of 21 /21
Torsio Ovarian pada Wanita hamil Adinda Aotearoa Afta 102011152 Fakultas Kedokteran UKRIDA Jl. Arjuna Utara No.6 Jakarta Barat 11510 [email protected] Abstrak Torsio ovarian (torsio adnexal) jarang terjadi tetapi merupakan penyebab tersering dari rasa nyeri pada bagian perut bawah. Kondisi ini sering dikaitkan dari penurunan aliran balik van yang memberikan hasil dari edema stromal, pendarahan dalam, diperstimulasi dari suatu masa. Yang terlibat biasanya tuba falopi dan ovarium. Gejala klinis yang tidak spesifik biasanya mengakibatkan keterlambatan dalam diagnosis serta penangan lebih lanjut yaitu pembedahan. Pada penemuan yang cepat serta tepat dapat mencegah struktur adnexa dari terjadinya infark. Kata kunci: ovarium terpuntir, nyeri perut bawah, adnexal Ovarian torsion (adnexal torsion) is an infrequent but significant cause of acute lower abdominal pain in woman. This condition is usually assoiciated with reduced venous return from ovary as a result of stromal edema, internal hemorrhage, hyperstimulation or a mass. The ovary and fallopian tube are 1

Pbl 27 - Torsi Ovarian

  • Author
    yogidj

  • View
    231

  • Download
    3

Embed Size (px)

DESCRIPTION

makalah torsio ovarian blok 25 obgyn 2012

Text of Pbl 27 - Torsi Ovarian

Torsi: apabila tumor atau kista ovarium terpuntir atau mengalami rotasi di sekeliling pedikelnya, penyediaan darah menjadi terganggu; kongesti vena dapat menimbulkan perdarahan di dalam kista atau suatu reaksi peradangan dengan perlengketan terhadap vise

Torsio Ovarian pada Wanita hamilAdinda Aotearoa Afta

102011152

Fakultas Kedokteran UKRIDA

Jl. Arjuna Utara No.6 Jakarta Barat 11510

[email protected] ovarian (torsio adnexal) jarang terjadi tetapi merupakan penyebab tersering dari rasa nyeri pada bagian perut bawah. Kondisi ini sering dikaitkan dari penurunan aliran balik van yang memberikan hasil dari edema stromal, pendarahan dalam, diperstimulasi dari suatu masa. Yang terlibat biasanya tuba falopi dan ovarium. Gejala klinis yang tidak spesifik biasanya mengakibatkan keterlambatan dalam diagnosis serta penangan lebih lanjut yaitu pembedahan. Pada penemuan yang cepat serta tepat dapat mencegah struktur adnexa dari terjadinya infark.

Kata kunci: ovarium terpuntir, nyeri perut bawah, adnexal

Ovarian torsion (adnexal torsion) is an infrequent but significant cause of acute lower abdominal pain in woman. This condition is usually assoiciated with reduced venous return from ovary as a result of stromal edema, internal hemorrhage, hyperstimulation or a mass. The ovary and fallopian tube are typically involved. The clinical presentation is often nonspecific with few distinctive phygical findings, commonly resulting in delay in diagnosis and surgical management. A quick and confident diagnosis is required to save the adnexal structures from infarction.

Keyword: torsion ovarian, abdominal pain, adnexal Pendahuluan

Kista ovarium termasuk suatu tumor atau benjolan yang tumbuh namun kista ovarium tumbuhnya di ovarium atau indung telur yang berupa tumor yang berisi cairan bukan berisi jaringan padat dengan kata lain kista ini perabaannya lunak bukan padat karena asalnya dari ovarium maka kista ovarium dapat terjadi pada ovarium kanan atau kiri atau keduanya. Kista dapat membesar atau bahkan mengecil ukurannya sesuai dengan sifatnya, jika terus membesar dan tidak ada tindakan pembedahan untuk mengambil kista maka kista tersebut akan mengalami torsio atau terpuntir yang mengakibatkan wanita mengalami rasa sakit di bagian abdomen bawah, baik pada wanita hamil atau tidak. Hal ini merupakan kasus kegawatdaruratan pada obstetrik dan genekologi. Selain kista ovarium terpuntir banyak indikasi khusus yang menyebabkan rasa sakit bagian bawah abdomen pada wanita hamil seperti pada appendisitis akut, kolestitis, kehamilan ektopik terganggu atau jika kista tersebut pecah akan menyebabkan ruptur kista. Hal ini harus ditangani dengan baik dengan anamnesis dan pemeriksaan yang kuat sehingga penanganan tidak terlambat

