of 15/15
55 BAB IV REKONSTRUKSI EKOTEOLOGI 4.1 Pendahuluan Pada bab sebelumnya, penulis telah menafsir dan membahas teks Kolose 1:15-23. Hasil penafsiran dan pembahasan tersebut menghasilkan pemikiran mengenai keutamaan Kristus terhadap masa depan ciptaan yang dibuktikan melalui kedudukan dan peran-Nya dalam kosmos yakni pada pra-eksistensi, kemanusiaan, kesetaraan dengan Allah Bapa dan Roh Kudus, pencipta, penebus serta pendamai segala sesuatu. Pemahaman-pemahan yang berdasar pada Kolose 1:15-23 akan digunakan untuk merekonstruksi wacana ekoteologi. Rekonstruksi ini penting guna melahirkan pemikiran baru yang berdampak pada perubahan cara pandang dan perilaku. Penulis pun akan menjelaskan tentang wacana ekoteologi pada masa kekinian dan kehadiran wacana tersebut dalam konteks Indonesia. 4.2 Wacana Ekoteologi Masa Kini Ekoteologi melihat seluruh ciptaan Allah sebagai suatu sistem yang saling terkait 1 dan penekanannya terletak pada relasi yang harmonis antara Allah, manusia dan alam semesta. Relasi yang baik antara manusia dengan ciptaan lain digambarkan dalam relasi lingkaran yakni setiap ciptaan saling berhubungan dan tidak mendominasi 1 Haskarlianus Pasang, Mengasihi Lingkungan: Bagaimana Orang Kristen, Keluarga dan Gereja Mempraktikkan Kebenaran Firman Tuhan untuk Menjadi Jawaban atas Krisis Ekologi dan Perubahan Iklim di Bumi Indonesia (Jakarta: Literatur Perkantas, 2011), 84-85.

BAB IV REKONSTRUKSI EKOTEOLOGI Pendahuluanrepository.uksw.edu/bitstream/123456789/6839/4/T1_712008003_BAB IV.pdf · barat yang memperkenalkan dualisme dalam perkembangan teologi gereja

  • View
    218

  • Download
    5

Embed Size (px)

Text of BAB IV REKONSTRUKSI EKOTEOLOGI...

55

BAB IV

REKONSTRUKSI EKOTEOLOGI

4.1 Pendahuluan

Pada bab sebelumnya, penulis telah menafsir dan membahas teks Kolose

1:15-23. Hasil penafsiran dan pembahasan tersebut menghasilkan pemikiran mengenai

keutamaan Kristus terhadap masa depan ciptaan yang dibuktikan melalui kedudukan

dan peran-Nya dalam kosmos yakni pada pra-eksistensi, kemanusiaan, kesetaraan

dengan Allah Bapa dan Roh Kudus, pencipta, penebus serta pendamai segala sesuatu.

Pemahaman-pemahan yang berdasar pada Kolose 1:15-23 akan digunakan

untuk merekonstruksi wacana ekoteologi. Rekonstruksi ini penting guna melahirkan

pemikiran baru yang berdampak pada perubahan cara pandang dan perilaku. Penulis

pun akan menjelaskan tentang wacana ekoteologi pada masa kekinian dan kehadiran

wacana tersebut dalam konteks Indonesia.

4.2 Wacana Ekoteologi Masa Kini

Ekoteologi melihat seluruh ciptaan Allah sebagai suatu sistem yang saling

terkait1 dan penekanannya terletak pada relasi yang harmonis antara Allah, manusia

dan alam semesta. Relasi yang baik antara manusia dengan ciptaan lain digambarkan

dalam relasi lingkaran yakni setiap ciptaan saling berhubungan dan tidak mendominasi

1 Haskarlianus Pasang, Mengasihi Lingkungan: Bagaimana Orang Kristen, Keluarga dan Gereja Mempraktikkan Kebenaran Firman Tuhan untuk Menjadi Jawaban atas Krisis Ekologi dan Perubahan Iklim di Bumi Indonesia (Jakarta: Literatur Perkantas, 2011), 84-85.

