Click here to load reader

ABSTRAK PENGARUH PEMILIKAN MANAJERIAL, …fe-akuntansi.unila.ac.id/2010/images/stories/skripsi/26022013...1 abstrak pengaruh pemilikan manajerial, pemilikan institusional, dan kebijakan

  • View
    219

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of ABSTRAK PENGARUH PEMILIKAN MANAJERIAL,...

  • 1

    ABSTRAK

    PENGARUH PEMILIKAN MANAJERIAL, PEMILIKAN

    INSTITUSIONAL, DAN KEBIJAKAN HUTANG TERHADAP NILAI

    PERUSAHAAN PADA PERUSAHAAN MANUFAKTUR YANG

    TERDAFTAR DI BEI

    Oleh

    Nama :EYES OKTARIANI

    NPM : 0641031039

    Telp : 085279529895

    Pembimbing 1 : Kiagus Andi, S.E., M.Si., Akt

    Pembimbing 2 : Retno Yuni Nur S, S.E., M.Sc., Akt

    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemilikan manajerial,

    pemilikan institusional, dan kebijakan hutang terhadap nilai perusahaan pada

    perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI.

    Penelitian ini difokuskan pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa

    Efek Indonesia untuk periode 2007-2011 dengan menggunakan metode purposive

    judgement sampling sehingga diperoleh 20 perusahaan.metoda yang digunakan

    adalah metoda regresi linier berganda.

    Hasil penelitian ini menunjukan bahwa pemilikan institusional dan kebijakan

    hutang tidak berpengaruh terhadap nilai perusahaan, hanya variabel pemilikan

    manajerial yang berpengaruh terhadap nilai perusahaan.

    Kata kunci: PBV, MOWN, INST, DAR, Perusahaan Manufaktur

  • 2

    BAB 1

    PENDAHULUAN

    1.1 Latar Belakang

    Nilai perusahaan dalam penelitian ini didefinisi sebagai nilai pasar karena nilai

    perusahaan dapat memberikan kemakmuran pemegang saham secara maksimum

    apabila harga saham perusahaan meningkat (Hasnawati, 2005a dan 2005b) dalam

    (Lihan dan Bandi, 2010). Saham merupakan salah satu surat berharga yang

    diperdagangkan di bursa efek adalah suatu sertifikat tanda bukti pemilikan atas

    perusahaan (Husnan, 1998) dalam (Reza, 2005). Nilai perusahaan menggunakan

    tolak ukur nilai pasar suatu saham. Nilai pasar atau sering disebut kurs adalah

    harga yang terjadi dari proses tawar menawar di pasar saham (Christiawan dan

    Tarigan, 2007). Nilai ini hanya bisa ditentukan jika saham perusahaan dijual di

    pasar saham. Semakin tinggi harga saham semakin tinggi pula nilai perusahaan.

    Nilai saham yang tinggi menjadi harapan para pemegang saham, sebab dengan

    nilai saham yang tinggi menggambarkan keuntungan yang tinggi bagi pemegang

    saham. Dalam proses memaksimalkan nilai perusahaan akan muncul konflik

    kepentingan antara manajer dan pemegang saham (pemilik perusahaan) yang

    sering disebut agency problem.

    Pemilikan saham manajemen adalah proporsi saham biasa yang dimiliki oleh

    para manajemen (Suranta dan Midiastuty, 2003). Dengan meningkatkan

    pemilikan saham oleh manajemen akan mensejajarkan kedudukan manajer

    dengan pemegang saham, diharapkan manajer akan bertindak sesuai dengan

    kepentingan pemegang saham sehingga manajemen akan termotivasi untuk

  • 3

    meningkatkan kinerja dan nantinya dapat meningkatkan nilai perusahaan. Adanya

    pemilikan manajemen akan menimbulkan suatu pengawasan terhadap kebijakan-

    kebijakan yang akan diambil oleh manajemen perusahaan.

    Struktur pemilikan lain yaitu pemilikan institusional. Pemilikan institusional

    adalah proporsi pemilikan saham pada akhir tahun yang dimiliki oleh lembaga,

    seperti asuransi, bank atau institusi lain (Tarjo, 2008). Pemilikan institusional

    memiliki arti penting dalam memonitor manajemen. Adanya pemilikan oleh

    institusional akan mendorong peningkatan pengawasan yang lebih optimal.

    Semakin tinggi pemilikan institusional maka akan mengurangi perilaku

    opportunistis manajer yang dapat mengurangi agency cost yang diharapkan akan

    meningkatkan nilai perusahaan (Wahyudi dan Pawestri, 2006).

    Keputusan untuk memilih sumber pendanaan merupakan keputusan bidang

    keuangan yang penting bagi perusahaan, yang dalam hal ini satu keputusan

    keuangan yang diambil akan mempengaruhi keputusan keuangan lainnya dan

    berdampak pada nilai perusahaan (Lihan dan Bandi, 2010). Kebijakan hutang

    salah satu sumber pembiayaan eksternal yang digunakan oleh perusahaan untuk

    membiayai kebutuhan dananya ( Hermuningsih dan Wardani, 2009)

    Dalam penelitian ini juga ditambahkan variabel independen lainya yaitu

    pemilikan manajerial dan pemilikan institusional. Pemilikan manajerial dan

    pemilikan institusional dalam penelitian ini dijadikan sebagai variabel

    independen yang langsung mempengaruhi nilai perusahaan karena konflik

    keagenan antara agen dan prinsipal yang terjadi dalam suatu perusahaan dapat

    diminimumkan dengan suatu mekanisme yaitu dengan adanya saham oleh

  • 4

    manajemen dan institusional yang diharapkan dapat meningkatkan nilai

    perusahaan. Berdasarkan uraian diatas maka penelitian ini berjudul

    Pengaruh Pemilikan Manajerial, Pemilikan Institusional, dan Kebijakan

    Hutang terhadap Nilai Perusahaan pada Perusahaan Manufaktur di BEI.

