BAB I ?· Kelapa sawit dapat tumbuh ... Salah satu hasil dari tanaman kelapa sawit yang banyak dihasilkan…

  • View
    213

  • Download
    0

Embed Size (px)

Transcript

1

BAB I

PENDAHULUAN

I. 1. Pendahuluan

Melambungnya harga minyak mentah pada tahun 2008 telah menimbulkan

kepanikan masyarakat global. Muncul kekhawatiran dari masyarakat global tentang

adanya kemungkinan berkurangnya sumber minyak fosil yang kemudian

mengakibatkan harga minyak akan terus meningkat. Di sisi lain, masyarakat global

terus berupaya untuk mengurangi dampak perubahan iklim. Adanya dua hal

tersebut mendorong masyarakat global untuk mencari sumber alternatif lain yang

lebih murah dan ramah lingkungan. Dalam hal ini, bahan bakar nabati dinilai lebih

murah dan ramah lingkungan. Oleh karena itu, banyak negara yang mulai beralih

dan mengembangkan minyak nabati untuk dijadikan bahan bakar nabati atau

biofuel. Antara tahun 1980 hingga 2008, terjadi peningkatan konsumsi minyak

nabati hingga lebih dari tiga kali lipat, yang semula 40 juta ton menjadi 130 juta ton

(World Growth, 2011, p. 9). Sejak tahun 1980, minyak nabati utama, yaitu minyak

kedelai, mampu mencakup sepertiga dari konsumsi total minyak nabati dunia.

Namun, dalam kurun waktu 30 tahun terakhir, kecenderungan pasar dunia mulai

beralih ke minyak kelapa sawit. Hal tersebut mengakibatkan peningkatan hingga

sepuluh kali lipat terhadap konsumsi minyak kelapa sawit. Minyak kelapa sawit

memiliki keunggulan yang mampu menarik minat konsumen dunia. Keunggulan

tersebut antara lain: lebih tahan lama disimpan, tahan terhadap tekanan dan suhu

2

tinggi, tidak cepat bau, memiliki kandungan gizi yang relatif tinggi (Hermayanti, et

al., 2013, p. 1). Selain itu, minyak kelapa sawit sangat bermanfaat untuk bahan baku

dalam industri pangan dan non-pangan.

Uni Eropa merupakan salah satu kawasan yang negara-negaranya banyak

mengonsumsi minyak nabati, baik untuk kebutuhan bahan pangan maupun non-

pangan. Salah satu minyak nabati yang dikonsumsi Uni Eropa adalah minyak

kelapa sawit. Di Eropa, minyak kelapa sawit banyak digunakan untuk keperluan

industri-industri di Eropa. Selain itu, minyak kelapa sawit juga dimanfaatkan oleh

Uni Eropa sebagai bahan bakar nabati, menggantikan bahan bakar fosil. Uni Eropa

merupakan salah satu kawasan yang mulai berupaya untuk mengurangi

ketergantungannya terhadap penggunaan bahan bakar fosil. Hal tersebut yang

kemudian mengakibatkan meningkatnya kebutuhan Uni Eropa akan minyak nabati.

Selama ini Uni Eropa banyak mengimpor minyak kelapa sawit, atau yang biasa

dikenal dengan crude palm oil (CPO), dari Indonesia.

Namun pada awal tahun 2013, Uni Eropa menyatakan menolak masuknya

CPO Indonesia ke negara-negara di Eropa. Terdapat berbagai alasan yang

disampaikan oleh Uni Eropa terkait penolakan CPO tersebut. Hal inilah yang

menimbulkan ketertarikan penulis untuk memilih judul Penolakan Crude Palm

Oil (CPO) Indonesia oleh Uni Eropa. Penulis ingin meneliti serta menganalisis

alasan penolakan CPO Indonesia oleh Uni Eropa, terlebih bahwa Uni Eropa

merupakan salah satu pasar potensial Indonesia dalam memasarkan CPO-nya.

3

I. 2. Latar Belakang

Kelapa sawit merupakan tumbuhan pohon yang berasal dari benua Afrika.

Kelapa sawit banyak dibudidayakan di wilayah-wilayah yang beriklim tropis,

seperti Asia Tenggara dan Amerika. Kelapa sawit diperkenalkan ke Malaysia dan

Indonesia pada masa penjajahan. Mulai saat itulah, Malaysia dan Indonesia mulai

membudidayakan dan mengembangkan kelapa sawit. Kelapa sawit dapat tumbuh

hingga mencapai 24 meter. Banyak manfaat yang diperoleh dari tumbuhan kelapa

sawit di setiap bagiannya. Daging dan kulit dari kelapa sawit mengandung minyak

yang bermanfaat untuk dijadikan minyak goreng, sabun, dan lilin. Hampas dari

kelapa sawitpun dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Sedangkan tempurung

dari kelapa sawit dapat dijadikan bahan bakar dan arang. Sebagai negara agraris,

sektor pertanian dan perkebunan Indonesia merupakan salah satu sektor yang dapat

menunjang pembangunan dan perekonomian negara. Dalam hal ini, pemerintah

Indonesia sedang berupaya mengembangkan sektor agroindustri dalam sektor

perkebunan kelapa sawit.

Salah satu hasil dari tanaman kelapa sawit yang banyak dihasilkan adalah

minyak kelapa sawit atau crude palm oil (CPO). CPO merupakan produk turunan

pertama kelapa sawit yang berfungsi sebagai salah satu bahan bakar alternatif

biodiesel. CPO memiliki prospek yang sangat baik bagi perdagangan minyak nabati

dunia. Oleh karena itulah pemerintah Indonesia berupaya untuk mengembangkan

areal perkebunan kelapa sawit. Pengembangan areal kelapa sawit utamanya

dilakukan di Kalimantan, Sumatera, Sulawesi, dan Papua. CPO tergolong dalam

4

komoditas minyak nabati yang merupakan salah satu komoditas non-migas utama

yang banyak diekspor ke luar negeri.