Anamnesis

Secara rutin ditanyakan; urutan penderita, sudah menikah atau belum, paritas, siklus haid, penyakit yang pernah diderita, terutama kelainan ginekologik serta pengobatannya dan operasi yang dialami.1Riwayat penyakit umum

Perlu ditanyakan apakah penderita pernah menderita penyakit berat, seperti penyakit tuberkulosis, penyakit jantung, riwayat penyakit ginjal, penyakit darah, diabetes mellitus, dan penyakit jiwa, untuk penyakit jiwa perlu cara berkomunikasi sendiri. Riwayat operasi non-ginekologik perlu juga diperhatikan, misalnya strumektomi, mammektomi, dan apendiktomi.

Riwayat obstetrik

Perlu diketahui riwayat kehamilan sebelumnya apakah berakhir dengan keguguran, ataukah berakhir dengan persalinan; apakah persalinannya normal, diselesaikan dengan tindakan atau dengan operasi, dan bagaiman nasib anaknya. Infeksi nifas dan kuretase dapat menjadi sumber infeksi panggul menahun dan kemandulan. Dalam hal ini infertilitas perlu diketahui apakah itu disengaja akibat penggunaan cara-cara kontrasepsi dan cara apa yang digunakan, ataukah perempuan tidak menjadi hamil secara alamiah. Jika perempuan tersebut pernah mengalami keguguran, perlu diketahui apakah di sengaja atau spontan. Perlu juga ditanyakan banyaknya perdarahan dan apakah telah dilakukan kuretase.

Riwayat ginekologik

Riwayat penyakit/kelainan ginekologik serta pengobatannya dapat memberikan keterangan penting, terutama operasi yang pernah dialami. Apabila penderita pernah diperiksa oleh dokter lain, tanyakan juga hasil-hasil pemeriksaan dan pendapat dokter itu. Tidak jarang perempuan indonesia pernah memeriksakan dirinya diluar negri dan membawa pulang hasil-hasil pemeriksaan.1

Riwayat haid

Haid merupakan hal yang sangat penting dalam kehidupan seorang perempuan. Perlu diketahui menarke, siklus teratur atau tidak, lama haid, banyaknya darah waktu haid, disertai nyeri atau tidak dan menopause. Selalu harus ditanyakan tanggal haid terakhir yang normal. Jika haid terakhir tidak jelas normal, maka perlu ditanyakan tanggal haid sebelum itu.

Keluhan sekarang

Rasa nyeri diperut panggul, pinggang, atau alat kelamin luar dapat merupakan gejala dari beberapa kelainan ginekologik. Dalam menilai gejala ini dapat dialami kesulitan karena faktor subjektivitas memegang peranan penting. Walaupun rasa nyerinya biasanya nyeri hebat sesuai dengan beratnya penderitaan, dokter selalu harus waspada. Sukar sekiranya untuk memastikan derajat nyeri tersebut, lebih-lebih apabila si penderita mempunyai maksud atau kecenderungan untuk berpura-pura dengan tujuan untuk menarik perhatian.

Dismenorea yang dapat dirasakan diperut bawah atau pinggang dapat bersifat seperti mules-mules seeperti ngilu atau seperti ditusuk-tusuk. Mengenai hebatnya rasa nyeri yang diderita, perlu ditanyakan apakah perempuan itu dapat melakukan pekerjaan sehari-hari ataukah dia harus berbaring meminum minuman anti nyeri. Rasa nyeri itu dapat timbul menjelang haid, sewaktu dan setelah haid selama satu dua hari, atau lebih lama. Endometrosis hampir selalu disertai dismenorea. Umumnya dismenorea disebabkan oleh endometriosis.

