Pemeliharaan Kelapa Sawit

  • View
    8.775

  • Download
    7

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Laporan Mingguan Agronomi dan Hortikultura Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor

Transcript

LAPORAN PRAKTIKUM ILMU TANAMAN PERKEBUNAN

PEMELIHARAAN KELAPA SAWIT TM II : PENUNASAN DAN PENGENDALIAN GULMA

DISUSUN OLEH : KELOMPOK 2B UTAMY PRAWATI INDAH RETNOWATI RIZKIANA ANGGAYUHLIN (A24070091) (A24070179) (A24070180) R. MUHAMMAD ZAENUDIN (A24070175)

DEPARTEMEN AGRONOMI DAN HORTIKULTURA FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2010

PENDAHULUANLatar Belakang Kelapa sawit (Elais guineensis Jacq.) merupakan penyumbang devisa negara yang cukup penting. Volume ekspor minyak kelapa sawit pada tahun 2007 mengalami peningkatan, yaitu menjadi 5.701.300 ton dengan nilai ekspor sebesar US$ 1 062 215 (Direktorat Jendral Perkebunan, 2009). Tingginya peranan kelapa sawit dalam perekonomian Indonesia telah mendorong pemerintah dan pihak swasta berlomba-lomba untuk berperan dalam pengembangan kelapa sawit. Hal ini ditunjukkan dengan perkembangan luas areal perkebunan kelapa sawit diindonesia. Data Departemen Pertanian (2008) menunjukan terjadi peningkatan luas areal penanaman kelapa sawit selama 28 tahun, yaitu 290 000 ha pada tahun 1980 menjadi 6 611 000 ha pada tahun 2008. Menurut Setyamididjaja (2006) kelapa sawit merupakan komoditas perdagangan yang sangat menjanjikan karena beberapa tahun yang akan datang, selain digunakan untuk minyak goreng, mentega, sabun dan kosmetika minyak sawit juga dapat dijadikan sebgai subtitusi bahan bakar minyak. Faktor yang menjadi perhatian khusus dalam pengelolaan kebun kelapa sawit adalah faktor transportasi. Pahan (2008) menjelaskan bahwa keterlambatan pengangkutan TBS (Tandan Buah Segar) ke TPH (Temoat Pengumpulan Hasil) akan menyebabkan terjadinya restan dan mempengaruhi proses pengolahan, kapasitas olah, dan mutu produk akhir. Faktor transportasi meliputi jarak pengangkutan TBS ke TPH, kondisi jalan, kondis topografi lahan, serta jumlah dan kondisi alat angkut. Menurut Pahan (2008) kehadiran gulma di perkebunan kelapa sawit dapat menurunkan produksi akibat bersaing dalam pengambilan air, hara, sinar matahari, dan ruang hidup. Keberadaan gulma pada aeral piringan dapat menurunkan mutu produksi akibat terkontaminasi oleh bagian gulma, mengganggu pertumbuhan tanaman, menjadi inang bagi hama, mengganggu tata guna air, dan meningkatkan biaya pemeliharaan. Pada areal pasar pikul kehadiran gulma dapat mengganggu kelancaran transportasi TBS ke TPH dan upaya pemeliharaan lainnya. Banyaknya gangguan yang dapat ditimbulkan gulma

menjadikan pengendalian gulma sebagai tindakan yang sangat penting dilakukan pada perkebunan kelapa sawit. Penunasan (pruning) merupakan kegiatan pemeliharaan yang bertujuan untuk membuang atau memotong pelepah atau bagian tanaman kelapa sawit yang sudah tidak produktif lagi atau juga dapat mrugikan tanaman. Kgiatan ini pnting dilakukan karena penunasan memiliki banyak manfaat, antara lain sanitasi tanaman, memudahkan panen, menghindari tersangkutnya brondolan di pelepah, memperlancar penyerbukan alami, memudahkan pengamatan buah, dan efisiensi distribusi fotosintat untuk pembungaan dan pembuahan. Pada praktikum ini dilakukan kegiatan pemeliharaan kelapa sawit. Kegiatan piringan. yang dilakukan adalah penunasan dan pengendalian gulma. Pengendalian gulma dilakukan pada areal pasar pikul, gawangan, dan areal sekitar

Tujuan Praktikum ini bertujuan melatih ketrampilan mahasiswa dalam

melakukan pemeliharaan tanaman kelapa sawit yang meliputi pengendalian gulma secara manual dan penunasan. Praktikum ini juga bertujuan untuk memahami pentingnya kegiatan penunasan dengan norma yang tepat.