    1.2 Permasalahan

    1. Apakah pemilikan manajerial berpengaruh terhadap nilai perusahaan?

    2. Apakah pemilikan institusional berpengaruh terhadap nilai perusahaan?

    3. Apakah kebijakan hutang berpengaruh terhadap nilai perusahaan?

    1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian

    1.3.1 Tujuan penelitian

    Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan bukti secara empiris

    terhadap:

    1. Menguji secara empiris pengaruh pemilikan manajerial terhadap nilai

    perusahan

    2. Menguji secara empiris pengaruh pemilikan institusional terhadap nilai

    perusahaan

    3. Menguji secara empiris pengaruh kebijakan hutang terhadap nilai perusahaan

    1.3.2 Manfaat Penelitian

    Dari hasil penelitian yang dilakukan diharapkan dapat memberikan manfaat

    sebagai berikut:

    1. Manfaat Akademisi

  • 5

    Memberikan informasi yang berkaitan dengan pemilikan manajerial,

    pemilikan institusional, kebijakan hutang serta nilai perusahaan yang dapat

    digunakan untuk penelitian para akademisi dibidang akuntansi di masa yang

    akan datang

    2. Manfaat Praktisi

    Bagi perusahaan manufaktur sebagai masukan dan pertimbangan

    untukmengambil keputusan pendanaan perusahaan, menberikan masukan

    bagi para investor dalam pembuatan keputusan investasi.

    3. Manfaat regulator

    Bagi regulator terkait penelitian ini diharapkan membantu untuk

    mengembangkan, mengubah, menjelaskan standar yang berlaku guna

    mencapai pasar modal yang efisien dan perlunya informasi yang diungkap

    dalam laporan tahunan.

    BAB II

    LANDASAN TEORI

    2.1 Nilai Perusahaan

    Nilai perusahaan dalam konsep nilai intrinsik ini bukan sekedar harga dari

    sekumpulan nilai aset, melainkan nilai perusahaan sebagai entitas bisnis yang

    memiliki kemampuan menghasilkan keuntungan dikemudian hari. Namun

    memperkirakan nilai dari konsep ini sangat sulit, karena untuk menentukannya

    dibutuhkan kemampuan untuk mengidentifikasi variabel-variabel signifikan yang

    menentukan keuntungan suatu perusahaan. Variabel itu berbeda dari satu

    perusahaan ke perusahaan yang lain. Selain itu, penentuan nilai intrinsik juga

    memerlukan kemampuan memprediksi arah kecenderungan yang akan terjadi di

  • 6

    kemudian hari. Nilai perusahaan dalam konsep nilai intrinsik mengacu pada

    perkiraan nilai riil suatu perusahaan.

    Berdasarkan penjelasan tersebut, banyak konsep yang dapat digunakan sebagai

    ukuran nilai perusahaan. Christiawan dan Tarigan (2007) mengemukakan bahwa

    konsep yang paling representatif untuk menentukan nilai suatu perusahaan adalah

    konsep intrinsik. Weston & Copeland (1992) dalam (Reza, 2005) menyatakan

    bahwa ukuran yang paling tepat digunakan dalam mengukur nilai perusahaan

    adalah rasio penilaian (valuation). Berdasarkan alasan kemudahan data dan

    penilaian yang moderat maka dalam penelitian ini menggunakan konsep nilai

    pasar. Nilai pasar ini berupa market value ratio yang menunjukkan hubungan

    antara harga pasar saham perusahaan dengan nilai buku perusahaan yaitu price to

    book value.

    Jadi nilai perusahaan dapat didefinisi dari nilai harga sahamnya, yang berarti

    semakin tinggi harga saham, semakin tinggi pula nilai perusahaan. Nilai

    perusahaan yang tinggi mengindikasi kemakmuran pemegang saham, yang

    berarti tujuan utama perusahaan didirikan yaitu untuk memakmurkan pemilik

    (pemegang saham).

    2.2 Teori Agensi

    Teori keagenan (agency theory) menjelaskan bahwa hubungan agensi muncul

    ketika satu orang atau lebih (principal) mempekerjakan orang lain (agen) untuk

    memberikan suatu jasa dan kemudian mendelegasikan wewenang pengambilan

    keputusan kepada agent tersebut (Jensen dan Meckling, 1976). Sedangkan

    Hendriksen dan Michael (2000) menyatakan agen menutup kontrak untuk

  • 7

    melakukan tugas-tugas tertentu bagi prinsipal dan prinsipal menutup kontrak

    untuk memberi imbalan kepada agen. Analoginya seperti antara pemilik

    perusahaan dan manajemen perusahaan.

    Biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan untuk mengurangi masalah keagenan

    (agency conflict) tersebut dikenal sebagai biaya keagenan yang meliputi

    pengeluaran monitoring, bonding dan residual loss (Zulhawati, 2004) dalam

    (Reza, 2005). Brigham dan Daves dalam Mega (2010) mendefinisi biaya

    keagenan sebagai biaya yang ditanggung oleh pemegang saham untuk

    mendorong manajer agar memaksimalkan harga saham jangka panjang daripada

    bertindak sesuai kepentingan mereka sendiri.

    Menurut Atmaja (2002) dalam Mega (2010) terdapat beberapa alternatif yang

    dapat digunakan untuk mengurangi biaya keagenan, antara lain:

    1. Mensejajarkan kepentingan manajemen dengan pemegang saham dengan

    mengikutsertakan manajer untuk memiliki saham perusahaan tersebut (insider

    ownership).

    2. Meningkatkan dividend payout ratio

    3. Meningkatkan pendanaan dari hutang

    4. Meningkatkan kepemilikan institusional

    2. 3 Pemilikan Manajerial

    Jensen dan Meckling (1976) beragumentasi bahwa konflik keagenan terjadi

    karena adanya pemisahan pemilikan dan pengelolaan. Dalam penelitian ini yang

    menjadi sorotan utama adalah konflik antara pemegang saham dan pihak

    manajemen. Konflik yang terjadi antara pemegang saham dan pihak manajemen

  • 8

    tersebut diatas tentu akan berbeda jika dalam struktur pemilikan saham terdapat

    pemilikan manajerial.

    Pemilikan manajerial adalah pemilikan saham perusahaan oleh manajer atau

    dengan kata lain manajer tersebut sekaligus sebagai pemegang saham

    (Christiawan dan Tarigan, 2007).

