KARYA ... 3.2 Metode Euthanasia Menurut Franson metode dasar euthanasia terbagi menjadi euthanasia fisik

  • View
    2

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of KARYA ... 3.2 Metode Euthanasia Menurut Franson metode dasar euthanasia terbagi menjadi euthanasia...

  • i

    KARYA TULIS

    EUTANASIA PADA HEWAN

    OLEH : A.A. GDE ARJANA

    FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN UNIVERSITAS UDAYANA

    DENPASAR 2016

  • ii

    KATA PENGANTAR

    Atas asung kerta wara nugraha Ida Sang Hyang Widhi Wasa penulis dapat

    menyelesaikan penulisan karya ilmiah dengan judul : Euthanasia Pada Hewan.

    Penulisan karya ilmiah ini bertujuan untuk menambah pengetahuan tentang bagaimana cara

    membunuh (euthanasia) pada hewan dengan cara yang benar.Terima kasih penulis sampaikan

    kepada semua pihak yang telah membantu sehingga karya ilmiah ini dapat diselesaikan

    dengan baik

    Demikian penulis sampaikan semoga Ida Sang Hyang Widhi Wasa melimpahkan

    segala rahmatNya kepada kita semua

    Denpasar, 30 Juni 2016

    Penyusun

  • iii

    DAFTAR ISI

    Halaman

    KATA PENGANTAR…………………………………………………………………… i DAFTAR ISI……………………………………………………………………………… ii

    I PENDAHULUAN…………………………………………………………… 1

    1.1 Latar Belakang ………..……………………………………………….... 1 1.2 Rumusan Masalah………………………………………………………. 2 1.3 Tujuan Analisis Bioetika …..…….…………………………………….. 2 1.4 Analisis Bioetika .………….…………………………………………… 3

    II EUTHANASIA………………………………………………………….…… 4 2.1 Terminologi ………………………………...…………………………… 4 2..2 Euthanasia dari Sudut Pelaksanaannya .……………………………….. 4

    III EUTHANASIA PADA HEWAN ………………… 6 3.1 Hewan Penelitian ………………………………………………………. 7 3.2 Metode Euthanasia ……………………………………………………… 9 3.3 Pelaksanaan Euthanasia pada Hewan 9 3.4 Pendekatan Bioetika Euthanasia pada Hewan ………………………… 14

    IV SIMPULAN ……………………………..…………………………………... 18

    DAFTAR PUSTAKA……………………………………………………….. 19

  • 1

    I PENDAHULUAN

    1.1 Latar Belakang

    Kematian merupakan misteri yang paling besar, dan ilmu pengetahuan belum berhasil

    menguaknya. Kematian sebagai akhir dari rangkaian kehidupan di dunia ini, merupakan hak

    dari tuhan. Mati sesungguhnya masalah yang sudah pasti akan terjadi. Pengertian tentang

    kematian itu sendiri mengalami perkembangan dari waktu ke waktu sejalan dengan

    perkembangan ilmu pengetahuan. Kematian dapat dibagi menjadi 2 fase, yaitu : somatic

    death (Kematian Somatik) dan biological death (Kematian Biologik). Kematian somatik

    merupakan fase kematian dimana tidak didapati tanda-tanda kehidupan seperti denyut

    jantung, gerakan penafasan, suhu badan yang menurun dan tidak adanya aktifitas listrik otak

    pada rekaman EEG. Dalam waktu 2 jam, kematian somatik akan diikuti fase kematian

    biologik yang ditandai dengan kematian sel. Kurun waktu 2 jam diantara kematian biologic

    dan kematian somatik dikenal sebagai fase mati suri.

    Kemajuan ilmu pengetahuan seperti respirato (alat bantu nafas), seseorang atau hewan

    yang dikatakan mati batang otak yang ditandai dengan rekaman EEG yang datar, masih bisa

    menunjukkan aktifitas denyut jantung, suhu badan yang hangat, fungsi alat tubuh yang lain

    seperti ginjalpun masih berjalan sebagaimana mestinya, selama dalam bantuan alat respirator

    tersebut. Tanda-tanda kematian somatic selain rekaman EEG tidak terlihat. Tetapi begitu alat

    respirator tersebut dihentikan maka dalam beberapa menit akan diikuti tanda kematian

    somatik lainnya. Walaupun tanda-tanda kematian somatik sudah ada, sebelum terjadi

    kematian biologik, masih dapat dilakukan berbagai macam tindakan seperti pemindahan

    organ tubuh untuk trasnplantasi, kultur sel ataupun jaringan dan organ atau jaringan tersebut

    masih akan hidup terus, walaupun berada pada tempat yang berbeda selama mendapat

    perawatan yang memadai.

  • 2

    Permasalahan penentuan saat kematian ini sangat penting bagi pengambilan

    keputusan baik oleh dokter maupun keluarganya dalam kelanjutan pengobatan. Apakah

    pengobatan dilanjutkan atau dihentikan. Dilanjutkan belum tentu membawa hasil, tetapi yang

    jelas akan menghabiskan materi, sedangkan bila dihentikan pasti akan membawa ke fase

    kematian. Penghentian tindakan pengobatan ini merupakan salah satu bentuk dari euthanasia.

    1.2 Rumusan Masalah

    1. Apakah pendekatan kasus Eutanasia pada hewan sudah sesuai dengan prinsip bioetika

    otonomi ?.

