of 34 /34
A. PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Lanjut usia (Lansia), pada umumnya mengalami perubahan-perubahan pada jaringan tubuh, yang disebabkan proses degenerasi, terjadi terutama pada organ-organ tubuh, dimana tidak ada lagi perkembangan sel seperti otot, jantung dan ginjal tetapi kurang pada organ-organ dimana masih ada mitosis seperti hepar. Proses degenerasi menyebabkan perubahan kemunduran fungsi organ tersebut, termasuk juga sistem traktus urinarius, sehingga menyebabkan macam- macam kelainan atau penyakit urologis tertentu (Dharmojo &Martono, 2000). Dengan menuanya seorang pria, kelenjar prostatnya membesar, sekresi prostat menurun, skrotum menggantung lebih rendah, testis menjadi lebih kecil dan lebih keras, dan rambut pubis menjadi lebih jarang dan lebih kaku. Inkontinensia urin pada lansia pria mempunyai banyak penyebab termasuk medikasi dan kondisi-kondisi yang berkaitan dengan usia, seperti penyakit neurologi atau hyperplasia prostat jinak (Brunner & Suddarth, 2001). Kelenjar prostat adalah organ tubuh pria yang paling sering mengalami pembesaran, baik jinak maupun ganas. Pembesaran prostat jinak atau Benign Prostatic 1

ASUHAN KEPERAWATAN HIPERPLASIA PROSTAT .doc

Embed Size (px)

Citation preview

Page 1: ASUHAN KEPERAWATAN HIPERPLASIA PROSTAT .doc

A. PENDAHULUAN

1. Latar Belakang

Lanjut usia (Lansia), pada umumnya mengalami perubahan-perubahan

pada jaringan tubuh, yang disebabkan proses degenerasi, terjadi terutama pada

organ-organ tubuh, dimana tidak ada lagi perkembangan sel seperti otot,

jantung dan ginjal tetapi kurang pada organ-organ dimana masih ada mitosis

seperti hepar. Proses degenerasi menyebabkan perubahan kemunduran fungsi

organ tersebut, termasuk juga sistem traktus urinarius, sehingga menyebabkan

macam-macam kelainan atau penyakit urologis tertentu (Dharmojo &Martono,

2000). Dengan menuanya seorang pria, kelenjar prostatnya membesar, sekresi

prostat menurun, skrotum menggantung lebih rendah, testis menjadi lebih kecil

dan lebih keras, dan rambut pubis menjadi lebih jarang dan lebih kaku.

Inkontinensia urin pada lansia pria mempunyai banyak penyebab termasuk

medikasi dan kondisi-kondisi yang berkaitan dengan usia, seperti penyakit

neurologi atau hyperplasia prostat jinak (Brunner & Suddarth, 2001).

Kelenjar prostat adalah organ tubuh pria yang paling sering mengalami

pembesaran, baik jinak maupun ganas. Pembesaran prostat jinak atau Benign

Prostatic Hiperplasia yang selanjutnya disingkat BPH merupakan penyakit

tersering kedua penyakit kelenjar prostat di klinik urologi di Indonesia.

Kelenjar periuretra mengalami pembesaran, sedangkan jaringan prostat asli

terdesak ke perifer menjadi kapsul. BPH akan timbul seiring dengan

bertambahnya usia, sebab BPH erat kaitannya dengan proses penuaan (Birowo,

2002).

Fungsi kandung kemih dan uretra pada manula dipengaruhi proses

fisiologis penuaan pada beberapa sistem. Kontrol serebral dari miksi

dipengaruhi oleh atrofi yang progresif pada korteks serebri dan neuron. Fungsi

otonom juga lambat laun menurun menyebabkan refleks otonom terganggu.

Misalnya dapat dilihat pada anatomi kandung kencing. Penuaan ditandai

dengan kurangnya jumlah sel-sel otot dan digantikan oleh jaringan lemak dan

jaringan ikat. Jaringan otot ini dapat berkurang sampai setengah pada umur 80

1

Page 2: ASUHAN KEPERAWATAN HIPERPLASIA PROSTAT .doc

tahun, yang dapat menyebabkan kontraksi melemah (Nursalam dan Fransisca,

2009).

Sistem genitourinaria tetap berfungsi secara adekuat pada individu lansia,

meskipun terjadi penurunan massa ginjal akibat kehilangan primer beberapa

nefron. Perubahan fungsi ginjal meliputi penurunan laju filtrasi, penurunan

fungsi tubuler dengan penurunan efisiensi dalam resorbsi dan pemekatan urin,

dan perlambatan restorasi keseimbangan asam basa terhadap stress. Ureter,

kandung kemih menurun dan lansia tidak mampu lagi mengosongkan kandung

kemihnya secara sempurna. Retensi urin yang terjadi akan meningkatkan

resiko infeksi. Sering berkemih, dorongan dan inkontinensia juga merupakan

masalah yang biasa (Brunner & Suddarth, 2001).