    Pemilikan saham manajerial akan membantu penyatuan kepentingan antara

    manajer dengan pemegang saham. Pemilikan manajerial akan mensejajarkan

    kepentingan manajemen dengan pemegang saham, sehingga manajer ikut

    merasakan secara langsung manfaat dari keputusan yang diambil dan ikut pula

    menanggung kerugian sebagai konsekuensi dari pengambilan keputusan yang

    salah. Sehingga permasalahan keagenan diasumsikan akan hilang apabila seorang

    manajer adalah juga sekaligus sebagai seorang pemilik. Argumen tersebut

    mengindikasikan mengenai pentingnya pemilikan manajerial dalam struktur

    pemilikan perusahaan.

    2.4 Pemilikan Insitusional

    Pemilikan institusional adalah pemilikan saham perusahaan yang dimiliki oleh

    institusi atau lembaga seperti perusahaan asuransi, bank, perusahaan investasi dan

    pemilikan institusi lain (Tarjo, 2008). Pemilikan institusional memiliki arti

    penting dalam memonitor manajemen karena dengan adanya pemilikan oleh

    institusional akan mendorong peningkatan pengawasan yang lebih optimal.

    Monitoring tersebut tentunya akan menjamin kemakmuran untuk pemegang

    saham, pengaruh pemilikan institusional sebagai agen pengawas ditekan melalui

    investasi mereka yang cukup besar dalam pasar modal. Tingkat pemilikan

  • 9

    institusional yang tinggi akan menimbulkan usaha pengawasan yang lebih besar

    oleh pihak investor institusional sehingga dapat menghalangi perilaku

    opportunistis manajer.

    Penelitian Smith (1996) dalam (Suranta dan Midiastuty, 2004) menunjukkan

    bahwa aktivitas pemonitoran institusi mampu mengubah struktur pengelolaan

    perusahaan dan mampu meningkatkan kemakmuran pemegang saham. Hal ini

    didukung oleh Cruthley et al dalam (Suranta dan Midiastuty, 2004) yang

    menemukan bahwa monitoring yang dilakukan institusi mampu mensubstutisi

    biaya keagenan lain sehingga biaya keagenan menurun dan nilai perusahaan

    meningkat.

    2.5 Kebijakan Hutang

    Kebijakan hutang termasuk kebijakan pendanaan perusahaan yang bersumber

    dari eksternal. Penentuan kebijakan hutang ini berkaitan dengan struktur modal

    karena hutang merupakan salah satu komposisi dalam struktur modal. Perusahaan

    dinilai berisiko apabila memiliki porsi hutang yang besar dalam struktur modal,

    namun sebaliknya apabila perusahaan mengunakan hutang yang kecil atau tidak

    sama sekali maka perusahaan dinilai tidak dapat memanfaatkan tambahan modal

    eksternal yang dapat meningkatkan operasional perusahaan (Mamduh, 2004)

    dalam (Mega, 2010).

    Perusahaan yang semakin banyak menggunakan hutang maka akan meningkatkan

    beban bunga dan pokok pinjaman yang harus dibayar. Hal ini memperbesar

    kemungkinan perusahaan menghadapi default, yaitu tidak dapat memenuhi

    kewajiban pembayaran hutang pada waktunya akibat kewajiban yang semakin

  • 10

    besar. Dari sudut pasar pemegang hutang jangka panjang, risiko hutang lebih

    kecil dibanding saham biasa atau saham preferen. Meskipun begitu, hutang

    dianggap memiliki keunggulan terbatas dipandang dari segi laba, dan dianggap

    lemah dipandang dari segi pengendalian.

    2.6 Pengembangan Hipotesis dan Tinjauan Penelitian Terdahulu

    1. Pemilikan Manajerial terhadap Nilai Perusahaan

    Penelitian mengenai hubungan pemilikan manajerial dengan nilai perusahaan

    telah banyak dilakukan oleh peneliti. Namun para peneliti menemukan hasil yang

    berbeda. Penelitian yang dilakukan oleh Jensen dan Meckling (1976)

    menemukan bahwa semakin besar pemilikan saham oleh manajemen maka

    kecenderungan manajemen untuk mengoptimalkan penggunaan sumber daya

    berkurang, sehingga mengakibatkan kenaikan nilai perusahaan. Berbeda dengan

    penelitian Sujoko dan Soebiantoro (2007) yang menemukan bahwa pemilikan

    manajerial tidak berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan. Sementara

    penelitian Reza (2005) menemukan hubungan yang signifikan dan positif antara

    pemilikan manajerial dengan nilai perusahaan. Oleh sebab itu, hipotesis dari

    penelitian ini adalah:

    H1 : Pemilikan manajerial berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan.

    2. Pemilikan Institusional terhadap Nilai Perusahaan

    Pemilikan institusional umumnya dapat bertindak sebagai pihak yang memonitor

    perusahaan. Semakin besar pemilikan institusional maka semakin efisien

    pemanfaatan aktiva perusahaan dan diharapkan juga dapat bertindak sebagai

  • 11

    pencegahan terhadap pemborosan yang dilakukan oleh manajemen (Reza, 2005).

    Menurut Xu and Wang, et al. dan Bjuggren, et al. dalam (Tarjo, 2008), bahwa

    pemilikan institusional berpengaruh secara positif terhadap nilai perusahaan dan

    kinerja perusahaan. Hal ini berarti menunjukkan bahwa pemilikan institusional

    menjadi mekanisme yang handal sehingga mampu memotivasi manajer dalam

    meningkatkan kinerjanya yang pada akhirnya dapat meningkatkan nilai

    perusahaan.

    Dengan demikian, hipotesis dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

    H2 : Pemilikan institusional berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan

    3 Kebijakan Hutang Terhadap Nilai Perusahaan

    Penambahan hutang akan meningkatkan tingkat risiko atas arus pendapatan

    perusahaan, yang mana pendapatan dipengaruhi faktor eksternal sedangkan

    hutang menimbulkan beban tetap tanpa memperdulikan besarnya pendapatan.

    Semakin besar hutang, semakin besar pula kemungkinan terjadinya perusahaan

    tidak mampu membayar kewajiban tetap berupa bunga dan pokoknya.

    Risiko kebangkrutan akan semakin tinggi karena bunga akan meningkat lebih

    tinggi daripada penghematan pajak.

    Penelitian yang dilakukan oleh Sujoko dan Soebiantoro (2007) memberikan hasil

    dimana kebijakan hutang berpengaruh negatif dan signifikan terhadap nilai

    perusahaan.