56

satu dengan yang lain. Ekoteologi tetap mengakui peran penting manusia dalam

kehidupan planet bumi, namun menolak klaim mengenai peran dominasi manusia.2

Ekoteolog melukiskan kembali kisah penciptaan dan menolak pandangan

tradisional yang melihat penciptaan dimulai dari tingkatan yang paling sederhana

menuju tingkatan yang paling sempurna karena pandangan tersebut menempatkan

manusia pada kedudukan yang tertinggi.3

Wacana ekoteologi pada masa kini masih diwarnai oleh perdebatan-

perdebatan mengenai alasan terjadinya krisis ekologi yang dikaitkan dengan peristiwa-

peristiwa alam baik itu bencana alam, dampak perubahan iklim, kelangkaan sumber

daya alam, pengrusakan hutan, penggunaaan teknologi yang tidak ramah lingkungan,

dan lain sebagainya serta bagaimana teologi menjawab dan bertindak menangani

permasalahan-permasalahan lingkungan tersebut.

Hal yang harus diakui bahwa krisis ekologi yang terjadi pada saat ini

menyadarkan sebagian pemikir Kristen mengenai masalah lingkungan hidup sebagai

bagian dari tugas agama. Para pemikir tersebut mulai mengkaji ulang pandangan

agama yang telah berabad-abad lalu hanya terfokus pada keselamatan manusia yakni

keselamatan untuk jiwa setelah kematian.4

Kritikan pedas bagi kekristenan oleh Lynn White dalam artikel yang

berjudul The Historical Roots of Our Ecological Crisis juga memberikan pengaruh

besar bagi para teolog dengan tuduhan bahwa kekristenan menanggung beban besar

2 David G. Hallman, Beyond North/South Dialogue dalam David G. Hallman, Ed., Ecotheology: Voices From South and North (Maryknoll, NY: Orbis Books, 1994), 6. 3 Andalas, Lahir, 236. 4 Martin Harun, Alkitab dan Ekologi, dalam Forum Biblika-Jurnal Ilmiah Populer No. 14 (Jakarta: Lembaga Indonesia, 2001), 2.

57

dari rasa bersalah atas krisis ekologi5 atau dengan kata lain, orang Kristen adalah biang

keladi dari dieksploitasinya alam secara semena-mena dengan berdasar pada Kejadian

1:28, mengakibatkan banyaknya pemikiran-pemikiran baru yang muncul baik sifatnya

mendukung maupun menentang tuduhan tersebut.

Pengkajian ulang, pernyataan ataupun jawabab-jawaban yang disampaikan

oleh para teolog pada hakekatnya bertujuan untuk membangun suatu pandangan dan

pola perilaku yang mampu diterapkan dalam pemulihan ekologi. Sikap para teolog

untuk merubah cara pandang lama yang antroposentrisme menjadi cara pandang yang

ekoteologi agar menghasilkan suatu keutuhan ciptaan memang hal yang susah

sehingga tidak terlepas dari perdebatan ataupun tantangan-tantangan yang ada di

tingkat global maupun lokal.

Saya berpendapat ada beberapa hal penting yang terdapat dalam bingkai

pemikiran ekoteologi masa kini, yakni pertama, pengaruh filsafat dalam pemikiran

barat yang memperkenalkan dualisme dalam perkembangan teologi gereja

mengakibatkan ketimpangan relasi antara manusia dan alam. Ajaran tersebut

membedakan dunia dan sorga ataupun jasmani dan rohani yang mempengaruhi konsep

keselamatan, eskatologi, dan lain sebagainya. Kedua, ajaran yang menempatkan Allah

di tempat yang sulit dijangkau yakni di Sorga, mengajarkan bahwa hal yang terpenting

adalah di Sorga, bukan di dunia sehingga manusia dapat bersikap acuh tak acuh

bahkan tidak peduli terhadap dunia ini. Ketiga, ilmu dan teknologi tidak salah,

manusia-lah yang salah karena memakai ilmu dan teknologi dengan tujuan untuk

5 Pendapat Lynn White dikutip oleh Laurel Kearns, The Context of Eco-Theology dalam Gareth Jones, Ed., The Blackwell Companion to Modern Theology, 466.