Dispareuni, rasa nyeri waktu bersenggama dapat disebabkan oleh kelainan organik atau oleh faktor psikologis. Oleh karena itu, perlu dicari sebab-sebab organik, seperti introitus vagina atau vagina terlampaui sempit, peradangan atau perlukaan dan kelainan yang letaknya lebih dalam, misalnya adneksitis, parametritis atau endometritis diligamentum sakrouterinum. Apabila semua kemungkinan itu dapat disingkirkan baru dapat dipertimbangkan bahwa mungkin faktor psikologis memegang peranan, dan pemeriksaan dilengkapi dengan psikoanalitik, jikaperlu oleh seorang psikolog atau psikiater.

Nyeri perut dering menyertai kelainan ginekologik yang dapat disebabkan oleh kelainan letak uterus, neoplasma dan terutama peradangan baik yang mendadak maupun yang menahun. Perlu ditanyakan lamanya, serta terus-menerus atau berkala, rasa nyerinya (seperti ditusuk-tusuk seperti mules dan ngilu), hebatnya dan lokalisasnya. Kadang-kadang penderita dapat menunjuk secara tepat dengan jari tempat yang dirasakan nyeri. Perasaan nyeri yang hebat diderita pada ruptur tuba, salpingo-ooforiti akuta, dan putaran tangkai pada kistoma ovarii dan mioma subserosum. Pada abortus tuba biasanya nyeri dirasakan seperti mules-mules dan berkala. Mioma uteri tanpa putaran tangkai dapat disertai nyeri apabila terjadi degenerasi dan infeksi. Penjalaran rasa nyeri ke bahu sering dijumpai pada kehamilan ektopik yang terganggu.

Nyeri pinggang bagian bawah diderita pada perempuan yang mengalami parametritis sebelumnya dengan akibat fibrosis di ligamentum kardinal dan ligamentum sakrousterina. Lebih sering nyeri pinggang disebabkan oleh sebab lain, biasanya oleh kelainan yang sifatnya ortopedik terutama bila nyerinya dirasakan agak tinggi di atas vertebra sakralis pertama, misalnya, pada hernia nukleus pulposus. Persalinan dengan foskep dalam letak litotomi dan persalinan lama dalam kala dua sering mengakibatkan nyeri pinggang yang disebabkan keletihan otot-otot ileosakral dan lumbosakral.1

Pemeriksaan fisik

Pemeriksaan ginekologik harus lengkap karena dari pemeriksaan umum sering didapat keterangan-keterangan yang menuju ke arah tertentu dalam menegakan diagnosis.

Pemeriksaan perut

Inspeksi

Perhatiakn bentuk, pembesaran/cekungan, pergerakan dengan pernapasan, kondisi kulit (tebal, mengkilat, keriput, striae, pigmentasi, gambaran vena), parut operasi dan sebagainya. Masing-masing kelainan tersebut memberi petunjuk apa yang harus diperhatikan selanjutnya, misalnya pembesaran perut ke depan dengan batas yang jelas, menujukan arah kehamilan atas tumor (mioma uteri atau karsinoma ovarii), sedang pembesaran ke samping (perut katak) merupakan gejala dari cairan bebas dalam rongga perut (lazim disebut asites).

Palpasi

Sebelum pemeriksaan dilaukan, harus diyakini bahwa kandung kemih serta rektum dalam keadaan kosong karena kadung kemih penuh teraba sebagai kista dan rektum penuh menyulitkan pemeriksaan. Penderita perlu diberi tahu bahwa perutnya akan diperiksa supaya ia tidak menegangkan perutnya dan berbapas biasa. Perbaan dilakukan secara perlahan dengan seluruh telapak tangan dan jari-jari. Mula-mula perut diraba saja (tanpa ditekan) seluruhnya sebagai orientasi dengan satu atau kedua tangan, dimulai dari atas (hipokondrium). Lalu diperiksa dengan tekanan ringan apakah dinding perut lemas, tegang karena rangsangan paling nyeri. Sekaligus diperiksa pula gejala nyeri lepas.