Penelitian secara histopatologis di negara barat menunjukkan sekitar 20 %

kasus BPH pada umur 41-50 tahun, 50% pada umur 51-60 tahun, dan lebih

dari 90% pada umur lebih dari 80 tahun. Di indonesia BPH merupakan

kelainan urologi kedua setelah batu saluran kemih yang dijumpai di klinik

urologi dan diperkirakan 50% pada pria berusia di atas 50 tahun. Angka

harapan hidup di Indonesia, rata-rata mencapai 65 tahun sehingga diperkirakan

2,5 juta laki-laki di Indonesia menderita BPH (Pakasi, 2009).

Hyperplasia prostat benigna merupakan temuan yang sering pada pria

lansia. Pembesaran prostat menyebabkan retensi urin kronis, sering berkemih

dan inkontinensia (Brunner & Suddarth, 2001). Pada banyak pasien dengan

usia diatas 50 tahun, kelenjar prostatnya mengalami pembesaran, memanjang

keatas ke dalam kandung kemih dan menyumbat aliran urin dengan menutupi

orifisium uretra. Kondisi ini dikenal sebagai hyperplasia prostatik jinak (BPH),

perbesaran, atau hipertrofi prostat. BPH adalah kondisi patologis yang paling

umum pada pria lansia dan penyebab kedua yang paling sering untuk intervensi

medis pada pria diatas usia 60 tahun (Brunner & Suddarth, 2001).

Penyebab BPH belum diketahui secara pasti, tetapi sampai saat ini

berhubungan dengan proses penuaan yang mengakibatkan penurunan kadar

hormon pria, terutama testosteron. Perubahan mikroskopik pada prostat telah

terjadi pada pria usia 30-40 tahun. Bila perubahan mikroskopik ini

berkembang, akan terjadi perubahan patologik anatomi yang ada pada pria usia

2

Page 3: ASUHAN KEPERAWATAN HIPERPLASIA PROSTAT .doc

50 tahun angka kejadiannya sekitar 50%, usia 80 tahun sekitar 80%, dan usia

90 tahun 100%. Insiden di negara berkembang meningkat karena adanya

peningkatan usia harapan hidup (Mansjoer, 2002).

Pembesaran kelenjar prostat mempunyai angka morbiditas yang bermakna

pada popilasi pria lanjut usia. Gejalanya merupakan keluhan yang umum dalam

bidang bedah urologi. Hiperplasia prostat merupakan salah satu masalah

kesehatan utama bagi pria di atas usia 50 tahun dan berperan dalam penurunan

kualitas hidup seseorang. Suatu penelitian menyebutkan bahwa sepertiga dari

pria berusia antara 50-79 tahun mengalami hiperplasia prostat. Adanya

hiperplasia ini akan menyebabkan terjadinya obstruksi saluran kemih dan

untuk mengatasi obstruksi ini dapat dilakukan dengan berbagai cara mulai dari

tindakan yang paling ringan yaitu secara konservatif (non operatif) sampai

tindakan yang paling berat yaitu operasi (Nursalam dan Fransisca, 2009).

2. Tujuan

a. Tujuan Umum

Mengetahui konsep dasar penyakit Benigna Hyperplasia Prostat dan asuhan

keperawatan yang dapat ditegakkan pada klien lansia.

b. Tujuan Khusus

Tujuan khusus penyusunan makalah ini adalah :

1) Mengetahui pengertian, etiologi, faktor pencetus, patofisiologi, tanda

dan gejala, pemeriksaan penunjang, dan penatalaksanaan hyperplasia

prostat pada lansia

2) Dapat melakukan pengkajian pada klien lansia dengan hyperplasia

prostat

3) Mendeskripsikan diagnosa yang mungkin muncul pada klien lansia

dengan hyperplasia prostat

4) Membuat rencana asuhan keperawatan meliputi tujuan dan kriteria

hasil, intervensi dan rasional pada klien lansia dengan hyperplasia

prostat.

3

Page 4: ASUHAN KEPERAWATAN HIPERPLASIA PROSTAT .doc

B. TINJAUAN TEORI

1. Pengertian

Benign Prostatic Hyperplasia (BPH) atau disebut tumor prostat jinak adalah

pertumbuhan berlebihan dari sel-sel prostat yang tidak ganas. Pembesaran

prostat jinak akibat sel-sel prostat memperbanyak diri melebihi kondisi normal,

biasanya dialami laki-laki berusia di atas 50 tahun (Price, 2006).

2. Etiologi

BPH adalah tumor jinak pada pria yang paling sering ditemukan. Pria berumur

lebih dari 50 tahun, kemungkinannya memiliki BPH adalah 50%. Ketika

berusia 80–85 tahun, kemungkinan itu meningkat menjadi 90%. Beberapa teori

telah dikemukakan berdasarkan faktor histologi, hormon, dan faktor perubahan

usia, di antaranya :

a. Teori DHT (dihidrotestosteron). Testosteron dengan bantuan enzim 5-α

reduktase dikonversi menjadi DHT yang merangsang pertumbuhan kelenjar

prostat.

b. Teori Reawakening. Teori ini berdasarkan kemampuan stroma untuk

merangsang pertumbuhan epitel.

c. Teori stem cell hypotesis. Stem sel akan berkembang menjadi sel aplifying.