58

kepentingan diri sendiri tanpa memperhatikan dampaknya pada alam. Keempat,

intepretasi keliru terhadap teks Alkitab tanpa melihat konteks dari teks, terkhususnya

dalam mandat Kej 1:28 yang dijadikan dasar atau justifikasi dari tindakan dominasi

manusia terhadap alam bahkan sesamanya. Kelima, perlunya pertobatan ekologi.

Andrew Shepherd menjelaskan bahwa pertobatan ekologi adalah pertobatan dengan

cara mengakui bahwa kabar baik yang dinyatakan oleh Kristus berlaku juga bagi

seluruh ciptaan dan disertai dengan perubahan cara hidup yakni gaya hidup yang

sederhana dan berkelanjutan. Keenam, hubungan antar ciptaan adalah mitra sejajar

dengan tugas manusia sebagai penatalayan, pengelola alam semesta ini dengan

meneladani Kristus. Ketujuh, perlu adanya kepekaan yang kuat terhadap lingkungan di

samping iman yang kuat. Bukan hanya berdoa untuk kelestarian alam tanpa tindakan

tetapi perlu adanya tindakan yang selaras dengan doa.

Ekoteologi semakin mengalami perkembangan yang pesat dengan corak

yang bermacam-macam. Ekoteologi bukan hanya mencakup kaum Kristen namun

mencakup keanekaragaman suara, telinga dan wajah dari berbagai pihak pada berbagai

disiplin ilmu. Ini suatu pemikiran yang baik sekaligus tantangan yang harus dihadapi.

Tantangan ekoteologi bukan hanya berupa permasalahan global tetapi juga masalah

internal antar berbagai pihak dalam penanaman sikap kepeduliaan, menjaga, merawat

dan memelihara ciptaan lain.

Perspektif ekoteologi juga dihubungkan dengan feminisme yang melahirkan

cara pandang ekofeminisme yang melihat bahwa bumi ini sengsara bukan hanya

karena sikap manusia yang eksploitatif desktruktif tetap juga karena pandangan

59

androsentris dengan penempatan laki-laki sebagai puncak hierarki yang menjadi tolak

ukur segala sesuatu.

4.3 Wacana Ekoteologi dalam Konteks di Indonesia

Dalam konteks Indonesia, ekoteologi meupakan wacana yang tepat karena

persoalan ekologi sangat yang relevan untuk dibicarakan di Indonesia. Betapa tidak,

Indonesia yang kaya akan sumber daya alam tidak mampu mensejahterahkan

rakyatnya. Ini suatu fakta yang menggelitik dan menjadi bukti bahwa bangsa

Indonesia telah berada pada situasi yang tidak sesuai dengan cita-cita kemerdekaan

yang tertera dalam ideologi pancasila maupun UUD 45.

Banjir bandang, angin puting beliung, lumpur lapindo, kegagalan panen,

kekeringan, kelangkaan air bersih, kondisi laut dan terumbu karang yang semakin

memburuk setiap harinya serta terjadinya kerusakan alam yang lain,

mempresentasikan keserakahan sebagian umat manusia yang tamak akan kekuasaan,

kekayaan atau keuntungan pribadi sehingga menjadikan lingkungan hidup sebagai

objek eksploitasi serta rusaknya rantai ekosistem bumi dengan beberapa faktor, antara

lain: penebangan hutan secara illegal maupun legal, penggunaan sumber daya energi

yang tidak dapat diperbaharui secara semena-mena, perumbuhan industri dan

korporasi global yang mengeruk sumber daya alam, pertumbuhan dan kepadatan

penduduk yang tak terkendali serta gaya hidup manusia yang konsumtif dan

materialistis mengantarkan bumi Indonesia pada ambang kepunahaan. Laporan Green

Peace menyebutkan bahwa kerusakan hutan di Indonesia adalah kerusakan hutan

tertinggi di dunia dengan musnahnya 72 persen hutan Indonesia serta tercatat dalam

60

Guinnes Book of World Records sebagai negara dengan kerusakan hutan tercepat di

dunia.6 Sungguh suatu realita hidup yang ironis.