    Berdasarkan uraian di atas, maka hipotesis penelitian ini dirumuskan sebagai

    berikut :

    H3 : Kebijakan hutang berpengaruh negatif terhadap nilai perusahaan.

  • 12

    BAB III

    METODE PENELITIAN

    3.1 Jenis dan Sumber Data

    Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yaitu data

    laporan tahunan perusahaan periode tahun 2007-2011. Data penelitian ini

    meliputi data perusahaan manufaktur go publik yang mencakup periode 2007-

    2011 yang dipandang cukup mewakili kondisi-kondisi perusahaan di Indonesia.

    3.2 Metoda Pengumpulan Data

    Metoda pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini dengan

    melakukan studi dokumentasi yang dilakukan dengan mengumpulkan data

    sekunder dari Indonesian Capital Market Directory (ICMD) dan website

    www.idx.co.id

    3.3 Populasi dan Penentuan Sampel

    Populasi dalam penelitian ini adalah perusahaan manufaktur yang terdaftar di

    BEI (Bursa Efek Indonesia) untuk tahun 2007-2011. Sedangkan pemilihan

    sampel dilakukan dengan menggunakan metode purposive sampling dengan

    tujuan mendapatkan sampel yang representative sesuai dengan kriteria yang

    ditentukan.

    Adapun kriteria sampel yang akan digunakan adalah sebagai berikut:

    1. Perusahaan manufaktur yang terdaftar berturut-turut dan aktif diperdagangkan

    di BEI selama perioda 2007-2011.

    http://www.idx.co.id/

  • 13

    2. Menerbitkan laporan tahunan lengkap terkait dengan variabel-variabel yang

    digunakan dalam penelitian yaitu yang memiliki pemilikan manajerial dan

    pemilikan institusional secara berturut-turut selama tahun 2007-2011.

    Berdasarkan kriteria sampel, maka jumlah sampel pada penelitian ini dapat

    dilihat pada table dibawah ini:

    Tabel 3.3 Sampel Penelitian

    Kriteria Jumlah sampel

    Jumlah populasi 101

    Perusahaan manufaktur yang tidak

    terdaftar berturut-turut dan tidak aktif

    diperdagangkan di BEI selama perioda

    2007-2011.

    60

    Menerbitkan laporan tahunan tidak

    lengkap secara berturut-turut selama

    tahun 2007-2011.

    21

    Jumlah Sampel 20

    Berdasarkan kriteria sampel, maka dalam penelitian ini sampel yang memenuhi

    syarat adalah sebanyak 20 perusahaan dengan perioda dari tahun 2007 sampai

    dengan tahun 2011

    3.4 Model Penelitian

    C.

    Pemilikan manajerial

    (X1)

    Nilai Perusahaan

    (Y)

    H1

  • 14

    D.

    E.

    Gambar 1. Model Penelitian

    3.5 Variabel Penelitian dan Definisi Operasional

    3.5.1 Variabel Dependen

    Variabel dependen dalam penelitian ini adalah nilai perusahaan. Nilai perusahaan

    adalah nilai suatu perusahaan yang dilihat dari harga sahamnya (Lihan dan Bandi,

    2010). Nilai perusahaan diproksikan dengan Price to Book Value (PBV). Husnan

    (1994) dan Sudarma (2003) menjabarkan rumus untuk menghitung PBV sebagai

    berikut:

    PBV = Harga pasar saham perusahaan

    Nilai buku perusahaan

    3.5.2 Variabel Independen

    Variabel independen tersebut adalah: `

    1. Pemilikan Manajerial

    Pemilikan manajerial adalah pemilikan saham perusahaan oleh manajer atau

    dengan kata lain manajer tersebut sekaligus sebagai pemegang saham

    (Christiawan dan Tarigan, 2007). Pemilikan manajerial yang diberi simbol

    MOWN dapat dihitung dengan menggunakan rumus: (Daljono, 2000)

    MOWN = Jumlah pemilikan saham manajerial X 100

    Jumlah saham yang beredar

    2. Pemilikan Institusional

    Pemilkan Institusional

    (X2)

    Kebijakan Hutang

    (X3)

    H2

    H3

  • 15

    Pemilikan institusional adalah saham perusahaan yang dimiliki oleh institusi atau

    lembaga seperti perusahaan asuransi, dana pensiun, atau perusahaan lain (Tarjo,

    2008). Pemilikan institusional diukur sesuai persentase pemilikan saham oleh

    institutsi perusahaan (Tendi Haruman, 2008). Pemilikan manajerial yang diberi

    simbol INST dihitung dengan menggunakan rumus : (Jensen dan Meeckling,

    1978 dalam Daljono, 2000)

    INST = Jumlah pemilikan saham institusional X 100

    Jumlah Saham yang beredar

    2. Kebijakan Hutang

    Variabel kebijakan hutang yang salah satunya diproksi dengan membagi total

    hutang dengan total aktiva yang menunjukkan seberapa besar aktiva yang

    dibiayai dengan hutang perusahaan (Reza, 2005). Leverage ratio (debt to total

    asset/ DTA) dapat dirumuskan seperti di bawah ini:

    DAR= Total Hutang

    Total Aset

    Sumber : (Bhaduri, Saumitra, 2002) / ICMD (2007 dan 2008)

    3.6 Metoda Analisis Data

    3.6.1 Uji Statistik Deskriptif

    Statistik deskriptif digunakan untuk menggambarkan profil data sampel yang

    meliputi antara lain rata-rata (mean), median, maksimum, minimum, dan deviasi

    standar. Data yang diteliti dikelompokkan menjadi empat yaitu Pemilikan

    Manajemen, Pemilikan Institusional, kebijakan hutang, dan Nilai Perusahaan.

  • 16

    3.6.2 Pengujian Asumsi Klasik

    1. Uji Normalitas

    Pengujian normalitas dalam penelitian ini dengan menggunakan:

    1. Analisis Statistik Non Parametrik 1- Sampel Kolmogorov-Smirnov (K-S)

    Dalam uji statistik Non Parametrik 1- Sampel Kolmogorov-Smirnov variabel-

    variabel yang mempunyai asymp. Sig (2-tailed) di bawah tingkat signifikan

    sebesar 0,05 maka diartikan bahwa variabel-variabel tersebut memiliki distribusi

    tidak normal dan sebaliknya (Ghozali, 2009).