Sel aplifying akan berkembang menjadi sel transit yang tergantung secara

mutlak pada androgen, sehingga dengan adanya androgen sel ini akan

berproliferasi dan menghasilkan pertumbuhan prostat yang normal.

d. Teori growth factors. Faktor pertumbuhan ini dibuat oleh sel-sel stroma di

bawah pengaruh androgen. Adanya ekspresi berlebihan dari epidermis

growth factor (EGF) dan atau fibroblast growth factor (FGF) dan atau

adanya penurunan ekspresi transforming growth factor-β (TGF-β), akan

menyebabkan terjadinya ketidakseimbangan pertumbuhan prostat dan

menghasilkan pembesaran prostat.

(Birowo, 2002).

3. Faktor Predisposisi/Faktor Pencetus

4

Page 5: ASUHAN KEPERAWATAN HIPERPLASIA PROSTAT .doc

a. Kadar Hormon

Kadar hormon testosteron yang tinggi berhubungan dengan peningkatan

risiko BPH.

b. Usia

Pada usia tua terjadi kelemahan umum termasuk kelemahan pada buli (otot

detrussor) dan penurunan fungsi persarafan.

c. Riwayat keluarga

Bila salah satu anggota keluarga menderita BPH, maka risiko meningkat 2

kali bagi anggota keluarga yang lain.

d. Obesitas

Pada obesitas terjadi peningkatan kadar estrogen yang berpengaruh

terhadap pembentukan BPH melalui peningkatan sensitiasi prostat terhadap

androgen dan menghambat proses kematian sel-sel kelenjar prostat.

e. Pola diet

Kekurangan mineral penting seperti seng, tembaga, selenium berpengaruh

pada fungsi reproduksi pria. Yang paling penting adalah seng, karena

defisiensi seng berat dapat menyebabkan pengecilan testis yang selanjutnya

berakibat penurunan kadar testosteron. Selain itu, makanan tinggi lemak

dan rendah serat juga mengakibatkan penurunan kadar testosteron.

f. Aktivitas seksual

BPH dihubungkan dengan kegiatan seks berlebihan dan alasan kebersihan.

Saat kegiatan seksual, kelenjar prostat mengalami peningkatan tekanan

darah sebelum terjadi ejakulasi. Jika suplai darah ke prostat selalu tinggi,

akan terjadi hambatan prostat yang mengakibatkan kelenjar tersebut

bengkak permanen.

g. Kebiasaan merokok

Nikotin dan konitin (produk pemecahan nikotin) pada rokok meningkatkan

aktivitas enzim perusak androgen, sehingga menyebabkan penurunan kadar

testosteron.

h. Kebiasaan minum-minuman beralkohol

Konsumsi alkohol akan menghilangkan kandungan zink dan vitamin B6

yang penting untuk prostat yang sehat.

5

Page 6: ASUHAN KEPERAWATAN HIPERPLASIA PROSTAT .doc

i. Olahraga

Dengan olahraga, kadar dehidrotestosteron dapat diturunkan sehingga dapat

memperkecil resiko gangguan prostat. Selain itu, olahraga akan mengontrol

berat badan agar otot lunak yang melingkari prostat tetap stabil.

j. Penyakit diabetes melitus

Laki-laki dengan penyakit diabetes melitus mempunyai resiko dua kali

terjadi BPH dibandingkan dengan laki-laki dengan kondisi normal.

(Amalia, 2010).

4. Patofisiologi

Kelenjar prostat adalah salah satu organ genitalia pria yang terletak di

sebelah inferior buli-buli, dan membungkus uretra posterior. Pada usia lanjut,

akan terjadi perubahan keseimbangan testosteron estrogen karena produksi

testosteron menurun dan terjadi konversi testosteron menjadi estrogen pada

jaringan adipose di perifer. Pertumbuhan kelenjar prostat ini sangat tergantung

pada hormon testosteron, yang di dalam sel-sel kelenjar prostat hormon ini

akan dirubah menjadi dehidrotestosteron (DHT) dengan bantuan enzim alfa

reduktase. Dehidrotestosteron inilah yang secara langsung memacu m-RNA di

dalam sel-sel kelenjar prostat untuk mensisntesis protein sehingga terjadi

pertumbuhan kelenjar prostat.

Perubahan paling awal pada BPH adalah di kelenjar periuretra sekitar

verumontanum :

a. Perubahan hiperplasia pada stroma berupa nodul fibromuskuler, nodul

asinar atau nodul campuran fibroadenomatosa.

b. Hiperplasia glandular terjadi berupa nodul asinar atau campuran dengan

hiperplasia stroma. Kelenjar-kelenjar biasanya besar dan terdiri atas tall

columnar cells. Inti sel-sel kelenjar tidak menunjukkan proses keganasan.