Manusia pada dasarnya sadar bahwa konsumsi sumber daya alam tanpa

prosedur dan berlebihan akan berdampak negatif, yaitu rusaknya lingkungan, akan

tetapi kesadaran tersebut tereduksi oleh nafsu eksploitatif dan paradigma patriakhi

yang berpandangan bahwa alam harus dimanfaatkan oleh manusia. Suatu paradigma

yang telah mengakar, sehingga tidakan-tindakan yang merusak tersebut seolah benar

dan malah tidak jarang dicarikan justifikasi dari berbagai sumber, termasuk agama.

Menurut Mantan Menteri Negara Lingkungan Hidup, Nabiel Makarim kesadaran

masyarakat Indonesia cukup baik, kelembagaan kelestarian lingkungan sudah ada di

tingkat pusat maupun daerah, peraturan tentang pelestarian lingkungan hidup sudah

memadai, namun sampai sekarang kegiatan eksploitasi dan perusakan hutan masih

berlangsung.7

Persoalan ekologi bukan hanya ulah pribadi atau sekelompok orang tertentu,

pemerintah juga dituding sebagai pihak yang bertanggungjawab karena pemerintah

dinilai lemah dalam upaya penegakkan hukum, padahal dasar hukum perlindungan

lingkungan yang ada di Indonesia telah tercantum dalam UUD 45, Pasal 338 dan UU

6 Imam Mustofa, Urgensi Eko-Teologi, diunduh dari http://catatanlepasnick.blogspot.com/2010/01/ekoteologi-menurut-denis-edwards.html, pada tanggal 10 November 2012. 7 Nick Doren, Ekoteologi menurut Dennis Edwards, dalam http://mushthava.blogspot.com/2012/02/urgensi-eko-teologi.html, pada tanggal 10 November 2012. 8 (ayat 1) Bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. (ayat 4) Perekonomian Nasional diselenggarakan berdasarkan atas demokrasi ekonomi dengan prinsip kebersamaan, efisiensi keadilan, berkelanjutan, berwawasan lingkungan, kemandirian serta dengan menjaga keseimbangan kemajuan dan kesatuan ekonomi nasional. Jangan hanya membaca ayat 1 dari pasal 33 UUD 45 tanpa melihat ayat 4 ataupun UU LH No. 32 Tahun 2009 karena makna yang didapat akan bersifat antroposentris bahkan hierarkis dengan negara di tempat pertama, rakyat ditempatkan pada kedudukan kedua dan yang terbawah adalah alam.

61

LH No. 32 Tahun 20099. Kerusakan ekologi Indonesia menuntut upaya perbaikan dari

setiap warga negara, baik secara pribadi maupun secara kelompok, melalui lembaga

pemerintahan maupun lembaga swadaya untuk segera memikirkan solusi jangka

pendek dan panjang yang berguna bagi pertobatan ekologi.

Pada bidang teologi, teologi keselamatan yang antroposentrik sangat kuat

kehadirannya dalam gereja-gereja di Indonesia. Pengaruh teologi ini khususnya oleh

Luther dan Calvin10 benar-benar tertanam dalam ajaran kekristenan sampai hari ini,

Pengajaran dalam gereja selalu menekankan bahwa Kristus datang untuk menebus

manusia. Fokus interpretasi Yohanes 3:16 oleh sebagian besar para pemimpin gereja

terletak pada keselamatan manusia bukan keselamatan dunia.

Teologi penciptaan yang bias antroposentrisme serta dualisme hierarkis juga

dianut oleh gereja-gereja di Indonesia. Manusia11 dianggap sebagai pusat ciptaan.

Teologi penciptaan ini cenderung berpikir bahwa manusia adalah ciptaan yang paling

istimewa dan berhak mengusai ciptaan-ciptaan lain. Manusia berelasi dengan ciptaan

lain secara piramidal. Mereka tidak hanya menemukan diri mereka berbeda, tetapi

juga terpisah dari ciptaan-ciptaan lain. Manusia menganggap diri sebagai tuan atas