    2. Analisis grafik histogram

    Dengan melihat grafik histogram yang membandingkan antara data observasi

    dengan distribusi yang mendekati distribusi normal.

    2. Uji Multikolonieritas

    Uji multikolinieritas digunakan bertujuan untuk menguji apakah model regresi

    ditemukan adanya korelasi antara variabel-variabel independen. Model regresi

    yang baik tentu sebaiknya tidak terjadi korelasi diantara variabel-variabel ini

    tidak orthogonal. Variabel orthogonal adalah variabel bebas yang dinilai korelasi

    antara sesama variabel bebas sama dengan nol. Uji multikolinieritas dilakukan

    untuk melihat adanya keterkaitan antar variabel independen. Ada atau tidaknya

    kolinieritas dalam penelitian ini akan dilihat dari Variance Inflation Factor

    Multikolinieritas (VIF). Batas nilai VIF yang diperkenankan adalah maksimum

    10 dan minimum 0 (Ghozali, 2009).

    3. Uji Autokorelasi

  • 17

    Uji Autokorelasi bertujuan menguji apakah model regresi linear ada korelasi

    antara kesalahan penggangu pada periode t dengan kesalahan pengganggu

    pada peroida t-1 (sebelumnya) (Ghozali, 2009). Jika terjadi korelasi, maka

    dinamakan ada problem autokorelasi. Autokorelasi muncul karena observasi yang

    berurutan sepanjang waktu berkaitan satu sama lainnya. Masalah ini timbul

    karena residual tidak bebas dari satu observasi ke observasi lainnya. Uji

    autokorelasi dapat dilakukan dengan cara uji Durbin-Watson (DW test).

    4. Uji Heteroskedastisitas

    Uji heteroskedastisitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi

    terjadi ketidaksamaan variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan

    lainnya. Jika variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan lain tetap

    maka disebut homokedastisitas sedangkan jika berbeda disebut dengan

    heterokedastisitas. Model regresi yang baik adalah yang homokedastisitas atau

    tidak terjadi heterokedastisitas. Kebanyakan data cross section mengandung

    situasi heteroskedastisitas karena data ini menghimpun data yang mewakili

    berbagai ukuran (Ghozali, 2009). Cara untuk mendeteksi ada atau tidaknya

    heteroskedastisitas yaitu Melihat grafik plot antara variabel terikat dengan

    residualnya. Dasar analisinya adalah:

    1. Jika ada pola tertentu, seperti titik yang ada membentuk pola tertentu yang

    teratur (bergelombang, melebar kemudian menyempit), maka mengindikasikan

    telah terjadi heteroskedastisitas.

    2. Jika tidak ada pola yang jelas, serta titik-titik menyebar di atas dan di bawah

    angka nol pada sumbu Y, maka tidak terjadi heteroskedastisitas.

  • 18

    3.7 Uji Hipotesis

    3.7.1 Analisis Regresi Linear Berganda

    Analisis regresi yang dilakukan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh antar

    variabel independen terhadap variabel dependen. Pengujian

    statistik yang dilakukan adalah:

    1. Uji Statistik F (uji kelayakan model)

    Uji F digunakan untuk mengetahui apakah model regresi dapat digunakan untuk

    memprediksi Nilai Perusahaan. Pengujian hipotesis ini dilakukan pada tingkat

    keyakinan 95% dan tingkat kesalahan analisis 5%.

    2. Uji t

    Uji t digunakan untuk menguji tingkat signifikansi pengaruh variable independen

    terhadap variabel dependen secara parsial. Pengambilan keputusan dilakukan

    berdasarkan perbandingan nilai t hitung masing-masing koefisien t regresi dengan

    t tabel sesuai dengan tingkat signifikansi yang digunakan. Jika t hitung koefisien

    regresi lebih kecil dari t tabel, maka variabel independen secara individu tersebut

    tidak berpengaruh terhadap variabel dependen, artinya hipotesis ditolak.

    Sebaliknya jika t hitung lebih besar dari t tabel, maka variabel independen secara

    individu berpengaruh terhadap variabel dependen, artinya hipotesis diterima.

    BAB IV.

    HASIL DAN PEMBAHASAN

    4.1 Deskripsi Objek Penelitian

  • 19

    Penelitian ini menggunakan data sekunder. Populasi dalam penelitian ini adalah

    perusahaan manufaktur yang terdaftar dan aktif diperdagangkan di Bursa Efek

    Indonesia (BEI) perioda 2007-2011. Perusahaan tersebut juga menerbitkan

    laporan keuangan tahunan (annual report). Kriteria secara khusus adalah

    memiliki data mengenai pemilikan manajerial, dan pemilikan institusional.

    Pengambilan sampel dilakukan dengan purposive sampling, diperoleh sampel

    sebanyak 20 perusahaan.

    4.2 Analisis Data dan Pengujian Hipotesis

    4.2.1 Statistik Deskriptif

    Statistik deskriptif dalam penelitian ini digunakan untuk memberikan informasi

    mengenai variabel-variabel penelitian seperti pemilikan manajerial, pemilikan

    institusional, kebijakan hutang, dan nilai perusahaan. Statistik deskriptif untuk

    variabel-variabel penelitian tersebut dapat dilihat sebagai berikut:

    Descriptive Statistics

    N Minimum Maximum Mean Std. Deviation

    MOWN 100 .01 .97 .3482 .29929

    INST 100 70.05 88.87 78.1277 5.56160

    DAR 100 .04 1.97 .7712 .64515

    PBV 100 .25 11.41 1.5087 1.27773

    Valid N (listwise) 100

    Sumber: Lampiran

    Tabel diatas menggambarkan deskripsi variabel-variabel secara statistik dalam

    penelitian ini. Minimum adalah nilai terkecil dari suatu rangkaian pengamatan,

    maksimum adalah nilai terbesar dari suatu rangkaian pengamatan, mean (rata-

    rata) adalah hasil penjumlahan nilai seluruh data dibagi dengan banyaknya data,

    sementara deviasi standar adalah akar dari jumlah kuadrat dari selisih nilai data