(Birowo, 2002).

Oleh karena pembesaran prostat terjadi perlahan, maka efek terjadinya

perubahan pada traktus urinarius juga terjadi perlahan-lahan. Perubahan

patofisiologis yang disebabkan pembesaran prostat disebabakan oleh

kombinasi resistensi uretra daerah prostat, tonus trigonum, leher vesika, dan

6

Page 7: ASUHAN KEPERAWATAN HIPERPLASIA PROSTAT .doc

kekuatan otot detrussor. Detrussor dipersarafi oleh saraf parasimpatis,

sedangkan trigonum, leher vesika dan prostat dipersarafi oleh saraf simpatis.

Pada tahap awal setelah terjadinya pembesaran prostat akan terjadi resistensi

yang bertambah pada leher vesika dan daerah prostat. Kemudian detrussor

akan mencoba mengatasi keadaan ini dengan jalan kontraksi lebih kuat dan

detrussor menjadi lebih tebal. Fase penebalan detrussor ini disebut fase

kompensasi otot dinding kandung kemih. Apabila keadaan berlanjut maka

detrussor menjadi lelah dan akhirnya mengalami dekompensasi dan tidak

mampu lagi untuk berkontraksi sehingga terjadi retensi urine (Sjamsuhidajat,

2004).

Karena produksi urine terus terjadi, maka suatu saat vesika urinaria tidak

mampu lagi menampung urin, sehingga terjadi tekanan intravesikel lebih tinggi

dari tekanan sfingter dan obstruksi sehingga terjadi inkontinensia paradox

(overflow incontinence). Retensi kronik menyebabkan refluks vesika ureter dan

dilatasi ureter dan ginjal, maka ginjal akan rusak dan terjadi gagal ginjal.

Kerusakan traktus urinarius bagian atas akibat dari obstruksi kronik

mengakibatkan penderita harus mengejan saat miksi yang menyebabkan

peningkatan tekanan intraabdomen yang akan menimbulkan hernia atau

hemoroid. Karena selalu terdapat sisa urin, dapat terdapat batu endapan di

dalam kandung kemih. Batu ini dapat menambah keluhan iritasi dan

menimbulkan hematuria. Batu tersebut dapat pula menyebabkan sistitis dan

bila terjadi refluks, dapat terjadi pielonefritis (Sjamsuhidajat, 2004).

5. Tanda dan Gejala

Biasanya gejala-gejala pembesaran prostat jinak, dikenal sebagai Lower

Urinary Tract Symptomps (LUTS), dibedakan menjadi gejala iritatif dan

obstruktif.

a. Gejala Iritatif yaitu :

1) Sering miksi

2) Terbangun untuk miksi pada malam hari (nokturia)

3) Perasaan ingin miksi yang sangat mendesak (urgensi)

4) Nyeri pada saat miksi (disuria)

7

Page 8: ASUHAN KEPERAWATAN HIPERPLASIA PROSTAT .doc

b. Gejala obstruktif yaitu :

1) Pancaran lemah

2) Rasa ingin kencing lagi sesudah kencing (double voiding)

3) Harus menunggu lama bila hendak miksi (hesitancy)

4) Harus mengedan (strainning)

5) Kencing terputus-putus (intermittency)

6) Waktu miksi memanjang yang akhirnya menjadi retensio urin dan

inkontinensia karena overflow.

(Mansjoer, 2002).

Tanda klinis terpenting dalam BPH adalah ditemukannya pembesaran

pemeriksaan pada pemeriksaan colok dubur atau Digital Rectal Examination

(DRE). Pada BPH, prostat teraba membesar dengan konsistensi kenyal

(Mansjoer, 2000).

Keluhan ini biasanya disusun dalam bentuk skor simptom. Terdapat

jenis klasifikasi yang dapat digunakan untuk membantu diagnosis dan

menentukan tingkat beratnya penyakit, diantaranya adalah skor internasional

gejala-gejala prostat WHO (International Prostate Symptomp Score, IPPS) dan

skor Madsen Iversen. Gejala dan tanda pada pasien yang telah lanjut

penyakitnya, misalnya gagal ginjal, dapat ditemukan uremia, peningkatan

tekanan darah, denyut nadi, respirasi, foeter uremik, perikarditis, ujung kuku

yang pucat, tanda-tanda penurunan mental serta neuropati perifer. Bila sudah

terjadi hidronefrosis tau pionefrosis, ginjal teraba dan ada nyeri di CVA (Costo

Vertebrae Angularis) (Mansjoer, 2000).

6. Pemeriksaan Penunjang

a. Pemeriksaan Laboratorium

Darah  : Ureum, kreatinin, elektrolit, Blood urea nitrogen, Prostate

Specific Antigen (PSA), Gula darah.

b. Urine : Kultur urin dan test sensitifitas, urinalisis dan pemeriksaan

mikroskopis, sedimen.

c. Pemeriksaan pencitraan

1) Foto polos abdomen (BNO)

8

Page 9: ASUHAN KEPERAWATAN HIPERPLASIA PROSTAT .doc

Dari sini dapat diperoleh keterangan mengenai penyakit ikutan

misalnya batu saluran kemih, hidronefrosis, atau divertikel kandung

kemih juga dapat untuk mengetahui adanya metastasis ke tulang dari

carsinoma prostat.