    2. Apakah pendekatan kasus Eutanasia pada hewan sudah sesuai dengan prinsip bioetika

    nonmaleficience ?.

    3. Apakah pendekatan kasus Eutanasia pada hewan sudah sesuai dengan prinsip bioetika

    beneficience ?.

    4. Apakah pendekatan kasus Eutanasia pada hewan sudah sesuai dengan prinsip bioetika

    justice ?.

    5. Apakah pendekatan kasus Eutanasia pada hewan sudah sesuai dengan prinsip bioetika

    veracity ?.

    6. Apakah pendekatan kasus Eutanasia pada hewan sudah sesuai dengan prinsip bioetika

    confidentiality ?.

    1.3 Tujuan Analisis Masalah Bioetika

    1. Menganalisis pendekatan kasus Eutanasia pada hewan sudah sesuai dengan prinsip

    bioetika otonomi.

    2. Menganalisis pendekatan kasus Eutanasia pada hewan sudah sesuai dengan prinsip

    bioetika nonmaleficience.

    3. Menganalisis pendekatan kasus Eutanasia pada hewan sudah sesuai dengan prinsip

    bioetika beneficience.

  • 3

    4. Menganalisis pendekatan kasus Eutanasia pada hewan sudah sesuai dengan prinsip

    bioetika justice.

    5. Menganalisis pendekatan kasus Eutanasia pada hewan sudah sesuai dengan prinsip

    bioetika veracity.

    6. Menganalisis pendekatan kasus Eutanasia pada hewan sudah sesuai dengan prinsip

    bioetika confidentiality

    1.4 Analisis Bioetika

    1.4.1 Otonomi

    1. Pasien

    - Memiliki kebebasan dalam mengambil keputusan

    - Memiliki hak atas perlindungan privacy, yang harus dihormati dokter

    2. Dokter

    - Memiliki kebebasan professional dari dokter (diagnostic, terapeutik/tindakan

    terbaik, berdasarkan ilmu, keterampilan dan pengalaman) dokter tersebut.

    - Mengungkap, merahasiakan, dan menjaga privacy

    - Mendapatkan persetujuan untuk intervensi

    - Membantu orang lain membuat keputusan yang penting

    1.4.2 Nonmalefiecence (tidak menyakiti)

    - Tidak menyebabkan kerugian secara sengaja (first do no harm/Prium non nocere)

    - Menolong penderita/memberi pertimbangan sesuai kemampuan,

    - Tidak pernah menyakiti/meniadakan kenyamanan

    - Tidak menghina

    1.4.3 Beneficence : memberi manfaat

    - Tindakan yang dilakukan/pertimbangan yang diberikan sangat bermanfaat

    - Tindakan/pertolongantidak memberi risiko/risiko minimal

  • 4

    - Benefit lebih besar dibandingkan dengan risk

    1.4.4 Justice / Keadilan

    - Perlakuan yang tepat / wajar sesuai hak / kewajiban dan norma-norma yang berlaku

    1.4.5 Veracity

    - Kejujuran mengungkapkan apa adanya / tidak ada manipulasi

    1.4.6 Confidentiality

    - Kepercayaan

    II EUTANASIA

    2.1 Terminologi

    Kata euthanasia sendiri berasal dari Yunani, yaitu Eu – baik dan Thanatos – kematian

    sehingga euthanasia disebutkan sebagai kematian dengan cara yang baik karena dilakukan

    dengan meminimalisasikan rasa sakit dan stress. Euthanasia dinyatakan sebagai jalan keluar

    terakhir disaat tidak diketemukannya alternatif medis lain yang dapat membantu pasien

    menuju persembuhan.

    Aturan hukum mengenai masalah ini sangat berbeda-beda di seluruh dunia dan

    seringkali berubah seiring dengan perubahan norma-norma budaya dan tersedianya

    perawatan atau tindakan medis. Di beberapa negara, tindakan ini dianggap legal, sedangkan

    di negara-negara lainnya dianggap melanggar hukum. Karena sensitifnya isu ini, pembatasan

    dan prosedur yang ketat selalu diterapkan tanpa memandang status hukumnya.

    2.2 Eutanasia ditinjau dari sudut cara pelaksanaannya.

    Ditinjau dari sudut maknanya maka eutanasia dapat digolongkan menjadi tiga yaitu :

    1. Euthanasia agresif atau euthanasia aktif

    yaitu suatu tindakan secara sengaja yang dilakukan oleh dokter atau tenaga kesehatan

    lain untuk mempersingkat atau mengakhiri hidup si pasien. Misalnya dengan

  • 5

    memberikan obat-obatan yang mematikan seperti misalnya pemberian tablet sianida

    atau menyuntikkan zat-zat yang mematikan ke dalam tubuh pasien.

    2. Euthanasia non agresif atau autoeuthanasia (euthanasia otomatis) atau disebut juga

    euthanasia negative.

    yaitu dimana seorang pasien menolak secara tegas dan dengan sadar untuk menerima

    perawatan medis dan sipasien mengetahui bahwa penolakannya tersebut akan

    memperpendek atau mengakhiri hidupnya. Dengan penolakan tersebut ia membuat

    sebuah "codicil" (pernyataan tertulis tangan). Auto-euthanasia pada dasarnya adalah

    suatu praktek euthanasia pasif atas permintaan.

    3. Euthanasia pasif.

    Euthanasia pasif, dikategorikan sebagai tindakan euthanasia negatif yang tidak

    menggunakan alat-alat atau