Baru kemudia dilakukan palpasi lebih dalam, sebaiknya bersamaan dengan irama pernapasan, untuk mencari kelainan-kelainan yang tidak tampak dengan inspeksi. Ini sebaiknya dimulai dari bagian-bagian yang tampaknya normal, yaitu yang tidak dirasakan nyeri dan yang tidak menonjol/membesar. Karena telapak tangan dan jari-jari bagian ulna lebih peka, maka palpasi dalam dilakukan dengan bagian ulna ini.

Pada pemeriksaan tumor dapat ditemukan lebih jelas bentuknya, besarnya, konsistensinya, batas-batasnya dan gerakannya. Besar tumor dibandingkan dengan benda-benda yang secara umum diketahui misalnya telur bebek, telur angsa/bola tenis, tinu kecil, tinju besar, kepala bayi, kepala orang dewasa atau buah nangka. Selanjutnya apakah batas-batas tumor itu jelas/tajam atau tidak, batas atas masuk dalam rongga panggul atau tidak. Perlu pula diperiksa apakah tumor itu dapat digerakkan atau tidak.

Konsistensi tumor biasanya tidak sulit untuk ditentukan, yaitu padat kenyal, padat lunak, padat keras atau kistik. Kistik lunak kadang-kadang sulit dibebaskan dari cairan bebas dalam rongga perut, terutama apabila penderita gemuk. Kadang-kadang ada bagian padat dan bagian kistik bersamaan. Permukaan tumor ada yang rata dan yang erbenjol-benjol. Tumor padat kenyal dan berbenjol-benjol biasanya mioma uteri dan tuor kistik biasanya kistoma ovari. Rasa nyeri pada perabaan tumor merujuk ke arah peradangan/infeksi, generasi, putaran tangkai, dan hematoma retrouterina akibat kehamilan ektopik terganggu.1

Perkusi

Dengan perkusi dapat ditentukan apakah pembesaran perut disebabkan oleh tumor (mioma uteri atau kistoma ovari) ataukah oleh cairan bebas dalam perut. Pada tumor, ketokan perut pekak terdapat pada bagian yang paling menonjol ke depan apabila tidur terlentang; dan apabila tumornya tidak terlampau besar, maka terdengar suara timpani disisi perut, kanan dan kiri karena usus terdorong ke samping. Daerah pekak itu tidak akan berpindah tempat apabila penderita dibaringkan di sisi kanan atau kiri.

Lain halnya perkusi pada cairan bebas. Cairan mengumpul dibagian paling rendah yaitu di dasar dan disamping, sedang usus-usus mengembang diatasnya. Apabila penderita berbaring terlentang maka suara timpani dibagian atas perut melengkung ke ventral, dan sisi kanan dan kiri pekak. Keadaan ini berubah apabila penderita disuruh berbaring miring misalnya berbaring ke arah kanan. Cairan berpindah dalam mengisi bagian kanan dan bagian ventral. Jadi, daerah timpani berpindah juga: timpani diperut kiri dan pekak di perut kanan dan depan. Selain itu terdapat gejala undulasi.

Tumor yang disertai cairan bebas menunjuk ke arah keganasan. Pada tuberkulosis peritonei dapat ditemukan daerah-daerah timpani dan pekak itu berdampingan, seperti gambaran papan catur, sebagai akibat perlekatan usus dan omentum.

Auskultasi

Periksa dengan sangat penting pada tumor perut yang besar untuk menyingkirkan kemungkinan kehamilan. Detak jantung dan gerakan janin terdengar pada kehamilan yang cukup tua, sedang bising uterus dapat terdengar pada mioma uteri yang besar.