2) Pielografi Intravena (IVP)

Pembesaran prostat dapat dilihat sebagai filling defect/indentasi

prostat pada dasar kandung kemih atau ujung distal ureter membelok

keatas berbentuk seperti mata kail (hooked fish). Dapat pula

mengetahui adanya kelainan pada ginjal maupun ureter berupa

hidroureter ataupun hidronefrosis serta penyulit (trabekulasi,

divertikel atau sakulasi buli – buli). Foto setelah miksi dapat dilihat

adanya residu urin.

3) Cystogram retrograde

Memberikan gambaran indentasi pada pasien yang telah dipasang

kateter karena retensi urin.

4) Transrektal Ultrasonografi (TRUS)

Deteksi pembesaran prostat dengan mengukur residu urin.

5) MRI atau CT scan

Jarang dilakukan. Digunakan untuk melihat pembesaran prostat dan

dengan bermacam – macam potongan.

(Mansjoer, 2000).

9

Page 10: ASUHAN KEPERAWATAN HIPERPLASIA PROSTAT .doc

7. Pathway

Perubahan usia (usia lanjut)

Ketidakseimbangan produksi estrogen dan testosteron

Kadar testosteron menurun Kadar estrogen meningkat

Proliferasi sel prostat Hiperplasia sel stroma pada jaringan prostat

Obstruksi saluran kemih BPH Pembedahan

Kompensasi Dekompensasi Perdarahan Terputusnya Otot detrussor otot detrussor kontinuitas

jaringan

Spasme otot Penebalandetrussor dinding urinaria

Otot suprapubik Kontraksi otot

Kesulitan berkemih

Dipasang kateter

10

Nyeri akut

Resiko infeksi

Retensi urine

Risiko Kekurangan

volume cairanNyeri akut

Cemas Disfungsi seksual

Page 11: ASUHAN KEPERAWATAN HIPERPLASIA PROSTAT .doc

8. Penatalaksanaan

Penatalaksanaan BPH berupa :

a. Watchful Waiting

Watchful waiting dilakukan pada penderita dengan keluhan ringan.

Tindakan yang dilakukan adalah observasi saja tanpa pengobatan.

b. Terapi Medikamentosa

Pilihan terapi non-bedah adalah pengobatan dengan obat

(medikamentosa).

c. Terapi Bedah Konvensional

Open simple prostatectomy

Indikasi untuk melakukan tindakan ini adalah bila ukuran prostat terlalu

besar, di atas 100g, atau bila disertai divertikulum atau batu buli-buli.

d. Terapi Invasif Minimal

1) Transurethral resection of the prostate (TUR-P)

Menghilangkan bagian adenomatosa dari prostat yang menimbulkan

obstruksi dengan menggunakan resektoskop dan elektrokauter.

2) Transurethral incision of the prostate (TUIP)

Dilakukan terhadap penderita dengan gejala sedang sampai berat dan

dengan ukuran prostat kecil.

e. Terapi laser

Tekniknya antara lain Transurethral laser induced prostatectomy (TULIP)

yang dilakukan dengan bantuan USG, Visual coagulative necrosis, Visual

laser ablation of the prostate (VILAP), dan interstitial laser therapy.

f. Terapi alat

1) Microwave hyperthermia

Memanaskan jaringan adenoma melalui alat yang dimasukkan melalui

uretra atau rektum sampai suhu 42-45oC sehingga diharapkan terjadi

koagulasi.

2) Trans urethral needle ablation (TUNA)

Alat yang dimasukkan melalui uretra yang apabila posisi sudah diatur,

dapat mengeluarkan 2 jarum yang dapat menusuk adenoma dan

11

Page 12: ASUHAN KEPERAWATAN HIPERPLASIA PROSTAT .doc

mengalirkan panas, sehingga terjadi koagulasi sepanjang jarum yang

menancap di jaringan prostat.

3) High intensity focused ultrasound (HIFU)

Melalui probe yang ditempatkan di rektum yang memancarkan energi

ultrasound dengan intensitas tinggi dan terfokus.

4) Intraurethral stent

Adalah alat yang secara endoskopik ditempatkan di fosa prostatika

untuk mempertahankan lumen uretra tetap terbuka.

5) Transurethral baloon dilatation

Dilakukan dengan memasukkan kateter yang dapat mendilatasi fosa

prostatika dan leher kandung kemih.

(Birowo, 2002)

9. Pengkajian

a. Identitas Klien

Nama, umur, alamat, pendidikan, jenis kelamin, suku, agama, status

perkawinan, tanggal pengkajian.

b. Status kesehatan saat ini

Kaji keluhan utama saat ini meliputi awitan, durasi, kualitas dan

karakteristik, lokasi dari gejala hiperplasia prostat.