ciptaan-ciptaan lainnya. Manusia menganggap diri sebagai tuan dan merasa

mendapatkan penugasan istimewa dari Allah untuk menguasai dan menaklukan

9 mengatur dan melaksanakan proteksi atau perlindungan terhadap sumber daya alam yaitu udara, tanah, air, pesisir dan laut, keanekaragaman hayati, pedesaan, perkotaan, lingkungan sosial agar tidak mengalami kerusakan dan atau pencemaran. 10Luther dan Calvin berpandangan sangat antroposentrik, walaupun tidak ekstrem seperti Origenes. Luther memandang alam bukan sebagai saksi kemuliaan Allah, sedangkan Calvin melihat alam hanyalah latar belakang dari drama penyelamatan manusia. 11Kata manusia hanya menunjuk pada kaum laki-laki dalam perspektif teologi penciptaan yang bias antroposentrisme dan patriakhi.

62

ciptaan lain. Mereka dapat mempergunakan atau mengeksploitasi ciptaan lain demi

keberlangsungan hidup.

Ekoteologi sendiri telah menjadi salah satu tugas dari Persekutuan Gerejawi

Indonesia (PGI). Tugas ini dinyatakan dalam buku Lima Dokumen Keesaan Gereja12

dan buku Tahun Rahmat dan Pemerdekaan: Perenungan Perjalanan Lima Puluh

Tahun Republik Indonesia13. Dalam pertama, PGI berusaha melibatkan seluruh gereja

untuk berperan aktif dalam memberitakan injil kepada seluruh makhluk dalam bentuk

tanggung jawab terhadap keutuhan ciptaan dengan menwujudnyatakan tindakan-

tindakan pemeliharaan dan pelestarian lingkungan hidup sedangkan dalam buku yang

kedua, PGI menegaskan telah sadar mendukung dan ingin mengembangkan perspektif

ekoteologi dalam kehidupan sehari-hari.

Pada hemat penulis, ekoteologi dalam konteks Indonesia masih berusaha

untuk mengubah paradigma antroposentrisme, dualisme hierarki dan pemahaman

bahwa bencana adalah hukuman Tuhan sehingga manusia hanya pasrah menerima

musibah yang terjadi.

4.4 Sumbangsih Penafsiran Kolose 1:15-23 terhadap Wacana Ekoteologi

Teks Kolose 1:15-23 berbicara mengenai dimensi transendental dari kosmik

Kristus, yang meliputi kedudukan dan peran Kristus dalam kosmos. Seluruh karya

Kristus bernilai ekologi dan sejalan dengan wacana ekoteologi. Karya-Nya bukan

12 Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia, Lima Dokumen Keesaan Gereja Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (LDKG-PGI): Keputusan Sidang Raya XII PGI, Jayapura 21-30 Oktober 1994 (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1996), 25. 13 Pada empat Artikel yang ditulis oleh Dr. Th. Kobong, Karel Phil Erari, Emmanuel Gerrit Singgih dan Kasumbogo Untung.

63

hanya dalam proses inkarnasi dan penebusan serta pendamaian umat manusia dari

dosa tetapi juga dalam pra-eksistensi-Nya sebagai pencipta segala sesuatu.

4.4.1 Keutamaan Krisus terhadap Masa Depan Ciptaan dalam Wacana Ekoteologi

Keutamaan Kristus dalam pra-eksistensi dan kemanusiaan-Nya, kesetaraan-

Nya dengan Allah Bapa dan Roh Kudus, kedudukan-Nya dalam karya penciptaan

dan karya penebusan serta pendamaian yang bersifat kosmik memberikan suatu

harapan akan masa depan ciptaan yang berimplikasi pada pola relasi yang setara

antar ciptaan.

Penafsiran terhadap Kolose 1:15-23 menyatakan bahwa Kristus berkaitan

dengan segala ciptaan bukan sejak proses inkarnasi dan penebusan tetapi sejak awal,

sebelum segala sesuatu dijadikan. Hubungan tersebut dijelaskan dalam konsep

kosmik Kristus dalam gambaran kepala tubuh.

Keterkaitan antara Kristus dan ciptaan mewujudnyatakan peristiwa

Inkarnasi. Allah yang dalam kekekalan-Nya telah berencana sejak semula untuk

menebus, mendamaikan serta memulihkan keutuhan ciptaan. Ini tujuan dari

kedatangan dan pemberitaan Kristus mengenai Kerajaan Allah. Karya penebusan

dan pendamaian-Nya menjadi awal transformasi dari relasi yang baru antara ciptaan

dan Allah serta antar ciptaan.