Tabel I. 1. Ekspor Non-Migas Indonesia (dalam juta US$)

No Komoditas 2008 2009 2010 2011 2012

1 Bahan Bakar Mineral 10.656,2 13.934,0 18.725,7 27.444,1 26.407,8

2

Lemak&Minyak

Hewan/Nabati

15.624,0 12.219,5 16.312,2 21.655,3 21.299,8

3

Karet dan Barang dari

Karet

7.637,3 4.912,8 9.373,3 14.352,2 10.475,2

4 Mesin/Peralatan Listrik 8.120,2 8.020,4 10.373,2 11.145,4 10.764,8

5

Bijih, Kerak, & Abu

Logam

4.295,6 5.804,8 8.148,0 7.342,6 5.082,6

(Badan Pusat Statistik, diolah oleh Kementerian Perdagangan)

Sejak 2004 penggunaan komoditi CPO telah menduduki posisi tertinggi

dalam pasar vegetable oil dunia yaitu mencapai sekitar 30 juta ton dengan

pertumbuhan rata-rata 8% per tahun, mengalahkan komoditi minyak kedelai sekitar

25 juta ton dengan pertumbuhan rata-rata 3,8% per tahun (Kementerian

Perindustrian Republik Indonesia, 2012). Dan sejak tahun 2006 Indonesia telah

menempati peringkat pertama dalam produsen CPO dunia, dengan produksi pada

tahun 2006 hampir mencapai 16 juta ton (Mariati, 2009, p. 30). Bahkan menurut

5

informasi dari Badan Koordinasi Penanaman Modal (BPKM), sejak tahun 2010

Indonesia merupakan negara produsen CPO terbesar di dunia.

Tabel I. 2. Produksi Crude Palm Oil Dunia (dalam 1000 MT)

Negara Tahun

2009/10 2010/2011 2011/12 2012/2013 Nov 2013 Des 2013/14

Indonesia 22000 23600 26200 28500 31000 31000

Malaysia 17763 18211 18202 19321 19200 19200

Thailand 1287 1832 1892 2000 2100 2100

Kolombia 805 753 945 974 1000 1000

Nigeria 850 850 850 910 930 930

Lainnya 3336 3486 3862 4065 4079 4166

Total 46041 48732 51951 55770 58309 58396

(United States Department of Agriculture, 2013)

Berdasarkan tabel di atas dapat terlihat bahwa Indonesia merupakan negara

produsen minyak kelapa sawit dengan tingkat produksi paling tinggi. Peningkatan

jumlah produksi minyak kelapa sawit Indonesia diikuti pula dengan peningkatan

jumlah permintaan CPO oleh dunia. Hingga kini Indonesia masih menduduki

peringkat pertama sebagai negara eksportir minyak kelapa sawit atau crude palm

oil (CPO).

6

Tabel I. 3. Ekspor Crude Palm Oil (dalam 1000 MT)

Negara Tahun

2009/10 2010/11 2011/12 2012/13 Nov 2013 Des 2013/14

Indonesia 16573 16423 18452 20300 21300 21300

Malaysia 15530 16596 16600 18000 17200 17500

Papua

Nugini

520 577 587 620 640 640

Thailand 121 382 290 420 520 520

Benin 466 255 253 390 390 390

Lainnya 2295 2621 2840 2799 2920 2919

Total 35505 36854 39022 42529 42970 43269

(United States Department of Agriculture, 2013)

Minyak kelapa sawit Indonesia banyak yang diekspor ke India, Cina, Uni

Eropa, Pakistan, bahkan Malaysia juga turut mengimpor minyak kelapa sawit dari

Indonesia. Dalam hal ini, negara-negara Uni Eropa merupakan salah satu konsumen

terbesar CPO dari Indonesia selain India dan Cina.

Tabel I. 4. Ekspor Minyak Kelapa Sawit Indonesia ke Beberapa Negara

(dalam 1000 MT)

Negara Tahun

2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009

Uni Eropa 1.496 1.682 1.885 2.183 2.614 2.782 3.207 3.632

India 1.767 1.916 2.035 2.335 2.789 3.010 3.053 3.096

7

Cina 789 980 1.269 1.589 1.930 2.071 2.492 2.913

Malaysia 205 225 660 472 643 544 751 958

Pakistan 669 730 835 863 1.023 1.029 1.161 1.293

Bangladesh 221 262 338 354 430 433 501 569

Turki 152 160 196 226 260 288 319 350

Nigeria 141 158 181 229 264 272 357 442

Tanzania 114 123 153 168 193 199 219 239

Hongkong 101 110 130 185 213 232 324 416

Yordania 96 112 132 170 196 202 286 370

Afrika Selatan 93 105 179 186 214 224 243 262

Rusia 91 103 162 168 193 209 241 273

Mesir 80 129 190 191 220 240 279 318

Lainnya 466 575 651 1.117 1.287 915 1.037 1.159

Total 6.490 7.370 8.996 10.436 12.539 12.650 14.470 16.290

(Dirjend Bina Produksi Perkebunan, Deptan RI, 2010)

Dari data di atas dapat disimpulkan bahwa Uni Eropa merupakan pasar

utama dan potensial bagi Indonesia. Dubes RI di Brussel, Arif Havas Oegroseno

menyatakan bahwa salah satu sumber biodiesel yang digunakan sektor

transportasi Uni Eropa merupakan biodiesel yang diimpor dari Indonesia

(W