TINJAUAN PUSTAKAPenunasan Salah satu kegiatan pemeliharaan kelapa sawit adalah penunasan (pruning). Penunasan merupakan kegiatan pembuangan daun daun tua yang tidak produktif pada tanaman kelapa sawit. Penunasan biasa juga disebut dengan pemangkasan. Pemangkasan bertujuan untuk memperbaiki udara di sekitar tanaman, mengurangi penghalangan pembesaran buah dan kehilangan brondolan, dan memudahkan pada saat kegiatan pemanenan dilakukan. Suyatno (1994) menyatakan bahwa tanaman kelapa sawit yang berumur 3 8 tahun memiliki jumlah pelepah optimal sekitar 48 56 pelepah, sedangkan yang berumur lebih dari 8 tahun jumlah pelepah optimalnya sekitar 40 48 pelepah. Pada tanaman belum menghasilkan juga dilakukan kegiatan penunasan (pruning). Kegiatan penunasan pada TBM disebut juga dengan penunasan pasir, yaitu memotong pelepah-pelepah kosong pada tanaman kelapa sawit. Sanitasi ini bertujuan untuk mempermudah pemeliharaan dan mengefektifkan pemanfaatan unsur hara. Pada TM penunasan memiliki banyak manfaat, antara lain sanitasi tanaman, memudahkan panen, menghindari tersangkutnya brondolan di pelepah, memperlancar penyerbukan alami, memudahkan pengamatan buah, dan efisiensi distribusi fotosintat untuk pembungaan dan pembuahan. Kegiatan penunasan membutuhkan alat bantu. Penunasan dapat dilakukan dengan alat dondos dodos (cnisel) pada tanaman yang masih pendek, sedangkan pada tanaman yang sudah tinggi menggunakan alat yang disebut dengan egrek (gambar terlampir). Prinsip kerja penunasan adalah memotong pelepah daun yang terbawah. Pemotongan pelepah menggunakan alat yang disebut egrek (gambar terlampir). Cara pemotongannya adalah memotong pelepah daun terbawah dengan meninggalkan bagian pangkal pelepah sepanjang 2 3 cm atau selebar tandan buah sawit. Pelepah daun juga dapat dipotong rapat ke batang atau dengan berkas daun potongan berbentuk tapal kuda yang membentuk sudut 30O terhadap garis horizontal. Pelepah yang telah dipotong dikumpulkan dan disusun di gawangan mati, terutama pada areal datar atau pelepah daun yang telah ditunas

dipotong menjadi tiga bagian dan diletakkan teratur membentuk gundukan pada gawangan mati. Umumnya penunasan dilakukan dengan menggunakan njorma songgo dua. setahun. Setyamidjaja (1991) menyatakan sanitasi berupa penunasan dilakukan pada saat tanaman berumur 2 tahun dengan rotasi dua kali dalam