Ini sesuai dengan wacana ekoteologi, karena merupakan cara pandang yang

menentang relasi antroposentrisme dan atau yang bias dualisme hierarki serta sama-

sama mengakui bahwa seluruh ciptaan saling bergantung dan berpusat pada Allah di

dalam Kristus.

64

Keutamaan Kristus dalam wacana ekoteologi menghadirkan pemahaman

bahwa masa ini adalah masa transisi menuju masa depan ciptaan. Pemulihan

ekologi akan terjadi dan itu didahului oleh pertobatan ekologi, sehingga tidak ada

kata terlambat untuk memulai sesuatu. Kristus sebagai kepala ciptaan telah

mengumpulkan semua ciptaan yang berbeda-beda fungsinya untuk bersatu dan

saling membangun, menjaga dan memelihara. Paradigma ini meyakini bahwa

Kristus adalah teladan semua ciptaan tanpa terkecuali.

Saya berpendapat bahwa mengaitkan atau menjelaskan wacana ekoteologi

dalam pemahaman iman akan Kristus sangat penting untuk membantu penghayatan

dan kepeduliaan pada ekologi yang berakar pada iman akan Kristus dan ini adalah

bagian dari tanggung jawab menjadi pengikut Kristus, suatu jalan pemuridan

Kristen. Kepeduliaan kepada ekologi bagi para pengikut Kristus bukanlah perintah

atau paksaan tetapi sesuatu yang lahir dari iman akan Kristus.

4.4.2 Etika Kristosentris-Holisme dalam Kolose 1:15-23

Kacamata baru sangat diperlukan untuk membaca teks Alkitab dalam

sentuhan ekoteologi. Kacamata tersebut ialah paradigma berpikir atau berteologi

yang meniadakan relasi hierarkis dan menyatakan keutuhan ciptaan melalui karya

Kristus, namun paradigma tersebut akan lebih bernilai jika dapat diterapkan dalam

kehidupan.

Paradigma keutamaan Kristus dalam wacana ekoteologi hasil penafsiran

Kolose 1:15-23 melahirkan suatu pola berelasi yang baru antara Allah dan ciptaan

maupun antar ciptaan. Pola atau etika ini, saya sebut sebagai kristosentris-holisme.

65

Ini berarti bahwa teks Kolose 1:15-23 seharusnya dibaca dalam paradigma

ekoteologi yang ber-etika kristosentris-holisme.

Etika adalah uraian tentang bagaimana seseorang seharusnya hidup atau

berkelakuan dengan mencerminkan kebenaran, keadilan dan kasih kepada

sesamanya.14 Holisme adalah paham yang memandang bahwa seluruh ciptaan

adalah bagian yang utuh dan bukan merupakan kesatuan yang terpisah-pisah.

Holisme berasal dari kata Yunani o[loj o[loj o[loj o[loj yang berarti semua, keseluruhan, lengkap.

Etika kristosentris-holisme merupakan etika yang menjadikan Kristus

sebagai teladan bagi ciptaan dan melihat ciptaan sebagai bagian yang utuh dan tidak

terpisah, setara dan saling bergantung, dengan tanggungjawab manusia sebagai

penatalayanan. Etika ini menghargai nilai dari semua ciptaan, tetapi juga melihat

tempat tanggung jawab manusia dan semuanya tidak dapat terpisah dari Kristus.

Seluruh ciptaan merupakan suatu keutuhan dengan peran yang berbeda-beda dan

dikepalai oleh Kristus.

Kenosis berasal dari kata Yunani keno,wkeno,wkeno,wkeno,w yang berarti menghilangkan

kekuasaan (deprive of power), mengesampingkan apa yang memiliki. Paham

holisme telah mencakup kenosis karena keutuhan ciptaan dapat terjadi jika manusia

mampu meneladani Kristus, yaitu teladan pengosongan diri Kristus.