Gejala Iritatif :

Sering miksi, terbangun untuk miksi pada malam hari (nokturia), perasaan

ingin miksi yang sangat mendesak (urgensi), nyeri pada saat miksi

(disuria)

Gejala obstruktif :

Pancaran lemah, rasa ingin kencing lagi sesudah kencing (double

voiding), harus menunggu lama bila hendak miksi (hesitancy), harus

mengedan (strainning), kencing terputus-putus (intermittency), waktu

miksi memanjang.

c. Riwayat Kesehatan dahulu

1) Kaji riwayat penyakit lain dan penyakit pada saluran urogenitalia

(pernah mengalami cedera, infeksi, atau pembedahan).

12

Page 13: ASUHAN KEPERAWATAN HIPERPLASIA PROSTAT .doc

2) Obat-obatan yang saat ini dikonsumsi yang dapat menimbulkan

keluhan miksi.

3) Kaji faktor risiko seperti : obesitas, pola diet, aktivitas seksual,

kebiasaan merokok, kebisaan minum alkohol, olahraga, penyakit

diabetes melitus.

d. Riwayat kesehatan keluarga

Kaji ada tidaknya anggota keluarga yang menderita BPH.

e. Pemeriksaan Fisik

1) Pemeriksaan tekanan darah, nadi, dan suhu.

2) Pemeriksaan abdomen pada daerah suprapubik

Inspeksi : penonjolan pada daerah suprapubik

Palpasi : kandung kencing terisi penuh, klien akan terasa ingin miksi,

nyeri tekan supra simfisis.

Perkusi : Dilakukan untuk mengetahui ada tidaknya residual urin.

3) Pemeriksaan penis dan uretra untuk mendeteksi kemungkinan striktur

uretra, batu uretra, karsinoma.

4) Pemeriksaan scrotum untuk menentukan adanya epididimitis

5) Rectal touch / pemeriksaan colok dubur brtujuan untuk menentukan

konsistensi besarnya prostat.

Pemeriksaan colok dubur dapat memberikan gambaran tentang

keadaan tonus spingter ani, reflek bulbo cavernosus, mukosa rektum,

adanya kelainan lain seperti benjolan di dalam rektum. Pada perabaan

prostat harus diperhatikan :

Konsistensi prostat (pada hiperplasia prostat konsistensinya kenyal),

Adakah asimetris, Adakah nodul pada prostate, Apakah batas atas

dapat diraba, Sulcus medianus prostate, Adakah krepitasi

f. Tinjuan sistem

1) Sirkulasi

Tanda : Peningkatan tekanan darah

2) Integritas ego

Kaji tanda-tanda seperti kegelisahan, kacau mental, perubahan

perilaku.

13

Page 14: ASUHAN KEPERAWATAN HIPERPLASIA PROSTAT .doc

3) Nutrisi/cairan

Kaji anoreksia, mual, muntah, penurunan berat badan.

4) Nyeri/kenyamanan

Kaji nyeri suprapubis, panggul, atau punggung.

5) Keamanan

Kaji faktor keselamatan.

6) Seksualitas

Kaji Gejala meliputi : efek kondisi kemampuan seksual, takut

inkontinensia/menetes selama hubungan intim, penurunan kekuatan

kontraksi ejakulasi.

g. Pemeriksaan laboratorium

1) Pemeriksaan darah lengkap, faal ginjal, serum elektrolit, dan kadar

gula digunakan untuk memperoleh data dasar keadaan umum klien.

2) Pemeriksaan urin lengkap dan kultur.

3) PSA (Prostatic Spesific Antigen) penting diperiksa sebagai

kewaspadaaan adanya keganasan.

10. Diagnosa yang mungkin muncul

Pre operasi

a. Retensi urine berhubungan dengan pembesaran prostat, dekompensasi otot

detrussor.

b. Nyeri akut berhubungan dengan iritasi mukosa, distensi kandung kemih.

c. Resiko infeksi berhubungan dengan peningkatan paparan lingkungan

terhadap patogen (pemasangan kateter).

d. Ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan, menghadapi

prosedur bedah.

Post operasi

e. Nyeri akut berhubungan dengan agen cidera biologi (terputusnya

kontinuitas jaringan akibat pembedahan).

14

Page 15: ASUHAN KEPERAWATAN HIPERPLASIA PROSTAT .doc

f. Resiko infeksi berhubungan dengan prosedur invasif : alat selama

pembedahan.

g. Resiko kekurangan volume cairan berhubungan pascaobstruksi diuresis.

h. Risiko tinggi disfungsi seksual berhubungan dengan sumbatan saluran

ejakulasi, hilangnya fungsi tubuh.

11.Rencana Asuhan Keperawatan

No Diagnosa Kriteria Hasil Intervensi Rasional

1. Retensi urine

berhubungan dengan

pembesaran prostat,

dekompensasi otot

detrussor.