Pemeriksaan ginekologik

Dilakukan secara posisi litotomi. Yag dilakukan pertama adalah inspeksi pada organ genitalia eksterna. Yang diperhatikan bentuk, warna, pembengkakan dan sebagainya dari genitalia eksterna, perineum, anus dan sekiarnta; dan apakah ada darah atau flour albus. Apakah hymen masih utuh dan klitoris normal? Pertumbuhan rambut pubis perlu pula diperhatikan. Lalu dapat dicari jika terdapat peradangan, iritasi kulit, eksema dan tumor, apakah orifisium uretra eksternum merah da nada nanah, apakah ada karunkula, atau polip, dan sebagainya.Perabaan parametrium dan adneksum

Pemeriksaan daerah disamping uterus baru dapat di lakukan dengan baik apabila posisi uterus sudah diketahui. Jari-jari perlu dimasukkan sedalam-dalamnya, jikalau perlu, perineum didorong ke dalam sehingga ujung hari bisa mencapai 2-5 cm lebih dalam. Pemeriksaan sebaiknya dimulai di sisi yang tidak nyeri atau yang tidak ada tumornya.

Ujung jari ditempatkan diforniks lateral dan didorong kearah belakang lateral dan atas. Tangan luar ditempatkan diperut bawah, kanan atau kiri sesuai dengan letaknya dari didalam vagina. Penempatan jari-jari tangan luar ini penting seklai; tidak boleh terlampau rendah dan terlampau lateral akan tetapi kira-kira seinggi spina iliaka anterior superioe di garis medio-lateral. Sekarang tangan luar di tekan kearah belakang, sehingga ujung jari kedua tangan dapat diturunkan sedikit dalam posisi yang sama dan perabaan disesusaikan dengan irama pernapasan. Waktu ekspirasi dinding perut lebih lemas. Dalam manipulasi ini jari-jari dalam memegang peranan penting untuk perabaan. Tangan luar hanya mendorong again-bagian yang harus di raba kea rah jari-jari dalam, kecuali untuk menentukan besarnya tumor.

Parametrium dan tuba normal tidak teraba. Ovarium normal hanya dapat diraba pada perempuan kurus dengan dinding perut yang lunak; besarnya seperi ujung jari ujung ibu jari dan kenyal. Setiap kali parametrium dan atau tuba dapat diraba itu berarti suatu kelainan.

Apabila terdapat tahanan atau tumor di daerah di samping uterus atau diatas, selalu harus ditentukan apakah ada hubungan dengan uterus, dan bagaimana sifat hubungan itu: lebar, erat, melalui tangkai, atau uterus menjadi satu dengan masa tumor. Hubungan dapat dinyatakan apabila porsio digerak-gerakan dengan jari dalam dan gerakan itu dirasakanoleh tangan luar yang meraba tumor, atau tumor yang digerak-gerakin oleh tangan luar dan gerakan itu dirasakan oleh jari dalam yang meraba porsio.

Pada kista ovarium yang letaknya di atas dengan tangkai panjang, tumor perlu didorong ke atas dahulu oleh tangan luar supaya tangkainya tegang dan digerak-gerakkan lebih ke atas lagi. Ada kalanya diperlukan tenaga yang lebih kuat untuk menempatkan ujung jari sedalam-dalamnya dengan menggunakan tekanan pada perineum. Dalam hal demikian untuk tidak mengurangi kepekaan (daya raba) tangan dan jari-jari yang berada di dalam vagina, maka siku pemeriksa disokong oleh badan dan ditekan kea rah penderita sambil tungkai pemeriksan ditekuk dan kaki ditempatkan lebih tinggi pada anak tangga meja ginekologik. Kelainan-kelainan di daerah di samping uterus terutama disebabkan oleh peradangan dan neoplasma.1

Pemeriksaan penunjangDarah lengkapPada pemeriksaan darah lengkap yang dilakukan adalah pemeriksaan hemoglobin, hematocrit, leukosit, trombosit, eritrosit. Tidak ditemukan kelainan pada torsio ovarian maupun rupture kista. Namun pada apendisitis akan ditemukan leukosit antara10.000-20.000/ml (leukositosis) dan neutrofil diatas 75%, sedangkan pada CRP ditemukan jumlah serum yang meningkat.USG

USG adalah modalitas pencitraan utama untuk pasien yang dicurigai mengalami kista ovarium terpuntir. Pembesaran ovarium sekunder terhadap kerusakan drainase vena dan limfatik adalah temuan paling umum pada kista ovarium terpuntir.2 Imaging Sonografi merupakan baku emas. Penemuan sonografi dapat berubah-ubah tergantung pada gambaran densitas, masa intraovarian atau intratubal dan ada tidaknya pendarahan. Secara sonografi, torsio terlihat mirip dengan kehamilan ektopik, abses tubo-ovarian, pendarahan kista ovarium, endometrioma. Kebenaran dalam penglihatan secara sonografi sebesar 50-70%.

