Tumor Jinak Esofagus

  • View
    46

  • Download
    3

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Universitas sumatera utara

Text of Tumor Jinak Esofagus

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Tumor esofagus ada yang bersifat jinak dan ada yang bersifat ganas. Tumor jinak esofagus merupakan lesi yang sangat jarang ditemukan (< 1% dari kasus tumor esofagus). Kira-kira dua per tiga dari tumor jinak esofagus adalah tumor yang berasal dari lapisan otot yang disebut dengan leiomioma dan jenis tumor yang lain sering ditemukan adalah polip dan kista.1 Tidak ada gejala yang khas dari tumor jinak esofagus. Gejala sumbatan akan timbul jika ukuran tumor besar. Disfagia terjadi secara lambat tergantung dari besarnya tumor. Disfagia dapat ditemukan ketika diameter tumor sudah membesar lebih dari 5 cm. Kadang-kadang ditemukan rasa tidak enak di epigastrium dan substernal, rasa penuh dan sakit yang menjalar ke punggung dan bahu, muntah dan mual serta regurgitasi.2,3

Secara patologi, jarang neoplasma jinak esofagus. Seperti yang disebutkan diatas, leiomioma, polip dan kista membentuk lebih dari 95% lesi ini. Terlazim leiomioma (75%). Masukan alkohol berlebihan dan tembakau (faktor etiologi yang dikenal dalam karsinoma mulut dan saluran pernafasan) juga dilibatkan dalam karsinoma esofagus.4Jika tumor esofagus timbul dalam bagian distal dan setengah pasien yang terkena adalah asimtomatik. Mayoritas leiomioma ditemukan secara tidak sengaja atau saat autopsi. Perdarahan jarang ditemukan kecuali pada kasus leiomiosarkoma. Karena tumor berasal dari propria muskularis, tumor tersebut ditutupi oleh submukosa yang utuh dan mukosa, sehingga sulit untuk dilakukan biopsi secara endoskopi.4