Tujuan :

Setelah dilakukan

perawatan

selama....x 24 jam

retensi urin pasien

teratasi.

Kriteria Hasil :

a.Kandung kemih

kosong secara

penuh.

b.Tidak ada residu

urine >100-200

cc.

c.Intake cairan

dalam rentang

normal.

d.Bebas dari ISK.

e.Tidak ada spasme

bladder.

f. Balance cairan

seimbang.

a. Monitor intake

dan output.

b. Monitor derajat

distensi blader.

c. Stimulasi

refleks bladder

dengan kompres

dingin pada

abdomen.

d. Dorong pasien

untuk berkemih

setiap 2-4 jam.

e. Observasi aliran

Membantu

mengidentifikasi

pengeluaran urine

dan kebutuhan

cairan.

Meminimalkan

retensi urin.

Meningkatkan

relaksasi otot,

penurunan edema,

dan dapat

meningkatksn

upaya berkemih.

Meminimalkan

retensi urin dan

distensi berlebihan

pada kandung

kemih.

Berguna untuk

15

Page 16: ASUHAN KEPERAWATAN HIPERPLASIA PROSTAT .doc

urine,

perhatikan

ukuran dan

kekuatan.

f. Awasi dan catat

waktu dan

jumlah setiap

kali berkemih.

mengevaluasi

obstruksi dan

pilihan intervensi.

Retensi urine

meningkatkan

tekanan dalam

saluran perkemihan

atas, yang dapat

mempengaruhi

fungsi ginjal.

2. Nyeri akut

berhubungan dengan

iritasi mukosa,

distensi kandung

kemih.

Tujuan :

Setelah dilakukan

perawatan selama

...x 24 jam nyeri

klien berkurang atau

hilang.

Kriteria Hasil :

a. Mampu

mengontrol

nyeri

(mengetahui

penyebab nyeri,

mampu

menggunakan

tehnik

nonfarmakologi

untuk

mengurangi

nyeri).

b. Me

a. Lakukan

pengkajian nyeri

secara

komprehensif

termasuk lokasi,

karakteristik,

durasi,

frekuensi,

kualitas dan

faktor

presipitasi.

b. Berikan

informasi

mengenai nyeri

klien meliputi

penyebab nyeri

dan intensitas

nyeri.

Untuk mengetahui

sejauh mana

perkembangan rasa

nyeri yang

dirasakan oleh

klien sehingga

dapat dijadikan

sebagai acuan

untuk intervensi

selanjutnya.

Membantu klien

dalam mengontrol

nyeri.

16

Page 17: ASUHAN KEPERAWATAN HIPERPLASIA PROSTAT .doc

laporkan bahwa

nyeri berkurang.

c. Ta

nda vital dalam

rentang normal.

d. Tid

ak mengalami

gangguan tidur.

c. Observasi reaksi

nonverbal dari

ketidaknyamana

n.

d. Kontrol

lingkungan yang

dapat

mempengaruhi

nyeri seperti

suhu ruangan,

pencahayaan

dan kebisingan.

e. Ajarkan klien

teknik non

farmakologi :

napas dalam,

relaksasi.

f. Anjurkan klien

untuk

menggunakan

rendam duduk.

Untuk mengetahui

tingkat

ketidaknyamanan

klien.

Mengurangi faktor

presipitasi nyeri.

Meningkatkan

relaksasi,

memfokuskan

kembali perhatian,

dan dapat

meningkatkan

kemampuan

koping.

Menigkatkan

relaksasi otot.

3. Resiko infeksi

berhubungan dengan

peningkatan paparan

lingkungan terhadap

patogen (pemasangan

Tujuan :

Setelah dilakukan

perawatan selama

...x 24 jam klien

tidak mengalami

a. Pertahankan

teknik aseptif.

b. Monitor tanda

Menurunkan resiko

kontaminasi

bakteri.

Membantu deteksi

17

Page 18: ASUHAN KEPERAWATAN HIPERPLASIA PROSTAT .doc

kateter). infeksi.

Kriteria Hasil :

a. Klien bebas dari

tanda dan gejala

infeksi.

b. Menunjukkan

kemampuan

untuk mencegah

timbulnya

infeksi

dan gejala

infeksi sistemik

dan lokal.

c. Inspeksi kulit

dan membran

mukosa

terhadap

kemerahan,

panas, drainase.

d. Ajarkan pasien

dan keluarga

mengenai tanda

dan gejala

infeksi.

dini terjadinya

infeksi.

Membantu deteksi

terjadinya infeksi.

Membantu

mengontrol resiko

terjadinya infeksi.

4. Ansietas berhubungan

dengan perubahan

status kesehatan,

menghadapi prosedur

bedah.

Tujuan :

Setelah dilakukan

perawatan selama

...x 24 jam klien

mampu mengatasi

ansietas.