Karna keterbatasan ini, ditemukan hal-hal yang khas pada sonografi yaitu:

Terdapatnya folikel multiple yang mengelilingi ovarium yang membesar (64%)

Ditemukannya ovarium yang kongesti dan edema

Pedicle yang terpuntir dapat memberi gambaran bulls eye target, suatu pusaran atau bentuk rumah siput yang strukturnya bundar hiperekoik dengan bagian dalam multiple dipoekoik konsentrik berbentuk cincin.2Transvaginal color dopple sonography (TV-CDS) secara signifikan memebrikan informasi pada pemeriksaan klinis. Umumnya terdapat gangguan pada aliran darah normal adnexa. Pada kasus yang sering, tidak terlihat aliran vena intraovarian. Seiring dengan torsio yang makin beratm aliran arteri intraovarian akan hilang juga. Tetapi, meskipun gejala khas yang dapat dipredisksi ini terjadi pada banyak kasus, adnexa dengan incomplete atau intermittent torsio tetap memperlihatkan aliran vena serta arteri. Dengan demikian, walaupun gangguan aliran darah pada torsion tinggi, tapi torsion tidak dikeluarkan dalam pemeriksaan dopler. Tomografi atau MR imaging dapat membantu pada kasus yang menyulitkan atau yang gejala fisiknya ambigu seperti yang ditemui pada incomple atau kronik torsion.3Differential diagnosis1. Rupture kista ovariumBila kistanya kecil, pecahnya kista biasanya tidak disadari. Bila besar, atau terdapat perdarahan dari kista, pecahnya kista dapat disertai nyeri. Nyeri awalnya hanya pada satu sisi, kemudian menyebar ke seluruh pelvis. Terjadi pada torsi tangkai kista ovarium dan karena trauma seperti jatuh, diurut, pukulan pada perut, koitus. Apabila kista hanya mengandung cairan serous, rasa nyeri akibat robekan dan iritasi peritonium tidak begitu hebat, tapi robekan pada dinding kista disertai perdarahan yang timbul mendadak dan berlangsung terus menerus kedalam rongga abdomen, maka akan menimbulkan gejala nyeri yang terus menerus dengan akut abdomen. Pada kista pecah, misalnya pada kista coklat/kista endometriosis, pecahnya kista terjadi akibat perlekatan-perlekatan yang bersifat infiltratif dan makin menipisnya dinding kista karena makin bertambahnya darah yang menumpuk dalam rongga kista.Gejala klinis berupa nyeri pelvis sampai seluruh abdomen. Nyeri dan rasa tidak nyaman dapat menjadi lebih berat dan perdarahan juga dapat terjadi setelah kista pecah. Nyeri sangat mendadak, tajam, dan dapat meningkat dengan adanya aktivitas. Selain itu dapat terjadi perdarahan, baik ringan maupun berat. Apabila terjadi perdarahan berat atau hemoperitoneum, dapat menimbulkan sinkop. Pada pemeriksaan abdomen dapat ditemukan nyeri tekan dan nyeri lepas, akibat adanya iritasi peritoneum. Abdomen dapat terdistensi dengan adanya penurunan bising usus. Pada pemeriksaan pelvis, seringkali ditemukan massa kista yang pecah namun belum mengalami ruptur secara menyeluruh. Demam dan leukositosis jarang ditemukan. Penurunan hematokrit terjadi hanya jika perdarahan terus berlangsung.42. Apendisitis Apendisitis umumnya terjadi karena infeksi bakteri. Berbagai hal berperan sebagai faktor pencetusnya. Diantaranya adalah obstruksi yang terjadi pada lumen apendiks. Obstruksi ini biasanya disebabkan karena adanya timbunan tinja yang keras (fekalit), hiperplasia jaringan limfoid, tumor apendiks, striktur, benda asing dalam tubuh, dan cacing askaris dapat pula menyebabkan terjadinya sumbatan. Namun, diantara penyebab obstruksi lumen yang telah disebutkan di atas, fekalit dan hiperplasia jaringan limfoid merupakan penyebab obstruksi yang paling sering terjadi. Pada wanita hamil dengan usia kehamilan trimester, gejala apendisitis berupa nyeri perut, mual, dan muntah, dikacaukan dengan gejala serupa yang biasa timbul pada kehamilan usia ini. Sedangkan pada kehamilan lanjut, sekum dan apendiks terdorong ke kraniolateral, sehingga keluhan tidak dirasakan di perut kanan bawah tetapi lebih ke regio lumbal kanan.Working diagnosisTorsio ovarian/torsion adnexaEtiologi

