

Franklin, K. 2010 . Thank You for Sharing: Developing Students Social Skills to Improve Peer Writing Conferences. English Journal 99. 5: 79-84. (online) (http://search.proquest.com/docview/205420565?accountid = 31 324)

Galavz K.I, Tremblay. M.S, Colley R, Juregui E, Taylor J.L, Janssen I. 2012.I Associations

Between Physical Activity, Cardiorespiratory Fitness, And Obesity in Mexican Children.

Salud pblica Mx vol.54 no.5 Cuernavaca.

Goleman, D. Haufman P. dan Ray, M. 2005. The Creative Spirit, Nyalakan Jiwa Kreatifmu di

Sekolah, Tempat Kerja dan Komunitas. Jakarta: MLC.

Grow, G. 2008. The Bodile-Kinesthetic Intelligence, http://www.longleaf. Net/grow/7in/ Bodily.html, diunduh Maret 20013.

Hagger, M. & Chatzizarantis, N. 2005. The Social Psychology of Exercise and Sport. England: McGraw-Hill

Handarini, D.M. 2000. Pengembangan Model Pelatihan Keterampilan Sosial Bagi SMU

terpadu. Desertasi, tidak diterbitkan. Malang: Program Pasca Sarjana. Universitas Negeri

Malang.

Hastie, P. & Martin, E. 2006. Teaching Elementary Physical Education Strategies for The

Calssroom Teacher. San Francisco: Pearson Education Inc.

Husein, A.H.M. 2005. Pendidikan Jasmani di Era Globalisasi terhadap Pertumbuhan Siswa.

Makalah disampaikan pada Seminar Nasional IPTEK Olahraga di Hotel Hilton Surabaya, di selelenggarakan oleh Universitas Negeri Surabaya bekerjasama dengan ISORI, 19 Juli

2005.Howell, K.W. & Morehead, M.K. 1987. Curriculum-Based Evaluation For Special and Remideal Education. Columbus, Ohio: Merrill.

Irawan, M.A. 2007. Metabolisme Energi Tubuh & Olahraga. Polton Sport Science & Performance Lab. Volume 01 no 7 :1-10 www.pssplab.com/ journal/07

Jackson E.A. 2010. Increased Leadership and Empathy May Reinforce Healthy Behaviors That Can Prevent Obesity, Future Heart Disease. U-M Cardiovascular Center American College of Cardiology.Kemendiknas. 2010. Rencana Strategis Kementerian Pendidikan Nasional 2010-2014. Jakarta: Kementerian Pendidikan Nasional.

Magil, A.R. 2001. Motor Learning Concepts and Application, Sixth Edition. New York: Mc

Graw-Hill.

Maksum, A. 2012. Metodologi Penelitian dalam Olahraga. Surabaya: Unesa University

Muhyi, M. 2012. Keefektivan Program Pendekatan Kinestetik terhadap Kesegaran Jasmani dan Perkembangan Karakter Anak. Disertasi, tidak diterbitkan. Surabaya: Program Pasca Sarjana. Universitas Negeri Surabaya.

Mood, D.P. Musker, F.F. & Rink, J.E. 2007. Sports and Recreational Activities. 14th Edition.

Toronto: Mc Graw Hill Companies

Morrow, J.R. Jackson, A.W. Disch, J.G. & Mood, D.P. 2000. Measurement and Evaluation in Human Performance. New Zeland: Human Kinetics Mutohir, C. (1996). Rumusan Hasil Lokakarya Standar Kompetensi Profesi Bidang Penjas.

Mutohir, T.C. dan Maksun, A. 2007. Sport Development Index, Konsep Metodologi dan

Aplikasi, Alternatif Baru Mengukur Kemajuan Kemajuan Pembangunan Bidang

Olahraga. Jakarta: Bessindo Primalaras.

Mutohir, T.C. 1986. The Development and Examination of Student Evaluation of Teaching

Effectiveness in An Indonesian Higher Education Setting. Thesis, Submitted to

Macquarle University In Partial Fulfiment of the Degree of Doctor of Philosophy In The School of Education.Oxendine, J.B. 1984. Psychology of Motor Learning, Second Edition, New Jersey: Prentice Hall, Inc.

Pate, R.R. Davis, G.M., Robinson, N.T., Stone, J.E., McKenzie, L.T., & Young, C.J. 2006.