Terapi tumor jinak esophagus adalah dengan pembedahan. Reseksi merupakan satu-satunya cara untuk konfirmasi tumor tersebut tidak bersifat ganas. Tumor jinak esofaggus dengan pemeriksaan esofagram yang berkala dapat ditemukan karakteristk tumor yang tumbuh secara lambat dan resiko yang rendah untuk malignant degeneration. Pada kasus tumor jinak esofagus setelah pembedahan reseksi, tidak ada laporan yang menyatakan terjadi rekurens.1 1.2Tujuan PenulisanMakalah ini dibuat untuk memenuhi persyaratan kepaniteraan klinik senior di Departemen Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok dan Bedah Kepala Leher RSUP H. Adam Malik Medan Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1Anatomi dan Fisiologi EsofagusEsofagus merupakan sebuah saluran berupa tabung berotot yang menghubungkan dan menyalurkan makanan dari rongga mulut ke lambung. Dari perjalanannya dari faring menuju gaster, esofagus melalui tiga kompartemen dan dibagi berdasarkan kompartemen tersebut, yaitu leher (pars servikalis), sepanjang 5 cm dan berjalan di antara trakea dan kolumna vertebralis. Dada (pars thorakalis), setinggi manubrium sterni berada di mediastinum posterior mulai di belakang lengkung aorta dan bronkus cabang utama kiri, lalu membelok ke kanan bawah di samping kanan depan aorta thorakalis bawah. Abdomen (pars abdominalis), masuk ke rongga perut melalui hiatus esofagus dari diafragma dan berakhir di kardia lambung, panjang berkisar 2-4 cm.5Pada orang dewasa, panjang esofagus apabila diukur dari incivus superior ke otot krikofaringeus sekitar 15-20 cm, ke arkus aorta 20-25 cm, ke v. pulmonalis inferior, 30-35 cm, dan ke kardioesofagus joint kurang lebih 40-45 cm. Bagian atas esofagus yang berada di leher dan rongga dada mendapat darah dari a. thiroidea inferior beberapa cabang dari arteri bronkialis dan beberapa arteri kecil dari aorta. Esofagus di hiatus esofagus dan rongga perut mendapat darah dari a. phrenica inferior sinistra dan cabang a. gastrika sinistra.5Pembuluh vena dimulai sebagai pleksus di submukosal esofagus. Di esofagus bagian atas dan tengah, aliran vena dari plexus esofagus berjalan melalui vena esofagus ke v. azigos dan v. hemiazigos untuk kemudian masuk ke vena kava superior. Di esofagus bagian bawah, semua pembuluh vena masuk ke dalam vena koronaria, yaitu cabang vena porta sehingga terjadi hubungan langsung antara sirkulasi vena porta dan sirkulasi vena esofagus bagian bawah melalui vena lambung tersebut. Pembuluh limfe esofagus membentuk pleksus di dalam mukosa, submukosa, lapisan otot dan tunika adventitia. Di bagian sepertiga kranial, pembuluh ini berjalan seara longitudinal bersama dengan pembuluh limfe dari faring ke kelenjar di leher sedangkan dari bagian dua per tiga kaudal dialirkan ke kelenjar seliakus, seperti pembuluh limfe dari lambung. Duktus thorakikus berjalan di depan tulang belakang.5Esofagus dipersarafi oleh saraf simpatis dan parasimpatis. N. vagus bersifat saraf parasimpatis bagi esofagus, meskipun di bawah leher n. vagus membawa gabungan saraf simpatis dan parasimpatis. Esofagus pars servikalis dipersarafi oleh n. laringeus rekuren yang berasal dari n. vagus. Cabang n.vagus dan n. laringeus rekurens kiri mempersarafi esofagus thorakalis atas. N. vagus kiri dan kanan berjalinan dengan serabut simpatis membentuk pleksus esofagus. Persarafan simpatis berasal dari ganglion servikal superior rantai simpatis, n. splanikus mayor, pleksus aortik thorasikus dan ganglion seliakus.5Secara histologis dinding esofagus terdiri atas 4 lapis, yaitu:31. Mukosa: Terbentuk dari epitel berlapis gepeng bertingkat yang berlanjut ke faring bagian atas, dalam keadaan normal bersifat alkali dan tidak tahan terhadap isi lambung yang sangat asam.2. Submukosa: Mengandung sel-sel sekretoris yang menghasilkan mukus yang dapat mempermudah jalannya makanan sewaktu menelan dan melindungi mukosa dari cedera akibat zat kimia.3. Muskularis: Otot bagian esofagus, merupakan otot rangka. Sedangkan otot pada separuh bagian bawah merupakan otot polos, bagian yang diantaranya terdiri dari campuran antara otot rangka dan otot polos.4. Serosa: Terdiri dari jaringan ikat yang jarang menghubungkan esofagus dengan struktur-struktur yang berdekatan, tidak adanya serosa mengakibatkan penyebaran sel-sel tumor lebih cepat (bila ada kanker esofagus) dan kemungkinan bocor setelah operasi lebih besar.