  • 20

    dengan rata-rata dibagi dengan banyaknya data. Tabel 4.2 menunjukkan

    deskriptif variabel penelitian dengan jumlah data setiap variabel yang valid

    sebanyak 100 adalah sebagai berikut:

    a. Berdasarkan data yang diperoleh, nilai perusahaan yang diteliti memiliki

    rata-rata 1,5087, yang menunjukan bahwa setiap satu nilai buku perusahaan di

    hargai oleh pasar sebesar 1,5087. Nilai perusahaan berada pada angka satu

    menunjukan bahwa rata-rata perusahaan manufaktur memiliki nilai perusahaan

    yang tinggi selama perioda penelitian. Perusahaan manufaktur dengan nilai

    minimum terjadi pada PT Kabelindo Murni, Tbk pada tahun 2009 yaitu sebesar

    0,25. Hal ini menunjukan nilai perusahaan PT Kabelindo Murni, Tbk merupakan

    yang paling rendah selama perioda penelitian. Sedangkan nilai maksimum

    dicapai oleh PT Metrodata Electronics pada tahun 2011 yaitu sebesar 11,41. Hal

    ini menunjukan bahwa nilai perusahaan tersebut adalah paling tinggi

    dibandingkan dengan perusahaan yang lain. Dengan deviasi standar sebesar

    1,27773 artinya selama perioda penelitian ukuran penyebaran dari nilai

    perusahaan sebesar 1,27773.

    b. Managerial Ownership (MOWN) merupakan pemilikan saham oleh

    manajemen. Berdasarkan data yang diperoleh nilai minimum adalah sebesar 0.01

    pada PT Astra Internasional Tbk dan PT Tiga Raksa Satria pada tahun 2007

    sampai 2011. Hal ini menunjukan tingkat pemilikan manajerial terendah pada PT

    Astra Internasional Tbk dan PT Tiga Raksa Satria. Sedangkan nilai maksimun

    terjadi pada tahun 2011 pada PT Tira Austenite dengan nilai 0.97. Hal ini

    menunjukan tingkat pemilikan manajerial tertinggi pada PT Tira Austenite Tbk.

    Nilai rata-rata adalah 0,3482. nilai rata-rata pemilikan manajerial menunjukan

  • 21

    besarnya % saham yang dimiliki oleh para manajer perusahaan, nilai rata-rata

    tersebut menunjukan jumlah pemilikan saham oleh manajer perusahaan

    manufaktur rendah selama perioda penelitian. Nilai deviasi standar sebesar

    0,29929 artinya ukuran penyebaran dari variabel pemilikan manajerial sebesar

    0,29929 .

    c. Instititusional Ownership (INST) merupakan persentase pemilikan saham

    oleh institusi. Berdasarkan data yang diperoleh nilai minimum sebesar 70.05 pada

    tahun 2010 terjadi pada perusahaan PT Indofood Sukses Makmur. Hal ini

    menunjukan tingkat pemilikan intitusional terendah pada PT Indofood Sukses

    Makmur. Sedangkan nilai maksimum terjadi pada tahun 2009 pada perusahaan

    PT Tiga Raksa Satria Tbk dengan nilai 88.87. Hal ini menunjukan tingkat

    pemilikan institusional tertinggi pada PT Tiga Raksa Satria. Rata-rata untuk

    INST adalah 78.1277 yang menunjukan jumlah pemilikan saham oleh

    institusional perusahaan manufaktur tinggi selama perioda penelitian. Sedangkan

    deviasi standar sebesar 5.56160 artinya selama perioda penelitian ukuran

    penyebaran dari pemilikan institusional sebesar 5.56160.

    d. Berdasarkan data yang diperoleh, debt to Asset Ratio (DAR) memiliki

    nilai minimum sebesar 0,04 pada tahun 2007 pada perusahaan PT Akr Corpindo

    Tbk. Hal ini menunjukan perusahaan tersebut menggunakan rasio hutang

    terendah atau mengoptimalkan dana internal perusahaan. Sedangkan nilai

    maksimum sebesar 1.97 pada PT Astra Internasional pada tahun 2011. Hal ini

    menunjukan bahwa perusahaan tersebut menggunakan tingkat hutang paling

    tinggi selama perioda penelitian. Nilai rata-rata DAR sebesar 0,7712 yang

  • 22

    menunjukan bahwa perusahaan lebih banyak memilih membiayai perusahaan

    dengan dana internal. Sedangkan deviasi standar sebesar 0,64515 menunjukan

    bahwa selama perioda penelitian ukuran penyebaran kebijakan hutang sebesar

    0,64515.

    4.3 Uji Asumsi Klasik

    4.3.1 Uji Normalitas

    Dari hasil pengujian normalitas dengan menggunakan statistik non parametrik

    kolmogorov-smirnov (K-S), maka dapat dilihat bahwa tingkat signifikansi lebih

    dari 0.05 sehingga dapat disimpulkan bahwa nilai residual berdistribusi normal.

    Dengan dasar pengambilan keputusan sebagai berikut :

    a. jika Asymp Sig. > 0.05 maka data berdistribusi normal

    b. jika Asymp Sig. < 0.05 maka data berdistribusi tidak normal

    selain itu juga dapat terlihat dari grafik normal plot yang menggambarkan bahwa

    nilai residual atau error term terdistribusi secara normal. Dimana dapat terlihat

    bahwa grafik tersebut plot menyebar disekitar garis diagonal dan mengikuti arah

    garis diagonal. Sebaliknya jika plot residual menyebar jauh dan tidak mengikuti

    arah garis diagonal maka model regresi tidak memenuhi asumsi normalitas.

    4.3.2 Uji Multikolinieritas

    Berikut disajikan hasil uji multikolinieritas:

    Tabel 3. Hasil Uji Multikolinieritas

    Variabel Independen Tolerance VIF kesimpulan

    MOWN .935 1.069 Tidak Ada Multikolinieritas

  • 23

    INST .977 1.024 Tidak Ada Multikolinieritas

    DAR .957 1.045 Tidak Ada Multikolinieritas

    Sumber : Lampiran

    Hasil uji multikolonieritas pada tabel 4.3.2 menunjukkan bahwa tidak ada

    satupun variabel bebas yang memiliki nilai tolerance dibawah 0,10 dan nilai

    Variance Inflation Factor (VIF) di atas 10. Jadi dapat disimpulkan bahwa tidak

    terjadi multikolonieritas antar variabel bebas dalam model regresi.