Torsion melibatkan terpelintirnya komponen dari adnexal. Yang paling sering dijumpai, ovarium dan tuba falopi berputar menjadi satu diantara ligamentum yang besar. Jarang dijumpai ovarium terpelitir pada bagian mesovariumnya sendiri atau tuba falopi terpelinitr pada bagian mesosalpinxnya sendiri. Torsion dapat terjadi pada adnexa yang normal tapi 50-80% kasus terjadi pada masa ovarium yang unilateral. Pada pasien hamil, torsi kista ovarium paling sering ditemukan bila uterus membesar dengan cepat (antara minggu ke 8 dan 16) atau involusi setelah melahirkan.2Epidemiologi

Adnexal torsion paling sering terjadi pada usia reproduktif. Hibbard dan teman sejawatnya (1985) menemukan bahwa 70% ditemukan pada usia 20-39 tahun. Pada wanita postmenopause juga sering ditemukan. 20-25% kasus ini dijumpai pada wanita yang sedang hamil.Patofisiologi

Masa pada adnexal yang dapat bergerak cenderung mudah terpelintir (torsion). Secara kongenital, panjanganya ligamnetum ovarium dapat membuat mesovarium atau batang tuba falopi bergerak secara bebas pada adnexa yang normal. Mirip, secara patologis pembesaran ovarium dengan diameter lebih dari 6 cm akan secara khas timbul dari pelvis. Tanpa batas-batas tulang yang jelas, pergerakan serta peristiwa terpelinit akan meningkat. Maka, angka tertinggi dari torsio ini ditemkan pada masa yang berukuran antara 6-10cm. masa yang relative ringan juga meningkatkan risiko.

Terdapat 2 hal utama yang berperan dalam sirkulasi darah pada bagian yang terlibat pada struktur adnexal meskipun terpelintirnya aliran darah pedicles. Pertama, adnexa mendapat suplai darah dari cabang adnexal uterus dan pembuluh darah ovarium. Salah satu dari pensuplai dapat terhambat jika terjadi torsio. Kedua, meskipun tekanan vena yang rendah dapat mengurangi pasokan darah di adnexa yang terkompresi oleh pedicle yang terpuntir, tekanan vena yang tinggi awalnya akan menolak untuk kompensasi. Pada waktu terpelintir, proses ini akan berlangsung terus menerus sehingga adnexa menjadi kongesti dan edma, tapi belum infark. Karena hal ini, penting dilakukan penanganan pada torsio awal. Dengan berlangsungnya stroma yang membengkak, bagaimanapin arteri akan terkompresi yang akan menjadi infark serta nekrosis.3Gejala

Seringnya, pasien akan mengeluhkan nyeri tajam pada perut bawah, onsetnya mendadak dan semakin memburuk setelah beberapa jam. Nyeri biasanya terjadi pada bagian yang terkena, panggul dan paha atas. Peningkatan suhu dapat ditemui jika terjadi nekrosis adnxal. Mual muntah sering ditemui seiring dengan rasa nyeri

Penanganan

Penyelamat dari adnexa yang terlibat, reseksi semua kista atau tumor atau bila diperlukan dilakukan tindakan oophoropexy. Mencari bagian adnexa yang nekrosis atau rupture dengan pendarahan, termasuk pembuangan struktur adnexa yang terkena.