Pasar pikul Pasar pikul merupakan jalan yang digunakan untuk mengantarkan buah sawit yang sudah dipanen ke Tempat Pemungutan Hasil (TPH) serta untuk memudahkan kegiatan pemeliharaaan lainnya. Fungsi pasar pikul tersebut mendorong untuk dilakukannya kegiatan pemeliharaan agar pasar pikul tetap berada dalam kondisi baik dan siap pakai. . Kegiatan pemeliharaan yang harus dilakuakan adalah membersihkan vegetasi/gulma yang berada di areal pasar pikul baik secara manual maupun secara kimia. Pemeliharaan umunya dilakukan dalam empat rotasi selama satu tahun, tiga rotasi dengan manual yaitu satu kali setiap tiga bulan dan satu rotasi dengan kimia. Pasar pikul dapat dibuat dalam beberapa sistem, salah satunya dengan sistem 2 : 1. Sastrosayono (2003) menjelaskan bahwa pembuatan pasar pikul sistem 2 : 1 adalah dari 2 gawangan terdapat 1 pasar pikul dengan uraian 1 sebagai pasar pikul dan satu lagi sebagai gawangan mati, lebar pasar pikul antara 1 - 1,5 mMendongkel seluruh anak kayu dan keladi keladi yang tumbuh digawangan, membabat gulma yang digawangan dan membabat tidak boleh bersamaan waktu dengan dongkel anak kayu. Kegiatan dongkel anak kayu dilakukan untuk mencegah persaingan penyerapan unsur hara antara tanaman inti dengan gulma pengganggu. Dalam kegiatan mendongkel diharuskan akar benarbenar terangkat agar mati.

Piringan Pemeliharaan berupa pengendalian gulma juga dilakukan di sekitar piringan/bokoran. Salah satu kegiatan pemeliharaan piringan adalah garuk

piringan. Garuk piringan bertujuan untuk membersihkan daerah sekitar perakaran tanaman dari gulma serta memudahkan panen dan pengutipan brondol. Menurut Setyamidjaja (1991) teknis pelaksanaan dari garuk piringan adalah dengan membersihkan piringan dari sampah dan gulma, dimana lebar piringan antara 1,5 3 m. Penggarukan dilakukan dengan menggunakan cangkul dan dimulai dari arah tanaman menuju ke luar.

BAHAN DAN METODETempat Pelaksanaan Praktikum ini dilaksanakan di Areal Kelapa Sawit TM Kebun Percobaan Cikabayan, Institut Pertanian Bogor, dimulai pukul 07.00 10.00 WIB pada tanggal 8 Maret 2010.

Bahan dan Alat Bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah tanaman kelapa sawit TM-10 dan TM-7. Pada praktikum ini juga digunakan alat-alat berupa egrek (1buah), pacul (1 buah), dan sabit (2buah).

Metode Kerja Setiap kelompok pada praktikum mendapatkan dua tanaman kelapa sawit untuk dilakukan pemeliharaan. Kegiatan sanitasi tanaman terdiri dari pembersihan batang kelapa sawit dari pelepah yang sudah tua dan pembebasan areal dari sampah yang bisa menjadi inang hama dan penyakit. Pemeliharan meliputi membuang pelepah yang sudah tua dengan menggunakan egrek. Posisi keratan pelepah mepet kebatang sawit membentuk tapal kuda. Pelepah daun yang disisakan adalah 2 lingkar pelepah daun di bawah daun yang terbawah (songgo dua). Bagian pelepah yang dibuang kemudian dipotong menjadi tiga bagian. Pengendalian gulma dilakukan pada pasar pikul, gawangan, dan sekitar piringan. Pada pasar pikul dilakukan pembersihan gulma dengan teknik babat merah. Tujuan dari babat merah ini agar jalan pikul dapat dilalui dengan baik. Pada aeral gawangan dilakukan babat dempes, sedangkan pada areal sekitar piringan dilakukan pencabutan atau pendongkelan gulma anak kayu.

PEMBAHASANPengendalian Gulma Pengendalian Gulma Gawangan Keberadaan gulma dalam perkebunan kelapa sawit dapat menurunkan produktivitas tanaman dan menyulitkan dalam kegiatan pemeliharaan. Hal itu yang menyebabkan pengendalian gulma di perkebunan kelap sawit menjadi sangat penting. BPPP (2008) menyatakan bahwa pengendalian gulma bertujuan untuk menghindari terjadinya persaingan antara tanaman kelapa sawit dengan gulma dalam pemanfaatan unsur hara, air, dan cahaya. Pengendalian gulma di perkebunan kelapa sawit dilakukan tidak seintensif pada perkebunan komoditas hortikultura, namun pengendalian gulma harus tetap dilakukan. Pengendalian gulma di perkebunan kelapa sawit dilakukan pada piringan dan gawangan. Gawangan yang dibersihkan adalah gawangan hidup. Pada gawangan hidup ini