    4.3.3 Uji Autokorelasi

    Uji autokorelasi bertujuan untuk menguji apakah model regresi linear ada

    korelasi antara variabel pengganggu pada periode tertentu dengan variabel

    pengganggu periode sebelumnya. Jika terjadi korelasi, maka dinamakan ada

    problem autokorelasi. Autokorelasi muncul karena observasi yang berurutan

    sepanjang waktu berkaitan satu sama lainnya. Masalah ini timbul karena residual

    tidak bebas dari satu observasi ke observasi lainnya.

    Tabel 4. Hasil Uji Autokorelasi

    Nilai d Keterangan

    0

  • 24

    dan < 2.27 sehingga dapat disimpulkan bahwa dalam model regresi tidak terdapat

    autokorelasi.

    4.3.4 Uji Heterokedastisitas

    Dalam penelitian ini ada tidaknya gejala heterokedastisitas dideteksi dengan

    metode Scatter Plot. Metode ini mendeteksi jika terdapat pola tertentu seperti

    titik-titik membentuk suatu pola tertentu yang teratur (bergelombang, melebar

    kemudian menyempit) maka disinyalir ada gejala heterokedastisitas. Sebaliknya

    jika tidak ada pola yang jelas serta titik-titik tersebut menyebar maka tidak terjadi

    heterokedastisitas.

    Dari grafik scatterplot (dapat dilihat pada lampiran) terlihat titik-titik menyebar

    secara acak serta tersebar diatas dan dibawah angka nol pada sumbu Y. Maka

    dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi heterokedastisitas pada model regresi.

    4.4 Pengujian Hipotesis

    4.4.1 Uji F (Uji kelayakan model)

    uji F (F-test) atau uji kelayakan model dimaksudkan untuk mengetahui pengaruh

    variabel independen (MOWN, INST, DAR) terhadap variabel dependen (PBV),

    yang ditunjukan dalam tabel sebagai berikut:

    Tabel 5. Hasil uji statistik F

    ANOVAb

    Model Sum of Squares df Mean Square F Sig.

    1 Regression 5.811 3 1.937 4.139 .008a

    Residual 44.932 96 .468

    Total 50.743 99

  • 25

    ANOVAb

    Model Sum of Squares df Mean Square F Sig.

    1 Regression 5.811 3 1.937 4.139 .008a

    Residual 44.932 96 .468

    Total 50.743 99

    a. Predictors: (Constant), DAR_, ISNT_, MOWN_

    b. Dependent Variable: PBV_

    Sumber: Lampiran

    Dari uji ANOVA atau F-test didapat nilai F hitung sebesar 4.139 dengan

    probabilitas 0.008 karena probabilitas lebih kecil dari 0.05 maka model regresi

    dapat digunakan untuk memprediksi Nilai Perusahaan atau bisa dikatakan bahwa

    model dalam penelitian ini dapat digunakan sebagai alat estimasi Nilai

    Perusahaan

    4.4.2 Uji t

    Dengan dasar keputusan sebagai berikut :

    a. Jika (p-value) > 0.05 maka Ha ditolak.

    b. jika (p-value) < 0.05 maka Ha diterima.

    Tabel 10 Hasil Uji t

    Coefficientsa

    Model Unstandardized Coefficients

    Standardized

    Coefficients t Sig.

  • 26

    B Std. Error Beta

    1 (Constant) -3.753 4.261 -.881 .381

    MOWN_ -.164 .053 -.309 -3.111 .002

    ISNT_ .849 .981 .084 .866 .389

    DAR_ .114 .072 .155 1.583 .117

    a. Dependent Variable: PBV_

    Sumber : Lampiran

    Dari tabel hasil uji t diatas diambil kesimpulan terhadap variabel independen

    sebagai berikut :

    H1 : Kepemilikan Manajerial berpengaruh terhadap nilai perusahaan.

    Pengujian terhadap hipotesis ini menunjukkan bahwa nilai regresi (B) adalah

    -0.164, artinya setiap peningkatan kepemilikan manajerial sebesar 1% maka akan

    menyebabkan penurunan nilai perusahaan sebesar 0.164. kolom Sig.

    (Significance) sebesar 0.002 menunjukkan bahwa (p-value) lebih kecil dari 0.05

    maka H1 diterima. Jadi dapat disimpulkan bahwa kepemilikan manajerial

    berpengaruh terhadap nilai perusahaan.Konsisten dengan teori yang dikemukakan

    oleh Friend dan Hasbrouck (1988) ; Friend dan Lang (1988) : dan Masdupi

    (2005) menghipotesakan bahwa Insiders dalam perusahaan mempunyai

    kepentingan yang lebih besar dalam menjaga kelangsungan hidup perusahaan

    karena resiko hutang non diversifiable manajemen leih besar dari investor public.

    Dengan kata lain jika perusahaan tidak bisa melunasi hutang maka akan

    mengancam likuiditas dan posisi manajemen. Insiders yang kepemilikannya lebih

    besar dalam perusahaan akan memiliki keinginan lebih besar dalam

    meminimalkan resiko struktur modal, dengan begitu investor akan lebih percaya

    terhadap kinerja manajemen dan hal itu dibuktikan dengan pengaruhnya terhadap

    nilai perusahaan.

  • 27

    Dengan demikian hasil tersebut sejalan dengan beberapa penelitian sebelumnya

    yang dilakukan oleh Wahyudi dan Pawestri (2006), serta Rachmawati dan

    Triatmoko (2007).

    H2 : Kepemilikan Institusional berpengaruh terhadap nilai perusahaan.

    Pengujian pada hipotesis ini menunjukkan nilai regresi (B) adalah sebesar 0.849,

    yang berarti setiap peningkatan kepemilikan institusional 1% maka akan

    menyebabkan kenaikan pada nilai perusahaan sebesar 0.849. kolom Sig.

    (Significance) sebesar 0.389 menunjukkan (p-value) lebih besar dari 0.05 maka

    H2 ditolak. Lalu dapat disimpulkan bahwa secara statistik kepemilikan

    institusional tidak berpengaruh terhadap nilai perusahaan. Hal tersebut

    dikarenakan naik turunnya harga saham perusahaan yang merupakan cerminan

    dari nilai perusahaan salah satunya dapat dikarenakan kebijakan perusahaan yang

    ditentukan oleh pihak manajemen. Investor institusional hanya berfungsi sebagai

    pihak yang mengawasi manajemen dan tidak ikut serta dalam penentuan

    kebijakan perusahaan. Teori keagenan mengemukakan jika antara pihak principal

    (pemilik) dan agent (manajer) memiliki kepentingan yang berbeda muncul

    konflik yang dinamakan masalah keagenan (agency problem). Fama dan Jensen

    (1983) menyatakan bahwa agency problems disebabkan oleh adanya sistem

    pengambilan keputusan yang terpisah antara manajemen dan pihak pengawas.