Torsion dapat diperkirakan dengan laparoskopi atau teknik laparotomy. Sebelumnya, saat masih jaman pembedahan, adnexectomy biasanya dilakukan untuk menghindari risiko thrombus setelah detorsio dan subsequent emboli. Bukti tidak mendukung hal ini. Mcgovern serta pekerjanya (1999) meriview sekita 1000 kasus torsio dan menemukan emobli paru hanya pada 0,2 persen. Sebagai catatan, kasus emboli berhubungan dengan eksisi adnexal dan tidak berhubungan dengan konservatif melepaskan puntiran dari pedicle. Pada study 94 wanira dengan torsio adnexal, zweizig melaporkan tidak ada peningkatan morbiditas pada wanita yang dilakukan pelepasan puntiran adnexa dibandingkan dengan yang dilakukan adnexectomy.Untuk alasan ini, detorsio dari adnexa secara umum di rekomendasikan. Dalam beberapa menit setelah pelepasan puntiran, kongesti terbebaskan dan sianosis ovarian dapat dikurangi. Jika perubahan ini tidak ditemukan maka dapat dilakukan pembuangan adnexal. Pada black-bluish ovarium yang persisten, tetapi tidak terjadi nekrosis dan ovarium masih dapat membaik. Jika ditemukan lesi ovarium yang spesifik, harus segera dibuang. Kistitekomi pada iskemik, ovarium yang edem sulit dilakukan. Maka beberapa penulis merekomendasikan menunda kistitektomi sampai 6-8 minggu setelah penanganan utama. Menigkuti detorsion, tidak ada konsus dalam penanganan adnexa. Seiring dengan penanganan konservatif berkembang, insiden kekambuhan kembali meningkat. Unilateral atau bilateral oophoropexy telah dibuat untuk meminimalisasikan kekambuhan.6Penanganan dalam masa kehamilan tidak berbeda. Jika corpus luteum di keluarkan sebelum 10 mg, IM 17-hydroxyprogesterone caproate, 150 mg direkomendasikan untuk memantau kehamilan. Jika diantara 8 dan 10 minggu, maka hanya satu kali injeksi yang digunakan segera setelah operasi. Jika corpus luteum sudah dikeluarkan diantara 6-8 minggu, maka penambahan 2 dosis harus diberikan pada 1-2minggu setelah yang pertama.2Komplikasi

Infeksi, Peritonitis, Sepsis, Chronic pain, Infertilitas (jarang)Prognosis

Dengan deteksi dini serta penanganan yang cepat maka prognosis dari torsio ovarian sangat baik. Tetapi kebanyakan pasien dengan torsio ovarian dideteksi terlambat sehingga sudah timbul infark serta nekrosis pada ovarium. Penyelamatan ovarium dilaporkan dibawah 10% yang berhasil pada orang dewasa tapi meningkat menjadi 27% pada pasien pediatric.5Kesimpulan

Wanita berusia 23 tahun yang hamil 29 minggu mengalami torsio ovarian. Daftar pustaka

1. Anwar M, Baziad A, Prabowo RP. Ilmu kandungan. Edisi ke tiga. Jakarta: PT Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo;2011.h.112-92. Patil PR. Lecture notes radiologi. Edisi ke tiga. Jakarta: Erlangga medical series; 2003.h.85-6

3. Schorge JO, Scahaffer JI, Halvorson LM, et al. Williams gynecology. China: The McGraw-Hill companies;2008.h.215-7

4. Taber B. Kedaruratan obstetric dan ginekologik. Jakarta: EGC; 2000.h.65-6

5. Griffin D, Shiver SA. Unusual presentation of acute ovarian torsion in an adolesecent. Am J Emerg Med. May 2008; 26(4):520.e1.1-36. Kolluru V, gurumurthy R, Vellanki V, Gururaj D. torsion of ovarian cyst during pregnancy; a case report. Case journal 2009, 2:9405

2