Pada paradigma baru ini, manusia berperan sebagai penatalayan yang

memelihara, mengelola dan menjaga alam. Saya tidak sependapat dengan

pernyataan yang menilai bahwa peran ini masih bias antroposentrisme karena setiap

ciptaan dalam tubuh Kristus memiliki peran yang berbeda-beda, begitu pun dengan 14 Borrong, Etika, 142.

66

manusia. Peran penatalayan ini bukan dalam relasi hierarki tetapi relasi yang sejajar

dalam hubungan kesalingbergantungan sebagai bagian dari tubuh Kristus.

Teks Kolose 1:15-23 menekankan kristosentris daripada teosentris. Peranan

dan kedudukan Kristus mewarnai keseluruhan teks daripada pembahasan mengenai

Allah Tritunggal, walaupun keberadaan Kristus tidak bisa dilepaskan dari

keberadaan Sang Bapa dan Roh Kudus. Allah Tritunggal berperan dalam ciptaan,

namun keutamaan Kristus yang hadir dalam pra-eksistensi, kesetaraan-Nya dengan

Sang Bapa dan Roh Kudus, kedudukan-Nya dalam karya penciptaan, kemanusiaan-

Nya serta karya-Nya dalam penebusan dan pendamaian menjadi alasan dari penulis

untuk menekankan kepada jemaat di Kolose agar tidak dipengaruhi oleh ajaran-

ajaran sesat. Ini berarti, Kristus dijadikan sebagai dorongan tingkah-laku jemaat.

Kristus menjadi dasar beretika. Kuasa dan kasih yang dipraktekkan serta seluruh

perbuatan dan perkataan Kristus membuka makna dan maksud karya Allah baik

dalam peristiwa penciptaan, penebusan maupun setelah kenaikan Kristus ke Sorga.

Keselamatan yang telah dikerjakan oleh Kristus bagi seluruh ciptaan adalah

prasyarat yang mengakibatkan pertobatan yang harus dilakukan oleh manusia, yaitu

berbalik dari tindakan yang dilarang oleh Allah dan melakukan apa yang Ia

kehendaki. Pertobatan yang dimaksud oleh teks Kolose 1:15-23 adalah perubahan

cara pandang atau perilaku yang mengakibatkan penderitaan dengan perlakuan

semena-mena terhadap ciptaan lain, memilah-milah ciptaan yang baik dan yang

buruk, memposisikan diri unggul dari ciptaan lain, dan lain sebagainya. Pertobatan

dari ajaran sesat. Pertobatan yang menghasilkan perilaku yang benar untuk menuju

pada masa depan ciptaan yang sempurna dalam Kristus, suatu pertobatan ekologi.

67

Sikap yang benar tercantum dalam konsep kepala tubuh atau kosmik Kristus

yang secara jelas dinyatakan dalam etika kristosentris-holisme. Tidak ada yang

teristimewa atau teramat baik karena seluruh ciptaan adalah baik adanya dan

perlakuan manusia terhadap ciptaan lain haruslah meneladani Kristus dengan

kesadaran bahwa semua keberadaan, semua ciptaan tidak terpisah-pisah namun

disatukan oleh Kristus dan saling berhubungan.

Ekoteologi yang ber-etika kristosentris-holisme sudah sepantasnya

diperjuangkan untuk menggantikan teologi-teologi, terkhususnya di Indonesia yang

tidak melihat perempuan-laki-laki-alam sebagai ciptaan yang sejajar dan tidak

melihat alam sebagai bagian yang telah ditebus serta diciptakan baik adanya sebagai

perwujudan dari kemuliaan dan kebesaran Allah sehingga dapat dieksploitasi

dengan semena-mena. Paradigma ekoteologi yang ber-etika kristosentris-holisme

melihat kaum laki-laki-perempuan-alam sebagai ciptaan yang saling bergantung dan

berpusat pada Kristus. Keberadaan ciptaan yang satu ditentukan oleh keberadaan

ciptaan lain. Tanpa kesalingbergantungan ini, tidak ada kehidupan di muka bumi.