    Penelitian Jensen dan Meckling (1976)), menunjukkan bahwa pemisahan

    kepemilikan dan pengelolaan perusahaan membawa kepada kondisi dimana

    manajer akan menghambur-hamburkan kekayaan pemilik perusahaan. Pemisahan

    fungsi antara pemilik dan manajemen ini memiliki dampak negatif yang lain

  • 28

    yaitu keleluasaan manajemen perusahaan untuk mengoptimalkan laba, hal ini

    akan mengarah pada proses mengutamakan kepentingan manajemen sendiri

    dengan biaya yang harus ditanggung oleh pemilik perusahaan. Tapi dengan

    adanya pengawasan yang ketat oleh pihak pemilik maka maka akan mengurangi

    resiko yang mungkin terjadi. Dan secara statistik hal ini tidak mempengaruhi

    nilai perusahaan dipasar bursa. Hasil ini menguatkan penelitian sebelumnya yang

    dilakukan oleh Wahyudi dan Pawestri (2006).

    H3 : Kebijakan Hutang berpengaruh terhadap nilai perusahaan

    Pengujian terhadap hipotesis ini menunjukkan nilai koefisien regresi (B) adalah

    0.114 hal ini menggambarkan setiap peningkatan hutang sebesar 1% maka akan

    menyebabkan peningkatan nilai perusahaan sebesar 0.114. kolom Sig.

    (Significance) sebesar 0.117 menunjukkan bahwa (p-value) lebih besar dari 0.05,

    maka H3 ditolak. Jadi dapat disimpulkan bahwa kebijakan hutang tidak memiliki

    pengaruh terhadap nilai perusahaan. Dalam pecking order theory dinyatakan

    bahwa sumber pendanaan adalah dari laba ditahan, utang, dan yang terakhir

    adalah dengan menerbitkan ekuitas baru. Hutang dapat digunakan untuk kegiatan

    kerja operasional perusahaan yang akan memberikan efek positif pada

    perusahaan peningkatan laba, peningkatan reputasi perusahaan, dan hal tersebut

    dapat memberikan efek yang baik terhadap harga saham, yang seharusnya dapat

    meningkatkan nilai perusahaan. Namun ada banyak juga perusahaan yang

    bangkrut karena terlalu banyak hutang dan terlilit bunga. Pendanaan dengan

    menggunakan hutang yang terlalu tinggi akan meningkatkan resiko keuangan

    perusahaan yang pada akhirnya akan menjerumuskan perusahaan masuk kedalam

  • 29

    krisis (financial distress). Mungkin hal ini juga dapat mempengaruhi keputusan

    investasi oleh para investor sehingga tidak mempengaruhi nilai perusahaan

    dipasar bursa. Hasil ini berbeda dengan peneltian sebelumnya yang dilakukan

    oleh Sujoko dan Ugy Soebiantoro (2005), Wahyudi dan Pawestri (2006), serta

    Rahmawati Triatmoko (2007) yang menyatakan bahwa kebijakan

    hutang/pendanaan berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan.

    BAB V

    SIMPULAN DAN SARAN

    5.1 Simpulan

    Simpulan yang dapat peneliti peroleh sebagai berikut.

    1. Berdasarkan hasil perhitungan statistik dengan uji f menunjukan bahwa

    pemilikan manajeril, pemilikan institusional, dan kebijakan hutang

    berpengaruh terhadap nilai perusahaan.

    2. Berdasarkan hasil perhitungan statistik dengan uji t menunjukan bahwa

    variabel pemilikan manajerial berpengaruh terhadap nilai perusahaan. Hasil

    pengujian menunjukan nilai sebesar -0,164 yang berarti setiap kenaikan

    pemilikan manajerial sebesar 1% maka akan menyebabkan penurunan nilai

    perusahaan sebesar 0,164.

    3. Berdasarkan hasil perhitungan statistik dengan uji t menunjukan bahwa

    variabel pemilikan institusional tidak berpengaruh terhadap nilai perusahaan.

    Hasil pengujian menunjukan nilai sebesar 0,849 yang berarti setiap kenaikan

  • 30

    pemilikan institusional sebesar 1% maka akan menyebabkan kenaikan nilai

    perusahaan sebesar 0,849.

    4. Berdasarkan hasil perhitungan statistik dengan uji t menunjukan bahwa

    kebijakan hutang tidak berpengaruh terhadap nilai perusahaan. Hasil

    pengujian menunjukan nilai sebesar 0,114 yang berarti setiap peningkatan

    hutang sebesar 1% maka akan menyebabkan peningkatan nilai perusahaan

    sebesar 0,114.

    5.2 Keterbatasan penelitian

    Penelitian ini memiliki keterbatasan yang mempengaruhi hasil penelitian

    diantaranya sebagai berikut:

    1. Sampel terbatas pada perusahaan manufaktur, sehingga penelitian ini berbeda

    hasilnya dengan jenis perusahaan pada sektor lain.

    2. Keputusan keuangan yang digunakan pada penelitian ini hanya menggunakan

    kebijakan hutang.

    3. Variabel indepeden yang digunakan pada penelitian ini relatif sedikit,

    sedangkan variabel yang terkait dengan nilai perusahaan relatif banyak, sehingga

    kemungkinan akan didapat kesimpulan yang berbeda.

    5.3 Saran

    Bagi akademisi selanjutnya diharapkan dapat memperpanjang periode

    pengamatan penelitian dan menambah jumlah sampel yang akan diuji.

    Bagi praktisi harus lebih memperhatikan dan meningkatkan besarnya pemilikan

    saham oleh manajerial agar manajer merasa memiliki perusahaan untuk

    meningkatkan nilai perusahaan

    3. Manajemen perusahaan harus lebih mempertimbangkan bagaimana besarnya

    hutang untuk membiayai perusahaan.