Promoting Physical Activity In Children and Youth A Leadership Role For Schools, A Scientific Statement From the American Heart Association Council on Nutrition,

Physical Activity, and Metabolism (Physical Activity Committee) in Collaboration With The Councils on Cardiovascular Disease in The Young and Cardiovascular Nursing. Circulation American Heart Association Journal. 12 September 2006. Hal. 1214-1224.

Powers, S.K., Dodd, S.L., & Jackson, E.M. 2011. Total Fitness and Wellness Media Up Date.

Brief Edition. San Fransisco: Benjamin Cummings Pearson.

Powers, S. & Howley, E.T. 2010. Exercise Physiology. Theory and Application to Fitness and

Performance. Seventh Edition. San Francisco: Mc Graw Hill Higher Education.

Rashid, T. 2010. Development of Social Skills among Children at Elementary Level. Bulletin

of Education and Research 32. 1 (Jun 30, 2010). (http://search.proquest.com/docview/

902689571?accountid=31324)

Resource Guide. 2005. Daily Physical Activity in Schools Grade 4 to 6. Ontario Education

Excellence for All.

Riggio, R.E. 1986. Assessment Of Basic Sosial Skills. Journal of Personality and Sosial

Psychology. Vol 51, No. 3,. 1986: Hal. 649-660.

Salmon, J. Booth, L.M. Phongsavan P. Murphy, N. & Timperio, A. 2007. Promoting Physical

Activity Participation Among Children and Adolescents. Epidemiologic Reviews. 29.

2007. Hal. 144-159.

Seitz, J.A. 2010. The Development of Bodily Kinesthetic Intelligence in Children: Implications

for Educational and Artistry.

Schmidt, R.A. & Wrisberg, C.A. 2001. Motor Learning and Performancen A Problem Based

Learning Aproach. Second Edition. Human Kinetics.

Schmottlach, N. & McManama, J. 2010. Physical Education. Activity Handbook. 12e. Pearson

Education, Toronto: Inc. Publishing as Benyamin Cummings.

Sparling, B.P. Neville, L.O. Estelle, V. & Haskell, L.W. 2000. Promoting Physical Activity:

The New Imperative for Public Health, Health Education Research Theory and Practice.

15 (3). 2000. Hal. 367-376.

Simon, R. Hartati, T. & Arsilah. 2007. Model Permainan di Sekolah Dasar Berdasar Pendekatan DAP (Developmentally Appropriate Pratice). Program Studi PGSD Fakultas Ilmu Pendidikan Univerversitas Pendidikan Indonesia.

Sudianto, M. 2005. Peningkatan Kualitas Sumber Daya Manusia melalui Pendidikan Jasmani.

Jurnal Pendidikan Jasmani. Kajian Teori, Praktek Pendidikan dan Pembelajaran. Vol.

15 (1). 2005: hal. 28-35.

Suherman. 2008. Pengaruh Metode Pembelajaran Koperatif Dan Keterampilan Sosial Terhadap Perolehan Belajar Dan Sikap Sosial Pada Siswa SD Kelas V. Desertasi, tidak diterbitkan. Malang: Program Pasca Sarjana. Universitas Negeri Malang.

Taylor, C.B. Sallis, J.F. & Needle, R. 1985. The Relation of Physical Activity And Exercise

To Mental Health. This article has been cited by other articles in PMC. Public Health

Rep. Vol. 100 (2): Hal. 195202.

Tiraieyari, N. & Uli, J. 2011. The Moderating Role of Age Groups On The Relationship Between Social Competencies And Work Performance. African Journal of Agricultural Research Vol. 6 (16). 2011: Hal. 3660-3664, online ( http://www.academicjournals. org/AJAR)

Vey, A.R.M. 2007. Group Physical Activity In Elementary Schools: Social And Educational Benefits For Students. General Studies Submitted To The General Studies Council In The College Of Arts And Sciences At Texas Tech University In Partial Fulfillment Of The Requirements For The Degree Of Bachelor Of General Studies.

Yonathan, V. 2001. Pengembangan Inventory Keterampilan Sosial Untuk Siswa SMA. Tesis, tidak diterbitkan. Malang: Program Pasca Sarjana. Universitas Negeri Malang.