Gambar 1: Empat Lapisan Esofagus (mukosa, submukosa, muskularis, adventitia)Fungsi dasar esofagus adalah membawa material yang ditelan dari faring ke lambung. Refluks gastrik ke esofagus dicegah oleh sfingter bawah esofagus dan masuknya udara ke esofagus pada saat inspirasi dicegah oleh sfingter atas esofagus, sfingter atas normalnya selalu tertutup akibat kontraksi tonik otot krikofaringeus.Ketika makanan mencapai esofagus, makanan akan didorong ke lambung oleh gerakan peristaltik. Kekuatan kontraksi peristaltik tergantung kepada besarnya bolus makanan yang masuk ke esofagus. Gerakan peristaltik esofagus terdiri dari gerakan peristaltik primer dan gerakan peristaltik sekunder. Gerak peristaltik primer adalah gerak peristaltik yang merupakan lanjutan dari gerakan peristaltik pada faring yang menyebar ke esofagus. Gerakan ini berlangsung dengan kecepatan 3-4 cm/ detik, dan membutuhkan waktu 8-9 detik untuk mendorong makanan ke lambung. Gerakan peristaltik sekunder terjadi oleh adanya makanan dalam esofagus. Sesudah gerakan peristaltik primer dan masih ada makanan pada esofagus yang merangsang reseptor regang pada esofagus, maka akan terjadi gelombang peristaltik sekunder. Gelombang peristaltik sekunder berakhir setelah semua makanan meninggalkan esofagus. Esofagus dipisahkan dari rongga mulut oleh sfingter esofagus proksimal atau sfingter atas esofagus (upper esopaheal spinchter/ UES), dan dipisahkan dengan lambung oleh sfingter esofagus distal atau sfingter bawah esofagus (lower esophageal spinchter/ LES). Sfingter esofagus proksimal terdiri dari otot rangka dan diatur oleh n. vagus. Tonus dari otot ini dipertahankan oleh impuls yang berasal dari neuron post ganglion n. vagus yang menghasilkan asetilkolin.Sfingter esofagus distal yang terletal 2-5 cm di atas hubungan antara esofagus dan lambung merupakan otot polos. Secara anatomis, strukturnya tidak berbeda dengan esofagus tetapi secara fisiologis berbeda oleh karena dalam keadaan normal sfingter selalu konstriksi.5Proses menelan dapat di bagi menjadi 3 tahap yaitu:2,31. Fase oral, yang mencetuskan proses menelan. Fase oral terjadi secara sadar. Makanan yang telah dikunyah dan bercampur dengan liur akan membentuk bolus makanan melalui dorsum lidah ke orofaring akibat kontraksi otot intrinsik lidah. Kontraksi m. levator veli palatini mengakibatkan rongga pada tekukan dorsum lidah diperluas, palatum mole dan bagian atas dinding posterior faring (Passavants ridge) terangkat penutupan nasofaring akibat kontraksi m. levator veli palatine, kontraksi m. Palatoglosus, ismus fausium tertutup, kontraksi m. palatofaring, sehingga bolus makanan tidak akan berbalik ke rongga mulut.2. Fase faringeal, terjadi secara refleks pada akhir fase oral, membantu jalannya makanan dari faring kedalam esophagus. Faring dan taring bergerak ke atas oleh kontraksi m.stilofaring, m. salfingofaring, m.tirohioid dan m. palatofaring. Aditus laring tertutup oleh epiglotis, sedangkan ketiga sfingter laring, yaitu plika ariepiglotika, plika ventrikularis dan plika vokalis tertutup karena kontraksi m. ariepiglotika dan m. aritenoid obligespenghentian aliran udara ke laring karena refleks yang menghambat pernapasan (bolus tidak akan masuk ke saluran nafas meluncur ke arah esofagus.3. Fase esofageal, fase involunter lain yang mempermudah jalannya makanan dari esofagus ke lambung. Rangsangan makanan pada akhir fase faringealrelaksasi m. krikofaring introitus esofagus terbuka dan bolus makanan masuk kedalam esofagus. Sfingter berkontraksi, tonus introitus esofagus saat istirahat,refluks dapat dihindari. Akhir fase esofageal sfingter ini akan terbuka secara refleks ketika dimulainya peristaltik esofagus servikal untuk mendorong bolus makanan ke distal. Selanjutnya setelah bolus makanan lewat, maka sfingter ini akan menutup kembali.

2.2Definisi dan Klasifikasi

Tumor jinak biasanya jarang ditemukan. Umumnya ditemukan pada usia dewasa muda dan gejala-gejala yang ditimbulkannya terjadi secara perlahan, jika dibandingkan dengan tumor gana