Kriteria Hasil :

a. Klien mampu

mengidentifikasi

dan

mengungkapkan

gejala cemas.

b. Mengidentifikasi

,

mengungkapkan

a. Temani pasien

untuk

memberikan

keamanan dan

mengurangi

takut.

b. Berikan

informasi

faktual

mengenai

diagnosis,

tindakan

prognosis.

Menunjukkan

perhatian dan

keinginan untuk

membantu.

Membantu pasien

memahami tujuan

dari apa yang

dilakukan dan

mengurangi

masalah karena

ketidaktahuan.

18

Page 19: ASUHAN KEPERAWATAN HIPERPLASIA PROSTAT .doc

dan

menunjukkan

teknik untuk

mengontol

cemas.

c. Vital sign dalam

batas normal.

d. Postur tubuh,

ekspresi wajah,

bahasa tubuh

dan tingkat

aktivitas

menunjukkan

berkurangnya

kecemasan.

c. Dorong pasien

untuk

mengungkapkan

perasaan,

ketakutan,

persepsi.

Ungkapan perasaan

dapat memberikan

rasa lega sehingga

mengurangi

kecemasan.

5. Risiko kekurangan

volume cairan

berhubungan dengan

pascaobstruksi

diuresis.

Tujuan :

Setelah dilakukan

perawatan selama

...x 24 jam klien

mampu

mempertahankan

keseimbangan

cairan tubuh.

Kriteria Hasil :

a. Mempertahanka

n urine output

sesuai dengan

usia dan BB, BJ

urine normal.

b. Tekanan darah,

nadi, suhu tubuh

dalam batas

a. Pertahankan

intake dan

output cairan.

b. Monitor vital

sign setiap

15menit – 1

jam.

c. Monitor status

hidrasi

( kelembaban

membran

mukosa, nadi

adekuat,

tekanan darah

Untuk

mengoptimalkan

keseimbangan

cairan.

Untuk mendeteksi

kekurangan

volume cairan.

Untuk mengetahui

setiap saat status

hidrasi.

19

Page 20: ASUHAN KEPERAWATAN HIPERPLASIA PROSTAT .doc

normal

c. Tidak ada tanda

tanda dehidrasi,

elastisitas turgor

kulit baik,

membran

mukosa lembab,

tidak ada rasa

haus yang

berlebihan.

ortostatik ),

jika

diperlukan.

6. Risiko tinggi disfungsi

seksual berhubungan

dengan sumbatan

saluran ejakulasi,

hilangnya fungsi

tubuh.

Tujuan :

Setelah dilakukan

perawatan selama

...x 24 jam klien

mampu

mempertahankan

fungsi seksual.

Kriteria Hasil :

Klien akan

menyadari

keadaannya dan

akan mulai lagi

interaksi seksual

dan aktivitas secara

optimal.

a. Motivasi pasein

untuk

mengungkapkan

perasaannya

berhubungan

dengan

perubahannya.

b. Libatkan

keluarga/istri

dalam

perawatan

pemecahan

masalah fungsi

seksual.

c. Anjurkan pasien

untuk

menghindari

hubungan

seksual selama 1

bulan setelah

Memberikan

informasi untuk

membantu dalam

menentukan

pilihan atau

keefektifan

intervensi.

Memberikan

informasi untuk

membantu dalam

menentukan

pilihan atau

keefektifan

intervensi.

Menjamin

keamanan untuk

membantu

penyembuhan

pascaoperasi.

20

Page 21: ASUHAN KEPERAWATAN HIPERPLASIA PROSTAT .doc

operasi.

21

Page 22: ASUHAN KEPERAWATAN HIPERPLASIA PROSTAT .doc

DAFTAR PUSTAKA

Amalia, Rizki. 2010. Faktor-Faktor Risiko Terjadinya Pembesaran Prostat Jinak.

Jurnal Unimus.

Birowo Ponco dan Rahardjo D. 2002. Pembesaran Prostat Jinak. Jurnal

Kedokteran & Farmasi Medika No 7 tahun ke XXVIII.

Brunner & Suddarth. 2001. Buku Ajar Medikal Bedah . Edisi 8 Volume 2. Jakarta:

EGC.

Dharmojo B, Martono H. 2000. Buku Ajar Geriatri (untuk kesehatan usia lanjut).

Edisi 2. Jakarta : FKUI.

Mansjoer, Arif. 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Edisi 3. Jakarta: Media

Aesculapius.

Nursalam dan Fransisca B. 2009. Asuhan Keperawatan Pada Pasien dengan

Gangguan Sistem Perkemihan. Jakarta : Salemba Medika.

Pakasi, Ruland D N. 2009. Total Prostate Spesific Antigen, Prostate Spesific

Antigen Density and Histophatologic Analysis on Benign Enlargment of

Prostate. The Indonesian Journal of Medical Science Volume 1 No.5 July

2009 p. 263-274.

Price, Sylvia A, dkk. 2006. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit.

Edisi 6 Volume 2. Jakarta : EGC.

Sjamsuhidajat, Wim de Jong. 2004. Buku Ajar Ilmu Bedah. Jakarta : EGC.

22