4.4.3 Kristologi Kosmik bukan Kristologi Eksklusif

Paradigma ekoteologi yang ber-etika kristosentris-holisme ternyata memiliki

kelemahan, karena dapat dipahami dalam elemen pemikiran kristologi yang

eksklusif. Kristologi yang eksklusif yakni kristologi yang menekankan keutamaan

Kristus sebagai Anak Tunggal Allah dan keselamatan hanya terjadi melalui Kristus,

di luar kekristenan, di luar Kristus tidak ada kebenaran mutlak dan tidak ada

keselamatan.

68

Pemahaman tersebut dapat berkembang karena teks dipahami hanya

diperuntukkan bagi para pengikut Kristus. Masa depan ciptaan hanya ada di dalam

Kristus dan Kristus menjadi dasar beretika yang tepat. Koridor pemikiran ini kurang

tepat karena walaupun Kristus yang menjadi pokok pembahasan teks, teks

menekankan ke-universal-an kedudukan Kristus bagi segala sesuatu, bagi semua

ciptaan. Teks Kolose 1:15-23 membawa nilai kesetaraan, persamaan dan

pembebasan untuk semua ciptaan tanpa terkecuali.

Paradigma ekoteologi yang ber-etika kristosentris-holisme lebih tepat

dipahami sebagai kristologi kosmik karena teks menekankan mengenai kedudukan

dan peran Kristus dalam kosmos. Ini berarti kehadiran Kristus tidak dapat dibatasi

oleh agama dan budaya tertentu. Kristus hadir dalam kosmos dan Ia bertindak

sebagai kepala atas seluruh ciptaan yang adalah tubuh. Pemikiran tersebut

menjelaskan bahwa paradigma ekoteologi yang ber-etika kristosentris-holisme

adalah paradigma yang dapat diterapkan dalam agama dan kebudayaan yang lain.

4.5 Kesimpulan

Saat ini, ekoteologi merupakan wacana yang ramai diperbincangkan oleh

berbagai pihak. Wacana ini bukan hanya berkaitan dengan kekristenan tetapi juga

berkaitan dengan agama-agama lain dalam lingkup pembahasan yang beranekaragam

karena ekoteologi hanya dapat berhasil diterapkan apabila disesuaikan dan dipahami

dalam konteks ekoteologi tersebut diwacanakan.

Sebagian besar masyarakat dunia menggunakan pendekatan etis tradisional

yang memahami bahwa nilai ciptaan tergantung pada manusia. Keberadaan ciptaan

69

lain hadir untuk memenuhi kebutuhan manusia sehingga manusia perlu

bertanggungjawab terhadap alam. Ciptaan lain tidak memiliki tempat dalam karya

penebusan dan pendamaian Kristus. Ciptaan lain tidak dijelaskan dalam konsep kepala

tubuh karena konsep ini hanya menjelaskan hubungan antara Kristus dan jemaat yang

menunjuk pada manusia. Ketimpangan relasi antar ciptaan ini menyatakan bahwa

pendekatan etis tradisional yakni antroposentrisme tidak dapat menolong sebagai dasar

ber-etika karena manusia selalu menganggap dirinya sebagai tuan atau ciptaan yang

paling istimewa.

Kenyataan antroposentrisme semakin diperparah oleh relasi yang tidak

seimbang antara laki-laki dan perempuan. Perilaku mendominasi, semena-mena

terhadap perempuan disamakan dengan materi atau alam sebagai sesuatu yang pasif,

bernafsu rendah dan kotor. Siklus haid dianggap najis dan perempuan yang datang

bulan kadang-kadang ditolak ikut serta dalam perjamuan kudus, seperti yang nampak

dalam agama-agama lain.

Pendekatan antroposentrisme yang bias dualisme hierarkis dikoreksi dalam

wawasan ekoteologi yang ber-etika kristosentris-holisme. Pemikiran yang layak

menjadi dasar berteologi pada konteks masa kini. Pada pemikiran ini Kristus menjadi

dasar dalam ber-etika dan terdapat penghargaan terhadap semua ciptaan dalam

hubungan kemitraan yang sejajar sambil melihat tempat tanggung jawab manusia

yakni sebagai penatalayan yang mengurus dan mengelola alam secara

bertanggungjawab. Pandangan terhadap Kristus yang berdasar pada Kolose 1:15-23

membentuk cara pandang dan perilaku antar ciptaaan.